Oleh: Hindra Setya Rini*

Dua boneka dengan warna mencolok melintas di keramaian penonton, di lobi Gedung Sosietet Militer, Taman Budaya Yogyakarta. Itulah peristiwa pertama yang dibangun oleh Papermoon Puppet Theatre di pertunjukannya kali ini, Dalam Sebuah Perjalanan (on a Journey) pada 5 Desember 2008.

Kedua boneka itu digerakkan oleh dua pemuda berpakaian hitam-hitam di belakangnya. Beberapa anak kecil dan remaja menghampiri boneka-boneka itu untuk mengambil permen dan makanan ringan yang ada di bagian perutnya. Semua yang ada di sana boleh diambil sesuka hati dan gratis.

Tak lama kemudian, boneka bertopi yang bentuknya agak bulat dan pendek, menyeruak di keramaian penonton. Pakaiannya kumal seperti gembel, ia menadahkan kantung kepada penonton untuk bersedekah. Seperti dua boneka sebelumnya, ia juga berkeliling dan menghampiri para penonton.

Pukul 20.00 WIB, penonton masuk ke dalam gedung pertunjukan. Gedung berkapasitas sekitar 350 kursi tersebut dipadati penonton. Sekitar lima belas menit penonton masih menunggu di tempat. Ketiga boneka tersebut turut masuk ke ruang penonton. Tak lama kemudian sebuah boneka kuda ditunggangi oleh seseorang yang berpakaian ala koboi melintas di depan penonton. Terdengar back sound langkah sepatu kuda beserta ringkikannya menggema memenuhi ruangan. Kuda mondar-mandir sebentar sebelum meninggalkan ruangan dan menghilang ke arah belakang penonton.

Lampu di panggung menyala. Cerita berawal di kediaman seorang lelaki, ia menangis sesenggukan. Ia adalah John, laki-laki yang murung setelah ditinggal kekasihnya untuk selamanya. Sebenarnya ia sudah merencanakan sebuah perjalanan bersama kekasihnya. Bahkan tiket sudah dia genggam. Ia memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan itu─berharap bisa menghilangkan dukanya. Tak lupa ia membawa syal ungu, kenang-kenangan dari sang kekasih saat jumpa pertama. John sempat terkenang masa-masa pertemuan, dan dengan berat hati ia meninggalkan rumah sambil tersedu. Ia menuju stasiun kereta api.

Di tempat lain, Yolanda, seorang ibu muda yang sangat bahagia, tak sabar untuk segera pergi dari kota untuk mengunjungi suami tercinta. Sang suami adalah seorang polisi yang bekerja di luar kota. Dengan kostum kuning menyala, ia tampak ceria, berjalan sambil bersenandung. Geraknya lincah meskipun ia sedang hamil tua. Yolanda pergi meninggalkan kediamannya menuju stasiun kereta bersama anjing kesayangannya, Ola.

Sebelum akhirnya John dan Yolanda bertemu dalam satu gerbong kereta yang sama, keduanya sama-sama bertemu dengan orang-orang yang punya ceritanya masing-masing. Pertemuan-pertemuan yang menjadi warna di sepanjang perjalanan mereka. Mereka adalah pedagang asongan, pengamen, pengemis atau gembel, sepasang kakek-nenek, dan seorang ibu dengan bayinya.

Di dalam kereta itulah semua orang dengan karakternya masing masing saling bertemu. Peristiwa atau adegan yang terjadi sering kali membuat penonton tertawa. Contohnya saat si bayi menangis dan menggigit jari nenek yang berusaha membujuknya untuk diam, dan John-lah satu-satunya orang yang berhasil membuat si bayi tertawa. Belum lagi tingkah laku nenek yang super cerewet dan galak. Si nenek selalu bertindak kasar terhadap kakek. Intinya si kakek harus melakukan apa yang diperintahkan si nenek. Beberapa kali adegan tersebut membuat penonton tergelak.

Cerita bergulir hingga pada adegan gendam yang dilakukan oleh ibu yang membawa bayi terhadap seluruh penumpang. Dengan lagu nina bobo yang dinyanyikannya, seluruh penumpang tertidur lelap dan tanpa disadari barang/tas bawaan mereka lenyap. Semua penumpang baru tersadar ketika Yolanda merasa anjingnya telah hilang. Suasana dalam kereta berubah riuh. Masing-masing orang saling curiga. Akhirnya, penyelidikan pun dilakukan oleh pengemis yang ternyata ahli melacak kejahatan layaknya detektif.

Pada akhir cerita, penjahat berhasil ditemukan. Namun tiba-tiba Yolanda merasa kesakitan, sudah saatnya untuk melahirkan.  Ia terpaksa melahirkan di tempat itu, saat itu juga. Di stasiun kereta. Kembali riuh rendah terjadi saat para penumpang berusaha membantu Yolanda melahirkan. Tak satu pun dari mereka yang paham perihal persalinan. Berbagai alat dikeluarkan seperti gergaji, kapak, dsb, membuat penonton tertawa. Saat si anak lahir, spontan penonton kembali tergelak melihat sang bayi terlahir sebagai seorang bayi penunggang kuda─lengkap dengan kudanya. Si bayi membawa ingatan penonton pada seorang penunggang kuda yang melintas di awal cerita. Ternyata si Koboi itu adalah suami Yolanda. Tak disangka oleh Yolanda, dia bertemu dengan sang Suami pada saat persalinan, di stasiun kereta itu.

Cerita berakhir bahagia. Seluruh penumpang bahagia, dan penjahat pun dimaafkan karena ia telah memberikan hadiah kepada bayi Yolanda yang baru lahir. Cerita ditutup dengan foto bersama. Seluruh penumpang kereta berpose untuk mengabadikan momen kebersamaan dan kebahagian tersebut. Klik. Lampu kilat kamera bersinar, lampu di atas panggung padam, pertunjukan selesai.

Pertunjukan yang berdurasi sekitar satu setengah jam ini menarik bagi penonton karena permainan bonekanya yang benar-benar terasa hidup. Meski para aktor yang memainkan boneka jelas terlihat di belakangnya, hal tersebut nampaknya tidak mengganggu penonton. Sampai pertunjukan selesai tak ada penonton yang beranjak dari kursinya. Selain itu, bentuk bonekanya sendiri juga menarik—boneka seukuran manusia dengan desain unik—terutama bagi anak-anak dan remaja. Warna-warna cerah yang dipakai pada kostum serta setting ruang yaitu kuning, merah, cokelat, dan hijau, nampak segar di mata.

Salah satu strategi yang cukup menarik adalah digunakannya bahasa Gibberish dalam pertunjukan ini. Gibberish merupakan kata-kata yang bunyinya secara harafiah tak mengandung arti sama sekali. Mengingat terlibatnya kolaborator yang tidak berbahasa Indonesia dalam pertunjukan ini, penggunaan bahasa Gibberish adalah pilihan paling tepat. Bagi penonton sendiri, penggunaan bahasa ini mudah dimengerti karena aktor juga menggunakan gerak tubuh untuk menjelaskan maksudnya. Hampir sama dengan “Bahasa Tarzan”, demikian orang-orang kadang menyebutnya di keseharian.

Pertunjukan yang melibatkan lebih banyak aktor/pemain dan kru pada produksi Papermoon Puppet Theatre kali ini, berhasil menghibur penonton. Antusiasme penonton pada malam itu menunjukkan bahwa Papermoon telah berhasil memberikan satu tawaran tontonan yang layak diapresiasi di antara pertunjukan teater boneka yang sudah ada di Indonesia.

Sekilas Tentang Pesta Boneka

Pergelaran pesta boneka ini diinisiasi oleh Maria Tri Sulistyani, setelah perkenalannya dengan dua orang seniman mancanegara yang bergelut di dunia teater boneka. Mereka adalah Anne-Sophie Lecourt (Prancis) dan Carla Pedroza (Meksiko). Perjalanan mereka ke Indonesia yang semula untuk belajar wayang kulit diinterupsi oleh Maria dengan ajakan untuk “tak hanya belajar”, tapi juga membuat sesuatu. Gayung bersambut. Maka proses pesta boneka pun dimulai dengan membuat workshop-workshop bersama, merancang cerita, dan merencanakan beberapa pementasan selama kurun waktu 9 bulan.

Rangkaian pesta boneka ini terdiri dari: Hanya Menunggu (just waiting) dipentaskan tanggal 17 Juli 2008 di Kinoki; Yu Brejel dan Eyang Dipo dipentaskan tanggal 18 Agustus 2008 di Padepokan Bagong Kussudiardjo; Ya Nos Morimos (kita sudah meninggal) dipentaskan tanggal 7 November 2008 di Lembaga Indonesia Perancis; dan puncaknya Dalam Sebuah Perjalanan (on a journey) dipentaskan tanggal 3-5 Desember 2008 di Taman Budaya Yogyakarta.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

*****


Kerabat Kerja

konseptor Maria Tri Sulistyani (Indonesia), Anne-Sophie (Perancis), Carla Pedroza (Mexico) koordinator program Maria Tri Sulistyani (Indonesia) ide naskah Maria Tri Sulistyani (Indonesia), Daniele Poidomani (Australia), Carla Pedroza (Mexico), Carla Ori (Australia) desainer artistik Iwan Effendi (Indonesia) sutradara Daniele Poidomani (Australia), Maria Tri Sulistyani (Indonesia) penata musik Carla Ori (Australia) manajer panggung Novindra Dhiratara (Indonesia) penata lampu Ignatius “Clink” Sugiarto (Indonesia) penata suara Eko “Tebleh” Prabowo (Indonesia) produksi Nur Cahyati Wahyuni (Indonesia), Aniek Rusmawati (Indonesia) penerjemah Tessa Toumbourou (Australia) kru Supono, Dwi (Indonesia) pembuat dan pemain boneka Octo Cornelius (Indonesia), Yosafat Diaswikarta (Indonesia), Anton “Grewo” Fajri (Indonesia), Beni Sanjaya (Indonesia), “Genyeng” Purjianto (Indonesia), Supri (Indonesia), Sulis Masinis (Indonesia), Hafez Achda (Indonesia), Carla Pedroza (Mexico), Maria Tri Sulistyani (Indonesia)

Komentar Penonton

“Papermoon itu kreatif. Dalam artian, bonekanya itu selalu berganti-ganti terus dalam setiap pertunjukannya. Nggak monoton jadinya. Ceritanya menarik, ada kejutan-kejutan. Salut deh sama teman-teman Papermoon. (Gunawan, 40 tahun, komunitas Rumah Pelangi)

“Ini pertama kalinya nonton teater boneka yang seperti ini. Biasanya aku nonton pertunjukan boneka yang dimainin pakai tangan, atau yang orangnya masuk ke dalam bonekanya. Ini bagus, beda dari biasanya itu. Boneka dan orang yang mainin kelihatan jelas. Anak-anak jadi tahu bahwa itu benar-benar boneka dan ada orang yang memainkan di belakang bonekanya. Membuat anak jadi tahu realitanya, bahwa itu Cuma mainan. Boleh kasih masukan ya? Kalau ada pentas lagi, tiketnya jangan mahal-mahal dong…… Kemarin agak kemahalan, sih.” (Siska uli, 27 tahun, Media Sastra.com)

“Iya, bagus…. Ceritanya menarik, orang dan sekaligus bonekanya jadi hidup. Artistiknya bagus, Cuma settingnya kurang gila. Misalnya, yang di kereta itu bisa lebih dimaksimalkan. Kalau digarap lebih serius pasti oke….. Masih kelihatan kurang digarap sih, settingnya.” (Daru, 28 tahun, kontributor Majalah Juice Jogja)

Oleh: Maria Tri Sulistyani*

Kalau kita mendengar kata “boneka”, maka ingatan kita biasanya akan segera menuju pada sebuah mainan anak perempuan. Jangan salahkan siapa-siapa kalau kita belum memiliki sinonim kata “puppets” di Indonesia. Ya… memang puppets memiliki arti yang jauh berbeda dengan dolls. Padahal di Indonesia, dua-duanya tetap diartikan sebagai boneka.

Kita punya kata “wayang”, yang kemudian banyak orang mengasosiasikannya dengan kata “bayang”. Padahal wayang golek pun tidak bekerja dengan bayangan. Saya pribadi masih bingung dengan pilihan kata-kata tersebut.

Maka kali ini saya memilih kata “teater boneka”. Mungkin kata ini akan lebih membantu saya untuk bicara dengan anda semua, mengenai puppets dan bukan dolls.

Teater Boneka, Budaya Lama, Budaya Kita

Sebagian besar dari masyarakat kita pasti mengenal Unyil, sesosok anak laki-laki yang sangat nasionalis, hidup di Desa Sukamaju, dan memiliki teman-teman yang multikultur. Kehidupan si Unyil diciptakan oleh Drs.Suyadi alias Pak Raden beserta rekan-rekannya, para kreator tayangan teater boneka Si Unyil di televisi yang kemudian menjadi idola anak-anak di era 70-80an.

Jauh sebelum Unyil, sebenarnya kita sudah memiliki budaya teater boneka yang sangat kuat. Sudah ratusan tahun kita memiliki budaya wayang kulit, wayang beber, wayang golek, kemudian juga muncul wayang kancil, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan budaya teater boneka barat yang memang sangat identik dengan audiens anak-anak, teater boneka di Asia awalnya malah ditujukan untuk para penonton dewasa. Wayang Potehi dari Cina, misalnya. Awalnya lahir dari upaya 5 narapidana di tanah Cina yang sudah divonis mati untuk menghibur sang Raja. Sedangkan di Indonesia sendiri, pertunjukan wayang selalu mengangkat cerita-cerita yang penuh dengan nilai-nilai filosofis yang mendalam dan tak jarang disisipi isu-isu yang tengah hangat di masyarakat.  Bahkan wayang sempat pula digunakan sebagai alat untuk menyebarkan agama.

Keberadaan wayang saat ini memang sudah tidak disambut sehangat dulu. Saya bahkan pernah berbincang dengan seorang dalang muda yang mengakui bahwa penonton pagelaran wayang tak lagi mengalami regenerasi. Anak-anak muda memenuhi lapangan saat musik dangdut dan campusari berdentam, tapi segera membubarkan diri saat klenengan mulai mengalun. Bukan karena malam yang sudah larut, tapi karena mereka memang tidak tertarik.

Di mata bangsa sendiri, mungkin terasa pudar sudah daya tarik wayang yang ditatah dan diwarnai dengan teknik yang luar biasa itu. Susunan ratusan wayang yang dipajang dan dimainkan, tak lagi mampu memancing rasa penasaran kebanyakan anak-anak muda. Kemegahan orkestra gamelan yang selalu mengiringi dari balik layar tak cukup mampu menjaga anak muda untuk tetap duduk menonton. Pagelaran wayang kulit yang sedianya tampil sebagai satu bentuk tontonan yang tak hanya megah tapi juga multi disiplin, kini terengah mencoba segala cara untuk tetap dicintai pemiliknya.

Ya… sejak lama citra wayang di mata para penonton muda adalah tontonan orang tua, yang tak dipahami “bahasa” dan kemasannya. Mungkin karena tak akrab dengan “bahasa” berikut kemasan itulah kemudian pertunjukan bisa jadi terasa monoton dan tak menarik bagi para penonton muda.  Jelas jauh berbeda dengan begitu banyak tawaran media baru yang lebih hidup, warna-warni, dinamis, dan beragam.

Berlatar belakang kondisi budaya yang seperti itulah, Papermoon, sebuah kelompok teater boneka, diciptakan. Berawal dari membuat sebuah sanggar seni rupa dan seni pertunjukan untuk anak, di tahun kedua Papermoon meneguhkan pilihan sebagai kelompok teater boneka untuk semua kalangan.

Mencintai dan Menikmati Teater Boneka…

Berangkat dari bangsa yang memiliki sejarah panjang teater boneka, Papermoon justru tidak menggunakan wayang kulit atau wayang golek sebagai media berbagi cerita. Melalui berbagai eksperimen, boneka dengan aneka teknik diciptakan di studio kecil Papermoon. Kenapa boneka? Karena kami menemukan keasyikan tersendiri untuk membuat objek yang bebas, dan kemudian menghidupkannya.

Tak hanya membuat karya pementasan, Papermoon juga kerap berbagi ilmu melalui workshop, membuat karya video klip, dan lain sebagainya. Upaya ini dilakukan karena Papermoon ingin membagi pengalaman asyiknya menikmati teater boneka, dengan lebih banyak kalangan, melalui berbagai media.

Sedikit berbeda dengan teman-teman di kelompok atau komunitas lain yang bekerja dalam tim besar, di Papermoon, gagasan untuk berproses biasanya datang dari obrolan minum teh di sore hari antara 2 orang. Pola ini memang berlangsung dari awal Papermoon berdiri sampai sekarang. Kalau dulu saya banyak bertukar pikiran dengan Aniek Rusmawati, yang membantu membidani lahirnya Papermoon, sekarang ide dan gagasan penciptaan karya merupakan hasil obrolan saya dengan Iwan Effendi, seorang perupa sekaligus Desainer Artistik Papermoon. Sedangkan untuk mewujudkannya, kami juga merangkul beberapa teman, antara lain Nur Cahyati di bagian produksi, Octo Cornelius, dan beberapa teman lain untuk menggarap bagian artistik.

Peneguhan pilihan kami untuk serius berkarya dengan teater boneka ditandai dengan pergelaran teater boneka khusus dewasa di bulan April 2008: “Noda Lelaki di Dada Mona”. Cerita yang dilatarbelakangi kegelisahan atas peristiwa pemberontakan 1965 ini adalah naskah realis karya Joned Suryatmoko, seorang sutradara dan Direktur Artistik Teater Gardanalla. Di titik ini kami menemukan banyak peristiwa, pengalaman dan pelajaran penting untuk bekerja di ranah teater boneka. Bagaimana bekerja dengan boneka-boneka yang memiliki kekayaan visual, menerjemahkan naskah realis yang rigid ke panggung boneka, dan lain sebagainya.

Dengan maksud melakukan eksperimen dengan media teater boneka, di tahun 2008 kami menggelar 5 pementasan dengan model yang berbeda-beda.  Kebetulan di tahun yang sama, Papermoon juga menjalin kerja kolaborasi dengan seniman-seniman dari Australia, Prancis, dan Meksiko untuk membuat rangkaian pementasan “PESTA BONEKA”.

Pementasan kami yang bertajuk “Dalam Sebuah Perjalanan” menjadi penutup rangkaian pementasan PESTA BONEKA 2008 tersebut.  Pertunjukan yang mengisahkan interaksi para penumpang kereta api ini lebih dititikberatkan pada kemampuan boneka untuk menyampaikan satu cerita dengan kekuatan visualnya. Tidak digunakannya bahasa verbal dalam pertunjukan berdurasi 55 menit ini kemudian menjadi kekuatan tersendiri untuk menciptakan imajinasi yang luas bagi si pemain boneka, dan juga penontonnya.

Para sahabat memberikan sanjungan, kritik, saran, dan dorongan selepas pementasan. Satu lecutan baru di akhir tahun yang sangat berguna bagi pertumbuhan Papermoon. Karena memang beginilah cara kami belajar dan bekerja.

Yah… karena masih banyak mimpi di masa mendatang yang kami bangun di Papermoon. Karena sudah saatnya budaya teater boneka di Indonesia kembali dicintai oleh para pemiliknya. Kita semua.

Maria Tri Sulistyani atau Ria Kriwil dan "keluarga" (foto: Iwan Effendi)

* Maria Tri Sulistyani, Pendiri dan Direktur Papermoon Puppet Theatre Yogyakarta.

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)