Oleh : Andy Sri Wahyudi

Tepat pukul 20:00 WIB pada tanggal 23 Juli 2010 di ruang perpustakaan Bengkel Mime Theatre, ada sebuah  pementasan mini dengan penonton 15 orang. Rendra Bagus Pamungkas, aktor yang aktif di komunitas Seni Teku dan Teater Gandrik Muda menggelar pentas monolog berjudul Et Urinoir. Dalam ruang berukuran 6 x 4 meter tersebut, area yang digunakan sebagai panggung pementasan hanya 2 x 4 meter. Kecil dan sempit memang, akan tetapi aktor tampak bebas bermain dalam ruang tersebut.

Panggung yang semula adalah ruang berdinding batu bata, beratap anyaman kulit bambu, berjendela, dan berpintu itu ditutup dengan kardus yang dicat warna hitam. Di atas warna hitam itu ditempelkan kubus, bujur sangkar, persegi panjang, dan kerucut warna-warni sehingga tampak tonjolan-tonjolan yang menghidupkan ruang gelap tersebut. Pada dinding di sisi belakang penonton dilukis sebuah gambar sayap malaikat berwarna pink. Pada lantai juga diletakkan kubus-kubus berwarna hijau yang tersebar acak. Ruang kecil itu berubah menjadi dunia fantasi yang berpenghuni mahkluk aneh: manusia berkulit putih sapi, berpakaian daster dengan bawahan lebar, berkepala botak ―hanya menyisakan rambut belakang yang dikepang dua panjang, kaku mencuat ke samping kanan dan kiri.

Rendra Bagus Pamungkas dalam Et Urinoir

Tokoh dalam Et Urinoir tak jelas jenis kelaminnya; ia semacam gambaran potret diri yang tengah mencari identitas hidupnya. Ia bercerita perihal perjalanan yang tak kunjung selesai dan menemui banyak pertanyaan dalam hidupnya. Ia begitu kesepian dalam perjalanan meski bertemu dengan banyak hal yang aneh: Angin Merah Jambu, Tomat Sombong, dan Paman Gajah. Pertemuan itu adalah gambaran kebingungannya sendiri, ia seperti dihadapkan dengan simbol-simbol hidup yang meresahkan.

Teks cerita ditulis dengan imajinasi yang atraktif:

Aku hanya ingin bertanya tentang angin merah jambu di sepetak tanah kecil dan apa yang sedang mereka bicarakan.

Tahukah kau berapa jumlah jari-jariku, kenapa perutku menjadi buncit? Tahukah kau mengapa aku mengambang di atas teratai? Dan tahukah kau mengapa aku tak pernah tergelincir meski aku berjalan di atas bola yang terbuat dari kulit pisang?

Begitulah sepenggal percakapan yang kerap diulang tanpa kepastian ujung. Kepastian yang masih dirahasia. Yapz! seperti judulnya , Et Urinoir―yang artinya tempat untuk buang air kecil―dimaknai sebagai dunia kecil yang sangat rahasia, hanya kita yang tahu.

Lahirnya Ruang dan Musik

Tim kerja dalam pementasan Et Urinoir ini tidak banyak, hanya terdiri dari Rendra Bagus Pamungkas sebagai penulis teks sekaligus pemain, Miftaqul Effendi dan Dino sebagai penata setting, dan Lintang sebagai penata musik. Awalnya, Rendra mengajukan teks kepada penata setting dan penata musik, dan dari pembacaan itu muncul imajinasi ruang dan musik. Miftaqul Effendi mengemukakan gagasan ruang kecil dengan ornamen-ornamen bangun matematika. Visual set panggung terinspirasi dari teks yang atraktif dan kekanakan yang kemudian diwujudkan menjadi ruang fantasi yang dasar idenya adalah ruang yang melawan gravitasi. Tak ada batas antara atap, lantai, dan dinding; semua berisi ornamen yang setipe. Sejujurnya imajinasi ruang tersebut menghendaki pemain menginjakkan kakinya di mana saja.

Musik turut berperan dalam mewujudkan dunia baru yang dikehendaki teks. Lintang menggunakan musik “Chiptune”, mirip bunyi dalam game Nitendo, yang diperdengarkan sesekali. Lintang menghadirkan musik dengan volume yang tidak melulu keras namun kadang lirih, sehingga permainan menjadi berirama. Ruang kecil itu semakin kuat membangkitkan imaji dunia fantasi ketika berpadu dengan musik. Untuk menambah kuat kesan fantasi pada pementasan ini, penonton yang hadir dihadiahi sebatang  permen lolipop dari gulali dan kacamata tiga dimensi.

Sementara sebagai aktor, Rendra berusaha memacu imajinasinya untuk memaksimalkan gerak tubuh tanpa harus mengada-ada. Ia ingin berakting secara natural, akan tetapi di lain sisi permainannya justru membuat ruang menjadi terasa tidak wajar, lantaran ia lebih banyak mengeksplor gerak tetapi tidak mencoba merespon ruang yang berornamen itu. Ruang seolah hanya menjadi dekorasi atau hiasan permainan, ia seperti  terkurung dalam sangkar yang fantastis .

Pementasan Et Urinoir adalah suguhan karya yang berupaya mensinergikan antara akting, musik, dan ruang. “Apapun yang terjadi, karya ini akan terus saya eksplorasi”, begitu kata Rendra.

(terbit di skAnA volume 13, September 2010-Januari 2011)

Komentara Penonton:

Pementasan Et Urinoir ini menurut saya masih merupakan sebuah pemanasan dari sebuah perjalanan panjang keaktoran seorang Rendra. Kalau Rendra bisa dengan cerdik menggali lebih banyak lagi referensi pemanggungan sebagai bentuk pementasan, lakon ini akan berkembang. Dan hal itulah yang akan dinantikan oleh banyak orang. (Giras Basuwondo, 30 tahun, pekerja film)

Sebuah “proyek penghadiran”  mimpi dan imajinasi yang sangat tekun. Di sini saya kira tidak perlu ada perbantahan tentang  letak kata-kata yang tepat. Semua indah dan nikmat dalam ruang imajinatif. (Franz, 35 tahun, fotografer)

Latar panggung bagus tapi ada satu bagian yang ceritanya mubeng ga bisa ngembang… tapi secara keseluruhan apik karena ceritanya tidak terbata-bata. (Dhisga Amandatya, 16 tahun, pelajar SMP Imaculata)

Advertisements

Oleh: M. Iwan M.

Judul di atas adalah tajuk pertunjukan teater persembahan Teater Tangga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berkolaborasi dengan beberapa UKM kampus seperti UKM Musik, MM Kine Klub, RPC, Fotka, Ciko, Ikom Radio, dan Minoritas Seni Kramotak pada tanggal 18 maret 2010 di pendopo kantin selatan kampus terpadu UMY. Pertunjukan itu menampilkan dua monolog dengan judul “On Se Raconte” oleh Rahmat ‘Jack’ Jakadril dan “Sttt Diam!” dibawakan oleh Ikhwan Mutaqien.

On Se Raconte, bercerita tentang kehidupan seseorang yang berubah secara drastis berkat mimpi-mimpinya yang tak kenal kata ‘batas’. Sang aktor menuturkan cerita tentang Wikan, seorang teman di masa kuliahnya yang tiap saat kerjanya bersantai di kantin dan tidur bermalas-malasan di kamar. Namun begitu, Wikan adalah seorang yang punya pendirian kuat. Singkat cerita, saat ini si aktor sedang berada di Paris melakukan tugas sebagai wartawan. Dia sedang menunggu di sebuah taman untuk bertemu Wikan, sahabat lamanya. Wikan sendiri diceritakan berada di Paris untuk menggelar pertunjukan teaternya. Sang aktor tak habis pikir dan penonton seperti saya pun bertanya-tanya: ‘kok bisa orang pemalas seperti Wikan berkarir sampai ke Paris?’

On Se Raconte. Foto: Maulana Syarif

Di Paris inilah cerita monolog itu bermulai. Set yang didesain oleh M. Habib Syaifullah menyerupai yang biasa kita lihat di berbagai film Eropa yakni sebuah taman dengan kursi kayu berhias ornamen besi ukir di beberapa bagian kursi bersebelahan dengan pohon kayu kecil tanpa daun yang dengan segera mengesankan musim semi, serta sebuah lampu taman di belakang kursi kayu sebagai pemanis interior. Di bagian lighting, Dhinar Aryo Wicaksono memperkuat suasana adegan sang aktor mengenang Wikan dengan cahaya redup. Alunan musik yang diatur oleh Suprapto Setyo Utomo membuat para penonton seakan terhipnotis, tak berpaling dari cerita naskah yang disusun oleh Teater Tangga dan disutradarai oleh Septian Nur Yekti ini.

Dalam monolog Sttt Diam! Ikhwan dengan kostum jas bercorak hijau ramai dan properti box dorong yang mengingatkan penonton pada box yang sering dibawa oleh penjual obat di pasar tradisional. Namun box yang dibawa aktor ini penuh dengan hiasan gambar bibir dan bermacam quote seperti ‘Sttt…Diam!’, ‘caleg’, ‘korup’, dll. Di tengah panggung ditempatkan sebuah kursi yang dipergunakan aktor sebagai tempat untuk bercerita. Tata panggung digarap oleh Suprapto Setyo Utomo. Pertunjukan diawali dengan masuknya aktor mendorong box diiringi musik arahan Rifqi Mansur Maya. Ia melangkah dengan tegap penuh percaya diri, berkeliling satu kali dan kemudian meletakkan box tersebut tepat di samping kursi yang ada di tengah panggung, maju perlahan ke arah penonton sembari membuka pertunjukannya dengan lagak mirip pembawa acara talk show di televisi dengan berkata: ‘selamat malam Yogyakarta!’.

Sttt Diam. Foto: Darpita Jiwandana

Cerita yang diangkat dari karya Giri Ratomo dan disutradarai oleh Siti Fauziah ini berkisah tentang begitu banyaknya larangan di sekitar kita untuk melakukan ini dan itu, serta banyaknya anjuran yang mirip paksaan untuk melakukan ini dan itu, sementara apa yang kita inginkan tak digubris. ‘Lantas untuk apa kita hidup jika pilihan untuk diri sendiri musti berasal dari orang lain? Untuk apa pengalaman dan pelajaran yang kita dapatkan dan kemudian direalisasikan lewat karya? Mengapa pula musti ada begitu banyak larangan jikalau kita tahu dan mengerti arti tanggung jawab?’ Kira-kira inilah menurut saya apa yang ingin disampaikan oleh monolog Sttt Diam!

Satu hal yang menurut saya menjadi benang merah dari kedua cerita dalam pertunjukan “Imagined Lifess” adalah perihal mimpi. Pertama On Se Raconte yang bercerita tentang seseorang yang berhasil menggapai mimpi yang semula diragukan oleh orang-orang di sekelilingnya. Yah hidup manusia siapa yang tahu dan kadangkala kemujuran membuat manusia semakin percaya jikalau Yang Maha Kuasa itu memang benar-benar ada. Sedangkan Sttt Diam! bercerita tentang mimpi yang terbelenggu bermacam aturan. Apa jadinya jika mimpi saja dilarang? Untungnya sampai saat ini mimpi belum dilarang dan masih belum ada alat canggih yang mampu menyensor mimpi-mimpi kita. Maka, bermimpilah setinggi mungkin selagi masih bisa.

* M. Iwan M, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Wajah lelaki tua itu tampak teduh, santun dan bersahaja, namun ia tengah dirundung gelisah. Lelaki itu sudah puluhan tahun berprofesi sebagai seorang guru, dan usia yang sudah semakin tua membuatnya mengkoreksi diri. Murid-muridnya yang konon pandai dan sukses, tak mendatangkan perubahan bagi negara. Mereka hanya bisa memperkaya diri pribadi dan tak peduli dengan keadaan sekitarnya. Ajaran moral luhur yang ia ajarkan malah melahirkan para mafia negara yang egois. Sejatinya, ia mengharapkan sifat-sifat kepahlawanan dan kepatriotan dalam jiwa murid-muridnya.

Suatu hari di beranda, saat sang Guru gelisah ingin mendirikan sekolah, tiba-tiba datanglah mahkluk aneh yang sama sekali belum ia kenali.  “Nama saya Setan, saya datang untuk berguru. Ajarilah saya menjadi pahlawan.” Begitulah si Setan memperkenalkan dirinya. Sang Guru terhenyak keheranan, mengapa Setan yang ingin menjadi pahlawan? Tapi karena tekad si Setan untuk menjadi pahlawan sudah bulat, maka si Lelaki tua itu mengajarkan ilmu kepahlawanan: seorang pahlawan harus rela berkorban, pantang menyerah, membela kaum tertindas, dan tanggguh.

Maka si Setan terbakar semangat kepahlawanannya, ia dikirim ke sebuah negeri yang tengah dilanda bencana alam dan kemrosotan kepribadian rakyatnya. Si Setan datang ke negeri yang ternyata bernama Indonesia. Aneh, belum berbuat apapun ia telah dielu-elukan sebagai pahlawan. Mungkin rakyat di negeri itu merindukan sosok seorang pahlawan.

Tetapi setelah pulang ke dunianya, ia dibenci temannya sesama setan. Ia dituding sebagai penghianat. Si Setan baik hati itu dihajar beramai-ramai oleh temannya sendiri. Tubuhnya bersimbah darah saat mendatangi gurunya. Si Setan tidak tahu jika menjadi pahlawan harus membayar mahal dengan nyawanya. Ia mati di tangan bangsanya sendiri.

Cerita monolog Zetan tersebut dibawakan oleh Putu Wijaya, di Pendapa penerbit Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Jl Pura I/1 Sorowajan Baru, Banguntapan, Bantul, pada tanggal 13 Agustus pukul 20:00 BBWI. Meskipun acara pementasan tersebut diselenggarakan pada bulan puasa, banyak penonton yang hadir malam itu. Ada sekitar 100 penonton yang didominasi mahasisiwa.

Putu Wijaya yang memerankan lelaki tua itu berhasil menyetir penonton dengan aktingnya. Kadang ia menghibur, terkesan sembrono, dan kadang memukau. Guyonan yang ia lempar ke penonton kadang segar, tapi juga ada yang jadul (jaman dulu), seperti dengan sengaja ber-pose di depan kamera, mengomentari aktingnya sendiri, dan lepas dari perannya. Di usianya yang sudah 64 tahun, ia masih kelihatan enerjik dan dinamis. Putu Wijaya bermain dengan gestur tubuh dan mimik yang sangat teaterikal. Setting yang hanya berlatar kain putih dengan properti sebuah kursi kayu, tak membuat ruang menjadi sepi. Ia berakting dengan memanfaatkan property: membanting kursi, mengangkat kursi di atas kepala sambil keliling ruang, dan berdiri di atas kursi.

Aktor sekaligus sutradara Teater Mandiri itu, memang sengaja mencairkan suasana menjadi rileks dan interaktif. Ia membebaskan penonton tetap menghidupkan hand phone, membiarkan wartawan dan penonton memotret memakai lampu blitz, bahkan salah seorang penonton sempat ia ajak bermain ke panggung.

Putu tak sekadar pentas di atas panggung, tapi ia memang seorang guru yang tak pernah lelah dalam mengajarkan moral lewat seni teaternya. Intensitas proses kreatifnya tak diragukan lagi. Dalam pementasan malam itu, Putu Wijaya telah membawa penonton masuk dalam dunia yang menjadi asing: dunia kepahlawanan. Dunia yang kini jarang diminati generasi muda. Mungkin terbayang-bayang si Setan yang berakhir ironis: mati di tangan bangsanya sendiri, atau bisa jadi berakhir frustasi dan kesepian. Tapi jika setan saja berani membela bangsa manusia, mengapa manusia tidak? Bukankah derajat manusia lebih tinggi dari setan?

Dua Cerita dari Sisi Lain Kepahlawanan

Selain cerita kepahlawanan si Setan, Putu menggambarkan cerita kepahlawanan lain lewat konflik antara ayah dan anak. Si Anak bersikeras ingin pergi ke Jogja tatkala bencana gempa bumi menimpa kota itu. Tapi si Ayah melarangnya, karena ia mengkhawatirkan kondisi  anaknya yang sangat lemah. Bahkan sering pingsan ketika melihat darah. Tapi si Anak tetap bersikeras akan pergi menjadi relawan, karena teman-temannya banyak yang menjadi relawan. Terjadilah ketegangan antara ayah dan anak.

Terakhir, ia bercerita tentang kemerdekaan yang digambarkan lewat seekor burung dan Tuan-nya. Burung yang terbiasa hidup dalam sangkar itu dibebaskan oleh si Tuan yang bermaksud memberi kemerdekaan. Tapi si burung enggan terbang, malah memohon untuk tetap tinggal dalam sangkarnya. Karena ia tak terbiasa hidup bebas dan merdeka. Si Tuan marah mendengar penolakan si Burung atas kemerdekaan yang ia berikan. Lantas dilepaskannya semua burung miliknya yang ada di dalam sangkar. Dan burung-burung itu terbang membentuk formasi di langit, lantas berak bersamaan tepat di atas kepala si Tuan.

Putu Wijaya belum juga terlihat lelah meski keringat bercucuran membasahi muka dan tubuhnya. Monolog yang berdurasi kurang lebih dua setengah jam itu tak membuat penonton bosan. Seolah penonton menjadi anak-anak yang mendengarkan dongeng sebelum tidur. Dongeng tentang kepahlawanan dan kemerdekaan yang ternyata tak dapat dipaksakan, diberikan secara cuma-cuma, atau sekadar ikut-ikutan karena gengsi. Yah, semuanya memang harus dilakukan dengan perjuangan dan api hidup.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

Komentar:

“Bagus banget! Kok bisa manusia membuat cerita tentang setan jadi pahlawan? Itu perlu kungkum (laku prihatin berendam di sungai) nggak ya?” (Asita, 30 tahun, Aktor Bengkel Mime Theatre)

“Sayang banget dia (Putu Wijaya) ga begitu serius, mungkin karena gratisan kali ye? Tak ada yang istimewa dari pentasnya. Tapi saya salut untuk daya ingatnya.” (Catur Stanis, aktor teater dan aktif dalam milis teater di internet, 38 Tahun)

“Ini kali pertama saya melihat penampilan Putu Wijaya, tapi ternyata tak sebagus yang saya bayangkan. Terlalu banyak improve dan tertawa-tawa sehingga tidak fokus!” (Sukma, 20 tahun, Mahasisiwa Sastra Indonesia, Universitas Negri Yogyakarta)

“Wah ini pertama kali aku nonton pertujukannya Putu. Aku bingung. Penempatan interaksi langsung dengan penonton itu yang menurutku agak aneh. Tapi Putu kan senior, waduh aku ga tau apakah Putu sering melakukan itu dengan Teater Mandirinya. Sebagai penikmat saya enjoy aja dengan pertunjukan ini..” (Indrian Koto, 24 tahun, penyair muda Jogja)

“Power dan inner akting Putu Wijaya bisa menutupi kelemahan pita suara dalam monolog dua jam lebih. Dengan presentasi sangat memuaskan sesuai dengan kebesaran nama dan jiwanya.” (Pedro, 25 tahun, Seniman muda Jogja)


Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Butet Kertaredjasa, aktor senior Jogja, semakin menancapkan kuku-kukunya di pentas pertunjukan monolog nasional. Kali ini ia membawakan naskah Agus Noor, Matinya Toekang Kritik. Dan seperti pementasan-pementasan sebelumnya kembali Butet mengkritik penguasa, namun tidak seperti biasanya, kali ini Butet juga mengkritik para pengkritik.

Dalam pertunjukan yang dilangsungkan di Concert Hall Taman Budaya Jogja, 11 dan 12 Februari 2006 yang lalu. Butet berperan sebagai Raden Mas Suhikayatno, yang dengan gayanya yang kocak berhasil mengocok perut penonton yang memadati gedung pertunjukan. Raden Mas Suhikayatno digambarkan sebagai tukang kritik nomor wahid, segala yang ada di depan matanya ia kritik, mulai dari masalah politik hingga masalah takaran gula dalam wedang teh. Saking gemarnya mengkritik, sehari saja tidak ada kritik yang terlontar dari mulutnya maka badannya akan terasa pegal-pegal.

Cerita dimulai di tahun 1998, Raden Mas Suhikayatno yang sudah hidup dari jaman Yunani digambarkan sudah mulai menua. Ketika semakin tua, ia semakin yakin kalau kritik-kritiknya itu tak pernah didengarkan oleh orang-orang yang ia kritik. Ia mulai ribut mencari surat yang telah lama ditunggu-tunggunya, surat penghargaan bagi dirinya sebagai pengkritik kelas wahid.

Raden Mas Suhikayatno tidak mau menjadi pejabat, raja, presiden, atau pemimpin, ia konsisten untuk berada di luar sistem untuk menjadi pengkritik sejati. Tapi ia digambarkan tidak mau menerima kritikan. Bambang, pembantu Raden Mas Suhikayatno (juga diperankan oleh Butet), harus selalu memuji dan membenarkan setiap tindakan dan ucapan “juragannya”.

Ketika jaman makin teratur, R.M. Suhikayatno semakin kehilangan fungsinya karena tak ada lagi yang perlu dikritik. Bahkan takaran gula dalam wedang teh pun selalu pas dengan keinginan peminumnya, semua sesuai dengan norma, semuanya pas, semuanya sudah dikuasai teknologi yang sangat patuh pada teknis-teknis peraturan. R.M. Suhikayatno makin terpinggirkan, ia makin putus asa berharap ada kekacauan, ada ketidakaturan yang bisa ia kritik. Tapi itu tak pernah terjadi.

Akhirnya ia digambarkan makin kehilangan daya, dan meninggal di tahun 3005 di mana sudah tak ada kritik lagi. Tepat setelah ia meninggal, datanglah surat yang ditunggu-tunggunya selama ini, dibawakan oleh Bambang yang sudah berwujud robot.

Kedekatan penonton pada R.M. Suhikayatno juga dibangun melalui buku pertunjukan, dengan sampul wajah R.M. Suhikayatno dengan topi khas Che Guevara (tokoh revolusioner Amerika Latin), dengan tulisan “Mengenang 1000 Abad Wafatnya R.M. Suhikayatno”. Isi di dalam buku pertunjukan mirip iklan duka cita di suratkabar, profil para pendukung pertunjukan menunjukkan kedekatan mereka dengan R.M. Suhikayatno. Para penonton seakan-akan dibuat percaya bahwa tokoh R.M. Suhikayatno benar-benar ada.

Kesan bahwa R.M. Suhikayatno benar-benar nyata, juga dihadirkan dengan tampilan visual yang menggambarkan persentuhan R.M. Suhikayatno dengan tokoh-tokoh sejarah, mulai dari Gadjah Mada, Sultan Agung, Soekarno, hingga berita-berita di suratkabar tentang dirinya.

Butet Kertaredjasa tampil dengan gaya khasnya, berbagai lelucon segar dan komedi-komedi satir ia lontarkan sepanjang pementasan. Pementasan menjadi begitu cair dan spontan, tanpa harus kehilangan alur ceritanya. Seringkali ia menertawakan (mengkritik?) penguasa, militer, bahkan para penonton sendiri Cairnya pertunjukan nampak ketika di tengah pertunjukan hari pertama, ketika mikrofon clip-on yang dikenakan Butet mati, Butet terpaksa harus mengandalkan vokalnya sendiri. Ketika sudah kehabisan suara,  Butet mendekat ke bibir panggung dengan gaya khas Raden Mas Suhikayatno, Djaduk Ferianto yang menjadi penata musik dipaksanya untuk membetulkan mikrofon.

Nama besar Butet merupakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat, dalam dua hari pertunjukan gedung concert hall selalu penuh. Meski harga tiket yang ditawarkan tidak termasuk murah untuk kelas Jogja (Rp 50.000,00 untuk VIP dan Rp 20.000 untuk lesehan) tapi ternyata tiket sudah habis sebelum hari pertunjukan, sehingga calon penonton yang datang pada saat pertunjukan harus membeli tiket dari tangan calo, dengan harga hampir dua kali lipat.

Pementasan di Jogja merupakan yang kedua, setelah sebelumnya dipentaskan di Jakarta. Setelah Jogja, Matinya Toekang Kritik akan dipentaskan di Surabaya, dan rencananya beberapa kota lain di Jawa dan luar Jawa. Pertunjukan monolog ini sendiri merupakan yang pertama bagi Butet dalam beberapa tahun terakhir, setelah Butet banyak disibukkan dengan program-program televisi dan syuting film. Dalam pertunjukan ini Butet sepertinya tak ingin terjebak pada stereotipe pertunjukan monolog yang mem-parodi-kan penguasa yang selama ini kerap ditirukannya dalam berbagai kesempatan pertunjukan monolog sebelumnya.

Dalam pertunjukan ini Butet bekerja sama dengan orang-orang yang sering membantunya dalam pertunjukan monolognya yang sebelumnya. Sebagian adalah bekas anggota kelompok teater Dinasti dan Gandrik, di mana Butet pernah aktif di dalamnya. Nama-nama seperti Whani Dharmawan yang menjadi sutradara, Djaduk Ferianto yang menjadi penata musik,  Ong Harry Wahyu sebagai penata artistik, dan Agus Noor sang penulis naskah merupakan orang-orang yang kerap kali terlibat bekerja dengan Butet.

Seperti ditulis oleh Ruwat Wicaksono Adi di buku pertunjukan, Butet dan orang-orang di atas sudah sejak pertengahan tahun 1990-an berproses bersama dalam bidang kesenian. Komunitas ini kini menempati Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo sebagai markas, dan produk komunitas ini tak hanya pertunjukan monolog Butet tapi juga pertunjukan tari, kelompok musik Kua Etnika, dan pertunjukan teater.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 01, Mei-Oktober 2006)

*****

Matinya Toekang Kritik

Pemimpin Produksi: Yusnianto Ali — Pelaksana Produksi: Sonny Suprapto — Penulis Naskah    : Agus Noor — Sutradara: Whani Dharmawan — Pemain: Butet Kertaredjasa — Penata Musik: Djaduk Ferianto — Penata Artistik: Ong Harry Wahyu — Penata Cahaya: Ign. Sugiarto — Pengolah Multimedia: Jompet — Pimpinan Panggung: Novindra Diratara

Komentar Penonton

Wahh, pengin lihat Butet soalnya mesti lucu. Tadi kan kelihatan, meski ada seriusnya Butet tetap bisa kocak. (Budi)

Asyik pertunjukannya. Tapi kok rasanya lama banget, mungkin karena biasanya Butet melucu terus, rasanya jadi cepet. Kalau serius rasanya jadi lama sekali. Tapi bagus, serius dan lucu juga. (Nuki)

Monolognya seperti biasa. Tapi ada hal-hal yang baru juga, seperti video di belakang panggung, terus Butet mainkan dua peran dalam waktu yang bersamaan. Kelihatannya jarang ada aktor yang bisa main seperti itu. (Anto)

Beda banget sama Butet yang di TV, lebih lucu kalau lihat langsung seperti tadi. (Arni)