April 2008


Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Zero Matrik dan HP (Heart Poison) adalah dua judul pementasan teater yang dibawakan oleh kelompok Saturday Acting Club (SAC), pada tanggal 10 Desember 2007 di Kedai Kebun Forum (KKF) Jalan Tirtodipuran Yogyakarta. Pementasan yang masuk dalam program Grand Kedai Kebun Forum #1.

Pada repertoar pertama permainan aktor terlihat ramai di atas panggung. Menciptakan lintasan peristiwa yang silih berganti. Semula hanyalah seorang lelaki berwajah membosankan, duduk sendirian di sebuah kursi panjang. Seperti duduk di sebuah taman yang sepi. Diam, agak lama, tapi meminta perhatian. Kemudian satu-dua orang melintas, tak ada sepatah pun kata. Lalu semakin banyak langkah-langkah yang mengisi panggung pertunjukan. Membentuk ruang yang penuh prasangka, peristiwa, dan perjalanan yang sulit terbaca.

Lalu pada repertoar kedua, HP (Heart Poison). Repertoar yang berkisah tentang Hand Phone. Alat komunikasi yang sudah menjadi candu di era teknologi itu telah mempengaruhi cara pandang manusia akan kebutuhan pertemuan dengan manusia lain. Tanpa disadari sensitifitas manusia menurun. Hand Phone telah menempatkan manusia pada ruang kesendirian di tengah manusia yang lain.

Pementasan kedua repertoar tersebut menempatkan aktor sebagai pilar utama. Sehingga para aktor benar-benar bekerja keras dalam berakting, dan membangun relasi dengan elemen panggung yang lainnya seperti setting, property, dan lighting. Aktor dengan gerak dan bentuk tubuhnya yang tertata, seolah membuat ruang berbicara banyak hal tanpa harus berkata-kata.

Properti panggung yang tak begitu ramai, bukan semata  dekorasi yang diam. Tetapi terjadi pergerakan yang fungsional, seirama dengan tubuh aktor yang juga terus bergerak. Dalam repertoar HP misalnya, properti yang berbentuk kerangka pintu, sekaligus dapat menjadi setting yang menyatu dengan gerak aktor, juga menumbuhkan ruang-ruang dan mencipta suasana yang berbeda-beda,  yang dibangun oleh para aktor. Sedangkan dalam repertoar Zero Matrik, meskipun aktor nyaris tak bersuara, hanya mengandalkan gerak dan gestur tubuh, tapi terasa begitu ramai. Melahirkan suasana yang diam namun meresahkan.

Kedua repertoar tersebut terus mengalirkan ide-ide yang terwujud dalam koreografi gerak yang tertata. Sebuah peggarapan bentuk dengan imajinasi yang rajin disirami; imajinasi yang dibiarkan liar, yang kemudian diolah hingga membentuk  nilai artistiknya sendiri. Kedua repertoar itu telah memprovokasi para aktornya untuk terus menggali potensinya. Hanya sayangnya, ruang pertunjukannya kurang luas. Menyebabkan aktor terlihat menumpuk dalam beberapa adegan.

Rupanya kelompok yang mulai menyusun strategi untuk melangkah maju ini, telah mendapat sambutan dari penonton yang mulai mengikuti proses kreatifnya.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

*****


Kerabat Kerja

Sutradara: Rosa R Rosadi/ Asstrada: Ibe Darmadi, Rendra/ Penata Musik: Dadush Bogues/ Penata Artistik: Toto Khope dan Eko Sulkan/ Penata Lampu: Noegroho Pamungkas/ Pemain: Ucok, Cuwie, Iyak, Intan, Ratna, Joe, Wheni, Jamal, Siti, Eja, Nanik.

Komentar Penonton

“Mengesankan, apalagi yang reportoar ke dua kena banget. Tapi yang kedua terlalu banyak idiom-idiom, terlalu banyak gagasan. Jadi ya memusingkan.” (Mimi Silmiati, Perupa, 23 Tahun, tinggal di Jakarta)

“Bagus sih dari segi penyajiannya, kena banget apa yang dimaksudkan meskipun dengan kata-kata yang minimalis.” (Fendi, 23 Tahun, Mahasiswa ISI Fak Seni Rupa, semester akhir )

“Aku senang yang pertama, yang kedua ada beberapa adegan yang cocok untuk lukisan. Ada beberapa hal yang bombas!” (Rudy Wuryoko, 24 tahun, Mahasisiwa ISI, jurusan Grafis)

Aku nggak ngerti, maksudku visualnya nggak ngerti, tapi secara cerita saya tahu setelah baca sinopsis. Secara aktingnya nggak begitu dong! (Brekele, , 24 Tahun, Mahasiswa UMY jurusan HI, semester delapan)

“Asyik, Aku suka, aku enak aja gitu. Pokoknya Sip!” (Thendra, 27 Tahun, Penyair dan teaterawan muda)

“Waduh Medheni, pikiranku ra nyandak. Wis apik ngono wae. (aduh menakutkan, pikiranku nggak nyampai. Bagus gitu aja.) Saya senang, secara ide bagus, tapi penggarapannya kurang rapi, aktingnya kurang mantap. Soalnya sepertinya tuntutannya kerapian, semua diatur. Jadi…, Wah kalau ini lebih rapi, misalnya serempak, atau pas tidak serempak tapi memang ada motif, tapi tadi ada kecanggungan yang menghambat.

Lalu yang pertama itu, absurditas kediaman. Memang saya nggak tahu, beliaunya nggarap diam atau tidak. Saya menangkapnya tadi: diam yang digarap, lalu obyek atau motifnya kehidupan masyarakat…masyarakat apa itu namanya? Yang sekarang sudah ada mall, orang melarat juga jalan-jalan di mall (memberi gambaran). High class? Modern? atau masyarakat apa namanya itu?” (Untung Basuki, Teaterawan dari Bengkel Teater Rendra dan Musisi kelompok SABU)

Oleh:  Hindra Setya Rini*

Petang di Taman bercerita tentang orang-orang yang tidak saling mengenal, yang saling berusaha untuk berbicara satu sama lainnya. Seorang laki-laki tua dan lelaki setengah baya berdebat mengenai berbagai hal, keduanya tak pernah bersepakat dan tak mau mengalah. Lalu seorang wanita muda datang, ia  mencoba untuk menengahi perdebatan yang terjadi, namun gagal. Di akhir cerita, terungkap bahwa orang-orang di taman  tersebut sejatinya sedang lari dari kesepiannya masing-masing.

Naskah karya Iwan Simatupang ini digelar dalam rangka studi  pentas Teater Gadjah Mada yang diniatkan  untuk memberikan pengalaman perdana proses berteater bagi anak-anak baru yang bergabung di TGM. Selain Petang di Taman, tiga naskah lain juga digelar pada hari-hari berikutnya; Sayang Ada Orang Lain karya Utuy Tatang Sontani, Rami dan Cangkir Pecah adaptasi Landung Simatupang atas cerpen The Clod karya Lewis Bleach, dan Orang-orang Kasar saduran W.S. Rendra atas The Bear karya Anton Chekov.

Malam itu,  23 Januari 2008, di Hall Gelanggang UGM sudah dipenuhi penonton. Sekitar lima puluhan penonton memadati ruang dengan duduk lesehan. 19.30 WIB pertunjukan dibuka dengan gegap-gempita oleh seorang pesulap yang sangat komunikatif, ia melibatkan penonton dalam permainan sulapnya. Pesulap ini menjadi pembuka yang segar sebelum pementasan  dimulai. Ini menjadi strategi yang menarik karena penonton dapat digiring menjadi lebih dekat dan intim. Ia mampu membuat suasana menjadi hangat. Bahkan beberapa penonton aktif  menimpali dengan komentar yang membuat gerrr di setiap laku pesulap  tersebut.

Setting pertunjukan Petang di Taman terlihat minimalis. Pada bagian kanan  belakang  panggung terdapat sebuah bangku yang diduduki oleh sepasang remaja yang sedang asyik pacaran. Mereka  berada di sana sepanjang pertunjukan  berlangsung. Posisinya yang membelakangi penonton, membuat beberapa penonton berbisik menerka-nerka apa yang sedang mereka lakukan. Sementara itu, di bangku sebelah kiri panggung, aktor-aktor  yang lain sebagian besar mengucapkan dialog sehari-hari sambil melakukan gerakan akrobatik. Aksi tersebut tidak berhubungan dengan dialog atau kata-kata yang diucapkan oleh para aktor pada saat itu. Hal ini membuat permainan  aktor terkesan menjadi tidak wajar.

Melihat pementasan Petang di Taman ini, segera yang terlintas di kepala saya adalah pertunjukan  Kethoprak Lesung, Jaran Sungsang, Nyai  Ontosoroh, dan beberapa pertunjukan TGM lainnya yang  memang  mengandalkan gerak tubuh akrobatik. Sebelum saya sempat bertanya kepada ketua  TGM, Muhammad A.B, ternyata ia segera  lebih dulu menjelaskan  bahwa TGM tidak berkeinginan menjadikan anak-anak baru tersebut sama dalam gaya berakting. Kalaupun Petang di  Taman banyak gerak akrobatik, mungkin itu pengaruh dengan siapa mereka berlatih, tambahnya. Yang terpenting  adalah  bagaimana teman-teman baru di  TGM itu  mengalami peristiwanya terlebih dahulu—sebagai pentas pertama  mereka. Sebagai sebuah studi pentas, harapannya teman-teman yang senior maupun yang junior saling belajar dan berbagi  pengalaman, serta melakukan proses  bersama.

Terakhir, yang menarik selama studi pentas ini berlangsung, adalah para penonton  yang  terus memadati  ruang pertunjukan selama empat hari berturut-turut. Padahal selama empat hari itu cuaca selalu tidak cerah. Sebagian besar penonton  yang saya temui  merasa senang  dan menikmati pementasan tersebut. Hal itu lebih dikarenakan suasana yang terbangun cukup hangat dan intim selama  pertunjukan.

Pementasan perdana bagi para aktor pemula tersebut, mengingatkan beberapa penonton —yang pernah bermain teater— tentang pengalaman mereka sendiri.  Romantika pengalaman pentas pertama; grogi ketika berakting, kesalahan teknis atau hapalan  yang kacau, melakukan sesuatu yang tidak perlu, lepas  kontrol, vokal kurang keras, dan lain-lain. Namun, justru  hal itulah yang membuat sebagian  besar penonton tetap betah menonton. Karena peristiwa yang terjadi —kesalahan yang  kadang  menjadi terlihat lucu— itu jujur.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

*****


Pemain Petang di Taman:

Lelaki Setengah Baya: Muhammad Rasyid Ridlo/ Orang Tua: Rifky Riza Fanani/ Wanita Muda: Kartika Putri Hestiyasari/Penjual Balon: Ahmad Rosyid Farhani/ Pasangan Kekasih: Yan Nugrah & Eli Arnitawati

Komentar  Penonton:

“Aku nonton semuanya. Yang paling kusuka Sayang Ada Orang Lain. Secara keseluruhan, keempat pementasan  ini, aku ngeliat mereka menikmati proses mereka, meski ya  beberapa kekurangan masih banyak. Yang  terasa banget   tuh  vokal yang kurang keras. Mungkin ditambah penonton yang banyak juga. Oh ya, aku suka respon penontonnya. Kayak nonton apa, gitu. Apalagi kalau ada kalimat cinta-cintaannya. Penonton yang bisa komentar bareng.” (Desi, usia 24 tahun, asli Madiun)

“Sebagai pemula, mereka sangat potensial. Harapannya bisa terus maju ya, tiga atau empat tahun lagi jika dilatih dengan sungguh-sungguh. Bisa tercipta manusia-manusia yang utuh seperti yang dicita-citakan Universitas Gadjah Mada. Karena sekarang  Gadjah Mada  kehilangan ruh kebudayaannya. Semoga TGM menembus kancah perteateran nasional.” (Prof. dr. Sutaryo, 59 tahun, Ketua Senat Akademik UGM)

>>Sebuah wawancara dengan sutradara, beserta tim yang terlibat dalam pementasan Sampek Engtay, produksi ke-13 Teater Koin, yang dipentaskan pada tanggal 8-9 Maret 2008.

Oleh: Hindra Setya Rini*

Selasa malam, kira-kira pukul 21:00 WIB. Tepatnya tanggal 11 Maret 2008, saya bersama rekan kerja saya di skAnA, Andy SW, menyusuri jalanan kota Jogja yang masih basah oleh hujan untuk bercengkerama dengan teman-teman dari Fak. Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Mereka yang bergabung dalam komunitas teater kampus: Teater Koin.

Kami tersesat, sebelum pada akhirnya kami menemukan tempat Teater Koin berada. Ketua Teater Koin, Hesti, beserta para aktor dan tim yang terlibat dalam produksi ke 13 Sampek Engtay, telah menunggu kami. Masing-masing dari kami saling memperkenalkan diri. Namun, belum lagi kami memulai percakapan, sirine tanda kampus akan segera ditutup berdering nyaring. Tanda bahwa seluruh aktivitas yang masih berlangsung di kampus harus berhenti dan mahasiswa-mahasiswi dipersilakan pulang. Dengan demikian, kami memutuskan pindah ke sebuah warung, tempat biasanya anak Koin ngumpul. Namanya warung Roops. Di warung itulah kami ngobrol bersama hingga tengah malam beranjak undur.

Malam teman-teman, enaknya kita kenalan lagi ya? Haha…

Hesti: Haha… Iya. Tadi belum kenalan semua kok… (Kami duduk lesehan melingkar dan menjadi agak rapat.)

Semua yang ada di sini terlibat pentas Sampek Engtay, kan?

Teater Koin: Iya, dong… (Mereka menjawab kompak.)

Bimo: Tapi macem-macem. Nggak hanya aktor sama sutradara aja yang ada sekarang. Ada yang main musiknya, kostum, lighting, trus penata artistik juga ada nih. Hehe…

(Hesti memperkenalkan teman-teman yang lain.)

Sebelum ngomong-ngomong tentang Sampek Engtay, bisa cerita sejarah berdirinya Teater Koin dulu, ya…

Bimo: Ya, bisa-bisa. Teater Koin itu berdiri sejak tahun 1999. Jadi sekarang sudah delapan tahun umurnya.

Hesti: Ya, nanti bulan Juni, tepatnya tanggal 4, Teater Koin ulang tahun yang ke sembilan.

Awal terbentuknya gimana?

Hesti: Nah, Mas Bimo ini yang pernah jadi ketua Teater Koin, pasti tahu banyak cerita tentang yang dulu-dulu… Iya kan, Mas? Hehe…

Bimo: Emh, ya dulu sempet jadi ketua tahun 2004-2006. Dulu itu, awalnya dari Lembaga Ekskutif Mahasiswa (LEM) yang kepingin membentuk teater. Tapi lama-lama ya kita jadi seperti sekarang ini. Koin sendiri nggak punya arti yang khusus sih, awalnya. Dulu kan sempet mau pakai nama Teater Tangga karena kami sering nongkrong di tangga. Tapi nggak jadi karena di UMY sudah ada Teater Tangga. Lalu, Teater Paku. Itu juga nggak jadi karena anak-anak pada merasa nggak cocok dengan nama itu. Terakhir ya kemudian pada usul koin. Ya sudah, semua sepakat untuk pakai nama Teater Koin. Tapi kalau dipikir-pikir saat ini, kalau mau dicari-cari artinya apa, ya koin itu punya dua sisi. Ada hitam dan putih, baik dan jelek. Tapi itu Koin yang dulu…

Maksudnya Koin yang dulu?

Bimo: Oh, ya maksudnya nama koin itu duluan yang muncul. Filosofinya menyusul belakangan…haha. (Teman-teman yang lain juga tertawa).

Koin itu merupakan salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)?

Hesti: Iya, UKM. Tapi, kami lebih senang menyebutnya komunitas karena kebersamaannya lebih dapet kalau komunitas.

Bimo: Dan juga kami sering nggak sependapat dengan kebijakan-kebijakan kampus.

Teman-teman, dulu awalnya tertarik masuk Teater Koin, gimana sih?

Gilang (pemeran Ji Sim): Wah, dulu saya terpaksa…haha (Kontan teman-teman yang lain saling meledek.)

Rere (pemeran Engtay): Kalau aku, aku tuh terhipnotis dan tau-tau aku udah di depan sanggar Teater Koin, Mas.

Broto (pemeran Sampek): Aku sih, Koin  itu awalnya kukira komunitas bahasa Inggris, hehe… Ternyata komunitas teater. (Teman-teman langsung tertawa heboh)

Herdy (pemusik): Hm, jujur karena pacarku dulu anak teater sih. Lha, aku jujur tho

Bimo: Wah, aku juga jujur ah.

Hesti:  Apa, coba?

Bimo: Weh, dulu tuh aku benci teater awalnya. Menurutku orangnya katrok-katrok. Trus, sampai temenku dari Teater Koin zaman dulu, ngajak aku ngumpul dan nongkrong-nongkrong di sana.  Awalnya main musik, trus kegiatan yang lain lagi, ikut  proses, eh lama-lama keterusan. Asyik  sih karena waktu itu isunya kita bisa lepas dari FE. Hahaha.

Kesan-kesan selama berproses di Koin, apa saja sih yang temen-teman  rasakan?

Temen-teman Koin menjawab bersahutan: Plong! Menggairahkan! What’s the next?! Seneng, banyak have fun-nya! Sering cinlok! Punya banyak temen dan tambah  pengalaman..!

Oh ya, apakah pentas Sampek Engtay itu dalam rangka regenerasi angkatan baru yang masuk teater di kampus?

Bimo: Nggak lah. Teater Koin nggak ada acara kayak penyambutan anak baru gitu. Anak baru, anak lama main semua di sini. Asal dia aktif saja ya ikut main. Ini produksi Teater Koin yang ke 13, dan nggak dimaksudkan dalam rangka regenerasi itu.

Kenapa memilih mementaskan Sampek Engtay, Mas?

Bimo: Haha… Ini berangkat dari realitasnya anak-anak Koin sendiri. Di sini tuh banyak kisah-kisah cintanya. Aktor sama aktor, sutradara sama aktor, ya macem-macem lah. (Teman-teman yang lain menimpali dengan seru, bahwa mereka sering cinlok.)

Bimo: Nah, Navi itu juga pasti tau awalnya kenapa memilih Sampek Engtay. Aku sih orang  yang  ngelanjutin sebagai sutradara kok. Jadi, sutradara awalnya itu bukan aku. Gimana, Nav?

Navi: Kenapa Sampek Engtay? Ehm.. Sebelum ini kan Koin sudah memainkan tiga naskah opera karya Nano Riantiarno. Yaitu, opera Primadona, opera Ikan Asin, opera Primadona dipentaskan lagi, trus yang terakhir Bom Waktu. Lalu muncul ide nyari  naskah opera Nano lagi tapi yang kepinginnya lebih bagus. Yang menjual,  segar, laku. Kemudian ketemulah Sampek Engtay. Meskipun tahu bahwa urusan kostum adalah yang paling berat dibandingkan dengan naskah-naskah Nano yang lain, kami tetap memilihnya. Kaitannya dengan kostum Cina yang mahal-mahal itu, kalau nggak nyewa ya kami bikin sendiri, tapi tetap saja mahal. Pada dasarnya Koin sendiri terbiasa dengan opera. Jadi, Sampek Engtay itulah kami anggap opera yang relatif enak untuk dimainkan.

Teater Koin sepertinya gemar mementaskan naskah Nano…

Navi: Oh, ya jelas. Kami penggemar setia Nano Riantiarno. Tapi, kami punya tafsir dan interpretasi sendiri atas naskah-naskah opera yang kami mainkan…

Bisa cerita proses penggarapannya? Baik di musik, kostum, dan artistik…

Navi: Mm… Oh ya, sejak awal kami nggak mengadaptasi naskah itu, kami membiarkan naskah itu bergulir dan mengalir begitu saja. Bahkan sampai soal bahasa pun kami nggak menambahi sedikit pun. Misalnya kata “haaiyaa..”  yang  biasanya kita dengar ketika orang ingin meniru orang Cina ngomong, itu tidak kami gunakan. Kami hanya membuat suasana “Cina” nya itu aja. Misalnya, dengan membuat suasana, atau kesan “Cina” yang dapat ditampilkan lewat musik, artistik, dan kostum.

Antok (asisten penata artistik): Ya kemarin itu sempat pasang-rombak. Pertama coba dipasang di atas panggung ternyata nggak cocok. Ubah lagi, trus pasang lagi. Biar kelihatan megah, kami coba memainkan lampu yang colourful. Jreng! Warna merah yang dominan dan warna-warni yang terang. Untuk referensi artistiknya kami tinggal ‘klik’ aja di internet. Hehe, gampang…

Teman-teman yang lain: Iya, Google kan bisa mengatasi segalanya…

Herdy (musisi): Kalau di musiknya, kemarin itu bikin sendiri yang kira-kira mendekati suasana Cina. Kalau harus mirip musik Cina ya nggak mungkin, susah dan alatnya juga ribet. Jadi kami mengira-ira aja musik dan lagunya itu kalau dinyanyikan seperti apa, lalu jadilah komposisi dan lagu-lagu yang dilantunkan seperti di Sampek Engtay itu.

David (asisten kostum): Soal kostum, karena terbatas dana, sebagian besar kostumnya bikin sendiri. Tapi ada juga yang nyewa. Bikin kostum yang kira-kira ada bau Cina-nya. Hehe, nyari di tempat ekspor-impor nggak ada sih.

Hesti: Awul-awul maksudnya, hahaha… (Awul-awul istilah yang dikenal di  Jogja sebagai tempat penjualan pakaian bekas)

Dalam Sampek Engtay, aktor-aktornya itu harus bisa nyanyi?

Rere: Wah,  enggak. Aku  otodidak kok…

Broto: Enggak, modal nekat aja, hehe…

Navi: Di sini asal mau aja ya semua bisalah. Belajarnya sambil jalan.

Bimo: Kita itu modal berani aja kok. Gimana-gimananya nanti aja. Nekat. Sikaat aja!

Kalau menurut Pak Sutradara, gimana proses ini berlangsung?

Bimo: Beberapa kali kami latihan, tempatnya berpindah-pindah. Kadang latihan di alam bebas. Buat ngilangin rasa yang kadang bikin males-malesan itu. Kalau lagi nggak mood. Terlebih teman-teman itu diajak seneng-seneng aja susah, apalagi diajak latihan. Jadi aku mesti nyari cara untuk tetap menjaga gimana proses ini bisa berjalan terus. Metode-metode yang aku berikan untuk para aktor, kadang aku juga nggak tahu asalnya dari mana, ikut intuisiku aja sambil terus melihat situasi yang berlangsung pada saat itu.

Mm… Karena Koin itu berproses hampir bisa dikatakan tanpa jeda selama setahun ini. Jadi, selama proses Sampek Engtay, aku merasa ada kejenuhan. Kami semua merasa bosen, jenuh, dan capek. Aku pribadi, sebagai sutradara belajar lebih sabar dan tenang untuk menjaga semangat teman-teman yang lain selama proses. Karena pada dasarnya aku emosian! Haha…

Teman-teman yang lain: Jadwal pacaran juga jadi kacau deh, pokoknya! Hahaha…

Harapan  temen-teman Koin  ke depan?

Rere:  Koin  terus eksis dan maju. (yang kemudian disepakati  dengan  teman yang lain)

Bimo: Regenerasi terus  jalan. Inginnya setelah  aku, ada anak-anak baru  yang lain yang megang Koin. Entah sutradara, atau yang  lain…

Ada keinginan Teater Koin independen?

Navi: Kalau  independen  lepas dari kampus? Enggak  sih, meski  pernah berpikir ke arah sana. Karena kami ngerasa teater belum bisa menghidupi kami sampai saat ini. Ehm,  independen untuk terus bikin karya  yang enggak  manut sama  kebijakan dan keinginan kampus,  itu iya.

Oke, deh. Seru ya! Ngomong-ngomong, bisa katakan dengan singkat Koin itu apa?

Koin itu GS! Yaitu: Gampaang dan Santaiii…!!! (Jawaban yang serempak dan kompak! Sukses buat Teater Koin, semangat!)

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

*****

Sedikit info tentang Sampek Engtay

Sampek Engtay karya Nano Riantiarno diramu dari sekitar 12 versi dan disadur ke dalam suasana Banten serta Batavia awal abad ke-20. Pertama kali dipentaskan Teater Koma di Gedung Kesenian Jakarta, Agustus 1988, selama 18 hari. Sebelum pentas perdana, penulis sempat diintrogasi BAKIN (Badan Intelejen). Saat itu huruf Cina, Tari Naga dan Barongsai dilarang diperagakan di muka umum. Dan pada Mei 1989, Sampek Engtay dilarang naik pentas di Medan.

Lakon Sampek Engtay digelar di Jakarta, Surabaya, Semarang, Singapura (dalam bahasa Inggris), Bandung, Batam, Yogyakarta. Seluruhnya berjumlah 81 hari pementasan. Akhirnya pada Mei 2002, setelah menunggu 13 tahun, Sampek Engtay diizinkan dipentaskan kembali di Medan.

” Mungkin aku lahir terlalu cepat, ” keluh Engtay. Inilah kisah cinta yang tetap diminati hingga kini. Perjuangan perempuan meraih hak memperoleh pendidikan yang sama dengan kaum lelaki berbenturan dengan kekuasaan tak terbantahkan dari orang tua.

Sampek Engtay Teater Koin

Sampek Engtay produksi Teater Koin, 8-9 Maret 2008

Pimpinan Produksi: Yhaya/ Sutradara: Bimoaji Sekar Wibowo, SE/ Assisten Sutradara: Gilang”Broto” & Andhika/ Make Up&Kostum: David & Lala/ Setting&Lighting: Falaq&Fauzan/ Koreografer: Qolbi

Para Pemain:
Diman, Wahdani S., Gilang “Broto”, Hesti, Gilang, Rere, Gilang “PO”, Novie, Pandit, Reza, Anto, Cipto, Anang, Fariz, Chu, Kiki, Imron, Sinyo, Taufik.

Musik:
Dimas, Herdy, Didit, Puput, Bim-Bim, Edo, Djunaidi, Lano, Dika

Oleh: Tingkir Adi Susanto

Sebelum memasuki ruang panggung pertunjukan, tepat di tengah Lobby gedung pertunjukan, beberapa dupa terlihat masih menyala, dan dengan angkuhnya bercokol di antara kelopak-kelopak bunga mawar yang bertebaran. Harum dan dingin terpaut menjadi satu dalam temaramnya suasana. Suasana yang membuat sedih, sedih terhadap keberingasan kita sebagai manusia yang tak pernah cukup dengan apa yang sudah kita miliki. Terus dan terus mencari keuntungan terhadap apa yang telah, sedang, atau yang mungkin akan terjadi.

Malam itu, Jumat, tanggal 29 Febuari 2008 pukul:19.30. WIB. Keluarga Rapat Sebuah Teater dalam naungan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, menggelar pertunjukan teater berjudul Nyonya-Nyonya karya Wisran Hadi di gedung Sosietet Militer Taman Budaya Yogyakarta. Pementasan berdurasi hampir 120 menit ini di sutradarai oleh Andhika Anggawira S.Psi, dengan aktor berjumlah 6 orang.

Pertunjukan ini bercerita tentang seorang pedagang barang antik (Eugenius Aldi) yang mengharapkan seorang Nyonya (Indah Yuniarti) untuk menjadi miliknya. Sang Pedagang menggunakan berbagai cara yang halus namun penuh dengan kelicikan. Satu persatu barang sang Nyonya dibeli oleh sang Pedagang. Lama kelamaan sang Nyonya jengkel terhadap perilaku tersebut, tetapi di lain sisi ia juga tergiur pada tawaran sang Pedagang. Sayangnya sang Nyonya tidak bisa menikmati uang yang ia dapatkan, karena ia selalu ditekan oleh ketiga keponakannya (Fransisca, Olla Apnoza, Yova Yolanda) yang selalu meminta bagian darinya. Dan yang lebih tragis lagi, istri (Ratih Pertiwi) sang Pedagang pun semakin memperkeruh masalah yang ada.

Salah satu adegan dalam "Nyonya-nyonya" KRST

Malam itu penonton cukup membludak, bahkan tidak sedikit penonton yang tidak mendapat tempat duduk. Serombongan penonton terpaksa duduk lesehan di depan panggung. Meski beberapa waktu kemudian serombongan penonton itu pergi meninggalkan tempat duduknya.

Suasana pertunjukan di atas panggung merupakan suatu kolaborasi akting, set artistik, dan musik yang saling mendukung, sehingga membentuk sebuah alur cerita yang terbaca. Tata letak properti bukan sekadar memenuhi sudut ruang, akan tetapi lebih menitik beratkan pada perhitungan dan penyiasatan untuk menciptakan karakter suatu ruang. Panggung diubah menjadi beberapa bagian, yaitu: teras, ruang tamu, dan kamar tidur lengkap dengan meja make up-nya, yang menggambarkan sebuah ruangan rumah keluarga kaya. Tatanan ruang tersebut mampu melukiskan cerita seputar perjalanan kehidupan manusia. Seakan ingin bercerita  tentang  persoalan-persoalan umum yang selalu menggumuli setiap gerak langkah manusia, baik secara sadar maupun tidak sadar di dalam dunianya. Tak heran jika dari awal sampai akhir  pertunjukan mampu menggugah emosi dan psikologi penonton yang melihat pementasan tersebut. Sorot lampu juga mampu membantu menambah karakter dari beberapa set properti yang ada di atas panggung, yang membuat susana semakin hidup.

Sementara, gerak dan gestur tubuh aktor terlihat masih kurang dalam penguasaan panggung. Hal itu bisa terlihat dari beberapa aktor yang kerap berada di satu titik permainan, yang menyebabkan kurangnya mobilatas gerak dan bloking. Tetapi para aktor berusaha semaksimal mungkin membangun suasana lewat kekuatan akting dan dialog mereka, meski  tak jarang ada beberapa permainan yang terasa datar. Indah Yuniarti pemeran Nyonya, dalam pementasan ini tampak berusaha memaksimalkan aktingnya yang berkarakter. Hal itu cukup dapat membantu menutupi kekosongan aktor lain di dalam pementasan ini.

Malam itu Keluarga Rapat Sebuah Teater telah berhasil mementaskan karya Wisran Hadi “Nyonya-Nyonya”. Karya yang pernah menyabet juara dua dalam lomba penulisan naskah drama Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003.

Setelah pertunjukan itu, baru kusadari, sejak semula aku memasuki Lobby gedung pertunjukan; Nyonya-Nyonya itu memang meminta perhatian.

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)


Kerabat kerja:

Sutradara: Andhika Anggawira S.Psi/ Asstrada: Hendi Kukuh Baskoro/Setting dan Lighting: Frans B. Pontoh, Ginanjar Rachman/Kostum dan Make Up : M.B.K Kumala Laras/Musik: Arswendi Darma Putra/Aktor: Indah Yuniarti, Eugenius Aldi, Ratih Pertiwi, Fransisca, Olla Apnoza, Yova Yolanda.

Komentar Penonton

“Dialognya terlalu bertele-tele, bagi orang awam, ceritanya membosankan. Suasana ruang dan musiknya monoton. Untuk penjiwaan karakternya sudah bagus, tapi sedikit masih kaku.” (Hambar Riyadi, 21 Tahun, Menejer Bengkel Mime Teater)

“Pentasnya bikin ngantuk, Mas.” (Ardi, 21 Tahun, Penikmat seni)

“Suara timbul tenggelam, jadi nggak gitu jelas tokohnya ngomong apa. Karakter nyonyanya udah dapet, tapi yang lain belum. Settingnya masih belum maksimal. Padahal udah bagus banget penataannya.” (Desi Puspitasari, 20 Tahun, Mahasiswi Fak Pertanian, Noveliswati)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

“Apakah mereka tahu apa yang mereka benci?! Apakah perbuatan mereka lebih beradab dari apa yang mereka tuduhkan padaku?!”

Shodiq, pemuda gagah nan tampan itu berteriak, ia  memberontak meski akhirnya mati di tengah amukan massa yang menghajarnya. Shodiq hanyalah pemuda desa yang ingin melestarikan budaya leluhurnya: kesenian Jaran Kepang. Seni tari tradisional yang berkembang di daerah Ponorogo Jawa Timur. Tarian yang menarik dilihat karena gerakan yang  melenggak-lenggok di atas jaran kepang. Hingga lenggokan itu menginspirasi dan menjadi sebuah judul pertunjukan teater Lenggok. Produksi Teater Retorika Fakultas Filsafat UGM, dipentaskan di gedung Societed Militer Taman Budaya Yogyakarta, pada hari kamis tanggal 14 Februari 2008. Disutradarai oleh Topeng Zukma.

Pertunjukan dikemas dalam bentuk ketoprak lesung, yang dipadukan dengan iringan musik band. Panggung berlatar set artistik yang terkesan abstrak; kain-kain putih tersampir pada instalasi dari kawat warna silver. Setting panggung terlihat sederhana; berupa warung kecil yang berdampingan dengan dua buah lesung. Di  warung kecil itulah, tempat bertemunya orang-orang yang menggulirkan dialog dan alur cerita. Awalnya hanyalah peristiwa sehari-hari yang penuh gosip, isu, ejekan, sindiran, dan pertengkaran kecil, hingga menjurus pada peristiwa serius yang membentuk titik konflik. Sementara, teknik permainan para aktor di atas panggung masih terlihat lemah dalam beberapa hal. Dialog dan akting terasa datar dan tak saling mendukung, juga gestur tubuh masih kurang mendekati karakter tokoh yang dimainkan. Hanya tokoh Shodiq (Sukma Rengga) dan Mbah Genjik (Iswi Benyamin) yang berhasil membangun dinamika permainan dengan kemampuan aktingnya. Sementara itu, lesung yang menjadi ikon pertunjukan sangat jarang difungsikan, hanya tampak seperti dekorasi panggung saja.

Bondan Nusantara, Tokoh ketoprak Yogya, dalam komentarnya mengatakan, “Nah, untuk kedepannya perlu dipikirkan lagi tentang harmoni, seperti musik dan penguasaan ruang”. Seperti yang dikatakan Bondan Nusantara, musik yang berkeinginan membangun dramatika permainan itu, kadang malah memotong dramatika permainan itu sendiri. Hal itu dikarenakan lemahnya titik sambung yang membangun  tangga dramatik.

Di lain sisi, tema cerita yang diusung Teater Retorika sangatlah menggigit. Perihal tragedi yang terus menghantu dalam ingatan masyarakat. Tragedi enam lima yang berdarah: terbunuh dan tersingkirnya orang-orang (yang dituduh) komunis. Para korban itu mendapat stigma atau cap buruk yang melekat sampai ke anak cucunya di tengah masyarakat.

Dalam cerita Lenggok, stigma tersebut terus melekat dalam kehidupan Shodiq, Wulan dan Ratih. Tetapi tiga bersaudara itu mempunyai pandangan yang berbeda dalam menyikapi sejarah orang tuanya (Cak Sarpan dan Ning Ri’ah), yang menjadi tertuduh sebagai penggiat LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Shodiq bersikeras untuk tetap memperjuangkan semangat orang tuanya dalam berkesenian, Wulan memilih diam, menerimanya sebagai nasib. Sementara Ratih justru menggugat “dosa turunan” dari orang tuanya. Konflik pun terjadi, hingga Shodiq memutuskan pergi dari rumah.

Di tempat barunya, Shodiq berhasil menjadi pengajar tari untuk anak-anak kecil. Namun akhirnya waktu telah menguak rahasia “dosa turunan” yang melekatinya. Para elit masyarakat pun terusik. Shodiq mulai dicurigai sebagai penghasut.

Pada akhir cerita, kedua saudara perempuan Shodiq sudah mulai menerima sikap Shodiq dan berusaha mencarinya. Tapi naas, mereka bertemu saat Shodiq sekarat merenggang nyawa.

Lantas bagaimana nasib seni tradisi yang diperjuangkan Shodiq? Tari Jaran Kepang yang melenggak lenggok itu, mungkin akan bernasib sama dengan Shodiq.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)


Tim Kerja Pertunjukan:

Pimpro:  Jovanka Edwina/Sutradara:  Topenk Zuqma/Asstrada:  Dande N. Ardian/Artistik:  Tunjung, Moka/Stage Manager:  Asma Rumaisa/Lighting:  Jammie, Dani Suhada/Kostum:  Dewi Saraswati/Musik:  Sunday Morning/Pemain: Sukma Rengga, Tresna Puspitasari, Anneke A. Sihombing, Nesia Putri, Suluh Pamudji, Sugeng Riyadi, Iswi Benyamin, Ayu Fitria Yunita, Hafitz Maulana.

Komentar penonton:

“Masih banyak kendala teknis seperti akting, bloking, ekspresi dan movement. Tapi itu hal biasa, yang ingin saya tanggapi persoalan ide atau gagasan; ada upaya terobosan cerita yang berbeda. Biasanya banyak cerita yang di atas angin, apalagi anak-anak filsafat. Tapi dalam cerita ini persoalan menjadi cair dan kongkrit. Saya salut. Nah, untuk kedepannya perlu dipikirkan lagi tentang harmoni, seperti musik dan penguasaan ruang. Satu hal lagi, adanya kekuatan potensi yaitu plural, karena pemainnya dari banyak daerah. Jadi bahasanya tidak lu gue!” (Bondan Nusantara, Sutradara Ketoprak, 56 Tahun)

“Kurang tergarap, isunya lama. Menarik sih tapi ya itu tadi: kurang tergarap.” (Ficky Tri Sanjaya. Aktor Bengkel Mime Teater, 20 tahun)

“Bagus, hidup dan nggak kaku.” (Ibu Sihombing, Ibu rumah tangga, 40-an tahun)

“Sip! Musik harus dibenahi, gesture dan postur perlu diperdalam lagi. Dan sadar ruang.” (Panca, Mahasiswa filsafat UGM, pecinta seni, 23 tahun)

“Mudah dimengerti, sosialis banget.” (Hafis,  Mahasiswa komunikasi UMY, Semester 4, 20 tahun)

Oleh:  Wahyu Novianto*

Tahun 1983, ketika saya baru berumur satu tahun, Teater Gandrik berdiri. Dua puluh lima tahun sudah Teater Gandrik menghiasi panggung teater Indonesia. Selama itu pula Teater Gandrik telah mampu menyajikan spirit teater tradisi dengan gaya teater modern. Warna lokal budaya Jawa pada Teater Gandrik demikian kuat melekat di setiap pementasan yang digarapnya. Kemudian banyak kritikus mengatakan bahwa Teater Gandrik menggunakan pola estetika sampakan seperti pada gaya pertunjukan-pertunjukan ketoprak. Konsistensi terhadap bentuk dan gaya ucap itulah yang menjadikan Teater Gandrik pantas untuk dicatat dalam sejarah teater modern di Indonesia.

Dalam proses penggarapan naskah Sidang Susila karya Ayu Utami dan Agus Noor kali ini, saya sangat tidak menyangka bisa terlibat di dalamnya. Sebuah kebahagiaan yang luar biasa ketika saya bisa masuk dan melebur ke dalam kehidupan Gandrik. Suatu kehidupan baru dalam pengalaman saya berteater. Saya merasakan seperti berada di dalam tengah-tengah pasar, angkringan, atau pos ronda. Semua bebas untuk berkelakar menanggapi berbagai hal yang muncul seketika. Dimana batas-batas individual dikaburkan.

Tentu saja hal tersebut menjadi peristiwa asing bagi saya, karena proses teater yang biasa saya lakukan adalah dengan pola-pola akademis yang sistematis dan terencana. Terlebih lagi terbentang jarak emosional yang jauh antara pemain Gandrik tua dan muda. Hal tersebut kadang membuat saya dan teman-teman Gandrik muda belum bisa ikut berkelakar, gojek, bahkan pisuh-pisuhan secara bebas. Namun berkat Mas Butet yang selalu mengajak kita untuk melebur menjadi bagian dari setiap peristiwa kekonyolan-kekonyolan yang terjadi, baik saat latihan berlangsung maupun di luar latihan, jarak tersebut sedikit terkikis.

Teater Gandrik menyikapi bahwa latihan tidak sebatas saat reading ataupun penggarapan bloking. Namun, relasi pergaulan antar pemain di luar latihan pun merupakan sebuah proses berlatih. Relasi-relasi yang penuh tawa tersebut yang kemudian akan membentuk kegairahan bermain, sehingga setiap aksi ataupun ucapan dapat dilakukan secara ikhlas dan happy. Sikap ikhlas dan happy itulah yang menjadi kata kunci dalam setiap proses latihan. Hal tersebut membuat setiap latihan yang dilakukan tidak menjadi beban. Begitu sudah tidak menjadi beban, maka tubuh akan dengan ikhlas bermain dan dengan mudah mencapai berbagai capaian artistik.

Gaya celengekan dan saling mengejek dalam pergaulan sehari-hari itulah, yang kemudian berimbas besar ke dalam setiap pertunjukan teater yang digarap Teater Gandrik. Oleh karena itu, baik saat pertunjukan maupun latihan atmosfernya tidak jauh berbeda. Hal tersebut yang kemudian membuat seorang aktor sangat bebas untuk bermain-main. Veven Sp. Wardana mengistilahkannya dengan “bermain-main sebagai”, yakni aktor selalu keluar masuk peran yang dibawakannya. Membangun sebuah konstruksi dramatik yang kemudian dihancurkanya sendiri. Dalam disiplin teater, hal tersebut biasa disebut dengan gaya Brechtian. Tidak menciptakan jarak antara panggung dan penonton, juga menyadarkan penonton bahwa peristiwa di panggung bukanlah realitas yang sebenarnya. Hal tersebut mendorong penonton untuk bersikap kritis untuk menyikapi antara realitas panggung dengan realitas yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.

Teater Gandrik dalam "Sidang Susila"

Proses penggarapan naskah Sidang Susila ini merupakan proses pertama bagi saya bermain tanpa seorang sutradara. Proses yang saya jalani biasanya menempatkan seorang sutradara sebagai seorang pemimpin yang mengawal proses penciptaan artistik. Sutradara pada umumnya mempunyai grand design artistik yang akan dicapainya, dan hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan satu kepala. Konsep penyutradaraan menjadi dasar pijakan kerjasama antara sutradara, pemain, penata setting, dan seluruh tim yang terlibat di dalamnya untuk mencipta.

Dalam kasus penggarapan Sidang Susila, peran seorang sutradara digarap secara rame-rame. Semua orang yang berada di dalam lingkaran tersebut berhak dan wajib untuk urun rembug dalam proses penciptaan. Bahkan setiap orang yang menunggu dan melihat proses latihannya pun diminta tanggapannya. Semua yang terlibat di dalam proses adalah seorang kreator yang bertanggung jawab dan berhak mencipta pada wilayah artistiknya masing-masing. Dalam proses penggarapan  Sidang Susila, posisi yang mendekati peran seorang sutradara adalah koordinator artistik (Butet Kartaredjasa), dan tugasnya pun tidak lebih dari menganyam berbagai ide atau gagasan yang seliweran bahkan bertabrakan selama proses penciptaan berlangsung.

Setiap orang (pemain, pemusik, penata setting) dibebaskan untuk menafsir ke dalam berbagai bentuk bahasa ungkap. Semua hasil perolehan tersebut harus dipresentasikan atau diujikan pada saat latihan berlangsung. Kemudian yang lain diwajibkan untuk mengamati dan menilai hasil presentasi. Setelah itu didiskusikan bersama untuk menjalin kesepakatan-kesepakatan. Tidak menutup kemungkinan apa yang didapat hari ini, akan dipertanyakan kembali atau bahkan ditentang oleh sesama kreator. Setiap hari gagasan terus tumbuh dinamis dan segar.

* Wahyu Novianto, aktor muda Teater Gandrik, tinggal di Yogyakarta.

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

Oleh: Muhammad A.B*

Enam kursi lipat ditata tidak beraturan di dalam panggung, enam orang duduk di atasnya dengan pakaian seperti yang dikenakan pasien di rumah sakit. Keenamnya menunjukkan gejala-gejala tubuh yang bergerak di luar kontrol. Sakit? Tubuh mereka seperti lunglai dan lemas, bersandar di kursinya masing-masing. Ada yang menampari wajahnya sendiri, ada yang seperti berusaha meraih sesuatu di depannya dengan tangan, seseorang tiba-tiba berdiri dan segera duduk lagi. Lalu musik mulai berdentum seiring mereka berdiri dan berjalan dengan gejala tubuh yang aneh. Perlahan-lahan bentuk tubuh mereka berubah seperti seekor tikus, lalu berlarian pergi membawa kursi.

Itulah fragmen awal dari pertunjukan Suspect: datangmu terlalu cepat yang dibawakan Bengkel Mime Theater pada tanggal 8-9 Februari 2008 di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta. Bagi Bengkel Mime Theater, ini adalah pertunjukan pertama mereka setelah satu tahun absen dari panggung pertunjukan. Meski cuaca tidak begitu baik selama dua hari pementasan, namun nampaknya hal itu tidak mempengaruhi minat penonton. Auditorium LIP selalu dipenuhi penonton dalam dua hari pertunjukan. Beberapa penonton bahkan terpaksa hanya dapat menunggu di luar karena kehabisan tempat.

Suspect merupakan karya yang merujuk pada karya pertama Bengkel Mime Theater: Langkah-Langkah, yang bertemakan tentang jalanan kota. Kemudian terjadi pengembangan ruang dan peristiwa yang terdiri dari kehidupan bawah tanah, Mall, aktivitas jalanan, dan supermarket.

Suspect menghadirkan fragmen-fragmen peristiwa yang berseliweran di atas panggung, tubuh-tubuh para aktor pantomim membawakan kisah-kisah mereka sendiri. Ada laki-laki pemabuk, ada pekerja salon, dan ada dua orang laki-laki yang berebut koran. Juga orang-orang yang berjalan tergesa hingga akhirnya saling bertubrukan lantas terjadi perkelahian.

Bengkel Mime Theater nampaknya ingin menghadirkan kota yang dinamis, lewat gerakan-gerakan dalam tempo tinggi serta musik yang berdentum cepat. Pertunjukan berayun dari satu sisi panggung ke sisi yang lain. Berlangsung dalam fragmen-fragmen yang tak saling berkaitan. Suspect tidak bercerita secara utuh mengenai satu hal.

Pertunjukan ini membawa kegelisahan para aktor Bengkel dalam melihat dan merasakan dinamika kota. Kegelisahan mereka nampaknya sampai pada kesimpulan, bahwa kota melahirkan orang-orang yang sakit dan tubuh yang gagap. Setidaknya itu yang terlihat dari cerita-cerita yang dibawakan tubuh mereka.

Tapi seperti repertoar sebelumnya—Rudy Goes to School, Tiga Bebek Kecil, dan SuperYanto—, mereka tidak pernah kehilangan selera humor. Seorang yang berpakaian seperti laiknya Batman dan seorang badut, dimainkan dengan apik oleh Andy SW dan Hambar Riyadi berhasil menjaga penonton untuk tidak bosan dengan cerita yang dibawakan tubuh aktor yang lain. Kedua karakter tadi memancing tawa penonton, tapi kemudian mereka malah membalas menertawai penonton. Membuat sebagian penonton terdiam tiba-tiba.

Setelah pertunjukan usai, penonton beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Beberapa menyalami para awak Bengkel Mime Theater, ada beberapa yang lain mengajak foto bareng para aktor-aktornya. Yah, pertunjukan sudah berakhir, dan penonton bergerak keluar dari Auditorium LIP, kembali menghadapi kota Jogja yang gagap…

Bengkel Mime Theater = Bengkel Pantomim

Kalau teman-teman pernah membaca skAnA edisi 3 & 5, akan kalian temukan artikel yang menuliskan tentang Bengkel Pantomim. Nah, mulai pertunjukan Suspect kemarin, Bengkel Pantomim resmi meproklamirkan namanya yang baru: Bengkel Mime Theater. Hal ini berkaitan dengan pilihan jalur pertunjukan yang mereka geluti, mencari kemungkinan yang lebih luas dari pantomim, tanpa menghilangkan unsur  pantomim yang menjadi basisnya.

Nah, jadi jangan salah dan bingung dengan nama Bengkel Mime Theater. Kalau Shakespeare bilang “apalah arti sebuah nama?”, tapi bagi anak-anak Bengkel ternyata sangat berarti, paling tidak dengan nama yang baru ini mereka berharap mendapat lebih banyak hoki. Terbukti dengan nama baru ini mereka berencana menggelar pertunjukan di beberapa kota dalam waktu dekat ini.

*Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

Tim Kerja:

pimpinan produksi Endah Sri Wahyu Handayani staf produksi Hambar Riyadi perangkai gerak Ari “Inyong” Dwiyanto pewujud teks cerita Andy Sri Wahyudi penata  artistik Pingky Ayako Saputro & Sugeng “Klemin” Pribadi kru artistik Domexz stage manager Noviar Eka Putra penata musik Ari Wulu penata lampu “Bureq” Agus Salim make up & perancang kostum Asita pewujud kostum Yuni Wahyuning aktor Andy SW, Ari “Inyong” Dwianto, Asita, Bambang Nur Topo, Ficky Tri Sanjaya, Hambar Riyadi, Ronald Pasolang dokumentasi video Sugeng Utomo & Dion Durga dokumentasi foto Arief Sukardon

Komentar Penonton

“Tubuhnya keliatan kaku, ototnya kenceng dari awal sampai akhir. Kostumnya kurang warna-warni. Hidungnya gak kelihatan.” (Sigit Gembong, Pendiri Anak Wayang Indonesia, 40an tahun)

“Awal membingungkan jika ga baca liflet. Gerakan bersama nggak kompak. Beberapa gerakan kurang jelas, terlalu cepat, atau terlalu kecil. Gak keliatan. Terlalu banyak Gerr sehingga gak memperhatikan urutan adegan dan pesan yang disampaikan hanya sekedar potongan-potongan. Tidak ada alur ke puncak. Ending gak jelas.” (Dhika, 18 tahun, kelas 3 SMU)

“Kurang mengena dan musiknya kurang pas.” (Chichi, Mahasiswi UMY, Jurusan Komunikasi, semester 6 21 Tahun)

Ekspresinya kurang, jalan ceritanya kurang menggigit. Belum ketemu ciri khas bengkel. Hanya sekedar melakukan (teknis) aku lebih suka yang dulu-dulu coz Gerrr…yang ini ada penurunan. (Blembong, Pemuda kampung, 21 Tahun)

Next Page »