Oleh: Yuniawan Setyadi*

Awalnya, saya mendapat undangan lewat email dari Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) untuk menonton pertunjukan lawak gabungan pelawak dari Jogja, Surabaya, Papua, Bali, dan Semarang. Saya langsung tertarik untuk menonton dengan harapan bisa tertawa. Memang itu saja alasan saya untuk menonton, tertawa, bukan yang lainnya.

Malam itu, 29 Juli 2009, saya tiba di Padepokan Bagong Kussudiardja pukul 19.30, terlambat 30 menit dari waktu yang tertera dalam undangan. Suatu kebetulan bagi saya, ternyata acara mundur dan baru dimulai pukul delapan. Seperti biasa, MC membuka acara dengan sedikit pengantar: pertunjukan ini adalah presentasi peserta workshop lawak yang diselenggarakan oleh Yayasan Umar Kayam (YUK), Jojoncenter Dokumentasi Komedi Indonesia, dan YBK pada 27-29 Juni 2009. Satu hal yang menarik disampaikan MC adalah penyelenggara akan membagikan door prize berupa beberapa kaos untuk penonton jika pertunjukannya tidak lucu. “Sudah mulai ngangkat nih”, pikirku.

Pertunjukan pun dimulai. Seseorang (pelawak dari Papua) muncul, agak grogi sepertinya, membawa selembar kertas yang berisi pengumuman pendaftaran calon lurah. Ya, kisah yang ditawarkan dalam pentas ini adalah tentang pemilihan Lurah. Cukup kontekstual dengan kondisi politik di Indonesia saat itu, menjelang pemilu presiden. Menurut saya pertunjukan lawak memang sering mengangkat isu yang berkaitan dengan kondisi masyarakat yang up to date, sekitar politik. Cerita bermula dari kertas selebaran yang dibawa tadi. Isi selebaran itu memberi inspirasi bagi si pelawak dari Papua dan seorang temannya yang kebetulan juga tidak punya pekerjaan. Mereka ingin mendapatkan keuntungan dari selebaran itu. Informasi tersebut kemudian disebarkan ke seluruh desa, dan mendapat respon dari masyarakat yang ingin menjadi pemimpin. Masing-masing yakin akan menang.

Saat masa kampanye tiba, tiga calon lurah dikumpulkan untuk melakukan kampanye terbuka. Para calon lurah berpidato menyampaikan visi dan misi, juga menjawab pertanyaan dari panitia─mirip debat capres yang ada di tivi─dengan gayanya masing-masing. Karena ini adalah pertunjukan lawak, maka mereka berusaha sebisa mungkin agar lucu. Tapi, penonton masih sepi-sepi saja. Tiba-tiba, entah direncanakan atau tidak, seorang pelawak bintang tamu memotong adegan dan menyuruh semua pemain yang ada di atas panggung untuk istirahat, “wis leren wae, wis angel le arep ngangkatke meneh!” (sudah istirahat saja dulu, sulit untuk membuat lucu lagi!) Huahahaaa… Penonton pun tertawa terbahak-bahak.

Cerita diteruskan. Dua pelawak bintang tamu (Aldo Iwak Kebo dan Mbah Darmo) dari Jogja yang sudah cukup terkenal muncul, berperan sebagai Lurah dan ajudannya. Penampilan kedua pelawak ini dengan guyonan lokalnya bisa membuat penonton tertawa lepas. Lurah (mbah Darmo) berorasi sementara ajudannya (Aldo Iwak Kebo) men-dubbing dari belakang. Mereka saling mengejek dan menertawai satu sama lain sampai si Ajudan tertawa terpingkal-pingkal sendiri hingga tubuhnya yang super tambun itu bergulungan di atas panggung. Adegan ditutup dengan munculnya kembali seluruh pelawak ke atas panggung. Persoalan terjelaskan; sebetulnya di daerah itu sudah ada Lurah dan tidak ada pemilihan lurah baru. Selebaran yang beredar itu ternyata adalah selebaran pemilihan lurah di wilayah Papua sana─sudah kadaluwarsa pula, yang dimanfaatkan oleh dua tokoh penganggur tadi untuk mendapatkan keuntungan.

Secara keseluruhan, sebagai penonton, saya merasa pertunjukan itu kurang lucu. Pelawak peserta workshop kurang bisa memancing tawa penonton, berbeda dengan para pelawak bintang tamu yang lawakannya selalu berhasil menuai tawa. Di sini kelihatan bahwa bagaimanapun juga jam terbang berpengaruh pada kemampuan melawak. Pengalaman manggung adalah guru terbaik bagi pelawak. Oleh karena itu, dalam workshop─dan kuliah umum─yang diselenggarakan sebelum presentasi ini, para pelawak, praktisi, peneliti lawak berbagi ilmu, cara belajar, dan pengalamannya. Di antara mereka adalah Milko (pelawak) dan Eko Bebek (event organizer pertunjukan lawak).

Terlepas dari semua itu, saya tetap menikmati pertunjukan lawak malam itu, karena saya bisa menangkap proses belajar melawak di atas panggung. Dari pertunjukan macam inilah lawak­ akan berkembang. Kemampuan seorang pelawak akan semakin baik dengan memperbanyak jam terbang, dari panggung ke panggung. Dengan begitu maka tidak perlu ada kebimbangan dan pertanyaan “LAWAK INDONESIA MAU DIBAWA KE MANA?”

* Yuniawan Setyadi, anggota kelompok keroncong Irama Tongkol Teduh

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)