Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Saat membaca poster acara “Parade Puisi Putra Bangsa” saya kaget melihat keterangan tempatnya, kok di Plasa Serangan Umum 1 Maret? Berarti di ujung Jalan Malioboro. Melihat hari acara yang tanggal 19 Agusutus yang berarti pula malam Minggu. Aha! Acara ini memang ditujukan untuk mencuri perhatian para pemuda pemudi. Bagaimana tidak, Malioboro di malam minggu adalah pusat keramaian dan tongkrongan anak-anak muda Yogyakarta, biasanya di sepanjang jalan Malioboro diadakan acara-acara musik, Plasa Serangan Umum sendiri biasanya dipergunakan untuk acara musik-musik rohani atau pertunjukan wayang. Tapi Parade Puisi ? Berapa banyak generasi muda yang menyenangi acara pembacaan puisi?

Tapi panitia acara ini tentu punya banyak pertimbangan lain yang berbeda dengan saya untuk menentukan pilihan tempat dan waktu acara. Karena ternyata dengan disponsori sebuah perusahaan rokok, panitia acara ini nampaknya cukup mendapat support untuk membangun panggung dengan dua layar ukuran besar di kanan kirinya, ditambah lagi menyewa sound yang sangat “mumpuni” untuk pembacaan puisi, yang menghadap ke jalan Malioboro yang ramainya bukan main malam hari itu.

Parade puisi ini adalah rangkaian dari acara untuk menyambut ulang tahun kota Jogja yang ke-250. Rangkaian acara ulang tahun Jogja kali ini sendiri bertajuk “Bangkit Seni Budaya Jogja!”, tentu ini berkaitan dengan bencana gempa yang baru saja mengguncang daerah Jogja dan Klaten. Dalam sambutan-sambutan yang dituliskan Gubernur Jogja, walikota, dan penyelenggara di katalog acara semuanya bernada sama, acara ini sebuah momentum untuk menyebarkan semangat lagi untuk membangun Jogja kembali seperti keadaan semula.

Parade Puisi ini menghadirkan Taufik Ismail, Evi Idawati, Whani Dharmawan, Yudi Ahmad Tajudin, Landung Simatupang, Darmanto Jatman, Emha Ainun Nadjib, dan W.S. Rendra. Semuanya adalah nama-nama yang sudah dikenal luas sebagai penyair maupun sastrawan di Jogja, maupun Indonesia. Semua nama-nama tersebut pernah mengalami proses kreatif di kota ini. Selain itu tampil pula Rona Mentari, seorang penyair dan dai cilik dan Lindi Chistia Prabha, runner up Putri Indonesia yang malam itu didaulat membaca puisi.

Para penyair tampil dengan gaya mereka sendiri-sendiri, membacakan puisi, monolog, atau cerita pendek. Landung Simatupang yang lembut dan bersahaja, Whani Dharmawan yang penuh semangat tapi tetap ‘ndhagel’, Taufik Ismail yang sudah kelihatan berkeriput dengan topi pet hitamnya yang khas tapi tetap berusaha kelihatan bersemangat, romantisme Darmanto Jatman yang dibaca dengan gaya bertutur, dan tentu saja W.S. Rendra yang menutup acara dengan sisa-sisa masa kebesaran kepenyairannya.

Kalau ada yang tampil beda mungkin Yudi Ahmad Tajudin, yang membacakan puisi “Masyarakat Rosa” dari Afrizal Malna, ia tampil ditemani dua orang wanita yang menjadi suara latar diiringi musik techno, dan tampilan video di kanan-kiri panggung. Meski terganggu karena matinya mikrofon yang digunakan dua orang wanita pengiringnya, ia menjadi satu-satunya penyair yang tampil dengan diiringi musik pada malam hari itu. Selain itu ada Emha Ainun Nadjib, tampil dengan kaos warna merah menyala, kalau tidak salah bergambar wajah Mao Zedong. Saya tidak yakin ia menyebut judul puisi yang dibacakannya atau siapa yang menulisnya. Tapi yang jelas puisi yang dibaca dengan begitu berapi-api dan penuh nada kebencian itu berisikan tentang hinaan, ejekan, pisuhan, dan pembunuhan seseorang yang begitu direndahkannya, di akhir puisinya ia menyebutkan nama orang itu tak lain adalah dirinya sendiri. Tentu saja ia disambut tepuk tangan riuh rendah dari penonton yang memadati acara tersebut. Ia tampil begitu berapi-api malam hari itu hingga wajahnya merah saat ia mengeluarkan teriakan panjang khasnya.

Para penonton duduk lesehan di halaman plasa Serangan Umum 1 Maret, banyak pula yang menonton dengan berdiri di luar pagar. Tapi dari pengamatan sekilas saya, sebagian besar di antara para penonton adalah anak-anak muda. Mungkin ketakutan yang saya tulis di awal tadi tak beralasan, mungkin dunia puisi sudah tidak menjadi barang yang asing bagi anak muda sekarang.

Selesai acara, perlahan-lahan para penonton pulang. Hingga kemudian tempat pertunjukan hanya tinggal beberapa orang saja, kru yang bertugas membersihkan panggung, dan para penjual rokok. Saya tak melihat wajah-wajah yang menjadi bersemangat atau menjadi ceria setelah acara ini berlangsung, saya tidak melihat ada kegembiraan yang ditunjukkan para penonton selesai acara tersebut.

Kalau berpikir mengenai tema acara, berapa banyak orang-orang yang menjadi korban yang sebenarnya dalam arti material dan spiritual yang datang menonton acara ini? Apakah mereka masih punya tenaga untuk sekadar mendengarkan orang membaca puisi? Apakah mereka masih berpikir tentang merayakan ulang tahun kotanya yang ke-250? Atau sebaliknya, apakah kalau mereka mendengarkan orang-orang membaca puisi, kemudian langsung gumregah bersemangat, atau “bangkit” menurut bahasa yang digunakan penyelenggara? Ah, hanya pertanyaan-pertanyaan itu tersisa ketika saya mengambil motor untuk segera pulang ke rumah saya yang masih utuh. Semoga saja itu hanya ketakutan-ketakutan saya.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 02, November 2006 – Maret 2007)

Advertisements