November 2006


Oleh: Indra Tranggono*

Apakah teater realis itu?

Sebelum kita sampai kepada pengertian teater realis, ada baiknya kita mengenali dulu tentang makna realitasRealitas (reality) adalah segala kondisi, situasi atau obyek-obyek yang dianggap benar-benar ada di dalam dunia kehidupan, sebagai kebalikan dari apa yang disebut fiksi, ilusi, halusinasi atau fantasi (Yasraf Amir Piliang: 2004).

Berdasarkan pengertian tentang realitas di atas, maka dapat dikatakan bahwa hal utama atau pokok di dalam teater realis adalah kondisi, situasi atau objek-objek yang nyata. Nyata, artinya mereka bisa dikenali melalui panca indra dan logika umum/konvensional (common sense). Hal-hal yang serba nyata itu meliputi (1) ruang geografis (2) waktu terjadinya peristiwa, (3) pelaku, misalnya manusia, (4) benda-benda, dan (5) suasana/atmosfer. Lima hal itu menyatu di dalam apa yang disebut peristiwa dramatik.

Dengan demikian teater realis bisa dimaknai sebagai aktivitas estetis dan dramatis yang berbasis pada realitas berupa ruang, waktu peristiwa, pelaku (aktor), benda-benda dan suasana/atmosfer yang semuanya saling mengikat dan menyatu. Dengan cara itu, teater realis menghadirkan tafsir nilai atas kehidupan yang bisa diresepsi dan dipahami oleh khalayak penonton. Artinya, seluruh kehadiran realitas di ruang teater itu bisa diacu atau dirujuk berdasarkan realitas yang ada dan hidup dalam masyarakat. Meski demikian, bukan berarti semua hal yang disajikan teater realis merupakan laporan atau tiruan langsung dari kenyataan. Sebab, di dalam teater realis berlangsung transformasi estetis atas berbagai realitas yang ada di dalam ranah kehidupan publik. Dengan cara ini, teater realis terhindar dari bahasa ungkap dan ucap yang klise.

Di dalam teater realis dikandung dua ide pokok. Yakni, ide sosial yang mewujud dalam tema dan persoalan, dan ide estetik yang mewujud dalam bahasa ungkap simbolik. Ide sosial (tema dan persoalan) beroperasi di dalam wilayah gagasan atau pesan sosial (ingat, teater sesungguhnya merupakan tesis atas realitas untuk menemukan nilai-nilai kemungkinan). Lewat ide sosial itu, pelaku teater realis membangun jagat kisah yang membuka ruang dialog secara kognitif dan afektif terhadap penonton. Dari jagat kisah ini terbangun pula alur cerita atau plot (hubungan sebab akibat), perwatakan tokoh dan konflik.

Sedangkan ide estetik beroperasi di wilayah bentuk pemanggungan seperti penciptaan ruang permainan (set), seni peran/seni akting, sistem pengadegan, penciptaan irama pertunjukan, penciptaan suasana dramatik dan berbagai spektakel lainnya. Dengan kata lain, ide-ide estetik –yang mewujud dalam kreativitas estetis—merupakan piranti atau media yang memungkinkan ide sosial menjadi “daging” seni pertunjukan yang bisa dikenali, dipahami, dinikmati dan dihayati oleh khalayak penonton. Di sini, ketrampilan dan wawasan menjadi kunci.

*

Saya menduga, lahirnya teater realis memiliki hubungan dengan lahirnya faham humanisme dan eksistensialisme di Barat; dua faham yang mengedepankan human dignity (martabat manusia) dan guna mengimbangi (melawan) materialisme.

Di Indonesia, teater realis dikenalkan untuk pertama kalinya oleh grup Teater Maya pimpinan Usmar Ismail yang berdiri menjelang lahirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (sekitar tahun 1940-an). Seni pengadeganan (mise en scene) dan seni akting grup teater yang lahir di zaman Jepang ini berorientasi kepada aliran realisme, sebuah kecenderungan untuk “menjadi modern”. Dan orientasi ini berarti menjadikan Barat sebagai sumber estetikanya, yang kemudian dipertegas oleh Asrul Sani (kolega dekat Usmar Ismail) dan kawan-kawan dalam menyusun kurikulum pendidikan teater kita yang diperuntukkan bagi Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang didirikan di Jakarta pada pertengahan 1950-an. Drama-drama yang dipentaskan oleh ATNI pun lebih banyak merupakan terjemahan/saduran dari karya seniman Barat, antara lain karya William Saroyan, Rupert Brooke, WW Jacob, Anton Chekhov, August Strindberg, Nikolai Gogol dan Emmanuel Robles, selain karya penulis drama kita (Malam Jahanam karya Motinggo Boesye, Titik-titik Hitam karya Nasjah Djamin, Domba-Domba Revolusi karya Bambang Soelarto, Mutiara dari Nusa Laut karya Usmar Ismail dan Pagar Kawat Berduri karya Trisnojuwono (Ikranagara: Teater Nasional Indonesia, dalam Teater Indonesia, Konsep, Sejarah, Problem, Dewan Kesenian Jakarta, 1999).

*

Di Yogyakarta, keberadaan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia/ASDRAFI (Sri Murtono dan kawan-kawan) memiliki peran besar dalam pengembangan teater realis. Karena, realisme, bagi kampus ini merupakan orientasi pendidikan teaternya. Lahirlah antara lain aktor-aktor seperti Koesno Soejarwadi, Maroeli Sitompoel, selain sutradara teater dan film Teguh Karya.

Selain ASDRAFI juga ada peran “Kelompok UGM” yang ditulang-punggungi Umar Kayam, Soebagyo Sastrowardoyo dan kawan-kawan yang diantaranya pernah mementaskan lakon Hanya Satu Kali garapan sutradara Umar Kayam dengan pemain utama Rendra.

Di luar ASDRAFI dan “Kelompok UGM” muncul pula Teater Indonesia (Kirjomulyo, Iman Soetrisno dan kawan-kawan) yang banyak mementaskan naskah realis karya Kirjomulyo (Senja dengan Dua Kelelawar, Penggali Intan, dan lain-lain) dan karya Nasjah Djamin (Sekelumit Nyanyian Sunda), karya Bambang Soelarto (Abu dan lain-lain).

Teater Muslim (pimpinan Mohammad Diponegoro) yang di dalamnya juga bergabung Arifin C Noer, juga memiliki kontribusi nilai yang signifikan bagi perkembangan teater realis, salah satunya adalah lewat pementasan lakon lblis karya Mohammad Diponegoro. Ketika Teater Muslim ditinggalkan oleh Mohammad Diponegoro (karena meninggal) dan Arifin C Noer (hijrah ke Jakarta), Pedro Sudjono, seorang pengusaha tempe memimpin teater itu. Dipimpin Pedro, pada tahun 1980-an, Teater Muslim produktif mementaskan lakon baik di TVRI maupun di panggung yang salah satunya adalah Pedro dalam Pasungan yang sukses dalam mendatangkan penonton di Purna Budaya Yogya.

Selain Teater Muslim juga muncul Teater Ramada (A Adjib Hamzah dan kawan-kawan) dan Teater Kronis (Aziz Sumarlo dan kawan-kawan) yang juga giat mementaskan drama-drama realis.

Akhir 1980-an, Yogya bisa dibilang sepi akan drama realis. Pentas teater Yogya lebih banyak diisi oleh pementasan gaya non-realis seperti Teater Alam, Dinasti, Stemka, Arena, Shima, Gandrik dan lain-lain. Namun, dalam kesunyian itu, mencuat Teater Pusaka (Arifin Brandan, Bambang Susiawan dan kawan-kawan) yang mementaskan drama-drama realis seperti Durban Noto Alas.

Beberapa tahun kemudian (akhir 1999-an) muncul Teater Garasi dengan “Empat Penggal Kisah Cinta” dan Teater Gardanalla dengan lakon Tiga Dara dan lainnya.

*

Dalam perkembangannya, kenapa teater realis menjadi (pilihan) minoritas?

Di Indonesia, sejak tahun 1940-an, teater realis merupakan pilihan awal bagi para pelaku teater untuk mengukuhkan diri sebagai bangsa modern, setelah sebelumnya mereka mengenal teater tradisional yang tumbuh dan hidup dalam berbagai budaya etnik. Teater realis juga menjadi penanda penting bagi pilihan para pelaku teater Indonesia (Usmar Ismail, Asrul Sani dan kawan-kawan) atas budaya Barat sebagai orientasi estetik. Bahkan, pilihan ini dikukuhkan dengan lahirnya lembaga ATNI (Akademi Teater Indonesia).

Tumbangnya Orde Lama membuka kran kebebasan bagi sejumlah seniman teater Indonesia untuk mencari dan menemukan kemungkinan estetik lain di luar teater realis. Hal ini ditandai dengan munculnya ekspresi teater, yang oleh Ikranagara diistilahkan dengan “non-realis”, “eksperimental”, “alternatif”, “(kembali ke ) akar budaya”, “wajah Indonesia”, “pluralisme” dan “polyphony” yang ditokohi oleh Rendra, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, dan lainnya. Pilihan estetik teater oleh Rendra dan kawan-kawan itu menimbulkan gema dan pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan teater modern di Indonesia, hingga kini. Kenyataan ini, saya kira, yang menjadi faktor penting, kenapa teater realis menjadi (pilihan) minoritas.

Dalam konteks itu, teater realis, agaknya, dipandang sebagai media estetik yang kurang strategis untuk mengekspresikan berbagai kegelisahan estetis dan non-estetis. Selain itu, ada hal lain muncul: yakni “matinya” tokoh. Yakni, bergesernya tokoh berjiwa, berdarah-daging (tokoh psikologis) ke tokoh sebagai penyosokan pikiran/ide. Hal ini antara lain tampak pada drama-drama Arifin C Noer (Kapai-Kapai, Mega-Mega, Umang-Umang dan lain-lain), Putu Wijaya (Aduh, Tai, Lho, Los, Front dan lain-lain)  yang punya pengaruh besar dalam pekembangan teater di Indonesia. “Matinya tokoh” tersebut berdampak pula pada disiplin latihan seorang aktor. Para aktor tidak lagi berkutat pada persoalan seni peran yang njlimet seperti dalam teater realis (yang mementingkan detil dan kewajaran), melainkan lebih pada pola ungkap non-realis yang acuannya tidak hanya seni teater tapi juga seni tari Barat atau tradisional (Asia), teater tradisional (wayang, ketoprak, dagelan, tarling, lenong, srandul, cak, dan lain-lain),  pencak silat, dan lainnya.

*Indra Tranggono, pemerhati teater, tinggal di Yogyakarta

Disampaikan dalam pembukaan pameran “Jejak Realisme di Indonesia” oleh Perpustakaan Teater garasi, pada tanggal 4 Oktober 2006, di Pendopo Teater Garasi.

(terbit di skAnA volume 02, November 2006 – Maret 2007)

Advertisements

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Tanggal 19 September 2006, saya datang ke Markas AWI (Anak Wayang Indonesia) di Mergangsan untuk bertemu dan ngobrol dengan anak-anak tersebut. Siang itu saya ditemui oleh Gigon dan Viki, keduanya adalah senior bagi anak-anak AWI. Mereka berdua menyarankan agar saya datang lagi malamnya, sekaligus mereka mengundang saya untuk menonton pertunjukan mereka di Sapen. Malam itu saya sempatkan diri untuk menonton pertunjukan mereka di Sapen.

Pentas di pinggir rel ini ternyata gabungan dari musik perkusi, pertunjukan teater, dan pantomim. Dan ternyata mereka juga melayani request lagu-lagu yang diminta penonton. Pentas ini berjudul « Ko Ko Bako. Anak Jogja Anak Masa Depan ». Pemainnya berusia antara 8 – 22 tahun. Dan menurut informasi yang saya dengar mereka telah mementaskan pertunjukan ini hampir di 20 tempat di Bantul dan Klaten.

Setelah pentas, saya menemui mereka lagi. Tampak mereka sangat sibuk mengangkut setting dan alat-alat musik ke panggung, wajah-wajah mereka kelihatan lelah sekali. Akhirnya saya membatalkan wawancara malam itu dan berjanji akan datang hari Senin.

Hari Senin, pukul 15.30 WIB, saya datang ke Markas AWI di Mergangsan. Setelah membangunkan Gigon, yang kemudian memanggil teman-temannya untuk turut bergabung. Selanjutnya saya ngobrol-ngobrol bersama Mila (14 tahun), Nana (14 tahun), Gigon (20 tahun), dan Adi (21 tahun) yang lebih kerap dipanggil Kempor. Lalu datang juga Karina (18 tahun) yang baru pulang sekolah, namun bersedia untuk berhenti sebentar untuk wawancara. Berikut adalah petikan wawancara bersama mereka :

Berapa pertunjukan yang dilakukan AWI untuk program paska gempa?

Gigon:

Rencananya dulu kami pentas keliling di 10 tempat. Kita tentukan tempatnya, di mana saja kira-kira. Setelah itu kami menghubungi partner-partner kami yang kira-kira mau membantu secara finansial.

Nana:

Ya, dulu rencananya cuma 10 tempat saja.

Karin:

Biasanya kami di tempat pentas disediakan makanan, dijamu sama tuan rumahnya. Kalau tuan rumah tidak bisa menyediakan transportasi, kami berangkat sendiri.

Sudah berapa lama kalian aktif di AWI?

Karin :

8 tahun. Selama itu aku bisa kenalan sama teman-teman lain tidak hanya teman sekolah. Tapi juga teman-teman di kampung. Bisa ikut banyak kegiatan, tidak cuma di sekolah saja. Terus, jadi lebih enak dan berani ngobrol sama siapa aja. Di sini soalnya apa, ya? Beda mungkin. Aku kan belajar hal-hal yang nggak ada di sekolah; belajar nari, main teater, musik, terus pentas di mana-mana, bikin-bikin keterampilan, belajar nulis.

Gigon :

Nek Karin ki pengalamane jan jane sithik, ning dasare bocahe cerewet….ha ha ha ha (baca: Kalau Karin itu pengalamannya sebenarnya sedikit, tapi pada dasarnya anaknya cerewet…)

Mila & Nana:

5 tahun.

Anak Wayang Indonesia (AWI) secara resmi berdiri  pada tahun 1998. Gigon dan Viki adalah salah satu angkatan pertama di AWI. Mereka sejak kecil aktif di kegiatan-kegiatan AWI. AWI sendiri merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pendampingan anak-anak di wilayah perkotaan. Mereka membekali anak-anak dengan latihan keterampilan, latihan melukis, mendorong anak untuk berkarya dan menulis. Biasanya anak-anak binaannya ada yang kemudian meneruskan untuk membantu membimbing adik-adiknya seperti halnya Gigon dan Viki.

Dukungan orangtua terhadap kegiatan di AWI?

Kempor:

Kelihatannya gak ada banyak masalah. Soalnya biasanya kalau habis pentas, kami cerita sama mereka. Mereka jadi tahu kegiatan kita apa saja di sini.

Mila:

Orangtuaku gak ngelarang, tapi yang penting aku harus bisa bagi waktu antara AWI sama sekolah.

Kalau Nilai sekolah gimana?

Karina:

Ya itu sebenarnya tergantung dirinya masing-masing. Cuma kalau di sini kan harus pinter bagi waktu. Ya, soalnya piye, ya? Kita semua di sini, kan, masih sekolah, kita masih punya keluarga. Ya waktunya harus dibagi rata.

Gigon:

Kalau rata-rata, anak-anak sini lebih pede dan lebih pinter kalo disuruh ngarang daripada anak-anak yang lain.

Karina:

Lha, iya, Mas. Kalau aku pribadi jadi lebih pinter ngomong, ga takut diliatin orang banyak.

Pas gempa kemarin, teman-teman juga menjadi korban gempa?

Gigon:

Awalnya, ide itu muncul malah sebelum gempa. Waktu itu rencananya mau pentas di barak-barak pengungsian di Merapi, kan, waktu itu banyak juga yang mengungsi di sana? Nah, pas persiapan lha kok malah ada gempa di sini. kita sendiri jadi pengungsi. Terus, yang gedhe-gedhe kan ngobrol.  Gimana, ini? Kita sudah lelah di tenda terus. Maksudnya, ya gimana, ya? Kan bosen kalo tiap hari di dalam tenda. Lihat rumah sendiri ambruk, rumah-rumah tetangga ya ambruk. Tiap hari kok membersihkan brengkelan (reruntuhan) terus.  Masak ga ada yang lain? Terus, temen-temen ngumpul bareng dibantu sama salah satu pendiri AWI (dulu), kita bareng-bareng ngobrol bikin program pementasan ini.

Persiapan untuk program ini sekitar dua minggu, yang gedhe-gedhe mencari dana menghubungi daerah-daerah yang mau jadi lokasi pentas. Cari dukungan-dukungan. Tapi untuk pertunjukannya semua anak-anak terlibat. Pentas pertama itu tanggal 2 Juli di Imogiri, kurang lebih sebulan setelah gempa.

Kalau  motivasi temen-temen untuk pentas sebenarnya apa sih? Kok kalian begitu semangat sampai pentas 18 kali?

Gigon:

Kalau yang perempuan-perempuan itu awalnya niatnya mau cari cowok kok, Mas. Tapi ternyata di Bantul, cowoknya dah mati semua ketiban brengkelan. Hahahahaha (kami tertawa)

Nana:

Ya, buat cari temen aja, Mas. Aku kan belum pernah liat daerah gempanya secara langsung.

Mila:

Kalau aku pengin wae berbagi semangat sama anak-anak lain yang jadi korban gempa. Aku, ya korban gempa, tapi kan seneng kalau bisa buat temen-temen yang lain jadi tersenyum dan semangat.

Karina:

Mmm…, kalau dibilang jalan-jalan kan ya nggak etis, ya? Tapi ya mosok di  rumah diem aja. Sedih terus. Nanti kan malah trauma terus. Kan ya ada suka duka. Tapi kita harus tetap ceria, dan berbagi keceriaan. Ya memang kita itu korban gempa. Ya sedih, ya trauma, tapi anggap aja itu bencana, tapi kita harus tetep ceria.

Kempor:

Soale kalau aku ya bisanya cuma ngasih semangat buat mereka. Kalau aku disuruh menghibur, jelas kalah sama yang di TV. Ya, aku cuma ngasih semangat saja. Biar mereka gak stress terus.

Terus gimana cara kalian untuk mempersiapkan pentas ini?

Karina:

Ya pas habis gempa itu, kan, sekolah libur. Terus sempet masuk tapi kan cuma setengah hari. Jadi waktu itu, masih banyak waktu buat ngumpul. Kita koordinasi tiap hari. Ada jadwalnya. Besok kumpul mbahas cerita, terus ngumpul lagi bagi-bagi tugas. Kita bikin seksi-seksi.

Untuk program pertunjukan paska gempa, anak-anak AWI sepenuhnya mengorganisasikan diri mereka sendiri. Mereka membentuk kelompok dengan nama “Teater Jangkar Bumi”, mereka bergerak atas wadah itu dan tidak menggunakan nama Anak Wayang Indonesia. Menurut Gigon dan Viki, hal ini karena ide untuk program ini berasal dari anak-anak sendiri, bukan bagian dari program AWI. Soalnya waktu itu kantor AWI di Mergangsan sendiri rusak berat, dan tak dapat digunakan hingga kini.  Tapi kegiatan ini katanya didukung sepenuhnya oleh AWI. Hal-hal seperti mencari dana, hingga mengurus ijin keamanan sepenuhnya dilakukan oleh para anggota Teater Jangkar Bumi.

Terus gimana cara kalian biar selalu tampak ceria di pentas? Kan gak mungkin kalian pentas dengan wajah yang sedih, gimana kalian ngakali biar tidak nampak sebagai korban gempa?

Mila:

Kalau aku itu ceria terus, Mas. Gimana, ya? Aku memang nggak sedih-sedih banget. Tapi ya pokoknya kita tampilnya semangat. Kita niatnya baik kok, jangan sampai di sana malah yang nonton nglokro.

Nana:

Temen-temenku kan juga banyak yang jadi korban, terus aku yang omong-omong sama mereka. Takon-takon. Biar aku ya ngrasakke apa yang mereka rasakan. Terus, kalau pas pentasnya aku yo semangat. Soalnya yang nonton, kan, kebanyakan yang seumuran kita. Orangtua juga seneng pas tau aku mau pentas di tempat gempa.

Kempor:

Aku soale ga tak pikir banget-banget. Nanti kalau dipikir serius-serius, lha malah jadi stress berat. Ya mengalir wae, ya dipikirkan tapi gak terus-terusan menyesali kenyataan kalau aku itu ya korban gempa.

Kalau pas pentasnya, gimana hasilnya? Pernah gak kalian merasa wah ternyata kita pentasnya tadi kurang semangat, atau wah kita tadi kok malah nggak ceria?

Gigon:

Itu pas pentas pertama di Imogiri. Itu kesannya gimana, ya? Kita rasanya kok nggak ngasih semangat, yang nonton kok ya nggak ceria. Wah, lha kok rasanya malah jadi aneh. Soalnya pas itu kan pentasnya siang-siang, bapak-bapaknya kan kerja bakti, terus yang nonton ibu-ibu sama anak-anaknya saja. Tapi pas nonton kok keliatannya dha kepanasen, terus malah pindah-pindah nontonnya. Akhirnya banyak juga yang pulang. Padahal pentasnya belum bubar.

Semangat lagi itu, ya, di Canden, pas pentas kedua. Rasanya pentasnya kok kena. Yang nonton ya seneng, kita yang pentas juga seneng. Mungkin masalahnya di waktu pentas. Kita harus pintar-pintar menyesuaikan dengan masyarakat. Jangan sampai pentasnya terlalu siang. Tempatnya juga kalau bisa yang strategis, yang enak juga buat yang mau nonton. Mungkin pas di Imogiri itu karena pentas pertama, jadi kita juga nekat aja. Lha, kita kan belum pernah pentas di tempat pengungsian sebelumnya.

Pas di Banguntapan, itu yang nonton itu mbok ada sekitar 150-an anak yang nonton tapi ya rasanya kita nggak masuk. Wong yang nonton itu kebanyakan anak-anaknya kecil banget, jadi nggak dong sama ceritanya. Terus, mungkin karena pentasnya di dalam musholla, jadi banyak anak yang mau nonton itu sebenarnya pengin nonton, tapi cuma bisa nonton dari luar pagar. Ya, sebenarnya ada banyak faktor sih yang menentukan.

Di Klaten itu juga menyenangkan. Waktu itu ada dua bis yang njemput kita. Terus, bisnya itu njemput penonton-penontonnya dari desa-desa sekitar. Tapi pas itu yang nonton banyak banget dan, karena waktu itu banyak anak TPA-nya, jadi ada yang harus pulang. Padahal pentasnya belum selesai.

Terus, pentas kalian itu bentuknya gimana, sih?

Kempor:

Ya, pentas-pentasnya menyesuaikan sama kondisi tempatnya. Di serambi masjid, di kebun, di bekas reruntuhan rumah, di dalam tenda. Tergantung sama kondisi tempatnya. Kita menyesuaikan. Kan, ini pentasnya untuk menghibur korban gempa. Jadi, ini tidak terlalu ribet.

Apa saja pengalaman temen-temen pentas di daerah gempa?

Karin:

Ya, ada rasa seneng. Tapi senengnya bukan rasa seneng banget-banget. Sedih juga. Tapi ya sedihnya biasa, nggak terlalu berlebihan. Wong di sana kita kan mau berbagi semangat, malah kalau bisa jangan sampai mengingatkan mereka sama bencana yang lalu. Di pentasnya sendiri memang tidak ada kata gempa disebutkan dalam dialog. Pas pentas sebisa mungkin kata gempa tidak ketrucut keluar. Rasanya campur-campur.

Kempor:

Pas pentas pertama itu, wahhh.., rasanya nge-drop banget. Kita ke sana mau menghibur kok malah rasanya wajah-wajah kita itu kok malah jelek banget. Tapi ya terus gimana caranya kita tetap ceria. Biar dilihat itu kepenak, sambil menipu diri sendiri. Soalnya kalau ke wilayah gempa itu lihat anak-anak kecil pada tidur di dalam tenda, membayangkan gimana mereka tidurnya kalau malam itu kan dingin banget, apalagi sempet hujan juga. Kan ya gimana, ya, Mas? Sedih juga.

Mila:

Aku kesana ngeliat rumah teman-teman ambruk, dan panasnya di dalam tenda. Ada yang bilang kalau mau cari kamar mandi saja susah. Terus ngeliat orang-orang cacat, ngeliat kuburan massal. Ya itu pengalaman-pengalamannya.

Nana:

Kalau melihat yang nonton itu ketawa, seneng banget. Rasanya di hati itu plong banget. Ada kebanggaannya gitu. Tapi waktu itu, kalau pas di rumah ya kadang-kadang sedih mikir mereka yang gak bisa tidur di dalam rumah.

Kalian pentasnya itu mementaskan cerita yang sama?

Nana:

Pentasnya itu judulnya Ko ko Bako, Anak Jogja Anak Masa Depan. Itu pentasnya sama, paling berubahnya tidak  banyak dari pentas yang lain.

Pertunjukan ini diisi perkusi anak-anak sebagai pembuka acara, lalu pentas drama dengan judul ‘Ko ko Bako, Anak Jogja Anak Masa Depan’, dilanjutkan pertunjukan pantomim, dan kemudian ditambah dengan pembacaan puisi. Pertunjukan ini dipimpin oleh dua orang MC yang akan memandu acara-acara tersebut. Mereka juga berinteraksi dengan mengajak penonton untuk menyanyi bersama, menari, dan juga menawarkan kepada penonton bila ada yang mau menyanyi di panggung.

Yang membuat cerita, siapa?

Mila:

Bareng-bareng, Mas. Kita ngumpul bareng, terus ngobrol idenya dari kita apa saja. Semuanya ikut urun rembug.

Kempor:

Ada Mas Viki (Viki adalah salah satu anggota Anak Wayang Indonesia, yang paling senior. Ia juga merupakan angota Bengkel Pantomim Yoyakarta-pen) juga yang pengalamannya lebih banyak dari kita. Dia yang memimpin, memfasilitasi kita, ya kayak sutradara gitu. Kalau kata dia, kita itu seperti setitik api yang akan membakar titik-titik api saudara-saudara kita yang lain, yang padam karena bencana kemarin. Nggak tahu itu, Mas. Dapatnya kata-kata itu dari mana, ngambil kata-katanya siapa, saya juga nggak tahu. Sok-sokan kok (Viki). Kata-kata itu yang selalu diucapkan pas latihan atau pas mau pentas, biar kita tetap semangat terus.

Gigon:

Selain itu juga ada pembina-pembina yang lain, mereka juga ikut urun rembug. Seperti misalnya jangan sampai menyebut kata gempa. Itu ide yang kami dapat dari mereka. Mereka banyak memberi refleksi yang banyak berarti bagi kami. Terus mereka juga usul, mbok jangan cuma pentas thok, tapi juga ngasih workshop-workshop apa, gitu, yang kira-kira menarik buat anak-anak yang menjadi korban gempa. Tapi kalau bisa workshopnya yang ringan-ringan. Jangan yang butuh banyak pikiran, dan jangan sampai malah membebani mereka.

Berarti kalian tidak Cuma pentas thok, tapi memberi workshop juga?

Gigon:

Dulu rencananya seperti itu, tapi ternyata cuma bisa dilakukan di Klaten. Jadi, di Klaten itu dua hari. Satu hari pentas, satu hari workshop. Tapi gimana, ya? Karena kita juga takut kalau nanti malah jadi beban buat mereka, atau malah nggak direspon sama masyarakat, kan, gimana gitu, Mas. Ya akhirnya yang bisa cuma di Klaten saja. Karena waktu itu kan juga banyak isu, Mas.

Berarti kalian ini pentas 18 kali dalam jangka waktu berapa bulan? Kalau dihitung setelah pentas pertama tanggal 2 Juli?

Gigon:

Kan, rencana awalnya cuma 10 tempat thok. Tapi terus dari tanggal 2 sampai 31 Juli itu kami pentas 14 kali. Terus ditambah lagi pentas-pentas sekarang ini 18 kali, terus minggu depan (tanggal 22 September) kami pentas terakhir. Totalnya 19 kali selama kurang lebih tiga bulan. Karena kemarin itu kami juga dapat bantuan dari Sheep (salah satu LSM yang juga terlibat dalam penanganan paska gempa), mereka juga punya daerah-daerah dampingan. Kami ditawari pentas di daerah dampingan mereka, nanti biayanya ditanggung mereka.

Berarti selama bulan Juli rata-rata kalian pentas seminggu 3 kali?

Gigon:

Lha, iya. Pernah itu hari Sabtu, Minggu, Senin kami pentas 4 kali. Hari Senin dua kali, pagi pentas di Tembi, Bantul. Sorenya pentas di Taman Pintar, Yogyakarta.

Mila:

Tapi pas itu, pas libur sekolah. Jadi sebenarnya tidak terlalu masalah sih. Kebanyakan kan teman-teman masih anak-anak sekolah. Jadi kalau seperti aku, kalau tidak sekolah tidak ada kegiatan lainnya.

Karina:

Ada pentas yang lucu. Waktu itu pas di Taman Pintar. Pas di tengah pentas, lha malah ada selingan pengumuman kehilangan anak. Waktu itu seorang pengunjung kehilangan anaknya yang sedang berada di arena Taman Pintar.  Pentasnya terus bubar, karena semua orang sibuk mencari anak yang hilang.

Ceritanya ini memang untuk anak-anak?

Gigon:

Ceritanya itu sebenarnya untuk siapa saja. Kami ingin memberi hiburan. Hiburannya ini untuk semua orang, siapa saja. Cuma yang main memang kebanyakan usia anak-anak, ceritanya sederhana saja, tidak terlalu rumit dan njlimet. Terus kalau ada hiburan-hiburan seperti itu, kan, yang datang menonton kan kebanyakan anak-anak, Mas. Soalnya orangtuanya memang sudah tersita waktu dan tenaganya untuk ngurusi rumah.

Kalau di kampung kalian sendiri bagaimana? Apa kalian juga terlibat dalam program paska gempa di kampung kalian?

Kempor:

Ya, yang paling kerasa itu ya pas acara 17-an kemarin itu, Mas. Kita yang mempersiapkan acaranya, kita yang ngisi acaranya, kita yang buat settingannya, wah, pokoknya pas itu semua anak muda kampung ikut bekerja. Soalnya kan yang tua-tua sibuk ngurusi rumah dan keluarganya, Mas. Jadi memang yang muda-muda yang harus bergerak.

Waktu acara 17-an itu kalian juga pentas?

Gigon:

Wah, waktu itu semuanya lengkap tampil. Kami ya main pentas yang sama seperti pentas di tempat lainnya. Tapi temen lain yang bisa main musik ya diajak pentas, ada band-band-an juga, Mas. Malah Shaggydog (salah satu band yang terkenal di Yogyakarta-pen) waktu itu juga main disini.

Setelah pengalaman pentas di wilayah-wilayah gempa, kalian masih merasakan trauma karena gempa?

Mila & Nana:

Ya, Mas. Kadang-kadang suka merinding kalau dengar suara gemuruh.

Kempor:

Kemarin pas pentas di Sapen (tanggal 19 September mereka pentas di Sapen -pen), kan tempatnya persis di sebelah rel kereta api. Lha pas kereta lewat, kan, suaranya mirip banget sama pas gempa kemarin. Wah, itu saya kira gampa susulan, Mas. Pas itu juga  panggungnya ikut goyah, rasanya persis seperti gempa betulan.

Karina:

Iya, Mas. Waktu itu saya takutnya beneran, kok malah ditertawakan sama penonton-penontonnya?

Akhirnya Karina minta pamit karena ia harus membantu ibunya di rumah. Begitu juga dengan Nana dan Mila yang minta pamit kemudian. Karena hari sudah beranjak petang,      saya juga cukupkan sampai disini wawancara saya dengan anak-anak Teater Jangkar Bumi, atau bisa juga disebut anak-anak AWI itu.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 02, November 2006 – Maret 2007)

Oleh: Andy SW *

Surat tersesat

Semula berawal dari sebuah surat yang berminggu-minggu tersesat salah alamat. Pertama saya akan bercerita tentang perjalanan surat tersesat:

Sepucuk surat itu saya terima di ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film Indonesia) pada minggu pertama bulan Agustus 2005 dari Dosen Seni Rupa Institut Seni Indonesia; Bapak Andang. Surat itu tersesat di rumahnya. Entah siapa pengirimnya? Saya sendiri baru tahu kalau seharusnya menerima surat tersebut setelah mendapat kabar dari seorang teman. Saya dibawanya menemui pegawai Taman Budaya Yogyakarta, dan diberitahu kalau surat itu tersesat di rumah Pak Andang. Malam harinya saya diajak janjian di ASDRAFI untuk mengambil surat itu. Maka sampailah surat itu ke tangan saya. Ternyata surat tersebut dari Camat Mantrijeron Yogyakarta. Isinya: sebuah undangan untuk mengikuti Festival Teater Kampung se-kotamadya Yogyakarta. Lalu kenapa surat tersebut sampai tersesat? Kenapa surat yang dialamatkan ke sanggar itu bisa sampai di tangan Pak Dosen? Begini ceritanya: Pada bulan april 2005 sanggar saya, Garputala, pernah mengadakan acara pentas drama, peluncuran bulletin, pameran seni rupa anak-anak kampung dan keroncong di kecamatan selama tiga hari. Pak Camat mendengar nama sanggar saya tapi tak tahu alamat persisnya. Maka begitu ada undangan untuk mengikuti festival tersebut, di amplop ia hanya menulis nama Sanggar Garputala saja. Lalu beliau menyuruh bawahannya untuk mencari alamat sanggar. Rupanya sang Bawahan sama tak tahunya. Mungkin karena frustasi lalu ia asal menyampaikan surat tersebut ke tangan seseorang yang menurutnya berkaitan dengan kesenian, ya Pak Dosen tadi tentu saja. Ya… Begitulah ceritanya. Sungguh ribet dan ya ampun!

Tapi biar bagaimanapun surat itu telah saya terima, maka saya berhak membaca dan mempelajari seluruh isinya. Surat saya baca sambil tiduran. Setelah membaca persyaratan peserta di sana, jelas-jelas sanggarku tak memenuhi syarat, sebab salah satu syaratnya adalah festival harus diikuti oleh warga kecamatan setempat sedang anggota sanggar semuanya dari luar kecamatan, kecuali aku.

Surat itu memang menggelisahkanku. Aku percaya ini akan menjadi sesuatu yang seru, keren, membingungkan sekaligus menjadi kenangan seumur hidup. Kulipat surat menjadi pesawat, kuterbangkan dan kutinggal tidur.

Dari pintu ke pintu

Petang hari 11 Agustus 2005, kuketuk pintu Pak Camat. Ia terlihat kikuk sedangkan aku malah bingung sendiri. Segera kujelaskan tentang maksud dan tujuan surat itu. Kuterangkan bahwa Sanggarku tak memenuhi syarat. Bahwa Festival teater itu harus diikuti warga asli kecamatan.  Ia hanya diam manggut-manggut seolah menyerahkan semuanya kepadaku. Lalu kukatakan kepadanya, bagaimana kalau bapak dan warga ikut membentuk sebuah kelompok teater untuk mewakili kecamatan? Pak Camat agak bingung  menangkap usulku. Ya, aku tahu dia malu menanyakan bagaimana cara membentuknya?

Ok. Aku menjelaskannya: Bapak tinggal membuat undangan kosong dibubuhi tanda tangan dan cap kecamatan, nanti biar saya yang mengisi nama dan menyebarkannya.

Pak Camat sepakat dengan usulku.

Pagi harinya kuambil lima belas undangan kosong. Aku jadi bingung sendiri mengisi siapa yang musti kuundang? Aku baru sadar kalau orang-orang itu baru ada dalam imajinasiku saja bahkan beberapa ada yang sama sekali belum kukenali namanya. Membingungkan, kan? Baik. Aku menentukan waktu dan tempatnya, kutulis tanggal 15 Agustus 2005. Waktuku hanya dua hari membagikan undangan. Lalu kudatangi rumah  Bapak Widodo  untuk minta ijin menggunakan tempat untuk pertemuan. Pak Wid,  begitu aku memanggilnya, adalah bekas pengurus kampung yang legendaris. Saat Pak Wid menanyakan alasannya jawabanku singkat, hanya ingin saja dan dia agak tidak percaya kalau Pak Camat akan datang. (Alasanku yang sebenarnya Bpk dan Bu Wid tipe orang yang dapat menerima bermacam orang dan masalah konsumsi pasti beres) Setelah Pak Wid mengijinkannya, baru kutulis nama orang-orang yang akan diundang. Semula aku berpikir, bahwa kegiatan ini membutuhkan orang yang tertarik dengan seni, tapi pikiran itu segera hilang karena aku tidak tahu orang-orang dalam imajinasiku itu suka seni atau tidak.

Aku memilih orang-orang yang kuanggap asyik dan cuek. Sebagian aku mengenalinya, sebagian lain hanya sekadar tahu dan beberapa—bahkan—sama sekali belum kutahu namanya—aku hanya sering melihatnya lewat di depan rumahku. Satu persatu kudatangi rumahnya dan kujelaskan maksud undangan tersebut. Aku merasa seperti salesmen kosmetik, tapi aku senang karena para undangan menyambutnya dengan baik dan mau hadir dalam pembentukan teater.

Setelah selesai, kuhibur diriku dengan membantah atau mengatakan bahwa diriku bukan salesmen kosmetik tapi kubayangkan diriku seperti Pangeran Kecil dalam novel Antoine de Saint – exupery yang   bertemu bermacam orang dari planet ke planet. Tidak keterlaluan, kan?

Pertemuan demi pertemuan

Pertemuan pertama terjadi pada tanggal 15 Agustus 2005 di rumah Bapak Widodo. Hampir semuanya hadir  termasuk Pak Camat dan Pak RW. Tidak semua yang hadir berasal dari satu kampung tapi ada empat kampung (Mijen, Kradenan, Dukuh dan Suryowijayan) yang berada di wilayah Kecamatan Mantrijeron. Acara dibuka oleh Pak Camat dengan memberi ulasan maksud dan tujuan dibentuknya Teater. Ada yang membuatku agak kaget saat Pak Camat bilang: dari kecamatan hanya bisa membantu dana pendaftaran sebesar seratus ribu rupiah. Kukira kecamatan akan membiayai sepenuhnya. Setelah semuanya paham Pak Camat pamitan untuk menghadiri acara yang lain, disusul Pak RW. Kemudian kami saling mengenalkan diri satu persatu agar lebih akrab. Ternyata ada yang mahasiswa, pedagang, tukang, penganggur, pengrajin, pelajar, guru, preman, seniman dan yang paling keren mantan pejuang 45 (sayang tak diakui negara).

Hal pertama yang dibahas soal nama teater. Semuanya bingung. Lalu aku bertanya kepada Mbah Temu (mantan pejuang 45), dia langsung menjawab “Kalau saya ya, Temu!” Serempak semua tertawa karena mengira Mbah Temu salah tangkap dengan pertanyaanku—aku tak sedang menanyakan namanya—dan ternyata perkiraan itu salah. Ia menjelaskan tentang falsafah nama Temu, bahwa teater ini ada karena pertemuan. Maka ia mengambil kata dasarnya: Temu.

Oke. Nama sudah ketemu. Selanjutnya kami membentuk Tim Produksi dan Tim Artistik lengkap dengan cara kerjanya masing-masing. Pertemuan pertama selesai pada tahap pembentukan Tim. Pipit Ambar Mirah (Mahasiswa Pertanian) terpilih jadi Pimpro. Aku terpilih menjadi Sutradara. Sudah kuduga pasti semua mengira aku berpengalaman dalam teater, padahal seumur hidup baru kali ini aku akan menjadi Sutradara. Pimpinan Produksi kebingungan mencari modal awal, karena setelah mendaftar dan mengambil naskah ternyata dana sebesar Rp 250.000,00 dari panitia belum turun. Kami menemui Pak Camat untuk mengusulkan mencari dana tambahan lewat proposal resmi bercap kecamatan dan meminjam uang dari kecamatan untuk modal awal sebesar Rp 250.000,00. Semalaman kami membuat proposal dan pagi harinya langsung diperbanyak menjadi 25 proposal resmi cap kecamatan. Malam harinya kami rapat mencatati calon donatur dan membagi tugas penyebaran proposal di bawah koordinasi seksi usaha dana, Bapak Jarot, yang kebetulan sudah berpengalaman kerja mencari dana lewat proposal. Sementara tim produksi bekerja, Tim Artistik menentukan jadwal latihan dan merancang gambaran setting dalam naskah.  Kami mengambil naskah “Megatruh” Karya Noor WA.

Pada tahap awal latihan membaca naskah aku sangat terkejut. Jumlah tokoh tak sebanyak orang yang ingin jadi aktor dan dialog-dialognya panjang hingga sulit dihafal. Semuanya mengeluh. Jadi saya harus mengadaptasi naskahnya dengan menyingkat dialog, menambahkan figuran dan menyesuaikan kalimat sesuai kemampuan pemain tanpa mengubah isi naskahnya. Lembar demi lembar naskah dibagikan sampai semua selesai. Oya, saya menambahkan kalimat dibawah judul “Kisah Orang-Orang Tangguh” sebagai pertegasan karakter pemain. Proses penggarapan selama sebulan lima hari. Dua puluh delapan kali latihan. Sebagai Sutradara saya membiarkan mereka berakting sebebas-bebasnya dan memberikan gambaran karakter juga keadaannya. Semuanya saya kembalikan pada keadaan hidup yang membentuk setiap pemain karena itulah bekal kekayaan yang dapat disumbangkan dalam bermain drama. Kadang saya menjadi galak kalau ada yang sulit diterangkan dan memberi contoh aktingnya. Kadang juga pemain menyutradarai diri sendiri. Seru, kan? Pada minggu ketiga pemain sudah dapat menyesuaikan panggung tinggal arahan teknis dan penyelarasan dengan musik. Para pemusiknya dari grup musik mushola.

Sementara itu kerja. Tim Produksi tak ada masalah, hampir semua donatur yang sebagian besar para pengusaha di wilayah Mantrijeron memberikan sumbangan berupa uang dan barang dagangan, yang agak aneh ada yang menyumbang payung, Jam dinding dan jajanan anak-anak.

Alhamdullillah kerja produksi dan artistik berjalan seiring. Poster, booklet, konsumsi, dokumentasi dan kebutuhan artistik dapat terpenuhi. Pertemuan demi pertemuan kami lewati, banyak suasana dan peristiwa baru kami alami bersama dan semakin saling kenal.

Panggung menjadi ajang Tamasya

Tanggal 20 Oktober 2005 di Kecamatan Mantrijeron, pementasan dilaksanakan. Penontonya lumayan banyak, dari balita sampai orang tua. Yang paling menarik ada beberapa pedagang rela menutup warungnya demi melihat pertunjukan. Kami semua gembira saat pentas di panggung, meski ada beberapa kesalahan. Ternyata yang paling ribet adalah tukang fotonya karena ada beberapa pemain minta dipotret saat adegan tertentu. Panggung menjadi ajang tamasya saat pementasan usai, banyak pemain yang berfoto dengan istri, saudara, dan tetangga dengan background setting panggung. Keren kan? Sebenarnya terjadi banyak pementasan, antara penonton yang asyik berpolah tingkah dan entah bicara apa dengan tetangga sebelahnya dan pemain di panggung.  Sungguh tak kan mungkin terlupa seumur hidup. Aku jadi merasa aneh jika harus perpijak pada penilaian juri dan memaksa target kwalitas pementasan, karena ada banyak sudut pandang yang harus dimengerti saat teater berada dalam masyarakat kampung. Begitulah cerita kelahiran teater kampung.

Setahun Lika-Liku Perjalanan.

Tak perlu saya sampaikan bahwa kami mendapat berapa tropy karena yang ikut hanya empat kecamatan se-kota madya Yogyakarta. Yang jelas juara umumnya bukan kelompok kami tapi kami tetap mengadakan syukuran bersama dengan mengadakan tumpengan dan bancakan yang diikuti warga sekitar termasuk Pak Camat.

Pertama saya mengira setelah pementasan usai kelompok ini akan menyudahinya keberadaannya. Semangat festival biasanya seperti itu, kan? Ternyata teman-teman masih punya semangat untuk meneruskan perjalanan dan mengadakan pementasan lagi. Wah, saya jadi pusing sendiri dan gelisah lagi. Saya sendiri tidak tahu apa yang menyemangati?

Pada bulan Oktober dan November kami mengisinya dengan sekadar berkumpul,  latihan drama-dramanan, dan ada teman, mahasiswa jurusan bahasa Inggris yang iseng mengadakan kelas bahasa Inggris. Oya, dana kami tinggal 100.000,00 dan belum mengembalikan hutang. Saya katakan pada Pak Camat apa adanya, kami akan mengembalikan kalau produksi sudah jalan kembali. Pak Camat setuju. Tapi anehnya hampir selama dua bulan setelah kesepakatan itu, bawahannya sering datang ke sanggar menagih hutang, sampai pacar saya marah-marah terus tak habis piker, saya bisa punya hutang dengan kecamatan. Saya merasa lega setelah Pak camat sendiri mengabari kalau kami akan dapat sumbangan dari walikota untuk kesenian sebesar 1 juta rupiah. Langsung saya ambil untuk melunasi dan sisanya untuk modal produksi.

Bulan Desember 2005 saya membuat naskah drama bahasa jawa berjudul Lelakon (urip dilakoni kanthi waras lan trengginas).  Tokoh-tokoh dalam naskah disesuaikan dengan minat anggota yang masih berkeinginan main di panggung. Proses kali ini memang dirancang agak panjang, selama enam bulan, biar lebih santai mencari dana dan mantap dalam penggarapannya. Tim kerja tidak berubah. Rencananya akan pentas keliling. Seminggu sekali kami latihan.

Bulan Januari 2006 porsi latihan dinaikkan menjadi dua kali lipat tapi tidak penuh karena banyak yang punya acara. Sementara tim produksi mulai bekerja dengan sistem kerja masih sama. Saya merasa kali ini akan banyak menemui kesulitan. Pada minggu ketiga proposal sudah mulai disebar. Kami masih bersemangat dalam menjalani proses. Bulan Februari kami merasa semangat mulai mengendur karena beberapa tokoh berguguran di tengah jalan, meski mereka masih mau membantu di belakang layar. Alasan kemunduran mereka kebanyakan karena masalah sekolah dan jam kerja. Otomatis naskah juga berubah. Jadwal latihan masih dua kali seminggu dan tetap saja jarang bisa lengkap. Produksi juga mengalami hambatan karena hanya beberapa pengusaha yang mau memberikan sumbangan. Bulan Maret mulai muncul semangat baru setelah berembug bersama untuk menyikapi jadwal latihan dan penggunaan dana. Latihan ditambah menjadi tiga kali seminggu dengan penggarapan peradegan. Kami saling membuat kesepakatan dengan lawan main. Rupanya semangat itu tidak tahan lama. Karena kalau pemain tidak datang semua suasana jadi sepi. Pada bulan ini kami mendapat kabar dari Taman Budaya bahwa ada program pentas seni drama tradisi dengan dana 3 juta untuk setiap grup. Kami mendaftar karena kebetulan mengangkat naskah berbahasa Jawa. Angin segar mulai bertiup.

Bulan April  (ada yang menyebalkan! Proposal berhenti) kami kembali bersemangat latihan dengan meneruskan garapan yang sudah mulai tertata dengan musik Tapi sayang ketika pihak dari Taman Budaya meninjau latihan, kami tak diperbolehkan menggunakan peralatan modern (gitar listrik) padahal pemusik sudah menemukan irama yang pas. Yah, terpaksa kami menurut. Sedang Tim produksi mulai tak terkoordinasi kerjanya dan alokasi dana menjadi boros untuk konsumsi dan biaya operasional. Bulan Mei kami mulai merapatkan barisan bekerja secara kompak, karena jatah main tanggal 24 Juni 2006. Kami juga sudah menyampaikan surat izin di dua tempat untuk pentas. Opps! baru semangat-semangatnya latihan. Separoh adegan sudah jadi. Eh, ada gempa 27 Mei. Otomatis kegiatan dihentikan kebetulan Sanggar juga retak parah sekali.

Total tak ada kegiatan. Masing-masing orang sibuk dengan kata trauma. Kami segera mengadakan rapat darurat, dan memutuskan menunggu keadaan menjadi normal. Dua setengah bulan sudah kami dibelenggu perasaan was-was dan mencemaskan. Rasanya sangat berat sekali untuk mengembalikan semangat, sudah terlalu lama kegiatan dihentikan. Pelan-pelan kami mulai membangun komunikasi lewat sms dan pertemuan sehari-hari. Pada minggu ketiga bulan Agustus  kami bertemu kembali untuk merancang pentas dan mengobarkan semangat. Rupanya dana kami semakin menipis untuk berbagai keperluan operasional, konsumsi dan kebutuhan artistik. Beruntung proposal yang diajukan ke gubernur tembus. Kami menerima bersih Rp 450.000,00 lalu untuk membuat panggung. Total dana tinggal 400.000,00. Selama dua minggu kami benar-benar latihan intensif dan pentas di kecamatan lagi. Kami merasa lega meskipun hanya mengulang kejadian seperti satu tahun yang lalu. Perasaan lega. Lebih bebas berekspresi. Penonton lebih banyak. Ada semangat yang lebih hebat setelah pentas.

Keringat itu menjadi kesadaran.

Yogyakarta, September 2006

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 02, November 2006 – Maret 2007)

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Saat membaca poster acara “Parade Puisi Putra Bangsa” saya kaget melihat keterangan tempatnya, kok di Plasa Serangan Umum 1 Maret? Berarti di ujung Jalan Malioboro. Melihat hari acara yang tanggal 19 Agusutus yang berarti pula malam Minggu. Aha! Acara ini memang ditujukan untuk mencuri perhatian para pemuda pemudi. Bagaimana tidak, Malioboro di malam minggu adalah pusat keramaian dan tongkrongan anak-anak muda Yogyakarta, biasanya di sepanjang jalan Malioboro diadakan acara-acara musik, Plasa Serangan Umum sendiri biasanya dipergunakan untuk acara musik-musik rohani atau pertunjukan wayang. Tapi Parade Puisi ? Berapa banyak generasi muda yang menyenangi acara pembacaan puisi?

Tapi panitia acara ini tentu punya banyak pertimbangan lain yang berbeda dengan saya untuk menentukan pilihan tempat dan waktu acara. Karena ternyata dengan disponsori sebuah perusahaan rokok, panitia acara ini nampaknya cukup mendapat support untuk membangun panggung dengan dua layar ukuran besar di kanan kirinya, ditambah lagi menyewa sound yang sangat “mumpuni” untuk pembacaan puisi, yang menghadap ke jalan Malioboro yang ramainya bukan main malam hari itu.

Parade puisi ini adalah rangkaian dari acara untuk menyambut ulang tahun kota Jogja yang ke-250. Rangkaian acara ulang tahun Jogja kali ini sendiri bertajuk “Bangkit Seni Budaya Jogja!”, tentu ini berkaitan dengan bencana gempa yang baru saja mengguncang daerah Jogja dan Klaten. Dalam sambutan-sambutan yang dituliskan Gubernur Jogja, walikota, dan penyelenggara di katalog acara semuanya bernada sama, acara ini sebuah momentum untuk menyebarkan semangat lagi untuk membangun Jogja kembali seperti keadaan semula.

Parade Puisi ini menghadirkan Taufik Ismail, Evi Idawati, Whani Dharmawan, Yudi Ahmad Tajudin, Landung Simatupang, Darmanto Jatman, Emha Ainun Nadjib, dan W.S. Rendra. Semuanya adalah nama-nama yang sudah dikenal luas sebagai penyair maupun sastrawan di Jogja, maupun Indonesia. Semua nama-nama tersebut pernah mengalami proses kreatif di kota ini. Selain itu tampil pula Rona Mentari, seorang penyair dan dai cilik dan Lindi Chistia Prabha, runner up Putri Indonesia yang malam itu didaulat membaca puisi.

Para penyair tampil dengan gaya mereka sendiri-sendiri, membacakan puisi, monolog, atau cerita pendek. Landung Simatupang yang lembut dan bersahaja, Whani Dharmawan yang penuh semangat tapi tetap ‘ndhagel’, Taufik Ismail yang sudah kelihatan berkeriput dengan topi pet hitamnya yang khas tapi tetap berusaha kelihatan bersemangat, romantisme Darmanto Jatman yang dibaca dengan gaya bertutur, dan tentu saja W.S. Rendra yang menutup acara dengan sisa-sisa masa kebesaran kepenyairannya.

Kalau ada yang tampil beda mungkin Yudi Ahmad Tajudin, yang membacakan puisi “Masyarakat Rosa” dari Afrizal Malna, ia tampil ditemani dua orang wanita yang menjadi suara latar diiringi musik techno, dan tampilan video di kanan-kiri panggung. Meski terganggu karena matinya mikrofon yang digunakan dua orang wanita pengiringnya, ia menjadi satu-satunya penyair yang tampil dengan diiringi musik pada malam hari itu. Selain itu ada Emha Ainun Nadjib, tampil dengan kaos warna merah menyala, kalau tidak salah bergambar wajah Mao Zedong. Saya tidak yakin ia menyebut judul puisi yang dibacakannya atau siapa yang menulisnya. Tapi yang jelas puisi yang dibaca dengan begitu berapi-api dan penuh nada kebencian itu berisikan tentang hinaan, ejekan, pisuhan, dan pembunuhan seseorang yang begitu direndahkannya, di akhir puisinya ia menyebutkan nama orang itu tak lain adalah dirinya sendiri. Tentu saja ia disambut tepuk tangan riuh rendah dari penonton yang memadati acara tersebut. Ia tampil begitu berapi-api malam hari itu hingga wajahnya merah saat ia mengeluarkan teriakan panjang khasnya.

Para penonton duduk lesehan di halaman plasa Serangan Umum 1 Maret, banyak pula yang menonton dengan berdiri di luar pagar. Tapi dari pengamatan sekilas saya, sebagian besar di antara para penonton adalah anak-anak muda. Mungkin ketakutan yang saya tulis di awal tadi tak beralasan, mungkin dunia puisi sudah tidak menjadi barang yang asing bagi anak muda sekarang.

Selesai acara, perlahan-lahan para penonton pulang. Hingga kemudian tempat pertunjukan hanya tinggal beberapa orang saja, kru yang bertugas membersihkan panggung, dan para penjual rokok. Saya tak melihat wajah-wajah yang menjadi bersemangat atau menjadi ceria setelah acara ini berlangsung, saya tidak melihat ada kegembiraan yang ditunjukkan para penonton selesai acara tersebut.

Kalau berpikir mengenai tema acara, berapa banyak orang-orang yang menjadi korban yang sebenarnya dalam arti material dan spiritual yang datang menonton acara ini? Apakah mereka masih punya tenaga untuk sekadar mendengarkan orang membaca puisi? Apakah mereka masih berpikir tentang merayakan ulang tahun kotanya yang ke-250? Atau sebaliknya, apakah kalau mereka mendengarkan orang-orang membaca puisi, kemudian langsung gumregah bersemangat, atau “bangkit” menurut bahasa yang digunakan penyelenggara? Ah, hanya pertanyaan-pertanyaan itu tersisa ketika saya mengambil motor untuk segera pulang ke rumah saya yang masih utuh. Semoga saja itu hanya ketakutan-ketakutan saya.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 02, November 2006 – Maret 2007)

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Ketika saya datang ke Jogja tiga tahun lalu, saya sama sekali tidak mengenal dunia seni pertunjukan di Jogja. Selama setahun pertama saya hanya menonton satu-dua pertunjukan yang segera saya lupakan keesokan harinya. Pengetahuan saya tentang seni pertunjukan di Jogja hanya sebatas melalui berita-berita di harian tertua di Jogja.  Porsinya hanya berita-berita pendek yang seringkali tidak memberikan apa-apa kecuali informasi mengenai para kelompok yang mengadakan pertunjukan, pun diselingi dengan banyak salah ketik atau salah ejaan di dalamnya.

Kemudian saya bergabung dengan Teater Gadjah Mada, salah satu unit kegiatan di Universitas Gadjah Mada. Setahun di sana referensi saya tentang dunia seni pertunjukan di luar Teater Gadjah Mada pun tidak terlalu banyak bertambah. Baru beberapa bulan yang lalu, saya diajak seorang teman untuk bertemu dengan orang-orang yang kemudian banyak terlibat dalam proses terbentuknya Newsletter skAnA ini.

Waktu itu, kami  bersepakat kalau newsletter skAnA ini direncanakan untuk mengisi kekosongan media teater di Jogja. Karena saat ini perkembangan media untuk dunia teater misalnya sudah kalah jauh dengan media untuk dunia musik. Padahal segmentasi konsumen kedua media itu sama, anak muda.

Mungkin teater kini sangat erat dengan kesan berat, aneh, dan keras di mata anak muda. Padahal kebanyakan para penggiat teater adalah (juga dan sebagian besar) anak muda, begitu pula para penonton teater (paling tidak setahu saya di Jogja). Mereka adalah kelompok sosial yang masih punya banyak waktu dan energi yang bisa digunakan untuk membuat dan menonton pertunjukan. Nah, paling tidak dengan media ini kita bisa berkata, “Ini lho teater, ia milik orang muda. Ia harusnya dekat dengan ide-ide orang muda, tidak terlalu kusut dengan semangat-semangat orang-orang yang tua dan lapuk.”

Maka dengan semangat saya menyambut usulan ini, tidak tahu kenapa, mungkin saya ingin tahu lebih banyak mengenai seni pertunjukan di Jogja. Tentu waktu itu saya belum begitu sadar kalau Jogja sangat luas, tentu waktu itu saya belum sadar kalau agenda seni pertunjukan teater di Jogja sebenarnya begitu padat.

Ternyata pekerjaan ini tak semudah yang saya bayangkan, begitu banyak agenda pertunjukan yang  terlewat begitu saja. Banyak pertunjukan-pertunjukan kecil, yang kami tidak sempat mengetahuinya bahkan. Maka sesudah edisi pertama terbit, kami bersepakat bahwa edisi kali selanjutnya harus jauh lebih baik dari yang perdana.

Lalu untuk melihat respon audiens tentang newsletter kami, diadakanlah launching newsletter ini, sekaligus untuk peresmian dan sosialisasi mengenai newsletter skAnA. Walaupun semua orang saat itu sedang sibuk dengan gempa tanggal 27 Mei yang lalu, malam tanggal 28 Juli di Hall Teater Gadjah Mada cukup ramai dengan para tamu yang menghadiri launching ini.

Malam itu hall teater Gadjah Mada di Gelanggang Mahasiwa dipasang backdrop berwarna oranye (yang kemudian banyak dikaitkan dengan terpal bantuan yang kebanyakan juga berwarna serupa), tamu yang hadir pun diwajibkan untuk tidak memakai baju yang berwarna hitam (dalam undangan yang disebar lewat sms, disebutkan dress code: asal tidak hitam atau gelap). Hal itu memang menjadi bagian dari usaha skAnA untuk lepas dari kesan gelap dan berat, yang sepertinya sudah melekat pada pertunjukan teater ataupun orang-orang yang terlibat didalamnya.

Usaha itu juga termasuk dengan mencari pengisi acara yang merupakan anak-anak muda. Dan ternyata tidak mudah untuk mencari kelompok seni pertunjukan yang beranggotakan anak-anak muda yang menghadirkan hiburan untuk anak-anak muda juga. Dibuka dengan hiburan perkusi yang dimainkan anak-anak binaan Anak Wayang Indonesia, yang walaupun mereka adalah korban gempa, tapi tetap dengan semangat menghadirkan musik perkusi yang menghentak dan rancak. Lalu fragmen pertunjukan pantomim dari Bengkel Pantomim Jogja yang sangat lucu dan menghibur. Dan ada juga tari kontemporer yang dibawakan oleh Asita.

Dan acara puncak malam hari itu adalah diskusi antara para awak Newsletter skAnA dengan para pembacanya. Sayang sekali karena sedang berada di Aceh untuk mempersiapkan sebuah pertunjukan, malam itu Pimpinan Redaksi skAnA, Gunawan Maryanto tak bisa hadir bersama-sama awak redaksi yang lain untuk menemui para pembaca. Mungkin, malam itu kami yang hadir di sana memberikan semacam pertanggungjawaban atas skAnA edisi pertama.

Tentu saja dalam “pertanggungjawaban” itu kami meminta apologi dari audiens yang hadir mengenai edisi pertama yang menurut kami sendiri masih sangat sedikit beritanya, dan terlalu sempit daya jangkaunya. Sehingga mungkin tagline “media teater Jogja” bagi skAnA masih terkesan sebagai embel-embel belaka.

Pertanyaan lain mengenai format newsletter skAnA, ada yang berpendapat tulisan dalam skAnA masih terlalu berat, sementara pendapat lain yang mengatakan tulisan dalam skAnA terlalu ringan. Menurut Andi SW , banyak artikel-artikel dan tulisan mengenai orang-orang yang diklaim sebagai ahli teater yang memberikan penilaian dan penghakiman atas sebuah pertunjukan dengan bahasa yang berat dan sulit dipahami, tapi masih kurang tulisan mengenai sebuah pertunjukan yang bersumber pada para penonton kebanyakan, orang-orang biasa yang menonton sebuah pertunjukan. Menurutnya pendapat dari penonton yang seperti itu malah lebih segar, ringan, dan dengan begitu banyak hal-hal baru yang bisa diketemukan.

Sementara Yudi Ahmad Tajudin, berseloroh mengaku sebagai sutradara teater serius, mempertanyakan kenapa yang serius harus ditakuti? Kenapa malah yang ringan (lawan kata serius) yang harus dipilih, bukankah ini malah menimbulkan kesan main-main dan tidak serius. Lalu apa masalahnya dengan serius?

Diskusi kemudian menjadi perdebatan mengenai format yang bagaimanakah yang pantas untuk skAnA. Apakah kemudian skAnA harus menjadi seperti Lebur, jurnal teater yang tebal dengan berbagai tulisan-tulisan panjang, dengan catatan kaki yang banyak. Ataukah skAnA menjadi seperti newsletter musik yang hanya berisi liputan kegiatan-kegiatan musik, wawancara dengan grup musik, dan lirik lagu serta chord gitarnya.

Hindra Setya Rini, reporter skAnA, mengatakan Newsletter skAnA berbeda dengan Lebur yang serius dan terkesan berat. Baginya menulis di skAnA mirip dengan menulis buku harian, bedanya dalam menulis untuk skAnA ia berpikir bahwa tulisannya ini dibaca oleh umum, bukan hanya dirinya sendiri. Sementara bagi saya ketika menulis untuk skAnA, saya membayangkan tulisan saya ini dibaca oleh teman-teman sebaya saya, anak-anak muda, yang bergelut dalam dunia teater maupun yang tidak, yang suka menonton pertunjukan maupun yang tidak. Jadi ketika saya menuliskan sebuah pertunjukan saya berusaha menghadirkan kembali pertunjukan itu dalam bahasa tulis, kalau bisa semenarik mungkin, lengkap dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, agar orang-orang yang tidak bergelut dalam dunia teater maupun orang-orang yang tidak banyak menonton pertunjukan pun bisa membayangkan seperti apa kira-kira pertunjukan itu berlangsung.

Tapi dalam diskusi ini banyak yang bersepakat mengenai boks wawancara penonton yang menyertai tiap liputan skAnA. Boks wawancara penonton berisi komentar-komentar penonton usai menyaksikan pertunjukan, wawancara ini dituliskan kembali tanpa di-edit, dan dihadirkan mendampingi liputan pertunjukannya. Menariknya boks wawancara ini adalah, kadang-kadang kami berpikiran suatu pertunjukan sangat menarik, tapi dalam wawancara penonton ada yang mengatakan kalau ia sama sekali tidak bisa menikmati pertunjukan tersebut. Walaupun dalam edisi pertama boks ini hanya berisi beberapa pernyataan-pernyataan yang lumayan pendek. Dalam edisi kali ini kami berusaha menghadirkan lebih banyak wawancara dengan para penonton, kami juga berusaha menggali sedikit lebih dalam komentar penonton terhadap pertunjukan.

Dalam kesempatan itu skAnA juga membuka diri untuk tulisan-tulisan dari luar awak skAnA. Bagi yang mau menulis di rubrik-rubrik yang ada di skAnA dipersilakan untuk langsung mengirim email ke alamat email skAnA yang tertera di tiap edisi.

Launching ini merupakan awal dari perjalanan panjang skAnA. Kami berharap saran dan kritik makin banyak masuk ke kami. Semoga dengan begitu keinginan skAnA untuk menjadi media komunikasi Teater Jogja lambat laun dapat terpenuhi.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 02, November 2006-Maret 2007)

Oleh: Hindra Setya Rini

Ada dua pertunjukan monolog yang sempat kutonton selama bulan Agustus dan September 2006 ini di Yogyakarta. Kebetulan dua-duanya bukan aktor dari Jogja. Satu dari Makassar, yang satunya lagi dari Bandung. Kedua aktor tersebut bukan dari angkatan muda lagi, dua-duanya aktor senior yang, namanya juga sudah tidak asing di dunia perteateran Indonesia.  Lagi-lagi, keduanya menarik untuk disimak. Menurutku, tentu saja. Sebagai penonton, juga sebagai aktor yang belum lama menggeluti dunia teater. Baik, akan kuceritakan sedikit tentang pengalamanku selama menonton dua pertunjukan tersebut.

Ziarah

Monolog “Ziarah” oleh Soeprapto Budisantoso, naskah adaptasi novel Iwan Simatupang, dipentaskan di Kedai Kebun Forum, tanggal 23 Agustus 2006 pukul 19.30 WIB, karcis; Rp. 5000,00. Begitu yang tertulis di kertas undangan menonton yang aku terima. Malam itu, Rabu pukul 19.20 WIB dengan agak tergesa kukayuh sepeda miniku menuju tempat pertunjukan, kupikir aku akan terlambat tiba di sana. Sesampainya di tempat pertunjukan, segera kuparkir sepedaku, segera kutemui salah satu penyelenggara dari Maneka[i], dan bertanya apakah pertunjukan sudah dimulai? Ada kemungkinan pertunjukan mundur karena penontonnya masih sedikit, sepi, begitu jawaban yang kuterima. Aku menunggu sambil sesekali menyapa beberapa penonton yang kukenali. Tak lama kemudian sedikit demi sedikit penonton menjadi ramai. Begitulah, sampai akhirnya pertunjukan dimulai pada pukul 20.05 WIB dan lampu ruangan mati.

Soeprapto Budisantoso dalam 'Ziarah'

Teng! Teng! Teng! Bunyi lonceng terdengar, suara musik mengalun pelan, sepelan lampu ruang pertunjukan yang semakin terang. Tepat di bawahnya, seorang aktor duduk terpekur di atas sebuah dipan kayu. Lelaki tua dengan memakai kacamata minus, memakai kostum keseharian; kaos putih dan celana kain putih, tampak seperti sedang merenung. Segera yang terlihat di panggung sebuah dipan kayu melintang di tengah ruang, agak ke sudut kanan ada sebuah meja kayu dengan sebuah gelas kaca pendek dan ceret aluminium di atasnya, juga sebuah kursi kayu di dekat meja. Pemandangan di depanku, dan suasana yang dibangun membuatku merasa kembali ke suatu masa yang jauh dari kehidupanku sekarang. Sesuatu yang ‘berbau’ lama. Kemudian, lelaki tersebut mulai bercerita tentang dirinya, seorang pelukis ternama yang hidup sendirian karena kematian isterinya.

Di sanalah ihwal kesedihannya, kesepiannya, yang kemudian seluruh waktu ia habiskan untuk minum arak. Ia tidak lagi melukis, orang-orang mengenalnya sebagai pemabuk. Tiada hari tanpa arak. Penghasilannya dihabiskan untuk minum arak. Sesaat tampak lelaki tersebut sedang mabuk, tubuh yang oleng ke sana-ke mari mengitari dipan, dan kadang berlari, berteriak girang mengelilingi ruangan, dan tiba-tiba meraung sedih memanggil-manggil nama isterinya. Ini adegan pertama. Yang kedua, lelaki tadi ditawari oleh seorang lelaki yang lain untuk mencat kuburan. Mencat hanya di kuburan. Tawaran ini pertama-tama ditolak, tetapi kemudian disanggupinya. Upah dari mencat itu juga ia habiskan untuk membeli arak. Sejak itu, lelaki yang menawari pekerjaan mencat itu menjadi mandornya.

Aktor naik ke atas kursi membuat gerakan mencat. Kemudian lelaki yang mencat tersebut bercerita tentang mandornya. Juga tentang walikota yang berang atas ulah si Mandor dan pencatan harus dihentikan, karena akan mengganggu kota. Kemudian, terjadi dialog antara walikota, mandor dan tukang cat yang pada suatu waktu tertentu ketemu dalam cerita. Beberapa penonton tertawa ketika ada dialog yang dirasa lucu dalam perdebatan tersebut. Ringkas cerita, di akhir adegan ketiga (penutup) lelaki pelukis tadi berlarian di halaman sambil berteriak hujan. Padahal,  tidak ada hujan dan ia telanjang. Akhirnya orang-orang menyimpulkan bahwa pelukis terkenal itu jadi gila karena kematian istrinya.

Karakter yang dimainkan si aktor jelas, dan permainannya yang rileks membuatku tetap betah menontonnya hingga selesai. Dan cerita itu sendiri sampai kepadaku. Cara menyampaikan cerita biasa saja, seperti sehari-hari, tapi dengan artikulasi yang jelas. Dan permainannya yang memikat itu sama sekali tidak terganggu oleh faktor usia aktor yang sudah tidak muda lagi. Meski tetap saja ketuaan itu tampak pada pola nafasnya tapi hal itu bukan gangguan yang besar bagiku.

Dan yang paling menarik, seusai pentas ada sedikit diskusi tentang pertunjukan monolog Budisantoso tersebut. Paling tidak aku dan penonton yang lain menjadi tahu tentang proses mas Budi dalam mempersiapkan monolognya setelah 23 tahun vakum di teater. Memang sedikit terlihat suasana reuni pada malam itu, karena sebagian besar penonton yang hadir adalah teman-teman Mas Budi di masa ia aktif di Teater Gadjah Mada, dan Mas Budi adalah salah satu pendirinya. Alasan apa yang membawa Mas Budi kembali bermain teater? Demikian salah satu pertanyaan yang ingin diketahui sebagian penonton, termasuk Landung Simatupang, yang notabene adalah teman Budisantoso, sekaligus moderator diskusi pada malam itu.

Menurut Mas Budi, yang memicunya kembali untuk bermain teater setelah 23 tahun vakum adalah kegelisahannya atas aktor-aktor senior di Makassar yang berhenti bermain dan melihat anak-anak muda atau aktor pemula yang sulit mencari panduan untuk bermain teater. Berbeda dengan saat ia masih muda, pentas teater dari kelompok-kelompok teater ternama, seperti Rendra, Arifin C. Noor, masih sempat ia saksikan. Sedangkan saat ini mungkin kelompok-kelompok teater tersebut sudah tidak aktif lagi, sehingga anak-anak muda teater tidak memiliki kesempatan menonton dan belajar dari pertunjukan mereka. Dan melalui pertunjukannya ini, Mas Budi ingin memberikan referensi buat generasi pemula yang ingin bermain drama. Dan tegasnya lagi, bukan menggurui tapi sebagai referensi saja. Pesan yang ingin disampaikannya kepada aktor pemula adalah untuk terus bergiat mengolah modal keaktoran; disiplin latihan dasar keaktoran seperti olah tubuh dan vokal.  Hal lain yang juga dimunculkannya adalah perihal akting yang biasa, fleksibel, dan interaktif terhadap ruang pertunjukan. Dan gaya yang dipilih Mas Budi adalah gaya realis.

The Story of The Tiger

Monolog yang kedua adalah “The Story of The Tiger”, salah satu karya termasyur Dario Fo (aktor, sutradara, pimpinan kelompok dan penulis naskah berkebangsaan Italia). Monolog ini dimainkan dan disutradarai oleh Wawan Sofwan dari Bandung. Pentasnya di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis (LIP), tanggal 26 September 2006, pukul 20.30 WIB, dimulai sehabis tarawih.

Wawan Sofwan memainkan lakon yang bercerita tentang seorang tentara Manchuria yang terluka parah oleh seorang bandit kulit putih Chiang Kai-Shek, selama perjalanan panjangnya di Himalaya. Dan dalam perjalanannya itu, akhirnya teman-temannya pergi meninggalkannya karena bau busuk yang ditimbulkan oleh luka parah di kakinya. Selama dua bulan berjalan sendirian, si Tentara yang luka sampai pada sebuah gua yang didiami seekor harimau betina bersama anaknya. Ia pun bersembunyi di sana. Dari sanalah persahabatan antara manusia dan harimau itu dimulai. Cerita bergulir,  dari bagimana mulanya si Harimau memaksa seorang manusia untuk menyusu kepadanya. Tentara sekarat itu harus menyelamatkan si Harimau, karena anaknya yang sakit tidak dapat lagi menyusu. Sampai akhirnya si Tentara menjadi tukang masaknya harimau. Sebaliknya, si Harimau pun menyelamatkan tentara itu dengan menjilati luka-lukanya di mana gangrene bersemayam.

Wawan Sofwan dengan 'Story of the Tiger'

Ruang, dibangun dengan minimalis; hanya panggung kecil berukuran 3x3m ditutupi kain hitam, tinggi 40cm, serta tata cahaya yang juga sangat minim. Jarak dengan penonton begitu dekat dengan posisi membentuk huruf U mengelilingi panggung kecil tersebut. Di ruang inilah mas Wawan menceritakan perjalanannya sebagai seorang tentara Manchuria yang kemudian bersahabat dengan seekor harimau.

Baik cerita maupun ruang yang dibangun dalam pertunjukan monolog tersebut bukan realis. Maka, permainan keaktoran Mas Wawan yang dikenal dengan keterampilan teknis tingkat tinggi itu sangat kental dengan commedia d’el arte dari itali yang menjadi pilihan dalam gayanya. Dan teknik bercerita aktor dengan karakterisasi komikal yang dipilih juga membuat permainan tidak membosankan. Interaksi dengan penonton yang cair dalam guyonan-guyonan yang dibangun oleh aktor, membuat suasana menjadi segar. Percakapan dan perdebatan dalam cerita disampaikan dengan jelas, meski dibeberapa tempat vokal aktor terlalu keras untuk ukuran ruang yang telah dibangun. Namun, permainan teknis aktor tetap memikat. Terbukti dengan penonton yang duduk di ruangan berkapasitas seratus orang tersebut betah menonton pertunjukan dengan durasi sekitar satu setengah jam itu.

Kedatangan Wawan Sofwan ke Jogja, selain melakukan pertunjukan, Mas Wawan juga diundang untuk memberikan workshop monolog di Actor’s Studio yang diselenggarakan oleh Teater Garasi, salah satu program studi keaktoran. Di akhir pertunjukan, di sesela percakapanku dengan Mas Wawan, ia menyebutkan, bahwa ada dua hal yang paling mendasar yang penting buat seorang aktor; etos dan disiplin. Baik dalam hal keaktoran maupun dalam kerja-kerja teater yang menjadi pilihan kesenian bagi seorang aktor atau seniman dalam berkarya. Dalam workshop katanya, ia hanya menunjukkan jalan, soal penyikapan atas proses keaktoran yang ditempuh oleh aktor, dikembalikan lagi pada individu masing-masing aktornya. Ia sangat mendukung program Actor’s Studio, dan menarik menurutnya ketika melihat antusias aktor-aktor muda itu dalam belajar keaktoran. Karena menurut Mas Wawan, masih sedikit sekali ada studi-studi yang memfasilitasi aktor pemula atau generasi muda untuk belajar teater. Dan ini hendaknya menjadi kesempatan yang baik untuk para aktor yang tertarik belajar teater.

Epilog

Terakhir dalam catatanku, entah disengaja atau tidak, dari kedua aktor senior atau pemonolog itu punya kesamaan ingin membuka jalan bagi para aktor pemula atau generasi muda dalam mempelajari teater, khususnya keaktoran. Memberi referensi yang kaya karena keduanya berbeda gaya. Sharing pengetahuan dan pengalaman dalam proses berteaternya, dan mendukung para aktor-aktor muda untuk terus bergiat dalam teater yang digelutinya. Seperti kata mereka, aktor senior kita; untuk aktor muda Jogja: “Selamat berjuang!”

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 02, November 2006-Maret 2007)

***


Selintas tentang komentar penonton:

“Monolog Ziarah, secara keseluruhan sangat menarik, aktornya sangat rileks. Pesan dapat sampai dengan jelas, dan didukung dengan artikulasi yang baik. Tapi menurutku, karena terlalu santai jadi tidak jelas mana yang menjadi tekanannya dari cerita tersebut, atau apa yang penting dari monolog Ziarah itu. Setengah pertunjukan terakhir, terasa jadi monoton. Dan The Story of  The Tiger, pertunjukannya bagus dan interaktif. Sebagai penonton, aku merasa ikut dilibatkan. Teknik akting dan cara pengucapannya sangat variatif, jadi tidak monoton. Aku sampai nggak sadar kalo pertunjukannya sudah 90 menit main. Aku sangat terkesan dengan teknik aktingnya, luar biasa!” ( Iskandar GB, 26 thn, pelaku teater di Komunitas Berkat Yakin, Lampung)

“Mas Budi, pemonolog Ziarah, untuk aktor seumuran dia yang katanya sudah 23 tahun vakum di teater, trus sekarang main lagi, tak ada kata-kata lain yang patut diucapkan selain kata “Hm…hebat”. Nah, untuk The Story of The Tiger, pertunjukannya asik. Saking asiknya Mas Wawan terlihat jadi keasikan dan terlalu asik dengan permainannya. Jadi…, pertunjukan itu rasanya seperti makan snack dalam porsi besar dan harus dimakan sekaligus!” (Alex, 22 thn, GMT & Alex Maharret)

“Kang Wawan, monolog yang asik, walaupun dengan panggung yang minimalis tapi pertunjukannya itu dapat memukau penonton. Teknik-teknik yang digunakan menarik. Kadang ada gerakan-gerakan yang nggak masuk akal, tapi bisa memukau dan memberi warna tersendiri. Sehingga, menjadi pertunjukan yang enak dilihat.” (Kimunk, 22 thn, Teater Senthir)

“Monolog Soeprapto Budisantoso (Ziarah), dan Wawan Sofwan (The Story of The Tiger), menurutku, sebagai pemonolog yang sudah berumur, Mas Budi dan Mas Wawan mempunyai stamina yang bagus. Dalam membawakan Ziarah dengan durasi satu jam, Mas Budi memainkannya dengan begitu rileks. Sedangkan Mas Wawan, dalam The Story of The Tiger dengan durasi satu setengah jam, main dengan gerakan meledak-ledak dan sama sekali nggak kelihatan kelelahan” (Antok, 25 thn, Komunitas Kampoeng Kricak)

“Sikap rileks Mas Budi menurutku cukup menunjukkan kalau dia aktor yang bagus. Karena selama 23 tahun dia sudah tidak pernah bermain, setelah lulus dari UGM. Tapi, dalam konteks pertunjukan, ketika menonton aku ngerasa agak bosan. Karena terjadi banyak perulangan dalam aktingnya, jadi mengaburkan pesan dari naskah. Monolog Mas Wawan, keseluruhan pertunjukannya keren, meskipun awalnya aku bingung sama apa yang ingin disampaikan dari cerita, tapi pas diakhir pertunjukan aku baru tahu. Tapi aku suka.” (Qomar, 21 thn, Teater Tangga UMY)

“Mas Wawan mampu membentuk ruang logika yang utuh dalam pertunjukannya. Hingga akting yang dia lakukan tidak menjadi terkesan over. Model pengucapan dialognya pun malah menjadi menarik, dengan model pengucapan yang hiperbola. Cuma, mungkin perlu dipertimbangkan volume vokal yang terlalu keras menurutku, untuk ruang yang dibangun Mas Wawan ketika main di LIP” (Sutris, 23 thn, Teater Senthir)

“Monolog Soeprapto Budisantoso, ehmm…tadinya aku sih nggak tau siapa dia, yang penting nonton! Setelah nonton pertunjukannya, wahh..aku kagum. Staminanya gilaa…, di usia yang segitu. Aku nggak tau sih, ketika musik mengiringinya aku sempat merinding. Mungkin karena ketepatan dia dalam menghayati teks. Ekspresinya datar, tapi mengena. Dan aktingnya biasa aja. Asik sih. Kalau Mas Wawan Sofwan, menurutku dia aktor yang hebat dan banyak pengalaman. Aku sangat kaget lihat dia yang dalam durasi satu setengah jam mampu bertahan tetap menarik dan nggak mbosenin. Segala geraknya tertata. Bahkan, sangat merebut perhatian penonton. Apalagi interaksinya jadi. Penonton ketawa lepas, dan seger aja sih. Untuk permainannya, ekspresinya sangat menonjol.” (Dwi, 24 thn, cewek Klaten, lagi magang di Teater Garasi)

“Pada pementasan Mas Budi, saya merasakan betul ‘kehadiran utuh’ dari karakter yang beliau mainkan. Saya melihat power dan stamina yang kuat, mengingat usianya yang sudah cukup tua itu. Saya nyaman dengan pengucapannya, kata-kata jelas dan sampai. Aktingnya rileks, dan terasa sangat menikmati permainannya. Cukup mampu menghidupkan ruang yang minimalis. Meski beberapa ada gerak-gerak tangan yang agak mengganggu saya, dan kadang agak terkesan Mas Budi main untuk dirinya sendiri. Tapi, secara keseluruhan, pertunjukannya sukses. Apalagi melihat usia, dan latar belakang Mas Budi yang telah vakum selama 23 tahun di teater. Sedangkan pada pementasan Kang Wawan, hal-hal yang paling menonjol yang saya rasakan adalah kekuatan stamina, kekayaan teknik, konsistensi peran (walau ada beberapa yang agak ‘ngganjel’ sih), dan kekuatan imajinasinya. Dan yang paling membuat saya merinding adalah atribut-atribut keaktoran yang digunakan sangat minim, tanpa musik, tapi penonton, khususnya saya, tidak terpikir untuk memalingkan wajah atau keluar ruangan. Eksperimen dan improvisasinya terlihat dalam kata-kata, dan cara pengucapannya. Pertama agak ganjil juga sih, tapi Kang Wawan bisa mengatasinya. Cuma, saya agak terganggu dengan volume suara yang kekerasan kalau melihat ruangan LIP yang tidak terlalu besar. Terakhir, saya suka dengan teknik masuk Kang Wawan di awal pertunjukan. Salut!” (Guntur Yudho, 22 thn, Teater Toedjoeh)


[i] Taman Bacaan dan Rumah Kreasi Seni

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Fozan Santa, salah satu pemain dalam Dicông Bak

Seorang tukang kopi yang mempromosikan barang dagangannya bak seorang penjual obat di pasar, orang-orang yang sedang bekerja bakti membersihkan puing-puing rumah yang roboh digoyang gempa, ibu yang mencari anak dan suaminya, serdadu Belanda yang mencari jodoh gadis Yogyakarta, seorang pemuda yang menyanyi, orang-orang yang berebut bantuan, lalu anak kecil yang bermain-main menunggu guru sekolahnya yang tak akan pernah datang karena jadi korban gempa. Fragmen-fragmen tersebut terjadi di bawah pohon, di mana orang di atas pohon mengamati semuanya yang terjadi. Orang di atas pohon sudah berada di sana bahkan jauh sebelum kejadian-kejadian itu berlangsung, karenanya ia hafal dengan sejarah orang-orang yang lalu lalang di bawahnya. Ia menjadi saksi bencana ketika ombak besar menggulung desa, ia menjadi saksi ketika orang-orang dibantai, ia juga melihat orang-orang berebutan bantuan, menemani anak-anak bermain, mendengarkan apa yang diomongkan orang-orang yang lalu lalang di bawahnya.

Malam itu tanggal 25 Agustus 2006, adalah malam terakhir pertunjukan Dicông Bak (yang merupakan bahasa Aceh, atau Manusia di Atas Pohon dalam Bahasa Indonesia, atau The Man in The Tree dalam Bahasa Inggris). Ditemani riuh rendah suara motor dan pengamen lalu lalang yang bersahutan dengan musik tradisional Aceh dan lagu-lagu Jawa, Dicông Bak dihadirkan di hadapan para penonton yang duduk lesehan di halaman Taman Budaya Yogyakarta. Dicông Bak berisi fragmen-fragmen yang tak saling menyatu, adegan demi adegan yang mengalir tak saling berhubungan satu sama lain, yang sedikit membantu penonton adalah semua adegan tersebut berlatar di bawah sebuah pohon.

Dicong Bak adalah proyek kerjasama antara Teater Garasi dari Yogyakarta, Tikar Pandan dari Aceh, dan Theatre Embassy dari Belanda. Ketiga komunitas ini baru bekerjasama untuk pertama kali ini. Menurut leaflet yang didapat sebelum pertunjukan, ide pementasan ini berawal ketika salah seorang anggota Theatre Embassy menjadi relawan saat bencana Tsunami melanda Aceh dua tahun yang lalu. Di sana ia menemukan seorang yang sudah tua yang selamat dari gelombang tsunami, karena ia memanjat pohon dan ia terus berpegangan pada pohon itu.

Naomi Srikandi

Sutradara pertunjukan ini Gunawan Maryanto, dari Teater Garasi mengatakan pertunjukan ini tak hanya sekadar mengenai bencana saja, pertunjukan ini berusaha lebih jauh melihat kompleksitas permasalahan masyarakat dan manusia di dalamnya yang ada sebelum atau setelah bencana terjadi, baik itu di Aceh maupun di Jogja. Dalam dialog antara para pemain memang muncul isu-isu mengenai kekerasan yang dilakukan militer, kesewenangan penguasa terhadap rakyatnya, pihak-pihak yang mengatasnamakan kemanusiaan tapi malah mengambil untung dari bencana, guru yang tak pernah mendapat gaji sepantasnya, atau rebutan bantuan yang sering terjadi di dalam masyarakat.

Gunawan Maryanto menambahkan, Dicông Bak masih merupakan gambaran-gambaran awal yang belum sepenuhnya jadi sebagai sebuah pertunjukan. Tapi Dicông Bak memang ditujukan untuk para penonton yang tidak butuh berpikir keras hanya untuk menikmati sebuah pertunjukan teater, para penonton yang notabene korban bencana tentu tak punya banyak energi untuk mengerutkan dahinya. Memang fragmen-fragmen dalam Dicông Bak seringkali terlihat segar, membuat penonton tersenyum. Seperti misalnya tiba-tiba muncul seorang prajurit Belanda yang membacakan keras-keras sebuah pengumuman dalam Bahasa Belanda yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh seorang aktor, tapi isi terjemahan yang tidak nyambung dengan apa yang dibaca sang prajurit hingga membuat penonton terbahak-bahak.

Atau saat sang penjual kopi, menunjukkan perlengkapannya mulai dari alat saringan kopi hingga sayur-sayuran yang diibaratkannya mortir dan peluru. Tingkah anak kecil dengan logat Jawa medhok yang polos dan lugu saat berbicara dengan orang di atas pohon, atau tingkah dua orang yang berebutan bantuan, yang nampak konyol tapi satir.

Dicông Bak Dicong Bak sendiri dipentaskan mulai tanggal 14 hingga 26 Agustus di Aceh dan Yogyakarta. Di Yogyakarta, sebelum dipentaskan di Taman Budaya, Dicông Bak dipentaskan di empat desa yang menjadi korban gempa. Di tiap pementasan format pementasan bisa berubah, menyesuaikan dengan kondisi wilayah pentas.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 02, November 2006-Maret 2007)

——

Komentar penonton setelah pertunjukan:

“Menarik, lucu, tapi kok banyak bahasanya yang aku nggak tahu artinya.” (Ana Ani, 19 tahun, mahasiswi)

“Atraktif. Musiknya asyik, tapi sayang pentasnya diluar, jadi suaranya pecah.” (Linda, 21 tahun, mahasiswi)

“Kok keliatannya serius banget, ya? Padahal kalau dipikir-pikir ceritanya gak nyambung, gak logis.” (Budi, …tahun, …—keberatan jika usia dan statusnya diketahui)

“Ceritanya bikin penasaran. Soalnya ada banyak cerita. Tapi kok tidak semua ceritanya berakhir.” (Novi, 18 tahun, mahasiswi)

“Judulnya kok aneh? Itu bahasa Aceh, atau apa artinya? Dan bahasanya campur-campur gitu, jadi banyak yang gak terlalu mudheng. Tapi pertunjukannya simpel    dan bagus, saya suka lagu-lagunya sama guyonnya.” (Heri, 24 tahun, mahasiswa)

Next Page »