January 2010


Jagongan Wagen 24 Oktober 2009

Oleh: Agnesia Linda

Petang itu, 24 Oktober, hujan cukup deras menguyur komplek Padepokan Seni Bagong Kussudiardja hingga membuat orang-orang yang sedang mempersiapkan Jagongan Wagen sedikit tergopoh-gopoh menyelamatkan peralatan elektronik dari air hujan. Jam setengah delapan kurang, beberapa motor sudah terparkir di belakang kantor YBK (Yayasan Bagong Kussudiardja). Itu melegakan bagi pihak penyelenggara karena cuaca agaknya tidak menjadi persoalan bagi orang-orang untuk datang ke Jagongan Wagen. Malam itu Jagongan Wagen bertajuk „Dance Energi“ mengundang dua koreografer Jogja dari dua generasi yang berbeda untuk mempresentasikan karya terbarunya. Mereka adalah Sutopo Tedjo Baskoro dan Satriyo Ayodya.

Dalam wawancara sesaat sebelum tampil, Satrio menyatakan bahwa melalui karyanya yang berjudul REMOVE, ia bersama tiga penari pria dan satu wanita hendak mengungkapkan pikir dan rasanya tentang komunitas seni tari Jogja yang terkotak-kotak spirit energinya. Masing-masing warna energi komunitas, yaitu tari tradisi, kontemporer, dan kerakyatan, baginya mengkotak-kotakkan diri seolah tidak mau saling bersinggungan.

Pada pertunjukan pertama ini, sosok tubuh Satrio muncul di bawah sorotan back light, rambut gondrongnya yang merah nampak seperti bara api. Keempat penari dengan mulut terbungkam plester dan kedua kaki terikat tali kain, menari meliuk-liukkan tubuhnya dalam kotak kardus. Tanpa kesulitan beberapa adegan akrobatik mereka lakukan. Hal itu menimbulkan kesan bahwa kotak kardus yang mereka kenakan tidak diperlakukan sebagai kostum melainkan sebagai organ tubuh. Beberapa saat kemudian seorang penari mulai terlepas dari kotak kardus dan jeratan tali di kakinya, membuka bungkaman plester di mulut, kemudian disusul oleh ketiga penari lainnya. Ketika itu ekspresi mereka seolah-olah baru terbebas dari sebuah belenggu yang luar biasa. Kemudian gerakan-gerakan rampak dengan power yang penuh mulai memenuhi ruang pangung.

Tarian karya Satriyo Ayodya

Bila Satriyo membawa kotak-kotak kardus, lain halnya dengan koreografer yang kedua, Sutopo Tedjo Baskoro (pak Topo),  koreografer senior dari Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja yang dulu adalah asisten utama alm.Bagong Kussudiardja. Ia membawa empat kayu berdiameter kurang lebih 20 cm dan panjang 3 m dengan bambu-bambu runcing bak duri raksasa terpasang di sekujur batangnya. Keempat kayu itu di gantung pada ketinggian 1,2 m dengan posisi horizontal. Sempat terpikir bagaimana cara para penari nantinya bergerak dengan panggung yang demikian penuh dengan batang pohon berduri raksasa itu.

Sebelum pertunjukan kedua dimulai sembari menunggu pergantian setting, MC dan pak Topo ngobrol tentang karya yang akan dipentaskan. Karya pak Topo ini berjudul KAWALAHAN. Inspirasi digali dari Langen Wandra Wanara, sebuah reportoar tari klasik Yogyakarta. Salah satu kekuatan Langen Wandra Wanara terletak pada teknik menarinya. Dalam reportoar ini penari menari pada level rendah di sepanjang tarian,  dengan cara berjongkok, jengkeng, duduk, dll. Judul KAWALAHAN sendiri mewakili kisah masyarakat bawah yang senantiasa bergerak, menunjukkan kemampuan dan kekuatan diri sebagai manusia yang tidak ingin/tidak mau di-BAWAH-kan. Kemudian MC meminta pak Topo untuk menunjukkan beberapa gerak level bawah yang menginspirasi karyanya itu. Pak Topo pun memeragakan beberapa ragam gerak. Sungguh memukau, warna klasik nan anggun ia gerakkan dengan penuh energi. Dengan demikian terjawab sudah pertanyaan awal tentang bagaimana nantinya para penari akan menari di antara batang kayu berduri raksasa tersebut.

Tiga penari pria muncul dengan baju berwarna kuning kusam, gerakan mereka relatif bervolume besar namun senantiasa berada di level bawah. Meskipun sama sakali tidak berdiri, mereka mampu menguasai pangung. Kemudian tiga penari perempuan masuk dari sisi kanan belakang panggung. Mereka juga memakai baju yang berwarna sama, terlihat kusam dan pucat namun anggun. Komposisi gerak-gerak rampak dan bebas level bawah membuat pola lantai sangat dinamis. Hal itu menjadikan petunjukan tidak terasa monoton, walaupun warna yang mendominasi efek visual baik dari kostum yang dikenakan maupun batang-batang berduri raksasa itu begitu pucat. Justru warna itu memunculkan nuansa kontemplatif. Tatanan panggung, make up dan kostum tidak hanya dihidupkan oleh energi gerak tubuh namun juga ekspresi wajah para penari. Hal itu sangat kuat terasa pada adegan di mana keenam penari berteriak tanpa suara, mereka membuka mulut lebar-lebar dengan mata terbelalak dan mengeliat kesana kemari. Ragam gerak klasik memang nampak pada beberapa adegan namun tidak banyak. Karya Pak Topo ini sangat-sangat kontemporer, sangat paradok dengan sosok Pak Topo yang nampak begitu mentradisi, begitu juga dengan ilustrasi gerak klasik yang ia peragakan di sesi wawancara tadi.

Tarian karya Sutopo Tedjo Baskoro

Seusai pertunjukan seperti bisanya para penonton turun ke pelataran depan studio Kua Etnikan untuk menikmati minuman (malam itu tersedia teh, kopi, dan setup jambu) yang telah disediakan oleh tuan rumah. Minuman-munuman hangat itu menemani semua orang untuk ngobrol atau sekedar duduk di suasana yang dingin selepas hujan dan Jagongan Wagen malam itu pun  tampak begitu hidup.

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)

Oleh: Ibed Surgana Yuga*

Indra Tranggono (Kompas, 9 Agustus 2009) menyebut pentas Kintir (Anak-anak Mengalir di Sungai) sebagai “teater imajis”. Pentas yang digelar oleh Seni Teku di Pendopo Blumbang Garing, Nitiprayan, 4-5 Agustus 2009, dalam rangkaian Festival Teater Jogja 2009 ini dinilai memunculkan impresi luluhnya teater dengan ruang/lingkungan alam/sosial. Dalam penilaiannya pula, teks pentas ini bukanlah “majikan” bagi aktor, melainkan keduanya memiliki posisi yang setara dalam membangun jagat teater melalui berbagai peristiwa dramatik-teaterikal.

Pada dasarnya, teater memang lahir dari penyikapan terhadap ruang, baik ruang geografis, sosial, budaya. Sejarah teater dunia yang terbentang panjang memaparkan kepada kita tentang bagaimana aliran demi aliran teater lahir sebagai respon terhadap ruang yang terus berkembang. Realisme lahir dari ruang modernisme, ketoprak dari ruang agraris. Perubahan bentuk atau konsep teater, bahkan kematiannya, merupakan konsekuensi dari perubahan ruang yang terjadi.

Demikian pula yang terjadi pada kami, Seni Teku, sejak didirikan pada 1 Maret 2005. Pada satu saat ruang adalah benturan keras terhadap proses penciptaan, di saat yang lain ia adalah dorongan yang kuat. Namun kami tidak berangkat dari ruang yang luas, sebagaimana contoh ruang yang melatarbelakangi realisme dan ketoprak di atas. Kami berproses dengan ruang yang sengaja “disempitkan” yaitu tempat pertunjukan, yang akan mewujud menjadi panggung, yang tidak mesti panggung pertunjukan konvensional.

“Penyempitan” ruang, yang merupakan bagian tak terlepaskan dari bangunan besar teater, bukanlah laku menafikan keluasan ruang itu. Bagi Seni Teku, ini hanya masalah pengkerucutan titik keberangkatan proses. Dalam perjalanan menuju peristiwa pertunjukan, ruang yang “sempit” itu akan meluas dengan sendirinya, melalui sentuhan-sentuhan berbagai konsep dan elemen artistik dari penulis teks, sutradara, performer, penata artistik dan lainnya. Sebab mereka adalah insan-insan yang hidup dalam ruang zaman mutakhir, maka sentuhan-sentuhan mereka adalah juga sentuhan ruang zaman, yang tentu saja kompleks.

Pendopo Blumbang Garing yang “Mengecewakan”

Ketika teks awal dari Kintir selesai ditulis—tak lebih dari dua halaman ketik—pada April 2009, sama sekali belum ada bayangan tentang ruang macam apa yang akan digunakan untuk pemanggungannya. Tantangan ruang pertama muncul ketika Festival Teater Jogja 2009 menawarkan konsep kurasi tentang ruang pemanggungan yang tidak konvensional, artinya bukan ruang standar gedung pertujukan. Tantangan kedua datang dari tawaran Bapak Ong Hari Wahyu untuk menggelar pertunjukan di Pendopo Blumbang Garing miliknya.

Memasuki Pendopo Blumbang Garing bagi kami adalah keterperangahan sekaligus kekecewaan. Terperangah oleh sebuah bangunan yang sebenarnya bersahaja, namun memiliki nilai artistik dan arsitektur yang luar biasa. Dan yang lebih penting lagi, Pendopo Blumbang Garing memiliki daya sosial dan budaya yang kuat. Ia tidak eksklusif  —berada di tengah-tengah kampung. Secara fisik ia sangat terbuka ke segala arah, tak berpintu, tak berpagar. Keterbukaan fisik ini rupanya menjadi penanda keterbukaan sosial dan budaya. Satu-satunya kamar mandi di sana dipakai oleh banyak sekali masyarakat sekitar. Anak-anak memakai hampir seluruh bagian dari bangunan ini untuk bermain setiap sore, bahkan hingga malam. Para remaja sepulang sekolah menggunakannya sebagai tempat nongkrong. Demikian juga para pembeli angkringan Pak Wongso di depannya. Belum lagi keterbukaannya terhadap berbagai kegiatan komunitas, seperti macapatan dan pendidikan alternatif untuk anak-anak.

Pendopo Blumbang Garing sepertinya tidak dirancang khusus untuk ruang pertunjukan. Inilah yang “mengecewakan”. Kami berhadapan dengan masalah keruangan pertunjukan yang sangat fundamental. Kami kebingungan di bagian mana mesti menggelar pertunjukan, di mana menempatkan penonton. Tentu saja bisa, dan menjadi menarik, membaurkan pertunjukan dengan penonton. Namun tidak semudah bahasanya, hal demikian mesti juga memiliki garis-garis batas yang jelas, walau imajiner.

Kendala pertama adalah kondisi fisik bangunan. Ruang-ruang yang ada serba sempit, kecuali hamparan sawah yang ketika proses tidak memungkinkan digunakan karena padinya belum dipanen. Tiang-tiang bangunan yang terbuat dari batang pohon kelapa utuh sangat banyak dan tentu saja mengganggu keluasan pandang. Ini hanya mungkin untuk pertunjukan monoplay, demikian hipotesis kami ketika itu. Sedangkan, Seni Teku memiliki minimal empat orang performer. Semuanya pasti main, berapa pun jumlah tokoh yang ada dalam teks, demikian tradisi “wagu” kami. Lagi, teks Kintir akan sangat lemah jika disiasati dengan pola permainan monoplay secara bergantian, misalnya.

Huh …! Setiap hari, dalam dua minggu pertama memasuki Pendopo Blumbang Garing, yang terjadi adalah keterperangahan demi keterperangahan, juga kekecewaan demi kekecewaan, terhadap tempat yang sudah terlanjur kami pilih itu. Secara perlahan, dan dengan sendirinya, kami melepas teks Kintir. Untuk sementara, ia hilang dari kepala kami. “Teks” Pendopo Blumbang Garing mengambil alih ruang kepala kami dan menyibukkan diri di dalamnya. Lalu kami mencoba memotong sedikit demi sedikit jarak antara kami dan Pendopo Blumbang Garing. Kami mencoba mengakrabinya.

“Kintir” di Pendopo Blumbang Garing

Marya Yulita Sari memanjat tiang-tiang batang kelapa sambil sesekali perosotan. Andika Ananda melompat tiba-tiba dari lantai atas ke panggung kecil di bawahnya, lalu turun ke lantai tanah dan merayap di antara debu-debu yang mengepul. Pranorca Reindra teriak-teriak sambil ngolet di pematang sawah. Joe DN menari-nari di atas beton pembatas blumbang sambil memuntahkan teriakannya yang melengking khas. Agus Salim Bureg mengutak-atik bohlam 10 watt dan bermain-main dengan api. Lintang Radittya membuat trompet dari pelepah pepaya dan sedotan es teh. Miftakul Efendi bermain-main dengan jerami dan pelepah pisang.

Demikianlah beberapa cara kami mengakrabi Pendopo Blumbang Garing, tentunya tanpa kesertaan teks Kintir. Di dalamnya kami bertemu beberapa hal yang lalu disimpan, dan harus diakui lebih banyak hal yang “tak berguna” dan mesti dibuang. Di dalamnya kami menemukan keakraban, dan juga kejenuhan yang menjengkelkan. Di sela-selanya, kami bermain-main ke sawah Pak Kasiran di sebelah selatan, ikut menyiram sayuran dan bawang merah. Makan nasi kucing dan sate bekicot di angkringan Pak Wongso. Sholat, setelah azan magrib dan isya memanggil. Bermain petasan bersama anak-anak. Kami benar-benar kintir (hanyut) di Pendopo Blumbang Garing, di kubangan tak berair itu. Ah, di sinilah makna teater yang sebenarnya kami temukan.

Perlahan, teks Kintir kami sambangi kembali. Sungguh perubahan yang luar biasa terjadi ketika kami membacanya kembali. Padahal ia tak beranjak, tetap tak lebih dari dua halaman ketik. Kami menduga, bahwa perubahan itu karena “teks” Pendopo Blumbang Garing telah merasuki kami. Kelanjutan teks Kintir kemudian ditulis bukan saja sebagai lanjutan dari yang tak lebih dari dua halaman ketik itu, namun dengan menorehkan “teks” Pendopo Blumbang Garing ke dalamnya, sesublim mungkin. Di sanalah kemudian kami disadarkan (kembali) pada konsekuensi ruang tehadap teks dan peristiwa teater.

Teks sebagai Konsensus Bersama

Dengan berjalannya proses penulisan teks bersamaan dengan proses latihan, teks kemudian hadir bukan sebagai pandangan subjektif penulis teks—atau paling tidak—meminimalisir subjektivitas penulis teks. Banyak bagian di dalamnya yang merupakan hasil pencatatan atau pengembangan dari eksplorasi para performer atau pekerja artistik lainnya yang dicapai saat latihan. Dalam bagian ini penulis teks benar-benar sebagai penulis, hanya menuliskan hasil eksplorasi ke dalam wujud teks, tentu saja dengan proses seleksi. Siasat yang demikian sama sekali tidak menciptakan teks yang ambyar, setidaknya menurut penilaian kami, namun justru ia mewujud sebagai suatu konsensus bersama.

Menurut hemat kami, teks yang demikian adalah teks yang bukan hanya berbicara dengan bahasa (dalam arti luas) penulis saja, namun juga bahasa seluruh kreator yang ada. Ia bukan kitab suci yang semena-mena mendikte para performer (dan pekerja artistik lainnya), atau seturut bahasa Indra Tranggono, bukanlah “majikan” bagi aktor. Bahasa kerennya, ia bisa lebih menubuh. Walaupun sebenarnya semua teks bisa ditubuhkan dengan baik, namun apa yang kami lakukan adalah cara yang menurut penilaian kami lebih cocok, lebih demokratis, setidaknya dalam lingkup Seni Teku. Dengan demikian, memang, teks akhirnya memiliki posisi yang setara dengan unsur artistik lainnya.

Bagaimana jika teks Kintir ini kemudian digarap oleh orang atau kelompok di luar Seni Teku? Masalah ini sempat mengemuka dalam sesi workshop penulisan naskah yang juga diselenggarakan dalam Festival Teater Jogja 2009, bahwa teks Kintir akan sulit direalisasikan menjadi pertunjukan oleh orang atau kelompok di luar Seni Teku. Barangkali benar. Dan ini memang konsekuensi yang telah kami sadari. Sebagaimana juga beberapa teks terakhir Arifin C Noer. “Terkadang saya pun tidak yakin, akan kemungkinan seorang sutradara lain dari grup teater lain yang sangat jauh dari teater Arifin untuk mementaskan Tengul, yang naskahnya diselesaikan selama proses latihan menjelang pementasan …,” tulis Goenawan Mohamad (1973).

Namun sulit bukan berarti mustahil. Ketidakyakinan Goenawan Mohamad pun masih bisa diperdebatkan. Suatu teks pertunjukan teater atau naskah drama yang dilempar ke publik bisa diposisikan sebagai karya yang otonom. Ia tidak mesti dikembalikan lagi ke tungku dapur penciptaannya terdahulu. Juga dari ruang yang pernah mengakrabinya di masa lalu. Ia bisa akrab dengan ruang demi ruang baru, konsensus-konsensus baru, dengan mandiri dan leluasa.

* Ibed Surgana Yuga, Sutradara dan penulis teks Kintir (Anak-anak Mengalir di Sungai)

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)

Oleh Muhammad Abe*

Sebelum Pertunjukan

Malam tanggal 4 Agustus 2009,  Rendra Bagus, salah satu aktor Kelompok Seni Teku berdiri di pinggir jalan di depan Pendopo Blumbang Garing milik Ong Harry Wahyu, di kampung Nitiprayan. Tangannya memegang kentongan. Dia membunyikannya, dan dengan Bahasa Jawa halus yang baik dia mengundang warga yang tinggal di sekitar pendopo untuk datang menonton pertunjukan yang akan segera dilangsungkan. Dengan ramah Rendra menjawab celotehan warga kampung yang menimpali kata-katanya, sembari tetap berusaha mengajak mereka untuk melihat “tontonan” di Pendopo Blumbang Garing itu.

Saya masih ingat Rendra tidak menggunakan kata “teater” untuk mengundang penonton, melainkan “tontonan”. Begitu pula dia tidak menyebutkan bahwa pertunjukan tersebut digelar dalam rangkaian Festival Teater Jogja yang diselenggarakan oleh Yayasan Umar Kayam dan Taman Budaya Yogyakarta. Dia hanya mengajak penduduk sekitar untuk menonton lakon yang akan disajikan Kelompok Seni Teku malam itu. Mungkin, teater dan berbagai macam istilah dan kegiatan di dalamnya, tetap saja sesuatu yang janggal dan asing bagi warga sekitar pendopo, meskipun di sana sudah sering berlangsung pertunjukan atau latihan untuk pertunjukan.

Saat pertunjukan

Pertunjukan berlangsung di pendopo bertingkat tiga. Tingkat dasar berada lebih rendah dari tempat penonton berupa blumbang (kolam) yang sudah tidak dipakai (garing, tidak terisi air), tingkat kedua berada sejajar dengan penonton berupa lantai di atas blumbang, sementara tingkat ketiga berupa ruangan tertutup berdinding bambu. Ruang di tingkat tiga ini digunakan sebagai backstage.  Sementara itu, penonton berada di pendopo yang lain, tepat di depan tempat pertunjukan, duduk di atas bilih-bilih bambu beralaskan tikar. Ada sekitar 150 penonton malam itu. Mereka yang tidak kebagian tempat duduk berdiri di rerumputan di samping pendopo, atau duduk agak ke belakang di dekat angkringan.

Pertunjukan ini membawakan naskah yang ditulis Ibed Surgana Yuga berjudul Kintir; Anak-anak Mengalir di Sungai. Ada beberapa kisah di dalamnya yang tidak selalu bersangkut-paut —berupa fragmen-fragmen terpotong di satu sisi, tapi secara tematis bersinggungan di sisi yang lain. Satu kisah bertutur tentang Dewi Gangga yang dikutuk turun ke bumi untuk melahirkan tujuh manusia, yang kesemuanya kelak akan dihanyutkan ke sungai kecuali satu anak yang kelak dikenal sebagai Bisma. Kisah tersebut bersanding dengan kisah seorang pelacur dan ketujuh anaknya yang hanyut ke sungai, serta beberapa kisah lain yang muncul di tengah pertunjukan.

Kintir bercerita tentang ibu, tentang bagaimana dia bekerja keras merawat keluarga dan anak-anaknya. Bila tak ada uang tersisa, maka tubuhnya yang ia jual untuk semangkuk nasi dan lauk bagi anak-anaknya hingga ia lupa siapa sebenarnya ayah dari anak-anaknya. Tapi anak-anak, tetaplah anak-anak, mereka hanya bermain dan terus bermain. Di tempat yang terlarang pun mereka tertawa terbahak-bahak, berlarian ke sana ke mari tanpa peduli, hingga seorang anak tidak sengaja jatuh dari jembatan, dan hanyut terbawa aliran sungai. Satu persatu anak-anak itu hanyut hingga tinggal satu anak tersisa, Bisma, yang harus menghadapi takdirnya —maju ke medan perang untuk membela nama baik ibunya. Perang Kurusetra, peperangan yang ia ragukan kegunaannya, kecuali untuk membuktikan rasa terima kasihnya pada ibu yang sudah melahirkan dan menjaganya.

Usai Pertunjukan

Penonton beringsut dari tempat duduknya, pulang ke rumah masing-masing. Para aktor beristirahat sambil menemui penonton yang tersisa. Orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan sibuk membersihkan panggung, esok malam mereka akan melakukan pentas sekali lagi. Malam itu ada hiburan bagi warga sekitar Pendopo Blumbang Garing. Malam itu teater mencuri kesempatan untuk mengalihkan perhatian warga dari televisi, paling tidak untuk satu jam.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)

*****

Tim Kerja Kintir; Anak-anak Mengalir di Sungai

Penulis Teks & Sutradara: Ibed Surgana Yuga Pelaku: Pranorca Reindra, Joe DN, Marya Yulita Sari, Andika Ananda, Jibna Sudiryo, Cahyo, Sarinah Penata Bunyi: Lintang Radittya  Penata Cahaya: Agus Salim Bureg Penata Gerak: Rahmad Fuadi Pewujud Seting & Properti: Miftakul Efendi  Manajer Latihan & Panggung: Ade Puraindra  Produksi: Febrian Eko Mulyono, Dina Triastuti, Riski Pamulanita, Dimas, Rozita

Biografi Singkat Kelompok Seni Teku

Kelompok Seni Teku didirikan oleh Rendra Bagus dan Ibed Surgana Yuga, keduanya mahasiswa Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Pertunjukan pertama Kelompok Seni Teku adalah Nama-nama Yang Anonim (sebuah monoplay) dipentaskan pada 1 April 2005 atas undangan Panitia Festival Monolog Se-Bali.

Selama tahun 2005-2009 Kelompok Seni Teku telah memproduksi enam karya pertunjukan, yaitu: Sri 4 Me, Dongeng Yang Tak Pernah Diceritakan, Rare Angon dan Lubangkuri, Rare Angon, dan yang terakhir adalah Kintir yang dipentaskan dalam rangkaian Festival Teater Jogja I tahun 2009 kemarin. Karya-karya tersebut telah dipentaskan ke beberapa kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, serta Sumatera. Dalam empat tahun perjalanan mereka, Kelompok Seni Teku justru baru dua kali memanggungkan karya di Yogyakarta, yang pertama adalah Rare Angon yang dipentaskan pada pertengahan tahun 2008 untuk tugas akhir penyutradaraan Ibed Surgana Yuga di Jurusan Teater ISI.

Dalam keenam karya mereka, Kelompok Seni Teku selalu mengangkat dongeng-dongeng yang berkembang dalam tradisi lisan masyarakat, terutama dongeng-dongeng yang sudah lama dilupakan orang-orang. Tidak ada alasan khusus atas pilihan ini, namun Rendra Bagus mengaku proses untuk menuju pertunjukan Kelompok Seni Teku biasanya diawali atau diikuti dengan ingatan-ingatan mereka terhadap masa kanak-kanak.

Oleh: Hindra Setya Rini*

Sekitar awal bulan Agustus 2009 lalu, saya berkesempatan mengunjungi salah satu pendongeng yang sudah tak asing lagi namanya di ranah seni pertunjukan Indonesia yaitu PM. TOH. Pria yang lahir dan besar di Aceh 40 tahun silam ini bernama asli Agus Nur Amal. Bang Agus, demikian biasanya beliau disapa, mengajak saya untuk ngobrol di galeri PM. TOH di Jl. Rawasari Selatan I No 6, Jakarta Pusat.

Galeri PM. TOH terkesan “ramai”, penuh dengan beragam properti pentas. Properti berukuran kecil sampai besar tersebar rapi memenuhi dinding ruang tengah yang didesain dengan warna-warna cerah menyala. Galeri ini sekaligus juga adalah rumah kontrakan yang dihuni oleh seniman dari berbagai kalangan: tari, teater, dan musik. Tak heran jika berkunjung ke galeri PM. TOH, kita akan disambut oleh sejumlah penghuni rumah yang ramah dan hangat.

Selama kurang lebih tiga jam PM. TOH bercerita dengan santai ihwal perjalanannya di dunia kesenian dan proses-proses kesenimanannya. Dari ceritanya, selain pentas-pentas story telling yang telah dilakukan di kota-kota besar di Indonesia, Bang Agus juga kerap memberikan workshop untuk anak-anak dan remaja. Menurutnya, pertunjukan solo performance (demikian bang Agus menyebutnya—pen) yang ia lakukan tidak dikhususkan untuk kalangan usia tertentu—meski dikenal sebagai pendongeng tidak lantas penontonnya melulu anak-anak. Semua kalangan bisa mengapresiasi karyanya; muda-tua, seniman dan bukan seniman, pegawai dan pekerja kantoran. Mereka semua adalah target penonton yang diharapkan dapat mengapresiasi karya pertunjukan PM. TOH.

Berikut ini beberapa kutipan obrolan bersama bang Agus yang menarik disimak sehubungan dengan proses kesenimanan dan pengalamannya memberi workshop:

Tepatnya kapan Bang Agus mulai memilih story teller sebagai profesi?

Sekitar tahun 1991. Sebelumnya kan aku kuliah di jurusan teater IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Setelah itu aku pulang ke Aceh. Di Aceh model pencerita itu banyak sekali. Jadi setelah aku pikir-pikir, ya kenapa aku nggak memilih story telling itu aja, mendongeng itu. Di kampungku sendiri sudah ada tradisi mendongeng. Ya sudah, aku belajar selama setahun di sana, lalu kembali lagi ke Jakarta tahun 92.

Itu awal mula PM. TOH ada, Bang?

Iya. PM. TOH sendiri adalah nama seorang tokoh tradisi yang ada di Aceh. Beliau pendongeng yang aku kagumi dan dengannnya aku ikut keliling kemana-mana, bantu beliau pentas sekaligus belajar juga. Itu kulakukan selama setahun. Nah, namanya kemudian aku pakai untuk nama panggungku. Beliau senang aja dan nggak keberatan. Tentang solo performance, ya itu lebih pada pilihanku untuk tidak berkelompok. Aku berpikir dengan PM. TOH aku lebih efektif, sederhana, dan murah. Aku nggak susah mikir bagaimana harus mengatur hal-hal sebagaimana kalau kita berkelompok. Dengan ini aku bisa pentas keliling sendiri atau berdua dengan Tedi (asisten sekaligus kru PM. TOH), dan hanya bawa properti yang diperlukan. Sederhana menurutku. Gampang aja ke mana-mana dan nggak repot ini-itu.

Ada bedanya nggak sih, Bang, gaya bertuturmu dengan para penutur tradisi di Aceh itu?

Iya, ada. Waktu itu para pencerita di sana nggak pakai properti. Ya bercerita aja. Hanya PM. TOH yang pakai properti, tapi nggak banyak. Jadi aku mengembangkan gaya PM. TOH itu. Aku tambah jenis propertinya. Ya bisa dilihat kan properti yang aku pakai ini, macam-macam. Plastik, kayu, kertas, barang bekas, perkakas dapur, dan lain-lain. Semua aku manfaatin dan bisa aku mainkan jadi matahari, mobil, gunung, laut, ikan hiu, dan lain sebagainya. Nah, soal cengkok yang biasa aku pakai itu, semua pendongeng di Aceh ya begitu. Berlagu. Tapi aku pakai yang paling dekat aja denganku: mengaji.  Ya aku pakailah cengkok mengaji dalam bertuturku.

Waktu itu bagaimana apresiasi para penutur tradisi atas bentuk yang Bang Agus bawakan?

Ya, apresiasinya bagus, mereka sangat mendukung. Sebagai anak muda saat itu, yang tua merasa senang karena seperti ada yang baru nih buat mereka. Dan memang sebelum balik ke Jakarta lagi, aku sempat mengundang mereka untuk kumintai pendapat. Aku juga ingin tau respon mereka. Tanggapan mereka positif, lalu aku mulai berkiprah di Jakarta. Tahun 1992 itu, sambutan di sini (Jakarta—pen) antusias sekali. Mereka—penonton Jakarta—merasa surprise. Mungkin ini bentuk yang segar buat mereka pada saat itu. Belum pernah ada kan sebelumnya? Ya sampai sekarang inilah ceritanya. Begitu…

Bisa cerita tentang proses pembuatan karya, atau workshop-workshop apa aja yang Bang Agus pernah lakukan?

Workshop sering juga. Kadang buat anak-anak, remaja juga pernah; anak SMA di Jakarta, anak-anak paska konflik dan paska gempa di Aceh juga. Tergantung tujuan kita mau ngasih workshop itu untuk apa sih. Barulah kita mulai mencari dari mana untuk memulai. Kalau isunya “panas” kadang butuh beberapa hari untuk bisa sampai pada topik yang akan kita diskusikan. Awalnya pasti aku ajak peserta main-main dulu, adakan permainan-permainan di awal. Lalu baru masuk ke pemetaan lingkungan sosial mereka. Ini perlu karena mereka sendiri harus paham kondisi dan permasalahan yang timbul sebelum sampai pada diskusinya. Dengan memetakan posisi masing-masing itu peserta workshop akan sadar dengan sendirinya dan tau di mana bermulanya persoalan.

Workshop 'kecil' Hindra bersama PM Toh

Salah satu contohnya, Bang?

Dulu aku punya lembaga yang aku dirikan selama sekitar tiga-empat tahun. Programnya menangani tawuran anak-anak SMA di Jakarta. Ada sekitar 300 sekolah kita masuki. Sekarang sudah selesai proyek itu. Nah, ya seperti yang aku bilang tadi, aku mengajak mereka menggambar peta lingkungan sosial mereka. Tentu aja setelah kita kasih permainan-permainan yang membuat mereka lupa pada fokus tawurannya itu dulu. Caranya, aku minta mereka menggambar letak rumah mereka di dinding kelas. Aku tanya mereka tinggal di mana. Di Manggarai, misalnya. Lalu mereka nempelin gambar rumah mereka tapi jaraknya jauh-jauh. Padahal kan itu lokasinya sempit dan rumah penduduk  berdekatan. Aku tanya lagi ke mereka, kok jauh-jauh letaknya? Mereka komplain karena mereka nggak suka dekat-dekat, bising dan sumpek. Nah, dari situ kita masuk diskusi tentang kondisi pemukiman yang padat, yang menyebabkan nggak ada rasa nyaman pribadi. Hawanya marah, curiga dan merasa ada musuh. Lalu satu kampung dengan yang lain merasa ada musuh. Lalu ketemu di jalan, naik satu bus sekolah yang di dalamnya ada rasa saling curiga. Ya diskusi terus bergulir sampai mereka tau duduk perkaranya. Itu kita datangi tiap sekolah lalu dipertemukan di akhir. Ya nggak mudah juga sih, tapi itu berhasil kita lakukan.

Sama juga seperti yang di Aceh. Workshop buat anak paska konflik itu ya sama metode yang aku berikan. Intinya, aku selalu mengajak mereka menggambar situasi sosial mereka dulu sebelum masuk ke isu yang mau dibahas. Lalu terakhir kita memetakan bersama persoalannya, juga solusinya. Dan biasanya di hari-hari terakhir baru cerita-cerita personal biasanya muncul. Terserah kita cerita-cerita mau dibawa ke mana, bisa ke bentuk presentasi tertentu jika memang dibutuhkan. Kemudian anak-anak itu bisa mengekspresikan diri mereka ke hal yang positif. Sebelumnya kan mereka mungkin nggak tau caranya mengeluarkan emosi-emosi mereka itu. Ini salah satu cara aja yang bisa membantu mereka keluar dari situasinya.

Kalau yang proses pertunjukan, Bang?

Oh, ya, masih di Aceh juga nih ceritanya. Paska konflik dan bencana dulu itu, kita bikin pertunjukan keliling. Namanya P.TV. Ini pentas keliling pakai truk mini. Itu kan konsepnya tv, tv main-main, jadi membawa imajinasi orang. Pada tontonan itu seolah-olah kita berada dalam studiolah. Ada reporternya, penyiar tv,  ada acara juga di dalam. Yang main anak-anak kampong yang kita kunjungi. Ada yang main tinju, macam-macamlah. Kita buat aja urutan acaranya. Yang pertama misalnya berita kampung. Terserah mereka mau nulis, terus dibacain. Lalu itu memancing orang-orang untuk rela masuk ke tv. Biasanya ibu-ibu yang mau masuk ke dalam. Kalau di panggung belum tentu orang rela untuk ikut main. Jadi dengan tv ada kesadaran orang untuk main-main. Kalau istrinya masuk, suaminya gak malu. Rela gitu… beda kalau dibuat panggung beneran, mereka malah nggak mau main. Di Aceh, ini cukup berhasil membuat mereka mengungkapkan problem-problem yang terjadi paska konflik. Bahkan interaksi sesama masyarakatnya berlangsung baik. Padahal ini isu yang sensitif namun berhasil diungkap dengan cair dan komunikatif.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)

*****

Profil Singkat PM. TOH


Nama lengkap: Agus NurAmal.

Lahir di Sabang/Aceh 17 Agustus 1969.

Jalan kaki hobiku, ikan tongkol sembelado makanan kesukaanku. Film favorit: Gone with The Wind. Pengalaman paling mengesankan waktu  lagi e-ek di bandara Zurich, dipanggil namaku lewat information center tapi namanya lagi e ek ya aku cuekin. Akhirnya aku lari

ke pesawat dan hanya aku seorang yang ditunggu. He he…

Tokoh seniman yang kukagumi namanya Udin Pelor. Oh ya, aku mulai menekuni teater sejak kelas lima SD. Memutuskan untuk ber-story telling sejak tahun 1992 dan lulus dari IKJ jurusan teater tahun 1994. Sudah ada sekitar 600 kali mengadakan pertunjukan di berbagai tempat di seluruh Indonesia dan di luar negeri. Pertunjukan dalam berbagai tema dan untuk berbagai kelompok penonton. Proses berkesenian yang paling berkesan buatku yaitu waktu aku membuat pertunjukan dalam rangka rekonsilisasi Hindu-Islam di Desa Sumber Klampok, Bali Barat.  Masyarakat Islam dan Hindu terpecah didorong oleh peristiwa 65. Di sana  aku main selama 4 jam, selesai pentasnya jam 2 pagi. Asyik sekali waktu itu karena sambil main ada yang kasih pisang, dan juga minuman.

Yang paling aku sukai tentu saja ketika melihat penonton senang. Tapi, yang paling nggak kusukai itu kalau habis maen honor tak langsung dikasih. He he…

Harapan atau mimpi katakanlah yang masih ingin kuwujudkan adalah mendirikan institut tukang cerita nusantara.


Ear For Your Stories a.k.a Lapak Curhat

Oleh: Agnesia Linda

Suatu malam dan aku lupa hari dan tanggalnya, aku dapat undangan dari Hindra (Hindra Setya Rini, red.) untuk datang ke forum Lapak Curhat di Laki Bini Resto. “Tapi kan aku nggak ikutan curhat kemaren. Emangnya nggak papa? Trus acaranya entar ngapain, beb? Evaluasi proyekmu, pho?” tanyaku ke Hindra. Dia cuma menjelaskan bahwa itu bukan forum evaluasi proyek Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat, tapi adalah tentang mendengarkan dan didengarkan. Penjelasannya cukup menarik tapi masih sangat ambigu, aku sama sekali tidak mendapatkan gambaran isi forum; apa yang akan terjadi dan entar aku harus gimana atau ngapain.

Malam minggu itu dan aku lupa tanggalnya, dengan ketidaktahuanku tentang isi acara forum, aku datang ke Laki Bini tiga puluhan menit sebelum forum dimulai. Aku bertanya sekali lagi pada Hindra tentang nanti mau ngapain. Masih dengan jawaban yang sama tapi ada tambahan sedikit, Hindra menjelaskan bahwa nanti forumnya tidak formal, dibuat semengalir mungkin, santai dan enjoy agar semuanya bisa mendengarkan dan didengarkan. “Mendengarkan dan didengarkan” sebenarnya itu adalah pesona penjelasan Hindra yang membuatku datang karena penasaran.

Di ruang pojok kiri paling depan bangunan Laki Bini Resto yang biasanya dipakai untuk galeri, sebelas orang beserta Hindra duduk di kursi yang diatur dengan melingkar hingga setiap orang bisa saling memandang. Ada teh hanggat dan cemilan yang juga disediakan di atas meja di pojok ruangan. Hindra membuka forum dengan ucapan selamat datang dan disambung oleh Deska (pemilik Laki Bini Resto) yang sepertinya akan menjadi moderator forum. Kemudian ia mempersilahkan empat orang diantara kami yaitu Putik, Miranda, Asita dan Ani Himawati, satu persatu membacakan tulisan yang mereka bawa. Keempat tulisan itu terkesan seperti cerpen. Semuanya berisi tentang kisah cinta dengan beragam latar peristiwa dan gejolak psikologis tokohnya. Hindra menjelaskan bahwa keempat cerita tersebut adalah penulisan ulang isi curhat pada proyek Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat yang dilakukan di sepanjang bulan Oktober 2009. Keempat cerita tersebut ditulis ulang oleh si empunya cerita alias “curhater” yang bersedia berbagi kisah curhatnya ke lebih banyak orang, selain Hindra “si juru curhat”.

Pembicaraan kemudian bergulir mengarah pada empat cerita yang telah dibacakan. Beberapa orang angkat bicara memberikan komentar-komentar, menyampaikan persepsinya, dan bahkan ada yang sempat memberikan semacam solusi. Saat itu di kepalaku muncul semacam koridor pikir tentang isi forum; mungkin keempat cerita itu merupakan hasil akhir dari proyek Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat yang digarap Hindra, yang diwujudkan dalam bentuk seni berupa cerpen. Pemikiran itu berdasarkan pada referensiku tentang sosok Hindra, si pemilik proyek yang berlatar belakang teater dan juga penulis. Ide proyek Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat berangkat dari ketertarikan Hindra pada story telling yang ia dalami melalui prosesnya berteater. Tapi story telling di sini diwujudkan dalam bentuk curhat interpersonal yang bener-bener intim, semacam bercerita dengan orang lain tentang apa yang benar-benar kita rasakan dan pikirkan. Bukan monolog, bukan invisible theater atau bentuk-bentuk kesenian lain semacamnya. Kalau bisa dibilang, Lapak Curhat Hindra mirip dengan konseling psikologi―tapi bukan itu. Hindra tidak berlatar belakang psikologi, dia adalah seorang seniman. Lalu  Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat ini apakah bisa kemudian disebut sebagai perwujudan lain dari seni atau kesenian?

Pembicaraan di forum mengalir asyik. Masing-masing orang menceritakan pengalaman mereka untuk mendengarkan dan didengarkan. Asita, satu di antara dua pria yang hadir pada forum itu kemudian angkat bicara. Ia mengaku bahwa dirinya sulit dan kurang suka dengan curhat, karena hal itu seolah mempersempit ruang privasi. Ia menjelaskan dengan panjang lebar tentang bagaimana ia lebih memilih untuk menyimpan hal-hal termasuk beban dan kesenangannya dalam diri, dari pada bercerita kepada orang lain. Ia juga menceritakan keengganannya untuk mendengarkan curhat orang lain. Karena biasanya ketika orang lain menceritakan masalahnya, kecenderungan si pendengar adalah memberikan semacam saran/solusi/petuah/nasehat. Dan bagi Asita, ketika ia memberi saran atau menasehati orang lain maka nasehat/saran itu akan menjadi pagar bagi dirinya sendiri. Akan sangat lucu dan memalukan jika dia sendiri tidak bisa menjalankannya saran yang ia sampaikan kepada orang lain, hingga dia harus senantiasa hati-hati dan membatasi perilaku diri. Dari peristiwa itu (Asita yang bercerita panjang lebar) sesungguhnya nampak kekuatan forum curhat Hindra ini. Asita yang mengaku sulit dan kurang suka untuk curhat malahan berbicara panjang lebar tentang dirinya. Pada awalnya koridor forum tidak jelas arah pembicaraannya, namun pembicaraan menjadi sangat hidup karena ditopang oleh cerita orang-orang yang bertemu, saling mendengarkan dan didengarkan.

Aku melihat Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat ini memang hal yang baru. Proyek ini tidak bersifat kaku karena Hindra membuka diri untuk menerima kemungkinan-kemungkinan (dan masukan-masukan) yang bisa dia dikembangkan di kemudian hari. Artinya memang Hindra tidak dari awal merancang proyek ini akan berujung di mana dengan bentuk seperti apa. Persoalan ini akan disebut sebagai seni, kesenian atau hal yang lainnya, tidaklah begitu penting,  yang jelas ini lahir dari sebuah proses pikir dan rasa seorang Hindra yang dibesarkan melalui kehidupan seni dan kesenian.

Hindra berkata bahwa Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat bukanlah sebuah konseling pribadi, karena dia tidak menawarkan/memberikan solusi-solusi bagi permasalahan yang diceritakan oleh curhater dan juga tidak menilik pada efek-efek apa yang dirasakan oleh para curhater setelah curhat. Proyek ini juga tidak hendak menilik perubahan pada diri curhater dan bagaimana kehidupan mereka setelah curhat sebagai tolok ukur keberhasilan proyek, tapi lebih pada menciptakan ruang pertemuan untuk mendengarkan dan didengarkan. Proyek ini menjadi ruang belajar yang luas bagi Hindra, di mana dia bisa mengasah kemampuannya untuk mengajak orang lain bercerita, mendengarkan orang lain, mendapatkan cara memahami orang lain dan belajar tentang kehidupan dari sudut peristiwa orang-orang yang ia jumpai di kamar curhatnya. Dalam forum ia juga menyatakan bahwa melalui proyek ini ia telah banyak dibagi pengalaman-pengalaman personal yang berharga sehingga ia merasa pribadinya menjadi semakin kaya. Dan menurutku hal-hal itulah yang menjadi pencapaian terbesar Hindra sebagai penggagas dan penggarap proyek ini.

Forum yang menyenangkan. Semuanya saling bertukar cerita. Pesta cerita berakhir jam sebelas malam. Sepertinya bukan hanya Hindra yang diperkaya, tapi malam ini aku pun akhirnya juga turut merasa menjadi kaya melalui mendengarkan dan didengarkan.

***********

Catatan:

Tulisan ini merupakan catatan penulis atas pertemuan penutup proyek Ear for Your Stories a.ka. Lapak Curhat yang diinisiasi oleh Hindra Setya Rini, di mana penulis hadir sebagai peserta. Pertemuan berlangsung pada hari Sabtu, 14 November 2009, pukul 20.00 WIB di Laki Bini Resto, Jl. D.I Panjaitan Yogyakarta.

Ear for Your Stories adalah sebuah proyek “bercerita” yang berangkat dari penelusuran Hindra pada metode story telling yang jadi ketertarikannya 3 tahun belakangan ini. Setelah pada tahun 2007 mengadakan workshop story telling untuk remaja, kali ini Hindra mencoba cara lain untuk mengajak orang bercerita dari pengalaman hidupnya sendiri yaitu dengan menjadi teman curhat. Proyek ini berlangsung pada bulan Oktober yang lalu. Setiap hari Jumat dan Sabtu, dalam sebulan, Hindra membuka lapak curhatnya di Laki Bini Resto. Setiap orang boleh datang dan curhat berdua dengan Hindra. Jangan membayangkan lapak curhat ini seperti lapak koran atau barang klithikan di pinggir jalan lho…. Di lapak curhat Hindra ini, para curhater bisa duduk santai dan nyaman sembari menikmati minuman dan kudapan dari Laki Bini Resto.

Sesuai dengan namanya, “lapak curhat” ini sangat privat dan intim. Hindra menyadari bahwa tradisi curhat itu belumlah familiar,  terkadang seseorang menjadi enggan untuk curhat jika niatnya itu diketahui orang lain. Oleh karena itu publikasi proyek ini pun terbatas, hanya melalui facebook, dan gethok tular alias dari mulut ke mulut. Jadi, mungkin memang tidak banyak yang mengetahui proyek ini.

Lapak Curhat ini seperti laiknya gerai ramal yang sekarang sering kita jumpai di pameran-pameran, mal, atau kafe/resto. Bedanya, di gerai ramal pengunjung akan dibaca nasibnya dan diberi tips bagaimana menghadapinya, sedangkan di lapak ini pengunjung akan diberi ruang untuk bercerita apa saja dan Hindra, si penunggu lapak, akan mendengarkan atau sesekali balik berbagi cerita. Tidak ada solusi, yang ada hanya teman yang akan mendengarkanmu selama durasi waktu yang disepakati. Sekilas pertemuan tersebut seperti dua orang teman lama yang asyik ngobrol.

Bercengkrama. Itulah gambaran aktivitas di Lapak Curhat ini. Inilah juga awalnya kenapa proyek ini didukung penuh oleh Laki Bini Resto. Kebiasaan Hindra “ditemui dan dicurhati” beberapa orang teman di ruang pojok Laki Bini Resto membuat Iwan Imam Sujai (pengelola Laki Bini Resto) tertarik menawarkan ruang untuk membuat sesuatu berkait dengan proyek story telling Hindra. Dari sana ide mengalir dan bergulirlah Ear for Your Stories a.k.a Lapak Curhat selama satu bulan, dan ditutup dengan sharing yang dihadiri oleh sebagian curhater dan beberapa orang yang sengaja diundang untuk mendengarkan beberapa cerita dari Lapak Curhat. (red)

Oleh: Mohammad Qomaruddin*

bocah bajang nggiring angin

anawu banyu segara

ngon-ingone kebo dhungkul

sasisih sapi gumarang


Satu sore di bulan Juni. Dalam sebuah percakapan yang hangat, Gunawan Maryanto menawarkan kepada seluruh peserta Actor Studio 2009 dua buah teks yang akan menjadi pijakan gagasan proses penciptaan karya yang kemudian diberi judul “Bocah Bajang” itu. Dua teks tersebut adalah fenomena dukun cilik Ponari dan suluk Bocah Bajang.

Kenapa dan ada apa dengan Bocah Bajang dan Ponari? Bukankah Bocah Bajang adalah sebuah suluk (nyanyian/tembang dalang yang dilakukan ketika akan memulai suatu adegan/babak dalam pertunjukan wayang, red.) sedangkan fenomena Ponari adalah realitas, bukan fiksi? Ah, barangkali ini hanyalah kebiasaanku yang selalu patuh pada logika sebab akibat. Kuredam bisikan-bisikan itu lalu hening.

Pertemuan selanjutnya kembali membicarakan dua teks tersebut, tentu saja setelah membekali diri dengan bacaan dan informasi hasil browsing dari internet. Dari percakapan tentang Ponari memuncul pertanyaan dan pernyataan bahwa fenomena Ponari adalah perihal hak anak, kuasa media, relasi kepercayaan orang Jawa terhadap mistik dan tradisi, kemiskinan, pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya. Perihal suluk Bocah Bajang kami mendapatkan lebih sedikit bahan, hanya seputar apa itu suluk Bocah Bajang dan siapa itu Bocah Bajang, serta rekaman suluk yang dinyanyikan sinden dan dalang. Tak sebanyak tentang Ponari. Namun kemudian kami mendapatkan cerita panjang dari Gunawan Maryanto tentang suluk tersebut. Ia terkait dengan  munculnya Semar dalam babak goro-goro pada pertunjukan wayang. Kami juga mendapat banyak cerita perihal sejarah Semar, serta pemaknaannya secara filosofi (yang tentunya tak bisa kujelaskan dalam tulisan ini). Singkat cerita kemudian aku semacam menemukan jawaban dari pertanyaanku. Ada hal yang sama dari keduanya: sebuah ketidakmungkinan dan sebuah harapan, seorang bocah; paling tidak itu yang sementara dapat kusimpulkan kenapa dua teks tersebut dipilih menjadi pijakan proses ini. Kemudian kami juga bersepakat  menggunakan tubuh dan kata sebagai alat komunikasi atau bentuk pertunjukannya.

Selanjutnya sebagai bagian dari proses penciptaan kami melakukan observasi terkait dengan dugaan-dugaan personal yang muncul tentang fenomena Ponari. Ada yang pergi ke dukun menjadi pasien, mengunjungi tempat-tempat peziarahan, wawancara dengan anak jalanan, wawancara dengan pasien rumah sakit. Hasilnya kami percakapkan bersama Ugoran Prasad (fasilitator kelas observasi dalam rangkaian program belajar keaktoran Actor Studio Teater Garasi 2009) yang membantu kami menyiapkan, melakukan, dan mengolah hasil observasi, sebelum akhirnya kami benar-benar pergi ke Jombang.

Ziarah Fiksi

Tempat Ponari dan kesaktiannya dibesarkan berada di dusun Kedungsari, desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Tak ada angkot menuju dusun itu, hanya ada ojek dari Megaluh. Dusun kecil yang sebagian besar penduduknya sehari-hari bekerja sebagai petani itu―seturut cerita penduduk setempat―telah berkembang pesat menjadi desa wisata berkat Ponari dan batunya. Banyak penduduk yang kemudian berganti profesi menjadi pedagang. Menjadi pedagang tentulah lebih menguntungkan mengingat setiap harinya, ribuan orang tak mendatangi dusun Ponari, dari pagi buta hingga larut malam. Namun, sejak terjadinya peristiwa pasien meninggal akibat mengantri begitu panjang dan berdesak-desakan, praktek pengobatan Ponari hanya dibuka sejak pukul dua siang hingga empat sore setiap harinya.

Kusiapkan  kostum sebuah jas dan celana kain serta kupluk―layaknya seorang santri yang mondok di pesantren―dan berperan sebagai seorang pasien, dengan sasaran mengetahui dan mengalami prosesi pengobatan. Teman yang lain pun telah menyiapkan skenario masing-masing. Dalam observasi ini, aktor sebagai observer diminta untuk secara fisik berada di dan mengalami lingkungan obyek observasi, mencari data dan mengumpulkan cerita apa saja yang berkait dengan Ponari.

Kami bersebelas berada di Jombang selama tiga hari. Waktu yang sebentar tetapi banyak sekali cerita yang diperoleh dan situasi yang dialami. Mulai dari cerita seram Ibu Lurah tentang warga dusun Ponari, cerita asal-usul batu yang berbeda-beda versinya, hingga penelusuran pasien yang tak berujung.

Perjalanan kami lebih mirip dengan Ziarah ke makam Wali. Hanya ada jejak peristiwa dan cerita. Cerita-cerita itu seolah-olah meyakinkan betapa yang selama ini kulihat di televisi dan kubaca di koran-koran itu sungguh benar adanya. Ribuan orang pernah berdesakan dan mengantri untuk mendapatkan air celupan batu sakti, di sepanjang jalan yang kulewati  itu.

Saat aku mengunjungi dusun itu, Ponari sedang membangun rumah baru, masjid, taman kanak-kanak, jalan, hingga pagar tembok kuburan. Semuanya dikerjakan secara bersama dan bergotong-royong―menghancurkan cerita Bu Lurah tentang seramnya warga dusun itu. Cerita yang kami dengar dan realitas yang berlangsung saling bertabrakan, membingungkan. Seorang pasien yang menurut cerita penduduk sembuh setelah minum air Ponari―yang kemudian kami temui―ternyata sama sekali belum pernah berobat ke Ponari. Belum lagi, banyak orang yang mengaku masih kerabat Ponari menawarkan fasilitas ritual berobat, penginapan, serta cerita-cerita lain tentang khasiat batu Ponari.

Tapi apapun yang sebenarnya berlangsung, Ponari telah menjelma wali―bahkan lebih―bagi orang-orang yang keadaan ekonominya berubah setelah dibukanya praktek Ponari tersebut. Percaya atau tidak bukan lagi hal yang penting. Bagi mereka, lebih penting bagaimana agar pembangunan kampung bisa terus berjalan, dan keberlangsungan hidup serta kebersamaan mereka tetap terjaga.

Dari Observasi Menuju Presentasi

Sepulang dari Jombang, kami beranjak menuju camp selama tiga hari dan bergulat dengan penciptaan bentuk lewat praktik, diskusi, menonton video, dan menonton pameran lukisan. Kali ini kami bergelut dengan tubuh kami sebagai aktor, benda, dan ruang, sebagai konsekuensi dari gagasan dan bentuk teater yang telah kami sepakati sebelumnya. Dalam tiga hari kami mencoba mengolah apa yang kami cerap, alami, dan temui di Jombang (meskipun tidak menutup kemungkinan adanya pantulan pengalaman lain) melalui improvisasi. Gunawan Maryanto sebagai sutradara kemudian memilih beberapa peristiwa yang berlangsung dalam improvisasi tersebut, dan membawanya dalam rehearsal.

Sebulan kemudian, kami melakukan presentasi awal pada penonton terbatas atas pertunjukan yang sedang kami kerjakan (work in progress) dengan harapan mendapat masukan tentang pertunjukan yang hendak kami sajikan. Diskusi pun bergulir, catatan menempel di sana-sini. Sebuah catatan terbaca: “presentasi kalian sama sekali tidak mencerminkan bahwa kalian pernah pergi ke Jombang, banyak cerita yang hilang”. Sudah benarkah yang kulakukan?

Presentasi 'Bocah Bajang' di Studio Teater Garasi

Berkumpullah  seluruh tim, mengutak-atik dan mencari tahu apa yang sebenarnya berlangsung. Tak ada yang salah, hanya soal waktu dan seberapa berusahakah kami dalam memecahkan soal yang ada. Akhirnya sebuah dekrit turun dari sutradara kepada aktor: “Kembali baca catatan dan ingat kembali perjalanan dan peristiwa yang kalian alami di Jombang.”

Setelah libur selama dua minggu, kami kembali bertemu. Terkumpullah teks-teks dan semangat baru. Masing-masing aktor berhasil menuliskan teks dan menggarapnya, sutradara kemudian memberi arahan dan stimulan. Rasanya seperti baru saja terbangun dari tidur yang panjang. Mendapati semuanya telah berubah.

Proses Penciptaan – Observasi – Aktor

Salah satu peran yang kumainkan dalam pertunjukan “Bocah Bajang” adalah Pak Kardi, teksnya kutulis sendiri dan diedit oleh sutradara. Aku benar-benar pernah bertemu dengannya, bercakap langsung, dalam sebuah percakapan yang impresif. Ia lincah berbicara tentang Tuhan dan hal-hal gaib, ia juga mengaku sebagai paman Ponari.  Gaya bicaranya merubah pandanganku tentang penduduk desa tersebut. Aku menemukan dan mengingatnya setelah betul-betul membaca kembali catatan personalku atas observasi di Jombang. Ia membuatku teringat bahwa aku bukan wisatawan.

Dari situlah aku belajar tentang bagaimana aktor tidak hanya melakukan tapi juga membikin dan menghitung apa yang akan ia lakukan dan tawarkan sebagai bagian dari tim kerja. Percayalah, observasi sangat membantu aktor untuk mengalami dan atau berada dalam lingkungan dan peran yang akan ia mainkan. Maka saat kita tersesat ia akan menuntun kita, paling tidak membawa kita kembali ke jalan semula.

Sebagai sebuah terminal proses, “Bocah Bajang” dan observasi ke Jombang memberiku gambaran tentang bagaimana keaktoran sebagai sebuah disiplin dapat ditatap dengan berbagai macam jalan.  Bahwa keaktoran merupakan disiplin pengetahuan dan dapat kita pelajari. Bahwa dalam kenyataan di sekitar kita banyak hal, ihwal, dan ide.

Aktor adalah kreator, tidak melulu hanya medium. Barangkali ini bukan satu-satunya tetapi salah satu jalan yang bisa kuceritakan. Karena fiksi telah berelasi dengan kenyataan. Kenyataan diurai, dihancurkan, lalu ditata ulang menjadi fiksi, menjadi kenyataan yang lain. Suluk itu kemudian dinyanyikan, peristiwa-peristiwa itu ditubuhkan, digerakkan.

* Mohammad Qomaruddin, peserta Actor Studio 2006 dan 2009, aktor di Teater Tangga

Oleh: Muhammad Abe*

Bagaimana merangkai pertunjukan teater hari ini, saat kehidupan telah berubah menjadi begitu cepat dan karena itu menjadi keras? Segalanya menjadi begitu cepat, dan bisa lebih cepat melalui bantuan berbagai piranti teknologi. Waktu luang, sela di mana para pekerja teater membangun karya-karya dalam hitungan bulan, dan mungkin juga tahun, tentu kini makin sulit ditemukan. Waktu luang bagi anggota masyarakat, penonton yang menjadi penikmat teater juga kini makin sempit. Tapi kesenian tak mungkin hilang begitu saja, kehidupan yang cepat dan keras ini ternyata masih membutuhkan keindahan, atau perenungan, atau apa saja yang membuatnya jadi lebih berarti.

Malam tanggal 22 Oktober 2009 di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis, Gunawan Maryanto mempresentasikan karyanya “Bocah Bajang” bersama para aktor dari Actor Studio 2009 (program belajar keaktoran yang diadakan oleh Teater Garasi, red.). Gunawan Maryanto mendapatkan ide pertunjukannya atas pemberitaan media perihal kasus Ponari di Jawa Timur. Siapa yang tidak mengakses media hari ini? Gunawan, aktor-aktornya, dan semua penonton kemungkinan besar telah mengakrabi berita-berita tentang Ponari, dan karena itu mungkin punya pendapat sendiri tentangnya. Atas cerapan dan penelusuran Gunawan bersama teman-teman aktor hingga menyambangi desa tempat tinggal Ponari di Jombang itulah, pertunjukan “Bocah Bajang” dikerjakan.

Penonton mulai datang, berkumpul di luar auditorium saling menyapa dan berbincang. Mereka tentu sudah mengatur waktunya sedemikian rupa hingga malam itu mereka mendapatkan waktu luang untuk menyempatkan diri menonton pertunjukan “Bocah Bajang”. Dengan begitu, mereka bertemu pula dengan teman-teman yang lain, atau mungkin bertemu dengan teman baru.

Lalu pertunjukan dimulai. Penonton duduk memperhatikan dengan seksama sambil membawa sebotol air mineral yang dibagikan untuk para pembeli tiket, seperti orang-orang yang datang meminta berkah atau obat ke “dukun cilik” di Jombang itu. Cerita seperti halnya cerita Ponari mungkin menarik bagi banyak orang. Ia sempat dibicarakan secara luas, baik yang membahas segi kebenaran mistisnya, atau bahaya air Ponari dari sisi kesehatan, bagaimana desa tempat tinggal Ponari menjadi maju karena sumbangan para pasien, juga bagaimana Ponari bisa dilihat sebagai korban eksploitasi anak oleh orangtuanya, dan mungkin masih ada banyak sisi lainnya. Lalu di mana kesenian—dalam hal ini teater—berada di antara sekian banyak fakta, pendapat, serta mungkin fiksi yang berlalu-lalang perihal Ponari dan “kesaktiannya”?

Mungkin teater, seperti juga bentuk kesenian lain, sama sekali tidak punya hak untuk menentukan satu kebenaran tertentu. Soal itu tentu milik para ilmuwan atau mungkin otoritas negara. Maka malam itu sebenarnya bukan hanya Ponari yang diceritakan di atas panggung, melainkan bagaimana proses penciptaan pertunjukan ini berlangsung. Mungkin karena itu pertunjukan ini diawali dengan perkenalan para aktor, termasuk pendapat-pendapat mereka tentang Ponari. “Saya tidak percaya sama Ponari,” ucap salah satu aktor.

Tidak ada drama yang berbelit. Malam itu “Bocah Bajang” seakan-akan menjadi pintu masuk untuk menceritakan biografi proses pertunjukan ini. Ada bu Lurah yang selalu meminta maaf dan tidak mau membuka aib Ponari, tapi sebenarnya dia selalu menceritakan keburukan-keburukan Ponari. Ada tetangga Ponari yang mengaku menemukan batu yang menurutnya sangat berkhasiat, bisa membuat orang sakit jadi sembuh. Ada Ponari yang gemar bermain game, dan bandel kalau disuruh ibunya mandi. Ada para pasien Ponari yang datang dari jauh dan rela menginap untuk menunggu mendapat berkah dari batu Ponari. Mungkin orang-orang di atas benar-benar ada, dan peristiwa-peristiwa di dalam pertunjukan malam itu adalah semacam reka ulang peristiwa-peristiwa yang mereka alami di Jombang, dan juga di Jogja selama proses ini berlangsung.

Semuanya berlangsung di dalam satu ruang, dilatarbelakangi potongan-potongan berita Ponari dalam ukuran besar yang disusun seakan-akan membentuk tembok yang menjadi batas ruang pertunjukan. Para aktor masuk dari dua sisi, bergantian menuturkan cerita mereka masing-masing, tidak selalu sinkron, tapi menunjukkan banyak cerita tentang Ponari dan batu ajaibnya. Teater menjadi ruang untuk berdiskusi atas berbagai ide dan kenyataan di sekitar kita. Penonton boleh memilih mana yang mereka percayai, atau tidak. Mana yang mereka anggap sebagai fakta atau fiksi, toh kini tak ada batas jelas yang bisa memilah keduanya dengan tepat.

Ada satu dialog yang diucapkan salah satu aktor, “…… melihat Ponari kini adalah melihat sisa-sisa Jawa dari masa lalu.” Jawa  selalu identik dengan berbagai selubung yang mendampingi atau menutupi kenyataan memang. Pada awalnya adalah para raja yang mencari pengakuan atas kekuasaannya, namun di kemudian hari rakyat juga punya fiksinya sendiri. Kuntowijoyo pernah menyebutnya sebagai “budaya tanding”, ketika rakyat membentuk fiksi dan dongeng tentang kekuatan untuk melawan hegemoni kultural yang dijalankan para penguasa. Kuntowijoyo melihatnya lebih dari satu abad lalu di Solo. Kini Gunawan Maryanto mencermati fenomena ini kembali di Jombang. Mungkin saat ini kondisinya tak jauh berbeda dengan kondisi yang dicermati Kuntowijoyo pada awal abad ke-20: kita butuh fiksi tentang kehidupan yang lebih baik, kisah-kisah kekuatan yang melebihi kemampuan manusia biasa yang mampu mengintervensi kenyataan.

Kembali ke pertanyaan di awal, mungkin teater bisa berada di depan, menyatakan sesuatu; menghadirkan kenyataan di sekitar kita kembali. Atau kalau kenyataan terlalu “gagah”, mungkin teater bisa berada di depan mengajak masyarakat berbicara, tentang hal-hal sederhana yang mungkin sudah banyak dilupakan orang. Hal sederhana seperti, apakah sesuatu yang dipercaya itu fakta atau sekadar rekaan.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)


*****

Tim Kerja Bocah Bajang

sutradara Gunawan Maryanto aktor Budi Harto, Darmanto Setiawan, M. Bahar Sukoco, M. Qomaruddin, Siti Fauziah, Tita Dian Wulansari research & text development Nailil Muna penata musik Yennu Ariendra ilustrasi Andi Seno Aji penata cahaya Sugeng Utomo manajer panggung Nur Kholis ‘Brekele’ manajer produksi Reni Karnila Sari

Komentar penonton:

Secara teknis ada beberapa kesalahan (telat) lampu dan suara. Dari cerita termasuk bisa mengangkat hal yang sudah lama tenggelam dan memberi sudut pandang baru tentang Ponari dengan menceritakan Ponari dari sisi mistis dan ilmiah. Dari artistik, bayanganku akan ada banyak olah tubuh ternyata ini lebih mendekati riil. (Airani, mahasiswa pasca sarjana Ilmu Budaya dan Religi, USD)

Next Page »