May 2010


Komik skAnA volume 12: TOTALITAS!! by Asita

Oleh: Andika Ananda

Hindra (skAnA) menawarkan pada saya untuk menulis tentang “Teater yang Menyenangkan”, pentas kolaborasi sepuluh aktor Yogya yang dipentaskan akhir Maret lalu dalam program Jagongan Wagen Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK).

Saya mengiyakan saja tawaran tersebut, walau saya belum tahu apa yang harus saya tulis. Apalagi pertunjukan tersebut sudah cukup lama berlalu, entah di mana catatan kecil tentang proses dan pentas tersebut saya simpan. Semoga cuma saya yang tidak terbiasa menulis catatan proses, di antara sepuluh orang pemain “Teater yang Menyenangkan” (TYM).

Berawal dari Sebuah Tawaran “Aneh”

Berawal dari sebuah tawaran via telepon yang datang dari YBK untuk mengisi Jagongan Wagen. Sempat ragu-ragu, tapi akhirnya saya setuju. Paling tidak untuk sekedar mencari pengalaman, pikir saya.

Dua hari berikutnya kesepuluh calon aktor dan aktris TYM bertemu di YBK. Di sinilah “persoalan” bermula, ketika Mas Besar Widodo menyampaikan idenya tentang membuat teater yang menyenangkan. Kami cuma bisa tertawa, bingung, dan saling pandang. Apa yang menyenangkan dari teater? Menyenangkan yang bagaimana? Bukankah menyenangkan untuk saya belum tentu menyenangkan bagi orang lain?

Secara sederhana mas Besar menjelaskan tentang bagaimana seandainya kita membuat sebuah pertunjukan teater yang tidak hanya mampu menyenangkan pelakunya, tetapi juga penonton. Perasaan menyenangkan yang diharapkan tidak hanya terjadi ketika pentas berlangsung atau usai pentas, tapi juga bagaimana mewujudkan sebuah proses penciptaan dan proses berteater yang menyenangkan dalam ekologi yang lebih luas.

Dalam waktu kurang lebih dua minggu, sepuluh aktor dan aktris dituntut untuk membuat sebuah pentas teater tanpa naskah dan tanpa didampingi sutradara. Lalu apa jadinya?

Setiap orang yang terlibat dalam kerja kolaborasi ini berasal dari berbagai komunitas yang berbeda, dengan kecenderungan ber-teater yang berbeda pula. Tita Dian Wulan Sari (Tita), Wiwara Awisarita (Sasha), Muhammad Nur Qomaruddin (Qomar), Djuaedi Ucog Lubis (Ucog), Feri Ludiyanto (Feri), Jami Atut Tarwiyah (Atut), Rheninta (Ninit), Febrin Eko Mulyono (Yayan), Marya Julita Sari (Iya’) dan dan saya sendiri Andika Ananda.

Masalah selanjutnya muncul ketika hampir semua pemain yang terlibat memiliki aktivitas padat di luar TYM, sehingga sulit untuk bertemu dalam satu waktu.. Akhirnya jadwal latihan disesuaikan dengan aktivitas masing-masing pemain. Disepakati bahwa siapapun yang bisa bertemu di satu waktu, walaupun tidak lengkap bisa tetap melakukan eksplorasi.

Setelah beberapa kali latihan, bukannya menemukan apa yang akan kami pentaskan, justru sebaliknya kami menemukan kebingungan dan kebuntuan. Kerja kolaborasi memang tidak mudah, apalagi dalam waktu yang begitu singkat.

Di tengah kebingungan, proses latihan tetap berjalan. Singkat cerita tanpa disadari, kami menemukan beberapa hal. Sampai akhirnya kami sepakat untuk membuat empat (4) repertoar dalam durasi kurang lebih satu jam. Empat reportoar tersebut antara lain: Dream to Play, Blue Job, Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi, dan yang terakhir adalah Trisno Falling in Love.

Dream To Play menjadi repertoar pembuka. Repertoar yang dibuat minim dialog ini menjadi adegan perkenalan bagi tiap pemain. Dream to Play menceritakan tentang sepuluh pemain teater yang berlatih bersama dalam sebuah proses. Dari awal sudah nampak bagaimana ketidakkompakan di antara mereka. Konflik mulai muncul di tengah latihan ketika sebagian di antaranya serius berlatih, sementara yang lain tidak ingin serius berlatih.

Adegan digambarkan dengan dua karakter koreografi yang sengaja dibuat kontras antara dua kelompok. Di puncak konflik, tiba-tiba salah seorang pemain mengatakan sutradara (Iya’) sudah datang. Seluruh pemain kebingungan, dan berlarian ke sana kemari. Hilir mudik pemain tak karuan ketika Iya’ masuk panggung masuk dan meminta seluruh pemain untuk menyiapkan sebuah adegan.

Dream to Play. Foto: Sigit Kurniawan

“Meja!” teriak Iya’, salah seorang pemain pun seolah-olah menjadi meja. “Kursi”, pinta Iya’ lagi, pemain lain serta merta menjadi kursi. Demikian seterusnya hingga panggung menjadi sebuah ruang tamu yang di dalamnya berisi berbagai perabot yang “terbuat” dari para  pemain. Repertoar ini ditutup dengan perintah “action” dari sutradara dan panggung blackout.

Repertoar ke dua berjudul “Blue Job”. Repertoar diawali dengan adegan mesra antara Tita dan Ucog, yang digambarkan melalui eksplorasi gerak tubuh. Tak disangka-sangka saat sedang asyik mesra, Ucog baru menyadari kalau Tita sebenarnya sudah memiliki kekasih, yaitu Yayan. Dengan perasaan terluka Ucog pun pergi meninggalkan Tita. Setelah Ucog keluar, masuk Yayan dengan begitu marah, memandang Tita dan hendak berlalu. Tita mencoba untuk menghalangi ke manapun Yayan pergi. Adegan dibuat sedikit koreografis dan atraktif. Hingga di puncak adegan, “kita putus!” ucap Yayan sambil keluar. Tita hanya terdiam di tengah panggung sambil menatap Yayan yang berlalu.

Berikutnya Tita menelpon temannya (Sasha) yang sedang asyik mengetik, “Halo”, jawab Shasa, “Sha aku putus” balas Tita.. Sasha menelpon Iya’ yang sedang asyik memasak di dapur, Sasha menceritakan bahwa Tita putus dengan Yayan. Tak berhenti sampai di situ, Fery tiba-tiba masuk dalam keadaan terhuyung, nampak Fery dalam keadaan mabuk, ia mandi di bawah pancuran. Handphone Fery berdering, ternyata telepon dari Iya’, Iya’ menceritakan putusnya hubungan Tita dan batalnya rencana pernikahan Tita dan Yayan. Adegan ditutup dengan kata “selingkuh” dari ketiga pemain.

Terciptanya repertoar “Dream To Play” dan “Blue Job” ini diawali dari ide untuk menciptakan imaginasi tentang ruang, benda dan peristiwa. Sangat minimalis, minim porsi dialog dan tanpa menggunakan properti tambahan. Pemain menggambarkan adegan dan peristiwa dominan menggunakan tubuh (gerak). Adegan saat Iya’ memasak misalnya, Iya’ hanya melakukan gerakan keseharian saat seseorang benar-benar memasak di dapur dengan berbagai peralatan dapur. Begitu juga adegan yang lain.

Repertoar ke tiga berjudul “Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi”. Diawali dengan musik yang mengesankan suasana kepadatan lalu lintas dan hiruk pikuk kota. Sesuai dengan judulnya, repertoar ini dimainkan oleh empat orang, yaitu Shasa, Atut, Iya’, dan Tita. Sama dengan dua repertoar sebelumnya, dalam repertoar yang berdurasi kurang lebih dua belas menit ini, adegan diekspresikan melalui tubuh (gerak), vokal yang muncul hanya berupa interjeksi untuk memberi penekanan pada gerak dan peristiwa.

Berbeda dengan dua repertoar sebelumnya, dalam repertoar ini satu persatu pemain muncul dari arah penonton. Setelah di atas panggung mereka menciptakan ruang imajinasi, seolah-olah sedang gelisah menunggu kendaraan di pinggir jalan. Kadang bergantian, kadang serempak empat orang gadis ini melambaikan tangan kepada setiap kendaraan yang melintas, namun tidak ada satupun yang berhenti. Sampai akhirnya mereka melihat taxi dan saling berebutan. Tapi tak satupun dari mereka mendapatkannya sampai panggung gelap kembali.

Terciptanya repertoar ini bisa dibilang tanpa sengaja, yaitu ketika Shasa, Atut, Iya’, dan Tita mencoba untuk melakukan eksplorasi gerak bebas. Walaupun tidak berangkat dari tema tertentu untuk pijakan eksplorasi, tak disangka terjadi gerak saling respons yang komunikatif. Gerak saling tarik, dorong, lompat seolah-olah menemukan “teks”-nya sendiri. Jadilah sebuah repertoar tentang Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi”.

Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi. Foto: Sigit Kurniawan

Repertoar terakhir berjudul “Trisno Fallling in Love”. Dari keempat repertoar, hanya repertoar ini yang sengaja memakai improvisasi dialog verbal dan dibuat lebih “cair”. Repertoar yang dimainkan oleh tiga orang (Qomar, Ninit, Andika) ini dominan menggunakan bahasa Jawa.

Repertoar terakhir ini memang cukup mampu membuat penonton tertawa. Dalam “Trisno Fallling in Love”, diceritakan tentang suami istri yang tidak lagi harmonis setelah sekian tahun menjalani hubungan rumah tangga. Saat terjadi percekcokan di antara mereka, tiba-tiba Trisno (Andika) muncul dan memanggil si suami (Qomar) sambil menghampiri dan menyentuh pundaknya. Dari sinilah terbuka kedok si suami, yang ternyata selama ini biseksual. Adegan ditutup dengan “rengekan” Trisno, yang menceritakan betapa hancur hatinya, dan meminta dukungan kepada penonton lewat “koin untuk Trisno”.

Dalam repertoar yang begitu satir ini, pemain berusaha menciptakan adegan dan dialog yang bukan bertujuan untuk melucu, namun menciptakan sebuah peristiwa yang mampu menciptakan kesan (menggugah) lucu bagi penonton. Bila salah satu indikator senang itu adalah tertawa, mungkin di sinilah salah satu letaknya. Bukan serta-merta untuk menghibur atau melucu, tapi menciptakan persepsi dan kesan, yang bisa dimaknai apapun oleh penonton, termasuk tertawa!

Bila saya harus melucu malam itu, mungkin lebih baik saya menjadi pelawak ketimbang pemain teater!

Teater “Tanpa Naskah dan Sutradara”

Sengaja saya kutip dari tulisan (review) di koran Kedaulatan Rakyat (3/04/10) tentang “Teater yang Meyenangkan”:

Tentu bukanlah hal yang baru, ketika proses penciptaan sebuah garapan teater tidak berangkat dari naskah (teks) dan gagasan sutradara. Apalagi jika kita tidak berpikir secara un sich tentang teks dan sutradara (baca:kerja penyutradaran).

Banyak pementasan teater yang tidak berangkat dari teks unsich, tapi berangkat eksplorasi ruang, musik, gerak dan berbagai elemen artistik lainnya. Pada pola penciptaan seperti itu, dalam perjalanan proses pencarian, pencataan, dan presentasi selama latihan, sebenarnya juga telah terjadi kerja intertekstualitas, di mana teks ruang, teks tubuh, gerak, kata, dsb bertransformasi untuk menciptakan keutuhan “teks” pentas. Di sinilah sutradara bekerja sebagai interpreter yang menganyam keseluruhan gagasan dan penemuan yang muncul selama proses eksplorasi. Bisa jadi teks baru terwujud usai pentas, atau bahkan tak selesai sama sekali.

Keempat repertoar dalam teater yang menyenangkan dibuat begitu minimalis. Tidak ada satu setting (properti dan dekorasi) di atas panggung, kostumpun sengaja dibuat massif, hitam-putih. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri, di mana kami harus menciptakan kekayaan simbol dan makna. Apalagi yang dilakukan oleh aktor, selain harus memaksimalkan potensi tubuh (baca: diri) nya.

Bukan bermaksud berapologi, kami sadar dengan apa yang kami capai malam itu. Walau waktu bukan satu-satunya ukuran, namun waktu dua minggu sangatlah tidak cukup untuk sebuah kerja kolaborasi dan menciptakan sebuah pertunjukan teater yang benar-benar sublim!

Paling tidak, saya merasakan sesuatu menyenangkan dari apa yang telah saya lakukan malam itu. Mungkin rasa menyenangkan yang saya rasakan berbeda dari sembilan orang lain yang terlibat dalam TYM, apalagi penonton! Tapi apapun makna “menyenangkan” bagi kita, semoga teater menjadi sesuatu yang “lebih dari menyenangkan”! Paling tidak untuk saya pribadi. Terima kasih.

* Andika Ananda, pemain teater, aktif di Kelompok Seni Teku dan Komunitas Rumah Lebah

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

[sejenak bincang-bincang dengan Siti Fauziah (Ozi), salah satu sutradara pementasan Monolog Imagined Life, Teater Tangga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta]

Oleh: Hindra Setya Rini

Salam hangat buat pembaca skAna yang setia,

Kali ini reporter skAna agak membelok sedikit menghampiri anak-anak muda yang baru memulai debutnya di ranah teater, khususnya yang berniat belajar menjadi sutradara. Kalau biasanya skAnA mengunjungi para tokoh atau kelompok teater yang cukup dikenal keberadaannya di panggung-panggung teater di Jogja, untuk edisi ini kami cukup penasaran dengan mereka anak-anak muda yang pemula. Bincang-bincang ini mencoba mengulik sedikit bagaimana proses pertama mereka menjadi sutradara. Hmm, menarik… Yuk, simak pengalaman apa saja yang akan dibagi di sini…

Imagined Life, bisa diceritakan ini perihal apa?

Ozi:

Hm.. Monolog ini kan dalam rangka studi pentas angkatan baru di Teater Tangga, dan ini menjadi agenda penting untuk belajar mengurus kerja sebagai sebuah tim secara mandiri yang pertama untuk kami. Mandiri di sini dalam arti kami agak mengurangi keterlibatan para senior yang biasanya kuat mencampuri urusan pementasan. Begitu mulanya…

Kalau Imagined Life sendiri, yang artinya adalah “bayangan kehidupan atau hidup yang dibayangkan (diimpikan); yaitu bahagia tanpa derita”, awalnya bermula dari hidup yang dibayangkan pada masing-masing orang di antara kita (baca: tim). Idenya begitu. Aku, Kiki, Dinar, Parto, Septi, yang kebetulan tergabung dalam kepengurusan Teater Tangga periode tahun 2008-2010, kami masing-masing punya harapan yang jelas bahwa setiap orang itu punya —mengutip bahasanya Mas Yudi A.T— “H-U-N-C-H” (karep/keinginan). Dan saat ini kami sedang berjuang mewujudkan cerita-cerita tentang hunch kami… Begitu ceritanya…

Pemilihan naskah yang mewakili ide tema hunch itu, gimana?

Ozi:

Di Imagined Life itu ada 2 pertunjukan yaitu naskah dari Giri Ratomo yang judulnya Sst Diam, lalu karya Teater Tangga sendiri judulnya On Se Ra Conte.

Perihal naskah ini, Sst Diam buatku cukup menarik karena di sisi lain ia sedang membicarakan hunch di luar kami. Meskipun di dalamnya tidak menunjuk jelas siapa tokoh yang dibicarakan tapi ia cukup memberikan rangkuman banyak hal dan kejadian soal kenyataan-kenyataan di sekeliling kami. Cakupannya cukup luas, tidak hanya hunch secara personal tapi hunch yang lebih luas, misal: masyarakat, negara. Sedangkan On Se Ra Conte, adalah tambahan cerita Rahmad Jaka Drill yang dikemas jadi satu dengan cerita masing-masing dari kami (tim). Sekali lagi ini intinya tentang hunch orang-orang yang terlibat dalam proses ini lalu diramu jadi satu naskah cerita. On Se Ra Conte itu sendiri artinya ‘kita saling bercerita’.

Tentang prosesnya, Sst Diam kan naskah sudah ada, jadi aku tinggal edit aja di sana-sini. Di beberapa bagian aku edit atau aku hilangkan. Lalu On Se Ra Conte, masing-masing menulis carita dan setelah itu ditulis ulang menjadi satu naskah cerita oleh Septian Nur Yekti. Kebetulan ia yang paling hobi menulis di antara kami. Hehehe… oh ya, untuk On Se Ra Conte itu yang menyutradarai juga dia, bukan saya.

Siti Fauziah (Ozi)

Proses sampai ke pementasannya?

Ozi:

Prosesnya satu bulan latihan keaktoran. Lumayan cepat, ya? Makanya susah banget. He he… karena ada penyesuaian-penyesuaian lagi soal kerja tim, jadi ya lumayan bikin PANAS! Ha ha ha… tegangan tinggi pokoknya. Oh ya, terlebih aktornya kan baru alias belum pernah ngobrol atau tahu lebih banyak soal teater, dan aku, juga baru pertama kali berproses menjadi sutradara, wuaaah… itu yang banyak menguras pikiran. Tapi yang terpenting buatku dari semuanya itu adalah ini suatu proses pembelajaran bersama… huufh…! he he he…

Kendala atau tantangan apa yang muncul selama proses?

Ozi:

Ini kerja “tim” pertama kali yang semua urusan ditangani sendiri. Aku di penyutradaraan, aktor-aktornya juga baru, tim artistik dan tim produksi yang juga baru belajar dan mencoba mengujikan hasil belajar kami, ditambah dengan kesibukan masing-masing orang yang terlibat dengan aktifitas di luar proses ini. Itu yang lumayan susah, soal kesepakatan jadwal dan sebagainya.

Kalau ini tadi dibilang sebuah pembelajaran bersama, yang paling berharga dari proses ini buatmu, apa?

Ozi:

Ini soal belajar dan soal hunch, dimana semua orang punya keinginan masing-masing untuk menjadi sesuatu yang baik (setidaknya untuk diriku sendiri). Maka jangan pernah berhenti belajar dan dengarkan apa keinginanmu. Lalu, wujudkan “imagined life”mu. Buatku, aku sudah berani lepas dari penilaian jelek and bagus atas apa yang aku lakukan! Horeeee… jadi berani aja, lagi. Nggak kapok, kok! Elek..? Ah, luweeeh…he he…  ;p

Biografi Singkat Ozi

Bernama lengkap Siti Fauziah, lahir di Blitar, 19 Desember 1988. Terlibat dalam proses Teater Tangga sejak pementasan Celah (Perjalanan Seorang Pelancong), dan Cinta Persegi sebagai aktor. Mengikuti program belajar keaktoran Actor Studio 2009 di Teater Garasi dan terlibat dalam pertunjukan Bocah Bajang. Sekarang sedang berproses dalam pertunjukan Medea Media (naskah asli Euripedes, sutradara Naomi Srikandi).

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi.

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

Oleh: M. Iwan M.

Judul di atas adalah tajuk pertunjukan teater persembahan Teater Tangga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berkolaborasi dengan beberapa UKM kampus seperti UKM Musik, MM Kine Klub, RPC, Fotka, Ciko, Ikom Radio, dan Minoritas Seni Kramotak pada tanggal 18 maret 2010 di pendopo kantin selatan kampus terpadu UMY. Pertunjukan itu menampilkan dua monolog dengan judul “On Se Raconte” oleh Rahmat ‘Jack’ Jakadril dan “Sttt Diam!” dibawakan oleh Ikhwan Mutaqien.

On Se Raconte, bercerita tentang kehidupan seseorang yang berubah secara drastis berkat mimpi-mimpinya yang tak kenal kata ‘batas’. Sang aktor menuturkan cerita tentang Wikan, seorang teman di masa kuliahnya yang tiap saat kerjanya bersantai di kantin dan tidur bermalas-malasan di kamar. Namun begitu, Wikan adalah seorang yang punya pendirian kuat. Singkat cerita, saat ini si aktor sedang berada di Paris melakukan tugas sebagai wartawan. Dia sedang menunggu di sebuah taman untuk bertemu Wikan, sahabat lamanya. Wikan sendiri diceritakan berada di Paris untuk menggelar pertunjukan teaternya. Sang aktor tak habis pikir dan penonton seperti saya pun bertanya-tanya: ‘kok bisa orang pemalas seperti Wikan berkarir sampai ke Paris?’

On Se Raconte. Foto: Maulana Syarif

Di Paris inilah cerita monolog itu bermulai. Set yang didesain oleh M. Habib Syaifullah menyerupai yang biasa kita lihat di berbagai film Eropa yakni sebuah taman dengan kursi kayu berhias ornamen besi ukir di beberapa bagian kursi bersebelahan dengan pohon kayu kecil tanpa daun yang dengan segera mengesankan musim semi, serta sebuah lampu taman di belakang kursi kayu sebagai pemanis interior. Di bagian lighting, Dhinar Aryo Wicaksono memperkuat suasana adegan sang aktor mengenang Wikan dengan cahaya redup. Alunan musik yang diatur oleh Suprapto Setyo Utomo membuat para penonton seakan terhipnotis, tak berpaling dari cerita naskah yang disusun oleh Teater Tangga dan disutradarai oleh Septian Nur Yekti ini.

Dalam monolog Sttt Diam! Ikhwan dengan kostum jas bercorak hijau ramai dan properti box dorong yang mengingatkan penonton pada box yang sering dibawa oleh penjual obat di pasar tradisional. Namun box yang dibawa aktor ini penuh dengan hiasan gambar bibir dan bermacam quote seperti ‘Sttt…Diam!’, ‘caleg’, ‘korup’, dll. Di tengah panggung ditempatkan sebuah kursi yang dipergunakan aktor sebagai tempat untuk bercerita. Tata panggung digarap oleh Suprapto Setyo Utomo. Pertunjukan diawali dengan masuknya aktor mendorong box diiringi musik arahan Rifqi Mansur Maya. Ia melangkah dengan tegap penuh percaya diri, berkeliling satu kali dan kemudian meletakkan box tersebut tepat di samping kursi yang ada di tengah panggung, maju perlahan ke arah penonton sembari membuka pertunjukannya dengan lagak mirip pembawa acara talk show di televisi dengan berkata: ‘selamat malam Yogyakarta!’.

Sttt Diam. Foto: Darpita Jiwandana

Cerita yang diangkat dari karya Giri Ratomo dan disutradarai oleh Siti Fauziah ini berkisah tentang begitu banyaknya larangan di sekitar kita untuk melakukan ini dan itu, serta banyaknya anjuran yang mirip paksaan untuk melakukan ini dan itu, sementara apa yang kita inginkan tak digubris. ‘Lantas untuk apa kita hidup jika pilihan untuk diri sendiri musti berasal dari orang lain? Untuk apa pengalaman dan pelajaran yang kita dapatkan dan kemudian direalisasikan lewat karya? Mengapa pula musti ada begitu banyak larangan jikalau kita tahu dan mengerti arti tanggung jawab?’ Kira-kira inilah menurut saya apa yang ingin disampaikan oleh monolog Sttt Diam!

Satu hal yang menurut saya menjadi benang merah dari kedua cerita dalam pertunjukan “Imagined Lifess” adalah perihal mimpi. Pertama On Se Raconte yang bercerita tentang seseorang yang berhasil menggapai mimpi yang semula diragukan oleh orang-orang di sekelilingnya. Yah hidup manusia siapa yang tahu dan kadangkala kemujuran membuat manusia semakin percaya jikalau Yang Maha Kuasa itu memang benar-benar ada. Sedangkan Sttt Diam! bercerita tentang mimpi yang terbelenggu bermacam aturan. Apa jadinya jika mimpi saja dilarang? Untungnya sampai saat ini mimpi belum dilarang dan masih belum ada alat canggih yang mampu menyensor mimpi-mimpi kita. Maka, bermimpilah setinggi mungkin selagi masih bisa.

* M. Iwan M, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

skAnA volume 01

skAnA volume 02

skAnA volume 03

skAnA volume 04

skAnA volume 05

skAnA volume 06

skAnA volume 07

skAnA volume 08

skAnA volume 09, edisi ulangtahun ke-3

skAnA volume 10

skAnA volume 11

skAnA volume 12

skAnA volume 13

skAnA volume 14

 

Next Page »