>> wawancara dengan para aktor, sutradara, dan ketua Teater Seriboe Djendela


Oleh: Hindra Setya Rini*

Pukul lima sore lewat sepuluh menit, di kantin kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, awak skAna berkesempatan bercengkrama bersama teman-teman dari Teater Seriboe Djendela (TSD). Kami, yang berjumlah lebih dari sepuluh orang, duduk melingkar di sebuah meja yang cukup besar. Kebetulan sore itu anggota TSD sedang bersiap untuk latihan. Mereka mempersiapkan sebuah pertunjukan teater yang akan dipentaskan dalam tiga bulan ke depan. Maka, dalam edisi kali ini skAnA tertarik mengintip proses latihannya yang sudah berlangsung 12 kali. Yuk, kita simak apa kata mereka tentang proses teaternya kali ini…

Bisa cerita ide awal proses TSD kali ini?

Donny (sutradara):

Ini idenya perihal tubuh. Ya lebih dekat ke pantomim. Berangkat dari novelnya Michael Ende yang berjudul Momo. Itu ceritanya tentang anak kecil yang nggak bisa menjadi dewasa dan tua. Ia tinggal di sebuah desa, di sebuah bekas reruntuhan Amphiteater. Setiap harinya ia diberi makan sama orang-orang desa. Orang-orang desa sering berkunjung ke tempatnya, duduk mengobrol, hingga rutinitas itu menjadi yang sekarang kita sebut zaman. Suatu ketika datanglah penjahat waktu. Ia meminta manusia untuk menabung waktunya. Sebenarnya dalam hal ini waktu itu dicuri. Nah, aku mengambil hal ini lalu kutabrakkan dengan konteks sekarang. Ya zaman modern ini kan orang-orang pada sibuk. Gitu sih, ceritanya.

Selama 12 kali latihan, yang sudah dilakukan apa saja dalam mewujudkan ide itu?

Donny:

Kita mengundang fasilitator dari luar, Mas Ari “Inyong” Dwiyanto untuk melatih teman-teman aktor. Kita latihan dasar-dasar mime. Ya, selama 12 kali latihan ini kita masih nggedor tubuh. Agak keras tekanannya di tubuh dibandingkan proses-proses sebelumnya.

Metode yang dipakai?

Donny:

Oh iya, selain itu, yang aku lakukan waktu latihan, aku mengambil kata-kata yang kira-kira berhubungan dengan tema. Aku sodorkan ke aktor, dan aktor mulai mewujudkannya di tubuh. Ini nggak pakai naskah. Jadi aku pegang temanya, lalu ngambil kata-kata yang mewakili tema itu, dan aktor merepresentasikannya ke tubuh. Di akhir, aku tinggal memunguti dan merangkainya jadi alur peristiwa. Untuk ini kan aku nggak bikin seluruh cerita Momo itu, aku cuma ngambil bagian orang-orang desa tak lagi mengunjungi Momo. Saat Momo sendiri. Nah kemungkinan gerak-gerak di momen itu yang coba diwujudkan.

Bagaimana kesan aktor-aktor selama 12 kali latihan ini?

Fred (Ketua TSD sekaligus aktor):

Mm, ya masih belajar basic mime, sih. Mengolah tubuh, rasa, imajinasi, dan konsepnya.

Via:

Masih belajar gimana cara jalan yang di pantomim-pantomim itu lho… Capek sih, tapi senang dapet pengalaman baru. Oh ya, pertama bingung mau gimana geraknya karena tubuhku belum lentur kayak yang lain.

Ardi:

Wah, pertama kaget. Soalnya latihan tubuhnya lebih berat dari proses sebelumnya. Loncat-loncat, dan latihan fisiknya lebih dari biasanya. Selama ini masih sering merasa kesulitan karena tubuh bagian bahuku itu masih kaku. Tapi, senangnya sih sekarang jadi dapat teman-teman baru. Sebelumnya kan prosesnya per kelompok, jadi nggak kenal banyak teman.

Helga:

Seperti yang lain aku juga jadi tambah pengalaman baru. Ya capek juga, kita pernah seharian latihan khusus fisik aja. Hm, tapi yang aku suka adalah gerakan yang kayak dance, gitu…

Ley:

Sangat menyenangkan, berat badanku bisa turun. Haha.. Jadi sehat. Selain pengalaman ya sekarang aku jadi lebih tahu perihal pantomime dan teater.

Yuli a.k.a Ogep:

Kaget. Dulu di awal masuk aja aku sempat sakit. Fisik nggak kuat, tenaga terkuras habis.

Iyut (Tim Produksi, yang sebelumnya juga aktor):

Senengnya banyak teman baru, capeknya ya ini kayak latihan ulang. Proses sama orang yang terus baru per tahunnya. Paling susah ngumpulin orang yang bisa bertahan lama meskipun nggak ada pentas. Biasalah, seleksi alam. Ini aja awalnya ada 50 anggota baru, yang bertahan tinggal 20an orang sekarang.

Ada treatment yang dianjurkan ke aktor-aktor baru ini, nggak?

Donny:

Iya, pasti. Mereka kuanjurkan nonton film, rajin ikut diskusi, observasi, dan banyak baca buku. Yang paling sulit itu baca buku. Dan sebagai sutradara, aku juga sudah terbiasa stress menghadapi anak-anak baru ini. Hehehe…

Oh ya, kebetulan fasilitator ada di sini, bisa cerita tentang latihannya, Mas?

Ari “Inyong”:

Saya sebenarnya juga berterima kasih dengan TSD, karena ini juga jadi tempat belajar saya. Ini juga baru buat saya, jadi saya mencoba merumuskan metode mime dan teater di sini. Ya seperti menyusun metode latihan dasar yang ada di mime dan yang pernah saya peroleh dari teater juga, begitu. Hmm, ya kesannya mereka jadi tempat percobaan saya, hahahaha…

Oke, ngomong-ngomong kapan sih rencana pentasnya?

Donny:

Bulan Mei tanggal 14-15.

Iyut & para aktor:

Itu pas ultahnya TSD, lho… Jadi ini sekalian memperingati satu dekade Teater Seriboe Djendela. Datang ya…

Anggota Teater Seriboe Djendela

Sekilas tentang Teater Seriboe Djendela…

Awalnya sebelum Teater Seriboe Djendela berdiri, pada tahun 1997 di Sanata Dharma didirikan semacam grup ketoprak bernama Sadar Budaya. Kemudian sekitar tahun 1998, entah bagaimana mulanya, Nano, Dudik, dan beberapa teman mendirikan teater kampus. yang kemudian diberi nama Teater Seriboe Djendela (TSD). Seriboe Djendela adalah semacam ikon Universitas Sanata Dharma yang memang bangunannya punya banyak sekali jendela, pada masa itu sampai sekarang.

Tahun ini telah genap satu dekade usia TSD dan sudah mengalami sepuluh kali regenerasi. Selain sedang mempersiapkan pentas satu dekadenya, TSD menjalankan program rutin berupa rapat keluarga (perekrutan dan pelantikan anggota baru), expo, dan pementasan minimal satu kali setahun.

Sekilas harapan para anggota untuk TSD…

TSD berharap ke depannya kampus Universitas Sanata Dharma punya auditorium sehingga mereka punya tempat latihan di kampus. Para anggota sendiri berharap bisa lebih maju dalam kualitas keaktorannya, produksi berjalan lancar, bisa dikenal di kancah perteateran, dan terus membuat karya.

Selamat buat Teater Seriboe Djendela, selamat ulang tahun yang ke sepuluh di bulan Mei, dan selamat berkarya. Tetap semangat! –awak skAnA.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)