Oleh: Hindra Setya Rini*

Dua boneka dengan warna mencolok melintas di keramaian penonton, di lobi Gedung Sosietet Militer, Taman Budaya Yogyakarta. Itulah peristiwa pertama yang dibangun oleh Papermoon Puppet Theatre di pertunjukannya kali ini, Dalam Sebuah Perjalanan (on a Journey) pada 5 Desember 2008.

Kedua boneka itu digerakkan oleh dua pemuda berpakaian hitam-hitam di belakangnya. Beberapa anak kecil dan remaja menghampiri boneka-boneka itu untuk mengambil permen dan makanan ringan yang ada di bagian perutnya. Semua yang ada di sana boleh diambil sesuka hati dan gratis.

Tak lama kemudian, boneka bertopi yang bentuknya agak bulat dan pendek, menyeruak di keramaian penonton. Pakaiannya kumal seperti gembel, ia menadahkan kantung kepada penonton untuk bersedekah. Seperti dua boneka sebelumnya, ia juga berkeliling dan menghampiri para penonton.

Pukul 20.00 WIB, penonton masuk ke dalam gedung pertunjukan. Gedung berkapasitas sekitar 350 kursi tersebut dipadati penonton. Sekitar lima belas menit penonton masih menunggu di tempat. Ketiga boneka tersebut turut masuk ke ruang penonton. Tak lama kemudian sebuah boneka kuda ditunggangi oleh seseorang yang berpakaian ala koboi melintas di depan penonton. Terdengar back sound langkah sepatu kuda beserta ringkikannya menggema memenuhi ruangan. Kuda mondar-mandir sebentar sebelum meninggalkan ruangan dan menghilang ke arah belakang penonton.

Lampu di panggung menyala. Cerita berawal di kediaman seorang lelaki, ia menangis sesenggukan. Ia adalah John, laki-laki yang murung setelah ditinggal kekasihnya untuk selamanya. Sebenarnya ia sudah merencanakan sebuah perjalanan bersama kekasihnya. Bahkan tiket sudah dia genggam. Ia memutuskan untuk tetap melakukan perjalanan itu─berharap bisa menghilangkan dukanya. Tak lupa ia membawa syal ungu, kenang-kenangan dari sang kekasih saat jumpa pertama. John sempat terkenang masa-masa pertemuan, dan dengan berat hati ia meninggalkan rumah sambil tersedu. Ia menuju stasiun kereta api.

Di tempat lain, Yolanda, seorang ibu muda yang sangat bahagia, tak sabar untuk segera pergi dari kota untuk mengunjungi suami tercinta. Sang suami adalah seorang polisi yang bekerja di luar kota. Dengan kostum kuning menyala, ia tampak ceria, berjalan sambil bersenandung. Geraknya lincah meskipun ia sedang hamil tua. Yolanda pergi meninggalkan kediamannya menuju stasiun kereta bersama anjing kesayangannya, Ola.

Sebelum akhirnya John dan Yolanda bertemu dalam satu gerbong kereta yang sama, keduanya sama-sama bertemu dengan orang-orang yang punya ceritanya masing-masing. Pertemuan-pertemuan yang menjadi warna di sepanjang perjalanan mereka. Mereka adalah pedagang asongan, pengamen, pengemis atau gembel, sepasang kakek-nenek, dan seorang ibu dengan bayinya.

Di dalam kereta itulah semua orang dengan karakternya masing masing saling bertemu. Peristiwa atau adegan yang terjadi sering kali membuat penonton tertawa. Contohnya saat si bayi menangis dan menggigit jari nenek yang berusaha membujuknya untuk diam, dan John-lah satu-satunya orang yang berhasil membuat si bayi tertawa. Belum lagi tingkah laku nenek yang super cerewet dan galak. Si nenek selalu bertindak kasar terhadap kakek. Intinya si kakek harus melakukan apa yang diperintahkan si nenek. Beberapa kali adegan tersebut membuat penonton tergelak.

Cerita bergulir hingga pada adegan gendam yang dilakukan oleh ibu yang membawa bayi terhadap seluruh penumpang. Dengan lagu nina bobo yang dinyanyikannya, seluruh penumpang tertidur lelap dan tanpa disadari barang/tas bawaan mereka lenyap. Semua penumpang baru tersadar ketika Yolanda merasa anjingnya telah hilang. Suasana dalam kereta berubah riuh. Masing-masing orang saling curiga. Akhirnya, penyelidikan pun dilakukan oleh pengemis yang ternyata ahli melacak kejahatan layaknya detektif.

Pada akhir cerita, penjahat berhasil ditemukan. Namun tiba-tiba Yolanda merasa kesakitan, sudah saatnya untuk melahirkan.  Ia terpaksa melahirkan di tempat itu, saat itu juga. Di stasiun kereta. Kembali riuh rendah terjadi saat para penumpang berusaha membantu Yolanda melahirkan. Tak satu pun dari mereka yang paham perihal persalinan. Berbagai alat dikeluarkan seperti gergaji, kapak, dsb, membuat penonton tertawa. Saat si anak lahir, spontan penonton kembali tergelak melihat sang bayi terlahir sebagai seorang bayi penunggang kuda─lengkap dengan kudanya. Si bayi membawa ingatan penonton pada seorang penunggang kuda yang melintas di awal cerita. Ternyata si Koboi itu adalah suami Yolanda. Tak disangka oleh Yolanda, dia bertemu dengan sang Suami pada saat persalinan, di stasiun kereta itu.

Cerita berakhir bahagia. Seluruh penumpang bahagia, dan penjahat pun dimaafkan karena ia telah memberikan hadiah kepada bayi Yolanda yang baru lahir. Cerita ditutup dengan foto bersama. Seluruh penumpang kereta berpose untuk mengabadikan momen kebersamaan dan kebahagian tersebut. Klik. Lampu kilat kamera bersinar, lampu di atas panggung padam, pertunjukan selesai.

Pertunjukan yang berdurasi sekitar satu setengah jam ini menarik bagi penonton karena permainan bonekanya yang benar-benar terasa hidup. Meski para aktor yang memainkan boneka jelas terlihat di belakangnya, hal tersebut nampaknya tidak mengganggu penonton. Sampai pertunjukan selesai tak ada penonton yang beranjak dari kursinya. Selain itu, bentuk bonekanya sendiri juga menarik—boneka seukuran manusia dengan desain unik—terutama bagi anak-anak dan remaja. Warna-warna cerah yang dipakai pada kostum serta setting ruang yaitu kuning, merah, cokelat, dan hijau, nampak segar di mata.

Salah satu strategi yang cukup menarik adalah digunakannya bahasa Gibberish dalam pertunjukan ini. Gibberish merupakan kata-kata yang bunyinya secara harafiah tak mengandung arti sama sekali. Mengingat terlibatnya kolaborator yang tidak berbahasa Indonesia dalam pertunjukan ini, penggunaan bahasa Gibberish adalah pilihan paling tepat. Bagi penonton sendiri, penggunaan bahasa ini mudah dimengerti karena aktor juga menggunakan gerak tubuh untuk menjelaskan maksudnya. Hampir sama dengan “Bahasa Tarzan”, demikian orang-orang kadang menyebutnya di keseharian.

Pertunjukan yang melibatkan lebih banyak aktor/pemain dan kru pada produksi Papermoon Puppet Theatre kali ini, berhasil menghibur penonton. Antusiasme penonton pada malam itu menunjukkan bahwa Papermoon telah berhasil memberikan satu tawaran tontonan yang layak diapresiasi di antara pertunjukan teater boneka yang sudah ada di Indonesia.

Sekilas Tentang Pesta Boneka

Pergelaran pesta boneka ini diinisiasi oleh Maria Tri Sulistyani, setelah perkenalannya dengan dua orang seniman mancanegara yang bergelut di dunia teater boneka. Mereka adalah Anne-Sophie Lecourt (Prancis) dan Carla Pedroza (Meksiko). Perjalanan mereka ke Indonesia yang semula untuk belajar wayang kulit diinterupsi oleh Maria dengan ajakan untuk “tak hanya belajar”, tapi juga membuat sesuatu. Gayung bersambut. Maka proses pesta boneka pun dimulai dengan membuat workshop-workshop bersama, merancang cerita, dan merencanakan beberapa pementasan selama kurun waktu 9 bulan.

Rangkaian pesta boneka ini terdiri dari: Hanya Menunggu (just waiting) dipentaskan tanggal 17 Juli 2008 di Kinoki; Yu Brejel dan Eyang Dipo dipentaskan tanggal 18 Agustus 2008 di Padepokan Bagong Kussudiardjo; Ya Nos Morimos (kita sudah meninggal) dipentaskan tanggal 7 November 2008 di Lembaga Indonesia Perancis; dan puncaknya Dalam Sebuah Perjalanan (on a journey) dipentaskan tanggal 3-5 Desember 2008 di Taman Budaya Yogyakarta.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

*****


Kerabat Kerja

konseptor Maria Tri Sulistyani (Indonesia), Anne-Sophie (Perancis), Carla Pedroza (Mexico) koordinator program Maria Tri Sulistyani (Indonesia) ide naskah Maria Tri Sulistyani (Indonesia), Daniele Poidomani (Australia), Carla Pedroza (Mexico), Carla Ori (Australia) desainer artistik Iwan Effendi (Indonesia) sutradara Daniele Poidomani (Australia), Maria Tri Sulistyani (Indonesia) penata musik Carla Ori (Australia) manajer panggung Novindra Dhiratara (Indonesia) penata lampu Ignatius “Clink” Sugiarto (Indonesia) penata suara Eko “Tebleh” Prabowo (Indonesia) produksi Nur Cahyati Wahyuni (Indonesia), Aniek Rusmawati (Indonesia) penerjemah Tessa Toumbourou (Australia) kru Supono, Dwi (Indonesia) pembuat dan pemain boneka Octo Cornelius (Indonesia), Yosafat Diaswikarta (Indonesia), Anton “Grewo” Fajri (Indonesia), Beni Sanjaya (Indonesia), “Genyeng” Purjianto (Indonesia), Supri (Indonesia), Sulis Masinis (Indonesia), Hafez Achda (Indonesia), Carla Pedroza (Mexico), Maria Tri Sulistyani (Indonesia)

Komentar Penonton

“Papermoon itu kreatif. Dalam artian, bonekanya itu selalu berganti-ganti terus dalam setiap pertunjukannya. Nggak monoton jadinya. Ceritanya menarik, ada kejutan-kejutan. Salut deh sama teman-teman Papermoon. (Gunawan, 40 tahun, komunitas Rumah Pelangi)

“Ini pertama kalinya nonton teater boneka yang seperti ini. Biasanya aku nonton pertunjukan boneka yang dimainin pakai tangan, atau yang orangnya masuk ke dalam bonekanya. Ini bagus, beda dari biasanya itu. Boneka dan orang yang mainin kelihatan jelas. Anak-anak jadi tahu bahwa itu benar-benar boneka dan ada orang yang memainkan di belakang bonekanya. Membuat anak jadi tahu realitanya, bahwa itu Cuma mainan. Boleh kasih masukan ya? Kalau ada pentas lagi, tiketnya jangan mahal-mahal dong…… Kemarin agak kemahalan, sih.” (Siska uli, 27 tahun, Media Sastra.com)

“Iya, bagus…. Ceritanya menarik, orang dan sekaligus bonekanya jadi hidup. Artistiknya bagus, Cuma settingnya kurang gila. Misalnya, yang di kereta itu bisa lebih dimaksimalkan. Kalau digarap lebih serius pasti oke….. Masih kelihatan kurang digarap sih, settingnya.” (Daru, 28 tahun, kontributor Majalah Juice Jogja)

Advertisements

Oleh: Maria Tri Sulistyani*

Kalau kita mendengar kata “boneka”, maka ingatan kita biasanya akan segera menuju pada sebuah mainan anak perempuan. Jangan salahkan siapa-siapa kalau kita belum memiliki sinonim kata “puppets” di Indonesia. Ya… memang puppets memiliki arti yang jauh berbeda dengan dolls. Padahal di Indonesia, dua-duanya tetap diartikan sebagai boneka.

Kita punya kata “wayang”, yang kemudian banyak orang mengasosiasikannya dengan kata “bayang”. Padahal wayang golek pun tidak bekerja dengan bayangan. Saya pribadi masih bingung dengan pilihan kata-kata tersebut.

Maka kali ini saya memilih kata “teater boneka”. Mungkin kata ini akan lebih membantu saya untuk bicara dengan anda semua, mengenai puppets dan bukan dolls.

Teater Boneka, Budaya Lama, Budaya Kita

Sebagian besar dari masyarakat kita pasti mengenal Unyil, sesosok anak laki-laki yang sangat nasionalis, hidup di Desa Sukamaju, dan memiliki teman-teman yang multikultur. Kehidupan si Unyil diciptakan oleh Drs.Suyadi alias Pak Raden beserta rekan-rekannya, para kreator tayangan teater boneka Si Unyil di televisi yang kemudian menjadi idola anak-anak di era 70-80an.

Jauh sebelum Unyil, sebenarnya kita sudah memiliki budaya teater boneka yang sangat kuat. Sudah ratusan tahun kita memiliki budaya wayang kulit, wayang beber, wayang golek, kemudian juga muncul wayang kancil, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan budaya teater boneka barat yang memang sangat identik dengan audiens anak-anak, teater boneka di Asia awalnya malah ditujukan untuk para penonton dewasa. Wayang Potehi dari Cina, misalnya. Awalnya lahir dari upaya 5 narapidana di tanah Cina yang sudah divonis mati untuk menghibur sang Raja. Sedangkan di Indonesia sendiri, pertunjukan wayang selalu mengangkat cerita-cerita yang penuh dengan nilai-nilai filosofis yang mendalam dan tak jarang disisipi isu-isu yang tengah hangat di masyarakat.  Bahkan wayang sempat pula digunakan sebagai alat untuk menyebarkan agama.

Keberadaan wayang saat ini memang sudah tidak disambut sehangat dulu. Saya bahkan pernah berbincang dengan seorang dalang muda yang mengakui bahwa penonton pagelaran wayang tak lagi mengalami regenerasi. Anak-anak muda memenuhi lapangan saat musik dangdut dan campusari berdentam, tapi segera membubarkan diri saat klenengan mulai mengalun. Bukan karena malam yang sudah larut, tapi karena mereka memang tidak tertarik.

Di mata bangsa sendiri, mungkin terasa pudar sudah daya tarik wayang yang ditatah dan diwarnai dengan teknik yang luar biasa itu. Susunan ratusan wayang yang dipajang dan dimainkan, tak lagi mampu memancing rasa penasaran kebanyakan anak-anak muda. Kemegahan orkestra gamelan yang selalu mengiringi dari balik layar tak cukup mampu menjaga anak muda untuk tetap duduk menonton. Pagelaran wayang kulit yang sedianya tampil sebagai satu bentuk tontonan yang tak hanya megah tapi juga multi disiplin, kini terengah mencoba segala cara untuk tetap dicintai pemiliknya.

Ya… sejak lama citra wayang di mata para penonton muda adalah tontonan orang tua, yang tak dipahami “bahasa” dan kemasannya. Mungkin karena tak akrab dengan “bahasa” berikut kemasan itulah kemudian pertunjukan bisa jadi terasa monoton dan tak menarik bagi para penonton muda.  Jelas jauh berbeda dengan begitu banyak tawaran media baru yang lebih hidup, warna-warni, dinamis, dan beragam.

Berlatar belakang kondisi budaya yang seperti itulah, Papermoon, sebuah kelompok teater boneka, diciptakan. Berawal dari membuat sebuah sanggar seni rupa dan seni pertunjukan untuk anak, di tahun kedua Papermoon meneguhkan pilihan sebagai kelompok teater boneka untuk semua kalangan.

Mencintai dan Menikmati Teater Boneka…

Berangkat dari bangsa yang memiliki sejarah panjang teater boneka, Papermoon justru tidak menggunakan wayang kulit atau wayang golek sebagai media berbagi cerita. Melalui berbagai eksperimen, boneka dengan aneka teknik diciptakan di studio kecil Papermoon. Kenapa boneka? Karena kami menemukan keasyikan tersendiri untuk membuat objek yang bebas, dan kemudian menghidupkannya.

Tak hanya membuat karya pementasan, Papermoon juga kerap berbagi ilmu melalui workshop, membuat karya video klip, dan lain sebagainya. Upaya ini dilakukan karena Papermoon ingin membagi pengalaman asyiknya menikmati teater boneka, dengan lebih banyak kalangan, melalui berbagai media.

Sedikit berbeda dengan teman-teman di kelompok atau komunitas lain yang bekerja dalam tim besar, di Papermoon, gagasan untuk berproses biasanya datang dari obrolan minum teh di sore hari antara 2 orang. Pola ini memang berlangsung dari awal Papermoon berdiri sampai sekarang. Kalau dulu saya banyak bertukar pikiran dengan Aniek Rusmawati, yang membantu membidani lahirnya Papermoon, sekarang ide dan gagasan penciptaan karya merupakan hasil obrolan saya dengan Iwan Effendi, seorang perupa sekaligus Desainer Artistik Papermoon. Sedangkan untuk mewujudkannya, kami juga merangkul beberapa teman, antara lain Nur Cahyati di bagian produksi, Octo Cornelius, dan beberapa teman lain untuk menggarap bagian artistik.

Peneguhan pilihan kami untuk serius berkarya dengan teater boneka ditandai dengan pergelaran teater boneka khusus dewasa di bulan April 2008: “Noda Lelaki di Dada Mona”. Cerita yang dilatarbelakangi kegelisahan atas peristiwa pemberontakan 1965 ini adalah naskah realis karya Joned Suryatmoko, seorang sutradara dan Direktur Artistik Teater Gardanalla. Di titik ini kami menemukan banyak peristiwa, pengalaman dan pelajaran penting untuk bekerja di ranah teater boneka. Bagaimana bekerja dengan boneka-boneka yang memiliki kekayaan visual, menerjemahkan naskah realis yang rigid ke panggung boneka, dan lain sebagainya.

Dengan maksud melakukan eksperimen dengan media teater boneka, di tahun 2008 kami menggelar 5 pementasan dengan model yang berbeda-beda.  Kebetulan di tahun yang sama, Papermoon juga menjalin kerja kolaborasi dengan seniman-seniman dari Australia, Prancis, dan Meksiko untuk membuat rangkaian pementasan “PESTA BONEKA”.

Pementasan kami yang bertajuk “Dalam Sebuah Perjalanan” menjadi penutup rangkaian pementasan PESTA BONEKA 2008 tersebut.  Pertunjukan yang mengisahkan interaksi para penumpang kereta api ini lebih dititikberatkan pada kemampuan boneka untuk menyampaikan satu cerita dengan kekuatan visualnya. Tidak digunakannya bahasa verbal dalam pertunjukan berdurasi 55 menit ini kemudian menjadi kekuatan tersendiri untuk menciptakan imajinasi yang luas bagi si pemain boneka, dan juga penontonnya.

Para sahabat memberikan sanjungan, kritik, saran, dan dorongan selepas pementasan. Satu lecutan baru di akhir tahun yang sangat berguna bagi pertumbuhan Papermoon. Karena memang beginilah cara kami belajar dan bekerja.

Yah… karena masih banyak mimpi di masa mendatang yang kami bangun di Papermoon. Karena sudah saatnya budaya teater boneka di Indonesia kembali dicintai oleh para pemiliknya. Kita semua.

Maria Tri Sulistyani atau Ria Kriwil dan "keluarga" (foto: Iwan Effendi)

* Maria Tri Sulistyani, Pendiri dan Direktur Papermoon Puppet Theatre Yogyakarta.

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

oleh: Khoiri Abdillah*

Berawal dari melihat poster pementasan teater boneka di papan pengumuman, di beranda Teater Garasi. Saya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana sih jadinya kalau boneka main teater? Maka saya memutuskan untuk melihat pementasan teater boneka yang dibawakan oleh Papermoon Puppet Theatre.

Papermoon Puppet Theatre adalah satu-satunya kelompok teater boneka di Jogja yang serius mendalami bentuk teater boneka. Eksistensinya di dunia teater dimulai sejak dua tahun yang lalu. Biasanya pertunjukan-pertunjukan yang diselenggarakan hanya bisa dinikmati oleh anak-anak saja. Tetapi kali ini Papermoon tampil dengan audiens yang berbeda, yaitu para anak muda dan orang dewasa. Itu terbukti ada tanda “” pada poster pertunjukannya. Repertoar yang berjudul “Noda Lelaki Di  Dada Mona”, yang ditulis Joned Suryatmoko ini, disutradarai  oleh Maria Tri Sulistyani. Dipentaskan di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jogja. Pertunjukan yang diselenggarakan dua kali (pukul 18:30 WIB dan 20:00 WIB), dengan tiket masuk Rp. 10.000,00 itu dihadiri sekitar 150 penonton.

“Noda Lelaki Di  Dada Mona”, berkisah tentang dua sejoli antara Mona dan Mungkas yang tengah dimabuk asmara, lantaran pertemuannya di setiap akhir pekan, ketika Mungkas mengantarkan pakaian-pakaian kotornya ke loundry milik Mona. Mona adalah seorang gadis yang dididik dan dibesarkan oleh Eyang Dipo, kakek Mona. Eyang Dipo selalu menanamkan pada Mona untuk hidup mandiri. Maka Mona membuka jasa laundry di rumahnya untuk membiayai kuliahnya sendiri.

Intensitas pertemuan antara Mona dan Mungkas terjadi di ruang jasa  Laundry itu, hingga tumbuh getaran perasaan yang membuat Mona tersipu malu. Mona jatuh hati pada Mungkas, si pemuda hedonis dan penggoda itu. Sampai suatu ketika, Mungkas dengan mulut manisnya, berhasil merayu Mona. Maka terjadilah sebuah peristiwa tak terduga: mereka  bercinta dengan gejolak muda yang tergesa. Dan peristiwa itu meninggalkan setitik noda pada pakaian dalam Mona. Noda yang tak pernah bisa dihilangkan sekalipun dicuci dengan mesin cuci. Bekas noda itu membuat resah Mona.

Di luar cerita tentang Mona, Eyang Dipo, seorang pensiunan tentara, ternyata tak luput dari noda juga. Ia memendam masa lalu yang kelam; sebuah peristiwa sadisme (pembantaian). Peristiwa yang masih tersimpan dalam buku hariannya, tentang pembantaian yang dilakukannya pada oknum komunis yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Waktu itu, ia dan kawan sepasukannya sedang beroperasi membasmi oknum PKI; mulai dari Pacitan, Ponorogo, Wonogiri, dan Solo. Akan tetapi, ia salah sasaran, yang terbunuh adalah para seniman “Reog Ponorogo” yang sedang mempromosikan kesenian tradisinya. Peristiwa itu menjadi noda kemanusian yang selalu melekat di sepanjang hidupnya. Noda itu pun tak dapat dihilangkan oleh Eyang Dipo hingga ia khawatir, jika palu hakim akan mengancamnya ke dalam sel tahanan.

Mona dan kakek Dipo mempunyai noda yang tak bisa dihilangkan. Noda yang melekat dalam hati kecilnya, yang tak bakal hilang…

Tema tentang “noda” yang tak pernah bisa dihilangkan ini muncul dengan definisi dan konteks yang berlainan dalam pertunjukan malam itu. Pertunjukan yang disajikan dengan boneka yang berukuran sama besar dengan tubuh manusia normal itu, sangatlah mengesankan bagi penonton. Terasa mengena dengan bentuk drama realis yang diusung. Tidak kurang dan tidak lebih porsi artistiknya. Pas. Hal itu terlihat dengan penataan setting yang begitu jelas; yakni menitikberatkan pada perhitungan dan penyiasatan ruang untuk menciptakan karakter ruang itu sendiri. Tampak ruang tamu dan ruang belakang, berada pada sisi kiri dan kanan panggung, begitu juga layar Silhuet berada di bagian belakang panggung, untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi di luar rumah Mona. Sementara itu, ada ruang sempit yang memanjang di bagian tengah panggung, yang menjorok ke belakang, ruang yang menggambarkan masa lalu kakek Dipo. Ruangan itu seperti  diorama sejarah yang menyimpan seribu peristiwa. Sejarah gelap yang lelah dan malas untuk dibaca. Di ruang itu boneka-boneka kecil berseragam militer dimainkan dengan tangan lewat media tali, membuat terasa kental aura pertunjukan teater bonekanya.

Sepanjang pertunjukan itu, akting boneka yang dimainkan itu terlihat keren; sederhana, detail, dan banyak terjadi adegan-adegan yang menggelitik. Teknik memainkan boneka-nya terasa begitu hidup. Terlihat saat kakek Dipo sedang ngupil, dan permainan boneka yang digerakkan tangan lewat media tali saat adegan pembantaian pada oknum komunis di tahun 1965. Selain itu, bentuk visual boneka-boneka yang dimainkan terlihat liar dan imajinatif.

Pertunjukan teater boneka malam itu amat menarik dan berkesan buat saya, yang baru pertama kali melihat pertunjukan teater boneka.

* Khoiri Abdillah , aktor dari Semarang yang juga menjadi Peserta “Magang Nusantara 2008” Yayasan Kelola di Teater Garasi.

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)


*****


Kerabat Kerja

Penulis naskah: Joned Suryatmoko/ Sutradara: Maria Tri Sulistyani/ Desainer Artistik: Iwan Effendi/ Ass. Sutradara dan Penata Musik: Reza A./ Lighting Designer: Emergency Technical Suport

Pemain Boneka dan Aktor: Yosafat Diaswikarta, Maria Tri Sulistyani, Jericho “Kofil”, Hafez Achda, Cosi, Iwank, Beni, Iwan “Gondrong”, Mareta Andreani, Anne Sophie.

Tim Artistik: Iwank, Cosi, Ria, Octo Cornelius, Beni, Mareta Andreani, Anne Sophie/

Tim Produksi: Aniek Rukmawati, Reno Dwi Hapsari, Iwan Gondrong”/ Stage manager: Novindra Diratara

Oleh: Hindra Setya Rini*

Gempa tektonik berskala 5,9 richter yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 lalu, membuat saya kaget dan panik. Gempa yang membangunkan saya dari tidur yang lelap pagi itu. Malamnya saya asik “bertelepon ria” dengan teman dekat saya di luar kota. Bagaimana tidak panik? Saya tinggal di lantai atas rumah induk semang saya. Kaget dan terbangun saat barang-barang di kamar saya berjatuhan, berlari dengan kaki saya yang seolah-olah tidak benar-benar menjejak lantai, dan sialnya lagi, pintu kamar sulit dibuka. Tangan saya gemetar, saya berusaha menenangkan diri ketika memutar kunci pintu kamar agar dapat segera dibuka. Setelah berhasil. Saya turun.

Di bawah saya mendapati teman-teman yang lain sudah berkumpul dan berceloteh riuh tentang gempa yang baru saja terjadi itu. Saya diam saja. Mencoba menenangkan diri dengan duduk sambil melihat mereka, dan mencerna apa yang baru saja saya rasakan. Tak lama kemudian ada sesuatu dalam perut saya yang memaksa untuk keluar. Hooekk! Saya muntah-muntah, maaf—ini gejala yang biasa saya alami jika saya sedang panik berat. Mungkin karena saya bukan orang Jogja, saya tidak merapal “kukuh bakuh” agar hati tenang dan tidak ada yang runtuh.

Setelah reda, saya tidak berpikir akan ada gempa susulan. Saya naik kembali untuk membersihkan dan mengemasi barang-barang yang berserakan di lantai kamar saya. Sampai teman “luar kota” saya itu menelepon kembali untuk mengabarkan bahwa akan ada gempa susulan. Ia menyarankan agar saya segera ke sanggar saja, mungkin akan lebih aman. Dengan menekankan kata-katanya; jangan di dalam bangunan, apalagi yang bertingkat. Bahaya. Tutt…Telepon mati. Saya belum pernah mengalami hal yang semacam ini dalam hidup saya, alangkah lambatnya respon saya tentang ini. Cepat sekali berita gempa ini tersebar, pikir saya.

Akhirnya, kuturuti sarannya. Tak lama kemudian saya mengambil sepeda mini di garasi, lalu mengayuhnya menuju sanggar Teater Garasi yang tak jauh dari tempat kost saya, tempat di mana sebagian aktivitas dan waktu keseharian saya habiskan di sana. Tiba di jalan raya Bugisan Selatan itu, tiba-tiba segerombolan manusia menyerbu dari arah selatan, motor-motor beriringan dengan lampu dan klakson yang terus dinyalakan, mobil ambulan dengan bunyi sirinenya yang memekakkan telinga, serta suara orang-orang yang berlarian tak karuan meneriakkan “Tsunami! Tsunamii…!” Saya masih belum percaya. Saya juga tidak segera berlari mengikuti mereka. Saya hanya terpaku, lagi-lagi otak saya tidak bekerja dengan cepat. Sampai seorang ibu menegur saya, “Mau kemana, Mbak? Ayo lari, ada tsunami lho. Naik mobil sini aja” Saya ganti bertanya, “Bener, Bu, tsunami?” Ibu tadi tahu kalau saya tidak percaya. “Eh, bener, Mbak. Tadi Pak Polisi lewat sambil bilang ada tsunami. Trus tadi ada yang berdarah-darah gitu…”

Ah! Saya memutuskan untuk melanjutkan niat semula, ke sanggar. Saya akan menemui teman-teman di sana, dan menanyakan ulang tentang rencana berkebun kami pada hari itu. Sebenarnya kami hari itu berencana untuk berkebun, menanam bunga di pekarangan sanggar kami. Belum terpikir untuk menyelamatkan diri. Lalu saya kayuh sepeda saya melawan arah orang-orang yang seperti gerak semut beriring itu.

Ya, ampun! Saya mematung di depan sanggar. Pendoponya? Tidak ada lagi karena sudah rata dengan lantainya. Sepi. Saya berdiam di sepeda. Tak tahu berapa lama. Tapi kelihatannya lama banget deh. Kemudian, seperti baru tersadar, saya tinggalkan sanggar. Saya pikir saya pasti gila kalau tetap berada di sana. Kalau tsunami yang dikatakan ibu tadi bukan isu, dan benar-benar terjadi? Saya bisa mati.

Setelah itu, saya kayuh sepeda saya di antara orang-orang yang tumpah ruah di jalanan. Saya ketemu lagi dengan ibu yang tadi (ternyata ia pun belum beranjak ke mana-mana), ”Mau kemana, Mbak?”, tanyanya. “Nggak tau, Bu.” Jawab saya datar. Jujur, saya benar-benar tidak tahu harus lari ke mana. Dalam kebingungan saya menentukan tujuan, saya berpikir kembali seandainya saya mati? Ya Tuhan, saya ternyata takut mati sendirian.

Akhirnya saya menuju tempat di mana saya bisa ketemu dengan teman saya. Sambil mengamati di sekitar saya, di kiri-kanan jalan yang saya lewati, bangunan pagarnya rubuh rata dengan tanah. Saya berpikir, jika saya mati setidaknya ada seorang teman yang mengenali saya. Atau paling tidak, saya tidak mati sendirian, ada teman. Ha-ha! Ini konyol, pikiran ini pun membuat saya tersenyum sendiri. Bisa jadi ini hanya cara saya menghibur hati. Sungguh, alangkah saya benar-benar takut mati.

Sesampainya di tempat teman saya itu ternyata juga sepi. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti di dekat jalan raya Ngadinegaran, Jogja. Tak lama itu saya bertemu dengan teman saya (aktor teater) bersama sekumpulan temannya yang lain dari Sewon. Mereka dari ISI Jogja, yang mengungsi karena isu tsunami tersebut. Nah, bersama mereka itu saya menghabiskan waktu sampai menjelang sore di bawah sebatang pohon yang cukup rindang. Beberapa orang lalu lalang dengan memandang kami dengan tatapan aneh, ada yang bertanya, “Lagi pada ngapain?” Sontak kami saling berpandangan satu sama lain. “Gila! Dia kira kita lagi piknik apa?! Nggak liat ya matanya!” Teman saya itu menyeletuk sewot. Oups! Bencana memang membuat darah ikut panas, batin saya. Jika saya mengingat lagi peristiwa saat gempa terjadi ini, saya pasti akan tertawa geli dan yang pasti tidak pernah saya lupa sepanjang hidup saya.

Demikianlah, gempa yang terjadi di Jogja itu membuat seluruh kota terhenyak. Aktifitas di wilayah Jogja bagian selatan macet. Apalagi ketika data yang dikabarkan melalui TV dan Radio menginformasikan bahwa korban gempa terus bertambah, membuat suasana pada hari-hari paska gempa murung. Jalan-jalan lengang. Meskipun tetap masih ada aktifitas yang terus berlanjut seperti hari-hari sebelum gempa melanda, terutama wilayah Jogja bagian utara. Namun, gempa yang menyisakan kerusakan-kerusakan parah dan membutuhkan pemulihan-pemulihan yang tidak sedikit itu, baik fisik maupun non fisik, cukup membuat denyut jantung Jogja terhenti.

Demikin juga yang terjadi di Teater Garasi; Laboratorium Penciptaan Teater, tempat di mana saya menempuh studi keaktoran selama lima tahun ini harus lumpuh total. Seluruh rencana berubah. Ada yang ditunda dari jadwal semula, dan sebaliknya, melakukan yang sebelumnya tidak direncanakan.  Begitu juga proyek solo saya pada bulan Agustus, saya sudah tidak bisa lagi memikirkannya (meskipun pada kenyataannya sebagian rangkaian proyek solo tetap bisa dilakukan pada bulan Agustus, tetapi bentuk  dan ide dari rencana semula berubah, dan tema pun beralih menjadi tema gempa: dalam Gardanalla Toko Cerita 2006, sebagai aktor fasilitator bagi korban gempa).

Semua aktifitas dialihkan ke lingkungan sekitar setelah sanggar dibersihkan. Jika ditanya apa yang akan saya lakukan pada saat itu? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya punya tenaga. Dari sanalah mulanya ketika paska gempa Jogja saya sempat menjadi tukang masak di dapur umum TGM (Teater Gadjah Mada) untuk para relawan gempa, sempat turun ke lapangan menjadi relawan di salah satu LSM, sebagai distributor logistik dan assisten CO (Community Organizer) yang, dari sana saya bisa melihat secara langsung tempat-tempat korban gempa yang sulit dijangkau. Di sepanjang jalan,  saya melihat bangunan-bangunan yang rubuh, berbaris anak-anak korban gempa menadahkan tangan meminta-minta. Aduh, tidak terlalu berlebihan, kan, bila hati saya jadi tersentuh?

Selanjutnya, pemandangan yang saya lihat di sepanjang jalan ke Imogiri ketika menjadi relawan pengantar logistik (tanggap darurat) ke pelosok-pelosok kampung yang terkena gempa—anak-anak yang mengulurkan tangan, kadang ada yang dengan baskom atau kaleng meminta sumbangan, tidak hanya uang, mereka juga memelas atau kadang teriak di jendela pick up yang saya tumpangi meminta air dan nasi yang—itu terus menggelayuti pikiran saya—bagaimana halnya dengan anak-anak? Apa yang terjadi terhadap anak-anak setelah gempa? Apa yang bisa saya lakukan buat mereka? Sempat terlintas dalam benak saya untuk segera menghubungi teman saya yang punya konsen terhadap anak-anak. Yang juga mengenalkan kepada saya pada dunia yang digelutinya; anak-anak. Saya harus ketemu. Mungkin saja ada ide yang bisa saling  bertemu. Ah! Saya tidak tahu.

Waktu terus bergulir, saya sudah tidak lagi menjadi relawan di LSM tersebut. Namun, pikiran-pikiran itu masih terus menggelisahi saya. Menurut saya, tanpa sadar—para orang tua yang perhatiannya lebih tercurah dalam hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan rumah, bekerja kembali untuk terus memberlangsungkan hidup seperti semula—yang juga diam-diam mempengaruhi psikologi anak. Selain anak-anak sendiri mengalami trauma, ditambah pula dengan kegelisahan-kegelisahan orang tua yang juga punya traumanya sendiri, sehingga hal tersebut mengimbas kepada anak.

Rekonstruksi dan rehabilitasi terhadap rumah—sebagai pusat tempat segala aktifitas, tempat sejarah dan memori, dan mimpi-mimpi dibangun—begitu menyita waktu dan tenaga para warga korban gempa sehingga seperti mengesampingkan anak-anak mereka. Meskipun sekarang anak-anak sudah memasuki “sekolah” seperti biasanya lagi, tetapi masih dibutuhkan kegiatan-kegiatan anak untuk mengisi waktu luang anak-anak korban gempa.

Hal inilah juga yang mendasari saya untuk menerima sebuah tawaran untuk menjadi PO dalam program respon paska gempa Teater Garasi, yang berhubungan dengan anak-anak (program respon paska gempa ini terbagi tiga; anak-anak, pemuda-pemudi, dan orangtua. Serta program lain yang berkaitan dengan gempa adalah Dicông Bak) beberapa waktu yang lalu. Menyadari kompetensi yang tidak dimiliki berkaitan dengan anak-anak, teman-teman di Teater Garasi termasuk saya, mengajak seniman atau kelompok lain yang memiliki kompetensi perihal anak-anak dalam program tersebut. Di sana; Jamaludin Latief , Verry Handayani, dan saya (kami—dari Teater Garasi), akhirnya bekerjasama dengan Papermoon (Ria, Anik, Ajik, dan Eta) membuat sebuah acara kegiatan anak yang bertujuan untuk menghibur anak-anak korban gempa. Juga kawan-kawan Teater Tangga yang pada masa tanggap darurat menjadi tim perubuh rumah terlibat pula dengan program ini.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 29-30 Juli 2006 di Pucung Growong dan tanggal 5-6 Agustus 2006 di Kepek. Bentuk aktivitas yang telah dilakukan adalah pertunjukan teater boneka Papermoon, workshop membuat boneka dari barang bekas, workshop membuat wayang kertas, dolanan anak atau games, dan diakhiri dengan makan burjo bersama. Meski sempat di Pucung Growong ada workshop yang memfasilitasi anak-anak untuk bermain drama, dan workshop bermain egrang. Berangkat dari kebutuhan yang kami temui di sana.

Anak-anak Pucung Growong belajar main drumband sambil menaiki egrang

Egrang sendiri sekarang menarik perhatian warga Pucung Growong, baik yang tua, muda, dan anak-anak. Mas Jamal (salah satu aktor Teater Garasi), yang memang punya konsen yang besar terhadap egrang (stilt walking) juga berniat mengembangkan kegiatan egrang ini secara personal. Ada kebutuhan membuat klub egrang di sana, yang kemudian melibatkan warga muda Pucung Growong. Dan dari Teater Garasi juga mempunyai program yang konsen terhadap pemuda-pemudi di tempat tersebut. Dan ada lagi, program yang konsen dengan ‘warga tua’ yaitu Anjang sana-anjang sini (semacam pertukaran pertunjukan kesenian tradisi antar kampung yang terkena gempa). Seperti saling berkait berkelindan. Kegiatan egrang anak ini kemudian dalam aktivitasnya melibatkan pemuda setempat. Jadilah kegiatan egrang anak yang dikoordinasi oleh pemuda di Pucung Growong tersebut. Mereka sudah beberapa kali pentas ke berbagai tempat di Jogja. Dengan difasilitatori Mas Jamal, pertunjukan egrang tersebut bentuknya tidak lagi seperti biasanya egrang dimainkan. Egrangnya tanpa pegangan tangan, lebih

tinggi, dan bisa  sambil bermain musik (drum band). Anak-anak senang, hal ini terlihat ketika mereka antusias pentas egrang sendiri tanpa ‘ditemani’ oleh fasilitator dari Teater Garasi.

Bicara tentang anak-anak, saya tidak bisa tidak untuk bercerita pertemuan saya dengan dua orang seniman perempuan yang punya konsen dalam wilayah tersebut; Maria Tri Sulistyani dan Anik Rusmawati. Mereka yang adalah awak Papermoon; a friend to learn, yang didirikan pada awal tahun 2006. Saya terlibat dengan mereka sebenarnya jauh sebelum gempa terjadi. Dimulai ketika saya menjadi aktris teater boneka Papermoon pada saat launching Papermoon awal tahun tersebut. Berlanjut sampai paska gempa,

saya sempat terlibat selama kurang lebih satu bulan pertama ketika Papermoon bekerja sama dengan Yayasan Seni Cemeti membuat program “Aku Oke” (recovery paska gempa), pendampingan anak korban gempa di daerah Bantul, yaitu Desa Sampangan dan Tegal Kebonagung. Dan juga ketika Papermoon   bekerjasama dengan Teater Garasi dalam program kegiatan anak respon paska gempa di Pucung Growong dan Kepek (yang saya ceritakan di atas). Sedikit tambahan cerita dari Ria tentang Papermoon paska gempa ini;

Panggung boneka, salah satu acara dalam program "Aku Oke"

Papermoon itu, dan orang-orang yang terlibat didalamnya adalah seniman-seniman muda yang punya background seni rupa dan seni pertunjukan, serta khususnya yang suka dengan anak-anak. Paska gempa ini, Papermoon menemukan bentuk yang lebih fokus: teater boneka. Selain bahwa teater boneka banyak diminati oleh anak-anak, pertunjukan teater boneka sendiri masih sedikit di Yogya. Ria (panggilan akrab Maria Tri Sulistyani), mengambilnya sebagai peluang dan strategi yang bisa dilakukan untuk menghibur anak-anak korban gempa. Meskipun, aktivitas-aktivitas yang ditawarkan oleh Papermoon tidak terbatas di situ saja, karena aktivitas program yang dilakukan Papermoon sebelum gempa masih tetap berjalan sampai saat ini, yang sebelumnya dilakukan di sekolah-sekolah, yaitu; melukis, workshop, perkusi, main drama dan art school. Hanya saja, saat ini Papermoon lebih ingin memantapkan langkahnya di teater boneka. Hubungannya dengan gempa, menurut Ria, ia akan melihatnya sambil jalan.

“Awalnya sih dari ingin mengenalkan teater boneka, dan sekarang tahap untuk survey ke sekolah-sekolah dan menawarkan teater boneka itu. Mungkin baru akhir tahun ini rencananya, mengembalikan lagi program Papermoon yang sempat kepending karena gempa.” Kata Ria.

Dari hasil amatannya ke beberapa anak, efek yang diterima anak-anak juga personal. Ria juga menceritakan bagaimana ia masih sering bertanya ke anak-anak tentang apa yang mereka rasakan. “Diam-diam, anak-anak melanjutkan sendiri tanpa Papermoon. Mereka bikin boneka, dan pentas sendiri. Ini sangat menyenangkan buatku, kepuasan yang tidak terukur, dan ini membuatku optimis untuk konsen sama apa yang aku lakukan selama ini, untuk anak-anak. Kalau bisa diukur, ini berhasil menghibur anak-anak, khususnya korban gempa. Anak-anak senang, bahkan minta untuk diajari main boneka lagi…”

Jambore Anak Merdeka dalam program Aku Oke

Meski sekarang, ketika saya menuangkan tulisan ini, saya sudah tidak terlibat aktif di Papermoon. Tetapi, dari sanalah awal mula saya terlibat dengan dunia anak-anak. Belajar mengenal mereka, memungkinkan bertemu, melalui aktivitas kesenian yang saya jalani. Baik dengan Papermoon ataupun bersama Teater Garasi, keterlibatan saya dalam program anak-anak korban gempa, cukup membekas dalam diri saya. Bisa menghibur anak korban gempa tersebut amat sangat berarti buat saya, senangnya bukan alang kepalang. Mengingat saya yang dulunya tidak suka dengan anak-anak. Mungkin agak terlalu personal dan sentimentil bagi saya, tapi memang demikianlah yang terjadi kepada saya.

Di lain tempat, masih berkaitan dengan anak-anak, saya juga bertemu dengan Gigon, salah seorang dari Anak Wayang Indonesia yang senior  (Anak Wayang Indonesia ini sudah tidak asing lagi di Jogja, yang mewadahi anak-anak kampung di wilayah perkotaan untuk beraktivitas dalam kesenian). Sampai saat ini AWI masih dipegang oleh Mas Jenggot Antariksa. Aktivitas Anak Wayang Indonesia paska gempa ini, adalah pendampingan anak-anak korban gempa.

Anak-anak AWI tersebut pentas keliling, dan mendirikan sebuah komunitas sendiri yang diberi nama: Komunitas Jangkar Bumi, ke delapan belas kampung. Di sana mereka membawakan satu rangkaian acara untuk menghibur anak-anak warga korban gempa. Saya sempat menonton salah satu pertunjukan mereka di salah satu kampung. Acara tersebut di dalamnya terdapat beberapa pertunjukan  yang dimainkan oleh anak-anak (AWI), yakni; perkusi, teater, baca puisi, pantomim, dan games. Acara dikemas menjadi satu tontonan dan dipandu oleh dua MC anak. Menurut Gigon, selaku pendamping anak-anak AWI yunior tersebut, memaparkan bahwa tidak ada perbedaan yang besar dalam pertunjukan AWI sebelum atau setelah gempa.

“Selama ini anak-anak juga pentasnya di kampung-kampung. Jadi nggak ada bedanya antara sebelum dan sesudah gempa, dari segi pertunjukan. Cuma, sekarang pentasnya berangkat dari cerita-cerita keseharian saja. Kalau dulu, ada isu-isu yang harus disampaikan dari pertunjukan. Sekarang enggak pakai…” Katanya.

“Tapi Mbak, yang paling berkesan saat ini adalah berkat gempa itu, anak-anak AWI yang senior dan yunior jadi kompak. Dulu enggak kayak gitu, ada jarak antara mereka. Dan melalui pentas paska gempa itu anak-anak jadi solid; bikin cerita bareng, rembugan bareng, ya jadi pertunjukan keliling itu untuk menghibur anak-anak korban gempa. Sekarang jadi ada diskusi-diskusi gitu. Dan ini hal yang positif ketika mereka saling ketemu, entah dalam ngobrol atau membuat proses pertunjukan bersama.” Imbuhnya di akhir percakapan kami.

Di samping bertemu mereka yang notabene adalah anak-anak muda, saya juga sempat bertemu dan bercakap-cakap dengan salah seorang seniman tua, seniman tradisi kethoprak yang sudah tidak asing lagi namanya.

Mas Bondan Nusantara, yang saya temui diakhir pertunjukan Kethoprak Forum Seniman Gumregah “Saijah & Adinda” di Sositet Taman Budaya Yogyakarta. Ia selaku penggagas konsep dan sutradara pertunjukan, adalah seorang seniman yang sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam kesenian tradisi tersebut. Penggiat di Forum Seniman Gumregah ini, menjelaskan bahwa Forun Seniman Gumregah adalah gerakan seni pertunjukan yang melibatkan seniman-seniman tradisi kethoprak yang namanya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Jogja, di antaranya adalah Susilo “Den Baguse Ngarso” Nugroho, Marwoto Kawer, Kirun, Yuningsih alias Yu Beruk, dan lain-lain. Diproduseri oleh Miroto (salah satu seniman tari Yogyakarta). Berikut ini sedikit cerita dari Mas Bondan mengenai kesenian tradisi paska gempa yang dilakukannya;

“Sebelum menjadi FSG ini, sebenarnya saya bersama-sama seniman tradisi yang lain sudah melakukan aksi tanggap darurat ke banyak tempat yang terkena gempa. Kemudian, pada tanggal 10 Juni 2006, kami para seniman tradisi itu berkumpul dan berpikir, seni tradisi; kita mau apa? Logistik sudah lewat, yang seterusnya mau apa? Ini sudah bukan yang fisik lagi menurut saya. Akhirnya kami survey ke warga, dan selanjutnya teman-teman sepakat untuk bersama-sama menjadi motivator sosial melalui kesenian. Ya mau apalagi? Karena memang kita ini seniman, berangkatnya ya dari kesenian. Membuat pertunjukan kesenian yang sifatnya bukan event, tapi gerakan, dan kontiniu.

“Selanjutnya yang dilakukan adalah kita melibatkan seniman-seniman tradisi di Bantul, Jogja, yang menjadi korban gempa untuk turut serta dalam kesenian yang akan kita pertunjukan untuk para warga korban gempa. Mempersatukan seniman-seniman ini memakan waktu kurang lebih 2 bulan. Ada 79 KK seniman yang terlibat, yang tersebar di mana-mana. Kami pentas hampir setiap hari, 79 kali selama 3 bulan paska gempa, pertunjukan dimulai dari pukul 20-22 WIB. Sebenarnya tidak terbatas pada pertunjukan saja, karena kadang-kadang juga para seniman tersebut menjadi fasilitator workshop kesenian tradisi kepada warga atau seniman lain.”

Seperti yang dikatakan Mas Bondan, melalui aksi ini diharapkan setidaknya dapat membantu memulihkan yang sifatnya non fisik. Trauma atau kegelisahan seniman korban gempa yang terlibat bisa berkurang dengan adanya aktivitas kesenian tersebut. Membangkitkan semangat untuk kembali berkesenian, dan karena ini kontiniu, hasil jerih payah dari pertunjukan bisa untuk terus memberlangsungkan hidup mereka sedikit demi sedikit menjadi seperti semula. Dan relasinya juga antar seniman yang terlibat, jadi mereka bisa saling menyemangati untuk bangkit kembali, dan pentasnya di kampung para seniman itu juga memudahkan untuk memotivasi masayarakat setempat yang terkena gempa untuk bersemangat kembali. Selain bahwa pertunjukan itu juga untuk menghibur warga korban gempa. Selama berjalan, Mas Bondan melihat tanggapan masyarakat juga positif terhadap kesenian tersebut.

Keterlibatan Mas Bondan dalam Forum Seniman Gumregah yang awalnya adalah keinginan Mas Miroto untuk mementaskan kembali “Saijah & Adinda” paska gempa ini, yang juga berpikir tentang bagaimana kaitannya dengan kesenian tradisi dan seniman-senimannya. Seperti gayung bersambut, FSG berjalan dengan segera, Mas Bondan tinggal membentuk format dan konsep pertunjukan yang tentu saja berbeda dari yang sebelumnya, yang oleh Mas Bondan baik cerita, pementasan, disesuaikan dengan situasi yang sedang terjadi di Jogja. Seniman-seniman tradisi korban gempa tadi dilibatkan dalam pertunjukan ini, baik sebagai penari, pemain, atau pengrawit, sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Kemudian pertunjukan ini juga menuai simpati dari para donatur yang ingin membantu para korban gempa.

“Apa yang saya bayangkan jadi terkabul, Mbak…”, kata Mas Bondan. Pertunjukan Kethoprak “Saijah & Adinda” ini dikelilingkan ke tiga kota; Solo, Yogya, Jakarta. Dan ketika ditanya, apa yang ditemui Mas Bondan paska gempa ini berkaitan dengan keseniannya? Ia menjawab singkat, “Menemukan “format baru”, bagaimana Kethoprak jadi lebih efisien, dan pragmatis”. Dengan kata lain Mas Bondan menjelaskan bahwa bentuk pertunjukan Kethoprak sendiri berubah, tidak lagi memakai pakem-pakem yang biasanya harus ada. Jadi lebih sederhana, minimalis, menyesuaikan tempat di mana ia akan diberlangsungkan. Musik klothekan, set dengan latar reruntuhan rumah warga korban gempa, juga tidak masalah.

Selain kesibukannya dengan seniman-seniman tradisi dan gerakan kesenian Forum Seniman Gumregah selama paska gempa, ia juga memfasilitasi aktivitas buat anak-anak di dekat rumahnya. Dengan mendirikan “Pondok Baca” buat anak-anak.

Di sanalah anak-anak sekitar tempat tinggalnya di kasongan, berkumpul. Meskipun tidak mesti Mas Bondan sempat meluangkan waktunya untuk menemani anak-anak tersebut, tetapi ia membuka dengan senang hati buat para relawan yang bertandang ke Pondok anak itu untuk memfasilitasi anak-anak di sana. Seiring berjalannya waktu, hingga saat ini, aktifitas anak-anak tetap berlangsung, dengan fasilitator yang berganti-ganti. Kerap Pondok Baca dikunjungi oleh mahasiswa-mahasiswi yang meluangkan waktu dan tenaganya untuk menemani anak-anak bermain dan belajar.

Ini sangat menyentuh bagi Mas Bondan, karena dengan aktivitas itu harapannya anak-anak yang mengalami trauma gempa dapat terhibur. Sekaligus ia bisa memfasilitasi seniman-seniman korban gempa yang mempunyai kompetensi di bidang tertentu untuk menjadi fasilitator buat anak-anak. Workshop kesenian tradisi Jathilan buat anak-anak, misalnya. Inilah salah satu yang dapat ia berikan buat anak-anak korban gempa, sebagai bentuk kepeduliannya atas apa yang terjadi di lingkungannya, khususnya anak-anak.

Kemudian, di akhir percakapan kami, Mas Bondan juga sempat menyebutkan seniman-seniman yang melakukan aksi serupa dalam kesenian berkenaan dengan gempa yang terjadi di Jogja, yang juga keliling dari kampung ke kampung. Memang agak sulit terdeteksi, mengingat tidak ada publikasi dalam aksi-aksi para seniman ini.

Terakhir dalam ingatan saya ketika menuliskan pengalaman saya bersama gempa ini,  membuat saya melihat kembali, menghayati kembali apa yang telah terjadi dan teralami. Memang kemudian, bicara tentang Jogja, bicara tentang bencana gempa, tidak mungkin tidak untuk begitu saja meniadakan hal-hal di sekelilingnya. Aktivitas masyarakat yang melingkupinya. Apalagi Jogja dikenal sebagai kota budaya, yang bisa langsung merujuk ke hal yang lebih spesifik pada kesenian atau seniman di Jogja paska gempa. Pertemuan-pertemuan saya dengan seniman-seniman Jogja paska gempa dan melihat aktivitas-aktivitas kesenian yang berlangsung, membuat saya bertambah percaya bahwa kesenian berhubungan erat dengan lingkungannya. Terlintas dalam kepala saya, bahwa ini juga adalah salah satu bentuk peduli kita pada sesama; respon gempa melalui kesenian (: dan kesenian juga bisa dilihat sebagai praksis sosial). Semoga ini bukan hanya ‘trend’ yang biasanya melanda di kota-kota yang terkena bencana. Juga bukan tempat untuk ajang ”wisatawan” gempa.

Sekalipun bencana, semoga ia tetap mengajari kita untuk menjadi lebih bijaksana. Kukuh Bakuh. Semoga tak ada yang benar-benar runtuh.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 02, November 2006-Maret 2007)