Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Tanggal 19 September 2006, saya datang ke Markas AWI (Anak Wayang Indonesia) di Mergangsan untuk bertemu dan ngobrol dengan anak-anak tersebut. Siang itu saya ditemui oleh Gigon dan Viki, keduanya adalah senior bagi anak-anak AWI. Mereka berdua menyarankan agar saya datang lagi malamnya, sekaligus mereka mengundang saya untuk menonton pertunjukan mereka di Sapen. Malam itu saya sempatkan diri untuk menonton pertunjukan mereka di Sapen.

Pentas di pinggir rel ini ternyata gabungan dari musik perkusi, pertunjukan teater, dan pantomim. Dan ternyata mereka juga melayani request lagu-lagu yang diminta penonton. Pentas ini berjudul « Ko Ko Bako. Anak Jogja Anak Masa Depan ». Pemainnya berusia antara 8 – 22 tahun. Dan menurut informasi yang saya dengar mereka telah mementaskan pertunjukan ini hampir di 20 tempat di Bantul dan Klaten.

Setelah pentas, saya menemui mereka lagi. Tampak mereka sangat sibuk mengangkut setting dan alat-alat musik ke panggung, wajah-wajah mereka kelihatan lelah sekali. Akhirnya saya membatalkan wawancara malam itu dan berjanji akan datang hari Senin.

Hari Senin, pukul 15.30 WIB, saya datang ke Markas AWI di Mergangsan. Setelah membangunkan Gigon, yang kemudian memanggil teman-temannya untuk turut bergabung. Selanjutnya saya ngobrol-ngobrol bersama Mila (14 tahun), Nana (14 tahun), Gigon (20 tahun), dan Adi (21 tahun) yang lebih kerap dipanggil Kempor. Lalu datang juga Karina (18 tahun) yang baru pulang sekolah, namun bersedia untuk berhenti sebentar untuk wawancara. Berikut adalah petikan wawancara bersama mereka :

Berapa pertunjukan yang dilakukan AWI untuk program paska gempa?

Gigon:

Rencananya dulu kami pentas keliling di 10 tempat. Kita tentukan tempatnya, di mana saja kira-kira. Setelah itu kami menghubungi partner-partner kami yang kira-kira mau membantu secara finansial.

Nana:

Ya, dulu rencananya cuma 10 tempat saja.

Karin:

Biasanya kami di tempat pentas disediakan makanan, dijamu sama tuan rumahnya. Kalau tuan rumah tidak bisa menyediakan transportasi, kami berangkat sendiri.

Sudah berapa lama kalian aktif di AWI?

Karin :

8 tahun. Selama itu aku bisa kenalan sama teman-teman lain tidak hanya teman sekolah. Tapi juga teman-teman di kampung. Bisa ikut banyak kegiatan, tidak cuma di sekolah saja. Terus, jadi lebih enak dan berani ngobrol sama siapa aja. Di sini soalnya apa, ya? Beda mungkin. Aku kan belajar hal-hal yang nggak ada di sekolah; belajar nari, main teater, musik, terus pentas di mana-mana, bikin-bikin keterampilan, belajar nulis.

Gigon :

Nek Karin ki pengalamane jan jane sithik, ning dasare bocahe cerewet….ha ha ha ha (baca: Kalau Karin itu pengalamannya sebenarnya sedikit, tapi pada dasarnya anaknya cerewet…)

Mila & Nana:

5 tahun.

Anak Wayang Indonesia (AWI) secara resmi berdiri  pada tahun 1998. Gigon dan Viki adalah salah satu angkatan pertama di AWI. Mereka sejak kecil aktif di kegiatan-kegiatan AWI. AWI sendiri merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pendampingan anak-anak di wilayah perkotaan. Mereka membekali anak-anak dengan latihan keterampilan, latihan melukis, mendorong anak untuk berkarya dan menulis. Biasanya anak-anak binaannya ada yang kemudian meneruskan untuk membantu membimbing adik-adiknya seperti halnya Gigon dan Viki.

Dukungan orangtua terhadap kegiatan di AWI?

Kempor:

Kelihatannya gak ada banyak masalah. Soalnya biasanya kalau habis pentas, kami cerita sama mereka. Mereka jadi tahu kegiatan kita apa saja di sini.

Mila:

Orangtuaku gak ngelarang, tapi yang penting aku harus bisa bagi waktu antara AWI sama sekolah.

Kalau Nilai sekolah gimana?

Karina:

Ya itu sebenarnya tergantung dirinya masing-masing. Cuma kalau di sini kan harus pinter bagi waktu. Ya, soalnya piye, ya? Kita semua di sini, kan, masih sekolah, kita masih punya keluarga. Ya waktunya harus dibagi rata.

Gigon:

Kalau rata-rata, anak-anak sini lebih pede dan lebih pinter kalo disuruh ngarang daripada anak-anak yang lain.

Karina:

Lha, iya, Mas. Kalau aku pribadi jadi lebih pinter ngomong, ga takut diliatin orang banyak.

Pas gempa kemarin, teman-teman juga menjadi korban gempa?

Gigon:

Awalnya, ide itu muncul malah sebelum gempa. Waktu itu rencananya mau pentas di barak-barak pengungsian di Merapi, kan, waktu itu banyak juga yang mengungsi di sana? Nah, pas persiapan lha kok malah ada gempa di sini. kita sendiri jadi pengungsi. Terus, yang gedhe-gedhe kan ngobrol.  Gimana, ini? Kita sudah lelah di tenda terus. Maksudnya, ya gimana, ya? Kan bosen kalo tiap hari di dalam tenda. Lihat rumah sendiri ambruk, rumah-rumah tetangga ya ambruk. Tiap hari kok membersihkan brengkelan (reruntuhan) terus.  Masak ga ada yang lain? Terus, temen-temen ngumpul bareng dibantu sama salah satu pendiri AWI (dulu), kita bareng-bareng ngobrol bikin program pementasan ini.

Persiapan untuk program ini sekitar dua minggu, yang gedhe-gedhe mencari dana menghubungi daerah-daerah yang mau jadi lokasi pentas. Cari dukungan-dukungan. Tapi untuk pertunjukannya semua anak-anak terlibat. Pentas pertama itu tanggal 2 Juli di Imogiri, kurang lebih sebulan setelah gempa.

Kalau  motivasi temen-temen untuk pentas sebenarnya apa sih? Kok kalian begitu semangat sampai pentas 18 kali?

Gigon:

Kalau yang perempuan-perempuan itu awalnya niatnya mau cari cowok kok, Mas. Tapi ternyata di Bantul, cowoknya dah mati semua ketiban brengkelan. Hahahahaha (kami tertawa)

Nana:

Ya, buat cari temen aja, Mas. Aku kan belum pernah liat daerah gempanya secara langsung.

Mila:

Kalau aku pengin wae berbagi semangat sama anak-anak lain yang jadi korban gempa. Aku, ya korban gempa, tapi kan seneng kalau bisa buat temen-temen yang lain jadi tersenyum dan semangat.

Karina:

Mmm…, kalau dibilang jalan-jalan kan ya nggak etis, ya? Tapi ya mosok di  rumah diem aja. Sedih terus. Nanti kan malah trauma terus. Kan ya ada suka duka. Tapi kita harus tetap ceria, dan berbagi keceriaan. Ya memang kita itu korban gempa. Ya sedih, ya trauma, tapi anggap aja itu bencana, tapi kita harus tetep ceria.

Kempor:

Soale kalau aku ya bisanya cuma ngasih semangat buat mereka. Kalau aku disuruh menghibur, jelas kalah sama yang di TV. Ya, aku cuma ngasih semangat saja. Biar mereka gak stress terus.

Terus gimana cara kalian untuk mempersiapkan pentas ini?

Karina:

Ya pas habis gempa itu, kan, sekolah libur. Terus sempet masuk tapi kan cuma setengah hari. Jadi waktu itu, masih banyak waktu buat ngumpul. Kita koordinasi tiap hari. Ada jadwalnya. Besok kumpul mbahas cerita, terus ngumpul lagi bagi-bagi tugas. Kita bikin seksi-seksi.

Untuk program pertunjukan paska gempa, anak-anak AWI sepenuhnya mengorganisasikan diri mereka sendiri. Mereka membentuk kelompok dengan nama “Teater Jangkar Bumi”, mereka bergerak atas wadah itu dan tidak menggunakan nama Anak Wayang Indonesia. Menurut Gigon dan Viki, hal ini karena ide untuk program ini berasal dari anak-anak sendiri, bukan bagian dari program AWI. Soalnya waktu itu kantor AWI di Mergangsan sendiri rusak berat, dan tak dapat digunakan hingga kini.  Tapi kegiatan ini katanya didukung sepenuhnya oleh AWI. Hal-hal seperti mencari dana, hingga mengurus ijin keamanan sepenuhnya dilakukan oleh para anggota Teater Jangkar Bumi.

Terus gimana cara kalian biar selalu tampak ceria di pentas? Kan gak mungkin kalian pentas dengan wajah yang sedih, gimana kalian ngakali biar tidak nampak sebagai korban gempa?

Mila:

Kalau aku itu ceria terus, Mas. Gimana, ya? Aku memang nggak sedih-sedih banget. Tapi ya pokoknya kita tampilnya semangat. Kita niatnya baik kok, jangan sampai di sana malah yang nonton nglokro.

Nana:

Temen-temenku kan juga banyak yang jadi korban, terus aku yang omong-omong sama mereka. Takon-takon. Biar aku ya ngrasakke apa yang mereka rasakan. Terus, kalau pas pentasnya aku yo semangat. Soalnya yang nonton, kan, kebanyakan yang seumuran kita. Orangtua juga seneng pas tau aku mau pentas di tempat gempa.

Kempor:

Aku soale ga tak pikir banget-banget. Nanti kalau dipikir serius-serius, lha malah jadi stress berat. Ya mengalir wae, ya dipikirkan tapi gak terus-terusan menyesali kenyataan kalau aku itu ya korban gempa.

Kalau pas pentasnya, gimana hasilnya? Pernah gak kalian merasa wah ternyata kita pentasnya tadi kurang semangat, atau wah kita tadi kok malah nggak ceria?

Gigon:

Itu pas pentas pertama di Imogiri. Itu kesannya gimana, ya? Kita rasanya kok nggak ngasih semangat, yang nonton kok ya nggak ceria. Wah, lha kok rasanya malah jadi aneh. Soalnya pas itu kan pentasnya siang-siang, bapak-bapaknya kan kerja bakti, terus yang nonton ibu-ibu sama anak-anaknya saja. Tapi pas nonton kok keliatannya dha kepanasen, terus malah pindah-pindah nontonnya. Akhirnya banyak juga yang pulang. Padahal pentasnya belum bubar.

Semangat lagi itu, ya, di Canden, pas pentas kedua. Rasanya pentasnya kok kena. Yang nonton ya seneng, kita yang pentas juga seneng. Mungkin masalahnya di waktu pentas. Kita harus pintar-pintar menyesuaikan dengan masyarakat. Jangan sampai pentasnya terlalu siang. Tempatnya juga kalau bisa yang strategis, yang enak juga buat yang mau nonton. Mungkin pas di Imogiri itu karena pentas pertama, jadi kita juga nekat aja. Lha, kita kan belum pernah pentas di tempat pengungsian sebelumnya.

Pas di Banguntapan, itu yang nonton itu mbok ada sekitar 150-an anak yang nonton tapi ya rasanya kita nggak masuk. Wong yang nonton itu kebanyakan anak-anaknya kecil banget, jadi nggak dong sama ceritanya. Terus, mungkin karena pentasnya di dalam musholla, jadi banyak anak yang mau nonton itu sebenarnya pengin nonton, tapi cuma bisa nonton dari luar pagar. Ya, sebenarnya ada banyak faktor sih yang menentukan.

Di Klaten itu juga menyenangkan. Waktu itu ada dua bis yang njemput kita. Terus, bisnya itu njemput penonton-penontonnya dari desa-desa sekitar. Tapi pas itu yang nonton banyak banget dan, karena waktu itu banyak anak TPA-nya, jadi ada yang harus pulang. Padahal pentasnya belum selesai.

Terus, pentas kalian itu bentuknya gimana, sih?

Kempor:

Ya, pentas-pentasnya menyesuaikan sama kondisi tempatnya. Di serambi masjid, di kebun, di bekas reruntuhan rumah, di dalam tenda. Tergantung sama kondisi tempatnya. Kita menyesuaikan. Kan, ini pentasnya untuk menghibur korban gempa. Jadi, ini tidak terlalu ribet.

Apa saja pengalaman temen-temen pentas di daerah gempa?

Karin:

Ya, ada rasa seneng. Tapi senengnya bukan rasa seneng banget-banget. Sedih juga. Tapi ya sedihnya biasa, nggak terlalu berlebihan. Wong di sana kita kan mau berbagi semangat, malah kalau bisa jangan sampai mengingatkan mereka sama bencana yang lalu. Di pentasnya sendiri memang tidak ada kata gempa disebutkan dalam dialog. Pas pentas sebisa mungkin kata gempa tidak ketrucut keluar. Rasanya campur-campur.

Kempor:

Pas pentas pertama itu, wahhh.., rasanya nge-drop banget. Kita ke sana mau menghibur kok malah rasanya wajah-wajah kita itu kok malah jelek banget. Tapi ya terus gimana caranya kita tetap ceria. Biar dilihat itu kepenak, sambil menipu diri sendiri. Soalnya kalau ke wilayah gempa itu lihat anak-anak kecil pada tidur di dalam tenda, membayangkan gimana mereka tidurnya kalau malam itu kan dingin banget, apalagi sempet hujan juga. Kan ya gimana, ya, Mas? Sedih juga.

Mila:

Aku kesana ngeliat rumah teman-teman ambruk, dan panasnya di dalam tenda. Ada yang bilang kalau mau cari kamar mandi saja susah. Terus ngeliat orang-orang cacat, ngeliat kuburan massal. Ya itu pengalaman-pengalamannya.

Nana:

Kalau melihat yang nonton itu ketawa, seneng banget. Rasanya di hati itu plong banget. Ada kebanggaannya gitu. Tapi waktu itu, kalau pas di rumah ya kadang-kadang sedih mikir mereka yang gak bisa tidur di dalam rumah.

Kalian pentasnya itu mementaskan cerita yang sama?

Nana:

Pentasnya itu judulnya Ko ko Bako, Anak Jogja Anak Masa Depan. Itu pentasnya sama, paling berubahnya tidak  banyak dari pentas yang lain.

Pertunjukan ini diisi perkusi anak-anak sebagai pembuka acara, lalu pentas drama dengan judul ‘Ko ko Bako, Anak Jogja Anak Masa Depan’, dilanjutkan pertunjukan pantomim, dan kemudian ditambah dengan pembacaan puisi. Pertunjukan ini dipimpin oleh dua orang MC yang akan memandu acara-acara tersebut. Mereka juga berinteraksi dengan mengajak penonton untuk menyanyi bersama, menari, dan juga menawarkan kepada penonton bila ada yang mau menyanyi di panggung.

Yang membuat cerita, siapa?

Mila:

Bareng-bareng, Mas. Kita ngumpul bareng, terus ngobrol idenya dari kita apa saja. Semuanya ikut urun rembug.

Kempor:

Ada Mas Viki (Viki adalah salah satu anggota Anak Wayang Indonesia, yang paling senior. Ia juga merupakan angota Bengkel Pantomim Yoyakarta-pen) juga yang pengalamannya lebih banyak dari kita. Dia yang memimpin, memfasilitasi kita, ya kayak sutradara gitu. Kalau kata dia, kita itu seperti setitik api yang akan membakar titik-titik api saudara-saudara kita yang lain, yang padam karena bencana kemarin. Nggak tahu itu, Mas. Dapatnya kata-kata itu dari mana, ngambil kata-katanya siapa, saya juga nggak tahu. Sok-sokan kok (Viki). Kata-kata itu yang selalu diucapkan pas latihan atau pas mau pentas, biar kita tetap semangat terus.

Gigon:

Selain itu juga ada pembina-pembina yang lain, mereka juga ikut urun rembug. Seperti misalnya jangan sampai menyebut kata gempa. Itu ide yang kami dapat dari mereka. Mereka banyak memberi refleksi yang banyak berarti bagi kami. Terus mereka juga usul, mbok jangan cuma pentas thok, tapi juga ngasih workshop-workshop apa, gitu, yang kira-kira menarik buat anak-anak yang menjadi korban gempa. Tapi kalau bisa workshopnya yang ringan-ringan. Jangan yang butuh banyak pikiran, dan jangan sampai malah membebani mereka.

Berarti kalian tidak Cuma pentas thok, tapi memberi workshop juga?

Gigon:

Dulu rencananya seperti itu, tapi ternyata cuma bisa dilakukan di Klaten. Jadi, di Klaten itu dua hari. Satu hari pentas, satu hari workshop. Tapi gimana, ya? Karena kita juga takut kalau nanti malah jadi beban buat mereka, atau malah nggak direspon sama masyarakat, kan, gimana gitu, Mas. Ya akhirnya yang bisa cuma di Klaten saja. Karena waktu itu kan juga banyak isu, Mas.

Berarti kalian ini pentas 18 kali dalam jangka waktu berapa bulan? Kalau dihitung setelah pentas pertama tanggal 2 Juli?

Gigon:

Kan, rencana awalnya cuma 10 tempat thok. Tapi terus dari tanggal 2 sampai 31 Juli itu kami pentas 14 kali. Terus ditambah lagi pentas-pentas sekarang ini 18 kali, terus minggu depan (tanggal 22 September) kami pentas terakhir. Totalnya 19 kali selama kurang lebih tiga bulan. Karena kemarin itu kami juga dapat bantuan dari Sheep (salah satu LSM yang juga terlibat dalam penanganan paska gempa), mereka juga punya daerah-daerah dampingan. Kami ditawari pentas di daerah dampingan mereka, nanti biayanya ditanggung mereka.

Berarti selama bulan Juli rata-rata kalian pentas seminggu 3 kali?

Gigon:

Lha, iya. Pernah itu hari Sabtu, Minggu, Senin kami pentas 4 kali. Hari Senin dua kali, pagi pentas di Tembi, Bantul. Sorenya pentas di Taman Pintar, Yogyakarta.

Mila:

Tapi pas itu, pas libur sekolah. Jadi sebenarnya tidak terlalu masalah sih. Kebanyakan kan teman-teman masih anak-anak sekolah. Jadi kalau seperti aku, kalau tidak sekolah tidak ada kegiatan lainnya.

Karina:

Ada pentas yang lucu. Waktu itu pas di Taman Pintar. Pas di tengah pentas, lha malah ada selingan pengumuman kehilangan anak. Waktu itu seorang pengunjung kehilangan anaknya yang sedang berada di arena Taman Pintar.  Pentasnya terus bubar, karena semua orang sibuk mencari anak yang hilang.

Ceritanya ini memang untuk anak-anak?

Gigon:

Ceritanya itu sebenarnya untuk siapa saja. Kami ingin memberi hiburan. Hiburannya ini untuk semua orang, siapa saja. Cuma yang main memang kebanyakan usia anak-anak, ceritanya sederhana saja, tidak terlalu rumit dan njlimet. Terus kalau ada hiburan-hiburan seperti itu, kan, yang datang menonton kan kebanyakan anak-anak, Mas. Soalnya orangtuanya memang sudah tersita waktu dan tenaganya untuk ngurusi rumah.

Kalau di kampung kalian sendiri bagaimana? Apa kalian juga terlibat dalam program paska gempa di kampung kalian?

Kempor:

Ya, yang paling kerasa itu ya pas acara 17-an kemarin itu, Mas. Kita yang mempersiapkan acaranya, kita yang ngisi acaranya, kita yang buat settingannya, wah, pokoknya pas itu semua anak muda kampung ikut bekerja. Soalnya kan yang tua-tua sibuk ngurusi rumah dan keluarganya, Mas. Jadi memang yang muda-muda yang harus bergerak.

Waktu acara 17-an itu kalian juga pentas?

Gigon:

Wah, waktu itu semuanya lengkap tampil. Kami ya main pentas yang sama seperti pentas di tempat lainnya. Tapi temen lain yang bisa main musik ya diajak pentas, ada band-band-an juga, Mas. Malah Shaggydog (salah satu band yang terkenal di Yogyakarta-pen) waktu itu juga main disini.

Setelah pengalaman pentas di wilayah-wilayah gempa, kalian masih merasakan trauma karena gempa?

Mila & Nana:

Ya, Mas. Kadang-kadang suka merinding kalau dengar suara gemuruh.

Kempor:

Kemarin pas pentas di Sapen (tanggal 19 September mereka pentas di Sapen -pen), kan tempatnya persis di sebelah rel kereta api. Lha pas kereta lewat, kan, suaranya mirip banget sama pas gempa kemarin. Wah, itu saya kira gampa susulan, Mas. Pas itu juga  panggungnya ikut goyah, rasanya persis seperti gempa betulan.

Karina:

Iya, Mas. Waktu itu saya takutnya beneran, kok malah ditertawakan sama penonton-penontonnya?

Akhirnya Karina minta pamit karena ia harus membantu ibunya di rumah. Begitu juga dengan Nana dan Mila yang minta pamit kemudian. Karena hari sudah beranjak petang,      saya juga cukupkan sampai disini wawancara saya dengan anak-anak Teater Jangkar Bumi, atau bisa juga disebut anak-anak AWI itu.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 02, November 2006 – Maret 2007)

Oleh: Hindra Setya Rini*

Gempa tektonik berskala 5,9 richter yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 lalu, membuat saya kaget dan panik. Gempa yang membangunkan saya dari tidur yang lelap pagi itu. Malamnya saya asik “bertelepon ria” dengan teman dekat saya di luar kota. Bagaimana tidak panik? Saya tinggal di lantai atas rumah induk semang saya. Kaget dan terbangun saat barang-barang di kamar saya berjatuhan, berlari dengan kaki saya yang seolah-olah tidak benar-benar menjejak lantai, dan sialnya lagi, pintu kamar sulit dibuka. Tangan saya gemetar, saya berusaha menenangkan diri ketika memutar kunci pintu kamar agar dapat segera dibuka. Setelah berhasil. Saya turun.

Di bawah saya mendapati teman-teman yang lain sudah berkumpul dan berceloteh riuh tentang gempa yang baru saja terjadi itu. Saya diam saja. Mencoba menenangkan diri dengan duduk sambil melihat mereka, dan mencerna apa yang baru saja saya rasakan. Tak lama kemudian ada sesuatu dalam perut saya yang memaksa untuk keluar. Hooekk! Saya muntah-muntah, maaf—ini gejala yang biasa saya alami jika saya sedang panik berat. Mungkin karena saya bukan orang Jogja, saya tidak merapal “kukuh bakuh” agar hati tenang dan tidak ada yang runtuh.

Setelah reda, saya tidak berpikir akan ada gempa susulan. Saya naik kembali untuk membersihkan dan mengemasi barang-barang yang berserakan di lantai kamar saya. Sampai teman “luar kota” saya itu menelepon kembali untuk mengabarkan bahwa akan ada gempa susulan. Ia menyarankan agar saya segera ke sanggar saja, mungkin akan lebih aman. Dengan menekankan kata-katanya; jangan di dalam bangunan, apalagi yang bertingkat. Bahaya. Tutt…Telepon mati. Saya belum pernah mengalami hal yang semacam ini dalam hidup saya, alangkah lambatnya respon saya tentang ini. Cepat sekali berita gempa ini tersebar, pikir saya.

Akhirnya, kuturuti sarannya. Tak lama kemudian saya mengambil sepeda mini di garasi, lalu mengayuhnya menuju sanggar Teater Garasi yang tak jauh dari tempat kost saya, tempat di mana sebagian aktivitas dan waktu keseharian saya habiskan di sana. Tiba di jalan raya Bugisan Selatan itu, tiba-tiba segerombolan manusia menyerbu dari arah selatan, motor-motor beriringan dengan lampu dan klakson yang terus dinyalakan, mobil ambulan dengan bunyi sirinenya yang memekakkan telinga, serta suara orang-orang yang berlarian tak karuan meneriakkan “Tsunami! Tsunamii…!” Saya masih belum percaya. Saya juga tidak segera berlari mengikuti mereka. Saya hanya terpaku, lagi-lagi otak saya tidak bekerja dengan cepat. Sampai seorang ibu menegur saya, “Mau kemana, Mbak? Ayo lari, ada tsunami lho. Naik mobil sini aja” Saya ganti bertanya, “Bener, Bu, tsunami?” Ibu tadi tahu kalau saya tidak percaya. “Eh, bener, Mbak. Tadi Pak Polisi lewat sambil bilang ada tsunami. Trus tadi ada yang berdarah-darah gitu…”

Ah! Saya memutuskan untuk melanjutkan niat semula, ke sanggar. Saya akan menemui teman-teman di sana, dan menanyakan ulang tentang rencana berkebun kami pada hari itu. Sebenarnya kami hari itu berencana untuk berkebun, menanam bunga di pekarangan sanggar kami. Belum terpikir untuk menyelamatkan diri. Lalu saya kayuh sepeda saya melawan arah orang-orang yang seperti gerak semut beriring itu.

Ya, ampun! Saya mematung di depan sanggar. Pendoponya? Tidak ada lagi karena sudah rata dengan lantainya. Sepi. Saya berdiam di sepeda. Tak tahu berapa lama. Tapi kelihatannya lama banget deh. Kemudian, seperti baru tersadar, saya tinggalkan sanggar. Saya pikir saya pasti gila kalau tetap berada di sana. Kalau tsunami yang dikatakan ibu tadi bukan isu, dan benar-benar terjadi? Saya bisa mati.

Setelah itu, saya kayuh sepeda saya di antara orang-orang yang tumpah ruah di jalanan. Saya ketemu lagi dengan ibu yang tadi (ternyata ia pun belum beranjak ke mana-mana), ”Mau kemana, Mbak?”, tanyanya. “Nggak tau, Bu.” Jawab saya datar. Jujur, saya benar-benar tidak tahu harus lari ke mana. Dalam kebingungan saya menentukan tujuan, saya berpikir kembali seandainya saya mati? Ya Tuhan, saya ternyata takut mati sendirian.

Akhirnya saya menuju tempat di mana saya bisa ketemu dengan teman saya. Sambil mengamati di sekitar saya, di kiri-kanan jalan yang saya lewati, bangunan pagarnya rubuh rata dengan tanah. Saya berpikir, jika saya mati setidaknya ada seorang teman yang mengenali saya. Atau paling tidak, saya tidak mati sendirian, ada teman. Ha-ha! Ini konyol, pikiran ini pun membuat saya tersenyum sendiri. Bisa jadi ini hanya cara saya menghibur hati. Sungguh, alangkah saya benar-benar takut mati.

Sesampainya di tempat teman saya itu ternyata juga sepi. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti di dekat jalan raya Ngadinegaran, Jogja. Tak lama itu saya bertemu dengan teman saya (aktor teater) bersama sekumpulan temannya yang lain dari Sewon. Mereka dari ISI Jogja, yang mengungsi karena isu tsunami tersebut. Nah, bersama mereka itu saya menghabiskan waktu sampai menjelang sore di bawah sebatang pohon yang cukup rindang. Beberapa orang lalu lalang dengan memandang kami dengan tatapan aneh, ada yang bertanya, “Lagi pada ngapain?” Sontak kami saling berpandangan satu sama lain. “Gila! Dia kira kita lagi piknik apa?! Nggak liat ya matanya!” Teman saya itu menyeletuk sewot. Oups! Bencana memang membuat darah ikut panas, batin saya. Jika saya mengingat lagi peristiwa saat gempa terjadi ini, saya pasti akan tertawa geli dan yang pasti tidak pernah saya lupa sepanjang hidup saya.

Demikianlah, gempa yang terjadi di Jogja itu membuat seluruh kota terhenyak. Aktifitas di wilayah Jogja bagian selatan macet. Apalagi ketika data yang dikabarkan melalui TV dan Radio menginformasikan bahwa korban gempa terus bertambah, membuat suasana pada hari-hari paska gempa murung. Jalan-jalan lengang. Meskipun tetap masih ada aktifitas yang terus berlanjut seperti hari-hari sebelum gempa melanda, terutama wilayah Jogja bagian utara. Namun, gempa yang menyisakan kerusakan-kerusakan parah dan membutuhkan pemulihan-pemulihan yang tidak sedikit itu, baik fisik maupun non fisik, cukup membuat denyut jantung Jogja terhenti.

Demikin juga yang terjadi di Teater Garasi; Laboratorium Penciptaan Teater, tempat di mana saya menempuh studi keaktoran selama lima tahun ini harus lumpuh total. Seluruh rencana berubah. Ada yang ditunda dari jadwal semula, dan sebaliknya, melakukan yang sebelumnya tidak direncanakan.  Begitu juga proyek solo saya pada bulan Agustus, saya sudah tidak bisa lagi memikirkannya (meskipun pada kenyataannya sebagian rangkaian proyek solo tetap bisa dilakukan pada bulan Agustus, tetapi bentuk  dan ide dari rencana semula berubah, dan tema pun beralih menjadi tema gempa: dalam Gardanalla Toko Cerita 2006, sebagai aktor fasilitator bagi korban gempa).

Semua aktifitas dialihkan ke lingkungan sekitar setelah sanggar dibersihkan. Jika ditanya apa yang akan saya lakukan pada saat itu? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya punya tenaga. Dari sanalah mulanya ketika paska gempa Jogja saya sempat menjadi tukang masak di dapur umum TGM (Teater Gadjah Mada) untuk para relawan gempa, sempat turun ke lapangan menjadi relawan di salah satu LSM, sebagai distributor logistik dan assisten CO (Community Organizer) yang, dari sana saya bisa melihat secara langsung tempat-tempat korban gempa yang sulit dijangkau. Di sepanjang jalan,  saya melihat bangunan-bangunan yang rubuh, berbaris anak-anak korban gempa menadahkan tangan meminta-minta. Aduh, tidak terlalu berlebihan, kan, bila hati saya jadi tersentuh?

Selanjutnya, pemandangan yang saya lihat di sepanjang jalan ke Imogiri ketika menjadi relawan pengantar logistik (tanggap darurat) ke pelosok-pelosok kampung yang terkena gempa—anak-anak yang mengulurkan tangan, kadang ada yang dengan baskom atau kaleng meminta sumbangan, tidak hanya uang, mereka juga memelas atau kadang teriak di jendela pick up yang saya tumpangi meminta air dan nasi yang—itu terus menggelayuti pikiran saya—bagaimana halnya dengan anak-anak? Apa yang terjadi terhadap anak-anak setelah gempa? Apa yang bisa saya lakukan buat mereka? Sempat terlintas dalam benak saya untuk segera menghubungi teman saya yang punya konsen terhadap anak-anak. Yang juga mengenalkan kepada saya pada dunia yang digelutinya; anak-anak. Saya harus ketemu. Mungkin saja ada ide yang bisa saling  bertemu. Ah! Saya tidak tahu.

Waktu terus bergulir, saya sudah tidak lagi menjadi relawan di LSM tersebut. Namun, pikiran-pikiran itu masih terus menggelisahi saya. Menurut saya, tanpa sadar—para orang tua yang perhatiannya lebih tercurah dalam hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan rumah, bekerja kembali untuk terus memberlangsungkan hidup seperti semula—yang juga diam-diam mempengaruhi psikologi anak. Selain anak-anak sendiri mengalami trauma, ditambah pula dengan kegelisahan-kegelisahan orang tua yang juga punya traumanya sendiri, sehingga hal tersebut mengimbas kepada anak.

Rekonstruksi dan rehabilitasi terhadap rumah—sebagai pusat tempat segala aktifitas, tempat sejarah dan memori, dan mimpi-mimpi dibangun—begitu menyita waktu dan tenaga para warga korban gempa sehingga seperti mengesampingkan anak-anak mereka. Meskipun sekarang anak-anak sudah memasuki “sekolah” seperti biasanya lagi, tetapi masih dibutuhkan kegiatan-kegiatan anak untuk mengisi waktu luang anak-anak korban gempa.

Hal inilah juga yang mendasari saya untuk menerima sebuah tawaran untuk menjadi PO dalam program respon paska gempa Teater Garasi, yang berhubungan dengan anak-anak (program respon paska gempa ini terbagi tiga; anak-anak, pemuda-pemudi, dan orangtua. Serta program lain yang berkaitan dengan gempa adalah Dicông Bak) beberapa waktu yang lalu. Menyadari kompetensi yang tidak dimiliki berkaitan dengan anak-anak, teman-teman di Teater Garasi termasuk saya, mengajak seniman atau kelompok lain yang memiliki kompetensi perihal anak-anak dalam program tersebut. Di sana; Jamaludin Latief , Verry Handayani, dan saya (kami—dari Teater Garasi), akhirnya bekerjasama dengan Papermoon (Ria, Anik, Ajik, dan Eta) membuat sebuah acara kegiatan anak yang bertujuan untuk menghibur anak-anak korban gempa. Juga kawan-kawan Teater Tangga yang pada masa tanggap darurat menjadi tim perubuh rumah terlibat pula dengan program ini.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 29-30 Juli 2006 di Pucung Growong dan tanggal 5-6 Agustus 2006 di Kepek. Bentuk aktivitas yang telah dilakukan adalah pertunjukan teater boneka Papermoon, workshop membuat boneka dari barang bekas, workshop membuat wayang kertas, dolanan anak atau games, dan diakhiri dengan makan burjo bersama. Meski sempat di Pucung Growong ada workshop yang memfasilitasi anak-anak untuk bermain drama, dan workshop bermain egrang. Berangkat dari kebutuhan yang kami temui di sana.

Anak-anak Pucung Growong belajar main drumband sambil menaiki egrang

Egrang sendiri sekarang menarik perhatian warga Pucung Growong, baik yang tua, muda, dan anak-anak. Mas Jamal (salah satu aktor Teater Garasi), yang memang punya konsen yang besar terhadap egrang (stilt walking) juga berniat mengembangkan kegiatan egrang ini secara personal. Ada kebutuhan membuat klub egrang di sana, yang kemudian melibatkan warga muda Pucung Growong. Dan dari Teater Garasi juga mempunyai program yang konsen terhadap pemuda-pemudi di tempat tersebut. Dan ada lagi, program yang konsen dengan ‘warga tua’ yaitu Anjang sana-anjang sini (semacam pertukaran pertunjukan kesenian tradisi antar kampung yang terkena gempa). Seperti saling berkait berkelindan. Kegiatan egrang anak ini kemudian dalam aktivitasnya melibatkan pemuda setempat. Jadilah kegiatan egrang anak yang dikoordinasi oleh pemuda di Pucung Growong tersebut. Mereka sudah beberapa kali pentas ke berbagai tempat di Jogja. Dengan difasilitatori Mas Jamal, pertunjukan egrang tersebut bentuknya tidak lagi seperti biasanya egrang dimainkan. Egrangnya tanpa pegangan tangan, lebih

tinggi, dan bisa  sambil bermain musik (drum band). Anak-anak senang, hal ini terlihat ketika mereka antusias pentas egrang sendiri tanpa ‘ditemani’ oleh fasilitator dari Teater Garasi.

Bicara tentang anak-anak, saya tidak bisa tidak untuk bercerita pertemuan saya dengan dua orang seniman perempuan yang punya konsen dalam wilayah tersebut; Maria Tri Sulistyani dan Anik Rusmawati. Mereka yang adalah awak Papermoon; a friend to learn, yang didirikan pada awal tahun 2006. Saya terlibat dengan mereka sebenarnya jauh sebelum gempa terjadi. Dimulai ketika saya menjadi aktris teater boneka Papermoon pada saat launching Papermoon awal tahun tersebut. Berlanjut sampai paska gempa,

saya sempat terlibat selama kurang lebih satu bulan pertama ketika Papermoon bekerja sama dengan Yayasan Seni Cemeti membuat program “Aku Oke” (recovery paska gempa), pendampingan anak korban gempa di daerah Bantul, yaitu Desa Sampangan dan Tegal Kebonagung. Dan juga ketika Papermoon   bekerjasama dengan Teater Garasi dalam program kegiatan anak respon paska gempa di Pucung Growong dan Kepek (yang saya ceritakan di atas). Sedikit tambahan cerita dari Ria tentang Papermoon paska gempa ini;

Panggung boneka, salah satu acara dalam program "Aku Oke"

Papermoon itu, dan orang-orang yang terlibat didalamnya adalah seniman-seniman muda yang punya background seni rupa dan seni pertunjukan, serta khususnya yang suka dengan anak-anak. Paska gempa ini, Papermoon menemukan bentuk yang lebih fokus: teater boneka. Selain bahwa teater boneka banyak diminati oleh anak-anak, pertunjukan teater boneka sendiri masih sedikit di Yogya. Ria (panggilan akrab Maria Tri Sulistyani), mengambilnya sebagai peluang dan strategi yang bisa dilakukan untuk menghibur anak-anak korban gempa. Meskipun, aktivitas-aktivitas yang ditawarkan oleh Papermoon tidak terbatas di situ saja, karena aktivitas program yang dilakukan Papermoon sebelum gempa masih tetap berjalan sampai saat ini, yang sebelumnya dilakukan di sekolah-sekolah, yaitu; melukis, workshop, perkusi, main drama dan art school. Hanya saja, saat ini Papermoon lebih ingin memantapkan langkahnya di teater boneka. Hubungannya dengan gempa, menurut Ria, ia akan melihatnya sambil jalan.

“Awalnya sih dari ingin mengenalkan teater boneka, dan sekarang tahap untuk survey ke sekolah-sekolah dan menawarkan teater boneka itu. Mungkin baru akhir tahun ini rencananya, mengembalikan lagi program Papermoon yang sempat kepending karena gempa.” Kata Ria.

Dari hasil amatannya ke beberapa anak, efek yang diterima anak-anak juga personal. Ria juga menceritakan bagaimana ia masih sering bertanya ke anak-anak tentang apa yang mereka rasakan. “Diam-diam, anak-anak melanjutkan sendiri tanpa Papermoon. Mereka bikin boneka, dan pentas sendiri. Ini sangat menyenangkan buatku, kepuasan yang tidak terukur, dan ini membuatku optimis untuk konsen sama apa yang aku lakukan selama ini, untuk anak-anak. Kalau bisa diukur, ini berhasil menghibur anak-anak, khususnya korban gempa. Anak-anak senang, bahkan minta untuk diajari main boneka lagi…”

Jambore Anak Merdeka dalam program Aku Oke

Meski sekarang, ketika saya menuangkan tulisan ini, saya sudah tidak terlibat aktif di Papermoon. Tetapi, dari sanalah awal mula saya terlibat dengan dunia anak-anak. Belajar mengenal mereka, memungkinkan bertemu, melalui aktivitas kesenian yang saya jalani. Baik dengan Papermoon ataupun bersama Teater Garasi, keterlibatan saya dalam program anak-anak korban gempa, cukup membekas dalam diri saya. Bisa menghibur anak korban gempa tersebut amat sangat berarti buat saya, senangnya bukan alang kepalang. Mengingat saya yang dulunya tidak suka dengan anak-anak. Mungkin agak terlalu personal dan sentimentil bagi saya, tapi memang demikianlah yang terjadi kepada saya.

Di lain tempat, masih berkaitan dengan anak-anak, saya juga bertemu dengan Gigon, salah seorang dari Anak Wayang Indonesia yang senior  (Anak Wayang Indonesia ini sudah tidak asing lagi di Jogja, yang mewadahi anak-anak kampung di wilayah perkotaan untuk beraktivitas dalam kesenian). Sampai saat ini AWI masih dipegang oleh Mas Jenggot Antariksa. Aktivitas Anak Wayang Indonesia paska gempa ini, adalah pendampingan anak-anak korban gempa.

Anak-anak AWI tersebut pentas keliling, dan mendirikan sebuah komunitas sendiri yang diberi nama: Komunitas Jangkar Bumi, ke delapan belas kampung. Di sana mereka membawakan satu rangkaian acara untuk menghibur anak-anak warga korban gempa. Saya sempat menonton salah satu pertunjukan mereka di salah satu kampung. Acara tersebut di dalamnya terdapat beberapa pertunjukan  yang dimainkan oleh anak-anak (AWI), yakni; perkusi, teater, baca puisi, pantomim, dan games. Acara dikemas menjadi satu tontonan dan dipandu oleh dua MC anak. Menurut Gigon, selaku pendamping anak-anak AWI yunior tersebut, memaparkan bahwa tidak ada perbedaan yang besar dalam pertunjukan AWI sebelum atau setelah gempa.

“Selama ini anak-anak juga pentasnya di kampung-kampung. Jadi nggak ada bedanya antara sebelum dan sesudah gempa, dari segi pertunjukan. Cuma, sekarang pentasnya berangkat dari cerita-cerita keseharian saja. Kalau dulu, ada isu-isu yang harus disampaikan dari pertunjukan. Sekarang enggak pakai…” Katanya.

“Tapi Mbak, yang paling berkesan saat ini adalah berkat gempa itu, anak-anak AWI yang senior dan yunior jadi kompak. Dulu enggak kayak gitu, ada jarak antara mereka. Dan melalui pentas paska gempa itu anak-anak jadi solid; bikin cerita bareng, rembugan bareng, ya jadi pertunjukan keliling itu untuk menghibur anak-anak korban gempa. Sekarang jadi ada diskusi-diskusi gitu. Dan ini hal yang positif ketika mereka saling ketemu, entah dalam ngobrol atau membuat proses pertunjukan bersama.” Imbuhnya di akhir percakapan kami.

Di samping bertemu mereka yang notabene adalah anak-anak muda, saya juga sempat bertemu dan bercakap-cakap dengan salah seorang seniman tua, seniman tradisi kethoprak yang sudah tidak asing lagi namanya.

Mas Bondan Nusantara, yang saya temui diakhir pertunjukan Kethoprak Forum Seniman Gumregah “Saijah & Adinda” di Sositet Taman Budaya Yogyakarta. Ia selaku penggagas konsep dan sutradara pertunjukan, adalah seorang seniman yang sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam kesenian tradisi tersebut. Penggiat di Forum Seniman Gumregah ini, menjelaskan bahwa Forun Seniman Gumregah adalah gerakan seni pertunjukan yang melibatkan seniman-seniman tradisi kethoprak yang namanya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Jogja, di antaranya adalah Susilo “Den Baguse Ngarso” Nugroho, Marwoto Kawer, Kirun, Yuningsih alias Yu Beruk, dan lain-lain. Diproduseri oleh Miroto (salah satu seniman tari Yogyakarta). Berikut ini sedikit cerita dari Mas Bondan mengenai kesenian tradisi paska gempa yang dilakukannya;

“Sebelum menjadi FSG ini, sebenarnya saya bersama-sama seniman tradisi yang lain sudah melakukan aksi tanggap darurat ke banyak tempat yang terkena gempa. Kemudian, pada tanggal 10 Juni 2006, kami para seniman tradisi itu berkumpul dan berpikir, seni tradisi; kita mau apa? Logistik sudah lewat, yang seterusnya mau apa? Ini sudah bukan yang fisik lagi menurut saya. Akhirnya kami survey ke warga, dan selanjutnya teman-teman sepakat untuk bersama-sama menjadi motivator sosial melalui kesenian. Ya mau apalagi? Karena memang kita ini seniman, berangkatnya ya dari kesenian. Membuat pertunjukan kesenian yang sifatnya bukan event, tapi gerakan, dan kontiniu.

“Selanjutnya yang dilakukan adalah kita melibatkan seniman-seniman tradisi di Bantul, Jogja, yang menjadi korban gempa untuk turut serta dalam kesenian yang akan kita pertunjukan untuk para warga korban gempa. Mempersatukan seniman-seniman ini memakan waktu kurang lebih 2 bulan. Ada 79 KK seniman yang terlibat, yang tersebar di mana-mana. Kami pentas hampir setiap hari, 79 kali selama 3 bulan paska gempa, pertunjukan dimulai dari pukul 20-22 WIB. Sebenarnya tidak terbatas pada pertunjukan saja, karena kadang-kadang juga para seniman tersebut menjadi fasilitator workshop kesenian tradisi kepada warga atau seniman lain.”

Seperti yang dikatakan Mas Bondan, melalui aksi ini diharapkan setidaknya dapat membantu memulihkan yang sifatnya non fisik. Trauma atau kegelisahan seniman korban gempa yang terlibat bisa berkurang dengan adanya aktivitas kesenian tersebut. Membangkitkan semangat untuk kembali berkesenian, dan karena ini kontiniu, hasil jerih payah dari pertunjukan bisa untuk terus memberlangsungkan hidup mereka sedikit demi sedikit menjadi seperti semula. Dan relasinya juga antar seniman yang terlibat, jadi mereka bisa saling menyemangati untuk bangkit kembali, dan pentasnya di kampung para seniman itu juga memudahkan untuk memotivasi masayarakat setempat yang terkena gempa untuk bersemangat kembali. Selain bahwa pertunjukan itu juga untuk menghibur warga korban gempa. Selama berjalan, Mas Bondan melihat tanggapan masyarakat juga positif terhadap kesenian tersebut.

Keterlibatan Mas Bondan dalam Forum Seniman Gumregah yang awalnya adalah keinginan Mas Miroto untuk mementaskan kembali “Saijah & Adinda” paska gempa ini, yang juga berpikir tentang bagaimana kaitannya dengan kesenian tradisi dan seniman-senimannya. Seperti gayung bersambut, FSG berjalan dengan segera, Mas Bondan tinggal membentuk format dan konsep pertunjukan yang tentu saja berbeda dari yang sebelumnya, yang oleh Mas Bondan baik cerita, pementasan, disesuaikan dengan situasi yang sedang terjadi di Jogja. Seniman-seniman tradisi korban gempa tadi dilibatkan dalam pertunjukan ini, baik sebagai penari, pemain, atau pengrawit, sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Kemudian pertunjukan ini juga menuai simpati dari para donatur yang ingin membantu para korban gempa.

“Apa yang saya bayangkan jadi terkabul, Mbak…”, kata Mas Bondan. Pertunjukan Kethoprak “Saijah & Adinda” ini dikelilingkan ke tiga kota; Solo, Yogya, Jakarta. Dan ketika ditanya, apa yang ditemui Mas Bondan paska gempa ini berkaitan dengan keseniannya? Ia menjawab singkat, “Menemukan “format baru”, bagaimana Kethoprak jadi lebih efisien, dan pragmatis”. Dengan kata lain Mas Bondan menjelaskan bahwa bentuk pertunjukan Kethoprak sendiri berubah, tidak lagi memakai pakem-pakem yang biasanya harus ada. Jadi lebih sederhana, minimalis, menyesuaikan tempat di mana ia akan diberlangsungkan. Musik klothekan, set dengan latar reruntuhan rumah warga korban gempa, juga tidak masalah.

Selain kesibukannya dengan seniman-seniman tradisi dan gerakan kesenian Forum Seniman Gumregah selama paska gempa, ia juga memfasilitasi aktivitas buat anak-anak di dekat rumahnya. Dengan mendirikan “Pondok Baca” buat anak-anak.

Di sanalah anak-anak sekitar tempat tinggalnya di kasongan, berkumpul. Meskipun tidak mesti Mas Bondan sempat meluangkan waktunya untuk menemani anak-anak tersebut, tetapi ia membuka dengan senang hati buat para relawan yang bertandang ke Pondok anak itu untuk memfasilitasi anak-anak di sana. Seiring berjalannya waktu, hingga saat ini, aktifitas anak-anak tetap berlangsung, dengan fasilitator yang berganti-ganti. Kerap Pondok Baca dikunjungi oleh mahasiswa-mahasiswi yang meluangkan waktu dan tenaganya untuk menemani anak-anak bermain dan belajar.

Ini sangat menyentuh bagi Mas Bondan, karena dengan aktivitas itu harapannya anak-anak yang mengalami trauma gempa dapat terhibur. Sekaligus ia bisa memfasilitasi seniman-seniman korban gempa yang mempunyai kompetensi di bidang tertentu untuk menjadi fasilitator buat anak-anak. Workshop kesenian tradisi Jathilan buat anak-anak, misalnya. Inilah salah satu yang dapat ia berikan buat anak-anak korban gempa, sebagai bentuk kepeduliannya atas apa yang terjadi di lingkungannya, khususnya anak-anak.

Kemudian, di akhir percakapan kami, Mas Bondan juga sempat menyebutkan seniman-seniman yang melakukan aksi serupa dalam kesenian berkenaan dengan gempa yang terjadi di Jogja, yang juga keliling dari kampung ke kampung. Memang agak sulit terdeteksi, mengingat tidak ada publikasi dalam aksi-aksi para seniman ini.

Terakhir dalam ingatan saya ketika menuliskan pengalaman saya bersama gempa ini,  membuat saya melihat kembali, menghayati kembali apa yang telah terjadi dan teralami. Memang kemudian, bicara tentang Jogja, bicara tentang bencana gempa, tidak mungkin tidak untuk begitu saja meniadakan hal-hal di sekelilingnya. Aktivitas masyarakat yang melingkupinya. Apalagi Jogja dikenal sebagai kota budaya, yang bisa langsung merujuk ke hal yang lebih spesifik pada kesenian atau seniman di Jogja paska gempa. Pertemuan-pertemuan saya dengan seniman-seniman Jogja paska gempa dan melihat aktivitas-aktivitas kesenian yang berlangsung, membuat saya bertambah percaya bahwa kesenian berhubungan erat dengan lingkungannya. Terlintas dalam kepala saya, bahwa ini juga adalah salah satu bentuk peduli kita pada sesama; respon gempa melalui kesenian (: dan kesenian juga bisa dilihat sebagai praksis sosial). Semoga ini bukan hanya ‘trend’ yang biasanya melanda di kota-kota yang terkena bencana. Juga bukan tempat untuk ajang ”wisatawan” gempa.

Sekalipun bencana, semoga ia tetap mengajari kita untuk menjadi lebih bijaksana. Kukuh Bakuh. Semoga tak ada yang benar-benar runtuh.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 02, November 2006-Maret 2007)