March 2009


Oleh: Mohamad Nur Qomaruddin*

Sebuah drum digantung di sisi kiri panggung, layar putih terbentang di bagian belakang panggung, dan terdengar percakapan tentara yang berkomunikasi lewat radio transmisi. Beberapa saat kemudian seseorang dengan tubuh berbalut perban muncul, berjalan melewati penonton. Sekujur tubuh dan rambutnya dicat putih. Kakinya beralaskan bakiak. Ia berjalan pelan, sesekali memperhatikan penonton, lalu mengangkat salah satu kaki, diarahkan ke penonton. Ia melepas sepatu beberapa penonton, lalu dibawa menuju panggung. Perlahan ia berjalan ke arah sisi  kiri depan panggung, menuju drum yang telah dipotong bagian tengahnya─terbagi menjadi dua. Lalu ia masuk ke dalam drum. Cahaya lampu dan suara-suara perlahan fade out. Di layar muncul video tentara Amerika bersenda gurau saat mengawasi sebuah mobil yang hendak mereka tembak dari udara, juga beberapa slide foto-foto korban perang.

Lampu menyala menyoroti drum yang dipukul-pukul keras dari dalam. Lalu seseorang itu keluar dengan kepala terbungkus kerudung transparan berwarna merah. Kemudian ia duduk di dekat drum, dan memukul drum hingga potongan bagian atas berayun ke segala arah. Tubuhnya pun bergerak mengikuti gerak drum, terkadang menghindar jika drum akan mengenai kepalanya. Kemudian ia mengambil bagian bawah drum, diangkatnya di atas kepala, lalu berjalan  ke arah belakang panggung. Ditaruhnya potongan drum itu di bagian tengah panggung. Beberapa kali ia mengangkat dan menjatuhkan potongan drum itu ke lantai, sehingga menimbulkan bunyi ledakan yang mengagetkan.

Ia melakukan head stand di atas potongan drum, sementara pada layar video burung-burung terbang bertabrakan dengan siluet tubuhnya. Di atas drum itu ia melakukan beberapa gerakan, menggeliat dan terkadang berpose. Sebentar kemudian ia  kembali berjalan ke arah penonton mengambil beberapa sepatu dari penonton, mencoba, dan mematut-matutnya. Ia memilih sepatu kulit berwarna hitam untuk dipakai, lalu kembali berjalan ke arah drum yang berada di tengah panggung. Ia berdiri di atasnya, melepas sepatunya dan kembali menggeliat di atas drum itu.

Kemudian ia mengenakan baju kebaya dan mengambil sebuah helm tentara. Video kembali menyala, dan kali ini gambar bendera Israel berkibar. Ia memberi hormat ala Hitler. Setelahnya, perlahan ia mengamati helm, menyentuh, menginjak, dan bergerak merespon helm itu. Ia berjalan kembali ke arah drum yang tergantung, masuk ke dalamnya, menggeliat, lalu diam.

Adegan-adegan di atas dimainkan oleh Tony Broer dalam pertunjukan teater tubuh berjudul Tubuh Sepatu Kulit, di Studio Teater Garasi pada tanggal 7 Februari 2009. Malam itu 250 penonton berdesakan, bahkan banyak yang rela berdiri karena tak mendapatkan tempat duduk. Pertunjukan yang berlangsung sekitar satu jam itu tak membuat penonton beranjak pergi.

Eksplorasi tubuh dalam pertunjukan ini berangkat dari spirit butoh dan metode Gekidan Kaitasha (sebuah kelompok teater tubuh dari Jepang). Imaji tubuh berjalan, tubuh mencari, tubuh masa lalu, tubuh sepatu kulit, tubuh waspada, tubuh api, tubuh protes, tubuh penonton, dan tubuh kupu-kupu; begitulah Tony menyusun fragmen pertunjukannya. Ia bergerak dengan stamina yang konstan dan stabil, tanpa menggunakan bahasa verbal sama sekali. Batas ruang antara penonton dan penyaji kadang ditabraknya, sesekali ia mengajak penonton berinteraksi.

Tony Broer menggunakan tubuh, video, cahaya, properti, dan musik untuk mengartikulasikan perang. Perang antara yang kalah dan yang menang, antara kehidupan dan kematian, demi sebuah kebenaran. Perang yang tak menakutkan lagi dalam bingkai layar televisi, yang dengan enak ditonton sembari makan bersama keluarga. Pada catatannya dalam booklet pertunjukan, ia mencoba untuk tidak menunjuk siapa yang salah atau benar. Baik di pihak menang maupun kalah, dalam perang yang menjadi korban adalah masyarakat sipil, terutama wanita dan anak-anak.

Tahun 2007 Tony Broer pernah menyutradarai dan bermain teater dengan tema yang sama, bersama mahasiwa STSI Bandung. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini ia bermain sendiri. Setelah pertunjukan usai, sempat diadakan diskusi. Ia menjelaskan bahwa penonton bebas memaknai apa yang ia sajikan. ”Anda baru diambil sepatunya, mereka di Palestina sana diambil nyawanya,” begitu Tony menjawab kenapa ia mengambil sepatu penonton.

Pertunjukan teater tubuh menuntut penonton untuk mencermati, meneliti, mengkait-kaitkan hal-hal yang tersaji di panggung. Akan tetapi, kadang kita cukup menikmati dengan rileks untuk menemukan dan memungut impresi atau lebih jauhnya maksud dari pertunjukan.

* Mohamad Nur Qomaruddin, aktor Teater Tangga, alumni Aktor Studio 2006

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)


*****

Tentang Tony Broer

Ia lahir di Jakarta 43 tahun yang lalu, bergabung dengan Teater Payung Hitam sejak 1988. Tahun 1991 Tony menyelesaikan studi D3 Keaktoran di ASTI Bandung.  Pada  tahun 2001 ia lulus S1 bidang Penyutradaraan di STSI Bandung dan sejak tahun 2005 mengajar dasar olah tubuh di sana. Sekarang ia sedang menyelesaikan studi S2 di Pasca Sarjana ISI Yogyakarta bidang Penciptaan Teater.

Sejak tahun 1997 Tony telah bekerjasama dengan berbagai kolompok seni dari luar negeri baik sebagai aktor maupun fasilitator workshop. Tahun 2002-2003 ia pernah mendapatkan beasiswa untuk belajar di Jepang. Ia belajar Noh dari Shimada Sensei dan butoh Yoshito Sensei (anak Kazuo Ohno).

Tim Kerja

Manajer Produksi: Nokiro Kumoro/ Penata Artistik: Eko Sulkan/ Penata Lampu: Yadi Mulyadi/ Penata kostum & Make Up: Dhani Brain/ Audio Visual: Indra Ardiyanto/ Stage Manajer: Bahrul Ulum/ Stage Crew: Andika UPN, Jamal Abdul Naseer

Komentar Penonton

Stamina aktornya sangat bagus, dalam pertunjukan semacam ini, sepertinya butuh kejutan-kejutan yang membuat penonton tidak bosan mengikuti keseluruhan pertunjukan. (Totok, dari teater SUA)

Meskipun ada bantuan video, kostum, dan properti, tapi terkadang saya masih bingung dengan gerakan-gerakan tubuhnya, dan nggak semuanya dapat ditangkap maksudnya. (Brekele, Mahasiswa HI UMY, Aktif di Teater Tangga)

Gerakannya bagus-bagus, tapi aku nggak sepenuhnya ngerti. (Agung Supriyanto, Fotografer)

Rasanya saya seperti sedang demonstrasi di jalan, dan melihat Happening Art. (Ari ”Inyong” Dwianto, Sutradara Bengkel Mime Theatre)

Oleh: Dhinar Aryo Wicaksono*

Peranku adalah Suparto, seorang pelancong yang tersesat di sebuah kota. Ini debut pertamaku bermain teater. Ia adalah seorang tokoh dalam pertunjukan berjudul “Celah, Perjalanan Seorang Pelancong” produksi Teater Tangga. Pertunjukan ini dimainkan di tiga kota yaitu Semarang, Solo, dan Jogja pada bulan November 2008 lalu. Aku belum mengenal teater sebelumnya, entah karena dorongan apa dan dari siapa, aku mengikuti proses ini dari awal penggarapan hingga pementasan berlangsung.

Bermain teater itu ternyata membuat nervous, grogi, kaku, dan banyak perasaan sensasional lain saat menghadapi penonton. Campur aduk.

Proses produksi “Celah, Perjalanan Seorang Pelancong” dimulai dari bulan Februari 2008, berangkat dari keinginan teman-teman untuk membuat sebuah pementasan. Pada awalnya dipilih naskah “Senja Dengan Dua Kelelawar” karya Kirdjomulyo. Akan tetapi di tengah proses penggarapan yaitu saat pembahasan naskah, kami merasa tidak sreg pada bahasa naskahnya yang agak kaku (meskipun sutradara membebaskan cara kami mengucapkan teksnya). Akhirnya kami memutuskan untuk mengganti naskah. Selain itu, beberapa aktor mengundurkan diri sehingga kami kekurangan pemain.

Penggantian naskah tidak serta merta membuat kami meninggalkan naskah lama. Sebelum diputuskan untuk membuat naskah baru, sutradara—M. Qomaruddin—mewajibkan para aktor untuk melakukan pengamatan di stasiun berdasar karakter tokoh-tokoh dalam naskah “Senja Dengan Dua Kelalawar”. Hasil pengamatan itu kemudian dituliskan atau diceritakan dalam bentuk monolog. Pada awalnya aku sempat bingung dalam melakukan pengamatan, tapi kulakukan saja tanpa banyak berpikir. Tidak hanya ke stasiun, kami juga sempat pergi ke pasar. Dengan bekal pengetahuan yang sedikit, kucoba menuliskannya. Lewat beberapa kali pengamatan dan diskusi yang membingungkan, akhirnya aku berhasil menuliskan ceritaku.

Setelah semua tulisan terkumpul, kami menunjuk empat orang untuk menjadi tim naskah yang bertugas merangkai monolog-monolog itu menjadi sebuah naskah ensamble. Mereka adalah Nur ”Brek” Kholis, Septian, M Reza, Rifqi MM. Melalui diskusi dan perdebatan selama satu setengah minggu, akhirnya naskah selesai dikerjakan meski masih mengalami proses pengeditan.

Casting kembali dilakukan. Pada saat presentasi awal—yang dilakukan sambil berbuka puasa bersama di Kampus UMY—satu orang aktor mengundurkan diri sehingga naskah tidak bisa dipentaskan secara utuh. Aku merasa ada yang kurang optimal dalam permainan karena persiapan yang kurang matang. Aku belum merasa puas.

Sehabis lebaran, kami kembali berkumpul. Kami menambah beberapa pemain dan kru artistik. Pemain bertambah menjadi duabelas orang, delapan laki-laki dan empat perempuan. Rasanya seperti mulai dari awal lagi. Pada awal pertemuan seluruh tim, sutradara kembali mencoba menjelaskan konsep dan cerita yang ada dalam naskah. Kemudian jadwal latihan mulai dibicarakan. Latihan dibagi menjadi dua sesi: sore dan malam. Sore untuk latihan dasar, malamnya berlatih akting dan baca naskah. Masuknya pemain baru ternyata merubah irama permainan, kami harus beradaptasi lagi dengan mereka. Ini bukan perkara mudah, apalagi adegan sering berubah-ubah, menjadi agak sulit mengingatnya.

Hari berganti hari seiring dengan lika-liku proses kreatif kami. Hari H pementasan pun sudah mulai dekat, tapi beberapa hal teknis pertunjukan belum selesai. Semua yang terlibat proses sudah mulai menyibukkan diri dengan kerja masing-masing. Detik-detik menegangkan akan datang. Pementasan segera dimulai.

Perjalanan mengenali Proses ber-Teater

Yang Membosankan

Pada minggu-minggu awal bergabung di Teater Tangga, aku dan teman-teman menjalani latihan rutin: olah tubuh, vokal, rasa, dan lain sebagainya. Terkadang kami hanya diskusi ngalor ngidul, atau menonton pementasan kelompok lain, tapi kami lebih sering latihan. Meskipun telah ditegaskan berulang-ulang bahwa latihan adalah bagian dari proses, tapi hal itu sering membuatku bosan dan nggak semangat. Ditambah lagi ketika mulai ada naskah, kami harus membaca, menghafal, dan berdiskusi. Sungguh sangat melelahkan. Ketidakhadiran salah satu pemain juga membuat latihan jadi kurang bersemangat. Awal yang membingungkan, aku belum tahu apa yang musti aku lakukan. Akhirnya aku hanya mengikuti ke mana air mengalir.

Yang Mengasyikkan

Meskipun hanya empat orang pemain—ditemani sutradara, penata kostum, dan penata artistik—kami mengawali penjelajahan ke stasiun. Siang itu hujan, kami berangkat dari sanggar naik bus menuju Malioboro. Tempat awal yang kami tuju adalah pasar Beringharjo. Agak lama kami berada di sana hingga hujan tinggal gerimis saja. Sebelumnya aku tak pernah benar-benar mengamati orang-orang di sana. Ini menyenangkan, selain refreshing aku juga dapat pengalaman baru. Perjalanan dilanjutkan ke stasiun Tugu hingga petang dan akhirnya kami pulang.

Setelah pengamatan bersama, kami mendiskusikan hasil amatan, dan menyimpulkan apa saja yang kami temui. Beberapa hari kemudian kami masih menyempatkan diri beberapa kali pergi ke stasiun Lempuyangan dan Tugu, bersama semua pemain. Terkadang kami pergi ke stasiun sendiri-sendiri, siang atau malam Aku sempat beberapa kali ngobrol dengan orang-orang yang ada di sana, untuk mencari hal-hal yang berkaitan dengan peranku. Selain observasi langsung, kami juga beberapa kali menonton film untuk menambah referensi.

Kami kembali berlatih, beberapa kali masih sempat kembali ke kedua stasiun itu. Hingga, pentas pertama (presentasi awal) pun digelar.

Pentas Bagian Kedua

Bergabungnya pemain-pemain baru membuatku semakin bersemangat, sekaligus membuatku bingung berinteraksi dengan permainan. Aku pun sering menemukan kebuntuan saat latihan. Meskipun beberapa kali kami menggunakan metode latihan improvisasi, tapi belum juga  merasa pas dalam bermain. Suasana permainan menjadi semakin tidak karuan. Lalu kami memutuskan untuk kembali ke lapangan untuk kembali melakukan pengamatan.

Beberapa minggu sebelum pementasan, kami melakukan latihan di stasiun. Awalnya di stasiun Tugu. Ketika babak pertama baru berjalan beberapa menit, seorang teman yang berperan sebagai orang gila ditangkap satpam. Dan di akhir babak itu, beberapa orang satpam berlari ke arah kami yang sedang melakukan adegan pertengkaran. Akhirnya kami pun diusir, lalu pergi ke stasiun Lempuyangan. Di sana kondisinya tak jauh berbeda dan tidak memungkinkan kami untuk melakukan latihan. Akhirnya kami pulang.

Dari latihan di stasiun, juga percakapan dengan orang-orang yang ada di sana, kebingunganku dalam bermain selama ini sedikit terjelaskan. Ada suasana yang berbeda di sana. Suasana yang seharusnya kuhadirkan di atas panggung. Selain itu aku jadi punya pengalaman menulis. Barangkali aku tak akan menuliskan ceritaku jika aku tidak duduk dan ngobrol dengan orang-orang di stasiun.

Hasilnya

Adalah sebuah cerita tentang kehidupan orang-orang jaman sekarang. Mereka selalu memikirkan keuntungan dirinya sendiri tanpa melihat keadaan sekitar. Aku berperan sebagai orang desa yang sedang jalan-jalan ke kota, dan terjebak dalam sebuah situasi yang mengantarkannya pada peristiwa-peristiwa aneh yang belum pernah ia ditemui sebelumnya.

Di Semarang kami pentas di dua tempat dan mendapat respon yang berbeda, ada yang senang dan ada yang tidak. Begitu pula di Solo dan Jogja. Tapi mungkin begitulah kesenian, relatif. Pertemuan dengan penonton juga memberi pengaruh dalam permainan −dalam setiap pertunjukan rasanya selalu beda.

Kami masing-masing (di Teater Tangga) punya latar belakang yang berbeda, dan mencoba berinteraksi dalam sebuah tujuan yaitu menjalani proses kreatif dalam teater.

Akhir kata, dalam “Celah, Perjalanan Seorang Pelancong” banyak hal yang aku rasakan. Dari bosen, males, reading yang menjengkelkan, hingga badan pegal-pegal. Tapi beberapa point dalam pengalamanku bermain teater telah kutandai. Mengalami atau setidaknya berada dalam suasana stasiun membuatku sedikit tahu tentang bagaimana harus bermain dalam peranku, meskipun kurang sempurna. Yah, karena sempurna hanya milik Tuhan semata.

* Dhinar Aryo Wicaksono (aktor & ketua Teater Tangga 2008/2010)

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

Oleh: Resyifa L.*

“Pekerjaan tersulit di bumi adalah salesman!” demikian Teater Toedjoeh membuat pernyataan dalam pementasan Bukan Mesin! di panggung yang disoroti lampu monokrom. Pentas dibuka dengan percakapan negosiasi antara seorang salesman tua bernama Selo dan Jenny, manajernya yang pilih kasih. Selo meminta buku petunjuk penjualan yang berisi daftar informasi orang-orang yang potensial untuk menjadi pembeli. Mereka hadir di panggung bagian paling depan duduk di kursi, di hadapannya segelas jus dan secangkir minuman terhidang di atas meja layaknya sedang istirahat siang di kantin. Negosiasi yang alot disertai sogokan seolah menunjukkan betapa mencari uang dengan berbagai cara, halal ataupun tidak halal, adalah tidak mudah.

Pementasan “Bukan Mesin!” diadaptasi dari naskah teater Glengarry Glen Ross karya David Mamet. Pertunjukan ini mengisahkan kepelikan dunia bisnis properti dengan latar kota Yogyakarta, dimana kapitalisme memberi jalan lapang bagi mereka yang bermodal kuat untuk menguasai harkat hidup mereka yang kurang beruntung; ketidakberuntungan empat orang salesman yang bekerja di perusahaan penjualan Hutama Property. Empat salesman itu adalah Selo (Alex Suhendra), Rhoma (Ricky Setiawan), Mus (Guntur Yudho), dan Joko (Otho Sebastian), yang dipimpin oleh manajer Jenny (Tita Dian Wulansari). Kecuali Rhoma, ketiga salesman pecundang tadi selalu mendapat tugas lebih berat untuk menjual real estate yang tidak diminati dengan harga yang tidak masuk akal. Alhasil, sampai akhir bulan ketiga salesman tadi tetap gagal mendapatkan pembeli. Untuk memacu kinerja mereka, pemilik perusahaan membuat sandiwara kompetisi berat sebelah. Kompetisi ini bertujuan menyingkirkan generasi tua yang diangggap sudah tidak produktif dan menggantinya dengan generasi muda yang lebih enerjik. Agar tidak terkesan menyingkirkan, pemilik perusahaan berkonspirasi dengan Jenny untuk menugaskan para salesman tua itu menjual properti yang tak laku dijual. Untuk mengontrol mereka, dipajanglah papan daftar penjualan para salesman di kantor layaknya papan klasemen sepakbola. Dua salesman peringkat teratas akan bertahan dan mendapatkan hadiah, sementara dua terbawah akan dipecat tanpa pesangon.

Pada babak kedua, Mus yang (merasa) lebih beruntung mencoba meyakinkan Joko yang jujur dan polos untuk terlibat dalam rencana pencurian buku petunjuk penjualan. Mus menjanjikan iming-iming keuntungan 150 juta dibagi dua. Latar dibuat seolah mereka sedang makan malam di sebuah restoran. Babak selanjutnya, seorang salesman sedang minum di bar, mencerocos panjang lebar seputar hal paling berkesan dari hubungan seksual─hal yang sama sekali tidak nyambung─untuk menarik perhatian seorang calon pembeli rumah mewah. Fenomena ini seakan menggambarkan begitu sulitnya menjual kendati dengan segala cara. Babak berikutnya digambarkan suasana hiruk pikuk di kantor para salesman, dimana para penghuninya dikepung oleh tuntutan memenuhi target penjualan. Masing-masing memainkan strategi dan bertempur di peta percaturan bisnis demi memenuhi kebutuhan dan kepentingannya sendiri. Singkatnya, demi memenangkan uang sebanyak-banyaknya.


Pada penggalan cerita berikutnya, seorang polisi bolak-balik ke kantor salesman, menginterogasi para salesman untuk mendapatkan keterangan atas hilangnya buku petunjuk penjualan dan beberapa properti kantor. Joko nampak panik menghadapi situasi tersebut, sesekali ia mengusapkan saputangan ke muka dan lehernya. Sementara itu, Selo merasa berasa di atas angin karena baru saja berhasil menjual sekian unit rumah mewah kepada seorang mantan orang kaya. Itu berarti nama Selo meroket ke level paling tinggi dalam daftar penjualan. Pada kesempatan yang sama, Rhoma harus menghadapi kliennya yang akan membatalkan transaksi. Mus, di pihak lain,  ngamuk-ngamuk karena terancam dipecat. Jenny yang konon memanjat karirnya dengan ‘jalan kasur’ selalu menuntut hasil tanpa mau tahu keadaan di lapangan. Yang tragis dari kisah ini, Selo yang baru saja (merasa) menjadi superstar, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa pembelinya ternyata orang gila yang senang bernostalgia akan masa kejayaannya. Ia juga tersudut hingga mengaku sebagai pelaku pencurian di kantor.

Dalam durasi 2 jam 10 menit, para aktor menghadirkan potret kompetisi bisnis itu dengan teknik permainan akting realis. Permainan yang hidup dan kocak disambut gelak tawa penonton yang menyesaki ruang F Gedung Vredeburg, pada13 dan 14 November 2008. Akting Alex sebagai Selo paling menarik perhatian. Dengan piawai Alex berakting memamerkan pengalaman heroiknya meyakinkan calon pembeli untuk menandatangani cek pembelian. Pertunjukan ini mengajak penonton memahami, atau setidaknya merasakan, mata rantai sebab-akibat yang tergambarkan dalam berbagai tingkah laku mereka yang tertekan oleh situasi yang miris.

Diiringi musik yang empuk, Teater Toedjoeh telah menyajikan sepotong potret pekerjaan tersulit di bumi ini dengan segar, terbuka, dan tanpa sungkan.

* Resyifa L, penulis, aktif di Forum Lingkar Pena, peserta Actor Studio 2007

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

*****

Tim Kerja


Sutradara dan Adaptasi Naskah
Guntur Yudho/ Aktor Alex Suhendra, Andri Wicaksono, Anggit Riyanto, Guntur Yudho, Otho Sebastian, Ricky Setiawan, Tita Dian Wulansari/ Penata Set Robet “Cathax”/ Penata Cahaya Ucil, Ibank/ Penata Musik Gabriella Andhika/ Make up Carolina Novi Mustikarini/ Manajer Panggung Darmanto Setiawan/ Pimpinan Produksi Enrico Ronggo

Komentar Penonton

Mereka menonjolkan bentuk dialog yang cepat, tapi ternyata itu malah membuat informasi-informasi pentas ga terbaca. Bahkan aku sendiri cenderung menikmati keributan dialog cepat yang tak bisa dinikmati. Secara teknis artikulasi teman-teman banyak yang tak sampai di telinga dengan jelas. Hal itu dirasakan juga oleh penonton lain yang duduk di sebelahku.

(Aris, 21 Tahun, Teater Kaplink, Universitas Dian Nuswantara, Semarang)

Oleh: M. Ahmad Jalidu*

Pendapa sederhana milik seorang warga kampung Mijen, Minggiran Barat itu sejak sore terlihat ramai. Letaknya yang berhadapan dengan pintu komplek makam, tidak membuat suasana menjadi “horor”. Sebaliknya, satu persatu warga kampung berdatangan. Tampak juga beberapa seniman teater dan para pengamat kesenian. Adakah pesta di sana? Ya… sebuah pesta kampung ala Teater TeMMu.

Hampir seluruh lapisan masyarakat kampung Mijen telah berkumpul. Anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu serta bapak-bapak ada di sana. Malam itu mereka siap menonton Mak..!! Ana Asu Mlebu ngOmah!, sebuah drama berbahasa Jawa karya Andy SW. Pelakonnya adalah Teater TeMMU, sebuah komunitas teater yang digerakkan oleh pemuda-pemudi kampung Minggiran dan sekitarnya.

Seorang pemuda bernama Surip mendapati rumahnya dimasuki sekawanan anjing. Ia pun mengamuk dan melempari anjing-anjing itu dengan perkakas dapur. Ternyata ribuan anjing telah datang meneror seluruh kampung. Satu persatu warga kampung pergi tanpa kabar dan tak pernah pulang hingga tersisa enam orang: Mak Jiuk (Ambar Mirah), seorang ibu dengan dua anak yaitu Surip (Andy SW) dan Sumi (Arum) – gadis kecil yang duduk di kelas 6 SD, dua pemuda yaitu Cothot (Eri) dan Bakir (Wahyu Gober), dan Mbah Karto −sesepuh kampung yang akhirnya meninggal sebelum seluruh anjing bisa diusir.

Saat upacara pemakaman Mbah Karto berlangsung, tiba-tiba ribuan anjing datang mengikuti upacara. Sang Pemimpin Anjing mengatakan bahwa dia hanya ingin menyaksikan pemakaman musuh bebuyutannya sejak jaman Belanda itu. Dalam adegan itu terkuak bahwa ternyata sebagian besar dari anjing-anjing itu adalah warga kampung yang telah digigit dan berubah menjadi anjing. Karena geram, Surip ditemani ibu dan dua kawannya berusaha mengusir anjing-anjing itu. Mereka berteriak dan berlari mengitari panggung sambil memainkan pecut-nya (cambuk). Hanya dengan iringan sebuah jimbe, mereka mampu membawa penonton merasakan suasana sebuah perang besar dan perjuangan mereka yang berat dan melelahkan.

Warga kampung bangkit melawan kawanan anjing

Kawanan Anjing berhasil diusir, tetapi tak ada yang bisa menjamin keadaan seterusnya akan aman. Cerita berakhir dengan keputusan Mak Jiuk dan yang lain untuk pergi dari kampung itu, pindah ke tempat lain yang lebih tenang. Tiba-tiba seorang penonton nyeletuk: “Ho’o lunga wae. Lumayan disangoni wolung yuta.” (baca: Ya, pergi saja. Lumayan dapat pesangon delapan juta). Tawa terburai tanpa ada yang bisa melerai…

Bahasa Jawa kampung yang digunakan dalam seluruh dialog membuat penonton merasa akrab. Metafor dan tata adegan yang komikal dan “kartun banget” membuat pertunjukan ini menarik dan menemukan sisi essensialnya. Sebagai sebuah pesta bersama, pentas ini bisa dikatakan sukses: mengangkat cerita bersama, memainkannya, dan bersama-sama menikmatinya. Kesuksesan lain terlihat dari banyaknya “clekopan” atau komentar penonton sepanjang pertunjukan. Berbeda dengan teater yang lazim digelar di gedung-gedung pertunjukan, komentar asal bunyi dari penonton yang biasanya dirasa mengganggu, pada pementasan ini justru membuat suasana hidup.

75 menit pertunjukan ini ditingkahi tawa riuh penonton. Padahal, apa yang sebenarnya mereka ceritakan? Sungguh bukan sebuah kesukacitaan, melainkan tragedy. Mak..!! Ana Asu Mlebu ngOmah adalah sebuah refleksi atas peristiwa penggusuran rumah beberapa warga yang berlangsung melalui bermacam bujuk rayu bahkan teror dan intimidasi pihak developer. Intimidasi dan bujuk rayu itulah yang disimbolkan menjadi sekawanan anjing yang hendak menguasai kampung. Digambarkan betapa kampung itu menjadi semakin sepi karena warga satu persatu menjadi anjing, perumpamaan untuk warga yang akhirnya terbujuk dan menghentikan perlawanan. Meski demikian, bukan berarti teater ini melulu bicara penggusuran dan anjing. Andy tidak lupa menambahkan bumbu adegan konyol dan lucu tentang kisah cinta dan perilaku negatif pemuda kampung, misalnya “jajan” banci dan mbajing (hidup sebagai bajingan).

Kampung memang plural, kampung kota apalagi. Sementara teater sering kali mampu menyerap peristiwa, memprosesnya, dan menghasilkan pertunjukan. Tetapi tidak banyak pertunjukan yang mampu mengembalikan hasil olahan itu kepada warga kampung. Lebih sering terjadi, “olahan” menjadi demikian mutakhir dan intelek hingga warga kampung tak lagi mengenali diri mereka yang direpresentasikan dalam pertunjukan. Teater TeMMu telah berhasil melakukan itu. Mengolah kisah warga kampung, memprosesnya menjadi metafor, menyusun adegan, menyuguhkannya, dan Hap! Warga pun menangkap.

Pertunjukan ini memang sangat sederhana dan jauh dari pukauan -panggung hanyalah separuh pendapa yang kosong melompong berlatar backdrop abu-abu; aktor masih sering terlihat grogi dan tidak yakin pada aktingnya. Anehnya permainan justru tampak hidup dan mampu menampilkan karakter pemuda kampung -yang meski hidup “mbajing” tetapi tetap cancut tali wanda saat pengabdiannya dibutuhkan.

Tidak ada akting yang gemilang, tidak ada impresi tata visual yang hebat. 10 Februari 2009, Teater TeMMu telah membuktikan; akting, set panggung, sound effect memang penting…  but sometimes those are not really the business.

* M. Ahmad Jalidu, pegiat teater.

(terbit di skAnA volume 09, Maret – Juli 2009)


*****

Tim Artistik

Naskah dan Sutradara: Andy SW/ Aktor: Wahyu Gober, Bung Eri, Pipit Ambar Mirah, Ficky Tri Sanjaya, Arum Miswa Milan Puspita, Andy SW/ Penata Artistik: Mas Gali dan Andri Sapi’i/ Penata Musik: Blendong/ Penata Busana: Pipit Ambar Mirah/ Konsumsi: Maria Magdalena Yuliati dan Mbak Uyat/ Kru: Hendra, Anjar, Ulin Kucing, Dety Calexstin/ Penata Cahaya: Komar Boy dan Brekele/ Dokumentasi: Ndaru

Komentar Penonton:

Tipikal teater kampung yang sedikit kampungan tapi renyah dan menghibur. Kaya makan sayur brongkos tapi lawuh-nya beef steak utawa tenderloin… Audionya pake basa lokal, ndesa banget tapi lebih gampang dimengerti ketimbang unsur visualnya. (Bom-bom, 25 th. Pegiat  teater di GMT.)

Jujur, sederhana, merakyat. Semua bisa mudeng tanpa mikir rumit, mengena sama situasi tempat tinggalnya. Dan aslinya, menghibur banget…(Sari, 23 th. Mahasiswa PBI USD, Instruktur Bahasa Inggris.)

Ceritanya bagus, simple, dan imajinatif. Artistiknya sederhana tapi mengena. Aktornya berbakat dan lucu. Aku suka tata ruang antara penonton dan aktor, acak-acakan tapi komunikatif. Gayeng dan bikin betah nonton. Kalau bisa pentas keliling kampung, supaya bisa menjadi inspirasi karang taruna yang lain. (Hambar Riyadi, pemuda kampung Mergangsan)

Masih Ada Sedikit Bahagia dalam Kisah Sedih TKW

Oleh : Desi Puspitasari*

Seorang perempuan dengan kerudung cokelat dan berlengan bengkok masuk ke dalam panggung. Ia duduk di kursi ditemani radio-tape dan foto dirinya di atas meja yang berada di sebelah kursi—dalam fotonya ia tersenyum. Ia adalah Sum.

Sum; Cerita Dari Rantau bercerita tentang banyak kisah. Kisah Verry sebagai penutur yang menyusun kisah-kisah para TKW; kisah Sum yang berlengan bengkok, kisah Par yang rasa nasionalismenya tinggi─ia tidak terima ketika dipanggil ‘Indon’ oleh temannya dari Malaysia─  dan kisah miris di gerbang IV bandara Sukarno-Hatta.

Sum menceritakan awal keberangkatannya menjadi TKW di Arab Saudi; perjuangan bapaknya dalam mendapatkan uang 15 juta untuk biaya keberangkatan Sum, komentar budhe Yatmi yang mengatakan dengan menjadi TKW itu banyak uangnya, komentar mbak Rubi yang berharap kemujuran bagi Sum supaya bisa menikah dengan orang Arab, kecemasan dan kelegaan ibu Sum setelah tahu warga Arab juga beragama Islam.

Setelah bercerita sedikit tentang Sum, Verry menyapa dan mengucapkan terima kasih kepada penonton. Kemudian cerita-cerita kembali dituturkan. Secara bergantian, Verry menjadi dirinya sendiri dan para TKW. Sum yang polos dan pemalu terlambat datang belajar bahasa Arab. Aning (TKW di Singapura) yang menceritakan keanehan majikannya—melarangnya memindah perabotan barang sesenti. Par (TKW di Malaysia) yang tahan banting dan bermulut cablak, yang senang menari hingga ia bisa bertemu pejabat penting di kedutaan.

Verry Handayani sebagai Sum

Lalu akhirnya Verry kembali menjadi Sum yang menceritakan perjuangannya mempertahankan harga diri, dengan menolak pemberian uang dan menolak melayani nafsu bejat majikannya. Ia memeluk Al-Quran dan berteriak histeris saat berusaha melindungi diri. Sehabis sholat ia sering tidur, ketiduran, atau pura-pura tidur di atas sajadah sambil terus memeluk Qur’annya untuk menghindari nafsu bejat si majikan. Hingga akhirnya perlakuan buruk majikannya mengakibatkan lengannya bengkok. Meski begitu, Sum tetap bersyukur karena ia sekarang telah kembali ke Indonesia, dan bisa memasak bersama ibunya di dapur.

Saya melihat GR (General Rehearsal) Sum di studio Teater Garasi, dan dua kali menyaksikan pertunjukannya di tempat yang berbeda.

Tanggal 26 November 2008, saya menyaksikan Sum di Balai Desa Berbah, Sleman, Yogyakarta. Di balai desa yang lumayan luas itu, saya duduk bersama mbak-mbak cantik. Di bagian belakang saya, duduk ibu-ibu atau simbah-simbah (yang saya tebak) warga sekitar. Saya merasakan ada jarak ketika Very sedang menjadi dirinya sendiri (narator). Jarak itu saya rasakan dalam pilihan dan susunan kata-katanya yang cenderung rumit dan agak ‘tinggi’. Beberapa penonton mengeluh, “ngantuk aku”, ketika pertunjukan baru berjalan sekitar 15 menit. Tapi mereka berubah antusias ketika Very mengubah dirinya menjadi Sum, Par, atau Aning. Juga ketika ada gerakan slapstick; porter, petugas di balik kaca jendela, wartel 1 menit 7000 ribu rupiah, dan angkot seharga 200 ribu rupiah (padahal katanya gratis). Mereka berkomentar ramai, “wah, wangune!”, dan memanggil Verry dengan sebutan Lik Sum ketika kerudung cokelat kembali dikenakan.

Tanggal 28 November 2008, saya melihat pertunjukan Sum di studio Teater Garasi. Saya mengikuti pertunjukan di menit ke-15 (sebelumnya saya bertugas di front desk). Saya melihat penonton begitu serius. Serius dalam arti muka mereka begitu tegang.

Verry sebagai Par dalam pentas SUM

Baru ketika Par berteriak-teriak marah karena kesal dipanggil ‘Indon’ dan kaki Verry nyangkut di ‘jeruji’ sel penjara, penonton mulai tertawa dan terasa sedikit ’cair’. Wajah penonton tidak lagi tegang. Bahkan ada yang bertepuk tangan dan berteriak “Merdeka!” ketika Par panjang lebar menjelaskan kepada teman Malaysianya bahwa bangsa Indonesia berjuang mati-matian dalam merebut kemerdekaan.

Saya merasakan berbagai macam kegetiran dalam pertunjukan itu. Kelegaan ibu Sum ketika tahu bahwa warga Arab beragama Islam tapi ternyata Sum harus mati-matian berjuang mempertahankan kesuciannya dari nafsu bejat majikannya. Sambutan ‘Selamat Datang Para Pahlawan Devisa’ di gerbang IV bandara Sukarno-Hatta terasa kontras bila disandingkan dengan kisah-kisah pemalakan di wartel, taksi, dan oleh petugas di sana terhadap para TKW.

“Mereka (para TKW) itu dirampok di negerinya sendiri!”

Kisah Supi, wajahnya yang ‘kurang Indonesia’ dan penampilannya yang seperti turis membuatnya selamat dari perampokan, terasa lucu dan juga getir. Betapa bangsa kita telah mengagung-agungkan dan lebih menghargai wajah-wajah bule yang ‘kurang Indonesia’. Kegetiran lain bisa ditemukan dalam sikap syukur Sum yang sederhana, dengan mengucapkan alhamdulillah, karena ia bisa pulang ke Indonesia meski dengan lengan bengkok.

Pertunjukan malam itu ditutup dengan wajah sendu Sum yang kembali duduk di kursi sambil memijit pelan lengannya yang bengkok. Lantunan lagu Teluk Bayur terdengar seiring lampu yang perlahan padam.


* Desi Puspitasari, penulis, aktif di Forum Lingkar Pena, peserta Actor Studio 2007 dan 2009

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

SUM; Cerita dari Rantau. Foto: Iwan Prananto/dok. Teater Garasi

Tim Kerja Sum; Cerita dari Rantau

B. Verry Handayani Ide Cerita & Aktor – Andri Nur Latif Penulis Naskah – Joned Suryatmoko Acting coach – Puthut Buchori Penata Artistik – Moelyono Penata Cahaya – Leilani Penata Musik – Wisnu Yudha Wardana Stage Manager – Ratri Kartika Sari Pimpinan Produksi

Komentar penonton:

Verry bercerita tentang banyak hal yang bisa aku baca di majalah Tempo. She’s not telling me something I don’t know. (Ricky, 29 tahun, Tangerang)

Aku suka pas bagian indon indon. Yang jelas menurutku apa yang hendak dia (Verry) sampaikan sampai batas tertentu berhasil. Wis ngono wae. (Gideon, 23 tahun)

Secara tematik, hal yang disampaikan bisa kubaca di majalah atau Koran. Tapi mbak Verry bisa membawakan dengan cara menarik. Maksudku, secara pertunjukan menarik, yang tentu saja berbeda dengan ketika baca Koran. Dinamika permainan karakternya menarik. (Tita, 24 tahun, Bogor)

« Previous PageNext Page »