[sejenak bincang-bincang dengan Siti Fauziah (Ozi), salah satu sutradara pementasan Monolog Imagined Life, Teater Tangga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta]

Oleh: Hindra Setya Rini

Salam hangat buat pembaca skAna yang setia,

Kali ini reporter skAna agak membelok sedikit menghampiri anak-anak muda yang baru memulai debutnya di ranah teater, khususnya yang berniat belajar menjadi sutradara. Kalau biasanya skAnA mengunjungi para tokoh atau kelompok teater yang cukup dikenal keberadaannya di panggung-panggung teater di Jogja, untuk edisi ini kami cukup penasaran dengan mereka anak-anak muda yang pemula. Bincang-bincang ini mencoba mengulik sedikit bagaimana proses pertama mereka menjadi sutradara. Hmm, menarik… Yuk, simak pengalaman apa saja yang akan dibagi di sini…

Imagined Life, bisa diceritakan ini perihal apa?

Ozi:

Hm.. Monolog ini kan dalam rangka studi pentas angkatan baru di Teater Tangga, dan ini menjadi agenda penting untuk belajar mengurus kerja sebagai sebuah tim secara mandiri yang pertama untuk kami. Mandiri di sini dalam arti kami agak mengurangi keterlibatan para senior yang biasanya kuat mencampuri urusan pementasan. Begitu mulanya…

Kalau Imagined Life sendiri, yang artinya adalah “bayangan kehidupan atau hidup yang dibayangkan (diimpikan); yaitu bahagia tanpa derita”, awalnya bermula dari hidup yang dibayangkan pada masing-masing orang di antara kita (baca: tim). Idenya begitu. Aku, Kiki, Dinar, Parto, Septi, yang kebetulan tergabung dalam kepengurusan Teater Tangga periode tahun 2008-2010, kami masing-masing punya harapan yang jelas bahwa setiap orang itu punya —mengutip bahasanya Mas Yudi A.T— “H-U-N-C-H” (karep/keinginan). Dan saat ini kami sedang berjuang mewujudkan cerita-cerita tentang hunch kami… Begitu ceritanya…

Pemilihan naskah yang mewakili ide tema hunch itu, gimana?

Ozi:

Di Imagined Life itu ada 2 pertunjukan yaitu naskah dari Giri Ratomo yang judulnya Sst Diam, lalu karya Teater Tangga sendiri judulnya On Se Ra Conte.

Perihal naskah ini, Sst Diam buatku cukup menarik karena di sisi lain ia sedang membicarakan hunch di luar kami. Meskipun di dalamnya tidak menunjuk jelas siapa tokoh yang dibicarakan tapi ia cukup memberikan rangkuman banyak hal dan kejadian soal kenyataan-kenyataan di sekeliling kami. Cakupannya cukup luas, tidak hanya hunch secara personal tapi hunch yang lebih luas, misal: masyarakat, negara. Sedangkan On Se Ra Conte, adalah tambahan cerita Rahmad Jaka Drill yang dikemas jadi satu dengan cerita masing-masing dari kami (tim). Sekali lagi ini intinya tentang hunch orang-orang yang terlibat dalam proses ini lalu diramu jadi satu naskah cerita. On Se Ra Conte itu sendiri artinya ‘kita saling bercerita’.

Tentang prosesnya, Sst Diam kan naskah sudah ada, jadi aku tinggal edit aja di sana-sini. Di beberapa bagian aku edit atau aku hilangkan. Lalu On Se Ra Conte, masing-masing menulis carita dan setelah itu ditulis ulang menjadi satu naskah cerita oleh Septian Nur Yekti. Kebetulan ia yang paling hobi menulis di antara kami. Hehehe… oh ya, untuk On Se Ra Conte itu yang menyutradarai juga dia, bukan saya.

Siti Fauziah (Ozi)

Proses sampai ke pementasannya?

Ozi:

Prosesnya satu bulan latihan keaktoran. Lumayan cepat, ya? Makanya susah banget. He he… karena ada penyesuaian-penyesuaian lagi soal kerja tim, jadi ya lumayan bikin PANAS! Ha ha ha… tegangan tinggi pokoknya. Oh ya, terlebih aktornya kan baru alias belum pernah ngobrol atau tahu lebih banyak soal teater, dan aku, juga baru pertama kali berproses menjadi sutradara, wuaaah… itu yang banyak menguras pikiran. Tapi yang terpenting buatku dari semuanya itu adalah ini suatu proses pembelajaran bersama… huufh…! he he he…

Kendala atau tantangan apa yang muncul selama proses?

Ozi:

Ini kerja “tim” pertama kali yang semua urusan ditangani sendiri. Aku di penyutradaraan, aktor-aktornya juga baru, tim artistik dan tim produksi yang juga baru belajar dan mencoba mengujikan hasil belajar kami, ditambah dengan kesibukan masing-masing orang yang terlibat dengan aktifitas di luar proses ini. Itu yang lumayan susah, soal kesepakatan jadwal dan sebagainya.

Kalau ini tadi dibilang sebuah pembelajaran bersama, yang paling berharga dari proses ini buatmu, apa?

Ozi:

Ini soal belajar dan soal hunch, dimana semua orang punya keinginan masing-masing untuk menjadi sesuatu yang baik (setidaknya untuk diriku sendiri). Maka jangan pernah berhenti belajar dan dengarkan apa keinginanmu. Lalu, wujudkan “imagined life”mu. Buatku, aku sudah berani lepas dari penilaian jelek and bagus atas apa yang aku lakukan! Horeeee… jadi berani aja, lagi. Nggak kapok, kok! Elek..? Ah, luweeeh…he he…  ;p

Biografi Singkat Ozi

Bernama lengkap Siti Fauziah, lahir di Blitar, 19 Desember 1988. Terlibat dalam proses Teater Tangga sejak pementasan Celah (Perjalanan Seorang Pelancong), dan Cinta Persegi sebagai aktor. Mengikuti program belajar keaktoran Actor Studio 2009 di Teater Garasi dan terlibat dalam pertunjukan Bocah Bajang. Sekarang sedang berproses dalam pertunjukan Medea Media (naskah asli Euripedes, sutradara Naomi Srikandi).

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi.

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

Advertisements

Oleh: M. Iwan M.

Judul di atas adalah tajuk pertunjukan teater persembahan Teater Tangga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berkolaborasi dengan beberapa UKM kampus seperti UKM Musik, MM Kine Klub, RPC, Fotka, Ciko, Ikom Radio, dan Minoritas Seni Kramotak pada tanggal 18 maret 2010 di pendopo kantin selatan kampus terpadu UMY. Pertunjukan itu menampilkan dua monolog dengan judul “On Se Raconte” oleh Rahmat ‘Jack’ Jakadril dan “Sttt Diam!” dibawakan oleh Ikhwan Mutaqien.

On Se Raconte, bercerita tentang kehidupan seseorang yang berubah secara drastis berkat mimpi-mimpinya yang tak kenal kata ‘batas’. Sang aktor menuturkan cerita tentang Wikan, seorang teman di masa kuliahnya yang tiap saat kerjanya bersantai di kantin dan tidur bermalas-malasan di kamar. Namun begitu, Wikan adalah seorang yang punya pendirian kuat. Singkat cerita, saat ini si aktor sedang berada di Paris melakukan tugas sebagai wartawan. Dia sedang menunggu di sebuah taman untuk bertemu Wikan, sahabat lamanya. Wikan sendiri diceritakan berada di Paris untuk menggelar pertunjukan teaternya. Sang aktor tak habis pikir dan penonton seperti saya pun bertanya-tanya: ‘kok bisa orang pemalas seperti Wikan berkarir sampai ke Paris?’

On Se Raconte. Foto: Maulana Syarif

Di Paris inilah cerita monolog itu bermulai. Set yang didesain oleh M. Habib Syaifullah menyerupai yang biasa kita lihat di berbagai film Eropa yakni sebuah taman dengan kursi kayu berhias ornamen besi ukir di beberapa bagian kursi bersebelahan dengan pohon kayu kecil tanpa daun yang dengan segera mengesankan musim semi, serta sebuah lampu taman di belakang kursi kayu sebagai pemanis interior. Di bagian lighting, Dhinar Aryo Wicaksono memperkuat suasana adegan sang aktor mengenang Wikan dengan cahaya redup. Alunan musik yang diatur oleh Suprapto Setyo Utomo membuat para penonton seakan terhipnotis, tak berpaling dari cerita naskah yang disusun oleh Teater Tangga dan disutradarai oleh Septian Nur Yekti ini.

Dalam monolog Sttt Diam! Ikhwan dengan kostum jas bercorak hijau ramai dan properti box dorong yang mengingatkan penonton pada box yang sering dibawa oleh penjual obat di pasar tradisional. Namun box yang dibawa aktor ini penuh dengan hiasan gambar bibir dan bermacam quote seperti ‘Sttt…Diam!’, ‘caleg’, ‘korup’, dll. Di tengah panggung ditempatkan sebuah kursi yang dipergunakan aktor sebagai tempat untuk bercerita. Tata panggung digarap oleh Suprapto Setyo Utomo. Pertunjukan diawali dengan masuknya aktor mendorong box diiringi musik arahan Rifqi Mansur Maya. Ia melangkah dengan tegap penuh percaya diri, berkeliling satu kali dan kemudian meletakkan box tersebut tepat di samping kursi yang ada di tengah panggung, maju perlahan ke arah penonton sembari membuka pertunjukannya dengan lagak mirip pembawa acara talk show di televisi dengan berkata: ‘selamat malam Yogyakarta!’.

Sttt Diam. Foto: Darpita Jiwandana

Cerita yang diangkat dari karya Giri Ratomo dan disutradarai oleh Siti Fauziah ini berkisah tentang begitu banyaknya larangan di sekitar kita untuk melakukan ini dan itu, serta banyaknya anjuran yang mirip paksaan untuk melakukan ini dan itu, sementara apa yang kita inginkan tak digubris. ‘Lantas untuk apa kita hidup jika pilihan untuk diri sendiri musti berasal dari orang lain? Untuk apa pengalaman dan pelajaran yang kita dapatkan dan kemudian direalisasikan lewat karya? Mengapa pula musti ada begitu banyak larangan jikalau kita tahu dan mengerti arti tanggung jawab?’ Kira-kira inilah menurut saya apa yang ingin disampaikan oleh monolog Sttt Diam!

Satu hal yang menurut saya menjadi benang merah dari kedua cerita dalam pertunjukan “Imagined Lifess” adalah perihal mimpi. Pertama On Se Raconte yang bercerita tentang seseorang yang berhasil menggapai mimpi yang semula diragukan oleh orang-orang di sekelilingnya. Yah hidup manusia siapa yang tahu dan kadangkala kemujuran membuat manusia semakin percaya jikalau Yang Maha Kuasa itu memang benar-benar ada. Sedangkan Sttt Diam! bercerita tentang mimpi yang terbelenggu bermacam aturan. Apa jadinya jika mimpi saja dilarang? Untungnya sampai saat ini mimpi belum dilarang dan masih belum ada alat canggih yang mampu menyensor mimpi-mimpi kita. Maka, bermimpilah setinggi mungkin selagi masih bisa.

* M. Iwan M, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

Oleh: Dhinar Aryo Wicaksono*

Peranku adalah Suparto, seorang pelancong yang tersesat di sebuah kota. Ini debut pertamaku bermain teater. Ia adalah seorang tokoh dalam pertunjukan berjudul “Celah, Perjalanan Seorang Pelancong” produksi Teater Tangga. Pertunjukan ini dimainkan di tiga kota yaitu Semarang, Solo, dan Jogja pada bulan November 2008 lalu. Aku belum mengenal teater sebelumnya, entah karena dorongan apa dan dari siapa, aku mengikuti proses ini dari awal penggarapan hingga pementasan berlangsung.

Bermain teater itu ternyata membuat nervous, grogi, kaku, dan banyak perasaan sensasional lain saat menghadapi penonton. Campur aduk.

Proses produksi “Celah, Perjalanan Seorang Pelancong” dimulai dari bulan Februari 2008, berangkat dari keinginan teman-teman untuk membuat sebuah pementasan. Pada awalnya dipilih naskah “Senja Dengan Dua Kelelawar” karya Kirdjomulyo. Akan tetapi di tengah proses penggarapan yaitu saat pembahasan naskah, kami merasa tidak sreg pada bahasa naskahnya yang agak kaku (meskipun sutradara membebaskan cara kami mengucapkan teksnya). Akhirnya kami memutuskan untuk mengganti naskah. Selain itu, beberapa aktor mengundurkan diri sehingga kami kekurangan pemain.

Penggantian naskah tidak serta merta membuat kami meninggalkan naskah lama. Sebelum diputuskan untuk membuat naskah baru, sutradara—M. Qomaruddin—mewajibkan para aktor untuk melakukan pengamatan di stasiun berdasar karakter tokoh-tokoh dalam naskah “Senja Dengan Dua Kelalawar”. Hasil pengamatan itu kemudian dituliskan atau diceritakan dalam bentuk monolog. Pada awalnya aku sempat bingung dalam melakukan pengamatan, tapi kulakukan saja tanpa banyak berpikir. Tidak hanya ke stasiun, kami juga sempat pergi ke pasar. Dengan bekal pengetahuan yang sedikit, kucoba menuliskannya. Lewat beberapa kali pengamatan dan diskusi yang membingungkan, akhirnya aku berhasil menuliskan ceritaku.

Setelah semua tulisan terkumpul, kami menunjuk empat orang untuk menjadi tim naskah yang bertugas merangkai monolog-monolog itu menjadi sebuah naskah ensamble. Mereka adalah Nur ”Brek” Kholis, Septian, M Reza, Rifqi MM. Melalui diskusi dan perdebatan selama satu setengah minggu, akhirnya naskah selesai dikerjakan meski masih mengalami proses pengeditan.

Casting kembali dilakukan. Pada saat presentasi awal—yang dilakukan sambil berbuka puasa bersama di Kampus UMY—satu orang aktor mengundurkan diri sehingga naskah tidak bisa dipentaskan secara utuh. Aku merasa ada yang kurang optimal dalam permainan karena persiapan yang kurang matang. Aku belum merasa puas.

Sehabis lebaran, kami kembali berkumpul. Kami menambah beberapa pemain dan kru artistik. Pemain bertambah menjadi duabelas orang, delapan laki-laki dan empat perempuan. Rasanya seperti mulai dari awal lagi. Pada awal pertemuan seluruh tim, sutradara kembali mencoba menjelaskan konsep dan cerita yang ada dalam naskah. Kemudian jadwal latihan mulai dibicarakan. Latihan dibagi menjadi dua sesi: sore dan malam. Sore untuk latihan dasar, malamnya berlatih akting dan baca naskah. Masuknya pemain baru ternyata merubah irama permainan, kami harus beradaptasi lagi dengan mereka. Ini bukan perkara mudah, apalagi adegan sering berubah-ubah, menjadi agak sulit mengingatnya.

Hari berganti hari seiring dengan lika-liku proses kreatif kami. Hari H pementasan pun sudah mulai dekat, tapi beberapa hal teknis pertunjukan belum selesai. Semua yang terlibat proses sudah mulai menyibukkan diri dengan kerja masing-masing. Detik-detik menegangkan akan datang. Pementasan segera dimulai.

Perjalanan mengenali Proses ber-Teater

Yang Membosankan

Pada minggu-minggu awal bergabung di Teater Tangga, aku dan teman-teman menjalani latihan rutin: olah tubuh, vokal, rasa, dan lain sebagainya. Terkadang kami hanya diskusi ngalor ngidul, atau menonton pementasan kelompok lain, tapi kami lebih sering latihan. Meskipun telah ditegaskan berulang-ulang bahwa latihan adalah bagian dari proses, tapi hal itu sering membuatku bosan dan nggak semangat. Ditambah lagi ketika mulai ada naskah, kami harus membaca, menghafal, dan berdiskusi. Sungguh sangat melelahkan. Ketidakhadiran salah satu pemain juga membuat latihan jadi kurang bersemangat. Awal yang membingungkan, aku belum tahu apa yang musti aku lakukan. Akhirnya aku hanya mengikuti ke mana air mengalir.

Yang Mengasyikkan

Meskipun hanya empat orang pemain—ditemani sutradara, penata kostum, dan penata artistik—kami mengawali penjelajahan ke stasiun. Siang itu hujan, kami berangkat dari sanggar naik bus menuju Malioboro. Tempat awal yang kami tuju adalah pasar Beringharjo. Agak lama kami berada di sana hingga hujan tinggal gerimis saja. Sebelumnya aku tak pernah benar-benar mengamati orang-orang di sana. Ini menyenangkan, selain refreshing aku juga dapat pengalaman baru. Perjalanan dilanjutkan ke stasiun Tugu hingga petang dan akhirnya kami pulang.

Setelah pengamatan bersama, kami mendiskusikan hasil amatan, dan menyimpulkan apa saja yang kami temui. Beberapa hari kemudian kami masih menyempatkan diri beberapa kali pergi ke stasiun Lempuyangan dan Tugu, bersama semua pemain. Terkadang kami pergi ke stasiun sendiri-sendiri, siang atau malam Aku sempat beberapa kali ngobrol dengan orang-orang yang ada di sana, untuk mencari hal-hal yang berkaitan dengan peranku. Selain observasi langsung, kami juga beberapa kali menonton film untuk menambah referensi.

Kami kembali berlatih, beberapa kali masih sempat kembali ke kedua stasiun itu. Hingga, pentas pertama (presentasi awal) pun digelar.

Pentas Bagian Kedua

Bergabungnya pemain-pemain baru membuatku semakin bersemangat, sekaligus membuatku bingung berinteraksi dengan permainan. Aku pun sering menemukan kebuntuan saat latihan. Meskipun beberapa kali kami menggunakan metode latihan improvisasi, tapi belum juga  merasa pas dalam bermain. Suasana permainan menjadi semakin tidak karuan. Lalu kami memutuskan untuk kembali ke lapangan untuk kembali melakukan pengamatan.

Beberapa minggu sebelum pementasan, kami melakukan latihan di stasiun. Awalnya di stasiun Tugu. Ketika babak pertama baru berjalan beberapa menit, seorang teman yang berperan sebagai orang gila ditangkap satpam. Dan di akhir babak itu, beberapa orang satpam berlari ke arah kami yang sedang melakukan adegan pertengkaran. Akhirnya kami pun diusir, lalu pergi ke stasiun Lempuyangan. Di sana kondisinya tak jauh berbeda dan tidak memungkinkan kami untuk melakukan latihan. Akhirnya kami pulang.

Dari latihan di stasiun, juga percakapan dengan orang-orang yang ada di sana, kebingunganku dalam bermain selama ini sedikit terjelaskan. Ada suasana yang berbeda di sana. Suasana yang seharusnya kuhadirkan di atas panggung. Selain itu aku jadi punya pengalaman menulis. Barangkali aku tak akan menuliskan ceritaku jika aku tidak duduk dan ngobrol dengan orang-orang di stasiun.

Hasilnya

Adalah sebuah cerita tentang kehidupan orang-orang jaman sekarang. Mereka selalu memikirkan keuntungan dirinya sendiri tanpa melihat keadaan sekitar. Aku berperan sebagai orang desa yang sedang jalan-jalan ke kota, dan terjebak dalam sebuah situasi yang mengantarkannya pada peristiwa-peristiwa aneh yang belum pernah ia ditemui sebelumnya.

Di Semarang kami pentas di dua tempat dan mendapat respon yang berbeda, ada yang senang dan ada yang tidak. Begitu pula di Solo dan Jogja. Tapi mungkin begitulah kesenian, relatif. Pertemuan dengan penonton juga memberi pengaruh dalam permainan −dalam setiap pertunjukan rasanya selalu beda.

Kami masing-masing (di Teater Tangga) punya latar belakang yang berbeda, dan mencoba berinteraksi dalam sebuah tujuan yaitu menjalani proses kreatif dalam teater.

Akhir kata, dalam “Celah, Perjalanan Seorang Pelancong” banyak hal yang aku rasakan. Dari bosen, males, reading yang menjengkelkan, hingga badan pegal-pegal. Tapi beberapa point dalam pengalamanku bermain teater telah kutandai. Mengalami atau setidaknya berada dalam suasana stasiun membuatku sedikit tahu tentang bagaimana harus bermain dalam peranku, meskipun kurang sempurna. Yah, karena sempurna hanya milik Tuhan semata.

* Dhinar Aryo Wicaksono (aktor & ketua Teater Tangga 2008/2010)

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

Oleh: Muhammad AB *

Sebuah ruangan kafe, tiga buah meja berjajar dengan kursi-kursi yang mengelilinginya. Beberapa pengunjung duduk di kursi memesan sesuatu pada dua orang pelayan yang selalu bersiap melayani. Suasana Resto Bar yang menjadi latar dalam pertunjukan benar-benar dibangun sebagai sebuah resto di panggung pertunjukan Gedung F Benteng Vredeburg Yogyakarta. Bahkan lengkap dengan  hidangan dan minuman yang disajikan pada para aktor di atas panggung.

Pentas Pakaian dan Kepalsuan berasal dari terjemahan Achdiat Kartamihardja atas naskah karya Arkady Timofeevich Averchenko, yang dalam bahasa Inggris berjudul The Man in Grey Suit. Terjemahan ini terbit dengan pada tahun 1956 dengan judul Pakaian dan Kepalsuan. Teater Tangga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  memanggungkannya pada Senin malam, 5 Maret 2007.

Kostum yang dipakai para aktor merujuk pada mode pakaian di masa awal kemerdekaan Indonesia. Suasana restoran dan mode pakaian sengaja ditonjolkan untuk mendukung alur cerita yang memang berkisah tentang masa awal kemerdekaan Indonesia, dimana banyak orang yang tiba-tiba mengaku menjadi pahlawan, pamer gagah keberanian di medan perang di hadapan orang lain, termasuk yang terjadi di sebuah kafe dalam pertunjukan Pakaian dan Kepalsuan.

Pada awalnya di kafe tersebut segalanya berjalan biasa saja. Pengunjung dating memesan minuman lalu bercakap-cakap dengan sesame teman maupun pelayan. Percakapan tentang perang, perjalanan, sampai hubungan pertemanan pun dibicarakan di sana. Mereka berkumpul dalam satu meja. Lalu, identitas mereka di masa lalu pun mulai terkuak. Mereka semua mengaku sebagai orang-orang yang sukses di bidangnya dimasa kini. Ketika Sumantri (diperankan oleh Raden Bagus Ariwibowo) datang bersama istrinya (diperankan oleh R.R. Wiwara), suasana menjadi makin ramai. Tampak mereka jarang bertemu dengan Sumantri, yang saat itu menunjukkan diri sebagai orang yang paling dihormati dan paling sukses diantara mereka kini.

Rusman menodongkan pistol kepada Sumantri dkk

Tiba-tiba, Hamid (Ita Sudradjat) dan Rusman (Nurkholis “Brekele”) berdiri dari kursi dan mendatangi mereka. Munculnya Hamid yang menekan mereka dengan sebuah pistol, membuat suasana berubah menjadi tegang. Hamid dan Rusman memaksa mereka untuk mengakui kebohongan-kebohongan mereka sebagai orang-orang sukses, lalu memaksa mereka untuk mengakui identitas mereka sebagai penjual obat, tukang sulap, dan pengangguran.

Akhirnya Sumantri mengakui bahwa istri yang dibawanya itu adalah seorang pelacur. Tetapi, yang menarik justru pelacur inilah yang melawan Hamid dan Rusman. Tak disangka, Hamid malah mengakui bahwa pistol yang dibawanya tidak berisi peluru. Tapi Sumantri dan kawan-kawannya sudah lari ketakutan.

Hanya si istri yang berani melawan intimidasi Hamid dan Rusman

Ternyata Hamid dan Rusman hanya sekedar menakut-nakuti dan mempermainkan Sumantri dan kawan-kawannya. Namun, Hamid dan Rusman pun lari ketakutan di akhir pertunjukan. Pada akhirnya penonton tahu bahwa hanya pelacur itu dan kedua pelayan resto itulah yang tidak membohongi orang lain dengan kepalsuan-kepalsuan yang mereka buat.

Pertunjukan ini bisa menjadi contoh untuk pertunjukan kecil dengan bentuk teater kamar. Gedung F Benteng Vredeburg dengan ruangnya yang kecil namun cukup representatif bisa menjadi tempat pertunjukan alternatif untuk pertunjukan-pertunjukan kecil dengan penonton yang terbatas.

Teater Tangga membawa pertunjukan ini dalam bentuk realis. Membawa suasana masa awal kemerdekaan Indonesia sesuai dengan naskah terjemahan Achdiat Kartamihardja pada masa itu. Satu kekurangan pertunjukan ini adalah bahasa lisan para aktor yang menggunakan bahasa lisan masa kini. Tidak menggunakan bahasa lisan di masa yang sama dengan ruang latar yang mereka bangun.

*Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

*****

Pimpinan Produksi: Nurcholis Stage Manager: M. Najhan Pubdok: M. Reza Penata Set dan Musik: M. Nur Qomarrudin Penata Lampu: Riez P.. M. Reza Penata Kostum: S Asya Supervisor: Tri Tata Raharja Aktor: Ita Sudrajat, Nurcholis, Kusuma AK, R. Bagus A.B., M. Ferdhy T,   Riyez, R.R. Wiwara

Komentar Penonton

“Settingnya bagus, ceritanya bagus, pelayannya lucu, hehehehe.” (Nita, 19 tahun, Mahasiswi UMY)

“Yang bawa pistol kurang meyakinkan. Ceritanya dia jadi tentara bukan sih? Model pakaiannya retro keren, ceritanya terlalu panjang.” (Nono, -)

“Katanya perabotan di kafe-nya itu dibangun sendiri sama mereka, wah keren-keren. Aktornya bagus-bagus, tapi suaranya kurang keras. Sayang aku dapat tempat agak di belakang.” (Arnita, 20 tahun, mahasiswi UMY)

Oleh: Y. Thendra BP*

Seorang kawan karib sekaligus lawan diskusi yang kerap bikin urat leher saya tegang, di suatu malam di bawah lampu 20 watt, bercuap-cuap tentang teater kampus: “Sudahlah, kamu minggat saja dari teater kampus. Masak dari tahun ke tahun menghadapi masalah yang itu-itu juga. Proses yang harus menyesuaikan dengan jadwal akademik. Penerimaan anggota baru. Pendanaan yang bergantung banget dari kampus. Mana pertunjukannya sering terbengkalai lagi. Gagap. Lha, kamu kan sudah bertahun-tahun berteater. Kapan lagi mencari gagasan agak wah tentang teater!”

Saya tidak menyahuti komentarnya yang serasa “cuka” itu. Saya lebih memilih diam sambil memperhatikan kerutan-kerutan di dahinya dan tangannya yang bergerak kemana-mana hampir tanpa bentuk dan irama -gerak tangan alami yang tercipta tanpa kepura-puraan yang indah- tanpa disadari oleh pemiliknya, gerak tangan yang tak membuat bekas di udara yang ditinggalkan. Kadang, saya lebih tertarik pada gerak tubuh orang yang sedang berbicara. Gerak tubuh itu menyimpan ruang gelap dalam bahasa.

Ngapain kamu masih betah berteater dengan kawan-kawan yang manja itu”.

“Tidak semuanya manja, kok!” akhirnya saya menyela juga karena tak tahan.

“Oke, tak semuanya manja. Tapi sejauh mana mereka bersungguh-sungguh berteater? Paling sampai skripsi.”

Saya menukikkan mata pada karpet yang menjadi alas duduk kami. Tak semuanya, batin saya, seakan ingin menampik ragu yang lebih banyak datang dari diri saya sendiri. “Teater kampus? Ya gitu, deh!”  Kemudian ia tertawa. Selepas itu, kami lebih banyak bergunjing tentang orang orang -kadang komunitas- teater yang cukup dikenal. Tentang peristiwa teater yang mereka lahirkan, hingga percakapan kami akhirnya jadi  membosankan. Ia minta permisi. Pulang tanpa membungkukkan badan. Sepeninggal dia, saya tercenung. Benarkah teater kampus itu hanya sekumpulan mahasiswa yang suka-suka? Yang menjadikan teater semacam aspirin bagi rutinitas “kuliah”, atau memilih teater sebagai alternatif pencegah bunuh diri dari kesepian.

Saya membuka memori intim saya bersama Teater Tangga, yang notabene adalah teater kampus dan tempat saya belajar berteater. Sekian pementasan telah saya hasilkan bersama kawan-kawan, terlepas dari baik dan buruk. Kadang saya dan beberapa kawan terlibat dalam proses teater di luar Teater Tangga. Ikut Workshop. Diskusi tentang teater, bersama menonton pertunjukan. Membagi uang kiriman bulanan yang tak seberapa antara kebutuhan harian dan untuk mencari referensi teater. Mengatur jadwal antara kuliah, kerja (jika sedang), mencuci pakaian, dan berlatih teater. Dan tanpa bermaksud ingin menghitung jerih, beberapa peristiwa teater juga kami bantu dengan meminjamkan peralatan pentas yang kami punya. Dulu, ketika teater Tangga punya ruang pertunjukan sederhana di jalan Hos Cokroaminoto No. 17 (mantan kampus I UMY), beberapa pementasan dan diskusi teater pernah terjadi di sana, baik dari Jogja maupun luar Jogja.

Saya juga percaya, ada teater kampus lainnya melakukan hal yang lebih baik dari teater Tangga. Intens melakukan proses kreatif teater. Misalnya, Teater Gadjah Mada dengan Ketoprak Lesung-nya, atau Teater Sahid UIN Sarif Hidayatullah di Jakarta. Juga teater kampus lainnya. Lantas, kenapa teater kampus hanya seperti mentimun bungkuk, masuk karung tapi tak masuk hitungan? Bukankah peristiwa menonton saja, misalnya, sudah menjadi bagian dari peristiwa teater. Di Jogja sekarang, kalau kita jujur, yang menjadi penonton terbesar pertunjukan teater dan jangan-jangan sebagian besar pelaku teater itu sendiri sebagian besar adalah para mahasiswa, baik yang atas nama kampus ataupun tidak.

Hmm, kawan saya itu terlalu berlebihan melihat teater kampus sebagai teater “sekadar”. Barangkali, ia terlalu terpesona dengan “estetika” dan pertunjukan yang besar, agak acuh dengan peristiwa kecil teater. Barangkali, ia lupa bahwa ada peristiwa (teater) sederhana yang terus berlangsung di sekitarnya tanpa menagih apa-apa. Dan sudah saatnya peristiwa (teater) sederhana itu mendapat tempat, tercatat dalam diary teater Indonesia (?), paling tidak di Jogja kota “budaya” ini. Atau bisa jadi, ia memberikan sindiran halus bagi pelaku teater kampus macam saya, untuk memikirkan ruang teater lain pasca aktif di teater kampus. Dan jika ini benar, tentu saya mengucapkan tengkyu untuknya. Tengkyu bertubi-tubi, fren.

Malam itu, di bawah lampu 20 watt saya melihat bayang-bayang tubuh saya yang tergeletak di karpet. Bayang-bayang tubuh saya seperti awan gelap yang menyimpan hujan.

*Y. Thendra BP, berasal dari Sumatera Barat, lahir 10 Mei. Sutradara dan aktor pada beberapa pertunjukan Teater Tangga dan beberapa kelompok lain. Selain itu ia juga menulis cerpen, puisi, dan esai, dan naskah pertunjukan.

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)