Oleh : Franz Surya*

Politik sebagai Inspirasi. Ayo Membaca Buku(ku)!

Hangatnya udara politik tahun 2009 membuat pertanyaan seputar Presiden semakin gayeng. Bagi yang agak hobi baca koran, baca buku-buku politik, atau nonton acara tivi yang berbau politik, pertanyaannya mungkin akan lebih beragam; misalnya bagaimana cara mempercayai calon presiden. Atau, bagaimana cara mempercayai kata-kata makelar calon presiden itu. Di tengah ramainya perbincangan tentang capres ini, Butet Kartaredjasa mementaskan Presiden Guyonan. Ada apa di balik pementasan ini?

Presiden Guyonan adalah judul buku karangan Butet Kartaredjasa, berisi kumpulan tulisannya dalam kolom mingguan di koran Suara Merdeka. Buku itu mengetengahkan tokoh sentral bernama Mas Celathu. Celathu kurang lebih memiliki makna sama dengan nylekop dalam bahasa Jawa, atau tukang komentar dalam bahasa Indonesia. Dari nama tokoh utamanya tersebut sudah bisa dibayangkan bahwa kisah-kisah yang tampil di dalam buku tersebut adalah segala ucapan, tindakan, sikap maupun gerak-gerik Mas Celathu terhadap masalah perpolitikan Indonesia. Terlebih perihal suksesi pucuk kepemimpinan nasional, Capres dan Cawapres.

Pada 27 Januari 2009 lalu Presiden Guyonan dibawa ke atas panggung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Ide Butet untuk mementaskan isi bukunya ke dalam pertunjukan teatrikal memang tepat. Bukan semata dalam kaitannya dengan strategi pemasaran tetapi terlebih dalam upayanya untuk mengajak masyarakat (terutama yang sudah hobi membaca) untuk setidaknya melakukan renungan atas situasi politik Indonesia kini. Sebuah ajakan yang tidak bertendensi untuk menyebarluaskan virus patah hati, bingung apalagi frustasi akibat terlampau serius memikirkan dinamika politik Indonesia yang isuk dhele sore tempe.

Pentas (dan) Parodi Politik

Pentas dimulai dengan sajian musikal yang renyah kemriuk dari Orkes Kroncong Sinten Remen. Duet Jadug Ferianto dan Dibyo Klomoh memberi introduksi dengan banyolan-banyolan empuk merangsang ledakan tawa penonton yang nyaris memenuhi ruang pertunjukan.

Menjelang pembacaan cuplikan kisah dari buku tersebut─masih dalam sajian Orkes Sinten Remen─ditampilkan sosok penyanyi Rap/Hip-Hop dalam bahasa Jawa. Sajian Rap/Hip-Hop Jawa ini menampilkan syair-syair plesetan yang mengaduk tawa seluruh penonton. Meski sesungguhnya tidak begitu jelas kaitan penampilan Rap/Hip-Hop Jawa itu dengan keseluruhan tujuan pentas tapi kehadirannya jelas menyegarkan.

Menuju selesainya Rap/Hip-Hop Jawa dari panggung dipanggillah pembaca kisah Mas Celathu yang pertama: Whani Darmawan. Dua judul kisah Mas Celathu dituturkan oleh Whani Darmawan diselingi gojegan kentut-kentutan dengan Jadug dan Dibyo Klomoh. Pembacaan Whani Darmawan ini cukup membuka referensi penonton akan karakter dari Mas Celathu selanjutnya.

Lepas pembacaan tahap pertama tampil dua pelawak Jogja yaitu Wisben dan Jonet Tipis. Keduanya ditampilkan sebagai parodi dua tokoh politik Indonesia yang juga akan meramaikan bursa pemilihan presiden bulan Juli mendatang. Wisben dipermak menuju penampilan Capres Prabowo Subianto sedangkan Jonet Tipis dikupas habis menjadi Capres Wiranto. Tentu saja nama yang dipakai oleh kedua pelawak tersebut juga diplesetkan. Wisben menggunakan nama Pragowok sedang Jonet Tipis memilih Wirangto. Tampil dalam durasi yang lumayan panjang, persaingan politik Pragowok dengan Wirangto mampu menciptakan ledakan serta gemuruh tawa seluruh penonton.

Duet Wisben dan Jonet Tipis sekaligus menjadi penyambung untuk pembacaan kisah Mas Celathu tahap kedua. Adapun sebagai pembaca kedua ditampilkan artis film dan pesinetron Happy Salma. Secara artistik teknis pembacaan Happy Salma sesungguhnya terbilang bagus, hanya saja karena banyaknya istilah-istilah berbahasa Jawa dalam kisah-kisah Mas Celathu membuat pelafalan Happy tidak sempurna.

Plesetan dan Monolog. Politik dan Pentas Seni

Di kisaran tiga perempat durasi total pentas baca buku ini hadir kembali Wisben dan Jonet Tipis. Sejurus kemudian banyolan mereka berdua diramaikan dengan tambahan hadirnya pelawak Gareng Rakasiwi yang tampil menjadi parodi Megawati. Plesetan atau parodi politik ini nampaknya memang diplot untuk mengalami klimaksi pada sesi ini.

Di sesi ketiga Butet Kertaredjasa sendiri tampil sebagai pembaca kisah. Jumlah kisah dibacakannya lebih banyak dibandingkan pembaca-pembaca sebelumnya. Tentu saja ini penting, karena pentas ini bukan semata ajakan kepada masyarakat untuk gemar membaca buku namun juga karena sebagai penulis, Butet adalah orang yang paling mengerti bagaimana dan seperti apa karakter Mas Celathu tersebut.

*****

Sebagai kisah tentang orang biasa, warga negara biasa yang bukan politisi, bukan pengamat politik dari universitas terkenal dan bukan sedang menjadi caleg, figur Mas Celathu digambarkan sebagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya. Sosok yang jadi girang ketika bicara masalah politik semenjak era reformasi; pribadi yang jadi punya waktu untuk ikut mikir perpolitikan Indonesia berkat serangan informasi media massa. Tapi sesungguhnya Mas Celathu adalah juga orang yang jadi bingung dengan situasi politik Indonesia sejak terjadinya era reformasi; pribadi yang nyaris stress dan frustasi karena dibanjiri simpang siur informasi politik oleh media massa. Lalu kalau demikian halnya, di manakah letak perbedaanya Mas Celathu dengan kita? Aahh… ini kan cuma sebuah upaya mewakili grenengan saja. Salam!!!

*Franz Surya adalah penyiar Radio Hilversum Madjapahit dan reporter Voice of Madjapahit

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

Advertisements

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Butet Kertaredjasa, aktor senior Jogja, semakin menancapkan kuku-kukunya di pentas pertunjukan monolog nasional. Kali ini ia membawakan naskah Agus Noor, Matinya Toekang Kritik. Dan seperti pementasan-pementasan sebelumnya kembali Butet mengkritik penguasa, namun tidak seperti biasanya, kali ini Butet juga mengkritik para pengkritik.

Dalam pertunjukan yang dilangsungkan di Concert Hall Taman Budaya Jogja, 11 dan 12 Februari 2006 yang lalu. Butet berperan sebagai Raden Mas Suhikayatno, yang dengan gayanya yang kocak berhasil mengocok perut penonton yang memadati gedung pertunjukan. Raden Mas Suhikayatno digambarkan sebagai tukang kritik nomor wahid, segala yang ada di depan matanya ia kritik, mulai dari masalah politik hingga masalah takaran gula dalam wedang teh. Saking gemarnya mengkritik, sehari saja tidak ada kritik yang terlontar dari mulutnya maka badannya akan terasa pegal-pegal.

Cerita dimulai di tahun 1998, Raden Mas Suhikayatno yang sudah hidup dari jaman Yunani digambarkan sudah mulai menua. Ketika semakin tua, ia semakin yakin kalau kritik-kritiknya itu tak pernah didengarkan oleh orang-orang yang ia kritik. Ia mulai ribut mencari surat yang telah lama ditunggu-tunggunya, surat penghargaan bagi dirinya sebagai pengkritik kelas wahid.

Raden Mas Suhikayatno tidak mau menjadi pejabat, raja, presiden, atau pemimpin, ia konsisten untuk berada di luar sistem untuk menjadi pengkritik sejati. Tapi ia digambarkan tidak mau menerima kritikan. Bambang, pembantu Raden Mas Suhikayatno (juga diperankan oleh Butet), harus selalu memuji dan membenarkan setiap tindakan dan ucapan “juragannya”.

Ketika jaman makin teratur, R.M. Suhikayatno semakin kehilangan fungsinya karena tak ada lagi yang perlu dikritik. Bahkan takaran gula dalam wedang teh pun selalu pas dengan keinginan peminumnya, semua sesuai dengan norma, semuanya pas, semuanya sudah dikuasai teknologi yang sangat patuh pada teknis-teknis peraturan. R.M. Suhikayatno makin terpinggirkan, ia makin putus asa berharap ada kekacauan, ada ketidakaturan yang bisa ia kritik. Tapi itu tak pernah terjadi.

Akhirnya ia digambarkan makin kehilangan daya, dan meninggal di tahun 3005 di mana sudah tak ada kritik lagi. Tepat setelah ia meninggal, datanglah surat yang ditunggu-tunggunya selama ini, dibawakan oleh Bambang yang sudah berwujud robot.

Kedekatan penonton pada R.M. Suhikayatno juga dibangun melalui buku pertunjukan, dengan sampul wajah R.M. Suhikayatno dengan topi khas Che Guevara (tokoh revolusioner Amerika Latin), dengan tulisan “Mengenang 1000 Abad Wafatnya R.M. Suhikayatno”. Isi di dalam buku pertunjukan mirip iklan duka cita di suratkabar, profil para pendukung pertunjukan menunjukkan kedekatan mereka dengan R.M. Suhikayatno. Para penonton seakan-akan dibuat percaya bahwa tokoh R.M. Suhikayatno benar-benar ada.

Kesan bahwa R.M. Suhikayatno benar-benar nyata, juga dihadirkan dengan tampilan visual yang menggambarkan persentuhan R.M. Suhikayatno dengan tokoh-tokoh sejarah, mulai dari Gadjah Mada, Sultan Agung, Soekarno, hingga berita-berita di suratkabar tentang dirinya.

Butet Kertaredjasa tampil dengan gaya khasnya, berbagai lelucon segar dan komedi-komedi satir ia lontarkan sepanjang pementasan. Pementasan menjadi begitu cair dan spontan, tanpa harus kehilangan alur ceritanya. Seringkali ia menertawakan (mengkritik?) penguasa, militer, bahkan para penonton sendiri Cairnya pertunjukan nampak ketika di tengah pertunjukan hari pertama, ketika mikrofon clip-on yang dikenakan Butet mati, Butet terpaksa harus mengandalkan vokalnya sendiri. Ketika sudah kehabisan suara,  Butet mendekat ke bibir panggung dengan gaya khas Raden Mas Suhikayatno, Djaduk Ferianto yang menjadi penata musik dipaksanya untuk membetulkan mikrofon.

Nama besar Butet merupakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat, dalam dua hari pertunjukan gedung concert hall selalu penuh. Meski harga tiket yang ditawarkan tidak termasuk murah untuk kelas Jogja (Rp 50.000,00 untuk VIP dan Rp 20.000 untuk lesehan) tapi ternyata tiket sudah habis sebelum hari pertunjukan, sehingga calon penonton yang datang pada saat pertunjukan harus membeli tiket dari tangan calo, dengan harga hampir dua kali lipat.

Pementasan di Jogja merupakan yang kedua, setelah sebelumnya dipentaskan di Jakarta. Setelah Jogja, Matinya Toekang Kritik akan dipentaskan di Surabaya, dan rencananya beberapa kota lain di Jawa dan luar Jawa. Pertunjukan monolog ini sendiri merupakan yang pertama bagi Butet dalam beberapa tahun terakhir, setelah Butet banyak disibukkan dengan program-program televisi dan syuting film. Dalam pertunjukan ini Butet sepertinya tak ingin terjebak pada stereotipe pertunjukan monolog yang mem-parodi-kan penguasa yang selama ini kerap ditirukannya dalam berbagai kesempatan pertunjukan monolog sebelumnya.

Dalam pertunjukan ini Butet bekerja sama dengan orang-orang yang sering membantunya dalam pertunjukan monolognya yang sebelumnya. Sebagian adalah bekas anggota kelompok teater Dinasti dan Gandrik, di mana Butet pernah aktif di dalamnya. Nama-nama seperti Whani Dharmawan yang menjadi sutradara, Djaduk Ferianto yang menjadi penata musik,  Ong Harry Wahyu sebagai penata artistik, dan Agus Noor sang penulis naskah merupakan orang-orang yang kerap kali terlibat bekerja dengan Butet.

Seperti ditulis oleh Ruwat Wicaksono Adi di buku pertunjukan, Butet dan orang-orang di atas sudah sejak pertengahan tahun 1990-an berproses bersama dalam bidang kesenian. Komunitas ini kini menempati Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo sebagai markas, dan produk komunitas ini tak hanya pertunjukan monolog Butet tapi juga pertunjukan tari, kelompok musik Kua Etnika, dan pertunjukan teater.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 01, Mei-Oktober 2006)

*****

Matinya Toekang Kritik

Pemimpin Produksi: Yusnianto Ali — Pelaksana Produksi: Sonny Suprapto — Penulis Naskah    : Agus Noor — Sutradara: Whani Dharmawan — Pemain: Butet Kertaredjasa — Penata Musik: Djaduk Ferianto — Penata Artistik: Ong Harry Wahyu — Penata Cahaya: Ign. Sugiarto — Pengolah Multimedia: Jompet — Pimpinan Panggung: Novindra Diratara

Komentar Penonton

Wahh, pengin lihat Butet soalnya mesti lucu. Tadi kan kelihatan, meski ada seriusnya Butet tetap bisa kocak. (Budi)

Asyik pertunjukannya. Tapi kok rasanya lama banget, mungkin karena biasanya Butet melucu terus, rasanya jadi cepet. Kalau serius rasanya jadi lama sekali. Tapi bagus, serius dan lucu juga. (Nuki)

Monolognya seperti biasa. Tapi ada hal-hal yang baru juga, seperti video di belakang panggung, terus Butet mainkan dua peran dalam waktu yang bersamaan. Kelihatannya jarang ada aktor yang bisa main seperti itu. (Anto)

Beda banget sama Butet yang di TV, lebih lucu kalau lihat langsung seperti tadi. (Arni)