March 2009


Oleh: Hindra Setya Rini*

Dua boneka dengan warna mencolok melintas di keramaian penonton, di lobi Gedung Sosietet Militer, Taman Budaya Yogyakarta. Itulah peristiwa pertama yang dibangun oleh Papermoon Puppet Theatre di pertunjukannya kali ini, Dalam Sebuah Perjalanan (on a Journey) pada 5 Desember 2008.

Kedua boneka itu digerakkan oleh dua pemuda berpakaian hitam-hitam di belakangnya. Beberapa anak kecil dan remaja menghampiri boneka-boneka itu untuk mengambil permen dan makanan ringan yang ada di bagian perutnya. Semua yang ada di sana boleh diambil sesuka hati dan gratis.

Tak lama kemudian, boneka bertopi yang bentuknya agak bulat dan pendek, menyeruak di keramaian penonton. Pakaiannya kumal seperti gembel, ia menadahkan kantung kepada penonton untuk bersedekah. Seperti dua boneka sebelumnya, ia juga berkeliling dan menghampiri para penonton.

Pukul 20.00 WIB, penonton masuk ke dalam gedung pertunjukan. Gedung berkapasitas sekitar 350 kursi tersebut dipadati penonton. Sekitar lima belas menit penonton masih menunggu di tempat. Ketiga boneka tersebut turut masuk ke ruang penonton. Tak lama kemudian sebuah boneka kuda ditunggangi oleh seseorang yang berpakaian ala koboi melintas di depan penonton. Terdengar back sound langkah sepatu kuda beserta ringkikannya menggema memenuhi ruangan. Kuda mondar-mandir sebentar sebelum meninggalkan ruangan dan menghilang ke arah belakang penonton.

Lampu di panggung menyala. Cerita berawal di kediaman seorang lelaki, ia menangis sesenggukan. Ia adalah John, laki-laki yang murung setelah ditinggal kekasihnya untuk selamanya. Sebenarnya ia sudah merencanakan sebuah perjalanan bersama kekasihnya. Bahkan tiket sudah dia genggam. Ia memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan itu─berharap bisa menghilangkan dukanya. Tak lupa ia membawa syal ungu, kenang-kenangan dari sang kekasih saat jumpa pertama. John sempat terkenang masa-masa pertemuan, dan dengan berat hati ia meninggalkan rumah sambil tersedu. Ia menuju stasiun kereta api.

Di tempat lain, Yolanda, seorang ibu muda yang sangat bahagia, tak sabar untuk segera pergi dari kota untuk mengunjungi suami tercinta. Sang suami adalah seorang polisi yang bekerja di luar kota. Dengan kostum kuning menyala, ia tampak ceria, berjalan sambil bersenandung. Geraknya lincah meskipun ia sedang hamil tua. Yolanda pergi meninggalkan kediamannya menuju stasiun kereta bersama anjing kesayangannya, Ola.

Sebelum akhirnya John dan Yolanda bertemu dalam satu gerbong kereta yang sama, keduanya sama-sama bertemu dengan orang-orang yang punya ceritanya masing-masing. Pertemuan-pertemuan yang menjadi warna di sepanjang perjalanan mereka. Mereka adalah pedagang asongan, pengamen, pengemis atau gembel, sepasang kakek-nenek, dan seorang ibu dengan bayinya.

Di dalam kereta itulah semua orang dengan karakternya masing masing saling bertemu. Peristiwa atau adegan yang terjadi sering kali membuat penonton tertawa. Contohnya saat si bayi menangis dan menggigit jari nenek yang berusaha membujuknya untuk diam, dan John-lah satu-satunya orang yang berhasil membuat si bayi tertawa. Belum lagi tingkah laku nenek yang super cerewet dan galak. Si nenek selalu bertindak kasar terhadap kakek. Intinya si kakek harus melakukan apa yang diperintahkan si nenek. Beberapa kali adegan tersebut membuat penonton tergelak.

Cerita bergulir hingga pada adegan gendam yang dilakukan oleh ibu yang membawa bayi terhadap seluruh penumpang. Dengan lagu nina bobo yang dinyanyikannya, seluruh penumpang tertidur lelap dan tanpa disadari barang/tas bawaan mereka lenyap. Semua penumpang baru tersadar ketika Yolanda merasa anjingnya telah hilang. Suasana dalam kereta berubah riuh. Masing-masing orang saling curiga. Akhirnya, penyelidikan pun dilakukan oleh pengemis yang ternyata ahli melacak kejahatan layaknya detektif.

Pada akhir cerita, penjahat berhasil ditemukan. Namun tiba-tiba Yolanda merasa kesakitan, sudah saatnya untuk melahirkan.  Ia terpaksa melahirkan di tempat itu, saat itu juga. Di stasiun kereta. Kembali riuh rendah terjadi saat para penumpang berusaha membantu Yolanda melahirkan. Tak satu pun dari mereka yang paham perihal persalinan. Berbagai alat dikeluarkan seperti gergaji, kapak, dsb, membuat penonton tertawa. Saat si anak lahir, spontan penonton kembali tergelak melihat sang bayi terlahir sebagai seorang bayi penunggang kuda─lengkap dengan kudanya. Si bayi membawa ingatan penonton pada seorang penunggang kuda yang melintas di awal cerita. Ternyata si Koboi itu adalah suami Yolanda. Tak disangka oleh Yolanda, dia bertemu dengan sang Suami pada saat persalinan, di stasiun kereta itu.

Cerita berakhir bahagia. Seluruh penumpang bahagia, dan penjahat pun dimaafkan karena ia telah memberikan hadiah kepada bayi Yolanda yang baru lahir. Cerita ditutup dengan foto bersama. Seluruh penumpang kereta berpose untuk mengabadikan momen kebersamaan dan kebahagian tersebut. Klik. Lampu kilat kamera bersinar, lampu di atas panggung padam, pertunjukan selesai.

Pertunjukan yang berdurasi sekitar satu setengah jam ini menarik bagi penonton karena permainan bonekanya yang benar-benar terasa hidup. Meski para aktor yang memainkan boneka jelas terlihat di belakangnya, hal tersebut nampaknya tidak mengganggu penonton. Sampai pertunjukan selesai tak ada penonton yang beranjak dari kursinya. Selain itu, bentuk bonekanya sendiri juga menarik—boneka seukuran manusia dengan desain unik—terutama bagi anak-anak dan remaja. Warna-warna cerah yang dipakai pada kostum serta setting ruang yaitu kuning, merah, cokelat, dan hijau, nampak segar di mata.

Salah satu strategi yang cukup menarik adalah digunakannya bahasa Gibberish dalam pertunjukan ini. Gibberish merupakan kata-kata yang bunyinya secara harafiah tak mengandung arti sama sekali. Mengingat terlibatnya kolaborator yang tidak berbahasa Indonesia dalam pertunjukan ini, penggunaan bahasa Gibberish adalah pilihan paling tepat. Bagi penonton sendiri, penggunaan bahasa ini mudah dimengerti karena aktor juga menggunakan gerak tubuh untuk menjelaskan maksudnya. Hampir sama dengan “Bahasa Tarzan”, demikian orang-orang kadang menyebutnya di keseharian.

Pertunjukan yang melibatkan lebih banyak aktor/pemain dan kru pada produksi Papermoon Puppet Theatre kali ini, berhasil menghibur penonton. Antusiasme penonton pada malam itu menunjukkan bahwa Papermoon telah berhasil memberikan satu tawaran tontonan yang layak diapresiasi di antara pertunjukan teater boneka yang sudah ada di Indonesia.

Sekilas Tentang Pesta Boneka

Pergelaran pesta boneka ini diinisiasi oleh Maria Tri Sulistyani, setelah perkenalannya dengan dua orang seniman mancanegara yang bergelut di dunia teater boneka. Mereka adalah Anne-Sophie Lecourt (Prancis) dan Carla Pedroza (Meksiko). Perjalanan mereka ke Indonesia yang semula untuk belajar wayang kulit diinterupsi oleh Maria dengan ajakan untuk “tak hanya belajar”, tapi juga membuat sesuatu. Gayung bersambut. Maka proses pesta boneka pun dimulai dengan membuat workshop-workshop bersama, merancang cerita, dan merencanakan beberapa pementasan selama kurun waktu 9 bulan.

Rangkaian pesta boneka ini terdiri dari: Hanya Menunggu (just waiting) dipentaskan tanggal 17 Juli 2008 di Kinoki; Yu Brejel dan Eyang Dipo dipentaskan tanggal 18 Agustus 2008 di Padepokan Bagong Kussudiardjo; Ya Nos Morimos (kita sudah meninggal) dipentaskan tanggal 7 November 2008 di Lembaga Indonesia Perancis; dan puncaknya Dalam Sebuah Perjalanan (on a journey) dipentaskan tanggal 3-5 Desember 2008 di Taman Budaya Yogyakarta.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

*****


Kerabat Kerja

konseptor Maria Tri Sulistyani (Indonesia), Anne-Sophie (Perancis), Carla Pedroza (Mexico) koordinator program Maria Tri Sulistyani (Indonesia) ide naskah Maria Tri Sulistyani (Indonesia), Daniele Poidomani (Australia), Carla Pedroza (Mexico), Carla Ori (Australia) desainer artistik Iwan Effendi (Indonesia) sutradara Daniele Poidomani (Australia), Maria Tri Sulistyani (Indonesia) penata musik Carla Ori (Australia) manajer panggung Novindra Dhiratara (Indonesia) penata lampu Ignatius “Clink” Sugiarto (Indonesia) penata suara Eko “Tebleh” Prabowo (Indonesia) produksi Nur Cahyati Wahyuni (Indonesia), Aniek Rusmawati (Indonesia) penerjemah Tessa Toumbourou (Australia) kru Supono, Dwi (Indonesia) pembuat dan pemain boneka Octo Cornelius (Indonesia), Yosafat Diaswikarta (Indonesia), Anton “Grewo” Fajri (Indonesia), Beni Sanjaya (Indonesia), “Genyeng” Purjianto (Indonesia), Supri (Indonesia), Sulis Masinis (Indonesia), Hafez Achda (Indonesia), Carla Pedroza (Mexico), Maria Tri Sulistyani (Indonesia)

Komentar Penonton

“Papermoon itu kreatif. Dalam artian, bonekanya itu selalu berganti-ganti terus dalam setiap pertunjukannya. Nggak monoton jadinya. Ceritanya menarik, ada kejutan-kejutan. Salut deh sama teman-teman Papermoon. (Gunawan, 40 tahun, komunitas Rumah Pelangi)

“Ini pertama kalinya nonton teater boneka yang seperti ini. Biasanya aku nonton pertunjukan boneka yang dimainin pakai tangan, atau yang orangnya masuk ke dalam bonekanya. Ini bagus, beda dari biasanya itu. Boneka dan orang yang mainin kelihatan jelas. Anak-anak jadi tahu bahwa itu benar-benar boneka dan ada orang yang memainkan di belakang bonekanya. Membuat anak jadi tahu realitanya, bahwa itu Cuma mainan. Boleh kasih masukan ya? Kalau ada pentas lagi, tiketnya jangan mahal-mahal dong…… Kemarin agak kemahalan, sih.” (Siska uli, 27 tahun, Media Sastra.com)

“Iya, bagus…. Ceritanya menarik, orang dan sekaligus bonekanya jadi hidup. Artistiknya bagus, Cuma settingnya kurang gila. Misalnya, yang di kereta itu bisa lebih dimaksimalkan. Kalau digarap lebih serius pasti oke….. Masih kelihatan kurang digarap sih, settingnya.” (Daru, 28 tahun, kontributor Majalah Juice Jogja)

Advertisements

Oleh : Franz Surya*

Politik sebagai Inspirasi. Ayo Membaca Buku(ku)!

Hangatnya udara politik tahun 2009 membuat pertanyaan seputar Presiden semakin gayeng. Bagi yang agak hobi baca koran, baca buku-buku politik, atau nonton acara tivi yang berbau politik, pertanyaannya mungkin akan lebih beragam; misalnya bagaimana cara mempercayai calon presiden. Atau, bagaimana cara mempercayai kata-kata makelar calon presiden itu. Di tengah ramainya perbincangan tentang capres ini, Butet Kartaredjasa mementaskan Presiden Guyonan. Ada apa di balik pementasan ini?

Presiden Guyonan adalah judul buku karangan Butet Kartaredjasa, berisi kumpulan tulisannya dalam kolom mingguan di koran Suara Merdeka. Buku itu mengetengahkan tokoh sentral bernama Mas Celathu. Celathu kurang lebih memiliki makna sama dengan nylekop dalam bahasa Jawa, atau tukang komentar dalam bahasa Indonesia. Dari nama tokoh utamanya tersebut sudah bisa dibayangkan bahwa kisah-kisah yang tampil di dalam buku tersebut adalah segala ucapan, tindakan, sikap maupun gerak-gerik Mas Celathu terhadap masalah perpolitikan Indonesia. Terlebih perihal suksesi pucuk kepemimpinan nasional, Capres dan Cawapres.

Pada 27 Januari 2009 lalu Presiden Guyonan dibawa ke atas panggung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Ide Butet untuk mementaskan isi bukunya ke dalam pertunjukan teatrikal memang tepat. Bukan semata dalam kaitannya dengan strategi pemasaran tetapi terlebih dalam upayanya untuk mengajak masyarakat (terutama yang sudah hobi membaca) untuk setidaknya melakukan renungan atas situasi politik Indonesia kini. Sebuah ajakan yang tidak bertendensi untuk menyebarluaskan virus patah hati, bingung apalagi frustasi akibat terlampau serius memikirkan dinamika politik Indonesia yang isuk dhele sore tempe.

Pentas (dan) Parodi Politik

Pentas dimulai dengan sajian musikal yang renyah kemriuk dari Orkes Kroncong Sinten Remen. Duet Jadug Ferianto dan Dibyo Klomoh memberi introduksi dengan banyolan-banyolan empuk merangsang ledakan tawa penonton yang nyaris memenuhi ruang pertunjukan.

Menjelang pembacaan cuplikan kisah dari buku tersebut─masih dalam sajian Orkes Sinten Remen─ditampilkan sosok penyanyi Rap/Hip-Hop dalam bahasa Jawa. Sajian Rap/Hip-Hop Jawa ini menampilkan syair-syair plesetan yang mengaduk tawa seluruh penonton. Meski sesungguhnya tidak begitu jelas kaitan penampilan Rap/Hip-Hop Jawa itu dengan keseluruhan tujuan pentas tapi kehadirannya jelas menyegarkan.

Menuju selesainya Rap/Hip-Hop Jawa dari panggung dipanggillah pembaca kisah Mas Celathu yang pertama: Whani Darmawan. Dua judul kisah Mas Celathu dituturkan oleh Whani Darmawan diselingi gojegan kentut-kentutan dengan Jadug dan Dibyo Klomoh. Pembacaan Whani Darmawan ini cukup membuka referensi penonton akan karakter dari Mas Celathu selanjutnya.

Lepas pembacaan tahap pertama tampil dua pelawak Jogja yaitu Wisben dan Jonet Tipis. Keduanya ditampilkan sebagai parodi dua tokoh politik Indonesia yang juga akan meramaikan bursa pemilihan presiden bulan Juli mendatang. Wisben dipermak menuju penampilan Capres Prabowo Subianto sedangkan Jonet Tipis dikupas habis menjadi Capres Wiranto. Tentu saja nama yang dipakai oleh kedua pelawak tersebut juga diplesetkan. Wisben menggunakan nama Pragowok sedang Jonet Tipis memilih Wirangto. Tampil dalam durasi yang lumayan panjang, persaingan politik Pragowok dengan Wirangto mampu menciptakan ledakan serta gemuruh tawa seluruh penonton.

Duet Wisben dan Jonet Tipis sekaligus menjadi penyambung untuk pembacaan kisah Mas Celathu tahap kedua. Adapun sebagai pembaca kedua ditampilkan artis film dan pesinetron Happy Salma. Secara artistik teknis pembacaan Happy Salma sesungguhnya terbilang bagus, hanya saja karena banyaknya istilah-istilah berbahasa Jawa dalam kisah-kisah Mas Celathu membuat pelafalan Happy tidak sempurna.

Plesetan dan Monolog. Politik dan Pentas Seni

Di kisaran tiga perempat durasi total pentas baca buku ini hadir kembali Wisben dan Jonet Tipis. Sejurus kemudian banyolan mereka berdua diramaikan dengan tambahan hadirnya pelawak Gareng Rakasiwi yang tampil menjadi parodi Megawati. Plesetan atau parodi politik ini nampaknya memang diplot untuk mengalami klimaksi pada sesi ini.

Di sesi ketiga Butet Kertaredjasa sendiri tampil sebagai pembaca kisah. Jumlah kisah dibacakannya lebih banyak dibandingkan pembaca-pembaca sebelumnya. Tentu saja ini penting, karena pentas ini bukan semata ajakan kepada masyarakat untuk gemar membaca buku namun juga karena sebagai penulis, Butet adalah orang yang paling mengerti bagaimana dan seperti apa karakter Mas Celathu tersebut.

*****

Sebagai kisah tentang orang biasa, warga negara biasa yang bukan politisi, bukan pengamat politik dari universitas terkenal dan bukan sedang menjadi caleg, figur Mas Celathu digambarkan sebagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya. Sosok yang jadi girang ketika bicara masalah politik semenjak era reformasi; pribadi yang jadi punya waktu untuk ikut mikir perpolitikan Indonesia berkat serangan informasi media massa. Tapi sesungguhnya Mas Celathu adalah juga orang yang jadi bingung dengan situasi politik Indonesia sejak terjadinya era reformasi; pribadi yang nyaris stress dan frustasi karena dibanjiri simpang siur informasi politik oleh media massa. Lalu kalau demikian halnya, di manakah letak perbedaanya Mas Celathu dengan kita? Aahh… ini kan cuma sebuah upaya mewakili grenengan saja. Salam!!!

*Franz Surya adalah penyiar Radio Hilversum Madjapahit dan reporter Voice of Madjapahit

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

>> wawancara dengan para aktor, sutradara, dan ketua Teater Seriboe Djendela


Oleh: Hindra Setya Rini*

Pukul lima sore lewat sepuluh menit, di kantin kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, awak skAna berkesempatan bercengkrama bersama teman-teman dari Teater Seriboe Djendela (TSD). Kami, yang berjumlah lebih dari sepuluh orang, duduk melingkar di sebuah meja yang cukup besar. Kebetulan sore itu anggota TSD sedang bersiap untuk latihan. Mereka mempersiapkan sebuah pertunjukan teater yang akan dipentaskan dalam tiga bulan ke depan. Maka, dalam edisi kali ini skAnA tertarik mengintip proses latihannya yang sudah berlangsung 12 kali. Yuk, kita simak apa kata mereka tentang proses teaternya kali ini…

Bisa cerita ide awal proses TSD kali ini?

Donny (sutradara):

Ini idenya perihal tubuh. Ya lebih dekat ke pantomim. Berangkat dari novelnya Michael Ende yang berjudul Momo. Itu ceritanya tentang anak kecil yang nggak bisa menjadi dewasa dan tua. Ia tinggal di sebuah desa, di sebuah bekas reruntuhan Amphiteater. Setiap harinya ia diberi makan sama orang-orang desa. Orang-orang desa sering berkunjung ke tempatnya, duduk mengobrol, hingga rutinitas itu menjadi yang sekarang kita sebut zaman. Suatu ketika datanglah penjahat waktu. Ia meminta manusia untuk menabung waktunya. Sebenarnya dalam hal ini waktu itu dicuri. Nah, aku mengambil hal ini lalu kutabrakkan dengan konteks sekarang. Ya zaman modern ini kan orang-orang pada sibuk. Gitu sih, ceritanya.

Selama 12 kali latihan, yang sudah dilakukan apa saja dalam mewujudkan ide itu?

Donny:

Kita mengundang fasilitator dari luar, Mas Ari “Inyong” Dwiyanto untuk melatih teman-teman aktor. Kita latihan dasar-dasar mime. Ya, selama 12 kali latihan ini kita masih nggedor tubuh. Agak keras tekanannya di tubuh dibandingkan proses-proses sebelumnya.

Metode yang dipakai?

Donny:

Oh iya, selain itu, yang aku lakukan waktu latihan, aku mengambil kata-kata yang kira-kira berhubungan dengan tema. Aku sodorkan ke aktor, dan aktor mulai mewujudkannya di tubuh. Ini nggak pakai naskah. Jadi aku pegang temanya, lalu ngambil kata-kata yang mewakili tema itu, dan aktor merepresentasikannya ke tubuh. Di akhir, aku tinggal memunguti dan merangkainya jadi alur peristiwa. Untuk ini kan aku nggak bikin seluruh cerita Momo itu, aku cuma ngambil bagian orang-orang desa tak lagi mengunjungi Momo. Saat Momo sendiri. Nah kemungkinan gerak-gerak di momen itu yang coba diwujudkan.

Bagaimana kesan aktor-aktor selama 12 kali latihan ini?

Fred (Ketua TSD sekaligus aktor):

Mm, ya masih belajar basic mime, sih. Mengolah tubuh, rasa, imajinasi, dan konsepnya.

Via:

Masih belajar gimana cara jalan yang di pantomim-pantomim itu lho… Capek sih, tapi senang dapet pengalaman baru. Oh ya, pertama bingung mau gimana geraknya karena tubuhku belum lentur kayak yang lain.

Ardi:

Wah, pertama kaget. Soalnya latihan tubuhnya lebih berat dari proses sebelumnya. Loncat-loncat, dan latihan fisiknya lebih dari biasanya. Selama ini masih sering merasa kesulitan karena tubuh bagian bahuku itu masih kaku. Tapi, senangnya sih sekarang jadi dapat teman-teman baru. Sebelumnya kan prosesnya per kelompok, jadi nggak kenal banyak teman.

Helga:

Seperti yang lain aku juga jadi tambah pengalaman baru. Ya capek juga, kita pernah seharian latihan khusus fisik aja. Hm, tapi yang aku suka adalah gerakan yang kayak dance, gitu…

Ley:

Sangat menyenangkan, berat badanku bisa turun. Haha.. Jadi sehat. Selain pengalaman ya sekarang aku jadi lebih tahu perihal pantomime dan teater.

Yuli a.k.a Ogep:

Kaget. Dulu di awal masuk aja aku sempat sakit. Fisik nggak kuat, tenaga terkuras habis.

Iyut (Tim Produksi, yang sebelumnya juga aktor):

Senengnya banyak teman baru, capeknya ya ini kayak latihan ulang. Proses sama orang yang terus baru per tahunnya. Paling susah ngumpulin orang yang bisa bertahan lama meskipun nggak ada pentas. Biasalah, seleksi alam. Ini aja awalnya ada 50 anggota baru, yang bertahan tinggal 20an orang sekarang.

Ada treatment yang dianjurkan ke aktor-aktor baru ini, nggak?

Donny:

Iya, pasti. Mereka kuanjurkan nonton film, rajin ikut diskusi, observasi, dan banyak baca buku. Yang paling sulit itu baca buku. Dan sebagai sutradara, aku juga sudah terbiasa stress menghadapi anak-anak baru ini. Hehehe…

Oh ya, kebetulan fasilitator ada di sini, bisa cerita tentang latihannya, Mas?

Ari “Inyong”:

Saya sebenarnya juga berterima kasih dengan TSD, karena ini juga jadi tempat belajar saya. Ini juga baru buat saya, jadi saya mencoba merumuskan metode mime dan teater di sini. Ya seperti menyusun metode latihan dasar yang ada di mime dan yang pernah saya peroleh dari teater juga, begitu. Hmm, ya kesannya mereka jadi tempat percobaan saya, hahahaha…

Oke, ngomong-ngomong kapan sih rencana pentasnya?

Donny:

Bulan Mei tanggal 14-15.

Iyut & para aktor:

Itu pas ultahnya TSD, lho… Jadi ini sekalian memperingati satu dekade Teater Seriboe Djendela. Datang ya…

Anggota Teater Seriboe Djendela

Sekilas tentang Teater Seriboe Djendela…

Awalnya sebelum Teater Seriboe Djendela berdiri, pada tahun 1997 di Sanata Dharma didirikan semacam grup ketoprak bernama Sadar Budaya. Kemudian sekitar tahun 1998, entah bagaimana mulanya, Nano, Dudik, dan beberapa teman mendirikan teater kampus. yang kemudian diberi nama Teater Seriboe Djendela (TSD). Seriboe Djendela adalah semacam ikon Universitas Sanata Dharma yang memang bangunannya punya banyak sekali jendela, pada masa itu sampai sekarang.

Tahun ini telah genap satu dekade usia TSD dan sudah mengalami sepuluh kali regenerasi. Selain sedang mempersiapkan pentas satu dekadenya, TSD menjalankan program rutin berupa rapat keluarga (perekrutan dan pelantikan anggota baru), expo, dan pementasan minimal satu kali setahun.

Sekilas harapan para anggota untuk TSD…

TSD berharap ke depannya kampus Universitas Sanata Dharma punya auditorium sehingga mereka punya tempat latihan di kampus. Para anggota sendiri berharap bisa lebih maju dalam kualitas keaktorannya, produksi berjalan lancar, bisa dikenal di kancah perteateran, dan terus membuat karya.

Selamat buat Teater Seriboe Djendela, selamat ulang tahun yang ke sepuluh di bulan Mei, dan selamat berkarya. Tetap semangat! –awak skAnA.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Pesta Pencuri merupakan pementasan teater yang mengisahkan tiga pencuri jalanan─ Bonong, Cacing, dan Cengik─yang menghadiri pesta pencuri yang diadakan oleh keluarga Ayu Selintas, dedengkot pencuri. Sebenarnya mereka hendak mencuri harta keluarga tersebut, namun ternyata rumah itu sudah dipenuhi dengan tamu yang bertujuan sama dengan mereka.

Rupanya tuan rumah sudah membaca gelagat para tamunya, maka Ayu Selintas mengatur strategi untuk menjebak mereka dengan mengumpankan kekayaannya. Diam-diam ia memanggil polisi. Maka semua tamu yang berpredikat pencuri tersebut menjadi kalang kabut; ada yang tertangkap, ada yang melarikan diri, ada yang berhasil membawa kabur barang-barang tapi tak seberapa harganya. Para polisi sibuk menangkapi para pencuri, sementara harta kekayaan Ayu Selintas─yang juga hasil curian─terselamatkan.

Aktor Menggambar Panggung

Cerita yang ditulis pada tahun 1938 tersebut digarap dalam bentuk teater nonrealis oleh Zainuri, sutradara Bengkel Muda Surabaya. Bentuk artistik panggung sangatlah sederhana; panggung berlatar dan beralaskan kain hitam, sebuah level berada di tengah panggung, dan tiga pigura kotak menggantung di atasnya. Setting panggung terlihat fokus di dalam ruangan luas yang merupakan galeri pameran seni rupa itu─tepatnya di lantai dua Sangkring Art Space.

Permainan aktor terlihat dinamis. Aktor mengeksplorasi ruang dengan gerak tubuh yang bermacam bentuknya: gerak rampak, slow motion, dan gerak patah. Permainan  dibangun dengan irama gerak yang cepat, dialog antar aktor juga terucap dengan cepat, bahkan kadang tak tertangkap apa yang terucap. Pelisanan lebih ternikmati sebagai musik daripada dialog yang membangun alur cerita. Dalam hal ini, aktor membangun atmosfer pertunjukan menjadi sebuah peristiwa panggung yang kaya; aktor tak sekadar menjadi komunikator teks, namun aktor dapat merepresentasikan dirinya sebagai setting, properti, dan musik.

Penonton disuguhi lintasan-lintasan peristiwa dalam alur non linier. Lintasan peristiwa itu hadir dalam fragmen-fragmen adegan yang acak dan dipenuhi koreografi gerak. Hal itu terlihat dalam adegan bertemunya para pencuri untuk memamerkan hasil curiannya, percakapan ayah dan anak yang berprofesi sebagai pencuri, ketegangan antar pencuri, dan konflik keluarga Ayu Selintas. Komunikasi aktor dengan penonton tidak semata terbangun lewat komunikasi verbal, tetapi juga lewat gestur dan gerak tubuh. Setiap adegan berhasil membuat penonton terkesima, tertawa geli, dan bertanya-tanya. Dalam pertunjukan tersebut, aktor sedang menggambar panggung dengan sumber daya keaktorannya.

Selama pertunjukan berlangsung, aktor bermain dengan stamina yang prima dan sesuai dengan karakter peran masing-masing. Rentang usia para aktor yang jauh berbeda (17-62 tahun) tidak membuat permainan menjadi tak seimbang. Energi aktor seperti tak ada surutnya dalam permainan  yang didominasi oleh gerak tubuh itu.

***

“Pengumuman-pengumuman…! Malam ini akan diselenggarakan Pesta Pencuri!! Acara akan diresmikan oleh presiden, wakil presiden, gubernur, walikota, bupati, konglomerat, intelektual, dan mahasiswa.” Seorang aktor yang mengenakan sarung, berseragam Korpri, dan berpeci, berteriak sambil melemparkan satu persatu map proposal ke depan panggung pertunjukan, ke segala arah.

Adegan tersebut menjadi akhir dari pementasan Pesta Pencuri sekaligus menjadi penutup yang mengejutkan ketika peresmian acara pesta diletakkan pada adegan akhir. Yap, sebentar lagi pesta pencuri yang sesungguhnya akan dimulai. Pesta yang penuh dengan strategi yang licik, dan culas!

Pesta Pencuri dan Sangkring Art Space

Lakon Pesta Pencuri ini diterjemahkan dari Le Bal des Voleurs karya Jean Anouilh (sastrawan dan dramawan Prancis) oleh Asrul Sani (Pustaka Jaya 1986). Pesta Pencuri dipentaskan pada tanggal 15 November 2008, di Sangkring Art Space, desa Nitiprayan No.88 RT 1/RW 2 Ngestiharjo, Kasihan-Bantul, Yogyakarta. Pertunjukan tersebut berdurasi satu setengah jam dan dihadiri kurang lebih 100 penonton.

Pementasan Pesta Pencuri adalah pementasan teater pertama yang digelar di Sangkring Art Space, tempat yang biasanya berfungsi sebagai ruang pameran lukisan, patung, instalasi, dan fotografi. Sangkring Art Space membuka ruang bagi seni pertunjukan seperti teater, tari, dan fashion show. “Kami menyediakan fasilitas berupa tempat pementasan, publikasi, dan ruang istirahat bagi kelompok seni pertunjukan baik dari dalam maupun luar kota,” kata Putu Sutawijaya pemilik Sangkring Art Space.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 09, Maret – Juli 2009)

*****

Tim Kerja Pesta Pencuri

Sutradara: Zainuri Astrada: Dedi ‘Obeng’ Supriadi Artistik: Saiful Hadjar Pemain: Saiful Hadjar, M. Ipung Syaiful Arif, Mastohir, Taufik Sholekhudin Sofjan, Novi Arista Koesworo, Ida Ayu ‘Gek’ Kade Ari Trisnawati, Sesilia Menuk Wijayanti, Amar Marjangkung, Hanif Nasrullah Pimpinan Produksi: Hanif Nasrullah

Komentar Penonton

Bagus. Seneng, teater sepertinya mati suri ya. Jadi kita juga mencoba terbuka saja untuk berbagi ruang meski dengan persiapan yang singkat. (Putu Sutawijaya, perupa dan pemilik  Sangkring Art Space)

Baru kali ini lho ada pementasan di galeri..tentang pementasan ini..dibilang bagus juga gimana…? Tapi eksplorasinya ternikmati. (Ale, ISI, jurusan teater semester 9, usia 25)

Menarik, untuk garapan sekarang ini banyak idiom-idiom yang tidak klise karena ada sentuhan lain, tapi kalau saya, seandainya saya orang Surabaya, saya garap model Surabaya-an. Ini cukup menarik karena pemain banyak dan terampil. Dengan kostum gaya semacam tadi sentuhannya akan lebih deket…Nah, untuk teater di Jogja harus lebih menggali lagi. (Jujuk Prabowo, sutradara Teater Gandrik)

Bagus, banyak kritik sosialnya, dan saya tertarik dengan kritikan-kritikannya. (Tyas, pegawai STSI Solo, Jawa tengah, usia 27 tahun)

Untuk pertunjukan ini bagus ketika beberapa adegan tertentu…kata-kata yang paling saya suka adalah kesetiaan adalah bakat alam yang tidak dapat dilatih..dan kejujuran adalah cara untuk menikmati dunia ini. (Fifi,  aktor Teater Gajah Mada)

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Aktor-aktor itu duduk di kursinya masing-masing. Mereka berjajar di bawah bangunan yang terbuat dari bambu dan kayu, dengan atap yang memanjang. Mereka seperti berada di dalam rumah yang mempunyai kamar untuk masing-masing tokoh. Di depan kursi ada lampu yang dinyalakan dengan saklar tali yang terulur ke bawah. Aktor-aktor itu bergantian bangkit dari kursi, berdiri menyalakan lampu dan mengucapkan narasi tentang asal-usul pertentangan antara keluarga Pandawa dan Kurawa.

Itu adalah adegan awal Mahabarockta…Dream (Versi Semau Gue) yang dipentaskan oleh kelompok Teater Sekrup dengan sutradara Alex Suhendra dari Ganxter of Stage. Pementasan digelar pada 23-24 Januari 2009 di lapangan badminton, sebuah ruang terbuka di antara gedung perkuliahan FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

Rumah untuk para aktor ini sendiri dibagi dua, di sisi samping penonton duduk keluarga Kurawa, sementara di sisi yang menghadap penonton duduk keluarga Pandawa. Di sudut yang mempertemukan dua bangunan itu terletak kursi untuk Ibu-Ibu dan Guru mereka, yang terkadang berganti peran menjadi Ayah dari Pandawa dan Kurawa.

Sejak awal kita dihadapkan pada Mahabharata yang lain, berbeda dengan Mahabharata yang selama ini kita kenal. Kali ini anak-anak Pandawa dan Kurawa pergi ke sekolah, memakai kaos dan celana pendek ketika jam pelajaran olahraga, serta mengikuti ujian matematika. Tokoh-tokoh yang dalam pertunjukan wayang diiringi gamelan dan lagu Jawa, kali ini dalam koor sendu berbahasa Indonesia menyanyikan lagu yang diciptakan sendiri oleh Alex Suhendra. Seluruh dialog juga menggunakan Bahasa Indonesia. Kita bisa membayangkan kisah Mahabharata ini berlangsung di sebuah sekolah menengah, di masa sekarang.

Pertentangan antara Kurawa dan Pandawa tetap dipertahankan, namun kali ini mereka digambarkan sebagai dua geng yang berseteru di sekolah. Geng keluarga Pandawa adalah anak-anak ganteng yang dikenal sombong tapi mereka mahir bermain basket, terutama Arjuna. Sementara Geng Kurawa digambarkan bodoh, buruk rupa, dan kasar, apalagi bila sampai pada pertandingan basket melawan Pandawa. Duryudana, pemimpin Kurawa, akan marah besar melihat adik-adiknya dipermainkan oleh Pandawa.

Sebagaimana remaja pria pada umumnya, gadis-gadis satu sekolah adalah lahan perebutan kekuasaan bagi kedua geng tersebut. Banowati, gadis tercantik di sekolah diperebutkan oleh Arjuna dari pihak Pandawa  dan Duryudana dari pihak Kurawa.

Duryudana melamar Banowati dan keluarganya telah menerima lamaran Duryudana. Sementara Banowati sendiri ternyata menyimpan cinta untuk Arjuna. Banowati yang resah, naik sepeda berputar-putar mengelilingi penonton sambil bernyanyi. Salah seorang adik Duryudana berlari mengejar (entah kenapa ia selalu ketinggalan padahal Banowati tak pernah memacu sepedanya), berusaha mengajaknya berbicara. Tapi selalu saja ketika hendak bicara ia kena tampar Banowati. Akhirnya Banowati menikah juga dengan Duryudana─ia diculik dari rumahnya lalu dinikahkan secara paksa oleh Keluarga Kurawa. Sementara Arjuna yang patah hati dengan cepat mendapat gantinya, seorang gadis yang sengaja ditabraknya dengan sepeda agar bisa diajak berkenalan: Drupadi.

Babak berikutnya mengisahkan Drupadi menggelar sayembara untuk mencari suami. Keluarga Pandawa dan Kurawa mengikuti sayembara tersebut. Yudistira dari Pandawa meminta bantuan adik-adiknya, sementara keluarga Kurawa tidak mau ketinggalan juga mengirimkan wakil-wakilnya. Maka persaingan kembali terjadi di dalam sayembara yang ditampilkan bagai parodi kuis yang biasa kita lihat di layar televisi. Seorang pembawa acara memanggil para kontestan untuk mengangkat bas elektrik. Bergantian para kontestan mencoba, sampai pada giliran Arjuna yang berhasil mengangkatnya. Tapi karena Arjuna mewakili Yudhistira, maka Drupadi sebagai hadiah menjadi hak sang kakak. Drupadi yang kecewa pada Arjuna pergi dari arena sayembara, menutup pertunjukan malam itu.

Kelompok Sekrup dan Alex Suhendra berusaha untuk mendekatkan epik klasik Mahabharata pada kehidupan remaja di masa kini. Mungkin karena pilihan itu, adegan-adegan dalam Mahabharockta sekilas nampak seperti adegan-adegan sinetron remaja. Mahabarockta pada akhirnya menunjukkan karakter remaja masa kini yang “semau gue, siapa juga yang peduli”. Begitu yang ditulis Alex Suhendra dalam buku pertunjukan.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

*****

Kerabat Kerja

Sutradara Alex Suhendra/ Aktor Elmadha Pitra Negara, Agustin Pandhuniwati Heryani, Intan Widya Kusuma, Sunardin, Hanif S. Muhtar, Irsan Jaya Alkatiri, Dwi Indarti, Shony Tegar Kesuma Putri, Tutut Nurhayati, Anggit Riyanto, Arfan A. Ridhodin, Rizalul Fiqry, Nono Kiswanto Hi Jamid, Agung Wahyudi, Een Yulianti, Yeri Eka Prihandini, Muchammad Muadib./ Pimpinan produksi Anggit Riyanto/  Asisten produksi Astrit Amretasari, Agustin Panduniawati H

Oleh: Mohamad Nur Qomaruddin*

Sebuah drum digantung di sisi kiri panggung, layar putih terbentang di bagian belakang panggung, dan terdengar percakapan tentara yang berkomunikasi lewat radio transmisi. Beberapa saat kemudian seseorang dengan tubuh berbalut perban muncul, berjalan melewati penonton. Sekujur tubuh dan rambutnya dicat putih. Kakinya beralaskan bakiak. Ia berjalan pelan, sesekali memperhatikan penonton, lalu mengangkat salah satu kaki, diarahkan ke penonton. Ia melepas sepatu beberapa penonton, lalu dibawa menuju panggung. Perlahan ia berjalan ke arah sisi  kiri depan panggung, menuju drum yang telah dipotong bagian tengahnya─terbagi menjadi dua. Lalu ia masuk ke dalam drum. Cahaya lampu dan suara-suara perlahan fade out. Di layar muncul video tentara Amerika bersenda gurau saat mengawasi sebuah mobil yang hendak mereka tembak dari udara, juga beberapa slide foto-foto korban perang.

Lampu menyala menyoroti drum yang dipukul-pukul keras dari dalam. Lalu seseorang itu keluar dengan kepala terbungkus kerudung transparan berwarna merah. Kemudian ia duduk di dekat drum, dan memukul drum hingga potongan bagian atas berayun ke segala arah. Tubuhnya pun bergerak mengikuti gerak drum, terkadang menghindar jika drum akan mengenai kepalanya. Kemudian ia mengambil bagian bawah drum, diangkatnya di atas kepala, lalu berjalan  ke arah belakang panggung. Ditaruhnya potongan drum itu di bagian tengah panggung. Beberapa kali ia mengangkat dan menjatuhkan potongan drum itu ke lantai, sehingga menimbulkan bunyi ledakan yang mengagetkan.

Ia melakukan head stand di atas potongan drum, sementara pada layar video burung-burung terbang bertabrakan dengan siluet tubuhnya. Di atas drum itu ia melakukan beberapa gerakan, menggeliat dan terkadang berpose. Sebentar kemudian ia  kembali berjalan ke arah penonton mengambil beberapa sepatu dari penonton, mencoba, dan mematut-matutnya. Ia memilih sepatu kulit berwarna hitam untuk dipakai, lalu kembali berjalan ke arah drum yang berada di tengah panggung. Ia berdiri di atasnya, melepas sepatunya dan kembali menggeliat di atas drum itu.

Kemudian ia mengenakan baju kebaya dan mengambil sebuah helm tentara. Video kembali menyala, dan kali ini gambar bendera Israel berkibar. Ia memberi hormat ala Hitler. Setelahnya, perlahan ia mengamati helm, menyentuh, menginjak, dan bergerak merespon helm itu. Ia berjalan kembali ke arah drum yang tergantung, masuk ke dalamnya, menggeliat, lalu diam.

Adegan-adegan di atas dimainkan oleh Tony Broer dalam pertunjukan teater tubuh berjudul Tubuh Sepatu Kulit, di Studio Teater Garasi pada tanggal 7 Februari 2009. Malam itu 250 penonton berdesakan, bahkan banyak yang rela berdiri karena tak mendapatkan tempat duduk. Pertunjukan yang berlangsung sekitar satu jam itu tak membuat penonton beranjak pergi.

Eksplorasi tubuh dalam pertunjukan ini berangkat dari spirit butoh dan metode Gekidan Kaitasha (sebuah kelompok teater tubuh dari Jepang). Imaji tubuh berjalan, tubuh mencari, tubuh masa lalu, tubuh sepatu kulit, tubuh waspada, tubuh api, tubuh protes, tubuh penonton, dan tubuh kupu-kupu; begitulah Tony menyusun fragmen pertunjukannya. Ia bergerak dengan stamina yang konstan dan stabil, tanpa menggunakan bahasa verbal sama sekali. Batas ruang antara penonton dan penyaji kadang ditabraknya, sesekali ia mengajak penonton berinteraksi.

Tony Broer menggunakan tubuh, video, cahaya, properti, dan musik untuk mengartikulasikan perang. Perang antara yang kalah dan yang menang, antara kehidupan dan kematian, demi sebuah kebenaran. Perang yang tak menakutkan lagi dalam bingkai layar televisi, yang dengan enak ditonton sembari makan bersama keluarga. Pada catatannya dalam booklet pertunjukan, ia mencoba untuk tidak menunjuk siapa yang salah atau benar. Baik di pihak menang maupun kalah, dalam perang yang menjadi korban adalah masyarakat sipil, terutama wanita dan anak-anak.

Tahun 2007 Tony Broer pernah menyutradarai dan bermain teater dengan tema yang sama, bersama mahasiwa STSI Bandung. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini ia bermain sendiri. Setelah pertunjukan usai, sempat diadakan diskusi. Ia menjelaskan bahwa penonton bebas memaknai apa yang ia sajikan. ”Anda baru diambil sepatunya, mereka di Palestina sana diambil nyawanya,” begitu Tony menjawab kenapa ia mengambil sepatu penonton.

Pertunjukan teater tubuh menuntut penonton untuk mencermati, meneliti, mengkait-kaitkan hal-hal yang tersaji di panggung. Akan tetapi, kadang kita cukup menikmati dengan rileks untuk menemukan dan memungut impresi atau lebih jauhnya maksud dari pertunjukan.

* Mohamad Nur Qomaruddin, aktor Teater Tangga, alumni Aktor Studio 2006

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)


*****

Tentang Tony Broer

Ia lahir di Jakarta 43 tahun yang lalu, bergabung dengan Teater Payung Hitam sejak 1988. Tahun 1991 Tony menyelesaikan studi D3 Keaktoran di ASTI Bandung.  Pada  tahun 2001 ia lulus S1 bidang Penyutradaraan di STSI Bandung dan sejak tahun 2005 mengajar dasar olah tubuh di sana. Sekarang ia sedang menyelesaikan studi S2 di Pasca Sarjana ISI Yogyakarta bidang Penciptaan Teater.

Sejak tahun 1997 Tony telah bekerjasama dengan berbagai kolompok seni dari luar negeri baik sebagai aktor maupun fasilitator workshop. Tahun 2002-2003 ia pernah mendapatkan beasiswa untuk belajar di Jepang. Ia belajar Noh dari Shimada Sensei dan butoh Yoshito Sensei (anak Kazuo Ohno).

Tim Kerja

Manajer Produksi: Nokiro Kumoro/ Penata Artistik: Eko Sulkan/ Penata Lampu: Yadi Mulyadi/ Penata kostum & Make Up: Dhani Brain/ Audio Visual: Indra Ardiyanto/ Stage Manajer: Bahrul Ulum/ Stage Crew: Andika UPN, Jamal Abdul Naseer

Komentar Penonton

Stamina aktornya sangat bagus, dalam pertunjukan semacam ini, sepertinya butuh kejutan-kejutan yang membuat penonton tidak bosan mengikuti keseluruhan pertunjukan. (Totok, dari teater SUA)

Meskipun ada bantuan video, kostum, dan properti, tapi terkadang saya masih bingung dengan gerakan-gerakan tubuhnya, dan nggak semuanya dapat ditangkap maksudnya. (Brekele, Mahasiswa HI UMY, Aktif di Teater Tangga)

Gerakannya bagus-bagus, tapi aku nggak sepenuhnya ngerti. (Agung Supriyanto, Fotografer)

Rasanya saya seperti sedang demonstrasi di jalan, dan melihat Happening Art. (Ari ”Inyong” Dwianto, Sutradara Bengkel Mime Theatre)

Oleh: Dhinar Aryo Wicaksono*

Peranku adalah Suparto, seorang pelancong yang tersesat di sebuah kota. Ini debut pertamaku bermain teater. Ia adalah seorang tokoh dalam pertunjukan berjudul “Celah, Perjalanan Seorang Pelancong” produksi Teater Tangga. Pertunjukan ini dimainkan di tiga kota yaitu Semarang, Solo, dan Jogja pada bulan November 2008 lalu. Aku belum mengenal teater sebelumnya, entah karena dorongan apa dan dari siapa, aku mengikuti proses ini dari awal penggarapan hingga pementasan berlangsung.

Bermain teater itu ternyata membuat nervous, grogi, kaku, dan banyak perasaan sensasional lain saat menghadapi penonton. Campur aduk.

Proses produksi “Celah, Perjalanan Seorang Pelancong” dimulai dari bulan Februari 2008, berangkat dari keinginan teman-teman untuk membuat sebuah pementasan. Pada awalnya dipilih naskah “Senja Dengan Dua Kelelawar” karya Kirdjomulyo. Akan tetapi di tengah proses penggarapan yaitu saat pembahasan naskah, kami merasa tidak sreg pada bahasa naskahnya yang agak kaku (meskipun sutradara membebaskan cara kami mengucapkan teksnya). Akhirnya kami memutuskan untuk mengganti naskah. Selain itu, beberapa aktor mengundurkan diri sehingga kami kekurangan pemain.

Penggantian naskah tidak serta merta membuat kami meninggalkan naskah lama. Sebelum diputuskan untuk membuat naskah baru, sutradara—M. Qomaruddin—mewajibkan para aktor untuk melakukan pengamatan di stasiun berdasar karakter tokoh-tokoh dalam naskah “Senja Dengan Dua Kelalawar”. Hasil pengamatan itu kemudian dituliskan atau diceritakan dalam bentuk monolog. Pada awalnya aku sempat bingung dalam melakukan pengamatan, tapi kulakukan saja tanpa banyak berpikir. Tidak hanya ke stasiun, kami juga sempat pergi ke pasar. Dengan bekal pengetahuan yang sedikit, kucoba menuliskannya. Lewat beberapa kali pengamatan dan diskusi yang membingungkan, akhirnya aku berhasil menuliskan ceritaku.

Setelah semua tulisan terkumpul, kami menunjuk empat orang untuk menjadi tim naskah yang bertugas merangkai monolog-monolog itu menjadi sebuah naskah ensamble. Mereka adalah Nur ”Brek” Kholis, Septian, M Reza, Rifqi MM. Melalui diskusi dan perdebatan selama satu setengah minggu, akhirnya naskah selesai dikerjakan meski masih mengalami proses pengeditan.

Casting kembali dilakukan. Pada saat presentasi awal—yang dilakukan sambil berbuka puasa bersama di Kampus UMY—satu orang aktor mengundurkan diri sehingga naskah tidak bisa dipentaskan secara utuh. Aku merasa ada yang kurang optimal dalam permainan karena persiapan yang kurang matang. Aku belum merasa puas.

Sehabis lebaran, kami kembali berkumpul. Kami menambah beberapa pemain dan kru artistik. Pemain bertambah menjadi duabelas orang, delapan laki-laki dan empat perempuan. Rasanya seperti mulai dari awal lagi. Pada awal pertemuan seluruh tim, sutradara kembali mencoba menjelaskan konsep dan cerita yang ada dalam naskah. Kemudian jadwal latihan mulai dibicarakan. Latihan dibagi menjadi dua sesi: sore dan malam. Sore untuk latihan dasar, malamnya berlatih akting dan baca naskah. Masuknya pemain baru ternyata merubah irama permainan, kami harus beradaptasi lagi dengan mereka. Ini bukan perkara mudah, apalagi adegan sering berubah-ubah, menjadi agak sulit mengingatnya.

Hari berganti hari seiring dengan lika-liku proses kreatif kami. Hari H pementasan pun sudah mulai dekat, tapi beberapa hal teknis pertunjukan belum selesai. Semua yang terlibat proses sudah mulai menyibukkan diri dengan kerja masing-masing. Detik-detik menegangkan akan datang. Pementasan segera dimulai.

Perjalanan mengenali Proses ber-Teater

Yang Membosankan

Pada minggu-minggu awal bergabung di Teater Tangga, aku dan teman-teman menjalani latihan rutin: olah tubuh, vokal, rasa, dan lain sebagainya. Terkadang kami hanya diskusi ngalor ngidul, atau menonton pementasan kelompok lain, tapi kami lebih sering latihan. Meskipun telah ditegaskan berulang-ulang bahwa latihan adalah bagian dari proses, tapi hal itu sering membuatku bosan dan nggak semangat. Ditambah lagi ketika mulai ada naskah, kami harus membaca, menghafal, dan berdiskusi. Sungguh sangat melelahkan. Ketidakhadiran salah satu pemain juga membuat latihan jadi kurang bersemangat. Awal yang membingungkan, aku belum tahu apa yang musti aku lakukan. Akhirnya aku hanya mengikuti ke mana air mengalir.

Yang Mengasyikkan

Meskipun hanya empat orang pemain—ditemani sutradara, penata kostum, dan penata artistik—kami mengawali penjelajahan ke stasiun. Siang itu hujan, kami berangkat dari sanggar naik bus menuju Malioboro. Tempat awal yang kami tuju adalah pasar Beringharjo. Agak lama kami berada di sana hingga hujan tinggal gerimis saja. Sebelumnya aku tak pernah benar-benar mengamati orang-orang di sana. Ini menyenangkan, selain refreshing aku juga dapat pengalaman baru. Perjalanan dilanjutkan ke stasiun Tugu hingga petang dan akhirnya kami pulang.

Setelah pengamatan bersama, kami mendiskusikan hasil amatan, dan menyimpulkan apa saja yang kami temui. Beberapa hari kemudian kami masih menyempatkan diri beberapa kali pergi ke stasiun Lempuyangan dan Tugu, bersama semua pemain. Terkadang kami pergi ke stasiun sendiri-sendiri, siang atau malam Aku sempat beberapa kali ngobrol dengan orang-orang yang ada di sana, untuk mencari hal-hal yang berkaitan dengan peranku. Selain observasi langsung, kami juga beberapa kali menonton film untuk menambah referensi.

Kami kembali berlatih, beberapa kali masih sempat kembali ke kedua stasiun itu. Hingga, pentas pertama (presentasi awal) pun digelar.

Pentas Bagian Kedua

Bergabungnya pemain-pemain baru membuatku semakin bersemangat, sekaligus membuatku bingung berinteraksi dengan permainan. Aku pun sering menemukan kebuntuan saat latihan. Meskipun beberapa kali kami menggunakan metode latihan improvisasi, tapi belum juga  merasa pas dalam bermain. Suasana permainan menjadi semakin tidak karuan. Lalu kami memutuskan untuk kembali ke lapangan untuk kembali melakukan pengamatan.

Beberapa minggu sebelum pementasan, kami melakukan latihan di stasiun. Awalnya di stasiun Tugu. Ketika babak pertama baru berjalan beberapa menit, seorang teman yang berperan sebagai orang gila ditangkap satpam. Dan di akhir babak itu, beberapa orang satpam berlari ke arah kami yang sedang melakukan adegan pertengkaran. Akhirnya kami pun diusir, lalu pergi ke stasiun Lempuyangan. Di sana kondisinya tak jauh berbeda dan tidak memungkinkan kami untuk melakukan latihan. Akhirnya kami pulang.

Dari latihan di stasiun, juga percakapan dengan orang-orang yang ada di sana, kebingunganku dalam bermain selama ini sedikit terjelaskan. Ada suasana yang berbeda di sana. Suasana yang seharusnya kuhadirkan di atas panggung. Selain itu aku jadi punya pengalaman menulis. Barangkali aku tak akan menuliskan ceritaku jika aku tidak duduk dan ngobrol dengan orang-orang di stasiun.

Hasilnya

Adalah sebuah cerita tentang kehidupan orang-orang jaman sekarang. Mereka selalu memikirkan keuntungan dirinya sendiri tanpa melihat keadaan sekitar. Aku berperan sebagai orang desa yang sedang jalan-jalan ke kota, dan terjebak dalam sebuah situasi yang mengantarkannya pada peristiwa-peristiwa aneh yang belum pernah ia ditemui sebelumnya.

Di Semarang kami pentas di dua tempat dan mendapat respon yang berbeda, ada yang senang dan ada yang tidak. Begitu pula di Solo dan Jogja. Tapi mungkin begitulah kesenian, relatif. Pertemuan dengan penonton juga memberi pengaruh dalam permainan −dalam setiap pertunjukan rasanya selalu beda.

Kami masing-masing (di Teater Tangga) punya latar belakang yang berbeda, dan mencoba berinteraksi dalam sebuah tujuan yaitu menjalani proses kreatif dalam teater.

Akhir kata, dalam “Celah, Perjalanan Seorang Pelancong” banyak hal yang aku rasakan. Dari bosen, males, reading yang menjengkelkan, hingga badan pegal-pegal. Tapi beberapa point dalam pengalamanku bermain teater telah kutandai. Mengalami atau setidaknya berada dalam suasana stasiun membuatku sedikit tahu tentang bagaimana harus bermain dalam peranku, meskipun kurang sempurna. Yah, karena sempurna hanya milik Tuhan semata.

* Dhinar Aryo Wicaksono (aktor & ketua Teater Tangga 2008/2010)

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

Next Page »