March 2009


Oleh: Resyifa L.*

“Pekerjaan tersulit di bumi adalah salesman!” demikian Teater Toedjoeh membuat pernyataan dalam pementasan Bukan Mesin! di panggung yang disoroti lampu monokrom. Pentas dibuka dengan percakapan negosiasi antara seorang salesman tua bernama Selo dan Jenny, manajernya yang pilih kasih. Selo meminta buku petunjuk penjualan yang berisi daftar informasi orang-orang yang potensial untuk menjadi pembeli. Mereka hadir di panggung bagian paling depan duduk di kursi, di hadapannya segelas jus dan secangkir minuman terhidang di atas meja layaknya sedang istirahat siang di kantin. Negosiasi yang alot disertai sogokan seolah menunjukkan betapa mencari uang dengan berbagai cara, halal ataupun tidak halal, adalah tidak mudah.

Pementasan “Bukan Mesin!” diadaptasi dari naskah teater Glengarry Glen Ross karya David Mamet. Pertunjukan ini mengisahkan kepelikan dunia bisnis properti dengan latar kota Yogyakarta, dimana kapitalisme memberi jalan lapang bagi mereka yang bermodal kuat untuk menguasai harkat hidup mereka yang kurang beruntung; ketidakberuntungan empat orang salesman yang bekerja di perusahaan penjualan Hutama Property. Empat salesman itu adalah Selo (Alex Suhendra), Rhoma (Ricky Setiawan), Mus (Guntur Yudho), dan Joko (Otho Sebastian), yang dipimpin oleh manajer Jenny (Tita Dian Wulansari). Kecuali Rhoma, ketiga salesman pecundang tadi selalu mendapat tugas lebih berat untuk menjual real estate yang tidak diminati dengan harga yang tidak masuk akal. Alhasil, sampai akhir bulan ketiga salesman tadi tetap gagal mendapatkan pembeli. Untuk memacu kinerja mereka, pemilik perusahaan membuat sandiwara kompetisi berat sebelah. Kompetisi ini bertujuan menyingkirkan generasi tua yang diangggap sudah tidak produktif dan menggantinya dengan generasi muda yang lebih enerjik. Agar tidak terkesan menyingkirkan, pemilik perusahaan berkonspirasi dengan Jenny untuk menugaskan para salesman tua itu menjual properti yang tak laku dijual. Untuk mengontrol mereka, dipajanglah papan daftar penjualan para salesman di kantor layaknya papan klasemen sepakbola. Dua salesman peringkat teratas akan bertahan dan mendapatkan hadiah, sementara dua terbawah akan dipecat tanpa pesangon.

Pada babak kedua, Mus yang (merasa) lebih beruntung mencoba meyakinkan Joko yang jujur dan polos untuk terlibat dalam rencana pencurian buku petunjuk penjualan. Mus menjanjikan iming-iming keuntungan 150 juta dibagi dua. Latar dibuat seolah mereka sedang makan malam di sebuah restoran. Babak selanjutnya, seorang salesman sedang minum di bar, mencerocos panjang lebar seputar hal paling berkesan dari hubungan seksual─hal yang sama sekali tidak nyambung─untuk menarik perhatian seorang calon pembeli rumah mewah. Fenomena ini seakan menggambarkan begitu sulitnya menjual kendati dengan segala cara. Babak berikutnya digambarkan suasana hiruk pikuk di kantor para salesman, dimana para penghuninya dikepung oleh tuntutan memenuhi target penjualan. Masing-masing memainkan strategi dan bertempur di peta percaturan bisnis demi memenuhi kebutuhan dan kepentingannya sendiri. Singkatnya, demi memenangkan uang sebanyak-banyaknya.


Pada penggalan cerita berikutnya, seorang polisi bolak-balik ke kantor salesman, menginterogasi para salesman untuk mendapatkan keterangan atas hilangnya buku petunjuk penjualan dan beberapa properti kantor. Joko nampak panik menghadapi situasi tersebut, sesekali ia mengusapkan saputangan ke muka dan lehernya. Sementara itu, Selo merasa berasa di atas angin karena baru saja berhasil menjual sekian unit rumah mewah kepada seorang mantan orang kaya. Itu berarti nama Selo meroket ke level paling tinggi dalam daftar penjualan. Pada kesempatan yang sama, Rhoma harus menghadapi kliennya yang akan membatalkan transaksi. Mus, di pihak lain,  ngamuk-ngamuk karena terancam dipecat. Jenny yang konon memanjat karirnya dengan ‘jalan kasur’ selalu menuntut hasil tanpa mau tahu keadaan di lapangan. Yang tragis dari kisah ini, Selo yang baru saja (merasa) menjadi superstar, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa pembelinya ternyata orang gila yang senang bernostalgia akan masa kejayaannya. Ia juga tersudut hingga mengaku sebagai pelaku pencurian di kantor.

Dalam durasi 2 jam 10 menit, para aktor menghadirkan potret kompetisi bisnis itu dengan teknik permainan akting realis. Permainan yang hidup dan kocak disambut gelak tawa penonton yang menyesaki ruang F Gedung Vredeburg, pada13 dan 14 November 2008. Akting Alex sebagai Selo paling menarik perhatian. Dengan piawai Alex berakting memamerkan pengalaman heroiknya meyakinkan calon pembeli untuk menandatangani cek pembelian. Pertunjukan ini mengajak penonton memahami, atau setidaknya merasakan, mata rantai sebab-akibat yang tergambarkan dalam berbagai tingkah laku mereka yang tertekan oleh situasi yang miris.

Diiringi musik yang empuk, Teater Toedjoeh telah menyajikan sepotong potret pekerjaan tersulit di bumi ini dengan segar, terbuka, dan tanpa sungkan.

* Resyifa L, penulis, aktif di Forum Lingkar Pena, peserta Actor Studio 2007

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

*****

Tim Kerja


Sutradara dan Adaptasi Naskah
Guntur Yudho/ Aktor Alex Suhendra, Andri Wicaksono, Anggit Riyanto, Guntur Yudho, Otho Sebastian, Ricky Setiawan, Tita Dian Wulansari/ Penata Set Robet “Cathax”/ Penata Cahaya Ucil, Ibank/ Penata Musik Gabriella Andhika/ Make up Carolina Novi Mustikarini/ Manajer Panggung Darmanto Setiawan/ Pimpinan Produksi Enrico Ronggo

Komentar Penonton

Mereka menonjolkan bentuk dialog yang cepat, tapi ternyata itu malah membuat informasi-informasi pentas ga terbaca. Bahkan aku sendiri cenderung menikmati keributan dialog cepat yang tak bisa dinikmati. Secara teknis artikulasi teman-teman banyak yang tak sampai di telinga dengan jelas. Hal itu dirasakan juga oleh penonton lain yang duduk di sebelahku.

(Aris, 21 Tahun, Teater Kaplink, Universitas Dian Nuswantara, Semarang)

Oleh: M. Ahmad Jalidu*

Pendapa sederhana milik seorang warga kampung Mijen, Minggiran Barat itu sejak sore terlihat ramai. Letaknya yang berhadapan dengan pintu komplek makam, tidak membuat suasana menjadi “horor”. Sebaliknya, satu persatu warga kampung berdatangan. Tampak juga beberapa seniman teater dan para pengamat kesenian. Adakah pesta di sana? Ya… sebuah pesta kampung ala Teater TeMMu.

Hampir seluruh lapisan masyarakat kampung Mijen telah berkumpul. Anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu serta bapak-bapak ada di sana. Malam itu mereka siap menonton Mak..!! Ana Asu Mlebu ngOmah!, sebuah drama berbahasa Jawa karya Andy SW. Pelakonnya adalah Teater TeMMU, sebuah komunitas teater yang digerakkan oleh pemuda-pemudi kampung Minggiran dan sekitarnya.

Seorang pemuda bernama Surip mendapati rumahnya dimasuki sekawanan anjing. Ia pun mengamuk dan melempari anjing-anjing itu dengan perkakas dapur. Ternyata ribuan anjing telah datang meneror seluruh kampung. Satu persatu warga kampung pergi tanpa kabar dan tak pernah pulang hingga tersisa enam orang: Mak Jiuk (Ambar Mirah), seorang ibu dengan dua anak yaitu Surip (Andy SW) dan Sumi (Arum) – gadis kecil yang duduk di kelas 6 SD, dua pemuda yaitu Cothot (Eri) dan Bakir (Wahyu Gober), dan Mbah Karto −sesepuh kampung yang akhirnya meninggal sebelum seluruh anjing bisa diusir.

Saat upacara pemakaman Mbah Karto berlangsung, tiba-tiba ribuan anjing datang mengikuti upacara. Sang Pemimpin Anjing mengatakan bahwa dia hanya ingin menyaksikan pemakaman musuh bebuyutannya sejak jaman Belanda itu. Dalam adegan itu terkuak bahwa ternyata sebagian besar dari anjing-anjing itu adalah warga kampung yang telah digigit dan berubah menjadi anjing. Karena geram, Surip ditemani ibu dan dua kawannya berusaha mengusir anjing-anjing itu. Mereka berteriak dan berlari mengitari panggung sambil memainkan pecut-nya (cambuk). Hanya dengan iringan sebuah jimbe, mereka mampu membawa penonton merasakan suasana sebuah perang besar dan perjuangan mereka yang berat dan melelahkan.

Warga kampung bangkit melawan kawanan anjing

Kawanan Anjing berhasil diusir, tetapi tak ada yang bisa menjamin keadaan seterusnya akan aman. Cerita berakhir dengan keputusan Mak Jiuk dan yang lain untuk pergi dari kampung itu, pindah ke tempat lain yang lebih tenang. Tiba-tiba seorang penonton nyeletuk: “Ho’o lunga wae. Lumayan disangoni wolung yuta.” (baca: Ya, pergi saja. Lumayan dapat pesangon delapan juta). Tawa terburai tanpa ada yang bisa melerai…

Bahasa Jawa kampung yang digunakan dalam seluruh dialog membuat penonton merasa akrab. Metafor dan tata adegan yang komikal dan “kartun banget” membuat pertunjukan ini menarik dan menemukan sisi essensialnya. Sebagai sebuah pesta bersama, pentas ini bisa dikatakan sukses: mengangkat cerita bersama, memainkannya, dan bersama-sama menikmatinya. Kesuksesan lain terlihat dari banyaknya “clekopan” atau komentar penonton sepanjang pertunjukan. Berbeda dengan teater yang lazim digelar di gedung-gedung pertunjukan, komentar asal bunyi dari penonton yang biasanya dirasa mengganggu, pada pementasan ini justru membuat suasana hidup.

75 menit pertunjukan ini ditingkahi tawa riuh penonton. Padahal, apa yang sebenarnya mereka ceritakan? Sungguh bukan sebuah kesukacitaan, melainkan tragedy. Mak..!! Ana Asu Mlebu ngOmah adalah sebuah refleksi atas peristiwa penggusuran rumah beberapa warga yang berlangsung melalui bermacam bujuk rayu bahkan teror dan intimidasi pihak developer. Intimidasi dan bujuk rayu itulah yang disimbolkan menjadi sekawanan anjing yang hendak menguasai kampung. Digambarkan betapa kampung itu menjadi semakin sepi karena warga satu persatu menjadi anjing, perumpamaan untuk warga yang akhirnya terbujuk dan menghentikan perlawanan. Meski demikian, bukan berarti teater ini melulu bicara penggusuran dan anjing. Andy tidak lupa menambahkan bumbu adegan konyol dan lucu tentang kisah cinta dan perilaku negatif pemuda kampung, misalnya “jajan” banci dan mbajing (hidup sebagai bajingan).

Kampung memang plural, kampung kota apalagi. Sementara teater sering kali mampu menyerap peristiwa, memprosesnya, dan menghasilkan pertunjukan. Tetapi tidak banyak pertunjukan yang mampu mengembalikan hasil olahan itu kepada warga kampung. Lebih sering terjadi, “olahan” menjadi demikian mutakhir dan intelek hingga warga kampung tak lagi mengenali diri mereka yang direpresentasikan dalam pertunjukan. Teater TeMMu telah berhasil melakukan itu. Mengolah kisah warga kampung, memprosesnya menjadi metafor, menyusun adegan, menyuguhkannya, dan Hap! Warga pun menangkap.

Pertunjukan ini memang sangat sederhana dan jauh dari pukauan -panggung hanyalah separuh pendapa yang kosong melompong berlatar backdrop abu-abu; aktor masih sering terlihat grogi dan tidak yakin pada aktingnya. Anehnya permainan justru tampak hidup dan mampu menampilkan karakter pemuda kampung -yang meski hidup “mbajing” tetapi tetap cancut tali wanda saat pengabdiannya dibutuhkan.

Tidak ada akting yang gemilang, tidak ada impresi tata visual yang hebat. 10 Februari 2009, Teater TeMMu telah membuktikan; akting, set panggung, sound effect memang penting…  but sometimes those are not really the business.

* M. Ahmad Jalidu, pegiat teater.

(terbit di skAnA volume 09, Maret – Juli 2009)


*****

Tim Artistik

Naskah dan Sutradara: Andy SW/ Aktor: Wahyu Gober, Bung Eri, Pipit Ambar Mirah, Ficky Tri Sanjaya, Arum Miswa Milan Puspita, Andy SW/ Penata Artistik: Mas Gali dan Andri Sapi’i/ Penata Musik: Blendong/ Penata Busana: Pipit Ambar Mirah/ Konsumsi: Maria Magdalena Yuliati dan Mbak Uyat/ Kru: Hendra, Anjar, Ulin Kucing, Dety Calexstin/ Penata Cahaya: Komar Boy dan Brekele/ Dokumentasi: Ndaru

Komentar Penonton:

Tipikal teater kampung yang sedikit kampungan tapi renyah dan menghibur. Kaya makan sayur brongkos tapi lawuh-nya beef steak utawa tenderloin… Audionya pake basa lokal, ndesa banget tapi lebih gampang dimengerti ketimbang unsur visualnya. (Bom-bom, 25 th. Pegiat  teater di GMT.)

Jujur, sederhana, merakyat. Semua bisa mudeng tanpa mikir rumit, mengena sama situasi tempat tinggalnya. Dan aslinya, menghibur banget…(Sari, 23 th. Mahasiswa PBI USD, Instruktur Bahasa Inggris.)

Ceritanya bagus, simple, dan imajinatif. Artistiknya sederhana tapi mengena. Aktornya berbakat dan lucu. Aku suka tata ruang antara penonton dan aktor, acak-acakan tapi komunikatif. Gayeng dan bikin betah nonton. Kalau bisa pentas keliling kampung, supaya bisa menjadi inspirasi karang taruna yang lain. (Hambar Riyadi, pemuda kampung Mergangsan)

Masih Ada Sedikit Bahagia dalam Kisah Sedih TKW

Oleh : Desi Puspitasari*

Seorang perempuan dengan kerudung cokelat dan berlengan bengkok masuk ke dalam panggung. Ia duduk di kursi ditemani radio-tape dan foto dirinya di atas meja yang berada di sebelah kursi—dalam fotonya ia tersenyum. Ia adalah Sum.

Sum; Cerita Dari Rantau bercerita tentang banyak kisah. Kisah Verry sebagai penutur yang menyusun kisah-kisah para TKW; kisah Sum yang berlengan bengkok, kisah Par yang rasa nasionalismenya tinggi─ia tidak terima ketika dipanggil ‘Indon’ oleh temannya dari Malaysia─  dan kisah miris di gerbang IV bandara Sukarno-Hatta.

Sum menceritakan awal keberangkatannya menjadi TKW di Arab Saudi; perjuangan bapaknya dalam mendapatkan uang 15 juta untuk biaya keberangkatan Sum, komentar budhe Yatmi yang mengatakan dengan menjadi TKW itu banyak uangnya, komentar mbak Rubi yang berharap kemujuran bagi Sum supaya bisa menikah dengan orang Arab, kecemasan dan kelegaan ibu Sum setelah tahu warga Arab juga beragama Islam.

Setelah bercerita sedikit tentang Sum, Verry menyapa dan mengucapkan terima kasih kepada penonton. Kemudian cerita-cerita kembali dituturkan. Secara bergantian, Verry menjadi dirinya sendiri dan para TKW. Sum yang polos dan pemalu terlambat datang belajar bahasa Arab. Aning (TKW di Singapura) yang menceritakan keanehan majikannya—melarangnya memindah perabotan barang sesenti. Par (TKW di Malaysia) yang tahan banting dan bermulut cablak, yang senang menari hingga ia bisa bertemu pejabat penting di kedutaan.

Verry Handayani sebagai Sum

Lalu akhirnya Verry kembali menjadi Sum yang menceritakan perjuangannya mempertahankan harga diri, dengan menolak pemberian uang dan menolak melayani nafsu bejat majikannya. Ia memeluk Al-Quran dan berteriak histeris saat berusaha melindungi diri. Sehabis sholat ia sering tidur, ketiduran, atau pura-pura tidur di atas sajadah sambil terus memeluk Qur’annya untuk menghindari nafsu bejat si majikan. Hingga akhirnya perlakuan buruk majikannya mengakibatkan lengannya bengkok. Meski begitu, Sum tetap bersyukur karena ia sekarang telah kembali ke Indonesia, dan bisa memasak bersama ibunya di dapur.

Saya melihat GR (General Rehearsal) Sum di studio Teater Garasi, dan dua kali menyaksikan pertunjukannya di tempat yang berbeda.

Tanggal 26 November 2008, saya menyaksikan Sum di Balai Desa Berbah, Sleman, Yogyakarta. Di balai desa yang lumayan luas itu, saya duduk bersama mbak-mbak cantik. Di bagian belakang saya, duduk ibu-ibu atau simbah-simbah (yang saya tebak) warga sekitar. Saya merasakan ada jarak ketika Very sedang menjadi dirinya sendiri (narator). Jarak itu saya rasakan dalam pilihan dan susunan kata-katanya yang cenderung rumit dan agak ‘tinggi’. Beberapa penonton mengeluh, “ngantuk aku”, ketika pertunjukan baru berjalan sekitar 15 menit. Tapi mereka berubah antusias ketika Very mengubah dirinya menjadi Sum, Par, atau Aning. Juga ketika ada gerakan slapstick; porter, petugas di balik kaca jendela, wartel 1 menit 7000 ribu rupiah, dan angkot seharga 200 ribu rupiah (padahal katanya gratis). Mereka berkomentar ramai, “wah, wangune!”, dan memanggil Verry dengan sebutan Lik Sum ketika kerudung cokelat kembali dikenakan.

Tanggal 28 November 2008, saya melihat pertunjukan Sum di studio Teater Garasi. Saya mengikuti pertunjukan di menit ke-15 (sebelumnya saya bertugas di front desk). Saya melihat penonton begitu serius. Serius dalam arti muka mereka begitu tegang.

Verry sebagai Par dalam pentas SUM

Baru ketika Par berteriak-teriak marah karena kesal dipanggil ‘Indon’ dan kaki Verry nyangkut di ‘jeruji’ sel penjara, penonton mulai tertawa dan terasa sedikit ’cair’. Wajah penonton tidak lagi tegang. Bahkan ada yang bertepuk tangan dan berteriak “Merdeka!” ketika Par panjang lebar menjelaskan kepada teman Malaysianya bahwa bangsa Indonesia berjuang mati-matian dalam merebut kemerdekaan.

Saya merasakan berbagai macam kegetiran dalam pertunjukan itu. Kelegaan ibu Sum ketika tahu bahwa warga Arab beragama Islam tapi ternyata Sum harus mati-matian berjuang mempertahankan kesuciannya dari nafsu bejat majikannya. Sambutan ‘Selamat Datang Para Pahlawan Devisa’ di gerbang IV bandara Sukarno-Hatta terasa kontras bila disandingkan dengan kisah-kisah pemalakan di wartel, taksi, dan oleh petugas di sana terhadap para TKW.

“Mereka (para TKW) itu dirampok di negerinya sendiri!”

Kisah Supi, wajahnya yang ‘kurang Indonesia’ dan penampilannya yang seperti turis membuatnya selamat dari perampokan, terasa lucu dan juga getir. Betapa bangsa kita telah mengagung-agungkan dan lebih menghargai wajah-wajah bule yang ‘kurang Indonesia’. Kegetiran lain bisa ditemukan dalam sikap syukur Sum yang sederhana, dengan mengucapkan alhamdulillah, karena ia bisa pulang ke Indonesia meski dengan lengan bengkok.

Pertunjukan malam itu ditutup dengan wajah sendu Sum yang kembali duduk di kursi sambil memijit pelan lengannya yang bengkok. Lantunan lagu Teluk Bayur terdengar seiring lampu yang perlahan padam.


* Desi Puspitasari, penulis, aktif di Forum Lingkar Pena, peserta Actor Studio 2007 dan 2009

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

SUM; Cerita dari Rantau. Foto: Iwan Prananto/dok. Teater Garasi

Tim Kerja Sum; Cerita dari Rantau

B. Verry Handayani Ide Cerita & Aktor – Andri Nur Latif Penulis Naskah – Joned Suryatmoko Acting coach – Puthut Buchori Penata Artistik – Moelyono Penata Cahaya – Leilani Penata Musik – Wisnu Yudha Wardana Stage Manager – Ratri Kartika Sari Pimpinan Produksi

Komentar penonton:

Verry bercerita tentang banyak hal yang bisa aku baca di majalah Tempo. She’s not telling me something I don’t know. (Ricky, 29 tahun, Tangerang)

Aku suka pas bagian indon indon. Yang jelas menurutku apa yang hendak dia (Verry) sampaikan sampai batas tertentu berhasil. Wis ngono wae. (Gideon, 23 tahun)

Secara tematik, hal yang disampaikan bisa kubaca di majalah atau Koran. Tapi mbak Verry bisa membawakan dengan cara menarik. Maksudku, secara pertunjukan menarik, yang tentu saja berbeda dengan ketika baca Koran. Dinamika permainan karakternya menarik. (Tita, 24 tahun, Bogor)

Oleh: Maria Tri Sulistyani*

Kalau kita mendengar kata “boneka”, maka ingatan kita biasanya akan segera menuju pada sebuah mainan anak perempuan. Jangan salahkan siapa-siapa kalau kita belum memiliki sinonim kata “puppets” di Indonesia. Ya… memang puppets memiliki arti yang jauh berbeda dengan dolls. Padahal di Indonesia, dua-duanya tetap diartikan sebagai boneka.

Kita punya kata “wayang”, yang kemudian banyak orang mengasosiasikannya dengan kata “bayang”. Padahal wayang golek pun tidak bekerja dengan bayangan. Saya pribadi masih bingung dengan pilihan kata-kata tersebut.

Maka kali ini saya memilih kata “teater boneka”. Mungkin kata ini akan lebih membantu saya untuk bicara dengan anda semua, mengenai puppets dan bukan dolls.

Teater Boneka, Budaya Lama, Budaya Kita

Sebagian besar dari masyarakat kita pasti mengenal Unyil, sesosok anak laki-laki yang sangat nasionalis, hidup di Desa Sukamaju, dan memiliki teman-teman yang multikultur. Kehidupan si Unyil diciptakan oleh Drs.Suyadi alias Pak Raden beserta rekan-rekannya, para kreator tayangan teater boneka Si Unyil di televisi yang kemudian menjadi idola anak-anak di era 70-80an.

Jauh sebelum Unyil, sebenarnya kita sudah memiliki budaya teater boneka yang sangat kuat. Sudah ratusan tahun kita memiliki budaya wayang kulit, wayang beber, wayang golek, kemudian juga muncul wayang kancil, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan budaya teater boneka barat yang memang sangat identik dengan audiens anak-anak, teater boneka di Asia awalnya malah ditujukan untuk para penonton dewasa. Wayang Potehi dari Cina, misalnya. Awalnya lahir dari upaya 5 narapidana di tanah Cina yang sudah divonis mati untuk menghibur sang Raja. Sedangkan di Indonesia sendiri, pertunjukan wayang selalu mengangkat cerita-cerita yang penuh dengan nilai-nilai filosofis yang mendalam dan tak jarang disisipi isu-isu yang tengah hangat di masyarakat.  Bahkan wayang sempat pula digunakan sebagai alat untuk menyebarkan agama.

Keberadaan wayang saat ini memang sudah tidak disambut sehangat dulu. Saya bahkan pernah berbincang dengan seorang dalang muda yang mengakui bahwa penonton pagelaran wayang tak lagi mengalami regenerasi. Anak-anak muda memenuhi lapangan saat musik dangdut dan campusari berdentam, tapi segera membubarkan diri saat klenengan mulai mengalun. Bukan karena malam yang sudah larut, tapi karena mereka memang tidak tertarik.

Di mata bangsa sendiri, mungkin terasa pudar sudah daya tarik wayang yang ditatah dan diwarnai dengan teknik yang luar biasa itu. Susunan ratusan wayang yang dipajang dan dimainkan, tak lagi mampu memancing rasa penasaran kebanyakan anak-anak muda. Kemegahan orkestra gamelan yang selalu mengiringi dari balik layar tak cukup mampu menjaga anak muda untuk tetap duduk menonton. Pagelaran wayang kulit yang sedianya tampil sebagai satu bentuk tontonan yang tak hanya megah tapi juga multi disiplin, kini terengah mencoba segala cara untuk tetap dicintai pemiliknya.

Ya… sejak lama citra wayang di mata para penonton muda adalah tontonan orang tua, yang tak dipahami “bahasa” dan kemasannya. Mungkin karena tak akrab dengan “bahasa” berikut kemasan itulah kemudian pertunjukan bisa jadi terasa monoton dan tak menarik bagi para penonton muda.  Jelas jauh berbeda dengan begitu banyak tawaran media baru yang lebih hidup, warna-warni, dinamis, dan beragam.

Berlatar belakang kondisi budaya yang seperti itulah, Papermoon, sebuah kelompok teater boneka, diciptakan. Berawal dari membuat sebuah sanggar seni rupa dan seni pertunjukan untuk anak, di tahun kedua Papermoon meneguhkan pilihan sebagai kelompok teater boneka untuk semua kalangan.

Mencintai dan Menikmati Teater Boneka…

Berangkat dari bangsa yang memiliki sejarah panjang teater boneka, Papermoon justru tidak menggunakan wayang kulit atau wayang golek sebagai media berbagi cerita. Melalui berbagai eksperimen, boneka dengan aneka teknik diciptakan di studio kecil Papermoon. Kenapa boneka? Karena kami menemukan keasyikan tersendiri untuk membuat objek yang bebas, dan kemudian menghidupkannya.

Tak hanya membuat karya pementasan, Papermoon juga kerap berbagi ilmu melalui workshop, membuat karya video klip, dan lain sebagainya. Upaya ini dilakukan karena Papermoon ingin membagi pengalaman asyiknya menikmati teater boneka, dengan lebih banyak kalangan, melalui berbagai media.

Sedikit berbeda dengan teman-teman di kelompok atau komunitas lain yang bekerja dalam tim besar, di Papermoon, gagasan untuk berproses biasanya datang dari obrolan minum teh di sore hari antara 2 orang. Pola ini memang berlangsung dari awal Papermoon berdiri sampai sekarang. Kalau dulu saya banyak bertukar pikiran dengan Aniek Rusmawati, yang membantu membidani lahirnya Papermoon, sekarang ide dan gagasan penciptaan karya merupakan hasil obrolan saya dengan Iwan Effendi, seorang perupa sekaligus Desainer Artistik Papermoon. Sedangkan untuk mewujudkannya, kami juga merangkul beberapa teman, antara lain Nur Cahyati di bagian produksi, Octo Cornelius, dan beberapa teman lain untuk menggarap bagian artistik.

Peneguhan pilihan kami untuk serius berkarya dengan teater boneka ditandai dengan pergelaran teater boneka khusus dewasa di bulan April 2008: “Noda Lelaki di Dada Mona”. Cerita yang dilatarbelakangi kegelisahan atas peristiwa pemberontakan 1965 ini adalah naskah realis karya Joned Suryatmoko, seorang sutradara dan Direktur Artistik Teater Gardanalla. Di titik ini kami menemukan banyak peristiwa, pengalaman dan pelajaran penting untuk bekerja di ranah teater boneka. Bagaimana bekerja dengan boneka-boneka yang memiliki kekayaan visual, menerjemahkan naskah realis yang rigid ke panggung boneka, dan lain sebagainya.

Dengan maksud melakukan eksperimen dengan media teater boneka, di tahun 2008 kami menggelar 5 pementasan dengan model yang berbeda-beda.  Kebetulan di tahun yang sama, Papermoon juga menjalin kerja kolaborasi dengan seniman-seniman dari Australia, Prancis, dan Meksiko untuk membuat rangkaian pementasan “PESTA BONEKA”.

Pementasan kami yang bertajuk “Dalam Sebuah Perjalanan” menjadi penutup rangkaian pementasan PESTA BONEKA 2008 tersebut.  Pertunjukan yang mengisahkan interaksi para penumpang kereta api ini lebih dititikberatkan pada kemampuan boneka untuk menyampaikan satu cerita dengan kekuatan visualnya. Tidak digunakannya bahasa verbal dalam pertunjukan berdurasi 55 menit ini kemudian menjadi kekuatan tersendiri untuk menciptakan imajinasi yang luas bagi si pemain boneka, dan juga penontonnya.

Para sahabat memberikan sanjungan, kritik, saran, dan dorongan selepas pementasan. Satu lecutan baru di akhir tahun yang sangat berguna bagi pertumbuhan Papermoon. Karena memang beginilah cara kami belajar dan bekerja.

Yah… karena masih banyak mimpi di masa mendatang yang kami bangun di Papermoon. Karena sudah saatnya budaya teater boneka di Indonesia kembali dicintai oleh para pemiliknya. Kita semua.

Maria Tri Sulistyani atau Ria Kriwil dan "keluarga" (foto: Iwan Effendi)

* Maria Tri Sulistyani, Pendiri dan Direktur Papermoon Puppet Theatre Yogyakarta.

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

« Previous Page