Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Pesta Pencuri merupakan pementasan teater yang mengisahkan tiga pencuri jalanan─ Bonong, Cacing, dan Cengik─yang menghadiri pesta pencuri yang diadakan oleh keluarga Ayu Selintas, dedengkot pencuri. Sebenarnya mereka hendak mencuri harta keluarga tersebut, namun ternyata rumah itu sudah dipenuhi dengan tamu yang bertujuan sama dengan mereka.

Rupanya tuan rumah sudah membaca gelagat para tamunya, maka Ayu Selintas mengatur strategi untuk menjebak mereka dengan mengumpankan kekayaannya. Diam-diam ia memanggil polisi. Maka semua tamu yang berpredikat pencuri tersebut menjadi kalang kabut; ada yang tertangkap, ada yang melarikan diri, ada yang berhasil membawa kabur barang-barang tapi tak seberapa harganya. Para polisi sibuk menangkapi para pencuri, sementara harta kekayaan Ayu Selintas─yang juga hasil curian─terselamatkan.

Aktor Menggambar Panggung

Cerita yang ditulis pada tahun 1938 tersebut digarap dalam bentuk teater nonrealis oleh Zainuri, sutradara Bengkel Muda Surabaya. Bentuk artistik panggung sangatlah sederhana; panggung berlatar dan beralaskan kain hitam, sebuah level berada di tengah panggung, dan tiga pigura kotak menggantung di atasnya. Setting panggung terlihat fokus di dalam ruangan luas yang merupakan galeri pameran seni rupa itu─tepatnya di lantai dua Sangkring Art Space.

Permainan aktor terlihat dinamis. Aktor mengeksplorasi ruang dengan gerak tubuh yang bermacam bentuknya: gerak rampak, slow motion, dan gerak patah. Permainan  dibangun dengan irama gerak yang cepat, dialog antar aktor juga terucap dengan cepat, bahkan kadang tak tertangkap apa yang terucap. Pelisanan lebih ternikmati sebagai musik daripada dialog yang membangun alur cerita. Dalam hal ini, aktor membangun atmosfer pertunjukan menjadi sebuah peristiwa panggung yang kaya; aktor tak sekadar menjadi komunikator teks, namun aktor dapat merepresentasikan dirinya sebagai setting, properti, dan musik.

Penonton disuguhi lintasan-lintasan peristiwa dalam alur non linier. Lintasan peristiwa itu hadir dalam fragmen-fragmen adegan yang acak dan dipenuhi koreografi gerak. Hal itu terlihat dalam adegan bertemunya para pencuri untuk memamerkan hasil curiannya, percakapan ayah dan anak yang berprofesi sebagai pencuri, ketegangan antar pencuri, dan konflik keluarga Ayu Selintas. Komunikasi aktor dengan penonton tidak semata terbangun lewat komunikasi verbal, tetapi juga lewat gestur dan gerak tubuh. Setiap adegan berhasil membuat penonton terkesima, tertawa geli, dan bertanya-tanya. Dalam pertunjukan tersebut, aktor sedang menggambar panggung dengan sumber daya keaktorannya.

Selama pertunjukan berlangsung, aktor bermain dengan stamina yang prima dan sesuai dengan karakter peran masing-masing. Rentang usia para aktor yang jauh berbeda (17-62 tahun) tidak membuat permainan menjadi tak seimbang. Energi aktor seperti tak ada surutnya dalam permainan  yang didominasi oleh gerak tubuh itu.

***

“Pengumuman-pengumuman…! Malam ini akan diselenggarakan Pesta Pencuri!! Acara akan diresmikan oleh presiden, wakil presiden, gubernur, walikota, bupati, konglomerat, intelektual, dan mahasiswa.” Seorang aktor yang mengenakan sarung, berseragam Korpri, dan berpeci, berteriak sambil melemparkan satu persatu map proposal ke depan panggung pertunjukan, ke segala arah.

Adegan tersebut menjadi akhir dari pementasan Pesta Pencuri sekaligus menjadi penutup yang mengejutkan ketika peresmian acara pesta diletakkan pada adegan akhir. Yap, sebentar lagi pesta pencuri yang sesungguhnya akan dimulai. Pesta yang penuh dengan strategi yang licik, dan culas!

Pesta Pencuri dan Sangkring Art Space

Lakon Pesta Pencuri ini diterjemahkan dari Le Bal des Voleurs karya Jean Anouilh (sastrawan dan dramawan Prancis) oleh Asrul Sani (Pustaka Jaya 1986). Pesta Pencuri dipentaskan pada tanggal 15 November 2008, di Sangkring Art Space, desa Nitiprayan No.88 RT 1/RW 2 Ngestiharjo, Kasihan-Bantul, Yogyakarta. Pertunjukan tersebut berdurasi satu setengah jam dan dihadiri kurang lebih 100 penonton.

Pementasan Pesta Pencuri adalah pementasan teater pertama yang digelar di Sangkring Art Space, tempat yang biasanya berfungsi sebagai ruang pameran lukisan, patung, instalasi, dan fotografi. Sangkring Art Space membuka ruang bagi seni pertunjukan seperti teater, tari, dan fashion show. “Kami menyediakan fasilitas berupa tempat pementasan, publikasi, dan ruang istirahat bagi kelompok seni pertunjukan baik dari dalam maupun luar kota,” kata Putu Sutawijaya pemilik Sangkring Art Space.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 09, Maret – Juli 2009)

*****

Tim Kerja Pesta Pencuri

Sutradara: Zainuri Astrada: Dedi ‘Obeng’ Supriadi Artistik: Saiful Hadjar Pemain: Saiful Hadjar, M. Ipung Syaiful Arif, Mastohir, Taufik Sholekhudin Sofjan, Novi Arista Koesworo, Ida Ayu ‘Gek’ Kade Ari Trisnawati, Sesilia Menuk Wijayanti, Amar Marjangkung, Hanif Nasrullah Pimpinan Produksi: Hanif Nasrullah

Komentar Penonton

Bagus. Seneng, teater sepertinya mati suri ya. Jadi kita juga mencoba terbuka saja untuk berbagi ruang meski dengan persiapan yang singkat. (Putu Sutawijaya, perupa dan pemilik  Sangkring Art Space)

Baru kali ini lho ada pementasan di galeri..tentang pementasan ini..dibilang bagus juga gimana…? Tapi eksplorasinya ternikmati. (Ale, ISI, jurusan teater semester 9, usia 25)

Menarik, untuk garapan sekarang ini banyak idiom-idiom yang tidak klise karena ada sentuhan lain, tapi kalau saya, seandainya saya orang Surabaya, saya garap model Surabaya-an. Ini cukup menarik karena pemain banyak dan terampil. Dengan kostum gaya semacam tadi sentuhannya akan lebih deket…Nah, untuk teater di Jogja harus lebih menggali lagi. (Jujuk Prabowo, sutradara Teater Gandrik)

Bagus, banyak kritik sosialnya, dan saya tertarik dengan kritikan-kritikannya. (Tyas, pegawai STSI Solo, Jawa tengah, usia 27 tahun)

Untuk pertunjukan ini bagus ketika beberapa adegan tertentu…kata-kata yang paling saya suka adalah kesetiaan adalah bakat alam yang tidak dapat dilatih..dan kejujuran adalah cara untuk menikmati dunia ini. (Fifi,  aktor Teater Gajah Mada)