Oleh: Hindra Setya Rini*

Tanggal 2 Mei 2009, sekitar 150an penonton hadir memenuhi ruang pertunjukan di Studio Teater Garasi. Teater SAKATA, sebuah kelompok teater dari Padangpanjang Sumatra Barat, menggelar sebuah pertunjukan dengan judul Tiga Perempuan. Setelah MC menyambut para penonton dan memberi pengantar singkat perihal Teater SAKATA, pertunjukan segera dimulai. Waktu menunjukkan tepat pukul delapan malam.

Lampu-lampu dipadamkan, panggung gelap. Alunan nada dari alat musik tiup Saluang mengumandang memenuhi ruang pertunjukan. Tak lama kemudian lampu menyala, tampak di hadapan penonton seorang perempuan tua—berkerudung dan bersarung—duduk di atas kursi di bagian kiri panggung. Ia sedang makan dengan sangat lahap.

Panggung ditata dengan sederhana dan minim properti. Hanya dua buah kursi yang dijejer menjadi satu, selebihnya ruang kosong dengan backdrop hitam pada bagian belakang panggung (berfungsi sebagai dapur dan tempat keluar-masuk aktor).

Tiga Perempuan mengisahkan tiga orang perempuan Minangkabau yang tinggal bersama dalam sebuah rumah gadang. Mereka adalah Marlena (si Padendang) yang cenderung berpandangan negatif terhadap laki-laki; Sari (anak gadis Marlena), sosok yang berpandangan modern; dan Ipah, perempuan yang menjaga kodrat keperempuanannya dan memilih mengabdi kepada suami. Konflik terjadi ketika Sari memperkenalkan calon suaminya dan mencari tahu bapak kandungnya.

Marlena menentang keras keinginan Sari untuk menikah. Sikap Marlena yang tak kunjung memberi tahu siapa ayah Sari sebenarnya membuat Ipah—perempuan lembut dan halus dalam bertutur kata—selaku ibu yang mengasuh Sari sejak kecil angkat bicara. Ipah sendiri juga tak tahu siapa ayah kandung Sari. Ipah hanya menceritakan kisah hidup Marlena sebagai padendang yang tak bahagia dengan perkawinannya. Empat kali ia menikah, tapi selalu gagal menjalaninya. Hingga suatu hari Marlena mengantarkan seorang bayi perempuan kepada Ipah—yaitu Sari—dengan mengakui bahwa dirinya (Marlena) bukanlah seorang ibu yang baik.

Marlena (kiri) dan anaknya, Sari (kanan) dalam "Tiga Perempuan"

Marlena berang atas sikap Ipah yang lancang, tanpa sepengetahuannya telah bercerita kepada Sari. Namun justru adu mulut antara kedua perempuan itu membuat semua rahasia terkuak. Shock dan terpukul, itulah ekspresi Ipah saat mengetahui bahwa Menan adalah ayah kandung Sari. Menan, suami sekaligus sosok pria yang dikagumi dan dicintainya karena kesetiaan dan ketulusannya dalam menerima Ipah yang mandul, ternyata telah berselingkuh dengan kakak perempuannya sendiri, di dalam rumahnya sendiri. Perselingkuhan yang menghasilkan seorang anak yang diasuhnya selama bertahun-tahun, tanpa tahu bahwa si Anak adalah anak dari suaminya sendiri.

Tragis dan menyentuh, itulah yang terasa saat di akhir pertunjukan. Marlena kembali ke jalan untuk meneruskan hidupnya sebagai padendang; Ipah dan Sari meninggalkan rumah gadang. Dalam lantunan dendang diiringi Saluang yang menyentuh dan sedih, Marlena dengan kata-katanya yang terbata namun lantang telah menerima jalan takdir yang diberikan kepadanya sebagai seorang padendang.

Berangkat dari tema yang sederhana tentang perempuan padendang di Minang, sutradara Tya Setiawaty mampu mengemas sebuah pertunjukan dan menampilkannya dengan sederhana, tetapi berkesan kuat. Permainan aktor yang pas dengan karakter masing-masing tokoh membuat pertunjukan ini terasa memikat. Meskipun Marlena berbicara dalam bahasa Minang, namun sepertinya tepat di sanalah  letak kekuatannya. Dialah yang menghadirkan latar budaya Minang dalam pertunjukan ini. Tak dipungkiri banyak juga penonton yang berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya, mencoba mencari tahu kata atau kalimat yang sulit untuk dikira-kira arti dan maksudnya. Meski tak seluruh percakapan dapat dimengerti, agaknya alur cerita dapat diterima dan dipahami oleh penonton. Kekuatan aktor dalam akting realisnya mampu membuat penonton malam itu betah menikmati pertunjukan hingga usai.

Tentang Teater SAKATA

Teater SAKATA didirikan pada tahun 2000 di Sumatera Barat atas inisiatif dari Dede Pramayoza, Enrico Alamo, Ipong Niaga, Saaduddin, dan Tya Setiawaty. Melalui potensi-potensi yang dimiliki, mereka mencoba melakukan penggalian dalam bentuk penyelidikan (experimentation) dan percobaan (trial and error) terhadap berbagai disiplin seni: musik, rupa, tari dan sastra, sambil berharap suatu saat menemukan bentuk pemanggungan yang efektif. Perjalanan yang cukup panjang tidak mengurangi komitmen Teater SAKATA untuk memberikan apresiasi dan workshop, khususnya bidang penyutradaraan, pemeranan, dan artistik. Mereka percaya bahwa teater adalah genre seni dan disiplin ilmu yang tidak bebas nilai; teater akan bergerak ekuivalen dengan dinamika masyarakat yang diyakini sebagai pusat pembelajaran yang paling ‘kaya’ dan membuka ruang yang seluas-luasnya untuk pembelajaran teater. Maka dari itu, Teater SAKATA akan terus mengelaborasi potensi-potensi dari kesenian lokal agar menemukan idiom-idiom pertunjukan baru yang universal.

Tiga Perempuan merupakan presentasi Teater SAKATA dalam event “Panggung Teater Perempuan se-Sumatera” di Bandar Lampung pada bulan April lalu. Tya Setiawaty sebagai sutradara perempuan berkesempatan unjuk karya bersama penulis naskah, Fia Suswati, mengangkat kisah seorang perempuan Padendang (bahasa Minangkabau: penyanyi) di Payakumbuh. Melalui karya yang juga dipentaskan keliling Sumatera-Jawa ini Teater SAKATA berharap dapat terus menggulirkan proses belajar, untuk mencari dan menemukan identitas Teater SAKATA ke depan. Demikian yang disampaikan oleh sang sutradara dalam diskusi seusai pementasan.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

*****

Tim Kerja Tiga Perempuan:

Sutradara Tya Setiawaty Penulis Naskah Fia Suswati Supervisor Edi Suisno Penata Musik R. Fetri Nengsih Pemusik Jhori Andela, Nengsih Penata Lampu Enrico Alamo Aktor Kristin Padmasari, Fani Dilasari, Tya Setiawaty Kru Bagus Wiguna, Agip R. Purwanto, Daniel Perlengkapan Gusnita Linda, Mila

Komentar Penonton:

“Yang paling berkesan buat aku sih peran si Ibu tua yang merokok dan bawaannya yang marah-marah terus di sepanjang pertunjukan itu (Marlena, red). Sebenarnya ekspresi marahnya, tekanan suara dan mimiknya cukup oke. Juga gayanya ketika merokok. Cuman, karena dia keseringan merokok (hisap-hembus) tanpa ditahan dalam-dalam atau gimana lah gitu ketika marah sekali, bikin aku tau kalau dia nggak bisa merokok. Itu aja sih, sayangnya. Hehehehe…” (Iwan Gondrong, 29 tahun, Pengelola Laki Bini Resto & Art Space)

“Bahasanya banyak yang aku nggak ngerti. Trus, ada idiom-idiom yang ditampilkan aktor yang aku nggak paham. Misalnya, waktu aktornya nyoba-nyoba baju itu aku pikir dia kayak model yang memeragakan kostum gitu… Eh, nggak taunya, kata temanku si aktor sedang berkaca. Hehehehe… Ending-nya kurang dramatis menurutku. Tapi aku suka banget sama tema-tema perempuan lokal yang diangkat itu.” (Nesia Putri Amarasthi, 22 tahun, FSB Retorika )