Oleh: Ayu Indra Ciptaningrum *

Empat orang yang berpakaian ala rakyat jelata duduk dengan berbagai pose di belakang seseorang berkostum ala raja—ia berdiri di tempat tertinggi tepat di tengah paggung. Mereka berlima mematung membelakangi penonton. Setelah MC membuka acara, mereka mulai bergerak, menciptakan suasana sebuah pesta. Laki-laki yang berdiri di tengah adalah sang Raja, dan yang lain adalah tetamu yang tengah minum anggur yang dituang dalam gelas-gelas bambu. Sesaat kemudian lampu berubah merah, seketika itu tamu-tamu menggelepar kesakitan. Rupanya mereka telah diracuni oleh sang Raja yang keji. Para tamu itu terhipnotis dan berubah menjadi hewan-hewan: babi, monyet, kucing, dan tikus.

Begitulah peristiwa awal dalam pertunjukan Raja Kaum Budak karya Yana S. Atmawiharja yang dimainkan oleh Teater 28 Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, 5 Juni 2009. Pementasan berdurasi satu jam tersebut dimulai pukul 16.15 WIB (mundur 45 menit dari undangan). Judul pementasan yang berbau kerajaan, dengan cerita yang bersifat istana centris dan tokoh utama seorang raja atau bangsawan itu membawa ingatan saya pada cerita yang pernah saya dengar: teater pada jaman Elizabethan.

Setting panggung digarap secara minimalis. Di tengah panggung terdapat sebuah kotak yang dapat dibuka sebagai singgasana Raja. Di belakangnya ada tangga bambu, sedangkan di sisi kiri dan kanan panggung terdapat drum dan kotak kecil yang levelnya lebih tinggi. Sementara tata cahayanya didominasi warna merah.

Raja Kaum Budak dimainkan oleh 13 orang aktor Teater 28 dan dipentaskan keliling ke lima kota yaitu Ciamis, Tasikmalaya, Cirebon, Kuningan, Yogyakarta, dan Purwokerto. Pertunjukan ini berkisah tentang seorang Raja yang keji dan semena-mena memperbudak rakyatnya sendiri. Ia telah menyerang negeri tetangga dengan cara licik agar takluk kepadanya. Di tengah cerita muncul ketakutan pada diri sang Raja akan kematian, yang terbaca oleh salah satu tangan kanannya. Kemudian muncullah sutradara dan malaikat pencabut nyawa yang kemayu.

Sutradara dan malaikat pencabut nyawa mengadakan perjanjian agar si malaikat tidak datang pada saat pementasan masih berlangsung dan mencabut nyawa salah seorang aktor di panggung. Si Raja dan menteri yang masih berada di panggung pun tampak ketakutan. Cerita yang “nyleneh” serta pembawaan malaikat pencabut nyawa yang kemayu itulah yang membuat seisi ruang AR Fakhrudin A di lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut heboh oleh gelak tawa penonton yang berjumlah sekitar delapan puluh orang. Suasana mulai menghangat setelah dilanda kebosanan selama hampir setengah jam.

Setelah itu, Raja kembali menerima empat orang tamu. Mereka datang dari negeri-negeri tetangga yang berusaha melarikan diri dari kesengsaraan di negerinya. Sang Raja pun menawarkan tempat tinggal kepada mereka. Namun sebelum mereka tinggal, sang Raja mengadakan upacara minum anggur. Raja menyuruh menterinya untuk mengambilkan anggur khusus yang telah dicampur dengan racun, dan menuangkannya dalam gelas bambu. Mereka pun bersulang. Seperti pada kejadian sebelumnya, semua yang meminum anggur―kecuali sang Raja―menggelepar kesakitan dan akhirnya menjadi budak sang Raja.

Sang Menteri yang ikut meminum anggur pun tak luput dari pengaruh racun. Ia menjadi kaku seperti patung. Raja menjadi sombong, ia mengejek si Menteri karena pada saat dia cemas akan kematian, si Menteri mengejeknya. Tiba-tiba, keadaan berbalik 180⁰. Ternyata anggur beracun tersebut tidak diminum oleh si Menteri, melainkan oleh sang Raja. Raja pun menggelepar-gelepar seperti cacing kepanasan. Si Menteri berbalik mengejek Raja sampai akhirnya mengikat permaisuri di atas tangga bambu. Kemudian datanglah Malaikat pencabut nyawa yang dengan kemayunya malah mencabut nyawa si Menteri.

Cerita Raja Kaum Budak sebenarnya sangat menarik, mengangkat isu perebutan kekuasaan yang kontekstual dengan situasi Indonesia saat ini. Namun sayang, beberapa aktor tidak mendapat “ruh” dari peran yang mereka lakonkan. Hanya beberapa peran saja yang terlihat bagus: peran hewan-hewan dan malaikat pencabut nyawa. Beberapa dialog terdengar belibet dan sedikit tertelan.

* Ayu Indra Ciptaningrum, Mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), aktif di Teater Sekrup.

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)


*****

Kerabat Kerja

Aktor Perry, Fauzan, Indri, Asep, Nizar, Lia, Dian, Feby, Reza, Tintin, Fitri Levian, Novi, Restiawati Pimpro Angga Karuniawan Staf Produksi Sandy Elwahabi, Slamet Wahyudi, Siti, Hani, Abdurahman, Asma, Indra, Eva, Kartika, Rianggi, Neng, Dodi, Rina, Dendong, Inem, Camani, Sely Selviana, Maulana Alam, Dzakiyul.

Komentar Penonton:

Dari keseluruhan penampilan sih masih belum punya ruh yang hidup, tapi idenya sebenarnya menarik kok… Dan applause buat kegigihan mereka berkarya. (Sulis, 26 tahun, Teater SUA Jogja)

Pentasnya cukup aneh! Ditambah dengan tidak adanya booklet, saya jadi tidak tahu dengan jelas bentuk cerita dan klimaksnya di mana. (Iyuth, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Sanata Darma, usia 20 tahun)

Tema dan cerita yang diangkat kurang asyik dan menarik. Tidak terlalu sreg dengan tempatnya, terlalu dingin. Tapi pementasan itu cukup menghibur. (Ficky Tri Sanjaya, 22 tahun, aktor Bengkel Mime Theatre)