Pengalamanku Menonton Pertunjukan

Oleh: Anjar Primasetra

Jujur. Walau saya baru menonton pertunjukan teater sebanyak empat kali (huah… maafkan saya yang sedikit katrok ini, sudah sepuluh tahun hidup di Jogja tapi baru empat kali menonton teater), ada tiga hal yang paling saya perhatikan saat menonton pertunjukan teater: lighting, musik pengiring, dan ekspresi penonton. Menurut saya tiga hal itu adalah unsur yang paling penting dalam sebuah pertunjukan, selain akting para pemain tentunya.

Lighting dan musik pengiring dapat menggiring penonton lebih khusyuk dalam menikmati sebuah pertunjukan. Saat pementasan teater Sakata beberapa pekan lalu di Studio Teater Garasi, saya sempat sedikit was-was karena pada waktu berangkat di sepanjang jalan Godean terjadi pemadaman listrik. Lalu muncul pertanyaan dalam kepala saya, “Wah di sana mati lampu, nggak ya?” Kan tidak lucu kalau tata cahaya yang dipakai dalam pementasan adalah lilin yang dijejerkan di lantai atau dibuat melingkar. Tapi, mungkin bisa dicoba sekali-sekali, pementasan teater dengan menggunakan lilin sebagai efek cahayanya. Syukurnya, ternyata tidak ada pemadaman lampu, dan pementasan berlangsung lancar dan ciamik!

Ekspresi wajah penonton juga hal yang paling saya perhatikan dalam sebuah pementasanapa pun itu. Ya musik, teater, sulap, bahkan pengajian. Karena menurut saya, ekspresi wajah penonton dapat menunjukkan apakah pementasan tersebut berbobot atau tidak. Jujur, saya sedikit kecewa ketika melihat wajah seorang penonton yang terlihat bosan, padahal menurut saya acara tersebut layak untuk ditonton. Atau sebaliknya, saya bosan tapi penonton di sekitar menunjukkan ekspresi wajah yang begitu antusias (saat itu saya akan bertanya dalam hati, “He? Ada yang salah nih, ya? Atau aku-nya yang lemot??”).

Malam itu, 15 Mei 2009, dalam pementasan Kemana Waktu? Aku Ingin Bermain! ketiga hal yang saya sebut tadi menjadi sebuah komposisi yang menarik. Tata cahaya yang apik, sesuai dengan adegan yang dimainkan. Backsound yang sangat komikal (menggunakan soundtrack anime Ninja Hattori Kun, OST game Pac-man, Counterstrike, dan Parasite Eve) cocok sekali dengan “warna” yang sedang dimainkan (saya berpikir, sutradara yang memilih lagu-lagu tersebut pasti Otaku dan maniak Jepang). Dan yang pasti, ekspresi penonton saat itu cukup antusias. Kesimpulan saya, pertunjukan pantomim dari Teater Seriboe Djendela itu menarik dan layak ditonton!

Pertunjukan ini diselenggarakan sekaligus untuk memperingati sepuluh tahun usia kelompok teater yang bermarkas di Universitas Sanata Dharma itu. Naskah diangkat dari sebuah novel karya penulis Jerman,  Michael Ende, berjudul Momo. Ini adalah kisah tentang perlawanan seorang anak bernama Momo terhadap penjahat waktu yang menghasut orang-orang agar menggunakan waktunya hanya untuk bekerja dan sedikit beristirahat. Momo kehilangan teman-teman sepermainannya karena sejak kedatangan penjahat waktu, para orang tua melarang anak-anaknya untuk membuang-buang waktu dengan bermain, karena bermain dianggap tidak berguna bagi masa depan mereka. Akhirnya, mereka tidak dapat lagi bermain bersama dan keceriaan pun menghilang.

Pada awalnya, seperti tertulis dalam booklet pertunjukan, Teater Seriboe Djendela ingin mementaskan secara utuh naskah novel tersebut. Namun karena beberapa keterbatasan, mereka kemudian melakukan adaptasi; beberapa poin penting dari pembacaan novel Momo diterjemahkan menjadi empat fase pertunjukan.

Fase pertama: suasana di mana anak-anak yang penuh dengan keceriaan masih bisa bermain petak umpet dan kejar-kejaran. Suasana itu seketika terusik oleh kedatangan para orang tua yang melarang anak-anaknya bermain. Para orang tua itu kemudian mengganti permainan anak-anaknya dengan console game dan permainan video lainnya yang sangat individualis. Tentu saja, dalam fase ini ada tokoh Momo yang ditinggalkan oleh teman-temannya. Tokoh Momo itu digambarkan sebagai seorang anak perempuan manis yang akhirnya harus bermain-main sendiri.

Oh, ya, saat kemunculan pertama kali tokohnya satu demi satu, saya cukup merasakan sebuah distorsi dalam benak saya. Ada yang aneh dengan mereka. Apa ya? Ah, itu dia. Proporsi tubuh tokoh-tokohnya sangat aneh, dengan ukuran kepala yang sepertinya sedikit lebih besar. Ha ha… saya seperti sedang bermain game RPG seperti FF VII dan classic RPG di Play Station dengan karakter super deformed (SD) yang cebol-cebol. Tapi, ini mungkin terjadi karena tokoh-tokoh tersebut (yang adalah orang-orang dewasa) menggunakan pakaian anak-anak. Tapi, tidak apa-apa. Menurut saya itu keren, apalagi dengan tokoh-tokoh kocak dan komikal banget, membuat semua penonton terpingkal. It’s cool, dude!

Fase kedua adalah saat mereka bersekolah dan harus giat belajar agar mendapatkan prestasi yang cemerlang. Fase ketiga adalah saat mereka lulus kuliah dan mendapatkan IPK yang bagus. Mereka bangga dengan hasil yang telah diraih. Pada adegan ini digambarkan mereka memperlihatkan IPK masing-masing dengan gaya gadis-gadis yang membawakan nomor ronde pada pertandingan tinju. Kemudian mereka berpose beberapa saat, seakan siap untuk difoto (ya, memang begitu, karena serentak para fotografer dengan sigap menjepret kameranya). Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Pada akhirnya mereka terpojok dalam kenyataan sulitnya memperoleh lapangan pekerjaan, walaupun IPK sudah setinggi langit.

Fase terakhir menceritakan kondisi saat mereka sudah bekerja dengan pekerjaan yang begitu berat, menyita waktu, dan menjemukan. Mereka berakting layaknya robot (mesin) yang sedang beroperasi. Sewaktu adegan robot-robot itu berdiri menyebar di panggung dengan lighting lampu disko dan musik yang ajeb-ajeb, saya menanti sebuah adegan di mana tiba-tiba musik berubah menjadi lagu-lagu bernada twinkle-twinkle little star lalu Momo muncul berjalan melintasi panggung dan berhenti di depan penonton dengan ekspresi wajah yang menyedihkan. Tapi sayang, tidak ada adegan seperti itu.

Pementasan itu diakhiri dengan adegan yang menggambarkan orang-orang yang sudah menjadi robot itu jenuh dan merindukan masa kecil mereka yang bahagia di mana mereka masih bisa bermain dan bercanda. Dengan mupeng (muka pengen), orang-orang itu memandang Momo yang asyik bermain dengan penuh keceriaan.

Pesan yang dapat saya tangkap dari pertunjukan ini adalah, gunakanlah waktu sebaik mungkin. Jangan sampai kita menyesal karena telah ditinggalkan oleh sang waktu untuk mengejar kesibukan-kesibukan yang membuat kita menjadi robot. Kalaupun nantinya kita tetap akan menjadi robot, jadilah robot yang bisa minum kopi bersama teman-teman sesama robot. Loh?

NB: sehabis menonton dan mendiskusikannya bersama teman-teman di luar ruang pertunjukan, saya baru menyadari ternyata pertunjukan ini dari awal saja sudah absurd. Harga tiket pertunjukan bukan 5000 tetapi 4900. Bah…

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

Advertisements

Oleh: Ficky Tri Sanjaya *

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Itulah tema yang diusung Jemek Supardi dalam pementasan pantomimnya berjudul Jangan Biarkan Aku Sendiri. Malam itu, tanggal 31 Mei, Jemek menggelar pertunjukan di bawah jembatan Gondolayu tepatnya di daratan yang berada di tengah sungai Code. Artistik panggung berupa instalasi keranjang bambu yang ditata berbentuk pita─simbol peduli HIV/AIDS─yang di dalamnya terdapat nyala api. Di sekitarnya, ditempatkan beberapa obor dan sentir (lampu minyak). Malam itu menjadi malam istimewa bagi penghuni sekitar sungai Code dan para penikmat seni. Tempat yang biasanya tampak sepi itu, mendadak menjadi ramai. Banyak orang dari luar kampung berdatangan ingin menyaksikan pertunjukan dari Jemek Supardi. Tidak hanya muda-mudi dan orang tua, anak-anak juga tidak mau kalah ikut berkumpul di sana karena penyelenggara acara juga mengadakan permainan untuk anak-anak sebelum pertunjukan dimulai. Banyak juga wartawan lalu-lalang mengambil gambar. Beberapa orang panitia juga modar-mandir  menyodorkan selebaran tentang HIV/AIDS  dan daftar hadir.

Mendekati waktu pertunjukan, semakin banyak orang berdatangan. Sekitar pukul 19.45 panitia mempersilakan penonton untuk berkumpul di sisi timur talud sungai Code.  Panitia memberikan lilin untuk dinyalakan sebelum pementasan dimulai, dan mengingatkan penonton untuk tidak bertepuk tangan selama pertunjukan belangsung. Tampak pasangan muda-mudi dan banyak penonton lain menonton pertunjukan tersebut dari atas jembatan, sambil melongok ke bawah. Hal itu menarik perhatian saya─yang kemudian beranjak menuju jembatan untuk bergabung dengan mereka, menonton dari atas jembatan Gondolayu.

Pertunjukan dimulai. Musik mengalun pelan. Tampak dari atas, lilin-lilin yang dibawa oleh penonton bergerak, membuat irama gerak sendiri di pinggir talud. Suara aliran sungai menambah semarak, membuat suasana menyatu dengan alam sekitar sungai Code. Beberapa saat kemudian, persis dari bawah jembatan, dari arah utara, Jemek Supardi keluar dengan kostum dan make up putih dengan tali-tali tambang meliliti tubuhnya. Ia berjalan pelan mengikuti arus sungai dengan membawa daun pisang menutupi kepalanya, menjangkau daratan di tengah sungai. Kemudian dia mulai bergerak merespon daun pisang, menarik dan mengulur daun pisang hingga akhirnya terlepas dari tangan, terbawa arus sungai yang mengalir ke selatan. Jemek kembali terjun ke dalam arus sungai menyeberang tertatih-tatih ke daratan yang lain. Ia berusaha mengambil lampu sentir untuk menyelamatkan cahayanya dengan membawanya ke atas bebatuan kali.  Ia berusaha keras untuk naik ke atas batu hingga kadang jatuh kembali ke bawah, namun tetap berusaha melindungi agar cahaya tersebut tidak padam.

Ia berhasil naik ke atas batu dan menaruh sentir di atasnya kemudian berusaha keras melepas lilitan tali tambang pada tubuhnya. Setelah lilitan tambang tersebut lepas, Jemek menghempaskan dirinya ke dalam arus sungai. Ia ingin menjangkau cahaya lain yang lebih jauh, berusaha melawan arus untuk menyelamatkan cahaya ke daratan tempat keranjang bambu diletakkan, namun usahanya gagal! Ia terpeleset dan terjerembab ke air sehingga cahaya sentir tersebut padam. Sementara itu, salah satu keranjang bambu terbakar oleh api sentir. Jemek berusaha menyelamatkan keranjang bambu tersebut, mungkin agar api tidak membakarnya, ia menghempaskan keranjang itu ke dalam arus sungai. Pertunjukan usai diikuti tepuk tangan penonton.

Dari segi kemasan, pertunjukan pantomim ini lebih kaya dalam bentuk pementasan dan gesture tubuh, karena tidak hanya menggunakan medium mimik wajah dan gerak slapstick seperti yang biasa kita lihat dalam pertunjukan pantomim pada umumnya. Ternyata, pantomim juga bisa dibentuk dari atmosfir peristiwa yang tercipta saat itu. Yang juga menarik di sini adalah pemilihan tempat pertunjukan. Saya kira pertunjukan eksperimental dari Jemek Supardi ini menjadi langkah yang menarik untuk membuka ruang seni pertunjukan, sehingga tidak terbatas pada kantong-kantong seni dan gedung pertunjukan. Saya melihat pemilihan tempat yang tidak biasa ini patut mendapat apresiasi. Perlu kiranya jika pertunjukan semacam ini terfasilitasi dan tergagas dalam sebuah festival seni pertunjukan. Pementasan-pementasan di ruang alternatif juga pernah dilakukan beberapa kelompok seni, antara lain Teater Gardanalla, kelompok Performace Club, Debur 21, dan koreografer tari Fitri Setyaningsih. Dalam Festival Kesenian Yogyakarta tahun 2008 yang lalu diselenggarakan festival Babad Kampung yang digelar di kampung masing-masing peserta. Hal ini─pertunjukan di ruang pertunjukan alternatif─akan menarik perhatian tidak hanya dari publik penikmat seni pertunjukan saja, tapi juga masyarakat awam untuk mengapresiasi seni pertunjukan. Jika tempat-tempat alternatif tersebut semakin ramai, dunia kesenian kita akan lebih hidup.

* Ficky Tri Sanjaya, Pantomimer, aktif di Bengkel Mime Theatre Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

>> wawancara dengan para aktor, sutradara, dan ketua Teater Seriboe Djendela


Oleh: Hindra Setya Rini*

Pukul lima sore lewat sepuluh menit, di kantin kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, awak skAna berkesempatan bercengkrama bersama teman-teman dari Teater Seriboe Djendela (TSD). Kami, yang berjumlah lebih dari sepuluh orang, duduk melingkar di sebuah meja yang cukup besar. Kebetulan sore itu anggota TSD sedang bersiap untuk latihan. Mereka mempersiapkan sebuah pertunjukan teater yang akan dipentaskan dalam tiga bulan ke depan. Maka, dalam edisi kali ini skAnA tertarik mengintip proses latihannya yang sudah berlangsung 12 kali. Yuk, kita simak apa kata mereka tentang proses teaternya kali ini…

Bisa cerita ide awal proses TSD kali ini?

Donny (sutradara):

Ini idenya perihal tubuh. Ya lebih dekat ke pantomim. Berangkat dari novelnya Michael Ende yang berjudul Momo. Itu ceritanya tentang anak kecil yang nggak bisa menjadi dewasa dan tua. Ia tinggal di sebuah desa, di sebuah bekas reruntuhan Amphiteater. Setiap harinya ia diberi makan sama orang-orang desa. Orang-orang desa sering berkunjung ke tempatnya, duduk mengobrol, hingga rutinitas itu menjadi yang sekarang kita sebut zaman. Suatu ketika datanglah penjahat waktu. Ia meminta manusia untuk menabung waktunya. Sebenarnya dalam hal ini waktu itu dicuri. Nah, aku mengambil hal ini lalu kutabrakkan dengan konteks sekarang. Ya zaman modern ini kan orang-orang pada sibuk. Gitu sih, ceritanya.

Selama 12 kali latihan, yang sudah dilakukan apa saja dalam mewujudkan ide itu?

Donny:

Kita mengundang fasilitator dari luar, Mas Ari “Inyong” Dwiyanto untuk melatih teman-teman aktor. Kita latihan dasar-dasar mime. Ya, selama 12 kali latihan ini kita masih nggedor tubuh. Agak keras tekanannya di tubuh dibandingkan proses-proses sebelumnya.

Metode yang dipakai?

Donny:

Oh iya, selain itu, yang aku lakukan waktu latihan, aku mengambil kata-kata yang kira-kira berhubungan dengan tema. Aku sodorkan ke aktor, dan aktor mulai mewujudkannya di tubuh. Ini nggak pakai naskah. Jadi aku pegang temanya, lalu ngambil kata-kata yang mewakili tema itu, dan aktor merepresentasikannya ke tubuh. Di akhir, aku tinggal memunguti dan merangkainya jadi alur peristiwa. Untuk ini kan aku nggak bikin seluruh cerita Momo itu, aku cuma ngambil bagian orang-orang desa tak lagi mengunjungi Momo. Saat Momo sendiri. Nah kemungkinan gerak-gerak di momen itu yang coba diwujudkan.

Bagaimana kesan aktor-aktor selama 12 kali latihan ini?

Fred (Ketua TSD sekaligus aktor):

Mm, ya masih belajar basic mime, sih. Mengolah tubuh, rasa, imajinasi, dan konsepnya.

Via:

Masih belajar gimana cara jalan yang di pantomim-pantomim itu lho… Capek sih, tapi senang dapet pengalaman baru. Oh ya, pertama bingung mau gimana geraknya karena tubuhku belum lentur kayak yang lain.

Ardi:

Wah, pertama kaget. Soalnya latihan tubuhnya lebih berat dari proses sebelumnya. Loncat-loncat, dan latihan fisiknya lebih dari biasanya. Selama ini masih sering merasa kesulitan karena tubuh bagian bahuku itu masih kaku. Tapi, senangnya sih sekarang jadi dapat teman-teman baru. Sebelumnya kan prosesnya per kelompok, jadi nggak kenal banyak teman.

Helga:

Seperti yang lain aku juga jadi tambah pengalaman baru. Ya capek juga, kita pernah seharian latihan khusus fisik aja. Hm, tapi yang aku suka adalah gerakan yang kayak dance, gitu…

Ley:

Sangat menyenangkan, berat badanku bisa turun. Haha.. Jadi sehat. Selain pengalaman ya sekarang aku jadi lebih tahu perihal pantomime dan teater.

Yuli a.k.a Ogep:

Kaget. Dulu di awal masuk aja aku sempat sakit. Fisik nggak kuat, tenaga terkuras habis.

Iyut (Tim Produksi, yang sebelumnya juga aktor):

Senengnya banyak teman baru, capeknya ya ini kayak latihan ulang. Proses sama orang yang terus baru per tahunnya. Paling susah ngumpulin orang yang bisa bertahan lama meskipun nggak ada pentas. Biasalah, seleksi alam. Ini aja awalnya ada 50 anggota baru, yang bertahan tinggal 20an orang sekarang.

Ada treatment yang dianjurkan ke aktor-aktor baru ini, nggak?

Donny:

Iya, pasti. Mereka kuanjurkan nonton film, rajin ikut diskusi, observasi, dan banyak baca buku. Yang paling sulit itu baca buku. Dan sebagai sutradara, aku juga sudah terbiasa stress menghadapi anak-anak baru ini. Hehehe…

Oh ya, kebetulan fasilitator ada di sini, bisa cerita tentang latihannya, Mas?

Ari “Inyong”:

Saya sebenarnya juga berterima kasih dengan TSD, karena ini juga jadi tempat belajar saya. Ini juga baru buat saya, jadi saya mencoba merumuskan metode mime dan teater di sini. Ya seperti menyusun metode latihan dasar yang ada di mime dan yang pernah saya peroleh dari teater juga, begitu. Hmm, ya kesannya mereka jadi tempat percobaan saya, hahahaha…

Oke, ngomong-ngomong kapan sih rencana pentasnya?

Donny:

Bulan Mei tanggal 14-15.

Iyut & para aktor:

Itu pas ultahnya TSD, lho… Jadi ini sekalian memperingati satu dekade Teater Seriboe Djendela. Datang ya…

Anggota Teater Seriboe Djendela

Sekilas tentang Teater Seriboe Djendela…

Awalnya sebelum Teater Seriboe Djendela berdiri, pada tahun 1997 di Sanata Dharma didirikan semacam grup ketoprak bernama Sadar Budaya. Kemudian sekitar tahun 1998, entah bagaimana mulanya, Nano, Dudik, dan beberapa teman mendirikan teater kampus. yang kemudian diberi nama Teater Seriboe Djendela (TSD). Seriboe Djendela adalah semacam ikon Universitas Sanata Dharma yang memang bangunannya punya banyak sekali jendela, pada masa itu sampai sekarang.

Tahun ini telah genap satu dekade usia TSD dan sudah mengalami sepuluh kali regenerasi. Selain sedang mempersiapkan pentas satu dekadenya, TSD menjalankan program rutin berupa rapat keluarga (perekrutan dan pelantikan anggota baru), expo, dan pementasan minimal satu kali setahun.

Sekilas harapan para anggota untuk TSD…

TSD berharap ke depannya kampus Universitas Sanata Dharma punya auditorium sehingga mereka punya tempat latihan di kampus. Para anggota sendiri berharap bisa lebih maju dalam kualitas keaktorannya, produksi berjalan lancar, bisa dikenal di kancah perteateran, dan terus membuat karya.

Selamat buat Teater Seriboe Djendela, selamat ulang tahun yang ke sepuluh di bulan Mei, dan selamat berkarya. Tetap semangat! –awak skAnA.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Philippe Bizot, pantomimer asal Perancis mementaskan Pantomim berjudul Tahap-Tahap Kecil Kebahagiaan. Pementasan digelar pada hari Jum’at tanggal 13 Juni pukul 19:30 WIB, di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jalan Sagan no.3 Yogyakarta. Pementasan tersebut merupakan program Internasional Festival Kesenian Yogyakarta ke 20 (FKY XX), sekaligus agenda LIP tahunan: Musim Semi Perancis atau Printems Francais.

Pementasan yang berdurasi sekitar 1 jam 20 menit itu sangat diminati penonton, hingga membuat gedung pertunjukan yang memuat sekitar 200 penonton itu dipenuhi para penonton yang duduk berjejal (sebagian lesehan dan duduk di undakan). Tetapi meski duduk berjejalan, tak mengurangi perhatian dan konsentrasi dalam melihat penampilan Philippe Bizot. Pementasan TahapTtahap Kecil Kebahagiaan itu terbungkus dalam suasana segar dan menggembirakan. Tak seorangpun yang beranjak pergi di tengah pementasan.

Tahap-Tahap Kecil Kebahagiaan terdiri dari beberapa nomor repertoar pantomim, yang berjudul: Gigi Susu, Di Ruang Kelas, Pertemuan Cinta, Sirkus, dan Pantai. Philippe Bizot bermain dengan gerak dan mimik yang  terolah secara matang. Gerak dan mimik yang dimainkannya sangat kuat, berhasil menciptakan imajinasi dalam benak para penonton. Imajinasi yang kadang konyol, satir, indah, nakal, dan mengejutkan. Repertoar itu seperti rangkaian alur yang bercerita tentang perjalanan hidup manusia: kelahiran, kebahagiaan masa kanak-kanak, kisah cinta remaja, dan peristiwa tak terduga.

Di Ruang Kelas, misalnya, hanya dengan properti sebuah kursi, ia duduk sambil menulis dan usil sendiri. Dengan mimik wajah dan gerak yang rileks, ia dapat menggambarkan suasana kelas yang ramai dan banal; dimarahi guru, mencontek, ngusilin teman dengan melempar upil, dan marah-marah sendiri. Sehingga membuat penonton tertawa geli, dan semakin antusias mengikuti permainannya. Juga dalam repertoar Pantai, ia berperan sebagai wisatawan yang sedang bersantai. Seolah di depannya adalah lautan luas. Kemudian ia membuat ulah dengan gerakan yang malu-malu saat mencopot pakaiannya. Hal tersebut memunculkan imajinasi “nakal” yang memancing tawa penonton.

Bentuk pantomim klasik menjadi pilihan bentuk pementasan dengan gerak dan mimik yang khas; kadang komikal, hiperbolik, realis, dan imajinatif. Dengan iringan musik sebagai pendukung suasana, ia bermain dengan intensif dan rapi. Penampilannya sangat sederhana; berkemaja putih, bercelana hitam, dan berpoles make up putih. Kesederhanaan itu menjadi kekuatan dalam memainkan peran. Gerakannya mudah dicerna, lugas, dan tidak berbelit. Hanya lewat gerak dan mimik, alur ceritanya dapat tersampaikan pada penonton. “Tahap-Tahap Kecil Kebahagiaan” telah berhasil mengkomunikasikan banyak peristiwa lewat bahasa tubuh. Bahasa manusia yang tak sebatas kata-kata.

Usai mementaskan “Tahap-Tahap Kecil Kebahagian”, lelaki 54 tahun itu mempersilakan penonton untuk menentukan judul, beberapa penonton langsung tunjuk jari lalu menyebutkan judul sesuai keinginannya. Misalnya: Melahirkan, zombie, memancing, anak kembar, kemudian ia langsung memainkan pantomimnya sesuai judul atau tema yang diberikan oleh penonton. Ia memainkannya secara spontan, cerdas, imajinatif, dan mengejutkan. Semakin mempertegas bahwa proses kreatifnya tak diragukan lagi.

Pantomimer sekaligus Petualang.

Philippe Bizot lebih dari 30 tahun bermain pantomim, sekaligus merupakan pengajar, sutradara dan seniman. Ia bergelut dalam bidang seni tidak hanya di Eropa, namun juga di Amerika Latin, Amerika Serikat, Afrika, maupun Asia. Di beberapa tempat yang pernah disinggahinya, ia mendirikan sekolah pantomim (Angoulême, La Paz, Karachi, Beijing).

Pada bulan Oktober 1974, Philippe Bizot menjadi juara pertama dalam festival pantomim kota Paris. Pada tahun 2003, ia meraih hadiah utama festival teater dunia di Puerto Montt di Chili. Ia selalu mengedepankan imajinasi dan komunikasi non-verbal. Ia menggunakan bakatnya sebagai cara untuk mengangkat mereka yang sering terabaikan oleh budaya (konvensional), mereka yang memiliki cacat fisik atau yang kurang mampu. Philippe Bizot adalah seorang Pantomimer sekaligus petualang peristiwa

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

*****


Komentar Penonton

Bagus, yang namanya pantomim itu kan mengimajinasikan benda kan? Kita itu bisa tahu gitu lho, yang dia buat di dunianya itu apa gitu lho.. (Akbar, SMA Piri 1 Yogyakarta, 17 tahun)

Keren, fantastic, dan mengharukan. (Fifi Andriani, Mahasiswi Undip Semarang, usia 21tahun)

Aku paling suka sama konsep penutupannya, terus aku suka mimiknya sama cahayanya bagus banget. (Ginting, semester akhir, Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma,, 23 tahun)

Seger, tapi malah asyik permintaan dari penonton, kan bisa nonton respon dan enggelnya; dia mengambil konsep dalam waktu yang singkat. (Wahmuji, Sastra Inggris, Sanata Darma, semester akhir)

Imut, yahud, teknisnya matang, simpel, jelas, dan mudah  dipahami. (Ali Arzad, Pantomimer muda, jurusan teater ISI, semester 11)

Lucu, seru, bapaknya kayaknya  kreatif deh.  Diluar dugaan. (Iyut, Sastra inggris, Universitas Sanata Darma, semester 4)

Saya lihat dari pertunjukan tadi sama yang berdua, maksudnya satu panggung dengan saya waktu di Surabaya, lain dengan yang di sini. Kalau yang di sini; apa apa gerr. Jadi nggak sampai apa yang dia buat, tapi secara keseluruhan saya anggap biasa, wajar. Sekarang kita sudah  tahu kan, artinya yang namanya mime itu yang bagaimana. Tapi yang namanya aliran itu bagi saya nggak masalah, karena mereka punya misi sendiri-sendiri. Tapi alangkah baiknya, dasar-dasar pantomime klasik itu harus dikuatkan. Itu lebih bagus, jadi sampai maksudnya. Kalau yang temen-temen lakukan kan (memperagakan dengan tangan, sebuah adegan pementasan pantomim dengan cepat).Saya maklum karena tenaganya masih well. Nah sekarang contoh yang tua seperti saya dan dia. Artinya dia sebagai pemain pantomim yang usianya 65 diatas saya yang 55, dalam tenggang ini, saya mesti harus bisa lebih. Tapi saya anggap biasa. Apa yang saya katakan mime itu ya seperti itu; bisa dilihat posturnya, cara pembagian  waktu, teknik pemunculan. Nggak kayak temen-temen (generasi muda pantomim ‘Bengkel Mime Theater) yang wus..wusss… tapi ya nggak papa karena ya…. punya misi sendiri-sendiri. (Jemek Supardi, Pantomimer Yogya dan Indonesia, usia 55 tahun)

Oleh: Hindra Setya Rini*

Kembali, setelah pertunjukan Suspect (datangmu terlalu cepat) yang dipentaskan pada bulan Februari lalu di Lembaga Indonesia Perancis (LIP), Bengkel Mime Theatre menampilkan karya terbaru mereka yang berjudul Aku Malas Pulang ke Rumah. Dipentaskan di Gedung S2 ISI Yogyakarta, Jalan Suryodiningratan No:8, pada tanggal 23-24 Mei, dengan harga tiket masuk sepuluh ribu rupiah.

Berbeda dari repertoar-repertoar Bengkel Mime Theatre sebelumnya—ruang pertunjukan yang biasanya terkesan intim, penonton yang duduk lesehan, lalu jarak antara penonton dan penampil dekat— malam itu keintiman tersebut tidak terasa. Ruang prosenium S2 ISI yang terlalu besar, dan tatanan kursi yang rapi justru membuat jarak yang cukup lebar antara penampil dan penonton.

Tepat pukul 19.45 WIB, lampu panggung mulai meredup, pertunjukan dimulai; Tikus-tikus mencericit, gelapnya gorong-gorong, jalanan kota, adalah fragmen yang kembali muncul dalam pertunjukan kali ini. Kota yang selalu berubah digambarkan dengan munculnya aksi anak-anak muda di atas panggung. Mereka menghiasi—mencoret-coret, menghapus, mencoret lagi—dinding-dinding bangunan kota berwarna-warni. Sementara itu, musik easy listening yang berganti-ganti di setiap adegan pertunjukan terus menggema di seluruh ruangan.

Bukhori, seorang salesman (diperankan oleh Asita) yang menjadi tokoh utama dalam lakon ini. Ia bekerja setiap hari tanpa lelah untuk dapat menjual alat-alat rumah tangga yang dibawanya keliling kota. Bekerja gigih dari rumah ke rumah, aksi promosinya tak kalah heboh dari tukang penjual obat pinggir jalan. Bukhori hidup bersama seorang istri dan tiga orang anaknya, di sebuah rumah yang diimpikan seperti rumah orang kaya. Versinya; ruang tamu bersofa, televisi berwarna, dan berdiding tembok berhias potret keluarga. Ia bercita-cita hidup bahagia bersama keluarga tercinta di tengah kota.

Asita dan Andy SW

Tidak semua setting-properti dihadirkan di atas panggung, kecuali sebuah sofa dan sebuah meja yang kadang berubah posisinya. Seperti televisi dan potret keluarga, hanya diimajikan lewat gerak mime para aktor.  Di beberapa adegan, gerak mime tersebut tak pelak membuat penonton tergelak. Adegan di ruang tamu, misalnya, antara Bukhori dan istri; ketika terjadi pertengkaran hebat, mereka tiba-tiba berubah menjadi dua ekor kucing yang saling mengerang dan mencakar. Juga dalam adegan romantisme pacaran, dan kehangatan keluarga saat menonton teve bersama anak-anak tercinta.

Selain itu, perihal impian akan masa depan yang sejahtera divisualkan dengan lintasan-lintasan kursi yang di atasnya membawa berbagai properti seperti laptop, sepatu pesta/ high heelsmicrowave, dan lain-lain.

Pertunjukan berdurasi sekitar lima puluh menit itu berjalan lancar. Sayangnya, suara musik band yang diselenggarakan tak jauh dari gedung pertunjukan terdengar agak kencang dan sedikit menggangu kenyamanan dalam menonton. Meskipun demikian, penonton yang berjumlah sekitar 130 orang pada malam kedua itu tak ada yang terlihat beranjak meninggalkan tempatnya.

Malam itu, sehabis pertunjukan diadakan diskusi kecil yang dihadiri sekitar dua puluh lima orang. Diantaranya; para anggota Bengkel Mime Theatre, Pantomimer Jogja Jemek Supardi, penulis dan sutradara Teater Garasi Gunawan ‘Cindhil’ Maryanto, sutaradara Teater Gardanalla Joned Suryatmoko, dan beberapa penonton. Selaku pembicara adalah pengamat seni pertunjukan Ikun SK, pekerja sosial Ani Himawati,  dan dimoderatori oleh M. Jalidu dari Gamblank Musikal Teater. Diskusi ini membicarakan mengenai proses artistik maupun proses para aktor. Tentang ide/konsep, observasi, dan apa saja yang telah dilakukan hingga terjadi peristiwa di panggung, di-sharing-kan di sini.

Sekilas Profil

Bengkel Mime Theatre adalah kelompok kesenian yang dirintis pada tanggal 2 Mei 2004. Semula bernama Bengkel Pantomim Yogyakarta. Kemudian berganti nama menjadi Bengkel Mime Theatre pada tanggal 10 november 2007.

Merupakan kelompok kesenian yang menggeluti seni pertunjukan berbasis pantomime. Dengan membaca seni pantomim dari pendekatan wacana seni dan pengetahuan di luar pantomim, untuk membuka tawaran bentuk, menguatkan isi dan nilai artistik karya. Selama kurun waktu empat tahun ini, telah menghasilkan sembilan judul karya, yang salah satunya berupa kumpulan komik dengan judul “Bengkel Mime dalam Komik” yang merujuk naskah Langkah-langkah, Three Little Duck, dan Superyanto.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

*****

Kerabat Kerja

Sutradara Ari Dwianto Penata Artistik Pingky Ayako Saputro Kru Artistik Tingkir Adi Susanto, Domex, dan Sugeng Pribadi Aktor Asita, Ficky Tri Sanjaya, Edi Suharto, Hambar ‘Gigon’ Riyadi, Andy SW, Ari Dwianto Musik Ishari Sahida Penata Cahaya Sugeng Hutomo, Budi, Jody Penata Kostum Yuni Wahyuning Penulis Teks cerita Andy Sri Wahyudi Pimpinan Produksi Endah Sri Wahyu Handayani Divisi Konsumsi Ficky, Hambar Riyadi, Meme Dok. Foto Arif Sukardono Dok. Video Dion & partner Ticketing Bakti. W Penjaga Pintu Erson Padiparan, Ronald Pasolang

Komentar Penonton

“Secara garis besar, saya bisa menikmati pertunjukan itu, walau agak terganggu dengan mekanisme lampu dan sound effect dan musik yang sepertinya kurang lancar. Atau mungkin ada yang luput ya? Lalu, karena selama ini saya nonton pentas-pentasnya Bengkel Mime hampir selalu isu sosial diangkat, saya pengin lihat Bengkel Mime sekali waktu mementaskannya juga di luar panggunga yang dekat dengan pelaku peristiwa yang sesungguhnya. Misalnya: pasarm area perkantoran pas jamnya karyawan pulang kantor, dan tempat-tempat lain yang lebih dekat dengan orang dan peristiwa yang sedang dilakonkan. Mari terus membuat kehidupan ini menjadi lebih baik, he……” (Fransiska Haloho, 25 tahun, penikmat seni pertunjukan)

“Artistiknya aku suka. Itu lho yang melintas keluar masuk dan setting yang bisa berubah cepat dan mobile. Hmmm, untuk pilihan nggak pake make up putih itu sih aku setuju aja, tapi sayang ekspresi aktornya masih kurang banget. Cuma pemeran utamanya aja yang kuat. Menurutku, kalau gak pake make up ala pantomimer kebanyakan itu, mestinya ekspresi wajahnya lebih keluar. Ke depan lebih dimaksimalkan lagi aja. Untuk semangat mudanya, aku salut, deh.” (Broto, 32 tahun, Deaf Art Community)

“Pertunjukannya lucu. Huuw…., banyak lelaki cantik! Hahaha…. Emm, aku suka musiknya terus waktu adegan mimpi, yang kursi melintas-lintas bawa laptop, sepatu dan macem-macem itu pas, menurutku. Ya, jadi kebawa ngimpi juga. Hehehe….” (Iyut, 19 tahun, Mahasiswi Sanata Dharma)