July 2009


Oleh: Indra Tranggono **

Menciptakan naskah drama, tidak dapat berangkat (hanya) dari ruang kosong alias mengandalkan khayalan, ilham dan lainnya. Meskipun bagian dari fiksi, naskah drama merupakan dunia penciptaan yang disangga oleh data, fakta sosial, logika dan imajinasi. Yang dimaksud data adalah bahan-bahan yang dikisahkan. Fakta sosial adalah kenyataan yang tumbuh dan hidup di masyarakat yang dapat dikenali, dirasakan, dan dihayati. Logika adalah jalan pikiran yang dapat diikuti dan dirunut sebab-akibatnya. Sedangkan imajinasi adalah daya fantasi yang menjadikan sebuah karya memiliki jarak estetis dengan realitas, dengan kata lain karya itu menjelma menjadi jagat estetis, sebuah dunia kemungkinan yang sarat dengan keindahan.
Meskipun terkait dengan data dan fakta sosial, karya fiksi bukan merupakan “laporan kering dari lapangan”. Data dan fakta itu harus diposisikan sebagai materi cerita yang diolah, di-create secara maksimal sehingga menarik untuk dikisahkan kepada publik. Untuk itu dibutuhkan kemampuan imajinasi dan kemampuan logika, agar karya itu tidak hanya ditopang data dan fakta yang kuat (baca: sosiologis), tetapi juga logis dan indah sehingga karya itu tidak mengada-ada, karena gagal mengenali realitas sosial yang dikisahkan.
Berbeda dengan ilmu (misalnya sosiologi) yang bertujuan menganalisis dan menguraikan fakta dan data sosial sehingga menghasilkan abstraksi, ‘seni sastra’ (baca: karya prosa, termasuk naskah drama) bertujuan mengisahkan data dan fakta sosial yang terkait dengan soal-soal kemanusiaan atau kehidupan yang lebih luas. Sebagai realitas estetik, karya fiksi itu dapat dikenali, dirasakan, dipahami, dihayati, dan diapresiasi.

Mengolah ide
Dalam naskah drama setidaknya terkandung dua hal yakni ide sosial dan ide estetik. Ide sosial adalah gagasan terkait dengan persoalan-persoalan sosial sedangkan ide estetik adalah gagasan yang terkait dengan faktor-faktor estetika atau keindahan, di mana ide sosial diwujudkan lewat kemampuan teknik ungkap (pengolahan simbol, idiom, dll).
Sebuah naskah drama tidak lahir dari ruang kosong atau tanpa diawali oleh ide. Ide kerap dipandang sebagai pembuka ruang kemungkinan, di mana suatu masalah, suatu tema dikisahkan. Ide menggerakkan tema. Tema menggerakkan cerita/kisah.
Pertanyaannya adalah, bagaimana cara mendapatkan ide cerita? Ide bisa ditemukan melalui riset. Ada dua jenis riset yang bisa dipakai yakni riset pustaka dan riset sosial.
Riset pustaka dilakukan lewat penelitian/penyerapan dunia wacana, bacaan, atau buku. Ia bisa berupa wacana tentang ilmu sosial, hasil penelitian-penelitian, buku-buku fiksi (puisi, cerpen, novel dll), buku-buku sejarah, politik, koran, majalah, tabloid, dll. Referensi yang kita jaring dari jagat wacana pustaka itu akan menjadi inspirasi bagi proses kreatif kita.
Riset sosial adalah pengamatan atau penelitian/studi di lapangan guna menemukan berbagai persoalan masyarakat sekaligus persoalan manusia (hubungan antarmanusia) yang berada dalam lingkup persoalan itu. Karena itu, di samping kita mempelajari persoalan, kita juga mempelajari berbagai watak manusia, beserta pandangan-pandangan ideal dan sikap-sikap sosialnya.
Dalam konteks itu, kita bisa mengacu pada contoh cerpen-cerpen karya Seno Gumira Ajidarma tentang Timor Timur (lihat kumpulan cerpen Saksi Mata). Seno mengolah kembali realitas politik yang terjadi di Timor Timur itu, lewat pemunculan tokoh baru dengan karakter yang kompleks, pemaparan setting tempat dengan nama berbeda, dan dengan substansi masalah yang berbeda. Bukan lagi perang antara ABRI versus pejuang bawah tanah Timur Timur an sich, melainkan menukik ke wilayah kemanusiaan suatu tokoh. Hasilnya adalah sebuah dunia kisah, dunia imajinasi yang memiliki nilai tafsir yang kaya.
Contoh lain adalah skenario Sayekti Hanafi (yang sudah disinetronkan) karya Alex Suprapto Yudo. Ia berangkat dari kasus nyata di masyarakat yang terpublikasi di media cetak tentang penyanderaan bayi yang dilakukan sebuah rumah sakit karena orang tua bayi itu tidak mampu menebus seluruh ongkos kelahiran bayinya. Alex mengambil substansi masalahnya, kemudian dikembangkan lewat kekayaan imajinasinya.

Menguji data dan fakta
Dari paparan di atas, sesungguhnya ide bisa didapatkan dari mana saja. Karena itu, sebagai penulis, kita tidak harus “ngarang” jika kita punya kepekaan sosial, kepekaan intuisi, dan kepekaan intelektual untuk menjaring berbagai hal dan kemungkinan yang ada di ruang sosial kita.
Setelah ide kita temukan, pekerjaan kita selanjutnya adalah melakukan eksekusi materi, dengan menguji fakta dan data yang kita miliki sehingga cerita kita menjadi masuk akal (make sense) dan sesuai dengan logika cerita yang kita bangun. Artinya, kita perlu mengenali secara lebih rinci berbagai hal yang terkait dengan materi cerita, seperti setting waktu, setting sosial, setting tempat, karakter tokoh, dll.

Merumuskan tema
Setelah kita yakin dengan seluruh data dan fakta, maka langkah selanjutnya adalah menentukan tema. Tema adalah gagasan besar yang melandasi cerita. Artinya, dalam tema itu terkandung gagasan atau pandangan kita tentang suatu masalah. Dan, biasanya tema itu bisa dirumuskan dalam suatu kalimat, misalnya “Perjuangan perempuan terhadap dominasi laki-laki” atau “Tragedi kemanusiaan dalam masyarakat yang korup”, dll.
Dalam proses penulisan cerita, tema itu berfungsi sebagai orientasi cerita, sehingga cerita menjadi punya fokus atau tidak melebar ke mana-mana. Tema itu juga “membimbing” kita untuk menciptakan tokoh-tokoh, menciptakan setting sosial, setting waktu, setting suasana peristiwa, dll.

Konkritisasi tema
Tema yang semula abstrak itu harus kita konkritkan, menjadi sebuah kisah. Untuk itu kita perlu menentukan beberapa hal:
1.    Setting masalah adalah persoalan mendasar yang melatarbelakangi berlangsungnya konflik antar tokoh. Ia menjadi pemicu persoalan yang membawa tokoh-tokohnya ke dalam masalah yang kompleks. Misalnya kasus korupsi atau apa saja yang menarik untuk kita olah.
2.    Setting waktu menyangkut kapan peristiwa itu terjadi. Waktu di sini bisa diartikan tahun peristiwa maupun kesatuan waktu dalam logika cerita (pagi, siang, sore, malam, dini hari, dll). Waktu dalam pengertian tahun peristiwa akan mengikat cerita pada dinamika masyarakat yang terkandung di dalamnya. Misalnya jika waktu itu menunjukkan angka tahun 1970-an, maka dinamika masyarakat yang digambarkan pun harus sesuai dengan masa itu. Sangat tidak logis misalnya pada masa itu Anda menampilkan tokoh menggenggam handphone. Sedangkan waktu dalam pengertian “pagi”, “siang”, “sore”, “malam “, atau “dini hari”,  terkait dengan suasana.
3.    Setting tempat terkait dengan di mana peristiwa itu terjadi. Pengertian tempat itu bisa mengacu pada wilayah geografis misalnya desa, kota, negara, atau mengacu pada pengertian lokasi: ruang kantor, halaman rumah, teras, pantai, jalan besar, goa, pub, hotel, dll.
4.    Tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita adalah manusia yang riil, punya darah-daging, punya ambisi, dan punya watak. Maka tokoh-tokoh itu harus kita identifikasi lewat jenis kelamin, nama-nama tokoh, ciri-ciri fisik, ciri-ciri psikologis,  dan status sosial.
5.    Pesan sosial adalah muatan nilai yang terkait dengan pandangan hidup atau pandangan ideal yang dimunculkan berkait dengan masalah yang kita ceritakan. Misalnya, pesan itu berbunyi, “Hidup mewajibkan kita untuk berbagi kepada sesama”. Akan tetapi dalam perwujudannya pesan itu tidak ditampilkan secara verbal, melainkan lewat berbagai peristiwa dramatik. Dalam konteks naskah drama, pesan itu harus mampu dilukiskan, bukan dinyatakan lewat statement.

Sinopsis
Sebelum kita berlanjut ke dalam penuliasan naskah drama, kita harus menuliskan lebih dulu sinopsis/ringkasan cerita. Yang terpenting, dalam sinopsis harus mengandung unsur-unsur cerita, yaitu obyek masalah, tokoh (dengan berbagai wataknya), setting waktu dan tempat, alur cerita (yang dianyam dalam logika sebab akibat dan tangga dramatik). Dalam penulisan cerita, sinopsis itu bisa saja tidak sepenuhnya tergambar persis dengan cerita yang terbangun. Penulis punya kemungkinan untuk mengembangkan gagasan cerita, menampilkan tokoh-tokoh baru yang penting, memperkaya konflik dan lainnya.
Setelah sinopsis ditulis, maka tugas kita adalah membuat treatment, susunan adegan yang memiliki hubungan sebab akibat. Artinya adegan pertama terkait dengan adegan dua, dan seterusnya. Hubungan antar adegan itu harus membentuk alur, atau plot yang mengandung tangga dramatik. Meksipun masih dalam secara ringkas,  dalam setiap adegan harus terkandung: (1) tokoh, (2) peristiwa, (3) muatan dialog, dan (4) suasana.
Setelah treatment tersusun, maka pekerjaan kita selanjutnya adalah menuliskan treatment itu dalam bentuk naskah drama, di mana setiap adegan yang semula hanya merupakan inti-inti peristiwa, diurai menjadi adegan yang utuh baik dialog para tokohnya maupun peristiwa dan suasananya. Peristiwa dan suasana dituliskan dalam bentuk keterangan atau penjelasan yang berfungsi sebagai rujukan bagi sutradara atau pemain yang mementaskan naskah tersebut.

*) Disunting dari Pengantar Diskusi Penulisan Naskah Drama, Festival Teater Jogja 2009, diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta dan Yayasan Umar Kayam, 13 Juni 2009
**) Cerpenis dan pemerhati kebudayaan, menulis beberapa naskah drama.

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

Advertisements

Oleh: Yuniawan Setyadi*

Awalnya, saya mendapat undangan lewat email dari Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) untuk menonton pertunjukan lawak gabungan pelawak dari Jogja, Surabaya, Papua, Bali, dan Semarang. Saya langsung tertarik untuk menonton dengan harapan bisa tertawa. Memang itu saja alasan saya untuk menonton, tertawa, bukan yang lainnya.

Malam itu, 29 Juli 2009, saya tiba di Padepokan Bagong Kussudiardja pukul 19.30, terlambat 30 menit dari waktu yang tertera dalam undangan. Suatu kebetulan bagi saya, ternyata acara mundur dan baru dimulai pukul delapan. Seperti biasa, MC membuka acara dengan sedikit pengantar: pertunjukan ini adalah presentasi peserta workshop lawak yang diselenggarakan oleh Yayasan Umar Kayam (YUK), Jojoncenter Dokumentasi Komedi Indonesia, dan YBK pada 27-29 Juni 2009. Satu hal yang menarik disampaikan MC adalah penyelenggara akan membagikan door prize berupa beberapa kaos untuk penonton jika pertunjukannya tidak lucu. “Sudah mulai ngangkat nih”, pikirku.

Pertunjukan pun dimulai. Seseorang (pelawak dari Papua) muncul, agak grogi sepertinya, membawa selembar kertas yang berisi pengumuman pendaftaran calon lurah. Ya, kisah yang ditawarkan dalam pentas ini adalah tentang pemilihan Lurah. Cukup kontekstual dengan kondisi politik di Indonesia saat itu, menjelang pemilu presiden. Menurut saya pertunjukan lawak memang sering mengangkat isu yang berkaitan dengan kondisi masyarakat yang up to date, sekitar politik. Cerita bermula dari kertas selebaran yang dibawa tadi. Isi selebaran itu memberi inspirasi bagi si pelawak dari Papua dan seorang temannya yang kebetulan juga tidak punya pekerjaan. Mereka ingin mendapatkan keuntungan dari selebaran itu. Informasi tersebut kemudian disebarkan ke seluruh desa, dan mendapat respon dari masyarakat yang ingin menjadi pemimpin. Masing-masing yakin akan menang.

Saat masa kampanye tiba, tiga calon lurah dikumpulkan untuk melakukan kampanye terbuka. Para calon lurah berpidato menyampaikan visi dan misi, juga menjawab pertanyaan dari panitia─mirip debat capres yang ada di tivi─dengan gayanya masing-masing. Karena ini adalah pertunjukan lawak, maka mereka berusaha sebisa mungkin agar lucu. Tapi, penonton masih sepi-sepi saja. Tiba-tiba, entah direncanakan atau tidak, seorang pelawak bintang tamu memotong adegan dan menyuruh semua pemain yang ada di atas panggung untuk istirahat, “wis leren wae, wis angel le arep ngangkatke meneh!” (sudah istirahat saja dulu, sulit untuk membuat lucu lagi!) Huahahaaa… Penonton pun tertawa terbahak-bahak.

Cerita diteruskan. Dua pelawak bintang tamu (Aldo Iwak Kebo dan Mbah Darmo) dari Jogja yang sudah cukup terkenal muncul, berperan sebagai Lurah dan ajudannya. Penampilan kedua pelawak ini dengan guyonan lokalnya bisa membuat penonton tertawa lepas. Lurah (mbah Darmo) berorasi sementara ajudannya (Aldo Iwak Kebo) men-dubbing dari belakang. Mereka saling mengejek dan menertawai satu sama lain sampai si Ajudan tertawa terpingkal-pingkal sendiri hingga tubuhnya yang super tambun itu bergulungan di atas panggung. Adegan ditutup dengan munculnya kembali seluruh pelawak ke atas panggung. Persoalan terjelaskan; sebetulnya di daerah itu sudah ada Lurah dan tidak ada pemilihan lurah baru. Selebaran yang beredar itu ternyata adalah selebaran pemilihan lurah di wilayah Papua sana─sudah kadaluwarsa pula, yang dimanfaatkan oleh dua tokoh penganggur tadi untuk mendapatkan keuntungan.

Secara keseluruhan, sebagai penonton, saya merasa pertunjukan itu kurang lucu. Pelawak peserta workshop kurang bisa memancing tawa penonton, berbeda dengan para pelawak bintang tamu yang lawakannya selalu berhasil menuai tawa. Di sini kelihatan bahwa bagaimanapun juga jam terbang berpengaruh pada kemampuan melawak. Pengalaman manggung adalah guru terbaik bagi pelawak. Oleh karena itu, dalam workshop─dan kuliah umum─yang diselenggarakan sebelum presentasi ini, para pelawak, praktisi, peneliti lawak berbagi ilmu, cara belajar, dan pengalamannya. Di antara mereka adalah Milko (pelawak) dan Eko Bebek (event organizer pertunjukan lawak).

Terlepas dari semua itu, saya tetap menikmati pertunjukan lawak malam itu, karena saya bisa menangkap proses belajar melawak di atas panggung. Dari pertunjukan macam inilah lawak­ akan berkembang. Kemampuan seorang pelawak akan semakin baik dengan memperbanyak jam terbang, dari panggung ke panggung. Dengan begitu maka tidak perlu ada kebimbangan dan pertanyaan “LAWAK INDONESIA MAU DIBAWA KE MANA?”

* Yuniawan Setyadi, anggota kelompok keroncong Irama Tongkol Teduh

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

Oleh: Ayu Indra Ciptaningrum *

Empat orang yang berpakaian ala rakyat jelata duduk dengan berbagai pose di belakang seseorang berkostum ala raja—ia berdiri di tempat tertinggi tepat di tengah paggung. Mereka berlima mematung membelakangi penonton. Setelah MC membuka acara, mereka mulai bergerak, menciptakan suasana sebuah pesta. Laki-laki yang berdiri di tengah adalah sang Raja, dan yang lain adalah tetamu yang tengah minum anggur yang dituang dalam gelas-gelas bambu. Sesaat kemudian lampu berubah merah, seketika itu tamu-tamu menggelepar kesakitan. Rupanya mereka telah diracuni oleh sang Raja yang keji. Para tamu itu terhipnotis dan berubah menjadi hewan-hewan: babi, monyet, kucing, dan tikus.

Begitulah peristiwa awal dalam pertunjukan Raja Kaum Budak karya Yana S. Atmawiharja yang dimainkan oleh Teater 28 Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, 5 Juni 2009. Pementasan berdurasi satu jam tersebut dimulai pukul 16.15 WIB (mundur 45 menit dari undangan). Judul pementasan yang berbau kerajaan, dengan cerita yang bersifat istana centris dan tokoh utama seorang raja atau bangsawan itu membawa ingatan saya pada cerita yang pernah saya dengar: teater pada jaman Elizabethan.

Setting panggung digarap secara minimalis. Di tengah panggung terdapat sebuah kotak yang dapat dibuka sebagai singgasana Raja. Di belakangnya ada tangga bambu, sedangkan di sisi kiri dan kanan panggung terdapat drum dan kotak kecil yang levelnya lebih tinggi. Sementara tata cahayanya didominasi warna merah.

Raja Kaum Budak dimainkan oleh 13 orang aktor Teater 28 dan dipentaskan keliling ke lima kota yaitu Ciamis, Tasikmalaya, Cirebon, Kuningan, Yogyakarta, dan Purwokerto. Pertunjukan ini berkisah tentang seorang Raja yang keji dan semena-mena memperbudak rakyatnya sendiri. Ia telah menyerang negeri tetangga dengan cara licik agar takluk kepadanya. Di tengah cerita muncul ketakutan pada diri sang Raja akan kematian, yang terbaca oleh salah satu tangan kanannya. Kemudian muncullah sutradara dan malaikat pencabut nyawa yang kemayu.

Sutradara dan malaikat pencabut nyawa mengadakan perjanjian agar si malaikat tidak datang pada saat pementasan masih berlangsung dan mencabut nyawa salah seorang aktor di panggung. Si Raja dan menteri yang masih berada di panggung pun tampak ketakutan. Cerita yang “nyleneh” serta pembawaan malaikat pencabut nyawa yang kemayu itulah yang membuat seisi ruang AR Fakhrudin A di lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut heboh oleh gelak tawa penonton yang berjumlah sekitar delapan puluh orang. Suasana mulai menghangat setelah dilanda kebosanan selama hampir setengah jam.

Setelah itu, Raja kembali menerima empat orang tamu. Mereka datang dari negeri-negeri tetangga yang berusaha melarikan diri dari kesengsaraan di negerinya. Sang Raja pun menawarkan tempat tinggal kepada mereka. Namun sebelum mereka tinggal, sang Raja mengadakan upacara minum anggur. Raja menyuruh menterinya untuk mengambilkan anggur khusus yang telah dicampur dengan racun, dan menuangkannya dalam gelas bambu. Mereka pun bersulang. Seperti pada kejadian sebelumnya, semua yang meminum anggur―kecuali sang Raja―menggelepar kesakitan dan akhirnya menjadi budak sang Raja.

Sang Menteri yang ikut meminum anggur pun tak luput dari pengaruh racun. Ia menjadi kaku seperti patung. Raja menjadi sombong, ia mengejek si Menteri karena pada saat dia cemas akan kematian, si Menteri mengejeknya. Tiba-tiba, keadaan berbalik 180⁰. Ternyata anggur beracun tersebut tidak diminum oleh si Menteri, melainkan oleh sang Raja. Raja pun menggelepar-gelepar seperti cacing kepanasan. Si Menteri berbalik mengejek Raja sampai akhirnya mengikat permaisuri di atas tangga bambu. Kemudian datanglah Malaikat pencabut nyawa yang dengan kemayunya malah mencabut nyawa si Menteri.

Cerita Raja Kaum Budak sebenarnya sangat menarik, mengangkat isu perebutan kekuasaan yang kontekstual dengan situasi Indonesia saat ini. Namun sayang, beberapa aktor tidak mendapat “ruh” dari peran yang mereka lakonkan. Hanya beberapa peran saja yang terlihat bagus: peran hewan-hewan dan malaikat pencabut nyawa. Beberapa dialog terdengar belibet dan sedikit tertelan.

* Ayu Indra Ciptaningrum, Mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), aktif di Teater Sekrup.

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)


*****

Kerabat Kerja

Aktor Perry, Fauzan, Indri, Asep, Nizar, Lia, Dian, Feby, Reza, Tintin, Fitri Levian, Novi, Restiawati Pimpro Angga Karuniawan Staf Produksi Sandy Elwahabi, Slamet Wahyudi, Siti, Hani, Abdurahman, Asma, Indra, Eva, Kartika, Rianggi, Neng, Dodi, Rina, Dendong, Inem, Camani, Sely Selviana, Maulana Alam, Dzakiyul.

Komentar Penonton:

Dari keseluruhan penampilan sih masih belum punya ruh yang hidup, tapi idenya sebenarnya menarik kok… Dan applause buat kegigihan mereka berkarya. (Sulis, 26 tahun, Teater SUA Jogja)

Pentasnya cukup aneh! Ditambah dengan tidak adanya booklet, saya jadi tidak tahu dengan jelas bentuk cerita dan klimaksnya di mana. (Iyuth, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Sanata Darma, usia 20 tahun)

Tema dan cerita yang diangkat kurang asyik dan menarik. Tidak terlalu sreg dengan tempatnya, terlalu dingin. Tapi pementasan itu cukup menghibur. (Ficky Tri Sanjaya, 22 tahun, aktor Bengkel Mime Theatre)

Oleh: Hindra Setya Rini*

Tanggal 2 Mei 2009, sekitar 150an penonton hadir memenuhi ruang pertunjukan di Studio Teater Garasi. Teater SAKATA, sebuah kelompok teater dari Padangpanjang Sumatra Barat, menggelar sebuah pertunjukan dengan judul Tiga Perempuan. Setelah MC menyambut para penonton dan memberi pengantar singkat perihal Teater SAKATA, pertunjukan segera dimulai. Waktu menunjukkan tepat pukul delapan malam.

Lampu-lampu dipadamkan, panggung gelap. Alunan nada dari alat musik tiup Saluang mengumandang memenuhi ruang pertunjukan. Tak lama kemudian lampu menyala, tampak di hadapan penonton seorang perempuan tua—berkerudung dan bersarung—duduk di atas kursi di bagian kiri panggung. Ia sedang makan dengan sangat lahap.

Panggung ditata dengan sederhana dan minim properti. Hanya dua buah kursi yang dijejer menjadi satu, selebihnya ruang kosong dengan backdrop hitam pada bagian belakang panggung (berfungsi sebagai dapur dan tempat keluar-masuk aktor).

Tiga Perempuan mengisahkan tiga orang perempuan Minangkabau yang tinggal bersama dalam sebuah rumah gadang. Mereka adalah Marlena (si Padendang) yang cenderung berpandangan negatif terhadap laki-laki; Sari (anak gadis Marlena), sosok yang berpandangan modern; dan Ipah, perempuan yang menjaga kodrat keperempuanannya dan memilih mengabdi kepada suami. Konflik terjadi ketika Sari memperkenalkan calon suaminya dan mencari tahu bapak kandungnya.

Marlena menentang keras keinginan Sari untuk menikah. Sikap Marlena yang tak kunjung memberi tahu siapa ayah Sari sebenarnya membuat Ipah—perempuan lembut dan halus dalam bertutur kata—selaku ibu yang mengasuh Sari sejak kecil angkat bicara. Ipah sendiri juga tak tahu siapa ayah kandung Sari. Ipah hanya menceritakan kisah hidup Marlena sebagai padendang yang tak bahagia dengan perkawinannya. Empat kali ia menikah, tapi selalu gagal menjalaninya. Hingga suatu hari Marlena mengantarkan seorang bayi perempuan kepada Ipah—yaitu Sari—dengan mengakui bahwa dirinya (Marlena) bukanlah seorang ibu yang baik.

Marlena (kiri) dan anaknya, Sari (kanan) dalam "Tiga Perempuan"

Marlena berang atas sikap Ipah yang lancang, tanpa sepengetahuannya telah bercerita kepada Sari. Namun justru adu mulut antara kedua perempuan itu membuat semua rahasia terkuak. Shock dan terpukul, itulah ekspresi Ipah saat mengetahui bahwa Menan adalah ayah kandung Sari. Menan, suami sekaligus sosok pria yang dikagumi dan dicintainya karena kesetiaan dan ketulusannya dalam menerima Ipah yang mandul, ternyata telah berselingkuh dengan kakak perempuannya sendiri, di dalam rumahnya sendiri. Perselingkuhan yang menghasilkan seorang anak yang diasuhnya selama bertahun-tahun, tanpa tahu bahwa si Anak adalah anak dari suaminya sendiri.

Tragis dan menyentuh, itulah yang terasa saat di akhir pertunjukan. Marlena kembali ke jalan untuk meneruskan hidupnya sebagai padendang; Ipah dan Sari meninggalkan rumah gadang. Dalam lantunan dendang diiringi Saluang yang menyentuh dan sedih, Marlena dengan kata-katanya yang terbata namun lantang telah menerima jalan takdir yang diberikan kepadanya sebagai seorang padendang.

Berangkat dari tema yang sederhana tentang perempuan padendang di Minang, sutradara Tya Setiawaty mampu mengemas sebuah pertunjukan dan menampilkannya dengan sederhana, tetapi berkesan kuat. Permainan aktor yang pas dengan karakter masing-masing tokoh membuat pertunjukan ini terasa memikat. Meskipun Marlena berbicara dalam bahasa Minang, namun sepertinya tepat di sanalah  letak kekuatannya. Dialah yang menghadirkan latar budaya Minang dalam pertunjukan ini. Tak dipungkiri banyak juga penonton yang berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya, mencoba mencari tahu kata atau kalimat yang sulit untuk dikira-kira arti dan maksudnya. Meski tak seluruh percakapan dapat dimengerti, agaknya alur cerita dapat diterima dan dipahami oleh penonton. Kekuatan aktor dalam akting realisnya mampu membuat penonton malam itu betah menikmati pertunjukan hingga usai.

Tentang Teater SAKATA

Teater SAKATA didirikan pada tahun 2000 di Sumatera Barat atas inisiatif dari Dede Pramayoza, Enrico Alamo, Ipong Niaga, Saaduddin, dan Tya Setiawaty. Melalui potensi-potensi yang dimiliki, mereka mencoba melakukan penggalian dalam bentuk penyelidikan (experimentation) dan percobaan (trial and error) terhadap berbagai disiplin seni: musik, rupa, tari dan sastra, sambil berharap suatu saat menemukan bentuk pemanggungan yang efektif. Perjalanan yang cukup panjang tidak mengurangi komitmen Teater SAKATA untuk memberikan apresiasi dan workshop, khususnya bidang penyutradaraan, pemeranan, dan artistik. Mereka percaya bahwa teater adalah genre seni dan disiplin ilmu yang tidak bebas nilai; teater akan bergerak ekuivalen dengan dinamika masyarakat yang diyakini sebagai pusat pembelajaran yang paling ‘kaya’ dan membuka ruang yang seluas-luasnya untuk pembelajaran teater. Maka dari itu, Teater SAKATA akan terus mengelaborasi potensi-potensi dari kesenian lokal agar menemukan idiom-idiom pertunjukan baru yang universal.

Tiga Perempuan merupakan presentasi Teater SAKATA dalam event “Panggung Teater Perempuan se-Sumatera” di Bandar Lampung pada bulan April lalu. Tya Setiawaty sebagai sutradara perempuan berkesempatan unjuk karya bersama penulis naskah, Fia Suswati, mengangkat kisah seorang perempuan Padendang (bahasa Minangkabau: penyanyi) di Payakumbuh. Melalui karya yang juga dipentaskan keliling Sumatera-Jawa ini Teater SAKATA berharap dapat terus menggulirkan proses belajar, untuk mencari dan menemukan identitas Teater SAKATA ke depan. Demikian yang disampaikan oleh sang sutradara dalam diskusi seusai pementasan.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

*****

Tim Kerja Tiga Perempuan:

Sutradara Tya Setiawaty Penulis Naskah Fia Suswati Supervisor Edi Suisno Penata Musik R. Fetri Nengsih Pemusik Jhori Andela, Nengsih Penata Lampu Enrico Alamo Aktor Kristin Padmasari, Fani Dilasari, Tya Setiawaty Kru Bagus Wiguna, Agip R. Purwanto, Daniel Perlengkapan Gusnita Linda, Mila

Komentar Penonton:

“Yang paling berkesan buat aku sih peran si Ibu tua yang merokok dan bawaannya yang marah-marah terus di sepanjang pertunjukan itu (Marlena, red). Sebenarnya ekspresi marahnya, tekanan suara dan mimiknya cukup oke. Juga gayanya ketika merokok. Cuman, karena dia keseringan merokok (hisap-hembus) tanpa ditahan dalam-dalam atau gimana lah gitu ketika marah sekali, bikin aku tau kalau dia nggak bisa merokok. Itu aja sih, sayangnya. Hehehehe…” (Iwan Gondrong, 29 tahun, Pengelola Laki Bini Resto & Art Space)

“Bahasanya banyak yang aku nggak ngerti. Trus, ada idiom-idiom yang ditampilkan aktor yang aku nggak paham. Misalnya, waktu aktornya nyoba-nyoba baju itu aku pikir dia kayak model yang memeragakan kostum gitu… Eh, nggak taunya, kata temanku si aktor sedang berkaca. Hehehehe… Ending-nya kurang dramatis menurutku. Tapi aku suka banget sama tema-tema perempuan lokal yang diangkat itu.” (Nesia Putri Amarasthi, 22 tahun, FSB Retorika )

Pengalamanku Menonton Pertunjukan

Oleh: Anjar Primasetra

Jujur. Walau saya baru menonton pertunjukan teater sebanyak empat kali (huah… maafkan saya yang sedikit katrok ini, sudah sepuluh tahun hidup di Jogja tapi baru empat kali menonton teater), ada tiga hal yang paling saya perhatikan saat menonton pertunjukan teater: lighting, musik pengiring, dan ekspresi penonton. Menurut saya tiga hal itu adalah unsur yang paling penting dalam sebuah pertunjukan, selain akting para pemain tentunya.

Lighting dan musik pengiring dapat menggiring penonton lebih khusyuk dalam menikmati sebuah pertunjukan. Saat pementasan teater Sakata beberapa pekan lalu di Studio Teater Garasi, saya sempat sedikit was-was karena pada waktu berangkat di sepanjang jalan Godean terjadi pemadaman listrik. Lalu muncul pertanyaan dalam kepala saya, “Wah di sana mati lampu, nggak ya?” Kan tidak lucu kalau tata cahaya yang dipakai dalam pementasan adalah lilin yang dijejerkan di lantai atau dibuat melingkar. Tapi, mungkin bisa dicoba sekali-sekali, pementasan teater dengan menggunakan lilin sebagai efek cahayanya. Syukurnya, ternyata tidak ada pemadaman lampu, dan pementasan berlangsung lancar dan ciamik!

Ekspresi wajah penonton juga hal yang paling saya perhatikan dalam sebuah pementasanapa pun itu. Ya musik, teater, sulap, bahkan pengajian. Karena menurut saya, ekspresi wajah penonton dapat menunjukkan apakah pementasan tersebut berbobot atau tidak. Jujur, saya sedikit kecewa ketika melihat wajah seorang penonton yang terlihat bosan, padahal menurut saya acara tersebut layak untuk ditonton. Atau sebaliknya, saya bosan tapi penonton di sekitar menunjukkan ekspresi wajah yang begitu antusias (saat itu saya akan bertanya dalam hati, “He? Ada yang salah nih, ya? Atau aku-nya yang lemot??”).

Malam itu, 15 Mei 2009, dalam pementasan Kemana Waktu? Aku Ingin Bermain! ketiga hal yang saya sebut tadi menjadi sebuah komposisi yang menarik. Tata cahaya yang apik, sesuai dengan adegan yang dimainkan. Backsound yang sangat komikal (menggunakan soundtrack anime Ninja Hattori Kun, OST game Pac-man, Counterstrike, dan Parasite Eve) cocok sekali dengan “warna” yang sedang dimainkan (saya berpikir, sutradara yang memilih lagu-lagu tersebut pasti Otaku dan maniak Jepang). Dan yang pasti, ekspresi penonton saat itu cukup antusias. Kesimpulan saya, pertunjukan pantomim dari Teater Seriboe Djendela itu menarik dan layak ditonton!

Pertunjukan ini diselenggarakan sekaligus untuk memperingati sepuluh tahun usia kelompok teater yang bermarkas di Universitas Sanata Dharma itu. Naskah diangkat dari sebuah novel karya penulis Jerman,  Michael Ende, berjudul Momo. Ini adalah kisah tentang perlawanan seorang anak bernama Momo terhadap penjahat waktu yang menghasut orang-orang agar menggunakan waktunya hanya untuk bekerja dan sedikit beristirahat. Momo kehilangan teman-teman sepermainannya karena sejak kedatangan penjahat waktu, para orang tua melarang anak-anaknya untuk membuang-buang waktu dengan bermain, karena bermain dianggap tidak berguna bagi masa depan mereka. Akhirnya, mereka tidak dapat lagi bermain bersama dan keceriaan pun menghilang.

Pada awalnya, seperti tertulis dalam booklet pertunjukan, Teater Seriboe Djendela ingin mementaskan secara utuh naskah novel tersebut. Namun karena beberapa keterbatasan, mereka kemudian melakukan adaptasi; beberapa poin penting dari pembacaan novel Momo diterjemahkan menjadi empat fase pertunjukan.

Fase pertama: suasana di mana anak-anak yang penuh dengan keceriaan masih bisa bermain petak umpet dan kejar-kejaran. Suasana itu seketika terusik oleh kedatangan para orang tua yang melarang anak-anaknya bermain. Para orang tua itu kemudian mengganti permainan anak-anaknya dengan console game dan permainan video lainnya yang sangat individualis. Tentu saja, dalam fase ini ada tokoh Momo yang ditinggalkan oleh teman-temannya. Tokoh Momo itu digambarkan sebagai seorang anak perempuan manis yang akhirnya harus bermain-main sendiri.

Oh, ya, saat kemunculan pertama kali tokohnya satu demi satu, saya cukup merasakan sebuah distorsi dalam benak saya. Ada yang aneh dengan mereka. Apa ya? Ah, itu dia. Proporsi tubuh tokoh-tokohnya sangat aneh, dengan ukuran kepala yang sepertinya sedikit lebih besar. Ha ha… saya seperti sedang bermain game RPG seperti FF VII dan classic RPG di Play Station dengan karakter super deformed (SD) yang cebol-cebol. Tapi, ini mungkin terjadi karena tokoh-tokoh tersebut (yang adalah orang-orang dewasa) menggunakan pakaian anak-anak. Tapi, tidak apa-apa. Menurut saya itu keren, apalagi dengan tokoh-tokoh kocak dan komikal banget, membuat semua penonton terpingkal. It’s cool, dude!

Fase kedua adalah saat mereka bersekolah dan harus giat belajar agar mendapatkan prestasi yang cemerlang. Fase ketiga adalah saat mereka lulus kuliah dan mendapatkan IPK yang bagus. Mereka bangga dengan hasil yang telah diraih. Pada adegan ini digambarkan mereka memperlihatkan IPK masing-masing dengan gaya gadis-gadis yang membawakan nomor ronde pada pertandingan tinju. Kemudian mereka berpose beberapa saat, seakan siap untuk difoto (ya, memang begitu, karena serentak para fotografer dengan sigap menjepret kameranya). Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Pada akhirnya mereka terpojok dalam kenyataan sulitnya memperoleh lapangan pekerjaan, walaupun IPK sudah setinggi langit.

Fase terakhir menceritakan kondisi saat mereka sudah bekerja dengan pekerjaan yang begitu berat, menyita waktu, dan menjemukan. Mereka berakting layaknya robot (mesin) yang sedang beroperasi. Sewaktu adegan robot-robot itu berdiri menyebar di panggung dengan lighting lampu disko dan musik yang ajeb-ajeb, saya menanti sebuah adegan di mana tiba-tiba musik berubah menjadi lagu-lagu bernada twinkle-twinkle little star lalu Momo muncul berjalan melintasi panggung dan berhenti di depan penonton dengan ekspresi wajah yang menyedihkan. Tapi sayang, tidak ada adegan seperti itu.

Pementasan itu diakhiri dengan adegan yang menggambarkan orang-orang yang sudah menjadi robot itu jenuh dan merindukan masa kecil mereka yang bahagia di mana mereka masih bisa bermain dan bercanda. Dengan mupeng (muka pengen), orang-orang itu memandang Momo yang asyik bermain dengan penuh keceriaan.

Pesan yang dapat saya tangkap dari pertunjukan ini adalah, gunakanlah waktu sebaik mungkin. Jangan sampai kita menyesal karena telah ditinggalkan oleh sang waktu untuk mengejar kesibukan-kesibukan yang membuat kita menjadi robot. Kalaupun nantinya kita tetap akan menjadi robot, jadilah robot yang bisa minum kopi bersama teman-teman sesama robot. Loh?

NB: sehabis menonton dan mendiskusikannya bersama teman-teman di luar ruang pertunjukan, saya baru menyadari ternyata pertunjukan ini dari awal saja sudah absurd. Harga tiket pertunjukan bukan 5000 tetapi 4900. Bah…

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

Oleh: Ficky Tri Sanjaya *

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Itulah tema yang diusung Jemek Supardi dalam pementasan pantomimnya berjudul Jangan Biarkan Aku Sendiri. Malam itu, tanggal 31 Mei, Jemek menggelar pertunjukan di bawah jembatan Gondolayu tepatnya di daratan yang berada di tengah sungai Code. Artistik panggung berupa instalasi keranjang bambu yang ditata berbentuk pita─simbol peduli HIV/AIDS─yang di dalamnya terdapat nyala api. Di sekitarnya, ditempatkan beberapa obor dan sentir (lampu minyak). Malam itu menjadi malam istimewa bagi penghuni sekitar sungai Code dan para penikmat seni. Tempat yang biasanya tampak sepi itu, mendadak menjadi ramai. Banyak orang dari luar kampung berdatangan ingin menyaksikan pertunjukan dari Jemek Supardi. Tidak hanya muda-mudi dan orang tua, anak-anak juga tidak mau kalah ikut berkumpul di sana karena penyelenggara acara juga mengadakan permainan untuk anak-anak sebelum pertunjukan dimulai. Banyak juga wartawan lalu-lalang mengambil gambar. Beberapa orang panitia juga modar-mandir  menyodorkan selebaran tentang HIV/AIDS  dan daftar hadir.

Mendekati waktu pertunjukan, semakin banyak orang berdatangan. Sekitar pukul 19.45 panitia mempersilakan penonton untuk berkumpul di sisi timur talud sungai Code.  Panitia memberikan lilin untuk dinyalakan sebelum pementasan dimulai, dan mengingatkan penonton untuk tidak bertepuk tangan selama pertunjukan belangsung. Tampak pasangan muda-mudi dan banyak penonton lain menonton pertunjukan tersebut dari atas jembatan, sambil melongok ke bawah. Hal itu menarik perhatian saya─yang kemudian beranjak menuju jembatan untuk bergabung dengan mereka, menonton dari atas jembatan Gondolayu.

Pertunjukan dimulai. Musik mengalun pelan. Tampak dari atas, lilin-lilin yang dibawa oleh penonton bergerak, membuat irama gerak sendiri di pinggir talud. Suara aliran sungai menambah semarak, membuat suasana menyatu dengan alam sekitar sungai Code. Beberapa saat kemudian, persis dari bawah jembatan, dari arah utara, Jemek Supardi keluar dengan kostum dan make up putih dengan tali-tali tambang meliliti tubuhnya. Ia berjalan pelan mengikuti arus sungai dengan membawa daun pisang menutupi kepalanya, menjangkau daratan di tengah sungai. Kemudian dia mulai bergerak merespon daun pisang, menarik dan mengulur daun pisang hingga akhirnya terlepas dari tangan, terbawa arus sungai yang mengalir ke selatan. Jemek kembali terjun ke dalam arus sungai menyeberang tertatih-tatih ke daratan yang lain. Ia berusaha mengambil lampu sentir untuk menyelamatkan cahayanya dengan membawanya ke atas bebatuan kali.  Ia berusaha keras untuk naik ke atas batu hingga kadang jatuh kembali ke bawah, namun tetap berusaha melindungi agar cahaya tersebut tidak padam.

Ia berhasil naik ke atas batu dan menaruh sentir di atasnya kemudian berusaha keras melepas lilitan tali tambang pada tubuhnya. Setelah lilitan tambang tersebut lepas, Jemek menghempaskan dirinya ke dalam arus sungai. Ia ingin menjangkau cahaya lain yang lebih jauh, berusaha melawan arus untuk menyelamatkan cahaya ke daratan tempat keranjang bambu diletakkan, namun usahanya gagal! Ia terpeleset dan terjerembab ke air sehingga cahaya sentir tersebut padam. Sementara itu, salah satu keranjang bambu terbakar oleh api sentir. Jemek berusaha menyelamatkan keranjang bambu tersebut, mungkin agar api tidak membakarnya, ia menghempaskan keranjang itu ke dalam arus sungai. Pertunjukan usai diikuti tepuk tangan penonton.

Dari segi kemasan, pertunjukan pantomim ini lebih kaya dalam bentuk pementasan dan gesture tubuh, karena tidak hanya menggunakan medium mimik wajah dan gerak slapstick seperti yang biasa kita lihat dalam pertunjukan pantomim pada umumnya. Ternyata, pantomim juga bisa dibentuk dari atmosfir peristiwa yang tercipta saat itu. Yang juga menarik di sini adalah pemilihan tempat pertunjukan. Saya kira pertunjukan eksperimental dari Jemek Supardi ini menjadi langkah yang menarik untuk membuka ruang seni pertunjukan, sehingga tidak terbatas pada kantong-kantong seni dan gedung pertunjukan. Saya melihat pemilihan tempat yang tidak biasa ini patut mendapat apresiasi. Perlu kiranya jika pertunjukan semacam ini terfasilitasi dan tergagas dalam sebuah festival seni pertunjukan. Pementasan-pementasan di ruang alternatif juga pernah dilakukan beberapa kelompok seni, antara lain Teater Gardanalla, kelompok Performace Club, Debur 21, dan koreografer tari Fitri Setyaningsih. Dalam Festival Kesenian Yogyakarta tahun 2008 yang lalu diselenggarakan festival Babad Kampung yang digelar di kampung masing-masing peserta. Hal ini─pertunjukan di ruang pertunjukan alternatif─akan menarik perhatian tidak hanya dari publik penikmat seni pertunjukan saja, tapi juga masyarakat awam untuk mengapresiasi seni pertunjukan. Jika tempat-tempat alternatif tersebut semakin ramai, dunia kesenian kita akan lebih hidup.

* Ficky Tri Sanjaya, Pantomimer, aktif di Bengkel Mime Theatre Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

Oleh: Muhammad Abe*

Panggung gelap. Enam korek api menyala. Sebentar kemudian cahaya dari korek api itu mati, lalu enam korek api menyala lagi. Dari cahaya yang ditimbulkan oleh keenam batang korek api itu penonton dapat melihat enam sosok tangan yang menyalakan korek api, beberapa di antaranya terlihat seukuran tangan bocah kecil. Enam sosok ini terlihat bergerak, berubah posisi dalam koreografi yang teratur. Cahaya redup dari korek api itu bergantian menyinari tangan dan kaki para aktor dari berbagai usia itu.

Adegan awal pertunjukan Plencung Two yang dibawakan Teater Ruang (Surakarta) di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja dalam program Jagongan Wagen pada tanggal 27 April yang lalu itu membuat sebagian penonton terkejut. Mungkin karena terbiasa menyaksikan pertunjukan yang menggunakan intensitas cahaya lebih besar, tangan atau kepala yang muncul dari api korek yang terbakar itu pada awalnya memang terlihat seperti potongan-potongan tubuh yang tercerai berai.

Di tengah pertunjukan, sosok lain muncul. Duduk di tengah-tengah ruangan di antara penonton, ia menyalakan korek api.  Dari ukuran tubuhnya dapat diperkirakan bocah perempuan itu seusia anak kelas 5 SD. Ia kemudian berdiri dan menyanyikan Suluk Plencung, tembang tentang hantu-hantu yang menakutkan di sekitar kita. Bocah itu lalu berjalan menuju panggung, sambil terus bernyanyi. Di atas panggung ia menyalakan pelita yang sudah berada di tengah-tengah ketujuh aktor yang lain. Seorang laki-laki (yang sekilas terlihat) tanpa kepala tiba-tiba berdiri di atas pelita tersebut. Kemunculan laki-laki ini membuat sebagian penonton menutupi wajahnya karena terkejut dan takut. Laki-laki itu menyanyikan sebuah tembang, permintaan tolong dari seseorang yang telah tenggelam ke dalam sumur yang dalam.

*****

Dalam wawancara yang dipandu oleh Besar Widodo sebelum pertunjukan berlangsung, Joko Bibit, sutradara pertunjukan menjelaskan karya ini didasarkan pada pengamatan atas kebiasaan orang-orang yang ia rasa terlalu konsumtif; membeli HP, perhiasan, kendaraan, dan berbagai macam pernak-pernik lain. Sementara, ia dan kawan-kawan di Teater Ruang mempertanyakan apakah barang-barang tersebut benar-benar dibutuhkan; jangan-jangan, mereka telah diperbudak oleh ide tentang modern yang mungkin sekali didapat dari apa yang mereka lihat di televisi.

Pertunjukan ini—seperti disebutkan dalam undangan dari penyelenggara­—berangkat dari sebuah tembang yaitu Suluk Plencung, berisi nama-nama setan yang menghuni Pulau Jawa. Plencung sendiri adalah alat yang terbuat dari bilah bambu yang di atasnya diberi gumpalan tanah merah lalu dilecutkan. Alat ini biasanya digunakan untuk mengusir burung di area persawahan. Dalam undangan juga disebutkan bahwa pertunjukan ini akan menonjolkan eksplorasi tubuh sebagai medium utama pertunjukan; sedangkan konsep pencahayaan didesain khusus untuk membangun suasana natural, magis, dan meditatif.

Memang benar, penggunaan cahaya yang terbatas itu menghadirkan kesan bayangan tubuh yang tidak sempurna, tidak lengkap, terkadang tercerai-berai. Didukung dengan koreografi yang teratur dan kompak dari aktor-aktornya—yang semuanya bisa split, berguling-guling, dan salto—pertunjukan Plencung Two mampu mencekam penonton yang hadir malam itu.

Di saat teknologi merambah ke keseharian manusia, lewat Plencung Two Teater Ruang berusaha untuk mengambil jarak pada teknologi, dan juga berarti pada modernitas. Nampaknya dalam usaha mengambil jarak tersebut, pertunjukan ini tidak menghadirkan banyak set atau tata cahaya terang benderang, yang kesemuanya mensyaratkan kemampuan memahami dan menguasai teknologi. Teater Ruang berusaha kembali ke kesederhanaan tubuh manusia, ke kesegaran tubuh di masa kecil yang lentur dan liar (meski menurut Helmi, salah satu aktor Teater Ruang, beberapa aktor yang masih bocah itu malah lebih kesulitan melakukan gerak split dibanding dirinya). Mungkin karena itu juga beberapa anak kecil dilibatkan dalam karya ini. Gerak tubuh dan celotehan mereka menghadirkan keluguan dan kelucuan yang meredakan suasana mencekam dalam pertunjukan. Lewat kesederhanaan, Teater Ruang memberikan kekuatan pada pertunjukan ini. Mereka mencoba bersikap kritis pada percepatan modernitas yang saat ini sudah merambah hingga pelosok-pelosok desa―tak terkecuali desa di mana Teater Ruang hidup dan berkarya.

*****

Laki-laki yang seolah tanpa kepala yang telah muncul di awal, mengakhiri pertunjukan dengan kembali menyanyikan tembang yang sama dan tetap membuat sebagian penonton terkejut. Segera setelah penonton bertepuk tangan, lampu-lampu dinyalakan dan kini terlihat tubuh-tubuh bocah yang menjadi aktor dalam pertunjukan tadi. Salah seorang di antara mereka berpotongan rambut mohawk, model yang menjadi tren bagi anak-anak muda masa kini. Jadi, siapa bilang tukang protes harus menolak segala sesuatu yang diprotesnya? Apalagi bila ia masih muda dan lugu tentu saja.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

*****

Komentar Penonton:

“Mrinding,.. gelap… mistis,banjir dan anak-anak membuatku teringat pad pengalaman-pengalam pribadi di masa lalu” (Heri Sudarmanto, 28 tahun, staff Yayasan Bagong Kussudiardja)

“Gelap sekali. Lagunya bikin takut, kok bisa ya. Kelihatannya ceritanya tentang hantu-hantu yang menakutkan gitu yah.” (Disti, 21 tahun, Mahasiswa)

“Menarik ya teater. Minimalis tapi bisa menghadirkan peristiwa yang mencekam, terkadang lucu juga.” (Nora, 24 tahun)

Next Page »