Oleh: Indra Tranggono **

Menciptakan naskah drama, tidak dapat berangkat (hanya) dari ruang kosong alias mengandalkan khayalan, ilham dan lainnya. Meskipun bagian dari fiksi, naskah drama merupakan dunia penciptaan yang disangga oleh data, fakta sosial, logika dan imajinasi. Yang dimaksud data adalah bahan-bahan yang dikisahkan. Fakta sosial adalah kenyataan yang tumbuh dan hidup di masyarakat yang dapat dikenali, dirasakan, dan dihayati. Logika adalah jalan pikiran yang dapat diikuti dan dirunut sebab-akibatnya. Sedangkan imajinasi adalah daya fantasi yang menjadikan sebuah karya memiliki jarak estetis dengan realitas, dengan kata lain karya itu menjelma menjadi jagat estetis, sebuah dunia kemungkinan yang sarat dengan keindahan.
Meskipun terkait dengan data dan fakta sosial, karya fiksi bukan merupakan “laporan kering dari lapangan”. Data dan fakta itu harus diposisikan sebagai materi cerita yang diolah, di-create secara maksimal sehingga menarik untuk dikisahkan kepada publik. Untuk itu dibutuhkan kemampuan imajinasi dan kemampuan logika, agar karya itu tidak hanya ditopang data dan fakta yang kuat (baca: sosiologis), tetapi juga logis dan indah sehingga karya itu tidak mengada-ada, karena gagal mengenali realitas sosial yang dikisahkan.
Berbeda dengan ilmu (misalnya sosiologi) yang bertujuan menganalisis dan menguraikan fakta dan data sosial sehingga menghasilkan abstraksi, ‘seni sastra’ (baca: karya prosa, termasuk naskah drama) bertujuan mengisahkan data dan fakta sosial yang terkait dengan soal-soal kemanusiaan atau kehidupan yang lebih luas. Sebagai realitas estetik, karya fiksi itu dapat dikenali, dirasakan, dipahami, dihayati, dan diapresiasi.

Mengolah ide
Dalam naskah drama setidaknya terkandung dua hal yakni ide sosial dan ide estetik. Ide sosial adalah gagasan terkait dengan persoalan-persoalan sosial sedangkan ide estetik adalah gagasan yang terkait dengan faktor-faktor estetika atau keindahan, di mana ide sosial diwujudkan lewat kemampuan teknik ungkap (pengolahan simbol, idiom, dll).
Sebuah naskah drama tidak lahir dari ruang kosong atau tanpa diawali oleh ide. Ide kerap dipandang sebagai pembuka ruang kemungkinan, di mana suatu masalah, suatu tema dikisahkan. Ide menggerakkan tema. Tema menggerakkan cerita/kisah.
Pertanyaannya adalah, bagaimana cara mendapatkan ide cerita? Ide bisa ditemukan melalui riset. Ada dua jenis riset yang bisa dipakai yakni riset pustaka dan riset sosial.
Riset pustaka dilakukan lewat penelitian/penyerapan dunia wacana, bacaan, atau buku. Ia bisa berupa wacana tentang ilmu sosial, hasil penelitian-penelitian, buku-buku fiksi (puisi, cerpen, novel dll), buku-buku sejarah, politik, koran, majalah, tabloid, dll. Referensi yang kita jaring dari jagat wacana pustaka itu akan menjadi inspirasi bagi proses kreatif kita.
Riset sosial adalah pengamatan atau penelitian/studi di lapangan guna menemukan berbagai persoalan masyarakat sekaligus persoalan manusia (hubungan antarmanusia) yang berada dalam lingkup persoalan itu. Karena itu, di samping kita mempelajari persoalan, kita juga mempelajari berbagai watak manusia, beserta pandangan-pandangan ideal dan sikap-sikap sosialnya.
Dalam konteks itu, kita bisa mengacu pada contoh cerpen-cerpen karya Seno Gumira Ajidarma tentang Timor Timur (lihat kumpulan cerpen Saksi Mata). Seno mengolah kembali realitas politik yang terjadi di Timor Timur itu, lewat pemunculan tokoh baru dengan karakter yang kompleks, pemaparan setting tempat dengan nama berbeda, dan dengan substansi masalah yang berbeda. Bukan lagi perang antara ABRI versus pejuang bawah tanah Timur Timur an sich, melainkan menukik ke wilayah kemanusiaan suatu tokoh. Hasilnya adalah sebuah dunia kisah, dunia imajinasi yang memiliki nilai tafsir yang kaya.
Contoh lain adalah skenario Sayekti Hanafi (yang sudah disinetronkan) karya Alex Suprapto Yudo. Ia berangkat dari kasus nyata di masyarakat yang terpublikasi di media cetak tentang penyanderaan bayi yang dilakukan sebuah rumah sakit karena orang tua bayi itu tidak mampu menebus seluruh ongkos kelahiran bayinya. Alex mengambil substansi masalahnya, kemudian dikembangkan lewat kekayaan imajinasinya.

Menguji data dan fakta
Dari paparan di atas, sesungguhnya ide bisa didapatkan dari mana saja. Karena itu, sebagai penulis, kita tidak harus “ngarang” jika kita punya kepekaan sosial, kepekaan intuisi, dan kepekaan intelektual untuk menjaring berbagai hal dan kemungkinan yang ada di ruang sosial kita.
Setelah ide kita temukan, pekerjaan kita selanjutnya adalah melakukan eksekusi materi, dengan menguji fakta dan data yang kita miliki sehingga cerita kita menjadi masuk akal (make sense) dan sesuai dengan logika cerita yang kita bangun. Artinya, kita perlu mengenali secara lebih rinci berbagai hal yang terkait dengan materi cerita, seperti setting waktu, setting sosial, setting tempat, karakter tokoh, dll.

Merumuskan tema
Setelah kita yakin dengan seluruh data dan fakta, maka langkah selanjutnya adalah menentukan tema. Tema adalah gagasan besar yang melandasi cerita. Artinya, dalam tema itu terkandung gagasan atau pandangan kita tentang suatu masalah. Dan, biasanya tema itu bisa dirumuskan dalam suatu kalimat, misalnya “Perjuangan perempuan terhadap dominasi laki-laki” atau “Tragedi kemanusiaan dalam masyarakat yang korup”, dll.
Dalam proses penulisan cerita, tema itu berfungsi sebagai orientasi cerita, sehingga cerita menjadi punya fokus atau tidak melebar ke mana-mana. Tema itu juga “membimbing” kita untuk menciptakan tokoh-tokoh, menciptakan setting sosial, setting waktu, setting suasana peristiwa, dll.

Konkritisasi tema
Tema yang semula abstrak itu harus kita konkritkan, menjadi sebuah kisah. Untuk itu kita perlu menentukan beberapa hal:
1.    Setting masalah adalah persoalan mendasar yang melatarbelakangi berlangsungnya konflik antar tokoh. Ia menjadi pemicu persoalan yang membawa tokoh-tokohnya ke dalam masalah yang kompleks. Misalnya kasus korupsi atau apa saja yang menarik untuk kita olah.
2.    Setting waktu menyangkut kapan peristiwa itu terjadi. Waktu di sini bisa diartikan tahun peristiwa maupun kesatuan waktu dalam logika cerita (pagi, siang, sore, malam, dini hari, dll). Waktu dalam pengertian tahun peristiwa akan mengikat cerita pada dinamika masyarakat yang terkandung di dalamnya. Misalnya jika waktu itu menunjukkan angka tahun 1970-an, maka dinamika masyarakat yang digambarkan pun harus sesuai dengan masa itu. Sangat tidak logis misalnya pada masa itu Anda menampilkan tokoh menggenggam handphone. Sedangkan waktu dalam pengertian “pagi”, “siang”, “sore”, “malam “, atau “dini hari”,  terkait dengan suasana.
3.    Setting tempat terkait dengan di mana peristiwa itu terjadi. Pengertian tempat itu bisa mengacu pada wilayah geografis misalnya desa, kota, negara, atau mengacu pada pengertian lokasi: ruang kantor, halaman rumah, teras, pantai, jalan besar, goa, pub, hotel, dll.
4.    Tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita adalah manusia yang riil, punya darah-daging, punya ambisi, dan punya watak. Maka tokoh-tokoh itu harus kita identifikasi lewat jenis kelamin, nama-nama tokoh, ciri-ciri fisik, ciri-ciri psikologis,  dan status sosial.
5.    Pesan sosial adalah muatan nilai yang terkait dengan pandangan hidup atau pandangan ideal yang dimunculkan berkait dengan masalah yang kita ceritakan. Misalnya, pesan itu berbunyi, “Hidup mewajibkan kita untuk berbagi kepada sesama”. Akan tetapi dalam perwujudannya pesan itu tidak ditampilkan secara verbal, melainkan lewat berbagai peristiwa dramatik. Dalam konteks naskah drama, pesan itu harus mampu dilukiskan, bukan dinyatakan lewat statement.

Sinopsis
Sebelum kita berlanjut ke dalam penuliasan naskah drama, kita harus menuliskan lebih dulu sinopsis/ringkasan cerita. Yang terpenting, dalam sinopsis harus mengandung unsur-unsur cerita, yaitu obyek masalah, tokoh (dengan berbagai wataknya), setting waktu dan tempat, alur cerita (yang dianyam dalam logika sebab akibat dan tangga dramatik). Dalam penulisan cerita, sinopsis itu bisa saja tidak sepenuhnya tergambar persis dengan cerita yang terbangun. Penulis punya kemungkinan untuk mengembangkan gagasan cerita, menampilkan tokoh-tokoh baru yang penting, memperkaya konflik dan lainnya.
Setelah sinopsis ditulis, maka tugas kita adalah membuat treatment, susunan adegan yang memiliki hubungan sebab akibat. Artinya adegan pertama terkait dengan adegan dua, dan seterusnya. Hubungan antar adegan itu harus membentuk alur, atau plot yang mengandung tangga dramatik. Meksipun masih dalam secara ringkas,  dalam setiap adegan harus terkandung: (1) tokoh, (2) peristiwa, (3) muatan dialog, dan (4) suasana.
Setelah treatment tersusun, maka pekerjaan kita selanjutnya adalah menuliskan treatment itu dalam bentuk naskah drama, di mana setiap adegan yang semula hanya merupakan inti-inti peristiwa, diurai menjadi adegan yang utuh baik dialog para tokohnya maupun peristiwa dan suasananya. Peristiwa dan suasana dituliskan dalam bentuk keterangan atau penjelasan yang berfungsi sebagai rujukan bagi sutradara atau pemain yang mementaskan naskah tersebut.

*) Disunting dari Pengantar Diskusi Penulisan Naskah Drama, Festival Teater Jogja 2009, diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta dan Yayasan Umar Kayam, 13 Juni 2009
**) Cerpenis dan pemerhati kebudayaan, menulis beberapa naskah drama.

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)