November 2008


Oleh: M N Qomaruddin*

“It Is Better to light a candle than to curse the darkness”

Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan.

(Confucius)

Aku aktor pemula yang mencoba membicarakan teater sejauh pemahaman dan pengertian yang dapat kucapai. Baru enam tahun terakhir ini aku berada  di ranah teater Jogja. Dalam waktu sesingkat itu sepertinya terlalu cepat untuk mengungkap sebuah kesimpulan perihal proses berteater. Mungkin lebih baik aku menamai tulisanku ini “curhat” atau berbagi cerita dengan teman-teman pembaca.

Aku memaknai teater sebagai kesenangan (hobi), maka aku menyukai, melakukan, mencoba mengerti, dan memahaminya.

Aku mengenal pengertian teater dan akting lewat internet. Tinggal ketik: teater atau akting pada google search, dobel klik, maka muncul banyak web yang memuat kata teater di dalamnya. Begitulah pengetahuanku dimulai dengan sangat mudah dan praktis.

Selain mencari di Internet, yang kulakukan adalah bertanya pada teman yang sudah lebih dulu mengenal teater. Walhasil, banyak istilah dan nama-nama tokoh yang terpaksa harus kucatat, kemudian kucari sendiri kebenarannya. Misalnya tokoh teater yang ngetop, seperti Stanilavsky, Grotowsky, dan Sakhespeare. Kemudian istilah-istilah: Realisme, Surrealisme, Absurdisme pun bermunculan.  Kemudian pencarian segera dilanjutkan ke tempat persemayaman kitab-kitab teater. Tujuan pertamaku adalah jurusan teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pencarian pertama ini agak mengecewakan, pasalnya yang kutemukan hanyalah petilan-petilan naskah teater yang tidak begitu tertata rapi. Sehingga pencarian segera kuakhiri meski aku belum sempat ke perpustakaan universitas. Keinginanku untuk lebih mengerti tentang teater,  kukubur bersama hari-hari latihan.  Nama tokoh-tokoh dan istilah yang sempat ingin kucari kebenarannya itu, tinggal rumor.

Suatu hari di sebuah diskusi workshop (Pertemuan UKM Seni Muhammadiyah se-Indonesia di Makasar) dengan Nur Iswantara (ketua jurusan teater ISI waktu itu), aku dianjurkan berkunjung ke Teater Garasi jika ingin tahu tentang teater. Katanya, banyak buku-buku dan dokumentasi pertunjukan teater di Teater Garasi. Sepulang dari workshop, aku pergi ke perpustakaan Teater Garasi, dan bertemu dengan mas Jamal (staff perpustakaan Teater Garasi pada waktu itu). Meskipun perpustakaan itu lebih tampak seperti ruang tamu,  tetapi banyak berjejer rak berisi buku-buku dan naskah teater. Kemudian aku meminjam beberapa buku perihal teater. Tanpa bermaksud mendukung pembajakan, aku langsung memfoto-kopi beberapa naskah dan buku teater.  Walaupun sebenarnya aku belum tahu apakah buku itu berisi tentang hal yang kucari. Akhirnya sedikit demi sedikit aku menemukan kebenaran yang dulu pernah kucari. Kebenaran yang memuat istilah dan tokoh dalam teater. Bagiku kebenaran itu penting, supaya saat berlatih dan bermain teater, aku sudah punya dasar pengetahuan. Mungkin ini kekurangan atau kelebihan anak muda seumuranku: semuanya harus jelas sebelum melakukan.

Selanjutnya, hal yang tak terencana adalah pergaulan. Bergaul dengan teman-teman pelaku kesenian di Jogja (tidak terbatas pada kampus atau non kampus) dan bertukar cerita. Beberapa pengalaman juga kutemukan di workshop, dan tentunya yang paling penting adalah saat berproses menuju pentas. Tapi itu saja belum cukup.

Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan

Banyak forum yang digagas dalam rangka membangun jaringan meski akhirnya banyak yang kandas ditengah jalan. Diskursus teater jarang tedengar sekarang, medianya pun masih sedikit. Tapi pertunjukan selalu rutin diadakan, sebagaimana yang kita baca pada skAnA yang meliput dan mendokumentasikan pertunjukan yang berlangsung tiap bulannya.

Tapi apakah dengan ramainya pertunjukan teater berarti maju juga teater kita? Atau jangan-jangan hanya euphoria saja? Apakah ada yang benar-benar peduli dalam membangun lingkungan teater?

Yang saya tahu beberapa tahun terakhir ini, masih ada kelompok teater yang konsisten dalam membangun lingkungannya. Teater Garasi secara aktif menggagas forum sharing, diskusi, dan nonton (dokumentasi) pertunjukan. Juga ada Yayasan Bagong Kusudiarja dengan program Jagongan Wagen, yang tidak hanya menggelar pertunjukan teater tapi juga tari. Barangkali juga kelompok lainnya.

Meskipun masih sangat sedikit buku-buku teater berbahasa Indonesia, dan langkanya naskah-naskah baru, tapi sekarang banyak teknologi yang mendukung dan mempermudah kita dalam mengetahui sesuatu. Mulai dari HP yang multi fungsi dengan fitur yang lengkap, sampai dengan komputer super duper cepat. Bahkan kita bisa men-download dan menonton video dokumentasi pertunjukan sekaliber karya Robert Wilson yang mewah itu secara gratis di youtube, dan membaca perkembangan teater broadway. Kelompok teater yang berpengalaman seperti Teater Garasi, Gandrik, Gardanalla, SAC, dan yang lainnya pasti akan sangat terbuka dan senang apabila diajak sharing. Artinya, saat ini akses untuk mencari referensi teater tak sesulit pada era sebelumnya. Apabila referensi merupakan data yang memperkaya para seniman, maka ia akan tercermin dalam karya ciptanya.

Akhir kata, sebenarnya saya cuma ingin bilang “Tetap semangat, teman-teman!”. Masih banyak orang yang barangkali ingin mengerti tentang teater. Sebenarnya yang kita butuhkan saat ini, adalah kemauan yang keras dalam belajar dan menjalankan sesuatu.

Jogja, Oktober 2008…


* M N Qomaruddin, aktor Teater Tangga, alumni Aktor Studio 2006

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

Advertisements

Oleh: Hindra Setya Rini*

Teater Gandrik menggarap sebuah pertunjukan yang berbasis drama dan tari yang dilakoni oleh dua generasi, tua dan muda. Pertunjukan teater tari ini merupakan persinggungan kreatif yang bermula dari keinginan para pelaku. Niat yang ingin diwujudkan di atas panggung untuk memposisikan seni tari bukan sekadar ilustrasi sebuah pementasan drama. Demikian juga seni drama tidak melulu sebagai dramatisasi dari segmen-segmen pertunjukan tari. Akan tetapi keduanya masuk dalam sebuah proses persinggungan, tanpa harus terlintas kemauan saling mendominasi namun justru saling menguatkan.

Teater Gandrik mencoba mewujudkannya dalam pementasan Pasar Seret 3. Digelar pada tanggal 23 Oktober 2008, pukul 20.00 WIB, di Gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta. Sebuah pementasan teater tari. Demikian nama pementasan yang disutradarai oleh Jujuk Prabowo ini bersama pengolah kreatifnya Heru Kesawa Murti. Pementasan yang dipercayakan kepada generasi muda Teater Gandrik sebagi pelaku perannya. Tapi beberapa generasi tua Teater Gandrik masih terlibat  secara langsung di atas panggung sebagai aktor. Acara ini menjadi semacam kolaborasi antara generasi Teater Gandrik yang tua dan muda. Pementasan ini merupakan pentas kedua bagi generasi muda Teater Gandrik setelah Dewan Perwakilan Rayap yang digelar pada November tahun lalu.

Satu jam sebelum pertunjukan, tiket kursi telah habis. Penonton yang tiba saat mendekati pementasan terpaksa rela membeli pada calo dengan harga tiket yang semula dua puluh ribu rupiah menjadi tiga puluh sampai tiga puluh lima ribu rupiah. Atau memilih tiket lesehan seharga lima belas ribu rupiah yang baru akan dijual panitia menjelang pementasan. Rasa penasaran penonton yang ingin menyaksikan generasi muda Gandrik membawakan lakon Pasar Seret 3, yang pernah dimainkan pada tahun 1985; Pasar Seret 1 dan awal 1986; Pasar Seret 2 oleh seniornya, membuat harga tiket yang ditawarkan calo bukanlah halangan untuk menonton pementasan ini.

Gedung pertunjukan yang berkapasitas sekitar 450 kursi itu tidak terisi penuh, sekitar seratusan orang menonton dengan lesehan tepat di depan panggung. Ada sekitar 350an penonton hadir pada malam itu. Tampak para seniman dari kalangan generasi tua dan muda menghadiri pementasan ini.

Pementasan teater tari telah dimulai. Komposisi musik tradisional menggema di seluruh ruangan. Para aktor dan aktris masuk dari kanan panggung dengan membawa sapu lidi. Mula-mula aktor melakukan gerakan rampak orang menyapu, lalu gerakan menyapu tersebut menjadi gerak-gerak komposisi tari. Selanjutnya, para aktor yang lain masuk ke panggung memulai aktivitas layaknya orang-orang yang riuh di pasar tradisional. Hiruk pikuk. Sebuah pasar, Pasar Seret namanya.  Sementara itu, pemusik yang berada agak lebih tinggi dari para aktor —di atas setting yang berbentuk rumah kecil tempat para musisi memainkan musik tradisi— terus beraksi. Kain jarik hitam dan kebaya hitam, serta pakaian keseharian yang biasanya dipakai pedagang di pasar tradisional mendominasi kostum para aktor. Penggunaan backdrop panggung yang berwarna hitam juga membuat kesan warna hitam-hitam menyelimuti seluruh panggung.

Adegan demi adegan berlangsung. Warna-warni percakapan dan peristiwa terjadi di pasar tersebut. Mulai dari kisah Trimo si tukang sapu pasar yang frustasi, bakul (penjual) sayur yang mulai menjajakan VCD, HUMBURGER, serta tak ketinggalan hebohnya bakul pakaian bekas, dan aksi pencopet. Adegan-adegan yang dibangun menyiratkan kekonyolan masing-masing tokoh. Adegan yang sarat dengan guyonan. Sayangnya, beberapa guyonan bergaya sampaan yang menjadi ke-khas-an Teater Gandrik tidak cukup kental dan kurang segar. Sehingga penonton kurang merespon dengan tawa yang lepas, seperti saat menonton pementasan Gandrik sebelum-sebelumnya, yang kental dengan gaya sampaan-nya.

Akhir cerita, segerombolan orang yang berpakaian ala kontraktor bangunan membawa bambu-bambu, yang melambangkan tiang-tiang besi. Rupanya proyek pembangunan Mega mall telah dimulai. Tak ada yang bisa berbuat apa-apa selain menatap dan meratapi tiang-tiang yang menjulang. Tak ada lagi pasar. Sepi. Hanya suara mesin-mesin pembangunan gedung yang terus menggema. Adegan ini menjadi penutup pertunjukan Pasar Seret 3, pada malam itu.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

*****

Kerabat Kerja

Artistik

Sutradara & Pengolah Kreatif Jujuk Prabawa, Heru Kesawa Murti, Djaduk Ferianto Koreografer Sutopo Tedja Baskoro Penata Artistik Feri Ludiyanto, Sutopo TB Stage Manager Ucil YBK Penata Cahaya Besar Widodo Penata Suara Yosi Properti Kuncung, Suyadi Make Up Jujuk P, Rully Isfihana kostum Bu Nus, Hanung, Rully Pemusik I Ketut Idep Pemeran Kerabat Teater Gandrik Muda Penari Kerabat Padepokan Seni Bagong K. Yogyakarta Koordinator Latihan Broto Wijaya

Produksi

Supervisor Butet Kertaredjasa Pimpinan Produksi Heru Handonowari Sekretaris Abdillah Yusuf Bendahara Jamiatut Tarwiyah Seksi Dana Butet Kertaredjasa Seksi perlengkapan Kuncung, Yopi, Feri Seksi Konsumsi Rulyani Isfihana Seksi Publikasi Heru Kesawa Murti, Hendra Seksi Grafis Hendra Himawan Seksi Transportasi Bambang Hariyanto Seksi Dokumentasi Aul

Komentar Penonton

“Rasanya garing, monoton. Biasanya kan Gandrik identik dengan adanya banyak kejutan-kejutan dalam pertunjukannya. Nah, untuk yang ini terasa monoton. Tapi ya secara keseluruhan menarik, mungkin juga karena ada yang tua-tuanya jadi agak tertolong. Hm.., terus tariannya itu nggak kompak dan beberapa vokal nggak kedengaran sampai belakang.”  (Ajeng Pakerti, 22 Tahun, Penggemar Gandrik)

“Kebetulan lama nggak nonton teater, ya ini cukup menghibur juga. Lucu.” (Indi, 26 Tahun, Trulyjogja.com)

“Ya cukup mengobati kerinduanlah setelah lima tahun nggak nonton Gandrik pentas. Apalagi ini Pasar Seret, jadi penasaran aja karena aku nonton yang dulu dimainkan oleh yang tua-tua itu. Hmm.., masih sama setting dan gayanya seperti dulu, gaya 70-an khas Gandrik. Tapi yang paling kelihatan beda ya musiknya. Meski menurutku ada yang berbeda dalam pementasan kali ini, tapi aku belum bisa ngomong halnya itu apa. Yang pasti pancingan-pancingan interaksi dengan penonton beda dari yang dulu, sekarang lebih berjarak. Mungkin udah beda kali ya? Ah, aku nggak tau juga…” (Frans, 32 Tahun, Tukang Motret & Dosen)

“Bagus, saya bisa melihat kombinasi antara musik, aktor, dan ekspresi yang sampai ke penonton. Blocking aktor pas, nggak ada yang saling menutupi. Musiknya juga lumayanlah…” (Chintya, 19 Tahun, Fisipol UGM)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Anak-anak berlarian ke sana kemari dengan lincah dan wajah nan ceria. Malam itu, tingkah polah mereka menghiasi panggung pertunjukan. Mereka memainkan sebuah drama berjudul Jangan Rusak Hutan Kami, di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 14 Agustus, pukul 20:00 BBWI.

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Belajar Rejowinangun (KBR) itu memainkan perannya dengan lugu dan lucu. Ada yang berperan sebagai Pepohon, Hewan-Hewan, Peri Sabun, Matahari, Awan dan Monster Sampah. Seringkali akting mereka mengundang gelak tawa para penonton yang berjumlah seratus-an itu. Para penonton mengikuti setiap adegan dengan antusias, berharap ada kejutan lucu yang hadir.

Pada adegan awal, ketika pepohon sedang menari gembira, munculah awan dan matahari melintasi pepohon. Awan dan Matahari itu diperankan oleh dua orang anak, satu anak membawa awan, dan yang lain lagi berkepala matahari. Kemunculannya membuat para penononton yang kebanyakan orang dewasa itu, tertawa terbahak melihatnya. Mungkin dalam benak penonton, adegan itu terlihat aneh dan menggemaskan. Kemudian tiga Peri Sabun datang sambil meniup gelembung busa. Gelembung itu menghiasi suasana hutan yang mulai ramai dengan suara kicau burung-burung.

Setelah itu, adegan demi adegan bersusulan: sekelompok Monyet bergelantungan di tangkai-tangkai pohon, peri-peri menari, dan seekor kelinci meloncat-loncat mencari persembunyian karena dikejar Harimau. Suasana hutan menjadi sangat ramai. Hutan menjadi sebuah ekosistem yang akrab dan harmonis.

Akan tetapi di tengah keharmonisan itu, datanglah monster-monster sampah yang jahat dan beringas. Mereka mengacau suasana hutan dengan  memaksa hewan-hewan terus bekerja keras di luar kemampuannya, pohon-pohon yang tumbuh subur mereka sulap menjadi tiang-tiang listrik. Hutan telah dikuasai oleh si Monster sampah. Monster itu membelah diri menjadi banyak memenuhi hutan, hingga hutan menjadi kering dan tak terlihat lagi. Hutan tak lagi subur, asri dan bersahabat. Hutan akan hilang dari muka bumi karena ditelan Monster Sampah.

Pementasan teater anak Jangan Rusak Hutan Kami yang berdurasi 45 menit itu, di sutradarai oleh  Y. Thendra BP. Proses penggarapannya ditempuh selama satu bulan di kampung Rejowinangun. Pementasan ini adalah upaya menumbuhkan rasa kepedulian untuk menyayangi dan merawat lingkungan sekitar pada anak-anak dan remaja. Agar alam lingkungan sekitar akan tetap lestari seperti tergambar dalam bait lagu penutup di akhir pementasan itu. Ciptaan Gombloh, sang penyanyi legendaris:

Lestari alamku, lestari desaku di mana Tuhanku menitipkan aku. Nyanyi bocah-bocah di kala purnama, nyanyikan pujaan untuk Nusa. Damai saudaraku suburlah bumiku…

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)


*****

Selintas Kelompok Belajar Rejowinangun

Kelompok Belajar Rejowinangun merupakan Kelompok Belajar untuk anak dan remaja. Didirikan pada tahun 2005 di kampung Rejowinangun. Aktifitas yang mereka lakukan yakni: menggambar, teater, ketrampilan tangan, dan menulis. Kelompok ini selain memproduksi karya sendiri, sering mendapat undangan untuk bermain teater, musik puisi, dan main film. Karena kegiatan kreatifnya, Kelompok Belajar Rejowinangun pernah mendapatkan penghargaan dari Walikota Yogyakarta pada bulan Agustus 2007, sebagai generasi pelopor seni dan budaya,.

Para Pemain:

Vallosa, Ari, Gilang, Linda, Alfan, Puput, taufik, Tina, Lia, Doni, Salma, Amar, Sherly, Putro, Rea, Dwi, Benny, Irwan, Eny, Diah aji, Putri, Amat, Diah, Widya, Sari.

Tim Kreatif:

Mutia Sukma, Ofi Nuhansyah, Rahmat Hidayat, Miftakul Efendi, Indrian Koto, Andika Ananda, Pipit Nur Ferani.

Komentar komentar

“Sangat menarik dan membawa pesan yang sampai sekarang sulit dilupakan. Pesan yang disampaikan simple, dan itu membuat saya merasa ternyata kita belum bisa menjaga lingkungan pentas mereka lucu, sederhana pula, tapi kompleks. Salut buat mereka.” (Danu Santosa, 23 Tahun, anggota kelompok bimbingan masyarakat)

“Seger! Saya suka dengan gerak-gerik para pemain yang lucu dan bikin gemes.” (Wahyudi, usia 27 tahun, pemuda kampung)

“Pentas kelompok belajar Rejowinangun bagi saya terkesan segar, hidup, dan mengharukan. Karena tidak “memaksa” anak menghafal teks dan gerakan dengan kaku, tetapi menggunakan gerak yang relative bebas dan alami. (mengikuti musik). Kita seakan menonton anak-anak asyik bermain. Mereka tampak begitu bersemangat dan riang. Sayang sekali para remaja yang ikut tampil  pada pentas itu, tidak selincah dan sesemangat adik-adik mereka itu. Entah karena kurang berminat, malu tampil di depan publik, atau mungkin karena kurang latihan?” (Katrin Bandel, Dosen dan kritikus Sastra)

“Asyik. Anak-anak itu main tanpa beban mereka berhasil membangun karakter di luar dirinya. Ada yang jadi burung, kelinci, suatu karakter yang dekat dengan dunia mereka.” (Romi Zarman, 24 tahun, Mahasisiwa universitas Andalas dan Penyair)

>> Wawancara bersama Sutradara pementasan SAC: Holocaust Rising, Rosa Rosadi

Oleh: Hindra Setya Rini*

Pada edisi ini, skAnA berkesempatan menemui sutradara pementasan Holocaust Rising yang digelar pada 14-15 Oktober 2008 di gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta. Rukman Rosadi, yang biasa disapa dengan Rossaini, selain sebagai aktor, ia sutradara sekaligus penggiat teater yang cukup produktif di Yogyakarta, bersama klub teaternya: Saturday Acting Club (SAC). Berikut bincang-bincang kami seputar Holocaust Rising, yang berbeda sekali dari pementasan SAC sebelumnya, yang lebih dikenal dengan akting realisnya.

skAnA: Niat awal mementaskan Holocaust ini, apa sih, Mas?

Rosa: Awalnya, ya aku melihat banyak fenomena di sekitarku. Fenomena kekerasan, dan ada satu cerita yang sangat personal yang begitu dekat denganku. Sebuah keluarga yang selalu hidupnya penuh kekerasan. Gila menurutku, jangan-jangan di luar sana ada lebih banyak lagi bentuk kekerasan yang lebih parah. Terus aku lihat kekerasan-kekerasan di tivi, yang aku sendiri sadar jangan-jangan aku juga ada dalam suatu perubahan itu. Masuk dalam bentuk kekerasan yang lain. Misalnya, aku bisa enak-enak aja ketika melihat kekerasan di tivi-tivi itu. Nah, ini gila. Kekerasan itu sudah seperti makanan sehari-hari, jadi kita merasa ingin menonton yang lebih dan lebih keras lagi karena sudah biasa. Jangan-jangan ada banyak orang melakukan kekerasan karena meniru dari tivi. Benar nggak ya, ini? Ya sudah, aku berniat bikin garapan yang ngomongin soal ini. Lalu aku pikir-pikir apa yang cocok dengan tema kekerasan ini. Lantas aku melihat ke belakang, aku ingat peristiwa besarnya perihal kekerasan. Aku ingat Holocaust itu, naskah dari Jerman, yang aku pikir juga ada kemiripan dengan peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi sekarang ini.

skAnA: Bisa cerita sedikit tentang Holocaust itu, Mas?

Rosa: Holocoust itu asalnya dari bahasa Yunani Holocauston, yang artinya kalau nggak salah adalah persembahan yang memberangus habis. Semacam suatu peristiwa persembahan, tapi harus menghabiskan orang. Memberangus orang atau membakar orang. Itu awalnya Holocauston itu. Namun, istilah Holocaust itu menjadi popular ketika peristiwa Nazi. Ada 6 juta yang diberitakan mati, bahkan ada kabar 11 juta. Nah, itu memberanguskan Yahudi pada zaman itu. Di luar urusan politik segala macam yang melatari peristiwa itu, yang masih tetap kontroversial, ya aku ngambil peristiwa pembantaiannya aja.

Nah, di negara kita kan juga ada peristiwa serupa. PKI, misalnya. Ada banyak orang mati, sebenarnya, cuma sejarah kan yang masih nggak beres. Nah sekarang sebenarnya juga dapat dilihat kan, pembenaran-pembenaran yang melatari kekerasan itu; pembenaran atas nama ras, golongan, dan lain-lain, bahkan agama.  Kebeneran menjadi alat untuk menuju superioritas. Merasa agamanya paling benar, golongannya paling benar. Dari sanalah, kondisi itu memudahkan orang menyalahkan orang lain, golongan lain, serta mengakibatkan orang bisa membunuh orang lain atau melakukan kekerasan pada orang lain. Yang menurutnya salah, ya dihabisi. Saat ini, agama sebagai benteng terakhir ternyata juga bobol.

Nah, inilah yang membuatku merasa perlu menyampaikan ini pada penontonku. Ngomongin perihal peristiwa ini. Jangan-jangan banyak yang mengabaikan hal-hal ini yang nyata ada di sekitar kita. Setidaknya aku mengabarkan kepada mereka, inilah yang terjadi di sekitar kita. Jangan-jangan itu juga yang sedang mengubah karakter kita; anak-anak jadi lebih keras, orang-orang jadi punya ketegaan yang lebih besar, yang itu menurutku perubahan karakter yang banyak dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya ya berita-berita kriminal itu, yang seharusnya kita empati, eh jadi enggak karena setiap hari kita sudah terbiasa. Kita jadi kebal dan menganggap itu biasa.

skAnA: Kemudian naskahnya sendiri gimana, Mas?

Rosa: Nah, lalu aku mencari naskah apa yang mengakomodir kegelisahanku. Ternyata nggak ada, ya jadinya bikin sendiri. Biar terasa lebih dekat untuk membicarakan soal-soal itu, ya lebih baik kalau bikin sendiri. Jadilah judul Holocaust Rising. Awalnya Holocaust A Rising, tapi kurang tajam. Jadi Holocaust Rising aja, yang artinya munculnya bibit-bibit Holocaust.

skAnA: Salah satu adegan di ruang keluarga yang sempat diulang-ulang itu merupakan potret kekerasan yang diambil kan, Mas? Ada maksud tertentu atas repetisi itu?

Rosa: Ya. Itu adegan yang memang sengaja disangatkan. Menurutku, kadang sekali aja nggak cukup. Orang bisa lupa atau cuma melihat sekilas. Jadi itu pengulangan yang tujuannya agar apa yang kami ingin sampaikan benar-benar sampai. Sangat sampai kepada penonton. Bukan bermaksud membodohi penonton dengan berita-berita pengulangan. Seperti salah satu monolog tokoh di adegan itu yang sangat ditekankan, “Pertempuran bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, tidak pernah membosankan, tidak pernah menjenuhkan, karena binatang di dalam dirimu dibiarkan keluar kandang.” Ya, aku menganggap manusia punya sifat binatang masing-masing. Kita tahu hukum atau konstruksi binatang, yang kuat memakan yang lemah.

skAnA: Itu kemudian diturunkan ke bentuk akting ya, mas? Bagaimana dengan aktor?

Rosa: Mm.. karena ini klub akting ya, bukan directing, maka aku memang pengennya nggak hanya pada satu style akting tertentu. Misalnya realis atau apa gitu. Inginnya menjelajahi kemungkinan akting. Di Holocaust kan banyak sekali style aktingnya; ada realis, ada tubuh. Aku berpikir untuk mengawinkan yang lama, yang baru, atau mencampur keduanya itu. Naskah ini membuka kemungkinan itu. Di sana ada tokoh orang desa, orang modern juga. Bahkan berkaitan dengan tema, aku jadi merasa bibit-bibit Holocaust itu juga bisa ada di pelosok sekalipun. Ini melahirkan pola-pola akting yang kaya juga.

skAnA: Bagaimana prosesnya, Mas?

Rosa: Teks ini berjalan sambil latihan, dan memang agak berat buat aktor-aktornya. Lalu aku mengambil beberapa strategi yang aku pikir itu cepat, karena waktunya cuma dua bulan. Aku langsung membagi-bagi metode sesuai dengan kebutuhan. Misalnya; latihan fashion show, latihan tubuh binatang, dan lain-lain. Itu latihan dulu tanpa naskah. Aktor lalu menawarkan dan kalau pas (cocok), itu yang diambil. Ya aktor melakukan dulu, dan nggak usah banyak tanya. Aku cuma bilang itu akan dipakai di adegan, jadi lakukan saja dulu. Sembari aku menyusun naskahnya secara keseluruhan. Setelah beres, aku kasih konstruksi cerita, lalu terakhir ngasih isi dan meyakini apa yang sudah dilakukan. Observasi binatang lewat nonton video, dan kekerasan bisa dibaca di koran-koran, lalu kita mendiskusikannya. Ya ini ditempuh karena waktunya pendek, jadi setiap hari latihan selama 6 jam. Aku sangat terbantu karena ada asistenku, Gogon. Aku sangat terbantu karena aku juga ngerjain naskahnya disamping kesibukan yang lain. Mm.. soal naskah sendiri juga sangat padat dan agak berat. Ada banyak penjelasan yang nggak sempat dimunculkan di naskah karena memang dipadatkan. Tapi nggak apa-apa, aku biarin ajalah. Penonton mau menangkap yang mana, terserah penontonnya. Aku percaya penonton juga pintar.

skAnA: Rencana setelah ini?

Rosa: Holocaust akan dipentaskan lagi, bulan Februari. Tapi akhir Desember ini pentas lagi dengan naskah yang lain. Tetap naskah sendiri. Kita juga memang konsen di akting. Ke depan ini memang kita ingin menjelajahi akting seluas-luasnya. Lalu teknik yang akan digunakan jadi tantangan buat teman-teman aktor.

skAnA: Bisa cerita tentang idenya, Mas?

Rosa: Ya, kita akan pentas di Kedai Kebun Forum, dan kita nggak pakai setting apapun. Ruang kosong. Aktor yang biasa keluar masuk lewat side wing, mereka akan menempel di tembok atau dinding. Membentuk relief-relief yang menyusun cerita sendiri. Ya itu salah satunya. Sekarang para aktor sudah observasi ke candi-candi, mempelajari relief dan cerita-cerita yang ada di dinding-dinding candi itu. Itu aja dulu, tunggu tanggal mainnya ya.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

*****

Sekilas Profil

Nama                               : Rukman Rosadi (Rossa)

Alamat                            : Jl. Suryodiningratan MJ 2/916 Yogyakarta

E-mail                              : rosadi999@yahoo.com

Mengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan teater sejak 1998 hingga sekarang. Mengampu mata kuliah: Dasar-dasar Akting, Akting Realisme, Monolog, Teori Akting, Olah Tubuh, Penyutradaraan Realisme.

Tiga tahun terakhir, sebagai aktor terlibat dalam pentas rekonstruksi BIP BOP, sebagai Oidipus dalam Oidipus Tyranos bekerjasama dengan seniman-seniman Australia. Sebagai sutradara dan penulisL Children First, Smoke and Ice Cream, Zero Matrix, Heart Poison, Holocaust Rising, Come and Go (Beckett), Le Guichet (Jean Tardieu), Lithuania (Rupert Brook).

Oleh: Muhammad AB*

Pada tanggal 28 Agustus, pukul 20.00, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Landung Simatupang membacakan nukilan novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Dalam pembacaan novel yang berdurasi kurang lebih 75 menit itu, Landung Simatupang tampil sebagai seorang pembaca yang prima meski telah berusia 56 tahun. Ia terlihat segar dengan kaus warna hijau, celana jins, serta rambut hitam mengkilap ketika disorot lampu.

Landung membacakan dua fragmen yang diambil dari novel Bilangan Fu. Landung tampil sebagai Yuda, yang menceritakan pengalaman dan pertemuan-pertemuannya dengan Parang Jati, sahabatnya yang berusaha melawan eksploitasi perbukitan gamping di pesisir selatan Jawa. Kisah pertama bercerita tentang sebuah pertunjukan drama tingkat SD yang menggambarkan masa kanak-kanak Parang Jati yang suka memberontak dan bengal. Kisah kedua menceritakan pengalaman Yuda ketika ia menyaksikan sebuah peristiwa kekerasan di desa tempat tinggal Parang Jati.

Dalam sebuah  adegan, Landung berdiri di bibir panggung, sambil membaca dengan gaya tutur seperti seorang kakek yang tengah mendongeng. Ia bercerita tentang Parang Jati kecil yang dengan sedih berlari ke arah Laut Selatan sendirian. Ia merasa bersalah karena telah menghasut temannya untuk berperan sebagai Nyai Roro Kidul dalam pentas drama SD untuk perayaan tujuhbelas-an di kampung. Sebentar kemudian, Landung berubah membacakan berita dalam surat kabar yang menjelaskan kematian  beberapa anak-anak di sebuah kampung karena keracunan susu pemberian dermawan dari kota.

Di fragmen kedua, Landung bercerita tentang desa tempat Parang Jati tinggal. Sebuah desa di pesisir selatan Jawa, di mana warganya masih mempercayai mitos Nyai Roro Kidul, hingga masjid di desa itu berkiblat ke Laut Selatan.Di akhir cerita kedua, Yuda dan Parang Jati yang sedang berkemah di atas sebuah bukit, menyaksikan sekelompok massa datang menyerbu desa membawa api dan membuat keributan. Mereka baru tahu kemudian kalau sekelompok massa tidak dikenal itu juga membunuh imam masjid yang mereka hormati, karena kiblat masjid itu menghadap ke Laut Selatan.

Dua cerita yang dibawakan Landung diambil dari kliping koran dan berita dari televisi, yang menunjukkan latar belakang cerita ini terjadi pada masa orde baru. Kisah-kisah di dalamnya berdasarkan kisah nyata, misalnya kasus susu beracun pemberian dermawan, dan penyerangan pada kyai yang dianggap sebagai dukun santet. Keduanya juga selalu dihubungkan pada kepercayaan mistis yang sudah turun temurun di dalam masyarakat, kebetulan juga keduanya berujung pada kematian. Hal ini seperti diutarakan Ayu Utami dalam booklet, adalah usahanya  mengkritik pemahaman agama-agama besar yang melihat kepercayaan-kepercayaan tradisonal di masyarakat sebagai hal yang menyimpang.

* Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

Tim Kerja Pertunjukan:

Pembaca: Landung Simatupang/ Komposer dan Pemusik: Agustinus Surono, B. Anom Dwi Nugroho, Albertus Eko Susilo, Tomi Simatupang/ Produksi      : Engelina Prihaksiwi

Komentar Penonton:

“Pertunjukan yang luar biasa, Mas Landung ini kan bertindak seperti seorang dalang. Jadi bisa menghidupkan setiap dialog, ini sangat luar biasa. Dan sesuatu yang sangat luar biasa juga, penguasaan dia terhadap dirinya sendiri, (Landung Simatupang-red) seorang aktor yang bisa mengatur irama, tekanan, tanpa menjadi terlalu emosi, saya kira gak banyak juga yang bisa kayak gitu.” (Bakdi Sumanto, Dosen Sastra Inggris UGM)

“Sebenarnya cukup bagus. Ya saya suka dengan cara bacanya Mas Landung, isinya membuat orang merenung, gak ada humornya. Ini beda sama pas Landung baca cerpen Kuntowijoyo, itu banyak yang ketawa karena ceritanya memang membuat orang ketawa.” (Rachmat Djoko Pradopo, Dosen Sastra Indonesia UGM)

“Aku suka display panggung sama lighting-nya. Cuman aku nggak ngerti kenapa elemen-elemennya di panggung ada botol, ada dua lampu kecil, ada gunung semacam perbukitan, ada janur. Aku nggak ngerti konteksnya apa dalam cerita, jadi benang merah antara bentuk panggung dan ceritanya aku agak nggak nangkep.” (Ririt, 29 tahun, Fotografer)

“Monolognya bagus, cara penyajiannya itu aku suka. Aku sebagai orang awam aku suka monolognya. Aku suka dengan cara menyajikan ketika karakter-karakter suara yang berbeda, itu aku suka, lucu gitu jadi ketawa kalau karakternya ganti.“ (Wiwid dan Utik, 22 & 23 tahun, Mahasiswa Sastra Indonesia, UNY)

“Saya selalu suka dengan pembacaan Mas Landung, memang saya minta Mas Landung untuk baca ini karena ia pernah membacakan Saman dan Larung bertahun-tahun yang lalu. Saya merasa memang Landung adalah pembaca yang paling baik, belum ada yang di atas dia, atau bahkan setara dengan dia. Menurut saya, satu selain karena Landung memang matang, kedua, karena Landung punya dedikasi di bidang ini. Dia aktor tapi dia juga pembaca, itu yang mungkin memang nggak ada di Jogja. Jadi mungkin karena Landung sebagai aktor juga jarang main, ia banyak fokus ke teks ya.

Karena ini pertunjukan yang kedua, setelah di Jakarta kemarin. Kalau menurut saya sendiri ada beberapa perbedaan antara pembacaan di Jakarta sama pembacaan di Jogja, baik Mas Landungnya sendiri maupun ekpresi penontonnya. Saya kira dua-duanya itu ping-pong ya. Penonton Jakarta itu lebih, dalam kasus ini, lebih ekspresif dibanding penonton Jogja tadi. Tadi kok agak adem ya disini. Terus itu, titik-titik di mana mereka bereaksi itu beda, buat saya itu menarik.” (Ayu Utami, Penulis Novel Bilangan Fu)

Oleh : Ficky Tri Sanjaya*

Bulan Februari tahun 2007, TAP (Theo and Arjan Production) datang ke Indonesia dalam kunjungan rutin setiap tahunnya. Kunjungan tersebut dalam rangka bersilaturahmi  dengan beberapa seniman dan sanggar seni di Yogyakarta. Sanggar Anak Wayang Indonesia adalah salah satu sanggar yang dikunjunginya. Nah, di Sanggar itulah TAP bertemu dengan saya, kemudian  terjadi obrolan santai. Di tengah obrolan itu, mendadak  TAP menawarkan sesuatu yang  tidak saya duga sebelumnya. TAP ingin mengundang saya untuk belajar tentang seni dan  budaya selama 3 bulan di Belanda. Saya sempat bingung dan kaget ketika mereka menawarkan hal tersebut kepada saya.  Kemudian TAP meminta saya untuk mempersiapkan diri mengikuti beberapa kelas yang mereka ajukan: kursus bahasa inggris, workshop teater, tari, dan pantomim. Saya mengikuti workshop di  LPK Nadya Lakshita selama satu tahun.

TAP adalah organisasi  perorangan yang bergerak dalam bidang musik, sastra, film, siaran radio, dan pariwisata, yang semuanya berhubungan  dengan Indonesia. TAP juga ikut mendirikan festival Mundial yang melibatkan banyak kelompok seni dari Indonesia untuk mengikuti festival tersebut. Diantaranya kelompok musik Inisisri, Nano S, Saggy Dog dan Sanggar Anak Wayang Indonesia. TAP  bertindak sebagai fasilitator yang mendampingi kelompok seni tersebut selama mengikuti festival di Belanda. TAP juga pernah mengundang seniman dan sastrawan Indonesia, seperti Rendra, Umar Kayam, dan Didik Nini Thowok.

Peta Perjalanan

Saya berangkat ke Belanda pada akhir bulan Mei 2008. 16 jam perjalanan saya tempuh dalam pesawat dengan perasaan gembira, dan tidak sabar untuk melihat negeri seribu bunga tulip itu; Negeri yang enam tahun lalu pernah saya kunjungi selama tiga minggu, dalam rangka pentas seni memeriahkan hari anak sedunia; Negeri yang mengingatkan saya pada sosok Herman Willem Daendels.

Saya tiba di bandara Schipool, tepat pukul 5:30 pagi waktu Amsterdam. Dengan wajah yang agak sedikit lelah namun sumringah, saya keluar meninggalkan bandara dan menghirup udara segar di luar ruangan. Sebentar kemudian saya dijemput oleh pak Arjan (pangggilan akrab pengelola TAP) dengan sebuah mobil, menuju ke rumahnya. Di sepanjang perjalanan pagi itu, jalanan masih sepi dan lengang. Udara terasa dingin sekali,  kabut turun melindungi beberapa rumah mungil dan sawah ladang dengan sapi-sapi ternak yang asyik merumput. Sungai-sungai tampak sunyi dengan beberapa kapal yang diam di tepinya. Matahari sedikit menyinari kincir-kincir angin yang belum berputar. Kota-kota belum bergerak di pagi itu. Rumah-rumah, gereja, toko-toko, sekolah, taman, pompa bensin, semua masih diam seperti dalam bingkai lukisan.

Setelah dua jam perjalanan, saya sampai ke rumah mereka (TAP), di sebuah apartemen yang terletak di Hoffmanlaan Flaat 641, Tilburg. Di apartemen mereka  yang cukup besar, saya dapat melihat bermacam pernak-pernik dari Indonesia seperti topeng, patung, lukisan wayang, dan souvenir. Yang paling berkesan adalah  adanya beberapa pohon pisang  di sudut rumah dan ruang tamu. Dan yang lucu, saya melihat dua ekor burung kakak tua beterbangan di ruangan dengan bebas. Saya juga melihat banyak  koleksi dan dokumentasi yang mereka kelola, seperti buku, musik, film, foto, dokumentasi rekaman siaran radio, yang semuanya berbau Indonesia. Nah, seperti itulah sedikit pengantar cerita tentang sebuah keluarga yang saya tinggali, yang menjadi teman saya selama tiga bulan tinggal di Belanda; Keluarga tempat berbagi suka dan duka.

Selama kunjungan saya  tiga bulan di Belanda –bulan Juni hingga Agustus 2008– banyak sekali hal yang saya dapatkan. Pada awalnya saya mengalami shock culture karena kebiasaan hidup yang harus mandiri dan teratur. Saya harus hemat energi (penggunaan air, lampu, dan cara mencuci), membuat jadwal untuk bertemu dengan seseorang, menghafal peta, dan ditambah lagi, bahasa inggris saya yang masih belepotan. Tetapi saya mendapat banyak pelajaran dari hal tersebut, pelajaran yang membuat saya lebih menghargai banyak hal.

Sebenarnya kunjungan saya ke Belanda untuk mencari referensi seni pertunjukan dengan melihat pementasan secara langsung. Tetapi saya tidak mempunyai banyak kesempatan untuk menonton pementasan, karena kedatangan saya bertepatan dengan musim panas. Artinya, di musim panas biasanya tidak banyak grup seni yang melakukan pertunjukan di dalam stage atau gedung pertunjukan. Tiga bulan itu adalah bulan untuk liburan bagi masyarakat Belanda, bersamaan dengan liburan sekolah seusai ujian. Namun seni pertunjukan tentu saja tidak hanya berada di dalam gedung saja, tetapi banyak sekali hal yang berhubungan dengan seni pertunjukan di luar gedung kesenian.

Pada minggu kedua setelah satu minggu beradaptasi, saya mulai berkegiatan dan mempelajari kesenian.  Diantaranya mengikuti workshop sirkus di akademi sirkus, ngobrol langsung dengan para seniman tentang manajemen seni, kunjungan ke museum seni, menonton festival, ngamen pantomim di jalanan, nongkrong, dan jalan-jalan di pusat kota. Saya juga pentas solo pantomim dalam sebuah acara penggalangan dana untuk penderita HIV/AIDS, dan pentas di sebuah sekolah (setaraf SMP) untuk penggalangan dana pengembangan seni anak-anak di Indonesia.

Fontys Sirkus Akademi

Di awal bulan pertama, saya mengikuti workshop selama satu minggu di Fontys Academy Art and Performance. Akademi seni dan pertunjukan di kota Tilburg. Di Akademi Fontys ini terdapat beberapa jurusan, tapi yang paling populer yaitu  Akademi musik Rock dan Akademi Sirkus.

Saya bergabung di dalam Akademi Sirkus, satu-satunya Akademi Sirkus yang  berada di Eropa. Hal yang menarik, murid yang bergabung di dalam Akademi Sirkus ini tidak hanya berasal dari Belanda saja, tapi ada yang dari Jerman, Belgia, Perancis, dan Italia. Kadang-kadang, sering terjadi hal-hal lucu dari cara berkomunikasi antar murid. Murid yang bergabung rata-rata berusia antara 17 hingga 27 tahun yang sudah mendalami sirkus sebelumnya, minimal sejak mereka berumur 10 tahun saat mereka berada di sekolah dasar. Dan saya adalah murid pertama yang berasal dari Indonesia, yang pernah belajar di akademi tersebut.

Sekolah ini dimulai dari jam 09.00 hingga jam 17.00. Satu jam untuk istirahat, makan, dan bersantai (jam 13:00–14:00). Dalam sehari dibagi menjadi beberapa kelas materi. Materi pertama adalah acrobatic, acrorap, musik, dan kelas spesialisasi jurusan. Selama satu minggu, saya hanya bisa ikut dalam 2 kelas materi yaitu acrobatic dan kelas acrorap, mempelajari teknik-teknik akrobatik dan tari rap. Latihan diadakan di sebuah tenda sirkus yang berdiri di luar kampus. Dan ketika pada akhir pekan, saya melihat pertunjukan sirkus dari murid-murid sekolah ini. Mereka menggabungkan beberapa unsur seni pertunjukan: tarian rap, musik, komedi, teater, pantomim, dan akrobatik, menjadi satu pertunjukan sirkus yang menarik.

Setelah satu minggu belajar materi sirkus, saya merenung, Apakah tidak ada sekolah sirkus di Indonesia? Padahal referensi yang saya dapatkan sering saya lihat dalam kesenian rakyat seperti jatilan, reog, dan pertunjukan sirkus di pasar malam sekatenan. Namun kenapa tidak banyak grup sirkus yang ikut memeriahkan, seni pertunjukan di Jogja dan Indonesia. Bukankah sirkus juga termasuk seni pertunjukan yang menarik jika diorganisir?  Apalagi kalau ada sekolah sirkus di Indonesia.

Seni Pertunjukan dan Manajemen

Grup seni di Belanda pada umumnya sulit sekali melakukan pertunjukan di dalam gedung kesenian. Apalagi  jika grup tersebut  belum begitu populer di mata masyarakat umum. Di Belanda, grup seni harus melalui jasa Impresario sebelum melakukan pertunjukan di dalam gedung pertunjukan. Fungsi Impresario ialah  menawarkan atau bertugas menjual pertunjukan yang dibuat oleh grup kepada pengelola gedung pertunjukan. Jika pihak pengelola tertarik untuk mempertontonkan pertunjukan tersebut kepada kalayak umum, maka dibuatlah kesepakatan kontrak untuk membeli pertunjukan dengan harga sesuai kualitas pertunjukan yang telah disepakati. Dengan syarat dan ketentuan berdasarkan jumlah penonton yang hadir, maka dilakuanlah sitem reservasi atau pemesanan tiket sebelum terjadi pertunjukan. Dengan sistem tersebut jika penonton yang hadir tidak memenuhi target jumlah kursi yang ditentukan – artinya pihak pengelola merugi – maka pihak pengelola berhak membatalkan pertunjukan tersebut. Sedang  untuk publikasi pertunjukan biasanya dilakukan oleh pihak  Pengelola sendiri melalui majalah seni pertunjukan yang mereka terbitkan, website, dan media cetak lokal.

Grup yang profesional biasanya mempersiapkan diri satu tahun sebelumnya untuk berproses. Mereka mementaskan satu karya yang sama, tidak hanya dalam satu atau dua kali pertunjukan di satu kota. Tetapi dipentaskan juga di beberapa kota, bahkan di beberapa negara. Hal tersebut dilakukan untuk mengganti biaya produksi dan membayar aktris/aktor yang terlibat dalam proses penciptaan karya. Selain itu mereka juga mendapat dana dari sponsor. Bagi mereka, grup yang baik adalah yang dapat memberikan kesejahteraan bagi semua anggotanya, baik di luar panggung maupun saat proses berlangsung. Sehingga proses dan karya yang mereka hasilkan akan maksimal.

Sebagai contoh, grup teater boneka di mana saya terlibat dalam proses produksi. Grup ini terdiri dari empat orang: dua orang sebagai tim kreatif, satu orang menangani musik dan sound system, sedang satu orang lagi mengurusi manajemen. Mereka biasanya membuat program kegiatan selama satu tahun. Diantaranya adalah melakukan pertunjukan mandiri, mendaftarkan diri ke banyak festival, membuat souvenir seperti pin, komik, buku, dan baju untuk dibagikan secara gratis atau dijual kepada penikmat seni.  Mereka juga membuat  animasi/kartun dan menjualnya ke stasiun  televisi lokal.  Mereka memodifikasi mobil sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai alat transportasi yang efektif dan murah untuk mengangkut semua perbekalan: properti, sound system, layar media pentas, boneka, dan si seniman sendiri selama mengikuti banyak festival.

Walaupun kecil, grup ini ditangani secara profesional. Tidak hanya sekadar pertunjukan, namun juga usaha lain yang bertujuan komersil. Bagian manajemen, bertugas mencari peluang dan mengatur supaya grup dapat terus melangsungkan proses kreatif. Selain mengikuti festival, mereka juga mengamen di sudut pusat kota tertentu untuk mengasah kepekaan dalam berinteraksi langsung dengan penonton, sekaligus mendapat uang.

Dengan sistem pembuatan jadwal selama satu tahun, jika dari grup sendiri si seniman tidak dapat hidup dari pengahasilannya, mereka juga melakukan pekerjaan perorangan yang dilakukan di luar grup, seperti melukis, bermain musik, mengajar dan banyak lainnya. Karena jika tidak bergerak mencari peluang, mereka tidak dapat hidup dari seni mereka sendiri, karena biaya hidup di Belanda  sangatlah tinggi.

Jangan berpikir bahwa kami penuh hal yang berbau dengan teknologi, banyak hal liar yang masih dapat kita cari di luar teknologi. Dan yang paling penting adalah berani untuk berkarya  dan dapat hidup dari senimu!”, kata salah seorang seniman teater boneka.

Dan untuk memenuhi semua itu, dibutuhkan irama kerja dan perencanaan manajemen yang matang.

Seni dan Tempat Publik

Ketika berada di Belanda, saya terkesima dengan banyaknya tempat publik yang  difungsikan sebagai ruang kesenian. Seperti seni rupa, khususnya patung dan instalasi yang banyak memenuhi tempat-tempat  seperti mall, taman-taman, pantai, kantor, dan museum. Bahkan banyak karya yang dipajang di pemakaman sehingga menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Pada bulan Juni hingga Agustus, banyak sekali festival yang diadakan di ruang publik. Seperti International Dordrech Festival yang diadakan di beberapa titik sudut jalan pusat kota Dordrech. Festival tersebut mendatangkan banyak seniman dari beberapa negara termasuk Indonesia.  Ada juga teater yang memanfaatkan tempat umum seperti Kafe, Mall, dan Jalan raya, tempat di mana banyak orang berlalu-lalang. Pertunjukan tersebut dilakukan untuk mengejutkan publik dengan skenario yang menyesuaikan ruang.

Contoh yang menarik adalah Festival Theatre Moerenburg. Festival tersebut banyak memanfaatkan lokasi tertentu yang jarang dijamah orang, seperti tempat pembuangan limbah, gedung kuno, sawah, ladang, dan peternakan, yang disulap menjadi tempat pertunjukan yang lebih santai, akrab, dan natural. Di dalam lokasi yang cukup luas tersebut terdapat banyak pertunjukan: teater, pembacaan cerpen dan puisi, sirkus dan komedi, opera, dan konser musik. Peristiwa tersebut dikemas dalam satu rangkaian festival. Penonton yang menghadiri acara tersebut dibagi menjadi tiga kelompok (merah, kuning, hijau) sebelum acara dimulai. Setiap kelompok didampingi seorang guide yang bertugas untuk mengatur urutan dalam menonton pertunjukan. Hal ini dilakukan agar setiap pertunjukan dapat dinikmati dan diapresiasi.

Festival T-parede merupakan karnaval budaya yang diikuti oleh pendatang dari negara asing yang sudah menjadi warga negara Belanda. Mereka datang dari berbagai bangsa: Jepang, Turki, Maroko, China, Suriname, Karibia, Senegal, Meksiko. Tetapi kontingen dari Indonesia tidak turut serta dalm festival tersebut, padahal Indonesia termasuk minoritas terbanyak yang tinggal di Belanda. Festival ini sangat menarik, karena adanya penghargaan bagi budaya etnis lain yang tinggal di Belanda.

Museum Seni

Museum seni adalah salah satu tempat yang  menarik perhatian saya. Ada  beberapa museum yang sempat saya kunjungi, diantaranya museum Joroen Bocsh, museum Sculpture Shcaveningen, museum Tekxtile Tilburg, museum Music Utrech, dan Taman Nasional  Belanda. 

Di beberapa museum yang saya kunjungi, semua terlihat rapi, bersih, dan keamanan terjamin. Benda-benda yang dipajang di museum bisa diakses lewat komputer, sehingga dapat dilihat secara detail. Museum menjadi tempat yang aktif dan menarik untuk dikunjungi  orang, sebagai tempat tujuan berwisata sambil belajar.

Salah satu hal untuk menarik minat umum berkunjung ke museum adalah dengan mengadakan festival pertunjukan di sana. Banyak museum yang dimanfaatkan oleh para seniman sebagai laboraturium untuk mengkaji ulang karyanya agar dapat menghasilkan karya  untuk dijual atau dipamerkan dalam bentuk yang baru.

Alangkah menariknya jika musem di Indoneisa dapat menjadi tempat yang inspiratif bagi seniman untuk menghasilkan karya, dan sebagai tempat alternatif untuk pertunjukan, sehingga tidak melulu diadakan di atas panggung. Adanya aktivitas kreatif di museum,  menjadikan museum sebagai tempat yang inspiratif  bagi masyarakat.

Demikianlah teman-teman, hanya sedikit yang dapat saya ceritakan dari kunjungan saya selama tiga bulan di Belanda. Saya tidak dapat menceritakanya  secara detail, tetapi cerita diatas sudah mewakili gambaran perjalanan saya  selama 3 bulan di Belanda.Terimakasih. Hiduplah dan jayalah kesenian di bumi nusantara kita. Cintailah dia dengan bebas.

Yogyakarta, 17-21 Oktober 2008

* Ficky Tri Sanjaya, aktor Bengkel Mime Theatre dan mantan personil Sanggar Anak Wayang Indonesia

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

Oleh : Wahyu Novianto*

Penciptaan teater atau segala bentuk kesenian selalu berorientasi pada dua kepentingan: teater sebagai media dan teater sebagai seni murni. Teater sebagai media meletakkan pertunjukan teater sebagai sebuah media atau alat yang mengemban misi-misi tertentu, seperti kritik sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. Sedangkan teater murni adalah teater yang sepenuhnya berorientasi kepada pencapaian estetika. Dalam hal ini Teater Dinasti dalam Tikungan Iblis-nya, apakah masih memilih teater sebagai media, sebagaimana yang diyakini kelompok ini sejak tahun 1977, ataukah memilih teater sebagai seni murni (an sich)?

Pertunjukan-pertunjukan Teater Dinasti sejak berdirinya di tahun 1977, sarat dengan ekspresi sosial. Diantaranya repertoar Geger Wong Ngoyak Macan, Patung Kekasih, dan Sepatu Nomor Satu.  Dinasti meyakini bahwa teater adalah media kritik sosial kepada penguasa atas berbagai peristiwa yang dirasa menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi. Pilihan bahasa ungkap Teater Dinasti tersebut nampaknya menurun dari saudara tuanya yaitu Bengkel Teater pimpinan WS. Rendra, yang kemudian juga berimbas pada teater Gandrik dan kelompok-kelompok teater lainya, khususnya di Yogyakarta.

Bengkel Teater, Teater Dinasti, dan Teater Gandrik ‘dibesarkan’ oleh pemerintahan orde baru. Setiap pertunjukan teater yang mereka bawakan selalu dipenuhi dengan tema-tema kritik sosial dan politik. Maka berbagai pertunjukan pun sempat dicekal oleh petugas keamanan karena dirasa akan membahayakan stabilitas nasional. Petugas keamanan (Polsek dan Kodim) yang sudah dibikin pusing dengan urusan SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik) dan kasus pencurian ayam pun, dibebani tugas mengawasi pertunjukan teater.  Mereka mencatat dengan detail dialog-dialog yang dilontarkan oleh Rendra, Joko Kamto, dan Butet Kertarejasa, yang kemudian dilaporkan kepada atasannya. Begitu beratnya tugas bapak keamanan kita waktu itu.

Setelah era Reformasi di tahun 1998, gembok-gembok kebebasan ekspresi mulai terbuka. Panggung-panggung pertunjukan dipenuhi dengan cercaan rakyat kepada penguasa, seakan bisul yang diderita selama 32 tahun itu telah pecah. Bagaimana pun juga seekor serigala akan menjadi garang dan ganas, kalau ia dikurung dalam jeruji penjara. Tema-tema kritik sosial bagai jamur di musim hujan, namun akhirnya hal tersebut juga tidak bertahan lama. Justru kritik sosial menjadi tema yang  menjemukan dan basi. Di lain sisi, era keterbukaan justru membuat ekspresi kesenian kita menjadi melempem, seakan semua persoalan bangsa telah selesai.

Dalam hal ini Teater Dinasti dalam Tikungan Iblis-nya seakan mengingatkan kita kembali, bahwa persoalan-persoalan di dalam kehidupan kita masih sangat beragam. Tidak hanya persoalan manusia dengan manusia, manusia dengan penguasa atau sistem, tapi juga manusia dengan Tuhan. Teater Dinasti dalam Tikungan Iblis-nya tidak lagi menghadirkan persoalan hubungan manusia dengan kekuasaan, sebagaimana pertunjukan-pertunjukannya terdahulu yang dipentaskan kelompok ini. Kali ini Teater Dinasti menyadarkan kita bahwa persoalan hubungan manusia dengan Tuhan jauh lebih mendasar dari segala-galanya. Dirasa bahwa kini eksistensi Tuhan jauh kalah populer dibanding KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), partai politik, calon-calon presiden, dan para artis yang mendaftarkan diri menjadi caleg.

Tikungan Iblis, bercerita tentang Iblis yang menuntut kepada Tuhan agar diberhentikan dari tugas suci untuk menggoda manusia, karena zaman sekarang manusia lebih iblis dari pada iblis. Iblis tidak pernah memiliki tendensi dan keinginan untuk berkuasa, tapi manusia setiap harinya selalu dipenuhi keinginan untuk berkuasa dan memiliki. Iblis dan manusia adalah dikotomi antara kejelasan dan ketidakpastian, siang dan malam. Iblis adalah siang, di mana segala sesuatunya sudah jelas sifat dan hakekatnya, sedangkan manusia adalah malam, di mana semuanya berjalan dalam ketidakpastian. Dalam kelamnya malam, manusia akan menemukan cahaya yang terang benderang, kapan manusia menemukan cahaya yang terang benderang itu? Dimulai dari kita mati, di alam Barsyah, di surga atau neraka. Semuanya sudah jelas akan kemana, semuanya sudah terang.

Selama dua jam setengah, penonton disuguhi dengan gagasan-gagasan filosofis tentang iblis, malaikat, manusia, dan Tuhan. Kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh para tokohnya cenderung bersifat pernyataan-pernyataan, sehingga kadang tidak terjadi hal dialogis antar tokoh. Cenderung bersifat pernyataan, maka dialog yang diucapkan pun tidak mewakili karakter tokoh. Pernyataan tersebut menjadi longgar sifatnya, dan dapat diucapkan oleh tokoh siapa saja. Dalam hal ini penulis naskah hanya sekadar meminjam tokoh untuk menyampaikan gagasan-gagasannya, tidak disertai dengan pembentukan tokoh yang dibentuk dengan tiga dimensional yaitu, fisiologis, psikologis, dan sosiologis, sebagaimana dalam naskah-naskah realisme.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa puitik yang diucapkan dengan pola-pola akting ‘lakuan besar’ (grand style), sehingga menjadi mirip deklamasi dan terasa monoton. Penonton terkesan dipaksa untuk terus mendengarkan. Dalam hal ini penciptaan auditif tidak diimbangi dengan kreativitas visual. Padahal seyogyanya sebuah pertunjukan teater harus memenuhi empat kebutuhan penikmatan penonton yaitu, audio (pendengaran), visual (penglihatan), pikir (intelektualitas), dan rasa (jiwa). Keempat kebutuhan penikmatan tersebut dihadirkan harus sesuai dengan konteks kebutuhannya, artinya harus memiliki relevansi terhadap penciptaan unsur-unsur yang lain, dan tidak hanya sekadar sebagai tempelan atau aksesoris belaka.

Begitu pertunjukan Tikungan Iblis selesai, Cak Nun, sapaan akrab Emha Ainun Nadjib selaku penulis naskah berdiri di atas panggung, dan berkata, “Pertunjukan ini adalah doa, dan bukan teater.” Pernyataan tersebut mengingatkan saya pada pertunjukan-pertunjukan teater di zaman Yunani Klasik, di mana sebuah pertunjukan teater adalah persembahan dan permohonan kepada dewa kesuburan atau Zeus. Permohonan untuk meminta hujan, melakukan perburuan, dan lain sebagainya. Disadari atau pun tidak, kini Teater Dinasti telah mencoba untuk mengembalikan teater pada sejarah kelahirannya sebagai sebuah peristiwa religi, yang tidak hanya sekadar menghadirkan realitas di atas panggung.

Dalam pertunjukan teater di zaman Yunani Klasik dikenal dengan konsep tragedi. Tragedi dalam hal ini dimaksudkan sebagai sebuah ketidakberdayaan manusia melawan takdir. Nampaknya Tikungan Iblis pun menghadirkan tragedi. Tragedi yang dihadirkannya adalah ketidakberdayaan iblis melawan takdirnya. Iblis menyesali kenapa dulu saat Allah SWT menyuruhnya untuk bersujud kepada nabi Adam As, Iblis menolaknya sehingga harus diturunkan ke bumi dan diberi tugas menggoda manusia. Tetapi pada dasarnya iblis mengakui bahwa sebenarnya Iblis sendiri takut pada Allah.

Sebagai sebuah doa atau apapun itu, ketika dipertunjukkan untuk diapresiasi oleh publik teater, harus dibangun dengan memperhatikan aspek-aspek estetika. Karena bagaimanapun juga menciptakan sebuah pertunjukan teater memiliki konvensi-konvensi yang harus kita perhatikan: menciptakan kontruksi dramatik yang kokoh, membangun logika peristiwa, dan menghadirkan aksi visual dan audio dalam pertunjukan. Dengan berpedoman pada estetika pemanggungan, sebuah pertunjukan teater akan lebih enak untuk dilihat, meskipun dibebani dengan gagasan-gagasan yang absurd. Dalam hal ini Teater Dinasti nampaknya harus terus mengkinikan pengalaman visualnya dengan mengapresiasi berbagai pertunjukan teater masa kini, karena saya yakin setiap zaman akan melahirkan bentuk dan gaya yang berbeda-beda. Sehingga ke depannya pertunjukan-pertunjukan Teater Dinasti yang dipentaskan akan tampak kekiniannya, baik secara gagasan maupun visualnya.

* Wahyu Novianto, Pengkaji Budaya tinggal di Jogjakarta

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

Next Page »