Pengalamanku Menonton Pertunjukan

Oleh: Anjar Primasetra

Jujur. Walau saya baru menonton pertunjukan teater sebanyak empat kali (huah… maafkan saya yang sedikit katrok ini, sudah sepuluh tahun hidup di Jogja tapi baru empat kali menonton teater), ada tiga hal yang paling saya perhatikan saat menonton pertunjukan teater: lighting, musik pengiring, dan ekspresi penonton. Menurut saya tiga hal itu adalah unsur yang paling penting dalam sebuah pertunjukan, selain akting para pemain tentunya.

Lighting dan musik pengiring dapat menggiring penonton lebih khusyuk dalam menikmati sebuah pertunjukan. Saat pementasan teater Sakata beberapa pekan lalu di Studio Teater Garasi, saya sempat sedikit was-was karena pada waktu berangkat di sepanjang jalan Godean terjadi pemadaman listrik. Lalu muncul pertanyaan dalam kepala saya, “Wah di sana mati lampu, nggak ya?” Kan tidak lucu kalau tata cahaya yang dipakai dalam pementasan adalah lilin yang dijejerkan di lantai atau dibuat melingkar. Tapi, mungkin bisa dicoba sekali-sekali, pementasan teater dengan menggunakan lilin sebagai efek cahayanya. Syukurnya, ternyata tidak ada pemadaman lampu, dan pementasan berlangsung lancar dan ciamik!

Ekspresi wajah penonton juga hal yang paling saya perhatikan dalam sebuah pementasanapa pun itu. Ya musik, teater, sulap, bahkan pengajian. Karena menurut saya, ekspresi wajah penonton dapat menunjukkan apakah pementasan tersebut berbobot atau tidak. Jujur, saya sedikit kecewa ketika melihat wajah seorang penonton yang terlihat bosan, padahal menurut saya acara tersebut layak untuk ditonton. Atau sebaliknya, saya bosan tapi penonton di sekitar menunjukkan ekspresi wajah yang begitu antusias (saat itu saya akan bertanya dalam hati, “He? Ada yang salah nih, ya? Atau aku-nya yang lemot??”).

Malam itu, 15 Mei 2009, dalam pementasan Kemana Waktu? Aku Ingin Bermain! ketiga hal yang saya sebut tadi menjadi sebuah komposisi yang menarik. Tata cahaya yang apik, sesuai dengan adegan yang dimainkan. Backsound yang sangat komikal (menggunakan soundtrack anime Ninja Hattori Kun, OST game Pac-man, Counterstrike, dan Parasite Eve) cocok sekali dengan “warna” yang sedang dimainkan (saya berpikir, sutradara yang memilih lagu-lagu tersebut pasti Otaku dan maniak Jepang). Dan yang pasti, ekspresi penonton saat itu cukup antusias. Kesimpulan saya, pertunjukan pantomim dari Teater Seriboe Djendela itu menarik dan layak ditonton!

Pertunjukan ini diselenggarakan sekaligus untuk memperingati sepuluh tahun usia kelompok teater yang bermarkas di Universitas Sanata Dharma itu. Naskah diangkat dari sebuah novel karya penulis Jerman,  Michael Ende, berjudul Momo. Ini adalah kisah tentang perlawanan seorang anak bernama Momo terhadap penjahat waktu yang menghasut orang-orang agar menggunakan waktunya hanya untuk bekerja dan sedikit beristirahat. Momo kehilangan teman-teman sepermainannya karena sejak kedatangan penjahat waktu, para orang tua melarang anak-anaknya untuk membuang-buang waktu dengan bermain, karena bermain dianggap tidak berguna bagi masa depan mereka. Akhirnya, mereka tidak dapat lagi bermain bersama dan keceriaan pun menghilang.

Pada awalnya, seperti tertulis dalam booklet pertunjukan, Teater Seriboe Djendela ingin mementaskan secara utuh naskah novel tersebut. Namun karena beberapa keterbatasan, mereka kemudian melakukan adaptasi; beberapa poin penting dari pembacaan novel Momo diterjemahkan menjadi empat fase pertunjukan.

Fase pertama: suasana di mana anak-anak yang penuh dengan keceriaan masih bisa bermain petak umpet dan kejar-kejaran. Suasana itu seketika terusik oleh kedatangan para orang tua yang melarang anak-anaknya bermain. Para orang tua itu kemudian mengganti permainan anak-anaknya dengan console game dan permainan video lainnya yang sangat individualis. Tentu saja, dalam fase ini ada tokoh Momo yang ditinggalkan oleh teman-temannya. Tokoh Momo itu digambarkan sebagai seorang anak perempuan manis yang akhirnya harus bermain-main sendiri.

Oh, ya, saat kemunculan pertama kali tokohnya satu demi satu, saya cukup merasakan sebuah distorsi dalam benak saya. Ada yang aneh dengan mereka. Apa ya? Ah, itu dia. Proporsi tubuh tokoh-tokohnya sangat aneh, dengan ukuran kepala yang sepertinya sedikit lebih besar. Ha ha… saya seperti sedang bermain game RPG seperti FF VII dan classic RPG di Play Station dengan karakter super deformed (SD) yang cebol-cebol. Tapi, ini mungkin terjadi karena tokoh-tokoh tersebut (yang adalah orang-orang dewasa) menggunakan pakaian anak-anak. Tapi, tidak apa-apa. Menurut saya itu keren, apalagi dengan tokoh-tokoh kocak dan komikal banget, membuat semua penonton terpingkal. It’s cool, dude!

Fase kedua adalah saat mereka bersekolah dan harus giat belajar agar mendapatkan prestasi yang cemerlang. Fase ketiga adalah saat mereka lulus kuliah dan mendapatkan IPK yang bagus. Mereka bangga dengan hasil yang telah diraih. Pada adegan ini digambarkan mereka memperlihatkan IPK masing-masing dengan gaya gadis-gadis yang membawakan nomor ronde pada pertandingan tinju. Kemudian mereka berpose beberapa saat, seakan siap untuk difoto (ya, memang begitu, karena serentak para fotografer dengan sigap menjepret kameranya). Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Pada akhirnya mereka terpojok dalam kenyataan sulitnya memperoleh lapangan pekerjaan, walaupun IPK sudah setinggi langit.

Fase terakhir menceritakan kondisi saat mereka sudah bekerja dengan pekerjaan yang begitu berat, menyita waktu, dan menjemukan. Mereka berakting layaknya robot (mesin) yang sedang beroperasi. Sewaktu adegan robot-robot itu berdiri menyebar di panggung dengan lighting lampu disko dan musik yang ajeb-ajeb, saya menanti sebuah adegan di mana tiba-tiba musik berubah menjadi lagu-lagu bernada twinkle-twinkle little star lalu Momo muncul berjalan melintasi panggung dan berhenti di depan penonton dengan ekspresi wajah yang menyedihkan. Tapi sayang, tidak ada adegan seperti itu.

Pementasan itu diakhiri dengan adegan yang menggambarkan orang-orang yang sudah menjadi robot itu jenuh dan merindukan masa kecil mereka yang bahagia di mana mereka masih bisa bermain dan bercanda. Dengan mupeng (muka pengen), orang-orang itu memandang Momo yang asyik bermain dengan penuh keceriaan.

Pesan yang dapat saya tangkap dari pertunjukan ini adalah, gunakanlah waktu sebaik mungkin. Jangan sampai kita menyesal karena telah ditinggalkan oleh sang waktu untuk mengejar kesibukan-kesibukan yang membuat kita menjadi robot. Kalaupun nantinya kita tetap akan menjadi robot, jadilah robot yang bisa minum kopi bersama teman-teman sesama robot. Loh?

NB: sehabis menonton dan mendiskusikannya bersama teman-teman di luar ruang pertunjukan, saya baru menyadari ternyata pertunjukan ini dari awal saja sudah absurd. Harga tiket pertunjukan bukan 5000 tetapi 4900. Bah…

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)