July 2007


Oleh: Muhammad AB *

Sebuah ruangan kafe, tiga buah meja berjajar dengan kursi-kursi yang mengelilinginya. Beberapa pengunjung duduk di kursi memesan sesuatu pada dua orang pelayan yang selalu bersiap melayani. Suasana Resto Bar yang menjadi latar dalam pertunjukan benar-benar dibangun sebagai sebuah resto di panggung pertunjukan Gedung F Benteng Vredeburg Yogyakarta. Bahkan lengkap dengan  hidangan dan minuman yang disajikan pada para aktor di atas panggung.

Pentas Pakaian dan Kepalsuan berasal dari terjemahan Achdiat Kartamihardja atas naskah karya Arkady Timofeevich Averchenko, yang dalam bahasa Inggris berjudul The Man in Grey Suit. Terjemahan ini terbit dengan pada tahun 1956 dengan judul Pakaian dan Kepalsuan. Teater Tangga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  memanggungkannya pada Senin malam, 5 Maret 2007.

Kostum yang dipakai para aktor merujuk pada mode pakaian di masa awal kemerdekaan Indonesia. Suasana restoran dan mode pakaian sengaja ditonjolkan untuk mendukung alur cerita yang memang berkisah tentang masa awal kemerdekaan Indonesia, dimana banyak orang yang tiba-tiba mengaku menjadi pahlawan, pamer gagah keberanian di medan perang di hadapan orang lain, termasuk yang terjadi di sebuah kafe dalam pertunjukan Pakaian dan Kepalsuan.

Pada awalnya di kafe tersebut segalanya berjalan biasa saja. Pengunjung dating memesan minuman lalu bercakap-cakap dengan sesame teman maupun pelayan. Percakapan tentang perang, perjalanan, sampai hubungan pertemanan pun dibicarakan di sana. Mereka berkumpul dalam satu meja. Lalu, identitas mereka di masa lalu pun mulai terkuak. Mereka semua mengaku sebagai orang-orang yang sukses di bidangnya dimasa kini. Ketika Sumantri (diperankan oleh Raden Bagus Ariwibowo) datang bersama istrinya (diperankan oleh R.R. Wiwara), suasana menjadi makin ramai. Tampak mereka jarang bertemu dengan Sumantri, yang saat itu menunjukkan diri sebagai orang yang paling dihormati dan paling sukses diantara mereka kini.

Rusman menodongkan pistol kepada Sumantri dkk

Tiba-tiba, Hamid (Ita Sudradjat) dan Rusman (Nurkholis “Brekele”) berdiri dari kursi dan mendatangi mereka. Munculnya Hamid yang menekan mereka dengan sebuah pistol, membuat suasana berubah menjadi tegang. Hamid dan Rusman memaksa mereka untuk mengakui kebohongan-kebohongan mereka sebagai orang-orang sukses, lalu memaksa mereka untuk mengakui identitas mereka sebagai penjual obat, tukang sulap, dan pengangguran.

Akhirnya Sumantri mengakui bahwa istri yang dibawanya itu adalah seorang pelacur. Tetapi, yang menarik justru pelacur inilah yang melawan Hamid dan Rusman. Tak disangka, Hamid malah mengakui bahwa pistol yang dibawanya tidak berisi peluru. Tapi Sumantri dan kawan-kawannya sudah lari ketakutan.

Hanya si istri yang berani melawan intimidasi Hamid dan Rusman

Ternyata Hamid dan Rusman hanya sekedar menakut-nakuti dan mempermainkan Sumantri dan kawan-kawannya. Namun, Hamid dan Rusman pun lari ketakutan di akhir pertunjukan. Pada akhirnya penonton tahu bahwa hanya pelacur itu dan kedua pelayan resto itulah yang tidak membohongi orang lain dengan kepalsuan-kepalsuan yang mereka buat.

Pertunjukan ini bisa menjadi contoh untuk pertunjukan kecil dengan bentuk teater kamar. Gedung F Benteng Vredeburg dengan ruangnya yang kecil namun cukup representatif bisa menjadi tempat pertunjukan alternatif untuk pertunjukan-pertunjukan kecil dengan penonton yang terbatas.

Teater Tangga membawa pertunjukan ini dalam bentuk realis. Membawa suasana masa awal kemerdekaan Indonesia sesuai dengan naskah terjemahan Achdiat Kartamihardja pada masa itu. Satu kekurangan pertunjukan ini adalah bahasa lisan para aktor yang menggunakan bahasa lisan masa kini. Tidak menggunakan bahasa lisan di masa yang sama dengan ruang latar yang mereka bangun.

*Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

*****

Pimpinan Produksi: Nurcholis Stage Manager: M. Najhan Pubdok: M. Reza Penata Set dan Musik: M. Nur Qomarrudin Penata Lampu: Riez P.. M. Reza Penata Kostum: S Asya Supervisor: Tri Tata Raharja Aktor: Ita Sudrajat, Nurcholis, Kusuma AK, R. Bagus A.B., M. Ferdhy T,   Riyez, R.R. Wiwara

Komentar Penonton

“Settingnya bagus, ceritanya bagus, pelayannya lucu, hehehehe.” (Nita, 19 tahun, Mahasiswi UMY)

“Yang bawa pistol kurang meyakinkan. Ceritanya dia jadi tentara bukan sih? Model pakaiannya retro keren, ceritanya terlalu panjang.” (Nono, -)

“Katanya perabotan di kafe-nya itu dibangun sendiri sama mereka, wah keren-keren. Aktornya bagus-bagus, tapi suaranya kurang keras. Sayang aku dapat tempat agak di belakang.” (Arnita, 20 tahun, mahasiswi UMY)

Pengalaman Seorang Wawan dalam Workshop People’s Puppet Project

Oleh: Wawan Dwi Santosa*

Minggu 3 Juni 2007, di Alun-alun Utara yang  gersang, panas, dan berdebu, saya berada di dalam sebuah tenda putih. Mengenakan pakaian dan celana hitam, berkeringat, kepanasan, kelelahan dan berada dalam kondisi yang tak sepenuhnya fit. Bersiap-siap untuk masuk ke dalam boneka buatan saya sendiri. Ketika berada di dalam boneka, tiba-tiba semua perasaan gundah, lelah, panas hilang berganti menjadi bayangan kegembiraan yang muncul dari penonton ketika boneka saya keluar nanti. Maka saya keluar dari tenda itu bersama beberapa boneka lain. Suasana berubah menjadi semarak. Tepuk tangan, riuh penonton, dan jeritan anak kecil yang ketakutan membahana memenuhi sisi timur Alun-Alun Utara setiap ada boneka raksasa baru yang muncul.

Pemandangan luar biasa tersebut merupakan hasil akhir workshop People’s Puppet Project. Selama kurang lebih dua minggu workshop tersebut  menghasilkan sebuah pertunjukan akbar  dengan judul Kreteg (The Bridge) yang siap meramaikan Road to FKY XIX-2007. Tak banyak orang tahu bahwa seorang bernama Wawan Dwi Santosa, dari sebuah kelompok bernama La’Gientes berada di dalam salah satu boneka raksasa; berkeringat, kepanasan, khawatir pertemuan dengan kawan-kawan selama workshop yang menyenangkan ini akan segera berakhir.

Saya memang tergabung di dalam sebuah kelompok yang sedang berusaha untuk memantapkan diri di jalur teater. Bagi saya pengalaman menjadi peserta workshop bersama Snuff Puppet dan menjadi aktor dalam sebuah pertunjukan teater boneka, dan bertemu dengan orang-orang baik dari kelompok seni maupun non-seni yang lain adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga.

Cerita ini berawal dari sebuah sms singkat Mbak Galuh, koordinator workshop People’s Puppet Project, yang menawarkan workshop tersebut kepada saya. Setelah membatalkan beberapa agenda, segera tawaran itu saya sanggupi.  Carpe diem, jangan pernah melewatkan kesempatan yang tiba-tiba hadir.

Senin, 21 Mei 2007 di bangsal Layang-layang Padepokan Bagong Kussudiardja semua cerita dimulai. Selama dua minggu saya akan mengikuti proses yang  saya bayangkan akan sangat menarik. Ada tiga hal yang kira-kira mampu mewakili perasaan saya selama berproses:

  1. Pada awal-awal workshop saya berteriak, YA AMPUN!
  2. Saat pertengahan workshop saya berteriak, YA TUHAN!
  3. Dan di akhir workshop saya berteriak, YA ABIS!

Ya ampun, itulah yang bisa saya rasakan saat pertama kali datang di workshop itu. Nyali sempat ciut ketika melihat pesertanya adalah orang-orang yang memang sudah lama berkecimpung di dunia kesenian. “Wah, aku bisa apa ya?” pekik saya. Apalagi saat perkenalan, huh semakin menciutkan nyali. “ Saya …dari Kua etnika”, “Saya dari Gila GOnk”, “Saya dari Teater Garasi”, “Saya dari Sahita”. Lalu Saya dari mana? Ah, carpe diem, setidaknya saya dari keluarga baik-baik.

Lalu tiba saat keempat awak dari Snuff Puppet itu memperkenalkan diri. Ada Ian Pidd sebagai pimpinan program dan sutradara, Andy Freer sebagai desainer dan pimpinan artistik, James Wilkinson sebagai penata musik dan Daniele Poidomani sebagai manajer teknis. Segera setelah itu workshop pun dimulai dengan fasilitator Mas Landung Simatupang yang lebih banyak akan menjadi penerjemah dan konsultan program.

Wow, kesan pertama begitu mengesankan. Meski masih agak canggung dengan seniman-seniman yang ada di sana. Tapi tak lama, setelah dua tiga hari berlalu, ketakutan dan kecanggungan saya lenyap. Semua karena kepandaian seorang Ian Pidd dalam menjembatani perbedaan-perbedaan latar belakang para peserta menjadi sebuah kebersamaan yang menyenangkan. Selain keterbukaan teman-teman sendiri terhadap peserta lain untuk menerima setiap perbedaan dan kekurangan. Hal ini membuat batas senior dan junior lenyap. Berubah menjadi semangat untuk belajar bersama.

Kriwikan dadi grojogan, peribahasa Jawa itu agaknya sangat tepat untuk menggambarkan apa yang saya dapatkan. Ian Pidd, sang sutradara yang memberi banyak ilmu tentang membangun semangat dan kebersamaan. Bagaimana dia selalu menganggap setiap peserta itu ada; diperlakukan sama dan selalu dianggap bisa. Positive thinking, mungkin itu pelajaran yang menarik. Karena itu pula setiap peserta selalu merasa nyaman berada di workshop. Selain itu, Ian juga seorang bapak demokrasi yang berhasil. Setiap kebijakan selalu melibatkan semua elemen yang ada dalam workshop. Itu terlihat ketika merumuskan konsep cerita, menentukan tokoh, termasuk dalam menentukan judul yang tepat. Dengan positive thinking-nya dia dengarkan semua ide peserta dengan khusyuk.  Diskusi yang menarik pun terjadi. Semua orang memiliki andil dalam proses ini. Hal inilah yang menurutku sangat menarik: Ian dan teman-temannya mampu menciptakan suasana memiliki yang mengagumkan. Semua peserta jadi merasa nyaman dan merasa memiliki pertunjukan. Semua orang terlibat dan semua orang bekerja keras untuk mewujudkannya.

Mungkin ini yang disebut the real collaboration (mengutip ucapan Mbak Galuh). Dimana semua orang terlibat, tidak hanya bermain tapi juga dalam menciptakan karya. Semua terbuka untuk memberi dan menerima ide demi terciptanya konsep terbaik.

Team work yang mengesankan. Semua menyadari jika proses ini tak akan berhasil jika masing-masing orang menuruti egonya. Peserta memang dibagi dalam beberapa tim untuk membuat boneka raksasa. Tetapi, dalam pelaksanaannya semua saling membantu. Tak ada yang bersikukuh untuk tetap stay pada bonekanya sendiri. Mungkin semua tersihir dengan konsep ”Bhineka Tunggal Boneka”, meski berbeda-beda tetapi tetap satu boneka jua.

Etalase ilmu. Yang lebih menarik lagi dari workshop ini adalah tersedianya berbagai jajanan ilmu di sana-sini. Dari Ian Pidd saya belajar bagaimana mengelola sebuah pertunjukan, Andy dan Danielle tentu saja saya belajar masalah teknis dalam pembuatan boneka raksasa. Serta belajar sebuah semangat bahwa setiap mimpi sangat mungkin untuk diwujudkan. Dari mereka pula saya dan teman-teman belajar untuk rajin berolahraga. Selain itu, jajanan ilmu banyak tersebar di saat-saat waktu luang, seperti coffe break, makan siang, atau ketika bekerja bersama membuat boneka. Sebut saja, saya bisa belajar banyak hal dari Mbak Cempluk (seorang penari dari Sahita) tentang bagaimana kehidupan di komunitasnya, terutama bagaimana proses penciptaan karya di sana. Saya belajar tentang banyak hal dari Mbak Verry (seorang aktor dari Teater Garasi), juga dari Johan Didik (seorang manajer panggung terkemuka di Yogyakarta) untuk jadi seorang pekerja keras dan tidak pernah menyerah dalam bekerja, serta banyak ilmu-ilmu lain yang bertebaran di sana. Mulai dari ilmu keaktoran, musik (dengan teman-teman Kua Etnika), sampai pada ilmu-ilmu lain, dan tentunya pelajaran bahasa Inggris yang cepat dan efektif.

Ya Tuhan, begitulah yang kurasakan pada hari-hari menjelang pementasan. Kebersamaan itu semakin terasa, semangat dan kerja keras semakin membakar gairah peserta workshop. Boneka semakin menemukan bentuk kasarnya. Sampai beberapa hari sebelum pementasan, belum satu pun boneka yang benar-benar jadi. Semua bekerja keras untuk mengejar target yang tak kunjung tercapai. Bahkan tak jarang peserta lembur untuk menyelesaikan bonekanya. Dampak positifnya, tentu saja boneka semakin menemukan bentuk akhir. Tapi dampak negatifnya cukup fatal. Virus influenza mulai menghinggapi para peserta. Termasuk beberapa teman Snuff Puppet yang kondisi kesehatannya juga mulai menurun.

Tetapi saya terperanjat melihat semangat teman-teman untuk melanjutkan proses ini sampai ke pertunjukan. Sakit di badan ternyata tak mempengaruhi semangat dalam berproses. Hal itu sangat terlihat saat gladi resik, 2 Juni 2007.  Alun-alun utara menjelma laksana gurun sahara yang siap membakar kami. Belum lagi ketika kami harus masuk ke dalam boneka, wuah….sauna gratis! Keringat mengucur seperti mata air, nafas terbelenggu oleh kain yang menyelimuti boneka, belum lagi bau cat yang menyengat. Semua bersatu bersama badan yang tak sehat. Wah, seperti pembantaian di tengah padang Alun-alun Utara.

Tiga kali kami harus latihan menggunakan boneka. Yang pertama kali memang yang paling menyiksa. Bahkan ada teman-teman yang hampir pingsan, terutama yang memerankan boneka Punakawan. Namun, sekali lagi semangat mengalahkan semuanya. Seolah tercipta satu kata mutiara baru: ”Dengan semangat, tubuh menjadi kuat”. Begitulah. Akhirnya kami bisa juga menaklukkan boneka-boneka raksasa itu. Dan sebuah ungkapan manis pun keluar dari seorang teman, dia mengatakan, ”Di dalam tubuh yang berat, terdapat jiwa yang sehat”.

Minggu, 3 Juni 2007 akhirnya datang juga. Semangat ingin menunjukkan yang terbaik untuk sebuah proses sudah di depan mata. Tapi di balik itu, ada kekecewaan dan kesedihan melanda saya (mungkin juga teman-teman yang lain). Proses dengan dinamika yang sangat unik itu akan selesai beberapa jam lagi. Beberapa saat setelah boneka-boneka berhasil menghibur warga Jogja yang sore itu berkumpul di alun-alun utara. Belum cukup kiranya saya mengambil jajanan ilmu yang bertebaran. Selain itu, rasa enggan kehilangan proses yang erat dengan nuansa canda dan kebersamaan itu terasa begitu menyesakkan dada. Tapi apa boleh buat, proses itu secara fisik harus berhenti. Namun seperti kata Ian Pidd, ”Saya memang berada di Australia, tapi saya akan terus merasa berjalan-jalan di Alun-alun utara”. Saya pribadi berharap proses ini secara non-formal akan terus berlanjut. Seperti juga harapan Andy bahwa boneka-boneka itu harus tetap hidup, dapat terwujud.

* Wawan Dwi Santosa, aktor di kelompok Teater (Serius) La’Gientis, sering menjadi MC dalam berbagai pertunjukan dan acara di Yogyakarta.

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Ada gerak tubuh yang meninggalkan kesan aneh, bingung, lucu, bosan, imajinatif, dan entah, di benak para penonton. Pertunjukan tari pada tanggal 12-13 April 2007 di Kedai Kebun Forum itu terasa asing, mencipta ruang kesendirian, asyik dengan dunianya dan mungkin, asing dari pertunjukan tari.

Tempat pertunjukan yang semula berupa ruang serba guna dan berfungsi sebagai lapangan bulu tangkis, malam itu berubah menjadi  ruang gelap. Kain hitam memayungi seluruh ruang setinggi 2 meter dari lantai. Dinding dan tempat duduk penonton juga diselimuti kain hitam kecuali kursi-kursi merah yang berjajar di belakang. Seperti berada dalam bungkusan kado ulang tahun. Hanya lantai tempat para Penari masih berwarna hijau tua dan bergaris hitam berbentuk setengah lapangan bulutangkis, tapi di situlah kenyataan yang lugu berada dan membuat mata lega.

Pidato Bunga-Bunga, mengawali pertunjukan ini. Pada adegan awal, Penari berdiri sambil meliuk-liukkan tubuhnya dan sesekali menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Bikin penasaran, mencari-cari maksudnya. Akan tetapi, setelah adegan berikutnya dengan perpindahan blocking, kemunculan gerak seperti menendang pantat, mencubit, menyentil dan mencium pusar, segera menggugah imajinasi tentang bunga-bunga yang hidup, berbicara, dan bermain kian kemari. Seperti sedang mengintip bunga-bunga yang berlarian, melamun, gembira, berdialog, dan… terserah penonton menerkanya.

Ada bunga botak berkuncir gimbal di tengahnya dan bunga kecil berkostum longdress merah mini. Ada juga bunga bertopi ala koboi dan bunga bersanggul, berpakaian ala cenayang suku Gipsi. Saat adegan bunga-bunga itu berjajar, muncul karakter-karakternya. Terlihat lewat mimik dan gerak; sombong, cerewet, penyabar, dan innocent. Lalu muncul seseorang yang membawa gunting, berjalan hilir mudik merusak suasana taman tempat tumbuhnya bunga.

Bunga-bunga itu terus bergerak beriringan dengan musik bernada lelah; terdengar suara desah, gemerutuk, dan berbisik-bisik namun terus mengalir hingga bunga-bunga berjongkok rendah, melangkah lamban kelelahan. Mereka terus melangkah menempuh kesunyiannya. Bunga-bunga itu telah kehilangan taman, mereka mewakili yang tersingkir dan terus mencari tempat untuk tumbuh.

Flight no 12. Karya yang berdurasi 8-10 menit ini pernah dipentaskan dalam pembukaan pameran lukisan Id Hanafi (O House Gallery, Galeri Nasional Jakarta, 2006) tetapi sudah mengalami perubahan dalam prosesnya. Awalnya adalah benang karet warna merah melintang di tengah panggung remang, Penari perlahan muncul dari dinding hitam, menggigit benang lalu tangannya memainkan benang sambil menyanyikan tembang Jawa. Cuma separuh tubuhnya yang muncul, pinggang ke atas bergerak lentur. Tubuhnya seperti layang-layang, melayang di tengah awan hitam. Tubuh itu mengenakan kostum biru berumbai-rumbai yang ujung-ujungnya bergelantungan bola kecil warna-warni. Ia terus menari dan melantunkan tembang hingga tubuhnya hilang di balik dinding hitam dan benang merah itu diam lalu lepas. Crat! Repertoar ini, menurut beberapa penonton berhasil mencipta suasana baru dan membuka tawaran tentang  bentuk tari.

Repertoar terakhir berjudul Beras Merah. Sebuah karya yang pernah dipentaskan dalam International Dance Festival (IDF) di Jakarta 2006. Awalnya para penari mencoba rileks saat masuk panggung, dengan suara siulan yang mengiringi langkah dan geraknya.

Beras Merah

Gerak-gerak itu terus mengalir dan para penari mengucap kata aneh taclep, oks fruut, melwa, rarrar mungkin percakapan bangsa Alien. Makin lama, gerak yang muncul terasa berat, sedang hadirnya lagu Sway, karya Pablo Beltan Ruiz di sela pementasan sejenak menjadi sandaran lelah dan bosan.

Adegan yang mengundang tanya muncul saat dua penari memegang dan memainkan belut. Rupanya belut berasal dari mitologi  Dewi Sri yang sedang datang bulan, membuat sawah berwarna merah dan menghasilkan beras merah. Lalu pembalutnya dibuang ke sawah dan berubah menjadi belut. Karya Beras Merah terinspirasi dari proses datang bulan. Properti berupa sand sack tinju diibaratkan batang rahim. Sesekali rahim itu dipukul dan diajak berdansa. Kemudian muncul seorang lelaki memainkan pipa alumunium sebagai proses antara pembersihan dan kesuburan. Repertoar ini berakhir dengan lampu warna merah menyorot memerahkan ruang panggung dan  batang rahim itu terus berayun-ayun di antara dua penari.

Repertoar tari Pidato Bunga-bunga merupakan proses mencari tubuh Tari bukan tubuh Penari. Karya ini merupakan hasil dari eksplorasi atas gerak keseharian para pelaku tari yang berstatus ibu rumah tangga, perajut, tukang kebun, dan mahasiswa, kemudian dirangkai menjadi sebuah pementasan tari. Sedang tubuh Penari mengacu pada tubuh yang telah diprofesikan, berhubungan dengan kerja dan rutinitas sehingga menjadi tubuh yang mekanis, tak ubahnya seperti mesin, kata sang koreografer. Jadi tubuh tari ada dimana-mana, ada di tubuh bayi, anak-anak, remaja, buruh, pegawai negeri, petani, pedagang, guru, tukang patri, pelacur, pemulung, bahkan presiden asal mereka mau menari.

Tiga repertoar tari ini juga dipentaskan di Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo pada tanggal 18-19 April 2007 dan di bulan Juni dipentaskan lagi di Jakarta.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

Dari kiri: Flight No.12, Pidato Bunga-bunga, Pidato Bunga-bunga

Penari: Yoyo Jewe, Yuni Wahyuning, Media Anugrah Ayu, Yustinus Popo, Ika Dewi Wulandari dan Fitri Setyaningsih. Koreografer: Fitri Setyaningsih, Musik: Leon Delorenso, Kostum: Fukamachi Rei dan Rika Caroline, Bas betot/Ending song: Bengbeng. Teks/artistik: Afrizal Malna, Stage manager/lighting: Caroko Turah dan Anto Hercules. Konsultan proyek: Helly Minarti. Riset: Surya Saluang, Fotogafer: Rika Oinonen.

Komentar Penonton

Fitri aktif, produktif dan selalu mencari hal baru. Seperti dirinya yang terus mencari esensi hidup lewat karya-karya tari dan mungkin dia akan menemukannya dengan karya-karya selanjutnya. (Miroto, Penari, tinggal di Studio Banjarmili Yogyakarta, 49 tahun)

Setting ruang bagus, saya terkesan dengan teknik muncul repertoar ke dua. Sempet membuat saya deg-degan kalau-kalau atapnya jatuh. Itu saja. (Ibob, 25 tahun, Mahasiswa komunikasi Atmajaya)

Apik, saya seneng musiknya. Tari yang kedua dan Beras Merah saya suka. (Bagus Dwi Danto 28 tahun Pekerja seni dan penyair indie tinggal di Jogja)

Masalah lighting bagus. Settingnya terlalu sempit. (Mbeong, 29 Tahun, Pekerja seni kerajinan)

Untuk Beras Merah aku gak menangkap jelas . paling kena repertoar ke 2. (Dito. 22 tahun, Mahasiswa Atmajaya, Komunikasi)

Repertoar kedua unik, yang pertama gak ngrasa klimaks, ketiga bagus. (Tutik, Penikmat Seni, 30 tahun)

Terkesan dengan staminanya yang gila-gilaan! Gerakannya bikin pusing dan bingung artinya. (Salsa, 22 tahun, Mahasiswi Atmajaya semester 6)

Musiknya menarik, saya suka. (Santo, musikus aktif di Rumah Panggung)

Saya melihat nuansa -gerak- teaterikal dalam pertunjukan ini. (Cunong Boy, 27 tahun, Seniman muda Solo)

Oleh: Y. Thendra BP*

Seorang kawan karib sekaligus lawan diskusi yang kerap bikin urat leher saya tegang, di suatu malam di bawah lampu 20 watt, bercuap-cuap tentang teater kampus: “Sudahlah, kamu minggat saja dari teater kampus. Masak dari tahun ke tahun menghadapi masalah yang itu-itu juga. Proses yang harus menyesuaikan dengan jadwal akademik. Penerimaan anggota baru. Pendanaan yang bergantung banget dari kampus. Mana pertunjukannya sering terbengkalai lagi. Gagap. Lha, kamu kan sudah bertahun-tahun berteater. Kapan lagi mencari gagasan agak wah tentang teater!”

Saya tidak menyahuti komentarnya yang serasa “cuka” itu. Saya lebih memilih diam sambil memperhatikan kerutan-kerutan di dahinya dan tangannya yang bergerak kemana-mana hampir tanpa bentuk dan irama -gerak tangan alami yang tercipta tanpa kepura-puraan yang indah- tanpa disadari oleh pemiliknya, gerak tangan yang tak membuat bekas di udara yang ditinggalkan. Kadang, saya lebih tertarik pada gerak tubuh orang yang sedang berbicara. Gerak tubuh itu menyimpan ruang gelap dalam bahasa.

Ngapain kamu masih betah berteater dengan kawan-kawan yang manja itu”.

“Tidak semuanya manja, kok!” akhirnya saya menyela juga karena tak tahan.

“Oke, tak semuanya manja. Tapi sejauh mana mereka bersungguh-sungguh berteater? Paling sampai skripsi.”

Saya menukikkan mata pada karpet yang menjadi alas duduk kami. Tak semuanya, batin saya, seakan ingin menampik ragu yang lebih banyak datang dari diri saya sendiri. “Teater kampus? Ya gitu, deh!”  Kemudian ia tertawa. Selepas itu, kami lebih banyak bergunjing tentang orang orang -kadang komunitas- teater yang cukup dikenal. Tentang peristiwa teater yang mereka lahirkan, hingga percakapan kami akhirnya jadi  membosankan. Ia minta permisi. Pulang tanpa membungkukkan badan. Sepeninggal dia, saya tercenung. Benarkah teater kampus itu hanya sekumpulan mahasiswa yang suka-suka? Yang menjadikan teater semacam aspirin bagi rutinitas “kuliah”, atau memilih teater sebagai alternatif pencegah bunuh diri dari kesepian.

Saya membuka memori intim saya bersama Teater Tangga, yang notabene adalah teater kampus dan tempat saya belajar berteater. Sekian pementasan telah saya hasilkan bersama kawan-kawan, terlepas dari baik dan buruk. Kadang saya dan beberapa kawan terlibat dalam proses teater di luar Teater Tangga. Ikut Workshop. Diskusi tentang teater, bersama menonton pertunjukan. Membagi uang kiriman bulanan yang tak seberapa antara kebutuhan harian dan untuk mencari referensi teater. Mengatur jadwal antara kuliah, kerja (jika sedang), mencuci pakaian, dan berlatih teater. Dan tanpa bermaksud ingin menghitung jerih, beberapa peristiwa teater juga kami bantu dengan meminjamkan peralatan pentas yang kami punya. Dulu, ketika teater Tangga punya ruang pertunjukan sederhana di jalan Hos Cokroaminoto No. 17 (mantan kampus I UMY), beberapa pementasan dan diskusi teater pernah terjadi di sana, baik dari Jogja maupun luar Jogja.

Saya juga percaya, ada teater kampus lainnya melakukan hal yang lebih baik dari teater Tangga. Intens melakukan proses kreatif teater. Misalnya, Teater Gadjah Mada dengan Ketoprak Lesung-nya, atau Teater Sahid UIN Sarif Hidayatullah di Jakarta. Juga teater kampus lainnya. Lantas, kenapa teater kampus hanya seperti mentimun bungkuk, masuk karung tapi tak masuk hitungan? Bukankah peristiwa menonton saja, misalnya, sudah menjadi bagian dari peristiwa teater. Di Jogja sekarang, kalau kita jujur, yang menjadi penonton terbesar pertunjukan teater dan jangan-jangan sebagian besar pelaku teater itu sendiri sebagian besar adalah para mahasiswa, baik yang atas nama kampus ataupun tidak.

Hmm, kawan saya itu terlalu berlebihan melihat teater kampus sebagai teater “sekadar”. Barangkali, ia terlalu terpesona dengan “estetika” dan pertunjukan yang besar, agak acuh dengan peristiwa kecil teater. Barangkali, ia lupa bahwa ada peristiwa (teater) sederhana yang terus berlangsung di sekitarnya tanpa menagih apa-apa. Dan sudah saatnya peristiwa (teater) sederhana itu mendapat tempat, tercatat dalam diary teater Indonesia (?), paling tidak di Jogja kota “budaya” ini. Atau bisa jadi, ia memberikan sindiran halus bagi pelaku teater kampus macam saya, untuk memikirkan ruang teater lain pasca aktif di teater kampus. Dan jika ini benar, tentu saya mengucapkan tengkyu untuknya. Tengkyu bertubi-tubi, fren.

Malam itu, di bawah lampu 20 watt saya melihat bayang-bayang tubuh saya yang tergeletak di karpet. Bayang-bayang tubuh saya seperti awan gelap yang menyimpan hujan.

*Y. Thendra BP, berasal dari Sumatera Barat, lahir 10 Mei. Sutradara dan aktor pada beberapa pertunjukan Teater Tangga dan beberapa kelompok lain. Selain itu ia juga menulis cerpen, puisi, dan esai, dan naskah pertunjukan.

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

Oleh: Hindra Setya Rini*

“Sirkus kontemporer? Seperti apa sih?” begitu bisik-bisik beberapa penonton sebelum pertunjukan dimulai.

Yap! Tepatnya malam hari pukul 20.00 WIB, tanggal 17 Juni 2007 di Eks kampus ASRI Gampingan, digelar sebuah sirkus kontemporer yang berasal dari Perancis. Tak ada tenda besar yang biasanya menjadi arena permainan sirkus. Tak ada hewan-hewan jinak yang pintar. Tak ada gadis-gadis seksi memamerkan tubuh lentur dengan ketrampilan berakrobat-nya. Sirkus kali ini dipertunjukkan di tempat terbuka dengan dihadiri cukup banyak penonton berbagai kalangan di Jogja.

Bentuk setting panggung tidak biasa; hanya dua tiang yang berdiri menjulang tinggi dengan sebuah tempat berbentuk limas segi tiga dan berlubang-lubang, menggantung di atas tepat di antara kedua tiang. Sekilas mirip rumah burung. Apalagi ketika Si Artis bermain-main di sana. Melongokkan kepalanya di antara lubang-lubang. Membuat penonton tertawa.

Dia adalah Eric Lacomte. Artis sirkus sejak sekitar lima belas tahun lalu. Penampilannya di atas panggung selalu ringan dan tak terduga. Bersama teman-temannya; Oliver Farge, Ex Nihilo, dan Retouramont berhasil mengembangkan teknik-teknik tarian dan akrobat udara. Seperti pada malam itu; tubuhnya yang liat dan lentur ketika merayap di lantai dan memanjat dinding, naik dengan berjalan pada tiang, meluncur bak ikan, serta bermain dengan balon yang mengundang decak kagum penonton.

Dalam pertunjukannya, Compagnie 9.81 memainkan hukum bebas gravitasi untuk menyelip masuk dalam suatu kenyataan bahwa tiap perpindahan berada di perbatasan dua ruang: bumi dan udara. Dikemas dengan tata cahaya warna-warni yang ngejreng di akhir pertunjukan menambah sirkus model ini sayang untuk dilewatkan. Selain menarik, juga menyegarkan mata.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Komentar Penonton

Ini pertama kali lihat bentuk sirkus kayak gitu. Kok, kayak teater. Pertamanya sih kepikiran, kok bisa mainin sirkus seperti itu, ya? Keren banget! Apalagi dia kayak cicak pas di tiang (pemainnya-pen). Keren…keren.” (Seto, 23 tahun, mahasiswa Fak. Ekonomi UGM)

“Cukup menarik. Di Jogja baru kali ini ada pertunjukan sirkus kayak gitu. Spektakuler. Dan aku juga baru pertama kali lihat yang modelnya seperti itu. Beda dari sirkus-sirkus biasanya.” (Dimas, 21 tahun, mahasiswa Bahasa Jerman UNY)

“Bagus. Menurutku keren. Tidak seperti sirkus pada umumnya. Sangat kontemporer. Biasanya kan sirkus ya jalan-jalan di atas tali, atau berayun-ayun di atas ketinggian. Tapi, yang ini beda. Malah terlihat seperti performance art. Kemasannya bagus. Meski pemainnya tidak terlalu komunikatif dengan penonton, asyik main sendiri, menurutku, tapi aku suka. Sirkus ini sangat-sangat kontemporer. Keren.” (Dira, 25 tahun, bekerja di Bantul)

“Keren. Apalagi mainnya malam, tuh. Kalo siang kayaknya nggak menarik deh. yang bikin keren itu lighting-nya sih, menurutku. Jadi itu oke karena dimainkan pada malam hari. Gitu…” (Iwan Gondrong, 27 tahun, pekerja sosial dan mahasiswa, juga sebagai pustakawan Papermoon Puppet Theatre)

“Keren banget! Waktunya kurang panjang. Sirkus malam ini beda sama sirkus yang biasanya aku lihat.” (Titi, 18 tahun, Siswi Stella Duce 2)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Sedikit tentang Tokoh kita

Pedro Soejono. Nama itu tak asing lagi dalam sejarah Teater Yogyakarta, bahkan Indonesia. Para pekerja dan penggemar seni teater di Yogya era 60-80an pasti – akrab –mengenalnya. Ia  salah satu motor penggerak Teater Muslim. Kiprahnya dalam jagad teater khususnya di Yogyakarta tak diragukan lagi. Tokoh teater yang lahir di Bondowoso 31 Desember 1932 ini sebelum aktif di teater Muslim sempat bergabung dengan kelompok Aplaco (1957-1959) di Yogyakarta. Kemudian menjadi penggerak awal teater Muslim pada tahun 1961 bersama Mohammad Diponegoro. Menariknya lagi, selain bergerak di dunia seni Teater ternyata Pedro Soejono seorang Pengusaha Tempe yang dikenal dengan nama produk Tempe Pedro.

“Pedro Soejono adalah dramawan moncer tatkala realisme masih dominan di Indonesia,” kata Bakdi Soemanto dalam pengantarnya yang berjudul Sang Tempe. Sayang, Pedro Soejono  telah meninggalkan kita semua, tapi ia telah menorehkan jejak yang tak mungkin terhapus oleh gerak jaman. Semangatnya akan terus hidup dan menyala.

Mencerahkan Realisme Konvensional di Yogya.

Di tengah gegap-gempitanya pertunjukan teater non konvensional  dengan berbagai macam konsep dan aliran, rupanya teater realis masih tetap ada dan tidak ditinggalkan. Teater Muslim membuktikannya dengan mementaskan Naskah Pedro Dalam Pasungan yang aslinya berjudul Rencana Setan karya Pedro Soejono di Gedung Societeit Militer Yogyakarta,  pada tanggal 14 – 15 April 2007.

Pedro dalam Pasungan adaptasi dari Rencana Setan

Sebuah cerita tentang hidup yang disikapi dengan pikiran pragmatis, picik dan penuh strategi jahat. Perkawinan tanpa harta adalah tragedi kesedihan. Pandangan itulah yang membuat Ningsih (Sita) rela kawin dengan Pedro (Brisman HS), duda tua pemilik pabrik teh dan tuan tanah. Hal itu telah direncanakan dengan Karno (Ucok), pacarnya yang juga keponakan Pedro. Mereka mengira umur Pedro tak bakal lama, namun kehadiran anak (Dea) dalam rumah tangganya  menumbuhkan daya hidup Pedro. Lalu Ningsih membuat rencana hendak meracun Pedro tetapi digagalkan Mbok Ijah (Santi) dengan tidak sengaja. Rencana kedua kembali disusun, Ningsih meneror Pedro dengan meragukan Dea sebagai anaknya, hingga Pedro frustasi, meracau dan berprilaku tanpa kontrol. Lantas ia menuduh Pedro telah menjadi gila. Ia mengundang dokter Ahmad (Masroom Bara) yang masih sahabat Pedro untuk memperkuat tuduhannya. Pedro berakhir dalam pasungan yang dibawa dokter Ahmad.

Panggung penuh dengan setting dan properti. Penataan setting tak sekadar memenuhi panggung tapi penuh perhitungan dan penyiasatan. Terlihat pada paduan warna benda, tata letak properti dan penciptaan ruang. Setting menggambarkan sebuah ruangan rumah keluarga kaya, semuanya terlihat jelas dan detail dari berbagai sudut pandang. Sorotan lampu mematangkan warna benda dan memunculkan karakter suasana. Panggung yang berbentuk prosenium terbagi menjadi beberapa ruang; kamar tamu, ruang santai (seperti bar) dan bagian tengah adalah tangga berselimut karpet berwarna hijau yang menandakan rumahnya bertingkat.

Para tokoh yang sebagian diperankan aktor senior (Brisman H.S., Masroom Bara, dan Santi) ternyata tidak menyurutkan stamina permainan. Brisman H.S bermain dengan prima dari awal hingga akhir pertunjukan. Dua aktor lain, Masroom Bara dan Santi memainkan karakternya dengan kuat. Sementara itu, aktor muda tak ketinggalan mewarnai pertunjukan dengan aktingnya yang dinamis.

Perkembangan drama realis di Yogyakarta menginjak tahun 2000-an memang tak dapat lepas dari peran Teater Gardanalla yang menggeluti realisme hingga melahirkan konsep baru. Beberapa bulan lalu pementasan drama realis juga diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) lewat Parade Teater Realita, juga Teater Garasi lewat program Aktor Studio. Akan tetapi, drama realis produksi Teater Muslim, hadir tiba-tiba di tengah jagad Teater Jogja yang dilanda krisis bentuk realis konvensional. Teater Muslim turut meramaikan sekaligus mencerahkan drama realis konvensional di Yogyakarta.

Semangat Muda

Kelompok Teater Muslim sebenarnya sudah lama berkiprah dalam jagad teater sejak tahun 1961, khususnya di Yogyakarta. Arifin C Noer, salah satu sutradara film dan teater terkemuka di Indonesia juga pernah bergiat dalam Teater Muslim bersama Mohammad Diponegoro. Teater Muslim telah mementaskan banyak naskah lakon, diantaranya: Iblis (1961), Surat pada Gurbernur (1963), Prabu Salya (1964), Si Bakhil (1982), Sekeras Karang (1984), dan Abu Dar (1985).

Sepeninggal Mohammad Diponegoro Teater Muslim dipimpin oleh Pedro Soejono.  Kelompok ini sering mengisi acara di TVRI Yogya pada tahun 80-an. Kini teater Muslim seperti sedang menggeliat bangun dari tidur panjangnya. Merajut cita-cita dengan semangat muda.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Tim Kerja Pertunjukan:

Manager Produksi: Brohisman. Sutradara: Liek Suyanto. Desain Artistik: Drs. Agus Layloor, Yono Milo. Musik: Nono Diono, Edy.S dkk. Make Up: Trisulo Pemain: Briman H.S., Mbok Mas Santi, Titik Rengganis, Dian Agnesita Dewi. A, Ucok ISI, Masroom Bara, Kadir ISI, dan Dea.

Komentar penonton:

“Bagus, penyutradaraannya keren. Pemeran utamanya juga bagus.” (Dara, SMA Muh II, 17 Tahun)

“Bagus, cuman untuk remaja belum paham. Ga begitu suka dengan tokohnya, temanya bukan tema remaja.” (Danis, kelas 3 SMA Muh II, 16 Tahun)

“Bagus, nostalgia sama karya Pedro, masih layak untuk dipentaskan, sarat akan pesan. Penggarapan disesuaikan zaman juga tokohnya.” (Ibu Ikarini, Pekerja TVRI, 44 Tahun)

“Kesan sebuah Prinsip atau Ideologi memang tak boleh mati, harus diperjuangkan untuk hidup.” (Satmoko Budi Santoso, Penulis, 31 Tahun)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Di tengah belantara rimba tempat kesunyian dan keterasingan bernaung. Seorang Pertapa bersila di depan sebuah gua, ia  berada jauh dari gegap-gempita keramaian dunia. Namun ia dapat mendengar suara rintih dan jerit kesedihan dari jauh. Suara itu berseliweran dalam telinganya dan menyusup dalam relung-relung perasaannya. Suara-suara itu adalah tragedi bencana alam dan kehidupan manusia.

Tubuh dekil telanjang dada dengan rambut kumal itu menggeliat perlahan-lahan, diikuti suara-suara dan sorot cahaya yang redup terang.  Sementara itu, seorang Pelukis yang tengah mencari inspirasi telah berada di tempat yang sama. “Siapa kamu” berkali-kali sang Pelukis bertanya pada Pertapa, namun tak kunjung mendapat jawaban. “Apa yang membuatmu terbangun?” lagi, Pelukis itu bertanya. Dari sinilah percakapan perihal kehidupan dan kemanusian dimulai. Ketidakadilan, keserakahan, kesewenangan antar manusia dan manusia dengan alamnya, menjadi carut-marut perdebatan yang mencari titiknya. Hakekat manusia, alam dan sang Pencipta.

“Apa yang harus dilakukan di tengah bencana alam dan kemanusiaan yang menyedihkan?” Pertanyaan itu yang membuat sang Pertapa bingung.

Sesosok perempuan muncul tiba-tiba dan semakin menggelisahkan Sang Pertapa. Kehadirannya tak diketahui oleh Pelukis sebab Perempuan itu merupakan bagian diri Sang Pertapa. Ia selalu memberikan petunjuk kepadanya.

Rupanya Pelukis memberikan jalan pada Sang Pertapa, bahwa dirinya harus meninggalkan pertapaannya dan pergi menolong manusia. Sedangkan sosok Perempuan beranggapan lain; Manusia harus berusaha menyadarkan dan menolong dirinya sendiri dari bencana. Ternyata Sang Pertapa tak memilih keduanya. Ia memilih jalan kematian bagi dirinya setelah tubuhnya dilumuri cat oleh Pelukis menjadi Lukisan Tubuh. Lukisan tentang kehidupan yang terus dirundung gelisah.

Lukisan Tubuh merupakan drama yang dibawakan oleh kelompok Teater Terjal pada tanggal 27 Mei 2007 di Gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta. Cerita berlatar hutan rimba, setting ditata memenuhi panggung dengan teknis seni rupa yang kuat. Hutan itu hanya diam menjadi tempat yang bisu di antara lalu-lalang  akting dan dialog. Sementara, dialog antar tokoh yang bermuatan nilai filsafat itu terasa berat dan tegang. Agak susah untuk dipahami, membuat jidat mengkerut dan akhirnya lepas dalam kelelahan.

Kedua aktor yang berperan menjadi Pelukis dan Pertapa berusaha membangun suasana lewat kekuatan akting dan dialog, meski kadang irama permainannya terasa datar dan intonasinya terdengar monoton penuh penekanan. Akan tetapi, kemunculan tokoh Perempuan membuat warna baru dalam permainan dengan irama dialog yang berkarakter.

Kelompok Teater Terjal ini berisikan orang-orang gelisah yang guyub dalam satu rumah. TERJAL  menyatakan berhak dan berkewajiban untuk hidup, berkembang, dan mengalir dalam dunia teater dengan segala tawaran “kemiskinan materi” dan “kekayaan kreasi”. Juga berkeyakinan untuk mampu hidup, berkreasi, berekspresi, dan berinovasi dengan segala himpitan dan rintangan dalam rimba teater Indonesia.

Demikianlah Teater Terjal dalam Lukisan Tubuh-nya.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Pimpinan Umum: Abizar Purnama, Pimpinan Produksi: Indra Dwi Fitrianto, Sutradara dan Penulis Naskah: Wiwid W. Setiawan, Penata Artistik: Tsaibun Nuhud, Penata Panggung dan Properti: Rahmad Kurniawan, Penata Cahaya: Ahmad Fauzan. Penata Musik: Fahrie Shiam, Penata Rias dan Kostum: A.A.A.I. Kusumah Dewi, Listiarini, Ika Kumala Sari, Utami. Manajer Panggung: Andika Satria Perdana. Aktor: Ibnu Karim Aziz (Petapa) Wahyu Budi Utomo (Pelukis) Yorsi Nuzulia (Wanita)

Komentar Penonton:

Duh, ceritanya berat jadinya bosenin deh, nangkepnya susah. Eh, tapi artistiknya aku suka. Lebih bagus dibanding aktornya.” (Onald, 24 tahun, Mahasiswa Sadhar, Jurusan Akuntansi.)

“Suka aja untuk konsumsi pribadi.” (Fatwa, 25 tahun, Mahasiswa UMY, Jurusan HI)

“Bagus, Ekspresif, Bahasanya kena.” (Adlian, FIB UGM, 20 tahun)

“Bagus, Suka yang cewek karena suaranya bagus. Sayang, tokoh utamanya, suaranya datar dan intonasinya gak jelas. Musik efeknya gak pas atau emang disengaja?” (Rini, FIB UGM, 22 tahun)

“Bagus, Waktu Break lampu ke penonton panggung jadinya gelap.” (Wahyu, SMA Ngawi, 20 tahun)

“Bagus, Filosofis, ada yang saya sepakati dan ada yang tidak. Ada tiga hal: sejarah diri, Pencarian hidup, Keputusan yang harus dipilih.” (Ina, FIB UGM, 22 tahun)

“Teaternya menggugah untuk berpikir hidup, mencari sesuatu, titik utama pada pencerahan.” (Asih, Sastra Inggris, 23 tahun)

“Settingnya bagus, terus maksud jelasnya kita kurang paham. Bahasanya cukup, maksud ceritanya gak dong, habis kita kan bukan anak sastra. He..he..hii..hi.. tapi cukup keren. Eh, tambahan lagi Pemainnya sedikit. Jadi bikin boring, keluar masuk pemain gak ada, tak pikir kayak di tv-tv gitu.” (Erna, Latif, Jurusan Farmasi. Winda dan Nasya. jurusan Psikologi. Universitas Ahmad Dahlan atau UAD)

Next Page »