March 2007


Oleh: Ikun Sri Kuncoro*

Saya agak bingung, bagaimana memulai cerita ini. Sebab, sesungguhnya, saya hanya ingin menceritakan apa yang hidup dalam anganan saya tentang aktor/aktris: manusia-manusia di atas panggung yang terlibat dalam pertunjukan sebuah kisah.

Beberapa waktu yang lalu saya nonton pertunjukan teater di LIP Yogyakarta, judulnya Domba Domba Revolusi [DDR], dan Malam Jahanam [MJ]. Kisah yang pertama tidak saya tonton seluruhnya sehingga saya hanya bisa menonton ulang rekaman videonya. Malam Jahanam, saya bisa nonton seluruh pertunjukannya. Kedua pertunjukan itu dimainkan oleh aktor dan aktris yang entah dimaklumi atau tidak; lagi belajar akting. Setidaknya, itulah yang ditulis oleh publikasi pertunjukan itu: Bimbingan Belajar Keaktoran, “Actor Studio”.

Agung Kurniawan, seorang perupa terkenal di Yogyakarta karena memiliki restoran dan galeri, sehabis nonton Malam Jahanam itu berkomentar; “Realis kok dimainke aktor ajaran. Yo elek. [Realis kok dimainkan aktor yang lagi belejar. Ya, jelek.] ”. Menurut perupa itu, akting realis hanya sanggup dimainkan oleh aktor-aktor yang memang sudah jadi.

Saya tak membantah omongan perupa itu. Ketika saya menonton Domba Domba Revolusi yang hanya sempat sesaat, ketika saya menonton Malam Jahanam, kesan yang pertama kali saya dapatkan adalah saya seperti menonton peristiwa pertunjukan pada tahun-tahun 88-90an, di mana saya sedang senang-senangnya belajar menonton teater dan banyak anak-anak muda belajar teater, juga mengadakan pertunjukan. Permainan seperti itu, pun, saat ini masih dapat ditemukan di saat ujian kelas pemeranan atau penyutradaraan di jurusan teater ISI Yogyakarta.

Lawatan ingatan itu tak pelak menyurukkan saya sewaktu menonton latihan Sanggar Shalahuddin sekitar tahun 89. Pada peristiwa latihan itu, saya melihat ada seorang aktor yang mendialogkan kalimat pendek: “Tidak bisa.”  Tampaknya, sang sutradara tidak berkenan oleh aktor itu. Aktor itu oleh sang sutradara disuruh mengulang kalimat itu sebanyak lima belas kali dalam lima belas varian. Yang saya dengar, aktor itu memang mengulang lima belas kali tapi tetap dalam satu pola yang sama, yang membuat sang sutradara tidak berkenan. Seingat saya, sampai peristiwa pertunjukan terjadi, aktor itu tetap menyuarakan kalimat: “Tidak bisa.” dengan gaya yang tidak meng-kenan-kan itu: intensi intonasi dari bunyi dan tubuh yang tidak selaras dengan konteks dramatiknya: sesuatu yang menjadikan penonton kikuk menatapnya. Sayang, saya tidak pernah tahu, apakah aktor itu juga merasakan ke-kikuk-an yang sama?

Kikuk, itulah yang saya tangkap dari permainan aktor dalam DDR dan MJ. Sekalipun ke-kikuk-an itu tak sepayah aktor Sanggar Shalahuddin yang saya kisahkan tadi.

Perihal tubuh disiplin.

Saya menduga sumber ke-kikuk-an permainan para aktor terletak pada disiplin tubuhnya. Disiplin tubuh yang saya maksud di sini adalah kemampuan dalam kesanggupan membentuk intonasi tubuh untuk dilibatkan dalam segala bentuk konteks dramatik yang diminta. Tentu, tubuh yang saya maksud di sini adalah termasuk juga aspek tutur yang sanggup dihasilkannya. Pada tataran ini, agaknya, dalam tubuh aktor  ditemukan dua gejala potensialnya, yakni intonasi gerak dan intonasi tutur. Keduanya juga merangkum adanya intonasi diam: tidak bergerak, tidak bertutur. Dan dramatika, agaknya, adalah koreografi antara intonasi gerak/tutur dalam berselipan dengan intonasi diam. Maka menjadi tidak ada pilihan lain bagi aktor, kecuali harus berani mengelola tubuhnya. Pada titik ini, akting kemudian ditempatkan sebagai disiplin pengetahuan dan tubuh adalah alat/teknologi dalam mengartikulasikan pengetahuan itu.

Kembali mengingat, MJ, tokoh Utay jadi terasa paling berkesan. Karakter cacat ini seakan mengartikulasikan pengetahuan akting yang paling tinggi atau bagus dari keseluruhan anasir para aktor. Sebagai tangkapan atas permainan, bacaan itu tidak salah. Tetapi sebagai tangkapan sebuah kasus studi keaktoran, saya mencurigainya lain.

Saya mencurigai, karakter Utay yang cacat memberikan jarak tubuh yang ekstrim dengan pemeran. Ini menjadi berbeda dengan karakter-karakter lain yang tidak cacat, di mana jarak tubuhnya menjadi lebih dekat atau mungkin akrab, dengan tubuh yang memerankan. Jarak tubuh dari yang tidak cacat ini memberikan kegamangan dalam keyakinan penciptaan intonasinya. Pada karakter yang tidak cacat, si pemeran punya kecemasan yang lebih tinggi dalam mengontrol jarak tubuh antara tubuh pemeran dan tubuh yang diperankan. Inilah yang saya sebut tubuh sebagai alat/teknologi: sebuah perpanjangan dari tubuh sendiri untuk mengerjakan sesuatu. Dengan kata lain tubuh sendiri dijadikan alat/media untuk mewujudkan tubuh orang lain. Yang karena tubuh orang lain itu tidaklah cacat, berbeda secara ekstrim, maka ke-kikuk-an tak bisa dielakan sebagai risiko dari kecemasan pemetaan jarak antara tubuh sendiri dan tubuh karakter atau orang lain itu.

Di sini, akting kemudian dipahami sebagai praktik kesadaran intonasi tubuh yang disusun sebagai atau seakan praktik ketidak-sadaran intonasi tubuh: sebuah permainan.

Medan penikmatan intonasi: panggung dan teve play.

Entah sebuah kebetulan, atau sebuah keberuntungan, saya menonton lagi DDR dari rekaman videonya. Tentu saja saya tidak sedang menikmati teater: sesuatu yang tidak hanya di sini dan sekarang, tetapi juga jarak pandang dan jarak dengar. Jarak pandang dan jarak dengar ini tampaknya sangat mendikte.

Ada satu adegan dari DDR antara pemilik losmen dan seniman. Keduanya duduk, si seniman bicara, pemilik losmen mendengarkan. Angle kamera terbikin medium longshot, dan si pemilik losmen terlihat dari samping (profil). Tentu wajah pemilik losmen itu tak terlihat, tetapi di atas dua kakinya yang berpangku itu, dua tangannya bertaut dan mempermainkan dua ibu jarinya: sebuah intonasi gerak yang hidup.

Saya jadi bertanya, andai saya melihat DDR ini dalam kerangka teater: di sini dan sekarang, apakah saya akan mendapatkan intensi [dramatika] yang sama kuatnya dengan yang saya lihat di gambar? Adakah sudut tempat saya duduk yang bisa saja tidak diwakili oleh kamera ini punya kuasa mendikte pada dramatik-nya intonasi gerak tangan ini, baik dari sisi penikmatan ataupun penciptaan?

Seorang sutradara yang sering bepergian ke luar negeri, seringkali mencemooh aktor dengan mengatakan: “Aktor, kok mlaku wae; fals [Aktor, kok jalan saja; sumbang!]” Fals atau sumbang adalah intonasi yang tidak luluh dalam kehadirannya di satuan komposisi. Inilah yang saya maksudkan sebagai, kikuk, tadi.

* Ikun Sri Kuncoro, penikmat peristiwa kesenian, tinggal di Bantul

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Oleh: Hindra Setya Rini *

Tepatnya hari Jumat, 2 Februari 2007, pukul delapan malam, dua awak skAnA bertandang ke Pendopo Teater Garasi untuk bertemu dengan peserta Actor Studio. Sebelumnya, pada tanggal 30 Januari 2007, mereka juga telah mengadakan acara ‘sum-suman’, yaitu semacam ritual yang dilakukan setelah pementasan peserta Actor Studio, sekaligus penutupan proses panjang yang telah mereka jalani selama 6 bulan itu.

Percakapan yang kami lakukan di salah satu ruangan kecil di Teater Garasi itu cukup riuh dengan celoteh ceria para peserta Actor Studio tersebut. Memang terkesan seperti malam pelepasan dan mereka sedang berbahagia. Meski tidak semua peserta bisa hadir pada pertemuan itu, tapi tak sedikit pun mengurangi semangat para aktor-aktor muda yang lain untuk berbagi.

Latar belakang atau alasan teman-teman mengikuti Actor Studio?

Kimung:

Saya tertarik, dalam hal ini mempelajari keaktoran. Saya suka teater, jadi saya ingin belajar tentang keaktoran.

Nugie:

Karena keterbatasan referensi di tempatku tentang keaktoran, jadi aku berinisiatif untuk datang ke sini untuk mempelajari keaktoran.

Iskandar:

Aku merasa dulu itu belajarnya tanpa sistem pengetahuan yang jadi. Kemudian aku ingin belajar ilmu keaktoran itu dengan tepat. Makanya, aku belajar di Actor Studio yang diharapkan bisa jadi modalku untuk proses selanjutnya.

Guntur:

Aku butuh referensi keaktoran sehingga aku bisa menguji seberapa jauh kemampuan keaktoranku dan seberapa mampu aku menyerap hal-hal baru dalam keaktoran itu sendiri.

Alex:

Fasilitas yang lebih memadai dan yang aku inginkan.

Antok:

Karena aku pecinta seni peran.

Qomar:

Karena aku ingin tahu yang lebih jelas aja dari keaktoran itu seperti apa, dan ini karena yang ngadain Teater Garasi, yang menurutku kelompok teater yang sudah bisa memformulasikan pengetahuan mereka.

Sutris:

Waktu yang 6 bulan itu yang membuatku tertarik. Karena dengan waktu 6 bulan itu aku pikir banyak referensi keaktoran yang bisa aku dapatkan.

Lalu apa yang teman-teman dapatkan dari Actor Studio?

Alex:

Hal-hal yang sistematis dan target.

Guntur:

Kesadaran tentang kebutuhan ilmu keaktoran secara sistematis dan terstruktur.

Iskandar:

Pengalaman mengalami banyak proses dan bisa teramati.

Antok:

Disiplin pengetahuan yang sistematis.

Nugie:

Terbuka bahwa keaktoran itu banyak sekali hal yang belum saya pelajari.

Sutris:

Sistematis sama training.

Qomar:

Lebih tahu mengatasi kesulitan dalam diri sendiri kaitannya dengan keaktoran.

Kimung:

Disiplin keaktoran dan sistematis dalam latihan dan materinya.

Bisa cerita sedikit prosesnya; kesan; apa yang menyenangkan, atau yang tidak menyenangkan buat teman-teman selama studi ini, misalnya?

Antok:

Wah, mendak! Aku nggak suka, sakit semua pahanya. Kalau yang menyenangkan buatku itu momen tahap 3, yaitu pementasan ansambel. Di situ, satu bagian hidupku menjadi kaya pengalaman batin. (Mendak adalah salah satu bentuk gestur tubuh yang dilatihkan kepada peserta dalam sesi training, pen)

Nugie:

Tayungan dan Ageman, sakit semua badanku. Yang paling kusukai adalah sesinya Mas Lono (workshop ansos), Mas Landung (training pelisanan), dan Mas Wawan (workshop monolog). Karena, meski sebentar tapi efektif banget. (Tayungan itu salah satu dasar tari Jawa, dan Ageman dasar tari Bali, yang dilatihkan kepada peserta dalam sesi training, pen)

Qomar:

Aku nggak suka mendak. Aku paling tinggi sendiri jadi kelihatan kalau nggak rendah, hehe… Tapi yang paling aku senengi adalah workshop 3: Interaksi dan Mas Landung (training pelisanan, pen). Pentas juga menyenangkan.

Sutris:

Psikologi. Itu menyebalkan. Bukan psikolognya, tapi metodenya. Kalau yang aku suka itu Ageman, sama pelisanannya Mas Landung.

Kimung:

Kalau aku waktu gulingan itu, sulit karena postur tubuh saya yang gendut ini. Yang menyenangkan adalah waktu ansos (analisis sosial, pen) itu, kita observasi ke pasar dan mall.

Alex:

Aku paling takut gulingan! Karena aku trauma lantai! Yang menyenangkan tuh pentas, karena aku nggak pusing mikirin biaya pentas!

Iskandar:

Yang nggak menyenangkan buatku jatuhan belakang, karena takut terbentur kepalanya. Kalau yang suka itu sesinya Mas Ogleng (Yudi Ahmad Tajudin, salah satu fasilitator Actor Studio, pen). Kemudian pementasan monolog dan pementasan ansambel yang hari ke dua, karena rileks.

Guntur:

Untuk yang tidak menyenangkan, saya pass ya… Tapi yang menyenangkan adalah sesinya Ogleng (Yudi Ahmad Tajudin, red), karena membuat kita kritis dengan perangkat keaktoran kita dan membuat kita terangsang untuk menemukan warna atau karakter kesenian kita sendiri.

Fasilitatornya sendiri, gimana, menurut teman-teman?

Antok:

Oke-oke, nggak ada masalah. (teman-teman yang lain menyepakati apa yang dikatakan oleh Antok, yang notabene adalah ketua kelas di Actor Studio ini.)

Ada tidak perbedaannya, sebelum dan setelah mengikuti Actor Studio?

Kimung:

Ya, terus terang beda, ya dalam hal ini Kimung yang sebelum mengikuti Actor Studio dan sesudahnya ya tentu saja beda. Terutama dalam pengalaman saya mendapatkan sesuatu dari Actor Studio.

Qomar:

Lebih tahu apa yang sedang dihadapi dan bagaimana cara menghadapinya, sekarang.

Sutris:

Tambahan referensi metode latihan keaktoran dan sedikit menejemen pentas.

Alex:

Peningkatan dari segi teori.

Guntur:

Aku semakin kukuh dalam mempelajari dan memperdalam disiplin keaktoran.

Iskandar:

Lebih santai di prosesnya.

Antok:

Alasan. Di Actor Studio, alasan itu adalah satu hal yang sangat penting. Artinya, untuk melangkah atau bergerak, entah di pementasan dan di kehidupan sehari-hari jadi lebih tahu dan mencari tahu alasannya.

Nugie:

Aku lebih bisa mengukuhkan diri bahwa pilihanku di keaktoran.

Oke, harapan untuk Actor Studio ke depan?

Nugie:

Actor Studio bisa terus berlanjut, dan harapanku bisa lebih baik dan matang dari sekarang. Dan untuk diriku sendiri: kuliah!

Iskandar:

Kurikulum yang sudah dikasih Actor Studio, itu aja yang dipakai. Maksudku, semua yang ada di Actor Studio itu ya dijalankan sesuai planningnya.

Kimung:

Actor Studio ya berlanjut teruslah…, jadi nanti dunia teater itu memasyarakat.

Sutris:

Memasyarakat tuh, gimana?

Kimung:

Mmm…, biar nggak eksklusif, ya di masyarakat itu nggak aneh. Kalau dari saya sendiri sih setelah mengikuti Actor Studio, saya akan menularkan ilmu saya kepada yang lain. Kalau yang saya tularkan itu mau lho. (Geer…, kami kembali terbahak. Suasana begitu riuh, karena masing-masing saling menimpali, meledek, dan mencandai temannya yang sedang memberikan pendapatnya)

Sutris:

Huu… Itu bukan teaternya yang aneh. Orang-orangnya aja yang aneh. Seniman-seniman yang bikin teater jadi terlihat aneh itu. (Ups, ada yang langsung protes! Mereka membangun diskusi mereka sendiri, dan menyenangkan melihat teman-teman Actor Studio bercengkerama)

Guntur:

Untuk materi analisis sosial ditambah. Karena, saya berharap seniman-seniman muda lebih berdimensi sosial. Menurut saya itu penting sekali karena karya-karya yang dihasilkan mudah-mudahan bisa berdampak sosial juga.

Qomar:

Bisa melebihi yang sekaranglah. Bisa menghasilkan orang-orang yang menjadi lebih mengerti tentang teater.

Sutris:

Kalau aku sih, bisa menarik masa sebanyak-banyaknya biar bisa di seleksi. Kalau yang diterima 6 peserta, tapi  gimana caranya yang daftar 20an, gitu.

Pertanyaan terakhir, kesan teman-teman selama studi keaktoran di Actor Studio 2006 (periode pertama), ini?

Antok:

I love very much…! The best f**kin’ moment!

Alex:

Amazing…!

Kimung:

Sae…(bagus, pen)

Guntur:

Merangsang, membuat saya bergairah.

Nugie:

Aku lebih terbuka terhadap keaktoran.

Qomar:

Wonderfull.

Iskandar:

Very surprise…!


***

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Oleh: Andy Sri Wahyudi *

Ih, sebel deh,” gerutu seorang cowok saat berjejal antri masuk ruang pementasan. Pintu masuknya memang terlalu sempit, jadi harus bergilir satu persatu. Apalagi jumlah penontonnya sekitar seratusan orang? “Uh, Busyet dah!

Malam itu adalah hari pertama pementasan Malam Jahanam karya Motinggo Boesye, yang dimainkan oleh kelompok Actor Studio dan disutradarai  oleh Joned Suryatmoko (Sutradara Teater Gardanalla). Pementasan diadakan di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jalan Sagan no:3 Yogyakarta. Pementasan ini merupakan program Aktor Studio: Program belajar keaktoran yang ditujukan kepada siapa saja yang ingin mempelajari keaktoran secara lebih dalam.

Tempat duduk yang berbentuk punden berundak itu sudah dipenuhi penonton. Panggung hanya disinari lampu warna biru yang diredupkan. Para penonton masih menunggu sambil asyik ngobrol dengan berisik. Tata ruang panggung dibagi menjadi dua: level atas adalah sebuah jalan, sedang level bawah rumah penduduk. Dua rumah berdinding bambu dan beratapkan rumbai-rumbai mendominasi ruang.

Suara berisik para penonton berangsur hilang, ketika terdengar suara lirih deburan ombak yang membangun imajinasi tentang pantai. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam rumah. Suara wanita yang mengumpat jengkel. Ialah Paijah istri Mat Kontan. Seseorang keluar dari dalam rumah dengan bentuk tubuh dan gerak aneh (orang kelainan mental) ia berlari ketakutan sambil mohon ampun saat di kejar Paijah. Ialah Utay, si Pandir. Rupanya pertunjukan telah dimulai.

Saya masih terpesona dengan setting panggungnya. Adalah rumah Soleman di sebelah kanan, agak maju menghadap serong ke kiri dan rumah Mat Kontan berada di kiri panggung lebih ke belakang, mengarah diagonal. Jemuran pakaian berada di samping kanan rumah. Di samping kiri rumah Soleman adalah sebuah gang. Properti yang berupa kelapa kering, jala ikan, dan pasir memeperkuat kesan rumah-rumah itu terletak di daerah pantai. Sebuah lentera kecil tergantung di atap emper rumah Mat Kontan, tanda hari sudah petang. Suasana panggung seperti kehidupan nyata. Sebuah nostalgia kehidupan pantai bagi yang sempat singgah meski sekedar melepas lelah.

Dari kiri ke kanan: Soleman, Mat Kontan, Utay

Tiba-tiba tawa penonton riuh memecah ruangan, saat melihat tingkah Utay yang membawa jemuran hendak masuk rumah lewat jendela. Sebentar kemudian Soleman keluar rumah, disusul tukang pijit buta yang melintas dengan suara tongkatnya. Utaypun pergi setelah mengusili tukang pijit. Tinggal Paijah dan Soleman yang diam  saling curi pandang, lalu suara kereta api melaju memecah sepi. Peristiwa dan percakapan seperti lewat begitu saja sekedar menghantarkan ke suasana malam.

Cerita mengalir setelah kedatangan Mat Kontan dari membeli burung. Mat Kontan membuka percakapan dengan membanggakan burungnya dan dirinya, tapi Soleman memotongnya dengan mengungkit masalah rumah tangga Mat Kontan. Tentang Kontan Kecil yang terus menangis karena sakit. Mat Kontan memang terkenal sombong dan hanya menuruti kegemarannya bermain burung, ia tak peduli dengan anak dan istrinya meski ia sering membanggakannya, sebab kelahiran Kontan kecil telah menghapus anggapan tentang dirinya yang mandul.

Percakapan mengaliri adegan hingga muncul ketegangan; Burung Beo Mat Kontan hilang. Ia marah, ia tanyakan pada Paijah istrinya, tak peduli bayinya (si Kontan kecil) terus menangis. Ternyata Utay melihat burung Beonya mati di dekat sumur, mati digorok lehernya. Mat Kontan semakin marah, Utay menjadi pelampiasan marahnya lalu Mat Kontan mengajak Utay pergi ke ahli nujum.

Malam itu semakin sunyi, rahasia-rahasia cerita mulai terungkap. Soleman berselingkuh dengan Paijah. Mereka berdua hanyut dalam kekhawatiran yang tak terpecahkan. Ketegangan semakin memuncak setelah Mat Kontan datang dan terbongkarnya rahasia, ternyata Kontan kecil adalah anak Soleman. Naluri primitif kedua laki-laki itu tergugah. Mereka hendak berkelahi demi kegagahannya sebagai laki-laki. Awalnya Mat Kontan mengalah, tapi Utay memanas-manasi. Mat Kontan terbakar amarah, ia akan membunuh Soleman tapi Soleman berhasil lolos. Nasib naas menimpa Utay, ia mati. Kepalanya disepak Soleman. Paijah menjerit histeris, ia tak dapat menerima kenyataan. Bayinya telah mati. Ia berlari, berteriak seakan menyesali segalanya. Hanya si Tukang pijat buta terdiam di tengah malam. Malam yang membutakan segalanya. Malam Jahanam. Suara kereta melaju kencang melindas peristiwa dan perasaan-perasaan lalu.

Naskah Malam Jahanam yang ditulis pada tahun 1958 dan mendapat juara pertama sayembara penulisan drama Departemen P & K 1958 memang sudah tak asing lagi, berpuluh kali telah dipentaskan di atas panggung seiring jaman yang terus bergerak, ilmu pengetahuan yang semakin berkembang, dan teknologi modern yang terus melaju (meski sering muncul pertanyaan dalam benak saya, apakah karena kurangnya naskah drama realis di Indonesia?). Kisah klasik dan permasalahan  lama manusia masih juga hangat. Tentang relasi berpasangan, perselingkuhan, dan perasaan purba manusia yang dikemas dalam sebuah drama panggung yang memikat dan eksotis. Rupanya tragedi “Malam Jahanam” pun perlu kita kaji ulang, bukan sekedar menilai baik-buruk atau benar-salah,  tapi  dari banyak sudut pandang yang memungkinkan melahirkan nilai-nilai baru? Cerita Malam Jahanam seperti tak habis-habisnya dibicarakan orang dari jaman ke jaman, tak kan lapuk termakan waktu. Ah, siapa yang sanggup menjelaskan cinta dan air mata?

Soleman, Paijah, dan Mat Kontan

Pementasan yang digarap dalam bentuk drama realis ini, adalah presentasi para aktor studio dari hasil belajar mereka selama kurang lebih enam bulan. Aktor benar-benar teruji dalam mendalami karakter setiap tokoh dan terlatih kecakapannya dalam berdialog dengan cepat, tangkas dan sesuai dengan karakter tokoh.

Pentas telah usai. Ternyata pementasan ini berhasil menarik penonton yang tidak hanya dari kalangan seniman teater saja tetapi dari banyak kalangan. Ada ibu rumah tangga, pelajar, aktivis LSM, guru, mahasiswi dan remaja gaul yang cakep-cakep.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)


Tim Kerja ‘Malam Jahanam’:

Sutradara Joned Suryatmoko Pemain Mat Kontan (Darmanto Setiawan), Soleman (Guntur Yudho Saputro), Paidjah (Dien Rukudzi), Utay (Alex Suhendra), Tukang Pijit (Siswadi)

Komentar Penonton:

“Paling kusuka tokoh Utay-nya, karakternya bagus banget. Selalu kutunggu kemunculannya.” (Nonik 26 tahun, Guru Wisma Bahasa)

“Kalau bagus sudah biasa, siapa dulu yang menggarapnya? Saya suka bentuk realis apalagi sutradaranya muda meski sudah tujuh kali saya melihat partunjukan teater yang menggarap Malam Jahanam.” (Hasta Indriyana, 30 tahun. Komunitas Tanda Baca)

“Keseluruhan pertunjukan lancar dan terselamatkan, tapi beberapa actor masih terbata-bata saat memasuki perannya.harus lebih digali pencarian karakternya. Selamat buat Alex untuk peran Utai-nya.” (Catur Stanis, 30 Tahun lebih)

“Apik. Utai-nya sueger banget dan membuatku cukup betah, asyik. Cuma kalau dengan gaya realis model Joned gak pas dengan kurun waktunya.” (Ria, 25 Tahun, kerja di Papermoon)

“Lumayan dan menarik.” (Orangnya cantik tapi malu-malu nyebutin namanya-Mahasisiwi Fak Fisipol Atmajaya, 22 Tahun)

“Kurang renyah masih seperti hari kemarin, tapi aku suka tokoh Utai-nya Cuma artikulasinya kurang ok. Kalau yang cewek mainnya tanggung banget, seharusnya di tangan Joned (sang Sutradara) bisa lebih menarik.” (Teguh, 28 Tahun, Mahasiswa Sastra Indonesia Sanata Darma)

“Secara realis sangat terpahami dan menghibur.” (Ajis, 24 Tahun, Komunitas Film 03)

“Apik dan sangat realis.” (Adin, 21 Tahun dari Teater EmKa UNDIP Semarang)

“Cukup menghibur, penyutradaraannya bagus. Ehm, ceweknya lemah dalam akting.” (Soni Wibisono, 26 Tahun, pengkelana dari Semarang)

“Duh, komentar apa ya? Eh, Aku suka Utay-nya titik!” (Ari “Inyong” Dwianto, 25 Tahun, Sutradara Bengkel Pantomim)

Oleh: M. Ahmad Jalidu*

Tentang The Light of Ken Dedes

Awal 2006, Mahesa Arie menulis Novel Ken Dedes: I’m in Love dengan gaya komedi. Memang komedinya “jadul” (jaman dulu). Kalau saja para intelek yang membaca pasti geregetan dan muak. Tapi, maaf, penikmatnya mungkin akan mengatakan bahwa ini memang untuk konsumsi remaja: teenlit, bo!”. Novel ini tidak menawarkan sudut pandang baru selain gaya penyampaian cerita yang asal (waton —bhs Jawa) lucu dan fantastis sesuka penulisnya. “Kamu bisa nggak mementaskan novelku?” Pertanyaan Mahesa itu menjadi awal proses Gamblank Musikal Teater (GMT) dalam pementasan The Light of Ken Dedes (2006). Waktu itu saya baru saja mementaskan Haloo… Ada Cinta di Sini?, adaptasi Film Moulin Rouge, bersama Kelompok Sekrup, Maret 2006.

Kemudian saya membaca novel yang penuh canda itu. Di lingkungan pergaulan saya, canda yang ‘nggatheli’ sering muncul setiap hari. Saya pikir, guyonan Mahesa Arie itu tidak asing ditelinga saya dan teman-teman. Mereka rata-rata juga suka komedi, musik yang easy listening, cerita yang ringan dan segar. Akhirnya saya putuskan untuk mementaskan novelnya Mahesa yang kelewat slengekan itu.

Cerita Ken Dedes sendiri menarik buat saya, apalagi kalau bukan masalah kewanitaan. Wanita dipandang dari fungsi seksualnya, sehingga wanita berkualitas itu digambarkan sebagai wanita dengan alat seksual yang bagus dan mengkilap. Pandangan itu berkembang sampai sekarang, meski sudah melewati jaman Kartini. Para pria menilai wanita dari kulitnya, mode bajunya, bentuk pinggul, dada, dan sebagainya. Apalagi industri kecantikan juga semakin mempengaruhi wanita untuk mengejar kualitas fisik dan melestarikan cara pandang itu. Saya merasa kasihan kepada Ken Dedes. Dalam bayangan saya, ia cantik dan seksi. Tapi hidupnya malah jadi tragis. Keagungan itu justru jadi malapetaka buat hidupnya. Seperti komentar salah satu aktris saya (Apriyanti) tentang Ken Dedes yang akan ia perankan.

Oke, kerja awal yang saya lakukan dalam proses ini adalah menulis naskah berdasarkan novel tersebut. Kemudian judul saya ubah menjadi The Light of Ken Dedes. Saya kumpulkan pemain, lalu membentuk tim produksi. Penentuan gedung pertunjukan pun harus disesuaikan dengan dana yang pas-pasan. Saat pemanggungan tidak ada side wing, kami pakai model terbuka di mana penonton bisa melihat persiapan para aktor menunggu giliran di tepi panggung. Ini dulu dipakai Gardanalla lewat Ah Kamu (2004), lalu kami contoh sejak pementasan pertama GMT, Panggil Aku Aziza (2005). Dan menjadi salah satu strategi kami dalam pengiritan dana, agar cukup sampai pementasan..

Model pertunjukan yang saya pilih: musikal! Ada akting, ada lagu, dan kalau perlu penari. Model ini saya kenal di Sanggar Gardanalla ketika saya bermain sebagai figuran di Perkawinan Figaro (2000) dan Sampek Engtay (2000), yang dua-duanya naskah Riantiarno dan disutradarai oleh Joned Suryatmoko (They’re the best, menurut saya). Saya langsung suka pada pola-pola naskah Riantiarno, ndhagel, gaya bahasa lisan yang santai dan cair, juga musik dan lagu-lagu yang enak di kuping. Lalu saya belajar menyutradarai di Kelompok SEKRUP FMIPA UNY. Saya mengadaptasi Akal Bulus dari Scapin-nya Molierre, dan mementaskan dengan gaya musikal. Selanjutnya saya terobsesi naskah Riantiarno. Saya memainkan Semar Gugat (sebagai aktor) 2003 dan Kala (sutradara) 2004. Tahun 2005 bersama beberapa teman mendirikan kelompok baru Gamblank Musikal Teater (GMT).

Latar belakang pemilihan model musikal di GMT (juga waktu di Sekrup) adalah karena kami sekumpulan anak muda yang hobi main teater dan musik, dan masih banyak hobi-hobi lain. Maka sandiwara musikal menjadi solusi tepat untuk memfasilitasi semua minat/hobi tersebut. Amatan saya, setelah Gardanalla mengembangkan realisme development-nya, tak ada kelompok yang mengambil gaya musikal di Jogja. Kami pengen pertunjukan yang sedikit “beda” tanpa harus memaksakan diri. Apa yang ku punya, apa yang ku suka. ”Realis(me)tis”.

Kerja Penyutradaraan

Saya tidak punya pendidikan formal di teater. Cuma baca ini-itu dan tanya sana-sini. Sempat kursus akting di ELAC (Everyday Life Acting Course) binaan Teater Gardanalla (2005), untuk menambah pengetahuan saya. Teknik Penyutradaraan saya hanya berdasar pada yang saya alami ketika saya belajar sebagai pemain. Memang tidak sistematis dalam proses belajar saya. Yang ada hanya menghapal naskah, menyusun blocking bareng-bareng. Bedah naskah dan detil adegan digarap sambil jalan. Banyak ruang untuk terus mengembangkan adegan sampai hari H (pementasan). Musik saya pasrahkan ke tim musik, terserah mau jadi lagu yang seperti apa. Begitu juga tarian, kostum dan tata panggung. Pegangannya hanya: apa yang kita punya, apa yang kita suka. Sutradara hanya menyambung kreasi anggota tim.

Rumus kerja saya adalah: bekerja dengan cinta, saya menyayangi semua pendukung pertunjukan. Saya hanya tahu bahwa sutradara adalah pusat orientasi semua bagian tim kerja. Harus tampil sebagai tiang, sebagai guru, sekaligus ayah para aktor. Menangis dan tersenyum di kamar belakang panggung. Kalau aktor saya main bagus, mereka yang diajak foto dan diminta tanda tangan oleh penggemarnya. Tapi kalau aktor main jelek, saya yang diejek. Andai proses adalah perang, sutradara adalah panglima; meski sakit  harus tetap terjun ke medan laga menyalakan semangat para serdadu. Andai ada yang harus tertembak, sutradara harus yang pertama tertembak, tetapi jika ada yang harus jatuh, sutradara harus yang paling akhir jatuhnya karena ia harus menyelamatkan setiap ada anggotanya yang jatuh. Kelihatan heroik, memang. Tapi demikianlah yang saya pegang dalam proses kerja-kerja saya.

Menyatukan banyak kepala dalam satu visi? Minta ampun susahnya. Apalagi teater memang bukan orientasi utama mereka (anggota teater saya). Saya harus menghormati. Saya mengalah meski sedikit kecewa. Saya harus selalu sadar bahwa teater bagi kami (GMT) adalah  hobi. Seperti para pebulutangkis kampung Samirono, tak ada cita-cita yang ingin menjadi juara Thomas Cup. Tetapi kalau seminggu tidak main bulutangkis rasanya badan pegal dan hidup terasa kurang lengkap. Begitulah teater kami. Dirindukan, tapi sering kalah dengan prioritas kerja yang lain. Jadwal latihan pun sering kacau karena kesibukan masing-masing dari kami yang kadang tidak bisa ditinggalkan.Tapi bagi saya, tetap enjoy adalah kata kunci dalam menjalani proses saya.

Untuk penggarapan The Light of Ken Dedes sendiri, tanpa menggagas kekinian atau bukan, saya berusaha untuk menampilkan gerak-gerik yang wajar pada permainan para aktor. Saya sendiri tidak nyaman ketika menonton teater dengan gaya berlebihan yang kaku dengan bahasa Indonesia jaman PKI (saya menyebutnya demikian). Menurut saya, saya pentas di Jogja tahun 2006, ditonton oleh orang yang hidup di Jogja tahun 2006, maka saya pakai bahasa Jogja tahun 2006. Tak peduli meski cerita yang diangkat adalah cerita Ken Dedes yang hidup di tahun 1222 (yang bahasanya pasti berbeda).

Sekali lagi, berangkat dari komedi Mahesa yang sarat dengan keisengan dan hasrat guyon tinggi, maka saya merasa sah-sah saja untuk melakukan keisengan terhadap anyaman Mahesa. Pemusik saya sedang menyukai musik country. Oke saja ketika musiknya country. Biar nyambung, saya ubah asal-usul Ken Arok. Saya jadikan ia seorang koboi Texas yang melarikan diri ke Jawa, lalu berdagang kuda. Empu Gandring lenyap dan saya hadirkan tokoh pengganti, Mr. Gardner, yaitu seorang perakit pistol dan senapan. Pembunuhan Tunggul Ametung juga menggunakan pistol. Memang kurang ajar, membuat suguhan terasa ganjil dan tidak menyatu. Bagaimana Ken Dedes bisa bicara tentang buku nikah? Bagaimana Empu Lohgawe bisa ketemu istilah “pemuja rahasia”, “schizophrenia”? Jawaban saya; saya tidak sedang mengajar sejarah nusantara, tetapi “menunggangi” kisah sejarah untuk bersenda gurau sembari menyodorkan cermin hidup. Supaya penonton mau bercermin (meski pada masa lalu), ya kita gunakan kaca yang seolah-olah buatan jaman sekarang.

Tentang Penonton

Saya setuju sama Riantiarno bahwa teater berdiri atas 3 syarat; pelaku, panggung dan penonton. Jadi, penonton itu penting. Pertanyaannya, penonton yang bagaimana yang kami sasar? Yang pasti, bagaimana caranya membuat tiket habis dan saya tidak nombok! GMT biasanya ditonton oleh teman-teman yang datang atas nama persahabatan, sebagian besar berusia 17-25 an. Ini memang semacam pesta bagi teman-teman di lingkungan pergaulan kami. Tentu saja juga mengharapkan pihak-pihak lain yang belum kami kenal datang berbondong untuk menghabiskan tiket.

Saya suka ditonton oleh mereka yang muda dan segar, yang seringnya malah bukan pelaku teater. Di situlah kami merasa berguna bagi orang-orang di sekitar kami yang bersedia menikmati teater. Kalau teater hanya disaksikan oleh sesama pelaku, untuk apa? Toh pelaku lain juga pasti sudah paham pada nilai-nilai yang ditawarkan panggung itu. Yang terjadi akhirnya canggih-canggihan tafsir dan olah adegan. Untuk itu saya pasti keteteran. Saya memilih pentas untuk kaum muda yang tidak pernah menonton Teater Garasi atau ujian teater ISI, yaitu penonton yang mengangkat bahu mendengar nama-nama Stanislavsky, Grotowksy, Barba bahkan Wawan Sofwan. Jumlah golongan ini banyak sekali dan mereka adalah potensi penjualan tiket yang hebat.

Meski sekedar hobi, pertunjukan teater saya harus mampu menjadi tontonan akrab dan bisa diterima masyarakatnya. Masyarakat di mana person-person teater itu tinggal dan bergaul, dan atau masyarakat yang ditargetkan menjadi penonton. Target calon penonton kami adalah mereka yang awam teater dan biasa punya banyak pilihan hiburan (band, TV, bioskop, cafe, dugem, sex, dan kuliah). Saya harus sedikit menyesuaikan selera dan dunia mereka (yang bisa jadi adalah dunia kami juga). Memakai idiom, isu, bahkan bahasa dan gaya yang sekiranya cocok dengan selera mereka. Misalnya tentang judul, dunia mereka dikelilingi judul-judul berbahasa Inggris. Judul novel, artikel majalah, spanduk acara party, bahkan slogan-slogan produk yang mereka konsumsi (kendaraan, sepatu, kosmetik, fashion, snack dan sebagainya). Ken Dedes yang baheula itupun saya ganti judulnya biar terkesan modern dan ngepop, ibarat ganti casing biar lebih cantik.

Pertunjukan kadang bisa dipandang sebagai produk bisnis yang harus dipoles sedemikian rupa. Bisa juga sebatas wujud dinamika pergaulan. Mereka ulang tahun, saya diundang dan disuguhi makanan dengan suasana yang saya suka. Giliran saya pentas, mereka saya undang dan saya mengusahakan mereka menyukai sajian saya juga. Karenanya, teater saya tak boleh melulu perenungan kritis yang berat, tetapi juga tontonan yang sekedar hiburan. Teater harus terus dinamis, memikat dan berpengaruh. Tahun 1985 Rendra meraih 15 ribu penonton hanya dalam 2 hari pentas. Kostum teater klasik di Eropa dulu konon bisa mempengaruhi kostum para bangsawan. Opera Kecoa Teater Koma juga dilarang pentas karena ketakutan pemerintah akan pengaruhnya bagi pemikiran masyarakat. Tapi sekarang? Masih besarkah daya pikat dan pengaruhnya? Saya pikir, kita (pelaku teater) sedang mencari dan menempuhnya dengan cara kita masing-masing.

* M. Ahmad Jalidu, Sutradara Gamblank Musikal Teater dalam pementasan ”The Light of Ken Dedes”

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Oleh: Muhammad Nur Qomaruddin*

Masih ingat tentang cerita Ken Dedes? Ken Dedes adalah puteri Mpu Purwa yang diculik dan diperistri oleh Tunggul Ametung (penguasa Tumapel). Ken Arok, seorang rakyat jelata yang ingin memperistri Ken Dedes berhasil menusuk Tunggul Ametung dengan keris  Mpu Gandring hingga tewas. Kemudian Ken Arok mengangkat dirinya sebagai penguasa Tumapel (dengan Ken Dedes sebagai permaisuri). Dan menurut ceritanya, Ken Dedes juga dianggap sebagai nenek moyang raja-raja Jawa.

Tanggal 24 Desember 2006, kelompok Gamblank Musikal Teater mementaskan sandiwara musikal dengan judul The Light of Ken Dedes di Lembaga Indonesia Perancis. Naskah ini terinspirasi dari novel komedi Ken Dedes I’m Falling in Love karya Mahesa Ari (Media Pressindo 2006), yang juga telah menafsir ulang cerita Ken Dedes yang tertulis dalam sejarah. Menonton pertunjukan The Light of Ken Dedes ini memang berbeda dengan cerita Ken Dedes yang sering kita dengar dan cukup menggelitik penonton. Ken Arok digambarkan sebagai pemuda kelahiran Texas berambut pirang yang bicara menggunakan bahasa Jawa dengan dialek bule, Tunggul Ametung seperti Kepala Desa yang berseragam layaknya pegawai negeri bersama istrinya yang kebanci-bancian. Sementara itu, Mpu Gandring sendiri digambarkan dengan sosok nyentrik berkacamata hitam dan kerisnya pun diganti dengan pistol. Musik yang dipilih juga jauh dari musik Jawa, yang ini benar-benar agak diluar dugaan saya.

Pertunjukan ini dimulai dengan munculnya Ken Dedes yang mengenakan jaket jins, duduk di kelilingi penari-penari berkerudung dan diiringi sebuah lagu mendayu berbahasa Inggris. Seorang reporter muncul, dengan dialek ngapak ia melaporkan telah ditemukan sebuah pistol yang diduga digunakan oleh Ken Arok pada zaman dahulu. Artinya, setting pertunjukan dibawa ke jaman sekarang. Para pemain menggunakan kostum keseharian. Pergantian adegan selalu diiringi musik (yang sebagian besar berirama country) dengan penari-penari yang menaiki kuda kepang, membawa boneka, dan berjubah hitam (berganti-ganti). Cerita pun bergulir, dan di tengah pertunjukan setting berganti ke jaman dahulu (ditandai kostum yang dikenakan pemain seperti pada masa kerajaan).

Dengan set dan properti yang sederhana, pertunjukan ini membangun imajinasi penonton atas ruang yang dibentuk para pemain. Dalam ruang yang kecil, imaji yang ditawarkan kemudian menghadapi kesukaran karena teknis yang agak sedikit rumit. Kita seakan diajak melihat adanya perpindahan ruang dan waktu dengan perubahan-perubahan setting di panggung; jaman sekarang dan dahulu. Dalam permainannya, aktor mencoba menembus jarak penonton dengan membangun dialog yang membuat suasana jadi gerr. Bagi saya, pertunjukan ini seperti menunjukan bahwa keserakahan dan kekuasaan, bahkan kecantikan menyebabkan pertumpahan darah.

Di akhir pertunjukan, Ken Dedes melakukan adegan yang sama seperti di awal (plot circle). Ia mengakhiri keluh-kesah dan harapannya sebagai seorang wanita dengan kalimat, ”Akhirnya kami wanita tak pernah bisa memilih”. Mungkin inilah kata kunci dari seluruh pertunjukan, alias konteks yang ingin disampaikan (menurut saya).

Pertunjukan berdurasi sekitar satu setengah jam ini tidak membuat penonton yang sebagian besar anak-anak muda beranjak dari tempat duduknya. Bahkan di luar gedung pun masih banyak penonton yang tidak bisa menonton karena kehabisan tiket. Sebagai penonton, banyak hal yang saya bawa pulang sebagai oleh-oleh yang bisa saya bagi kepada teman-teman. Selain menawarkan banyak bentuk, pertunjukan ini cukup menghibur dan tidak membosankan.

*Aktor dan ketua Teater Tangga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.


Tim Kerja ‘The Light of Ken Dedes’:

Pemeran Alex Suhendra, Apriyanti, M. Awaluddin, M. Muadib, Rizalul Fikri, Toni, Arief Gogon, Ipam, Ulin Najah, Dewi Kaneli, Rika, Noni, Sofie, Deta, Ulfa, Nana Pemusik Bahrudin F. Bolu, Zaenal Arifin, Nucky S Bombom, Adi Syaputra Penata Gerak Agung Wijaya Penata Musik Bahrudin F. Bolu Sutradara M. Ahmad Jalidu Pimpinan Produksi Agung Wijaya

Komentar Penonton:

”Apa memang harus komunikatif untuk membuat segar pertunjukannya? Musikalnya sudah kebangun, tapi karena timing komunikasinya gak pas jadi kurang greng. Saya menjadi agak bingung, juga garapannya kurang halus.” (Yopi, 25 tahun, Mahasiswa Jurusan Teater ISI)

Penari-penarinya justru merusak pertunjukan, karena terkesan hanya tempelan…sayang kurang digarap. Coba kalau digarap pasti akan lebih menarik. Kalau aku sih lebih suka yang tema-tema personal gitu.” (Mimi, 26 tahun, Penonton Teater)

”Wah, lucu! Aku suka. Baru pertama nonton teater…tapi agak bingung pemainnya ada yang memerankan dua tokoh, jadi kadang nggak tau dia pas jadi siapa. Penontonnya penuh.” (Gery, 23 tahun, Mahasiswa)

”Ceritanya lumayan bagus dan nggak membosankan, juga lucu. Meskipun di beberapa bagian lampunya nggak pas, juga permainannya terkesan naif. Tapi aku suka.” (Sasha, 21 tahun, Teater Tangga)

* Muhammad Nur Qomaruddin, aktor, aktif di Teater Tangga

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Oleh: Alex Suhendra*

Rabu 29 November 2006, sebuah pertunjukan teater yang dimainkan oleh aktor-aktor dari angkatan generasi tahun 1960 sampai 2000, telah digelar di Gedung Societet Yogyakarta dengan judul Ciut Pas Sesak Pas. Pertunjukan yang disutradarai oleh penulis naskahnya sendiri: Genthong HSA (Teater Kanthong Bolong Yogyakarta) ini, diselenggarakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam penutupan rangkaian acara Gelar Budaya Nusantara. Lakon yang mengisahkan tentang orang-orang tergusur tersebut berlangsung dua babak dengan selingan istirahat 15 menit di tengah pertunjukan.

Pertunjukan dimulai pada pukul 20.00 WIB, dengan durasi sekitar 2 jam itu berlangsung dengan permainan aktor yang menggunakan bahasa tubuh seperti kera, dengan kaki terikat dan bendera-bendera bernomor menancap di punggung mereka. Dengan setting panggung yang dipenuhi susunan kardus-kardus berukuran besar, dan sebuah Pohon Berita berdiri di samping kiri panggung, menarik mata penonton untuk mengikuti gerak dan pose pemain yang mengandalkan teknik grouping yang tertata itu.

Ciut Pas Sesak Pas sendiri berkisah tentang orang-orang yang terpinggirkan dan tertindas. Ketertindasan yang digambarkan dengan posisi jongkok dan kaki yang terikat, tentang sejarah mereka yang hilang dan sengaja dihilangkan, serta perihal hak-hak asasi yang terabaikan, juga tentang manusia yang tak lagi ingat bagaimana berperilaku seperti manusia (digambarkan lewat tingkah mirip monyet). Dan keterpinggiran itu sendiri digambarkan dengan mendirikan rumah-rumah kardus di dalam goa.

Dan malam itu, gedung pertunjukan berbentuk prosenium tersebut dipadati penonton. Karena pertunjukan Ciut Pas Sesak Pas melibatkan generasi tua sampai muda, tentu saja menarik orang-orang dari generasi tersebut untuk menonton. Bahkan ada yang rela sampai duduk lesehan, apalagi pertunjukan tersebut gratis!

* Alex Suhendra, aktor, tinggal di Jogja.

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Oleh: Iskandar GB*

Pada Kamis malam (16 November 2006) di pendopo Teater Garasi digelar pertunjukan Wayang Air.  Pementasan Wayang Air kali ini berjudul Suluk Air 2 “Mbok, Apa Sira Lihat Keong Kumambang”, dibawakan oleh Komunitas Wayang Suket pimpinan Slamet Gundono yang bermarkas di Mojosongo, Solo.  Pertunjukan dimulai pukul 19.30 WIB, dengan durasi pertunjukan lebih kurang 90 menit.

Melalui gayanya yang khas, Slamet Gundono membawakan cerita dari dunia wayang ke dalam kehidupan sehari-hari. Diiringi empat orang penari yang memainkan air dengan berbagai peralatan rumah tangga, penonton dibawa ke dalam dunia pewayangan dan dunia kehidupan sehari-hari. Dari cerita tentang terusirnya Dewi dari khayangan ke sungai,  sampai ke persoalan krisis air bersih yang kini  banyak menimpa masyarakat kita.

Pertunjukan Wayang Air ini sungguh menghibur puluhan penonton yang hadir di Pendopo Teater Garasi, termasuk penduduk kampung dari lingkungan sekitar.  Juga cipratan air dari beberapa penarinya, jadi menyegarkan pementasan. selain itu, dagelan yang dimainkan para pemusik diakhir-akhir pertunjukan cukup membuat penonton tergelak. Air, bagi Slamet Gundono dijadikan sebagai sumber inspirasi kreatif.  Dan Wayang Air telah memberikan satu penawaran yang unik dan menarik dalam khasanah seni pertunjukan di Indonesia.

Selain di Pendopo Teater Garasi, Wayang Air juga dipentaskan di Jakarta dalam acara Jakarta International Puppetry Festival 2006

*Iskandar GB, aktor dari Komunitas Berkat Yakin, Lampung.

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Next Page »