November 2008


Oleh: M N Qomaruddin*

“It Is Better to light a candle than to curse the darkness”

Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan.

(Confucius)

Aku aktor pemula yang mencoba membicarakan teater sejauh pemahaman dan pengertian yang dapat kucapai. Baru enam tahun terakhir ini aku berada  di ranah teater Jogja. Dalam waktu sesingkat itu sepertinya terlalu cepat untuk mengungkap sebuah kesimpulan perihal proses berteater. Mungkin lebih baik aku menamai tulisanku ini “curhat” atau berbagi cerita dengan teman-teman pembaca.

Aku memaknai teater sebagai kesenangan (hobi), maka aku menyukai, melakukan, mencoba mengerti, dan memahaminya.

Aku mengenal pengertian teater dan akting lewat internet. Tinggal ketik: teater atau akting pada google search, dobel klik, maka muncul banyak web yang memuat kata teater di dalamnya. Begitulah pengetahuanku dimulai dengan sangat mudah dan praktis.

Selain mencari di Internet, yang kulakukan adalah bertanya pada teman yang sudah lebih dulu mengenal teater. Walhasil, banyak istilah dan nama-nama tokoh yang terpaksa harus kucatat, kemudian kucari sendiri kebenarannya. Misalnya tokoh teater yang ngetop, seperti Stanilavsky, Grotowsky, dan Sakhespeare. Kemudian istilah-istilah: Realisme, Surrealisme, Absurdisme pun bermunculan.  Kemudian pencarian segera dilanjutkan ke tempat persemayaman kitab-kitab teater. Tujuan pertamaku adalah jurusan teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pencarian pertama ini agak mengecewakan, pasalnya yang kutemukan hanyalah petilan-petilan naskah teater yang tidak begitu tertata rapi. Sehingga pencarian segera kuakhiri meski aku belum sempat ke perpustakaan universitas. Keinginanku untuk lebih mengerti tentang teater,  kukubur bersama hari-hari latihan.  Nama tokoh-tokoh dan istilah yang sempat ingin kucari kebenarannya itu, tinggal rumor.

Suatu hari di sebuah diskusi workshop (Pertemuan UKM Seni Muhammadiyah se-Indonesia di Makasar) dengan Nur Iswantara (ketua jurusan teater ISI waktu itu), aku dianjurkan berkunjung ke Teater Garasi jika ingin tahu tentang teater. Katanya, banyak buku-buku dan dokumentasi pertunjukan teater di Teater Garasi. Sepulang dari workshop, aku pergi ke perpustakaan Teater Garasi, dan bertemu dengan mas Jamal (staff perpustakaan Teater Garasi pada waktu itu). Meskipun perpustakaan itu lebih tampak seperti ruang tamu,  tetapi banyak berjejer rak berisi buku-buku dan naskah teater. Kemudian aku meminjam beberapa buku perihal teater. Tanpa bermaksud mendukung pembajakan, aku langsung memfoto-kopi beberapa naskah dan buku teater.  Walaupun sebenarnya aku belum tahu apakah buku itu berisi tentang hal yang kucari. Akhirnya sedikit demi sedikit aku menemukan kebenaran yang dulu pernah kucari. Kebenaran yang memuat istilah dan tokoh dalam teater. Bagiku kebenaran itu penting, supaya saat berlatih dan bermain teater, aku sudah punya dasar pengetahuan. Mungkin ini kekurangan atau kelebihan anak muda seumuranku: semuanya harus jelas sebelum melakukan.

Selanjutnya, hal yang tak terencana adalah pergaulan. Bergaul dengan teman-teman pelaku kesenian di Jogja (tidak terbatas pada kampus atau non kampus) dan bertukar cerita. Beberapa pengalaman juga kutemukan di workshop, dan tentunya yang paling penting adalah saat berproses menuju pentas. Tapi itu saja belum cukup.

Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan

Banyak forum yang digagas dalam rangka membangun jaringan meski akhirnya banyak yang kandas ditengah jalan. Diskursus teater jarang tedengar sekarang, medianya pun masih sedikit. Tapi pertunjukan selalu rutin diadakan, sebagaimana yang kita baca pada skAnA yang meliput dan mendokumentasikan pertunjukan yang berlangsung tiap bulannya.

Tapi apakah dengan ramainya pertunjukan teater berarti maju juga teater kita? Atau jangan-jangan hanya euphoria saja? Apakah ada yang benar-benar peduli dalam membangun lingkungan teater?

Yang saya tahu beberapa tahun terakhir ini, masih ada kelompok teater yang konsisten dalam membangun lingkungannya. Teater Garasi secara aktif menggagas forum sharing, diskusi, dan nonton (dokumentasi) pertunjukan. Juga ada Yayasan Bagong Kusudiarja dengan program Jagongan Wagen, yang tidak hanya menggelar pertunjukan teater tapi juga tari. Barangkali juga kelompok lainnya.

Meskipun masih sangat sedikit buku-buku teater berbahasa Indonesia, dan langkanya naskah-naskah baru, tapi sekarang banyak teknologi yang mendukung dan mempermudah kita dalam mengetahui sesuatu. Mulai dari HP yang multi fungsi dengan fitur yang lengkap, sampai dengan komputer super duper cepat. Bahkan kita bisa men-download dan menonton video dokumentasi pertunjukan sekaliber karya Robert Wilson yang mewah itu secara gratis di youtube, dan membaca perkembangan teater broadway. Kelompok teater yang berpengalaman seperti Teater Garasi, Gandrik, Gardanalla, SAC, dan yang lainnya pasti akan sangat terbuka dan senang apabila diajak sharing. Artinya, saat ini akses untuk mencari referensi teater tak sesulit pada era sebelumnya. Apabila referensi merupakan data yang memperkaya para seniman, maka ia akan tercermin dalam karya ciptanya.

Akhir kata, sebenarnya saya cuma ingin bilang “Tetap semangat, teman-teman!”. Masih banyak orang yang barangkali ingin mengerti tentang teater. Sebenarnya yang kita butuhkan saat ini, adalah kemauan yang keras dalam belajar dan menjalankan sesuatu.

Jogja, Oktober 2008…


* M N Qomaruddin, aktor Teater Tangga, alumni Aktor Studio 2006

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

Oleh: Hindra Setya Rini*

Teater Gandrik menggarap sebuah pertunjukan yang berbasis drama dan tari yang dilakoni oleh dua generasi, tua dan muda. Pertunjukan teater tari ini merupakan persinggungan kreatif yang bermula dari keinginan para pelaku. Niat yang ingin diwujudkan di atas panggung untuk memposisikan seni tari bukan sekadar ilustrasi sebuah pementasan drama. Demikian juga seni drama tidak melulu sebagai dramatisasi dari segmen-segmen pertunjukan tari. Akan tetapi keduanya masuk dalam sebuah proses persinggungan, tanpa harus terlintas kemauan saling mendominasi namun justru saling menguatkan.

Teater Gandrik mencoba mewujudkannya dalam pementasan Pasar Seret 3. Digelar pada tanggal 23 Oktober 2008, pukul 20.00 WIB, di Gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta. Sebuah pementasan teater tari. Demikian nama pementasan yang disutradarai oleh Jujuk Prabowo ini bersama pengolah kreatifnya Heru Kesawa Murti. Pementasan yang dipercayakan kepada generasi muda Teater Gandrik sebagi pelaku perannya. Tapi beberapa generasi tua Teater Gandrik masih terlibat  secara langsung di atas panggung sebagai aktor. Acara ini menjadi semacam kolaborasi antara generasi Teater Gandrik yang tua dan muda. Pementasan ini merupakan pentas kedua bagi generasi muda Teater Gandrik setelah Dewan Perwakilan Rayap yang digelar pada November tahun lalu.

Satu jam sebelum pertunjukan, tiket kursi telah habis. Penonton yang tiba saat mendekati pementasan terpaksa rela membeli pada calo dengan harga tiket yang semula dua puluh ribu rupiah menjadi tiga puluh sampai tiga puluh lima ribu rupiah. Atau memilih tiket lesehan seharga lima belas ribu rupiah yang baru akan dijual panitia menjelang pementasan. Rasa penasaran penonton yang ingin menyaksikan generasi muda Gandrik membawakan lakon Pasar Seret 3, yang pernah dimainkan pada tahun 1985; Pasar Seret 1 dan awal 1986; Pasar Seret 2 oleh seniornya, membuat harga tiket yang ditawarkan calo bukanlah halangan untuk menonton pementasan ini.

Gedung pertunjukan yang berkapasitas sekitar 450 kursi itu tidak terisi penuh, sekitar seratusan orang menonton dengan lesehan tepat di depan panggung. Ada sekitar 350an penonton hadir pada malam itu. Tampak para seniman dari kalangan generasi tua dan muda menghadiri pementasan ini.

Pementasan teater tari telah dimulai. Komposisi musik tradisional menggema di seluruh ruangan. Para aktor dan aktris masuk dari kanan panggung dengan membawa sapu lidi. Mula-mula aktor melakukan gerakan rampak orang menyapu, lalu gerakan menyapu tersebut menjadi gerak-gerak komposisi tari. Selanjutnya, para aktor yang lain masuk ke panggung memulai aktivitas layaknya orang-orang yang riuh di pasar tradisional. Hiruk pikuk. Sebuah pasar, Pasar Seret namanya.  Sementara itu, pemusik yang berada agak lebih tinggi dari para aktor —di atas setting yang berbentuk rumah kecil tempat para musisi memainkan musik tradisi— terus beraksi. Kain jarik hitam dan kebaya hitam, serta pakaian keseharian yang biasanya dipakai pedagang di pasar tradisional mendominasi kostum para aktor. Penggunaan backdrop panggung yang berwarna hitam juga membuat kesan warna hitam-hitam menyelimuti seluruh panggung.

Adegan demi adegan berlangsung. Warna-warni percakapan dan peristiwa terjadi di pasar tersebut. Mulai dari kisah Trimo si tukang sapu pasar yang frustasi, bakul (penjual) sayur yang mulai menjajakan VCD, HUMBURGER, serta tak ketinggalan hebohnya bakul pakaian bekas, dan aksi pencopet. Adegan-adegan yang dibangun menyiratkan kekonyolan masing-masing tokoh. Adegan yang sarat dengan guyonan. Sayangnya, beberapa guyonan bergaya sampaan yang menjadi ke-khas-an Teater Gandrik tidak cukup kental dan kurang segar. Sehingga penonton kurang merespon dengan tawa yang lepas, seperti saat menonton pementasan Gandrik sebelum-sebelumnya, yang kental dengan gaya sampaan-nya.

Akhir cerita, segerombolan orang yang berpakaian ala kontraktor bangunan membawa bambu-bambu, yang melambangkan tiang-tiang besi. Rupanya proyek pembangunan Mega mall telah dimulai. Tak ada yang bisa berbuat apa-apa selain menatap dan meratapi tiang-tiang yang menjulang. Tak ada lagi pasar. Sepi. Hanya suara mesin-mesin pembangunan gedung yang terus menggema. Adegan ini menjadi penutup pertunjukan Pasar Seret 3, pada malam itu.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

*****

Kerabat Kerja

Artistik

Sutradara & Pengolah Kreatif Jujuk Prabawa, Heru Kesawa Murti, Djaduk Ferianto Koreografer Sutopo Tedja Baskoro Penata Artistik Feri Ludiyanto, Sutopo TB Stage Manager Ucil YBK Penata Cahaya Besar Widodo Penata Suara Yosi Properti Kuncung, Suyadi Make Up Jujuk P, Rully Isfihana kostum Bu Nus, Hanung, Rully Pemusik I Ketut Idep Pemeran Kerabat Teater Gandrik Muda Penari Kerabat Padepokan Seni Bagong K. Yogyakarta Koordinator Latihan Broto Wijaya

Produksi

Supervisor Butet Kertaredjasa Pimpinan Produksi Heru Handonowari Sekretaris Abdillah Yusuf Bendahara Jamiatut Tarwiyah Seksi Dana Butet Kertaredjasa Seksi perlengkapan Kuncung, Yopi, Feri Seksi Konsumsi Rulyani Isfihana Seksi Publikasi Heru Kesawa Murti, Hendra Seksi Grafis Hendra Himawan Seksi Transportasi Bambang Hariyanto Seksi Dokumentasi Aul

Komentar Penonton

“Rasanya garing, monoton. Biasanya kan Gandrik identik dengan adanya banyak kejutan-kejutan dalam pertunjukannya. Nah, untuk yang ini terasa monoton. Tapi ya secara keseluruhan menarik, mungkin juga karena ada yang tua-tuanya jadi agak tertolong. Hm.., terus tariannya itu nggak kompak dan beberapa vokal nggak kedengaran sampai belakang.”  (Ajeng Pakerti, 22 Tahun, Penggemar Gandrik)

“Kebetulan lama nggak nonton teater, ya ini cukup menghibur juga. Lucu.” (Indi, 26 Tahun, Trulyjogja.com)

“Ya cukup mengobati kerinduanlah setelah lima tahun nggak nonton Gandrik pentas. Apalagi ini Pasar Seret, jadi penasaran aja karena aku nonton yang dulu dimainkan oleh yang tua-tua itu. Hmm.., masih sama setting dan gayanya seperti dulu, gaya 70-an khas Gandrik. Tapi yang paling kelihatan beda ya musiknya. Meski menurutku ada yang berbeda dalam pementasan kali ini, tapi aku belum bisa ngomong halnya itu apa. Yang pasti pancingan-pancingan interaksi dengan penonton beda dari yang dulu, sekarang lebih berjarak. Mungkin udah beda kali ya? Ah, aku nggak tau juga…” (Frans, 32 Tahun, Tukang Motret & Dosen)

“Bagus, saya bisa melihat kombinasi antara musik, aktor, dan ekspresi yang sampai ke penonton. Blocking aktor pas, nggak ada yang saling menutupi. Musiknya juga lumayanlah…” (Chintya, 19 Tahun, Fisipol UGM)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Anak-anak berlarian ke sana kemari dengan lincah dan wajah nan ceria. Malam itu, tingkah polah mereka menghiasi panggung pertunjukan. Mereka memainkan sebuah drama berjudul Jangan Rusak Hutan Kami, di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 14 Agustus, pukul 20:00 BBWI.

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Belajar Rejowinangun (KBR) itu memainkan perannya dengan lugu dan lucu. Ada yang berperan sebagai Pepohon, Hewan-Hewan, Peri Sabun, Matahari, Awan dan Monster Sampah. Seringkali akting mereka mengundang gelak tawa para penonton yang berjumlah seratus-an itu. Para penonton mengikuti setiap adegan dengan antusias, berharap ada kejutan lucu yang hadir.

Pada adegan awal, ketika pepohon sedang menari gembira, munculah awan dan matahari melintasi pepohon. Awan dan Matahari itu diperankan oleh dua orang anak, satu anak membawa awan, dan yang lain lagi berkepala matahari. Kemunculannya membuat para penononton yang kebanyakan orang dewasa itu, tertawa terbahak melihatnya. Mungkin dalam benak penonton, adegan itu terlihat aneh dan menggemaskan. Kemudian tiga Peri Sabun datang sambil meniup gelembung busa. Gelembung itu menghiasi suasana hutan yang mulai ramai dengan suara kicau burung-burung.

Setelah itu, adegan demi adegan bersusulan: sekelompok Monyet bergelantungan di tangkai-tangkai pohon, peri-peri menari, dan seekor kelinci meloncat-loncat mencari persembunyian karena dikejar Harimau. Suasana hutan menjadi sangat ramai. Hutan menjadi sebuah ekosistem yang akrab dan harmonis.

Akan tetapi di tengah keharmonisan itu, datanglah monster-monster sampah yang jahat dan beringas. Mereka mengacau suasana hutan dengan  memaksa hewan-hewan terus bekerja keras di luar kemampuannya, pohon-pohon yang tumbuh subur mereka sulap menjadi tiang-tiang listrik. Hutan telah dikuasai oleh si Monster sampah. Monster itu membelah diri menjadi banyak memenuhi hutan, hingga hutan menjadi kering dan tak terlihat lagi. Hutan tak lagi subur, asri dan bersahabat. Hutan akan hilang dari muka bumi karena ditelan Monster Sampah.

Pementasan teater anak Jangan Rusak Hutan Kami yang berdurasi 45 menit itu, di sutradarai oleh  Y. Thendra BP. Proses penggarapannya ditempuh selama satu bulan di kampung Rejowinangun. Pementasan ini adalah upaya menumbuhkan rasa kepedulian untuk menyayangi dan merawat lingkungan sekitar pada anak-anak dan remaja. Agar alam lingkungan sekitar akan tetap lestari seperti tergambar dalam bait lagu penutup di akhir pementasan itu. Ciptaan Gombloh, sang penyanyi legendaris:

Lestari alamku, lestari desaku di mana Tuhanku menitipkan aku. Nyanyi bocah-bocah di kala purnama, nyanyikan pujaan untuk Nusa. Damai saudaraku suburlah bumiku…

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)


*****

Selintas Kelompok Belajar Rejowinangun

Kelompok Belajar Rejowinangun merupakan Kelompok Belajar untuk anak dan remaja. Didirikan pada tahun 2005 di kampung Rejowinangun. Aktifitas yang mereka lakukan yakni: menggambar, teater, ketrampilan tangan, dan menulis. Kelompok ini selain memproduksi karya sendiri, sering mendapat undangan untuk bermain teater, musik puisi, dan main film. Karena kegiatan kreatifnya, Kelompok Belajar Rejowinangun pernah mendapatkan penghargaan dari Walikota Yogyakarta pada bulan Agustus 2007, sebagai generasi pelopor seni dan budaya,.

Para Pemain:

Vallosa, Ari, Gilang, Linda, Alfan, Puput, taufik, Tina, Lia, Doni, Salma, Amar, Sherly, Putro, Rea, Dwi, Benny, Irwan, Eny, Diah aji, Putri, Amat, Diah, Widya, Sari.

Tim Kreatif:

Mutia Sukma, Ofi Nuhansyah, Rahmat Hidayat, Miftakul Efendi, Indrian Koto, Andika Ananda, Pipit Nur Ferani.

Komentar komentar

“Sangat menarik dan membawa pesan yang sampai sekarang sulit dilupakan. Pesan yang disampaikan simple, dan itu membuat saya merasa ternyata kita belum bisa menjaga lingkungan pentas mereka lucu, sederhana pula, tapi kompleks. Salut buat mereka.” (Danu Santosa, 23 Tahun, anggota kelompok bimbingan masyarakat)

“Seger! Saya suka dengan gerak-gerik para pemain yang lucu dan bikin gemes.” (Wahyudi, usia 27 tahun, pemuda kampung)

“Pentas kelompok belajar Rejowinangun bagi saya terkesan segar, hidup, dan mengharukan. Karena tidak “memaksa” anak menghafal teks dan gerakan dengan kaku, tetapi menggunakan gerak yang relative bebas dan alami. (mengikuti musik). Kita seakan menonton anak-anak asyik bermain. Mereka tampak begitu bersemangat dan riang. Sayang sekali para remaja yang ikut tampil  pada pentas itu, tidak selincah dan sesemangat adik-adik mereka itu. Entah karena kurang berminat, malu tampil di depan publik, atau mungkin karena kurang latihan?” (Katrin Bandel, Dosen dan kritikus Sastra)

“Asyik. Anak-anak itu main tanpa beban mereka berhasil membangun karakter di luar dirinya. Ada yang jadi burung, kelinci, suatu karakter yang dekat dengan dunia mereka.” (Romi Zarman, 24 tahun, Mahasisiwa universitas Andalas dan Penyair)

>> Wawancara bersama Sutradara pementasan SAC: Holocaust Rising, Rosa Rosadi

Oleh: Hindra Setya Rini*

Pada edisi ini, skAnA berkesempatan menemui sutradara pementasan Holocaust Rising yang digelar pada 14-15 Oktober 2008 di gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta. Rukman Rosadi, yang biasa disapa dengan Rossaini, selain sebagai aktor, ia sutradara sekaligus penggiat teater yang cukup produktif di Yogyakarta, bersama klub teaternya: Saturday Acting Club (SAC). Berikut bincang-bincang kami seputar Holocaust Rising, yang berbeda sekali dari pementasan SAC sebelumnya, yang lebih dikenal dengan akting realisnya.

skAnA: Niat awal mementaskan Holocaust ini, apa sih, Mas?

Rosa: Awalnya, ya aku melihat banyak fenomena di sekitarku. Fenomena kekerasan, dan ada satu cerita yang sangat personal yang begitu dekat denganku. Sebuah keluarga yang selalu hidupnya penuh kekerasan. Gila menurutku, jangan-jangan di luar sana ada lebih banyak lagi bentuk kekerasan yang lebih parah. Terus aku lihat kekerasan-kekerasan di tivi, yang aku sendiri sadar jangan-jangan aku juga ada dalam suatu perubahan itu. Masuk dalam bentuk kekerasan yang lain. Misalnya, aku bisa enak-enak aja ketika melihat kekerasan di tivi-tivi itu. Nah, ini gila. Kekerasan itu sudah seperti makanan sehari-hari, jadi kita merasa ingin menonton yang lebih dan lebih keras lagi karena sudah biasa. Jangan-jangan ada banyak orang melakukan kekerasan karena meniru dari tivi. Benar nggak ya, ini? Ya sudah, aku berniat bikin garapan yang ngomongin soal ini. Lalu aku pikir-pikir apa yang cocok dengan tema kekerasan ini. Lantas aku melihat ke belakang, aku ingat peristiwa besarnya perihal kekerasan. Aku ingat Holocaust itu, naskah dari Jerman, yang aku pikir juga ada kemiripan dengan peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi sekarang ini.

skAnA: Bisa cerita sedikit tentang Holocaust itu, Mas?

Rosa: Holocoust itu asalnya dari bahasa Yunani Holocauston, yang artinya kalau nggak salah adalah persembahan yang memberangus habis. Semacam suatu peristiwa persembahan, tapi harus menghabiskan orang. Memberangus orang atau membakar orang. Itu awalnya Holocauston itu. Namun, istilah Holocaust itu menjadi popular ketika peristiwa Nazi. Ada 6 juta yang diberitakan mati, bahkan ada kabar 11 juta. Nah, itu memberanguskan Yahudi pada zaman itu. Di luar urusan politik segala macam yang melatari peristiwa itu, yang masih tetap kontroversial, ya aku ngambil peristiwa pembantaiannya aja.

Nah, di negara kita kan juga ada peristiwa serupa. PKI, misalnya. Ada banyak orang mati, sebenarnya, cuma sejarah kan yang masih nggak beres. Nah sekarang sebenarnya juga dapat dilihat kan, pembenaran-pembenaran yang melatari kekerasan itu; pembenaran atas nama ras, golongan, dan lain-lain, bahkan agama.  Kebeneran menjadi alat untuk menuju superioritas. Merasa agamanya paling benar, golongannya paling benar. Dari sanalah, kondisi itu memudahkan orang menyalahkan orang lain, golongan lain, serta mengakibatkan orang bisa membunuh orang lain atau melakukan kekerasan pada orang lain. Yang menurutnya salah, ya dihabisi. Saat ini, agama sebagai benteng terakhir ternyata juga bobol.

Nah, inilah yang membuatku merasa perlu menyampaikan ini pada penontonku. Ngomongin perihal peristiwa ini. Jangan-jangan banyak yang mengabaikan hal-hal ini yang nyata ada di sekitar kita. Setidaknya aku mengabarkan kepada mereka, inilah yang terjadi di sekitar kita. Jangan-jangan itu juga yang sedang mengubah karakter kita; anak-anak jadi lebih keras, orang-orang jadi punya ketegaan yang lebih besar, yang itu menurutku perubahan karakter yang banyak dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya ya berita-berita kriminal itu, yang seharusnya kita empati, eh jadi enggak karena setiap hari kita sudah terbiasa. Kita jadi kebal dan menganggap itu biasa.

skAnA: Kemudian naskahnya sendiri gimana, Mas?

Rosa: Nah, lalu aku mencari naskah apa yang mengakomodir kegelisahanku. Ternyata nggak ada, ya jadinya bikin sendiri. Biar terasa lebih dekat untuk membicarakan soal-soal itu, ya lebih baik kalau bikin sendiri. Jadilah judul Holocaust Rising. Awalnya Holocaust A Rising, tapi kurang tajam. Jadi Holocaust Rising aja, yang artinya munculnya bibit-bibit Holocaust.

skAnA: Salah satu adegan di ruang keluarga yang sempat diulang-ulang itu merupakan potret kekerasan yang diambil kan, Mas? Ada maksud tertentu atas repetisi itu?

Rosa: Ya. Itu adegan yang memang sengaja disangatkan. Menurutku, kadang sekali aja nggak cukup. Orang bisa lupa atau cuma melihat sekilas. Jadi itu pengulangan yang tujuannya agar apa yang kami ingin sampaikan benar-benar sampai. Sangat sampai kepada penonton. Bukan bermaksud membodohi penonton dengan berita-berita pengulangan. Seperti salah satu monolog tokoh di adegan itu yang sangat ditekankan, “Pertempuran bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, tidak pernah membosankan, tidak pernah menjenuhkan, karena binatang di dalam dirimu dibiarkan keluar kandang.” Ya, aku menganggap manusia punya sifat binatang masing-masing. Kita tahu hukum atau konstruksi binatang, yang kuat memakan yang lemah.

skAnA: Itu kemudian diturunkan ke bentuk akting ya, mas? Bagaimana dengan aktor?

Rosa: Mm.. karena ini klub akting ya, bukan directing, maka aku memang pengennya nggak hanya pada satu style akting tertentu. Misalnya realis atau apa gitu. Inginnya menjelajahi kemungkinan akting. Di Holocaust kan banyak sekali style aktingnya; ada realis, ada tubuh. Aku berpikir untuk mengawinkan yang lama, yang baru, atau mencampur keduanya itu. Naskah ini membuka kemungkinan itu. Di sana ada tokoh orang desa, orang modern juga. Bahkan berkaitan dengan tema, aku jadi merasa bibit-bibit Holocaust itu juga bisa ada di pelosok sekalipun. Ini melahirkan pola-pola akting yang kaya juga.

skAnA: Bagaimana prosesnya, Mas?

Rosa: Teks ini berjalan sambil latihan, dan memang agak berat buat aktor-aktornya. Lalu aku mengambil beberapa strategi yang aku pikir itu cepat, karena waktunya cuma dua bulan. Aku langsung membagi-bagi metode sesuai dengan kebutuhan. Misalnya; latihan fashion show, latihan tubuh binatang, dan lain-lain. Itu latihan dulu tanpa naskah. Aktor lalu menawarkan dan kalau pas (cocok), itu yang diambil. Ya aktor melakukan dulu, dan nggak usah banyak tanya. Aku cuma bilang itu akan dipakai di adegan, jadi lakukan saja dulu. Sembari aku menyusun naskahnya secara keseluruhan. Setelah beres, aku kasih konstruksi cerita, lalu terakhir ngasih isi dan meyakini apa yang sudah dilakukan. Observasi binatang lewat nonton video, dan kekerasan bisa dibaca di koran-koran, lalu kita mendiskusikannya. Ya ini ditempuh karena waktunya pendek, jadi setiap hari latihan selama 6 jam. Aku sangat terbantu karena ada asistenku, Gogon. Aku sangat terbantu karena aku juga ngerjain naskahnya disamping kesibukan yang lain. Mm.. soal naskah sendiri juga sangat padat dan agak berat. Ada banyak penjelasan yang nggak sempat dimunculkan di naskah karena memang dipadatkan. Tapi nggak apa-apa, aku biarin ajalah. Penonton mau menangkap yang mana, terserah penontonnya. Aku percaya penonton juga pintar.

skAnA: Rencana setelah ini?

Rosa: Holocaust akan dipentaskan lagi, bulan Februari. Tapi akhir Desember ini pentas lagi dengan naskah yang lain. Tetap naskah sendiri. Kita juga memang konsen di akting. Ke depan ini memang kita ingin menjelajahi akting seluas-luasnya. Lalu teknik yang akan digunakan jadi tantangan buat teman-teman aktor.

skAnA: Bisa cerita tentang idenya, Mas?

Rosa: Ya, kita akan pentas di Kedai Kebun Forum, dan kita nggak pakai setting apapun. Ruang kosong. Aktor yang biasa keluar masuk lewat side wing, mereka akan menempel di tembok atau dinding. Membentuk relief-relief yang menyusun cerita sendiri. Ya itu salah satunya. Sekarang para aktor sudah observasi ke candi-candi, mempelajari relief dan cerita-cerita yang ada di dinding-dinding candi itu. Itu aja dulu, tunggu tanggal mainnya ya.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

*****

Sekilas Profil

Nama                               : Rukman Rosadi (Rossa)

Alamat                            : Jl. Suryodiningratan MJ 2/916 Yogyakarta

E-mail                              : rosadi999@yahoo.com

Mengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan teater sejak 1998 hingga sekarang. Mengampu mata kuliah: Dasar-dasar Akting, Akting Realisme, Monolog, Teori Akting, Olah Tubuh, Penyutradaraan Realisme.

Tiga tahun terakhir, sebagai aktor terlibat dalam pentas rekonstruksi BIP BOP, sebagai Oidipus dalam Oidipus Tyranos bekerjasama dengan seniman-seniman Australia. Sebagai sutradara dan penulisL Children First, Smoke and Ice Cream, Zero Matrix, Heart Poison, Holocaust Rising, Come and Go (Beckett), Le Guichet (Jean Tardieu), Lithuania (Rupert Brook).

Oleh: Muhammad AB*

Pada tanggal 28 Agustus, pukul 20.00, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Landung Simatupang membacakan nukilan novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Dalam pembacaan novel yang berdurasi kurang lebih 75 menit itu, Landung Simatupang tampil sebagai seorang pembaca yang prima meski telah berusia 56 tahun. Ia terlihat segar dengan kaus warna hijau, celana jins, serta rambut hitam mengkilap ketika disorot lampu.

Landung membacakan dua fragmen yang diambil dari novel Bilangan Fu. Landung tampil sebagai Yuda, yang menceritakan pengalaman dan pertemuan-pertemuannya dengan Parang Jati, sahabatnya yang berusaha melawan eksploitasi perbukitan gamping di pesisir selatan Jawa. Kisah pertama bercerita tentang sebuah pertunjukan drama tingkat SD yang menggambarkan masa kanak-kanak Parang Jati yang suka memberontak dan bengal. Kisah kedua menceritakan pengalaman Yuda ketika ia menyaksikan sebuah peristiwa kekerasan di desa tempat tinggal Parang Jati.

Dalam sebuah  adegan, Landung berdiri di bibir panggung, sambil membaca dengan gaya tutur seperti seorang kakek yang tengah mendongeng. Ia bercerita tentang Parang Jati kecil yang dengan sedih berlari ke arah Laut Selatan sendirian. Ia merasa bersalah karena telah menghasut temannya untuk berperan sebagai Nyai Roro Kidul dalam pentas drama SD untuk perayaan tujuhbelas-an di kampung. Sebentar kemudian, Landung berubah membacakan berita dalam surat kabar yang menjelaskan kematian  beberapa anak-anak di sebuah kampung karena keracunan susu pemberian dermawan dari kota.

Di fragmen kedua, Landung bercerita tentang desa tempat Parang Jati tinggal. Sebuah desa di pesisir selatan Jawa, di mana warganya masih mempercayai mitos Nyai Roro Kidul, hingga masjid di desa itu berkiblat ke Laut Selatan.Di akhir cerita kedua, Yuda dan Parang Jati yang sedang berkemah di atas sebuah bukit, menyaksikan sekelompok massa datang menyerbu desa membawa api dan membuat keributan. Mereka baru tahu kemudian kalau sekelompok massa tidak dikenal itu juga membunuh imam masjid yang mereka hormati, karena kiblat masjid itu menghadap ke Laut Selatan.

Dua cerita yang dibawakan Landung diambil dari kliping koran dan berita dari televisi, yang menunjukkan latar belakang cerita ini terjadi pada masa orde baru. Kisah-kisah di dalamnya berdasarkan kisah nyata, misalnya kasus susu beracun pemberian dermawan, dan penyerangan pada kyai yang dianggap sebagai dukun santet. Keduanya juga selalu dihubungkan pada kepercayaan mistis yang sudah turun temurun di dalam masyarakat, kebetulan juga keduanya berujung pada kematian. Hal ini seperti diutarakan Ayu Utami dalam booklet, adalah usahanya  mengkritik pemahaman agama-agama besar yang melihat kepercayaan-kepercayaan tradisonal di masyarakat sebagai hal yang menyimpang.

* Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

Tim Kerja Pertunjukan:

Pembaca: Landung Simatupang/ Komposer dan Pemusik: Agustinus Surono, B. Anom Dwi Nugroho, Albertus Eko Susilo, Tomi Simatupang/ Produksi      : Engelina Prihaksiwi

Komentar Penonton:

“Pertunjukan yang luar biasa, Mas Landung ini kan bertindak seperti seorang dalang. Jadi bisa menghidupkan setiap dialog, ini sangat luar biasa. Dan sesuatu yang sangat luar biasa juga, penguasaan dia terhadap dirinya sendiri, (Landung Simatupang-red) seorang aktor yang bisa mengatur irama, tekanan, tanpa menjadi terlalu emosi, saya kira gak banyak juga yang bisa kayak gitu.” (Bakdi Sumanto, Dosen Sastra Inggris UGM)

“Sebenarnya cukup bagus. Ya saya suka dengan cara bacanya Mas Landung, isinya membuat orang merenung, gak ada humornya. Ini beda sama pas Landung baca cerpen Kuntowijoyo, itu banyak yang ketawa karena ceritanya memang membuat orang ketawa.” (Rachmat Djoko Pradopo, Dosen Sastra Indonesia UGM)

“Aku suka display panggung sama lighting-nya. Cuman aku nggak ngerti kenapa elemen-elemennya di panggung ada botol, ada dua lampu kecil, ada gunung semacam perbukitan, ada janur. Aku nggak ngerti konteksnya apa dalam cerita, jadi benang merah antara bentuk panggung dan ceritanya aku agak nggak nangkep.” (Ririt, 29 tahun, Fotografer)

“Monolognya bagus, cara penyajiannya itu aku suka. Aku sebagai orang awam aku suka monolognya. Aku suka dengan cara menyajikan ketika karakter-karakter suara yang berbeda, itu aku suka, lucu gitu jadi ketawa kalau karakternya ganti.“ (Wiwid dan Utik, 22 & 23 tahun, Mahasiswa Sastra Indonesia, UNY)

“Saya selalu suka dengan pembacaan Mas Landung, memang saya minta Mas Landung untuk baca ini karena ia pernah membacakan Saman dan Larung bertahun-tahun yang lalu. Saya merasa memang Landung adalah pembaca yang paling baik, belum ada yang di atas dia, atau bahkan setara dengan dia. Menurut saya, satu selain karena Landung memang matang, kedua, karena Landung punya dedikasi di bidang ini. Dia aktor tapi dia juga pembaca, itu yang mungkin memang nggak ada di Jogja. Jadi mungkin karena Landung sebagai aktor juga jarang main, ia banyak fokus ke teks ya.

Karena ini pertunjukan yang kedua, setelah di Jakarta kemarin. Kalau menurut saya sendiri ada beberapa perbedaan antara pembacaan di Jakarta sama pembacaan di Jogja, baik Mas Landungnya sendiri maupun ekpresi penontonnya. Saya kira dua-duanya itu ping-pong ya. Penonton Jakarta itu lebih, dalam kasus ini, lebih ekspresif dibanding penonton Jogja tadi. Tadi kok agak adem ya disini. Terus itu, titik-titik di mana mereka bereaksi itu beda, buat saya itu menarik.” (Ayu Utami, Penulis Novel Bilangan Fu)

Next Page »