July 2008


Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Philippe Bizot, pantomimer asal Perancis mementaskan Pantomim berjudul Tahap-Tahap Kecil Kebahagiaan. Pementasan digelar pada hari Jum’at tanggal 13 Juni pukul 19:30 WIB, di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jalan Sagan no.3 Yogyakarta. Pementasan tersebut merupakan program Internasional Festival Kesenian Yogyakarta ke 20 (FKY XX), sekaligus agenda LIP tahunan: Musim Semi Perancis atau Printems Francais.

Pementasan yang berdurasi sekitar 1 jam 20 menit itu sangat diminati penonton, hingga membuat gedung pertunjukan yang memuat sekitar 200 penonton itu dipenuhi para penonton yang duduk berjejal (sebagian lesehan dan duduk di undakan). Tetapi meski duduk berjejalan, tak mengurangi perhatian dan konsentrasi dalam melihat penampilan Philippe Bizot. Pementasan TahapTtahap Kecil Kebahagiaan itu terbungkus dalam suasana segar dan menggembirakan. Tak seorangpun yang beranjak pergi di tengah pementasan.

Tahap-Tahap Kecil Kebahagiaan terdiri dari beberapa nomor repertoar pantomim, yang berjudul: Gigi Susu, Di Ruang Kelas, Pertemuan Cinta, Sirkus, dan Pantai. Philippe Bizot bermain dengan gerak dan mimik yang  terolah secara matang. Gerak dan mimik yang dimainkannya sangat kuat, berhasil menciptakan imajinasi dalam benak para penonton. Imajinasi yang kadang konyol, satir, indah, nakal, dan mengejutkan. Repertoar itu seperti rangkaian alur yang bercerita tentang perjalanan hidup manusia: kelahiran, kebahagiaan masa kanak-kanak, kisah cinta remaja, dan peristiwa tak terduga.

Di Ruang Kelas, misalnya, hanya dengan properti sebuah kursi, ia duduk sambil menulis dan usil sendiri. Dengan mimik wajah dan gerak yang rileks, ia dapat menggambarkan suasana kelas yang ramai dan banal; dimarahi guru, mencontek, ngusilin teman dengan melempar upil, dan marah-marah sendiri. Sehingga membuat penonton tertawa geli, dan semakin antusias mengikuti permainannya. Juga dalam repertoar Pantai, ia berperan sebagai wisatawan yang sedang bersantai. Seolah di depannya adalah lautan luas. Kemudian ia membuat ulah dengan gerakan yang malu-malu saat mencopot pakaiannya. Hal tersebut memunculkan imajinasi “nakal” yang memancing tawa penonton.

Bentuk pantomim klasik menjadi pilihan bentuk pementasan dengan gerak dan mimik yang khas; kadang komikal, hiperbolik, realis, dan imajinatif. Dengan iringan musik sebagai pendukung suasana, ia bermain dengan intensif dan rapi. Penampilannya sangat sederhana; berkemaja putih, bercelana hitam, dan berpoles make up putih. Kesederhanaan itu menjadi kekuatan dalam memainkan peran. Gerakannya mudah dicerna, lugas, dan tidak berbelit. Hanya lewat gerak dan mimik, alur ceritanya dapat tersampaikan pada penonton. “Tahap-Tahap Kecil Kebahagiaan” telah berhasil mengkomunikasikan banyak peristiwa lewat bahasa tubuh. Bahasa manusia yang tak sebatas kata-kata.

Usai mementaskan “Tahap-Tahap Kecil Kebahagian”, lelaki 54 tahun itu mempersilakan penonton untuk menentukan judul, beberapa penonton langsung tunjuk jari lalu menyebutkan judul sesuai keinginannya. Misalnya: Melahirkan, zombie, memancing, anak kembar, kemudian ia langsung memainkan pantomimnya sesuai judul atau tema yang diberikan oleh penonton. Ia memainkannya secara spontan, cerdas, imajinatif, dan mengejutkan. Semakin mempertegas bahwa proses kreatifnya tak diragukan lagi.

Pantomimer sekaligus Petualang.

Philippe Bizot lebih dari 30 tahun bermain pantomim, sekaligus merupakan pengajar, sutradara dan seniman. Ia bergelut dalam bidang seni tidak hanya di Eropa, namun juga di Amerika Latin, Amerika Serikat, Afrika, maupun Asia. Di beberapa tempat yang pernah disinggahinya, ia mendirikan sekolah pantomim (Angoulême, La Paz, Karachi, Beijing).

Pada bulan Oktober 1974, Philippe Bizot menjadi juara pertama dalam festival pantomim kota Paris. Pada tahun 2003, ia meraih hadiah utama festival teater dunia di Puerto Montt di Chili. Ia selalu mengedepankan imajinasi dan komunikasi non-verbal. Ia menggunakan bakatnya sebagai cara untuk mengangkat mereka yang sering terabaikan oleh budaya (konvensional), mereka yang memiliki cacat fisik atau yang kurang mampu. Philippe Bizot adalah seorang Pantomimer sekaligus petualang peristiwa

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

*****


Komentar Penonton

Bagus, yang namanya pantomim itu kan mengimajinasikan benda kan? Kita itu bisa tahu gitu lho, yang dia buat di dunianya itu apa gitu lho.. (Akbar, SMA Piri 1 Yogyakarta, 17 tahun)

Keren, fantastic, dan mengharukan. (Fifi Andriani, Mahasiswi Undip Semarang, usia 21tahun)

Aku paling suka sama konsep penutupannya, terus aku suka mimiknya sama cahayanya bagus banget. (Ginting, semester akhir, Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma,, 23 tahun)

Seger, tapi malah asyik permintaan dari penonton, kan bisa nonton respon dan enggelnya; dia mengambil konsep dalam waktu yang singkat. (Wahmuji, Sastra Inggris, Sanata Darma, semester akhir)

Imut, yahud, teknisnya matang, simpel, jelas, dan mudah  dipahami. (Ali Arzad, Pantomimer muda, jurusan teater ISI, semester 11)

Lucu, seru, bapaknya kayaknya  kreatif deh.  Diluar dugaan. (Iyut, Sastra inggris, Universitas Sanata Darma, semester 4)

Saya lihat dari pertunjukan tadi sama yang berdua, maksudnya satu panggung dengan saya waktu di Surabaya, lain dengan yang di sini. Kalau yang di sini; apa apa gerr. Jadi nggak sampai apa yang dia buat, tapi secara keseluruhan saya anggap biasa, wajar. Sekarang kita sudah  tahu kan, artinya yang namanya mime itu yang bagaimana. Tapi yang namanya aliran itu bagi saya nggak masalah, karena mereka punya misi sendiri-sendiri. Tapi alangkah baiknya, dasar-dasar pantomime klasik itu harus dikuatkan. Itu lebih bagus, jadi sampai maksudnya. Kalau yang temen-temen lakukan kan (memperagakan dengan tangan, sebuah adegan pementasan pantomim dengan cepat).Saya maklum karena tenaganya masih well. Nah sekarang contoh yang tua seperti saya dan dia. Artinya dia sebagai pemain pantomim yang usianya 65 diatas saya yang 55, dalam tenggang ini, saya mesti harus bisa lebih. Tapi saya anggap biasa. Apa yang saya katakan mime itu ya seperti itu; bisa dilihat posturnya, cara pembagian  waktu, teknik pemunculan. Nggak kayak temen-temen (generasi muda pantomim ‘Bengkel Mime Theater) yang wus..wusss… tapi ya nggak papa karena ya…. punya misi sendiri-sendiri. (Jemek Supardi, Pantomimer Yogya dan Indonesia, usia 55 tahun)

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Kali ini seri Jagongan Wagen di Padepokan Bagong Kusudiardjo menampilkan kelompok Ketoprak Ngampung Balekambang, Surakarta. Kelompok ini beranggotakan anak-anak tobong dari Ketoprak Balekambang, yang sampai pada pertengahan tahun ’80-an sering tampil di Surakarta. Beberapa anak tobong kemudian berinisiatif untuk mengaktifkan kembali kelompok ketoprak yang sempat mati suri ini. Dengan anggota sebagian besar anak-anak muda (aktornya bahkan masih ada yang bocah), mereka menamakan dirinya menjadi Ketoprak Ngampung. Penamaan ini berasal dari kebiasaan mereka yang sering tampil di kampung-kampung, tapi bukan berarti membatasi pertunjukan hanya diselenggarakan di kampung saja. Karena selain di kampung mereka juga pernah pentas di sebuah mall di Surakarta. Kelompok Ketoprak Ngampung Balekambang sangat terbuka pada tempat-tempat pertunjukan yang lain.

Sebelum pertunjukan ada bincang-bincang  singkat dengan Dwi Susmanto, sutradara “Pasung”, dan Joleno, senior di Ketoprak Ngampung Balekambang, yang dipandu oleh Besar Widodo. Dalam perbincangan itu, terungkap keinginan mereka untuk tetap nguri-uri kebudayaan Jawa serta keinginan untuk mempertahankan Bahasa Jawa di tengah banyaknya pilihan kebudayaan yang ada sekarang. Mereka merasa bangga karena sebagai anak muda masih merasa perlu untuk mempertahankan “ke-Jawaannya”. Bincang-bincang itu berakhir dengan teriakan “Hidup Bahasa Jawa”, yang dibalas dengan tepukan tangan para penonton.

Malam 29 Juni yang lalu, tikar-tikar yang digelar di hadapan panggung untuk tempat duduk para penonton yang memilih lesehan, masih terlihat ada yang lowong ketika pertunjukan akan dimulai. Begitu  juga dengan deretan kursi-kursi yang ada di belakang. Lalu gamelan mulai ditabuh, sebuah tembang pembuka dinyanyikan. Perlahan-lahan tempat-tempat lowong diantara penonton itu mulai terisi penuh, bahkan hingga ke pinggir-pinggir panggung. Ternyata para penonton setia berada di tempatnya sampai pada akhir pertunjukan.

Panggung pertunjukan berupa sebuah meja, dan beberapa instalasi dari tali, bambu, serta ijuk, yang menggambarkan rumah di sebuah desa. Di atas meja seorang anak laki-laki tidur telentang, dengan kaki dipasung. Ngamid, anak yang dipasung itu, merasa kesepian,  ia ingin melihat dunia luar, ingin bermain dengan teman-temannya. Tapi bapaknya selalu melarang siapapun yang bermain ke rumahnya. Namun teman-temannya sering datang dengan sembunyi-sembunyi ketika bapaknya sedang pergi bekerja. Mereka mengajak Ngamid bermain-main, dan menceritakan tentang keadaan dan kebiasaan-kebiasaan di dunia luar, Ngamid makin merasa kesepian ketika teman-temannya itu diusir bapaknya. Sementara bapaknya sendiri tidak pernah menjelaskan alasannya memasung Ngamid.

Justru tetangga-tetangganya yang menjelaskan, dengan gaya bicara dan tingkah yang lucu, mereka bergantian tampil menjelaskan mengapa Ngamid sampai dipasung. Hingga terjadi pertentangan antar tetangga yang mendukung pemasungan atau menolaknya. Bahkan mereka sempat berkelahi (tentu dengan bumbu dagelan) untuk mempertahankan pendapatnya. Tapi tidak ada yang tahu alasan sebenarnya kecuali Bapak Ngamid sendiri.

Akhirnya Bapak Ngamid menjelaskan alasannya ketika Ngamid yang sedang memimpikan ibunya merintih-rintih kesakitan, dia menjelaskan ketakutannya pada pengaruh-pengaruh yang buruk dari dunia luar. Ia bercerita tentang Istrinya, ibu Ngamid yang menjadi penari ledhek lalu dibawa lari lurah desa tetangga, kakak Ngamid yang tak pernah pulang ke rumah dan lebih memilih mabuk-mabukan bersama teman-temannya di kampung. Ia tak ingin kehilangan Ngamid yang disayangnya. Sambil menangis, bapaknya melepas pasungan Ngamid, merangkul dan menggendongnya, baru ia tersadar kalau Ngamid ternyata sudah mati. Ia berlari membawa Ngamid sembari berteriak, “Aja nganti masung anakmu dhewe..!” (jangan memasung anakmu sendiri!).

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

*****

Komentar Penonton

Bagus pertunjukan ini dari tradisional, tapi dibuat sedemikian rupa sehingga enak ditonton. Olah tubuhnya bagus dan adegan adegan menarik karena keliatan modern. Tapi saya tertarik soalnya ini menyangkut hal-hal kecil, tapi maknanya dalam seperti pemasungan. (Joko, 29, Teater Angin Tuban)

Di tengah bagus karena kita gak ada kesempatan untuk berhenti tertawa, dan ada satu pelawak yang aku suka banget ma dia. Soalnya tu pelawak bener-bener gak bisa berhenti ngelucu. (Putik, 22, lagi test CPNS)

Lucu, tapi serius. Pas awal-awalnya saya suka banget sama dua anak kecil yang mainan egrang.. sayang dua-duanya gak keluar lagi sampai akhir. (Agung, 28, Kadipaten Kidul)

Oleh: Muhammad A.B & Hindra Setya Rini*

skAnA berkesempatan mewawancarai awak Teater Toedjoeh di markas mereka di seputaran Condongcatur. Tepatnya di sebuah rumah milik salah satu anggotanya, seusai mereka berlatih. Sekitar enam puluh menit, kami bercakap-cakap santai dengan ditemani alunan lagu Gloomy Sunday yang dilantunkan dalam berbagai versi. Meski obrolan ini dilakukan di garasi rumah yang juga tempat mereka berlatih, sembari duduk lesehan di atas selembar tikar, yang terasa adalah suasananya yang ngelangut tapi hangat…  …Sunday is gloomy, my hours are slumberless…

Biasanya memang ngumpul di sini, Mas?

Guntur:

Kami dulu punya rumah sendiri, kontrakan. Dekat dari sini juga. Tapi sekarang, untuk sementara kami berlatih di sini. Sambil menunggu tempat baru yang cocok. Kebetulan rumahnya ini mau dijual. Kalau ada pembaca skAnA yang berminat silahkan kontak-kontak saya ya, hehehehe… Lumayan buat modal Teater Toedjoeh, hehehe. Nanti skAnA dapatlah tiga persen dari hasil penjualan.

Wehh, syipppp! Kami siap. Tapi komisi makelar bisa jadi 10% gak, Mas? Hehehehe…

Ricky:

Ya, sebenarnya kami mau beli tanah juga sih, kalau rumah kayaknya terlalu nanggung.

Guntur:

Ya, nanti gampanglah. skAnA pokoknya dapet komisi, soalnya ada di naskah itu juga…

Loh, naskah apa, Mas?

Guntur:

Kita mau produksi pertunjukan Glengerry Glenrose. Pernah nonton filmnya? Atau baca naskahnya?

Iya, pernah dengar… Bisa minta diceritain sedikit ya, Mas…

Guntur:

Glengerry Glenrose itu yang nulis David Mamet, dia dapet Pulitzer untuk naskah itu tahun 1984. David Mamet itu yang bikin A Life in Theatre juga. Sudah diterjemahin ke bahasa Indonesia kok. Tapi penerjemahnya siapa, aku lupa. Naskahnya pernah difilmkan dan yang main Al Pacino dkk, tahun 1992.

Ini pertama kali dimainkan?

Guntur:

Yap. Perdana untuk di Indonesia, Mas. November, tanggal 13-14 November 2008 nanti kami akan pentas di Lembaga Indonesia Perancis (LIP).

Berapa orang yang main?

Guntur:

Ada tujuh orang, enam laki-laki satu cewek. Cuma yang cewek tadi pulang habis latihan.

Ini semuanya yang main anggota Teater Toedjoeh?

Guntur:

Ooo, nggak semua. Kami ngajak teman-teman dari kelompok lain juga. Ada Ricky, dia dulu teman di Sanata Dharma, jadi kami sudah kenal lama. Terus ada Anggit dari Sekrup (UNY) atau Gamblank Musical Theatre (GMT), gitu.. Ya, aku pernah nonton dia pentas, terus aku pikir asyik nih kalau bisa kerja bareng sama ni orang. Ya terus kontak-kontakan, sama seniornya juga. Ya dia mau, ya udah kami ajak main.

Anggit:

Aku dari sekrup

Kok mau diajak kerjasama mereka? Hehehe…

Anggit:

Lha aku diintimidasi dan dipaksa, hehehehehe.

Guntur:

Soalnya kami di Teater Toedjoh ini kan kekurangan aktor. Kami Cuma ada delapan orang.

Ricky:

Delapan orang itu saja manajemen semua, hehehehe..

Guntur:

Makanya tiap kali proses, kami harus cari aktor biar pertunjukannya bisa jalan.

Nah, awal mulanya bagaimana Teater Toedjoeh ini, Mas? Orang-orangnya siapa, dan dari mana aja?

Guntur:

Kami semua itu kumpul di Teater Lilin, Atmajaya. Awalnya semuanya anak-anak Atmajaya. Terus ada beberapa orang dari Sanata Dharma. Awalnya kami ada beberapa orang. Ketika berdiri tahun 2005 itu, Teater Toedjoeh berjumlah 21 orang. Terakhir kami jalan delapan orang. Nah, sekarang kami tinggal tujuh orang.

Sekarang ini produksi yang ke berapa mas?

Guntur:

Ini produksi yang ke-10 dari Teater Toedjoeh, dari tahun 2005. Tapi kalau pentasnya sudah ada sekitar 16 kali, ya sama nanti ini jadi 17. Tapi kebanyakan pentasnya itu pentas komunitas. Ya di kampus kecil-kecilan, ditanggap panitia seminar 100 tahun Romo Mangun di UKDW, semacam itu…

David:

Eh, bukan. Tapi 76 tahun Romo Mangun…

Guntur:

Ya, biasanya ditanggap kalau ada acara gitu. Terus dulu pernah ada acara di Desa Klepu kita juga main di sana. Tapi kalau yang produksi sendiri dengan publikasi dan mengundang penonton umum itu, ya ini yang kedua. Yang pertama itu bulan Maret tahun 2007, di Kedai Kebun Forum (KKF). Judulnya Hujan Pukul Lima.

Susah senangnya yang dihadapi Teater Toedjoeh selama ini apa, Mas?

Guntur:

Hahaha… Wah, banyak. Dulu sebelumnya nggak cocok sama kampus terus memutuskan keluar. Meski beberapa orang punya sejarah yang dalam dengan kampus, tapi kami juga punya masalah di sana. Lalu, pernah waktu ada kerjasama dengan salah satu gereja dan kita juga sempet nggak cocok… Ya kami merasa ingin independen aja, nggak punya tendensi apa-apa dan nggak suka diberi tendensi untuk apa oleh satu kelompok tertentu…

David:

Oh, iya, pernah punya kesalahan di KKF, dan kami nggak boleh pentas di sana lagi. Maafkan kami, Mbak Neni… Itu gara-gara salah satu kru memaku dinding ruang pertunjukan yang sudah diwanti-wanti dari awal bahwa di sana nggak boleh memaku. Gitu, ceritanya…

Dan yang dilakukan teman-teman sekarang untuk Teater Toedjoeh ke depan?

Guntur:

Selain pentas, kami bergerilya… Ke kampus-kampus, ke teman-teman sendiri,  ya untuk massa Teater Toedjoeh juga. Pentas ke depan ini kami juga rencananya ngajak kerjasama dengan Unsud Purwokerto dan UMM Magelang, untuk bantuin manajemennya. Awalnya mau pentas bulan Juli ini tapi mundur ke bulan November.

Tim artistiknya, Mas?

Guntur:

Kebetulan saya sutradaranya. Ya baru belajar sih. Ini kali kedua saya bikin realis setelah naskah Pagi Bening di UKDW. Pentas yang penontonnya teriak minta kami turun. Hahahaha…

Teman-teman yang lain:

Pentas salah konteks, mas! Acaranya tuh parodi atau lucu-lucuan gitu, nah kita bawain pentas serius. Jadi ya disuruh turunlah…hahaha  (Semua yang ada di ruangan tertawa.)

Guntur:

Tapi waktu itu ya sudah lah…hehehe. Oh, iya, ngomong-nomong soal serius itu, awalnya kami itu orderan. Nggak serius sama sekali. Ditanggap pas acara-acara ulang tahun, terus dibayar. Pernah menang lomba dramatisasi, dan dapat duit lumayan gede yang kami bingung mau diapain. Lalu mikir untuk bikin pentas yang lebih serius. Waktu itu optimis aja, dari teater juga bisa dapet duit. Nah, mulailah bikin pertunjukan yang nyari uangnya sendiri, mikir pentasnya, gimana menajemennya, dan lain-lain.

Nah, setelah jadi kelompok teater serius itu?

Teman-teman Teater Toedjoeh:

Jadi sepi tanggapannya, Mas. Hahahaha, nggak laku!

Ooo… Terus bagaimana teman-teman menyikapi ini?

Guntur:

Akhirnya ya kami sadar kami harus bikin dua bagian, keseniannya dan manajemen. Kami juga berpikir untuk punya penghidupan yang lain di luar teater. Kan memang umum sekali orang bilang di teater itu nggak bisa jamin untuk hidup. Tapi kita tetap memilih seni ini untuk seni itu sendiri. Urusan makan mungkin cari lahan lain. Kita juga mikir untuk buka usaha juga sih, Mas. Bisnis apa, kek.. Dan kita tetap serius berteater, gitu…

Kita coba bikin target-target per tahunnya. Untuk tahun 2012 nanti pengennya kita sudah nemuin style/gayanya Teater Toedjoeh itu seperti apa. Untuk tahun ini kita mau mempelajari realis abis deh.., tahun berikutnya baru menjelajah yang lain. Belum tahu bentuknya ke depan akan seperti apa. Nama Teater Toedjoeh sendiri juga nanti bisa berubah kok jika suatu saat dibutuhkan. Untuk saat ini ruang lingkupnya Teater Toedjoeh ya masih Jogja aja dulu.

Yang dibutuhkan Teater Toedjoeh sendiri untuk mencapai target?

Guntur:

Butuh teman-teman baru, yang punya semangat dan ide-ide yang baru, dan yang pasti punya visi yang sama… visinya kami kan Body, Mind, Soul, Kitchen. Yang artinya dapurnya tubuh, pikiran, rasa. Begitu…

Ricky:

Eh, tapi bisa juga urutannya begini; tubuh, pikiran, rasa, baru dapur…hahahaha.

Hm… Untuk Glengarry Glenrose, apa saja yang sudah dilakukan?

Guntur:

Kita sudah latihan rutin satu kali seminggu, kita panggil mentor untuk latihan dan ada kelas teorinya juga. Ya, ini juga terinspirasi dari Actor Studio. Karena ini konsepnya akan digarap dengan gaya realis abis, saat ini kita sedang mencari data, observasi, dan meminta fasilitator yang mumpuni untuk membantu proses ini. Diantaranya; Mas Rosa, Mas Landung Simatupang, dan ada seniman tradisi juga. Naskah akan diadaptasi. Karena ceritanya tentang salesman, ya kita kemudian mengundang beberapa orang salesman yang bekerja di perusahaan tertentu dalam bidangnya masing-masing, yang akan membagi tentang bagaimana kehidupan dan pekerjaan mereka kepada kami semua. Terutama aktor-aktor yang terlibat dalam proses ini.

Terakhir, ada pesan atau yang lain yang ingin disampaikan oleh Teater Toedjoeh?

Teman-teman Teater Toedjoeh:

Buat pembaca skAnA di seluruh Jogja, jangan lupa nonton pentas kami bulan November! Meski masih lama, ya ini sekalian promosi… info yang lain menyusul! Terimakasih….

* Muhammad A.B & Hindra Setya Rini, reporter skAnA

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Kusa (Alex Suhendra), seniman muda yang sedang merintis karier dicerca oleh Irina (Jami Atut P.), ibunya sendiri. Irina tidak suka dengan pertunjukan yang dibuat Kusa, ia mencercanya dan bersama Trigor (M. Qomaruddin) meninggalkan Kusa pergi. Kusa seniman muda yang karyanya aneh, tidak banyak disukai, tetap berusaha untuk meyakinkan ibunya, berusaha mendapatkan perhatiannya. Sementara Nina (Hindra Setyo Rini), kekasih Kusa yang bermain dalam pertunjukan yang dibuat Kusa pergi meninggalkan panggung sebelum pertunjukannya selesai. Ia menangis dan bersembunyi di bawah panggung.

Camar bercerita tentang impian dan perasaan di dalam diri seniman-seniman muda yang sedang berusaha mendapatkan pengakuan. Kusa harus kehilangan Nina, begitu juga ibunya yang tidak menyukai bentuk kesenian Kusa. Mereka berdua lebih memilih Trigor, penulis muda yang bukunya banyak dibaca dimana-mana. Untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya Kusa memberi Nina seekor camar yang sudah ia tembak mati. Walaupu Nina tetap mengacuhkannya, dan ia harus menyimpan camar itu sendiri.

Kusa bahkan berusaha menembak dirinya sendiri. Ia tak mati, tapi Masya (Wiwara Awisarita) jatuh cinta padanya, dan ternyata ia gemar menonton pertunjukan Kusa. Tentu saja Masya menonton bersama dengan Simon (Wisnu Yudha), kekasihnya.

Impian dan perasaan tokoh-tokoh di dalam Camar menjadi bagian unik dari pertunjukan. Ditampilkan dalam bentuk tubuh para aktor yang bisa tiba-tiba berubah ketika berdialog dengan pasangan mainnya. Misalnya, ketika Trigor bersama Nirina sedang berduaan, Trigor tiba-tiba mengucapkan dialognya seperti ular yang sedang mengelesot di tubuh Nirina, lalu kembali lagi duduk dan berbicara dengan Nirina seperti sedia kala.

Ketika Kusa sedang berbicara dengan Masya, Simon tiba-tiba berdiri di dekat mereka, berdiri dan menggigil ketakutan. Sementara Kusa tetap berbicara dengan Masya seperti tak ada Simon di dekat mereka. perasaan-perasaan itu jgua dimunculkan lewat aktor yang mengucapkan dialog-dialog seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri atau berbicara kepada penonton. Perasaan takut, gembira, bimbang, gelisah dimunculkan bergantian melalui bahasa tubuh para aktor. Perasaan-perasaan itu bisa muncul di tengah-tengah dialog yang mereka ucapkan, atau ketika aktor yang lain berbicara.

Pada akhirnya impian dan perasaan tokoh-tokoh di dalam Camar harus menghadapi kenyataan yang ternyata tidak seindah yang mereka bayangkan. Nina ditinggalkan Trigor dan mengubur impiannya menjadi bintang, Kusa masih tetap merindukan perhatian ibunya, dan karya-karyanya tetap tak diperhitungkan. Sementara Trigor harus meninggalkan Nina untuk bersama Irina. Ketika ambisi-ambisi luruh dan harapan perlahan menghilang Nina kembali pada Kusa. Dan ternyata Kusa masih tetap saja menulis puisi-puisi dan menyanyikan lagu untuk Nina.

Camar adalah naskah adpatasi Gunawan Maryanto dari Seagull karya Anton Chekov. Ditampilkan di Studio Banjarmili pada tanggal 29-30 Juni, pertunjukan yang tidak menarik biaya untuk penonton ini cukup diminati, ini nampak dari antusiasme penonton dalam dua malam pertunjukan itu. Pertunjukan ini adalah bagian dari program residensi Corrina Manara, sutradara Theatre Embassy Belanda di Teater Garasi. Pertunjukan ini adalah bagian dari program residensi Corrina Manara, sutradara Theatre Embassy Belanda di Teater Garasi. Para aktor dalam pertunjukan ini merupakan aktor-aktor muda dari beberapa komunitas yang ada di Jogja.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)


*****

Tim Kerja

Sutradara Corrina Manara/ Asisten sutradara Naomi Srikandi/ Aktor Alex Suhendra, Hindra Setya Rini, Jami Atut P., Muhammad Nur Qomaruddin, Wisnu Yudha Wardana, Wiwara Awisarita/ Penata musik Risky Summerbee/ Penata cahaya Ignatius Sugiarto/ Penata artistik Novi Kristinawati/ Stage manager Wisnu Yudha Wardana/ Pimpinan produksi Reni Karnila Sari

Komentar Penonton

“Pertunjukannya keren…, warna-warninya bagus aku suka itu. Ceritanya itu tadi gimana ya aku kok kurang nangkep” (Rahmat Riyadi, 21 tahun, Mahasiswa UGM)

“Musiknya bagus, banyak peristiwa yang menarik… aku suka sama gerakantubuh mereka sambil mengatakan sesuatu. Kayake pas gitu. Aku jgua suka pas ada yang nyanyi, terus yang di belakang menari. Kayknya jaman sekarang banget” (Putri, 20 tahun, Mahasiswa UMY)

“Mereka tampilnjya total gitu… sering melakukan gerakan bersama yang kompak. Awalnya tak kira pertunjukannya ga seperti ini, tapi ternyata ini jauh banget dari yang tak bayangin. Terus adegan terakhinya pas ada akor yang main gitar di pojok panggung… wah itu ya keren banget” (Yuyun, 23 Tahun, Unstrat UNY)

“Pencahayaannya eksperimen yang mengesankan. Tapi saya gak bisa memahami alurnya dengan utuh. Seperti kepingan-kepingan yang banyak dan harus disatukan sendiri.” (Doni, 24 tahun, penikmat teater)

Oleh: Hindra Setya Rini*

Kembali, setelah pertunjukan Suspect (datangmu terlalu cepat) yang dipentaskan pada bulan Februari lalu di Lembaga Indonesia Perancis (LIP), Bengkel Mime Theatre menampilkan karya terbaru mereka yang berjudul Aku Malas Pulang ke Rumah. Dipentaskan di Gedung S2 ISI Yogyakarta, Jalan Suryodiningratan No:8, pada tanggal 23-24 Mei, dengan harga tiket masuk sepuluh ribu rupiah.

Berbeda dari repertoar-repertoar Bengkel Mime Theatre sebelumnya—ruang pertunjukan yang biasanya terkesan intim, penonton yang duduk lesehan, lalu jarak antara penonton dan penampil dekat— malam itu keintiman tersebut tidak terasa. Ruang prosenium S2 ISI yang terlalu besar, dan tatanan kursi yang rapi justru membuat jarak yang cukup lebar antara penampil dan penonton.

Tepat pukul 19.45 WIB, lampu panggung mulai meredup, pertunjukan dimulai; Tikus-tikus mencericit, gelapnya gorong-gorong, jalanan kota, adalah fragmen yang kembali muncul dalam pertunjukan kali ini. Kota yang selalu berubah digambarkan dengan munculnya aksi anak-anak muda di atas panggung. Mereka menghiasi—mencoret-coret, menghapus, mencoret lagi—dinding-dinding bangunan kota berwarna-warni. Sementara itu, musik easy listening yang berganti-ganti di setiap adegan pertunjukan terus menggema di seluruh ruangan.

Bukhori, seorang salesman (diperankan oleh Asita) yang menjadi tokoh utama dalam lakon ini. Ia bekerja setiap hari tanpa lelah untuk dapat menjual alat-alat rumah tangga yang dibawanya keliling kota. Bekerja gigih dari rumah ke rumah, aksi promosinya tak kalah heboh dari tukang penjual obat pinggir jalan. Bukhori hidup bersama seorang istri dan tiga orang anaknya, di sebuah rumah yang diimpikan seperti rumah orang kaya. Versinya; ruang tamu bersofa, televisi berwarna, dan berdiding tembok berhias potret keluarga. Ia bercita-cita hidup bahagia bersama keluarga tercinta di tengah kota.

Asita dan Andy SW

Tidak semua setting-properti dihadirkan di atas panggung, kecuali sebuah sofa dan sebuah meja yang kadang berubah posisinya. Seperti televisi dan potret keluarga, hanya diimajikan lewat gerak mime para aktor.  Di beberapa adegan, gerak mime tersebut tak pelak membuat penonton tergelak. Adegan di ruang tamu, misalnya, antara Bukhori dan istri; ketika terjadi pertengkaran hebat, mereka tiba-tiba berubah menjadi dua ekor kucing yang saling mengerang dan mencakar. Juga dalam adegan romantisme pacaran, dan kehangatan keluarga saat menonton teve bersama anak-anak tercinta.

Selain itu, perihal impian akan masa depan yang sejahtera divisualkan dengan lintasan-lintasan kursi yang di atasnya membawa berbagai properti seperti laptop, sepatu pesta/ high heelsmicrowave, dan lain-lain.

Pertunjukan berdurasi sekitar lima puluh menit itu berjalan lancar. Sayangnya, suara musik band yang diselenggarakan tak jauh dari gedung pertunjukan terdengar agak kencang dan sedikit menggangu kenyamanan dalam menonton. Meskipun demikian, penonton yang berjumlah sekitar 130 orang pada malam kedua itu tak ada yang terlihat beranjak meninggalkan tempatnya.

Malam itu, sehabis pertunjukan diadakan diskusi kecil yang dihadiri sekitar dua puluh lima orang. Diantaranya; para anggota Bengkel Mime Theatre, Pantomimer Jogja Jemek Supardi, penulis dan sutradara Teater Garasi Gunawan ‘Cindhil’ Maryanto, sutaradara Teater Gardanalla Joned Suryatmoko, dan beberapa penonton. Selaku pembicara adalah pengamat seni pertunjukan Ikun SK, pekerja sosial Ani Himawati,  dan dimoderatori oleh M. Jalidu dari Gamblank Musikal Teater. Diskusi ini membicarakan mengenai proses artistik maupun proses para aktor. Tentang ide/konsep, observasi, dan apa saja yang telah dilakukan hingga terjadi peristiwa di panggung, di-sharing-kan di sini.

Sekilas Profil

Bengkel Mime Theatre adalah kelompok kesenian yang dirintis pada tanggal 2 Mei 2004. Semula bernama Bengkel Pantomim Yogyakarta. Kemudian berganti nama menjadi Bengkel Mime Theatre pada tanggal 10 november 2007.

Merupakan kelompok kesenian yang menggeluti seni pertunjukan berbasis pantomime. Dengan membaca seni pantomim dari pendekatan wacana seni dan pengetahuan di luar pantomim, untuk membuka tawaran bentuk, menguatkan isi dan nilai artistik karya. Selama kurun waktu empat tahun ini, telah menghasilkan sembilan judul karya, yang salah satunya berupa kumpulan komik dengan judul “Bengkel Mime dalam Komik” yang merujuk naskah Langkah-langkah, Three Little Duck, dan Superyanto.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

*****

Kerabat Kerja

Sutradara Ari Dwianto Penata Artistik Pingky Ayako Saputro Kru Artistik Tingkir Adi Susanto, Domex, dan Sugeng Pribadi Aktor Asita, Ficky Tri Sanjaya, Edi Suharto, Hambar ‘Gigon’ Riyadi, Andy SW, Ari Dwianto Musik Ishari Sahida Penata Cahaya Sugeng Hutomo, Budi, Jody Penata Kostum Yuni Wahyuning Penulis Teks cerita Andy Sri Wahyudi Pimpinan Produksi Endah Sri Wahyu Handayani Divisi Konsumsi Ficky, Hambar Riyadi, Meme Dok. Foto Arif Sukardono Dok. Video Dion & partner Ticketing Bakti. W Penjaga Pintu Erson Padiparan, Ronald Pasolang

Komentar Penonton

“Secara garis besar, saya bisa menikmati pertunjukan itu, walau agak terganggu dengan mekanisme lampu dan sound effect dan musik yang sepertinya kurang lancar. Atau mungkin ada yang luput ya? Lalu, karena selama ini saya nonton pentas-pentasnya Bengkel Mime hampir selalu isu sosial diangkat, saya pengin lihat Bengkel Mime sekali waktu mementaskannya juga di luar panggunga yang dekat dengan pelaku peristiwa yang sesungguhnya. Misalnya: pasarm area perkantoran pas jamnya karyawan pulang kantor, dan tempat-tempat lain yang lebih dekat dengan orang dan peristiwa yang sedang dilakonkan. Mari terus membuat kehidupan ini menjadi lebih baik, he……” (Fransiska Haloho, 25 tahun, penikmat seni pertunjukan)

“Artistiknya aku suka. Itu lho yang melintas keluar masuk dan setting yang bisa berubah cepat dan mobile. Hmmm, untuk pilihan nggak pake make up putih itu sih aku setuju aja, tapi sayang ekspresi aktornya masih kurang banget. Cuma pemeran utamanya aja yang kuat. Menurutku, kalau gak pake make up ala pantomimer kebanyakan itu, mestinya ekspresi wajahnya lebih keluar. Ke depan lebih dimaksimalkan lagi aja. Untuk semangat mudanya, aku salut, deh.” (Broto, 32 tahun, Deaf Art Community)

“Pertunjukannya lucu. Huuw…., banyak lelaki cantik! Hahaha…. Emm, aku suka musiknya terus waktu adegan mimpi, yang kursi melintas-lintas bawa laptop, sepatu dan macem-macem itu pas, menurutku. Ya, jadi kebawa ngimpi juga. Hehehe….” (Iyut, 19 tahun, Mahasiswi Sanata Dharma)

Oleh: Jami Atut T.*

Tertawa  adalah reaksi pertamaku sewaktu Hindra, salah seorang awak skAnA memintaku untuk menulis proses penggarapan naskah The Seagull/Camar karya Anton Chekov. Diadaptasi oleh Gunawan Maryanto, dan disutradarai oleh Corrina Manara dari Teater Embassy Belanda, yang kebetulan sedang residency di Teater Garasi. Sembari mengumpulkan ingatan yang sudah tercecer tentang proses ini, baiklah kucoba membagi ceritanya (agak grogi juga karena ini pertama kalinya aku menuliskan pengalamanku) kepada teman-teman pembaca semua.

Semula aku tidak pernah menyangka akan ditelepon oleh seorang rekan dari Teater Garasi, yang kemudian mengajakku bergabung dalam proses penggarapan naskah Camar. yang akan disutradarai oleh Corrina Manara. Perempuan berusia 32 tahun ini ingin membuat sebuah karya kolaborasi dengan seniman lokal di Jogja. Sebuah ajakan atau tepatnya kesempatan yang tentu saja tidak akan ku biarkan lewat begitu saja.

Awal pertemuan kami bertiga (aku, Corrina Manara, dan Naomi Srikandi sebagai penerjemah sekaligus asisten sutradara dalam proses ini) dimulai dengan membicarakan tentang ide yang akan diusung dalam pementasan nantinya. Aku menangkap bahwa sebuah ide yang sangat menarik untuk direalisasikan di atas panggung. Menarik karena ada sesuatu yang baru dan berbeda secara visual. Penggarapan Camar lebih memprioritaskan bentuk. Sebelumnya saya tidak mempunyai referensi pemanggungan yang pas untuk gagasan ini.  Bingung pada awalnya, karena gagasan si Sutradara inginnya menggarap naskah Camar secara non realis. Yang artinya, di sini para aktor diajak menanggalkan pikiran-pikirannya tentang kecenderungan (penggarapan panggung dan akting) yang ‘kudu’ realis karena sedang menggarap naskah-naskah Anton Chekov yang dikenal sangat realis itu. Di tengah kebingunganku, akhirnya aku berpikir, mungkin akan jauh lebih mudah kalau aku langsung masuk dalam proses latihan untuk segera merealisasikan ide-ide atau gagasan sutradara.

Setelah perbincangan kami di awal, aku mulai mengetahui Corrina tidak menyukai realisme sedangkan aku termasuk aktor yang selalu berkutat dengan gaya akting realis. Ada sedikit pertentangan ketika aku mulai membaca naskah dan mengingat gagasan yang kami bicarakan waktu itu. Tapi kuabaikan saja. Bagiku setiap kalimat yang Chekov ciptakan penuh dengan unsur-unsur komedi “nakal” yang segar. Saat aku mulai reading, aku membebaskan diri dari gagasan pementasannya. Aku menikmati betul setiap kalimat dan berusaha meliarkan imaji sebelum masuk ke dalam proses latihan bersama aktor-aktor yang lain. Melafalkan kalimat-kalimat yang menggelitik membuatku tersenyum sendiri.

Saat memasuki latihan bersama aktor yang lain, aku masih ingat betul sms yang aku terima dari Mbak Omi (Naomi Srikandi) yang isinya: Jangan lupa bawa baju latihan yang nyaman karena besok kita ada sedikit pemanasan. Aku bertanya pada diriku sendiri, “Hm… Kali ini aku berproses bersama temen-temen Garasi yang terbiasa dengan tubuh sebagai media utama dalam berteater. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan padaku, terutama pada tubuhku? Haha, mungkin tubuhku akan shock karena sebelumnya hampir satu tahun aku berproses bersama teater Gandrik yang  selalu happy.” Gojek kere dan gaya slenge’an para pemainnya adalah salah satu cara  bereksplorasi di Teater Gandrik dalam mencari, dan mendapatkan bentuk yang diinginkan bersama untuk pementasan. Terlepas dari itu semua (pikiran-pikiran dan kebiasaan berprosesku), sebagai aktor saya harus siap menerima materi apapun yang akan sutradara berikan dalam latihan, termasuk merelakan tubuh suburku sebagai media penyampai gagasan. Oh, ya, dalam proses Camar aku berperan sebagai Irina.

Kesan berikutnya, di sini saya beruntung bertemu dengan aktor-aktor yang hangat dan terbuka, padahal awalnya saya merasa canggung karena saya termasuk aktor yang terlambat masuk dalam lingkaran proses latihan. Dalam proses Camar para aktor dikenalkan dengan beberapa metode yang masih terasa asing, terutama karena aku tidak mengikuti workshop yang diberikan sutradara di Banjar Mili sebelumnya. Hidden tought dan side scene merupakan salah satu metode yang dilatihkan pada aktor.

Hidden tought adalah pikiran-pikiran tersembunyi, yang dibayangkan aktor mengenai para tokoh yang diperankannya—dengan catatan: tidak terdapat pada teks / naskah—yang harus dikeluarkan di tengah-tengah dialog dengan takaran yang pas dan sesuai dengan persoalan yang ada (sinkronisasi cerita). Seperti dalam dialog Irina kepada tokoh Nina seorang aktris pendatang baru “Selamat Nina, aktingmu sangat luar biasa sekali, tapi… kenapa wajahmu yang cantik dan suaramu yang indah itu kau sembunyikan di kampung ini.“ Sedangkan hidden tought Irina ingin menyampaikan bahwa akting Nina buruk sekali. Contoh: “Coba kalian lihat! Akting Nina begitu buruk, apalagi suaranya, ouw…sama sekali tidak merdu dan wajahnya tidak cantik.”  Dalam hal ini Irina sebenarnya menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya terhadap Nina, tetapi harus dia sampaikan di tengah-tengah dialog kepada penonton. Seperti kata Brechtian “tiba-tiba menjadi dan kembali menjadi” yang artinya para aktor  dituntut untuk keluar masuk dari peran dan tokoh masing-masing menjadi dirinya yang asli, tapi secepat mungkin kembali lagi ke dalam  karakternya.

Sedangkan Side Scene adalah adegan samping di luar realitas dari adegan utama. Awalnya memang terasa asing dan membingungkan. Sebagai aktor saya sempat merasa khawatir kalau-kalau kurang tepat dalam menerapkan kedua metode ini. Setelah melewati hidden tought dan side scene yang pertama. Aku baru menyadari bahwa kedua metode tersebut merupakan salah satu cara untuk mempermudah para aktor agar memahami karakter tokoh dan alur cerita.  Juga untuk mengekplorasi naskah dan pikiran terdalam kita, yang tidak sempat terpikirkan sebelumnya. Lantas apa bedanya dengan  berimprovisasi atau bermain-main dengan teks? Sebenarnya sama, tetapi hidden tought di sini sifatnya kurang lebih untuk menjembatani  realitas dan non realitas dari adegan ke adegan.  Begitu juga dengan side scene (tapi side scene di sini media penyampaiannya lebih ke tubuh), misalnya karakter tokoh Irina, seorang aktris  terkenal pada masanya yang sudah berumur, sombong, merasa seksi, cantik, dan mempunyai emosi yang meledak-ledak. Di beberapa side scene Irina diimajinasikan seperti gunung, burung elang atau sungai yang beraliran deras dan penuh cadas. Kemudian divisualkan dengan bentuk tubuh yang cenderung horizontal, dan gerakan tubuh yang dibesarkan (semula dari gerakan realis lalu menjadi tidak realis / tidak wajar). Sungguh tidak mudah ketika menerima dan masuk dalam kultur yang berbeda dan asing seperti metode hidden tought atau side scene yang diberikan.

Sebagai astrada, Naomi Srikandi melihat kebingungan dan kegelisahan yang sangat pada para aktor. Apa yang membuat para aktor belum bisa memaknai dan menemukan gagasan yang sutradara inginkan waktu itu. Kemudian Mas Cindil memberikan workshop kecil yang berefek besar terhadap pemahamanku tentang apa yang sebenarnya diinginkan sutradara. Lalu semua aktor berusaha mencari bentuk dengan cara mengeksplorasi imajinasi, tubuh, pikiran dan rasa untuk sampai pada tujuan visual dan ruang yang ingin diwujudkan dalam pertunjukan Camar.

Dalam proses ini setiap aktor mempunyai cara atau metode tersendiri dalam pencariannya di luar dari metode yang diberikan sutradara. Pembebasan sutradara kepada aktor inilah yang dinilai penting oleh setiap aktor untuk memunculkan ide-ide baru, yang kemudian diseleksi oleh sutradara untuk pencapaian bentuk visual maupun non visual. Pembebasan sutradara inilah yang segera kami eksplorasi secara maksimal sampai kami para aktor merasa lelah. Namun, justru saat kelelahan yang mendera itu, kami mendapatkan apa yang tidak kami sadari malah menjadi bentuk yang diinginkan sutradara secara artistik. Tetapi acapkali kami masih merasa belum puas, karena kami merasa sutradara lambat dalam mengeksekusi (kurang cepat  mengambil langkah ketika mendapati persoalan dalam prosesnya). Kembali lagi pada latar belakang dan kultur yang berbeda. Aku pikir memang mungkin inilah kendala prosesnya, selain perihal bahasa dalam berkomunikasi. Bagaimanapun aku merasa beruntung mendapati teman-teman yang selalu memberikan masukan dan semangat, terlebih teman-teman Garasi yang selalu meyakinkan kami; bahwa ini adalah gagasan segar yang sangat menarik untuk dipertunjukkan.

Pergulatan pikir, rasa, dan ruang yang telah dilakoni selama hampir tiga bulan membuatku semakin yakin dengan apa yang sudah dilewati dari proses yang begitu melelahkan. Tapi menghasilkan satu bentuk peristiwa kesenian yang diyakini dan kritis. Dengan segala keterbatasan, akhirnya proses Camar berhasil menjadi sebuah pertunjukan yang bisa diapresiasi oleh penonton. Aku berbahagia, karena semua ini juga happy. Proses Camar banyak memberikan input yang luar biasa dalam perjalananku sebagai aktor. Banyak hal yang aku temukan; bukan sekadar teman baru, lingkungan baru, pengalaman baru, saudara baru, tapi juga merasa menjadi sebuah  keluarga baru yang menata pondasi dari ketidak-tahuan akan tanah yang kami pijak, dan sepakat dijalani bersama.

* Jami Atut T, Aktor Independen, Mahasiswi Teater ISI angkatan 1999, tinggal di Jogja.

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

Oleh: Muhamad Anis Ba’asyin*

Malam tanggal 16 Juni 2008 yang lalu di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, kelompok Dance Works Rotterdam membawakan dua nomer pertunjukannya yang berjudul “Mortal” Coil dan “Lareigne”. Pertunjukan ini adalah salah satu rangkaian program internasional Festival Kesenian Yogyakarta 2008.

Pada pukul 20.00, Gedung Concert Hall nampak cukup padat dengan ratusan penonton yang telah duduk menunggu pertunjukan dimulai. Sekitar lima belas menit kemudian tirai penutup panggung diangkat, bersamaan dengan itu lagu “Loose Urself” dari Eminem menghentak, lagu hip-hop ini disambut dengan gerak rancak 11 pebalet yang mengenakan kostum hitam ketat berloncatan melayang di udara lalu ditangkap temannya. Sejenak kemudian lagu berhenti, dan berganti menjadi alunan “Gran Partita” (Serenade no.10 in B-flat) karya dari Mozart.  Ini adalah adegan awal “Mortal Coil” karya koreografer Ton Simmons yang pertama kali dipentaskan pada 12 Januari 2008 di Rotterdam.

Lalu para penari balet ini bergantian melakukan tari solo, duet, dan berkelompok selama kurang lebih tiga puluh menit. Gerakan para pebalet ini berjalan beriringan dengan pergantian tata cahaya lampu di atas panggung yang berwarna-warni.  Panggung yang kosong (cuma ada kain latar di belakang panggung berwaran putih, serta alas panggung berwarna putih yang menjadi area permainan para pebalet) tiba-tiba bernuansa lain ketika para penari itu mulai melompat atau berlari masuk ke area permainan (di para pebalet ini, begitu keluar dari sisi panggung awalnya berjalan biasa, lalu melompat atau berlari untuk memulai tariannya).

Tarian yang disuguhkan dalam durasi sekitar 45 menit itu, berupa repetisi dari beberapa komposisi gerakan. Lagu “Loose Urself” yang menghentak itu, kembali muncul menutup tarian balet “Mortal Coil”, para pebalet meresponnya seperti pada adegan awal. Dan pertunjukan akan beristirahat untuk 30 menit.

Pertunjukan dibuka kembali, kali ini adalah “Lareigne” karya Stephen Petronio. Karya ini dipentaskan pertama kali pada tahun 1995 di New York. Lagu yang membuka pertunjukan ini sama menghentaknya dengan pertunjukan pertama, kali ini adalah “No More Heroes” dari The Strangler. Komposisi pembuka pertunjukan ini dibawakan bergantian oleh dua pasang pebalet. Sama seperti nomor pertunjukan yang pertama, musik pada pertunjukan kedua tiba-tiba berganti dengan musik yang  menjadi latar selama pertunjukan. Bedanya kali ini bukan musik orkestra, melainkan alunan musik digital midi.

Agak berbeda dengan “Mortal Coil” yang anggun dan mengalir lembut, “Lareigne” lebih dinamik. “Lareigne” menampilkan lebih banyak varian komposisi balet yang dilakukan oleh beberapa orang pebalet. Dengan kostum yang berwana putih yang seksi (berupa terusan yang ketat dan menjuntai di bawah),  para pebalet tampil dalam gerakan cepat yang terkadang patah-patah, bahkan terkadang mirip break dance.

Nomor pertunjukan tari balet “Lareigne” yang berdurasi kurang lebih 30 menit ini, ditutup dengan tepukan panjang para penonton mengiringi para pebalet berbaris di atas panggung bersama koreografer Ton Simmons. Menonton pertunjukan ini, paling tidak memberi pengalaman pada  penonton tentang pertunjukan balet yang jarang sekali ada di Jogja.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

Komentar Penonton

“Pertunjukannya bagus, keren, tapi saya kok merasa ga menikmati? Ga seperti pertunjukan hip-hop “eta dam” yang dari Perancis kemarin. Ini ga bermaksud membandingkan lho…” (Seniman Muda (malu disebutin namanya), tinggal di Jogja, usia 27 Tahun)

“Very amazing!!! Aku gak ngeliat mereka salah dalam melakukan satu gerakan. Mereka itu kompak banget. Keren lah…. Aku kagum sama kaki-kaki mereka, kuat dan berotot tapi lentur, keliatannya dibuat gerakan apa saja pasti bias gitu.” (Kathy Claudia, 21 tahun, waria yang lagi belajar bermain teater)

“Aduh aku baru pertama kali ini ngeliat pertunjukan balet, jadi ya gimana ya….. buat referensi pertunjukan bagus. Kayaknya FKY harus mendatangkan pertunjukan-pertunjukan yang jarang ada di Jogja kayak yang satu ini. Kelihatannya juga sukses, rame banget penontonnya.” (Susilo, 28 tahun, wiraswasta di Jogja)

Next Page »