Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Tanggal 19 September 2006, saya datang ke Markas AWI (Anak Wayang Indonesia) di Mergangsan untuk bertemu dan ngobrol dengan anak-anak tersebut. Siang itu saya ditemui oleh Gigon dan Viki, keduanya adalah senior bagi anak-anak AWI. Mereka berdua menyarankan agar saya datang lagi malamnya, sekaligus mereka mengundang saya untuk menonton pertunjukan mereka di Sapen. Malam itu saya sempatkan diri untuk menonton pertunjukan mereka di Sapen.

Pentas di pinggir rel ini ternyata gabungan dari musik perkusi, pertunjukan teater, dan pantomim. Dan ternyata mereka juga melayani request lagu-lagu yang diminta penonton. Pentas ini berjudul « Ko Ko Bako. Anak Jogja Anak Masa Depan ». Pemainnya berusia antara 8 – 22 tahun. Dan menurut informasi yang saya dengar mereka telah mementaskan pertunjukan ini hampir di 20 tempat di Bantul dan Klaten.

Setelah pentas, saya menemui mereka lagi. Tampak mereka sangat sibuk mengangkut setting dan alat-alat musik ke panggung, wajah-wajah mereka kelihatan lelah sekali. Akhirnya saya membatalkan wawancara malam itu dan berjanji akan datang hari Senin.

Hari Senin, pukul 15.30 WIB, saya datang ke Markas AWI di Mergangsan. Setelah membangunkan Gigon, yang kemudian memanggil teman-temannya untuk turut bergabung. Selanjutnya saya ngobrol-ngobrol bersama Mila (14 tahun), Nana (14 tahun), Gigon (20 tahun), dan Adi (21 tahun) yang lebih kerap dipanggil Kempor. Lalu datang juga Karina (18 tahun) yang baru pulang sekolah, namun bersedia untuk berhenti sebentar untuk wawancara. Berikut adalah petikan wawancara bersama mereka :

Berapa pertunjukan yang dilakukan AWI untuk program paska gempa?

Gigon:

Rencananya dulu kami pentas keliling di 10 tempat. Kita tentukan tempatnya, di mana saja kira-kira. Setelah itu kami menghubungi partner-partner kami yang kira-kira mau membantu secara finansial.

Nana:

Ya, dulu rencananya cuma 10 tempat saja.

Karin:

Biasanya kami di tempat pentas disediakan makanan, dijamu sama tuan rumahnya. Kalau tuan rumah tidak bisa menyediakan transportasi, kami berangkat sendiri.

Sudah berapa lama kalian aktif di AWI?

Karin :

8 tahun. Selama itu aku bisa kenalan sama teman-teman lain tidak hanya teman sekolah. Tapi juga teman-teman di kampung. Bisa ikut banyak kegiatan, tidak cuma di sekolah saja. Terus, jadi lebih enak dan berani ngobrol sama siapa aja. Di sini soalnya apa, ya? Beda mungkin. Aku kan belajar hal-hal yang nggak ada di sekolah; belajar nari, main teater, musik, terus pentas di mana-mana, bikin-bikin keterampilan, belajar nulis.

Gigon :

Nek Karin ki pengalamane jan jane sithik, ning dasare bocahe cerewet….ha ha ha ha (baca: Kalau Karin itu pengalamannya sebenarnya sedikit, tapi pada dasarnya anaknya cerewet…)

Mila & Nana:

5 tahun.

Anak Wayang Indonesia (AWI) secara resmi berdiri  pada tahun 1998. Gigon dan Viki adalah salah satu angkatan pertama di AWI. Mereka sejak kecil aktif di kegiatan-kegiatan AWI. AWI sendiri merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pendampingan anak-anak di wilayah perkotaan. Mereka membekali anak-anak dengan latihan keterampilan, latihan melukis, mendorong anak untuk berkarya dan menulis. Biasanya anak-anak binaannya ada yang kemudian meneruskan untuk membantu membimbing adik-adiknya seperti halnya Gigon dan Viki.

Dukungan orangtua terhadap kegiatan di AWI?

Kempor:

Kelihatannya gak ada banyak masalah. Soalnya biasanya kalau habis pentas, kami cerita sama mereka. Mereka jadi tahu kegiatan kita apa saja di sini.

Mila:

Orangtuaku gak ngelarang, tapi yang penting aku harus bisa bagi waktu antara AWI sama sekolah.

Kalau Nilai sekolah gimana?

Karina:

Ya itu sebenarnya tergantung dirinya masing-masing. Cuma kalau di sini kan harus pinter bagi waktu. Ya, soalnya piye, ya? Kita semua di sini, kan, masih sekolah, kita masih punya keluarga. Ya waktunya harus dibagi rata.

Gigon:

Kalau rata-rata, anak-anak sini lebih pede dan lebih pinter kalo disuruh ngarang daripada anak-anak yang lain.

Karina:

Lha, iya, Mas. Kalau aku pribadi jadi lebih pinter ngomong, ga takut diliatin orang banyak.

Pas gempa kemarin, teman-teman juga menjadi korban gempa?

Gigon:

Awalnya, ide itu muncul malah sebelum gempa. Waktu itu rencananya mau pentas di barak-barak pengungsian di Merapi, kan, waktu itu banyak juga yang mengungsi di sana? Nah, pas persiapan lha kok malah ada gempa di sini. kita sendiri jadi pengungsi. Terus, yang gedhe-gedhe kan ngobrol.  Gimana, ini? Kita sudah lelah di tenda terus. Maksudnya, ya gimana, ya? Kan bosen kalo tiap hari di dalam tenda. Lihat rumah sendiri ambruk, rumah-rumah tetangga ya ambruk. Tiap hari kok membersihkan brengkelan (reruntuhan) terus.  Masak ga ada yang lain? Terus, temen-temen ngumpul bareng dibantu sama salah satu pendiri AWI (dulu), kita bareng-bareng ngobrol bikin program pementasan ini.

Persiapan untuk program ini sekitar dua minggu, yang gedhe-gedhe mencari dana menghubungi daerah-daerah yang mau jadi lokasi pentas. Cari dukungan-dukungan. Tapi untuk pertunjukannya semua anak-anak terlibat. Pentas pertama itu tanggal 2 Juli di Imogiri, kurang lebih sebulan setelah gempa.

Kalau  motivasi temen-temen untuk pentas sebenarnya apa sih? Kok kalian begitu semangat sampai pentas 18 kali?

Gigon:

Kalau yang perempuan-perempuan itu awalnya niatnya mau cari cowok kok, Mas. Tapi ternyata di Bantul, cowoknya dah mati semua ketiban brengkelan. Hahahahaha (kami tertawa)

Nana:

Ya, buat cari temen aja, Mas. Aku kan belum pernah liat daerah gempanya secara langsung.

Mila:

Kalau aku pengin wae berbagi semangat sama anak-anak lain yang jadi korban gempa. Aku, ya korban gempa, tapi kan seneng kalau bisa buat temen-temen yang lain jadi tersenyum dan semangat.

Karina:

Mmm…, kalau dibilang jalan-jalan kan ya nggak etis, ya? Tapi ya mosok di  rumah diem aja. Sedih terus. Nanti kan malah trauma terus. Kan ya ada suka duka. Tapi kita harus tetap ceria, dan berbagi keceriaan. Ya memang kita itu korban gempa. Ya sedih, ya trauma, tapi anggap aja itu bencana, tapi kita harus tetep ceria.

Kempor:

Soale kalau aku ya bisanya cuma ngasih semangat buat mereka. Kalau aku disuruh menghibur, jelas kalah sama yang di TV. Ya, aku cuma ngasih semangat saja. Biar mereka gak stress terus.

Terus gimana cara kalian untuk mempersiapkan pentas ini?

Karina:

Ya pas habis gempa itu, kan, sekolah libur. Terus sempet masuk tapi kan cuma setengah hari. Jadi waktu itu, masih banyak waktu buat ngumpul. Kita koordinasi tiap hari. Ada jadwalnya. Besok kumpul mbahas cerita, terus ngumpul lagi bagi-bagi tugas. Kita bikin seksi-seksi.

Untuk program pertunjukan paska gempa, anak-anak AWI sepenuhnya mengorganisasikan diri mereka sendiri. Mereka membentuk kelompok dengan nama “Teater Jangkar Bumi”, mereka bergerak atas wadah itu dan tidak menggunakan nama Anak Wayang Indonesia. Menurut Gigon dan Viki, hal ini karena ide untuk program ini berasal dari anak-anak sendiri, bukan bagian dari program AWI. Soalnya waktu itu kantor AWI di Mergangsan sendiri rusak berat, dan tak dapat digunakan hingga kini.  Tapi kegiatan ini katanya didukung sepenuhnya oleh AWI. Hal-hal seperti mencari dana, hingga mengurus ijin keamanan sepenuhnya dilakukan oleh para anggota Teater Jangkar Bumi.

Terus gimana cara kalian biar selalu tampak ceria di pentas? Kan gak mungkin kalian pentas dengan wajah yang sedih, gimana kalian ngakali biar tidak nampak sebagai korban gempa?

Mila:

Kalau aku itu ceria terus, Mas. Gimana, ya? Aku memang nggak sedih-sedih banget. Tapi ya pokoknya kita tampilnya semangat. Kita niatnya baik kok, jangan sampai di sana malah yang nonton nglokro.

Nana:

Temen-temenku kan juga banyak yang jadi korban, terus aku yang omong-omong sama mereka. Takon-takon. Biar aku ya ngrasakke apa yang mereka rasakan. Terus, kalau pas pentasnya aku yo semangat. Soalnya yang nonton, kan, kebanyakan yang seumuran kita. Orangtua juga seneng pas tau aku mau pentas di tempat gempa.

Kempor:

Aku soale ga tak pikir banget-banget. Nanti kalau dipikir serius-serius, lha malah jadi stress berat. Ya mengalir wae, ya dipikirkan tapi gak terus-terusan menyesali kenyataan kalau aku itu ya korban gempa.

Kalau pas pentasnya, gimana hasilnya? Pernah gak kalian merasa wah ternyata kita pentasnya tadi kurang semangat, atau wah kita tadi kok malah nggak ceria?

Gigon:

Itu pas pentas pertama di Imogiri. Itu kesannya gimana, ya? Kita rasanya kok nggak ngasih semangat, yang nonton kok ya nggak ceria. Wah, lha kok rasanya malah jadi aneh. Soalnya pas itu kan pentasnya siang-siang, bapak-bapaknya kan kerja bakti, terus yang nonton ibu-ibu sama anak-anaknya saja. Tapi pas nonton kok keliatannya dha kepanasen, terus malah pindah-pindah nontonnya. Akhirnya banyak juga yang pulang. Padahal pentasnya belum bubar.

Semangat lagi itu, ya, di Canden, pas pentas kedua. Rasanya pentasnya kok kena. Yang nonton ya seneng, kita yang pentas juga seneng. Mungkin masalahnya di waktu pentas. Kita harus pintar-pintar menyesuaikan dengan masyarakat. Jangan sampai pentasnya terlalu siang. Tempatnya juga kalau bisa yang strategis, yang enak juga buat yang mau nonton. Mungkin pas di Imogiri itu karena pentas pertama, jadi kita juga nekat aja. Lha, kita kan belum pernah pentas di tempat pengungsian sebelumnya.

Pas di Banguntapan, itu yang nonton itu mbok ada sekitar 150-an anak yang nonton tapi ya rasanya kita nggak masuk. Wong yang nonton itu kebanyakan anak-anaknya kecil banget, jadi nggak dong sama ceritanya. Terus, mungkin karena pentasnya di dalam musholla, jadi banyak anak yang mau nonton itu sebenarnya pengin nonton, tapi cuma bisa nonton dari luar pagar. Ya, sebenarnya ada banyak faktor sih yang menentukan.

Di Klaten itu juga menyenangkan. Waktu itu ada dua bis yang njemput kita. Terus, bisnya itu njemput penonton-penontonnya dari desa-desa sekitar. Tapi pas itu yang nonton banyak banget dan, karena waktu itu banyak anak TPA-nya, jadi ada yang harus pulang. Padahal pentasnya belum selesai.

Terus, pentas kalian itu bentuknya gimana, sih?

Kempor:

Ya, pentas-pentasnya menyesuaikan sama kondisi tempatnya. Di serambi masjid, di kebun, di bekas reruntuhan rumah, di dalam tenda. Tergantung sama kondisi tempatnya. Kita menyesuaikan. Kan, ini pentasnya untuk menghibur korban gempa. Jadi, ini tidak terlalu ribet.

Apa saja pengalaman temen-temen pentas di daerah gempa?

Karin:

Ya, ada rasa seneng. Tapi senengnya bukan rasa seneng banget-banget. Sedih juga. Tapi ya sedihnya biasa, nggak terlalu berlebihan. Wong di sana kita kan mau berbagi semangat, malah kalau bisa jangan sampai mengingatkan mereka sama bencana yang lalu. Di pentasnya sendiri memang tidak ada kata gempa disebutkan dalam dialog. Pas pentas sebisa mungkin kata gempa tidak ketrucut keluar. Rasanya campur-campur.

Kempor:

Pas pentas pertama itu, wahhh.., rasanya nge-drop banget. Kita ke sana mau menghibur kok malah rasanya wajah-wajah kita itu kok malah jelek banget. Tapi ya terus gimana caranya kita tetap ceria. Biar dilihat itu kepenak, sambil menipu diri sendiri. Soalnya kalau ke wilayah gempa itu lihat anak-anak kecil pada tidur di dalam tenda, membayangkan gimana mereka tidurnya kalau malam itu kan dingin banget, apalagi sempet hujan juga. Kan ya gimana, ya, Mas? Sedih juga.

Mila:

Aku kesana ngeliat rumah teman-teman ambruk, dan panasnya di dalam tenda. Ada yang bilang kalau mau cari kamar mandi saja susah. Terus ngeliat orang-orang cacat, ngeliat kuburan massal. Ya itu pengalaman-pengalamannya.

Nana:

Kalau melihat yang nonton itu ketawa, seneng banget. Rasanya di hati itu plong banget. Ada kebanggaannya gitu. Tapi waktu itu, kalau pas di rumah ya kadang-kadang sedih mikir mereka yang gak bisa tidur di dalam rumah.

Kalian pentasnya itu mementaskan cerita yang sama?

Nana:

Pentasnya itu judulnya Ko ko Bako, Anak Jogja Anak Masa Depan. Itu pentasnya sama, paling berubahnya tidak  banyak dari pentas yang lain.

Pertunjukan ini diisi perkusi anak-anak sebagai pembuka acara, lalu pentas drama dengan judul ‘Ko ko Bako, Anak Jogja Anak Masa Depan’, dilanjutkan pertunjukan pantomim, dan kemudian ditambah dengan pembacaan puisi. Pertunjukan ini dipimpin oleh dua orang MC yang akan memandu acara-acara tersebut. Mereka juga berinteraksi dengan mengajak penonton untuk menyanyi bersama, menari, dan juga menawarkan kepada penonton bila ada yang mau menyanyi di panggung.

Yang membuat cerita, siapa?

Mila:

Bareng-bareng, Mas. Kita ngumpul bareng, terus ngobrol idenya dari kita apa saja. Semuanya ikut urun rembug.

Kempor:

Ada Mas Viki (Viki adalah salah satu anggota Anak Wayang Indonesia, yang paling senior. Ia juga merupakan angota Bengkel Pantomim Yoyakarta-pen) juga yang pengalamannya lebih banyak dari kita. Dia yang memimpin, memfasilitasi kita, ya kayak sutradara gitu. Kalau kata dia, kita itu seperti setitik api yang akan membakar titik-titik api saudara-saudara kita yang lain, yang padam karena bencana kemarin. Nggak tahu itu, Mas. Dapatnya kata-kata itu dari mana, ngambil kata-katanya siapa, saya juga nggak tahu. Sok-sokan kok (Viki). Kata-kata itu yang selalu diucapkan pas latihan atau pas mau pentas, biar kita tetap semangat terus.

Gigon:

Selain itu juga ada pembina-pembina yang lain, mereka juga ikut urun rembug. Seperti misalnya jangan sampai menyebut kata gempa. Itu ide yang kami dapat dari mereka. Mereka banyak memberi refleksi yang banyak berarti bagi kami. Terus mereka juga usul, mbok jangan cuma pentas thok, tapi juga ngasih workshop-workshop apa, gitu, yang kira-kira menarik buat anak-anak yang menjadi korban gempa. Tapi kalau bisa workshopnya yang ringan-ringan. Jangan yang butuh banyak pikiran, dan jangan sampai malah membebani mereka.

Berarti kalian tidak Cuma pentas thok, tapi memberi workshop juga?

Gigon:

Dulu rencananya seperti itu, tapi ternyata cuma bisa dilakukan di Klaten. Jadi, di Klaten itu dua hari. Satu hari pentas, satu hari workshop. Tapi gimana, ya? Karena kita juga takut kalau nanti malah jadi beban buat mereka, atau malah nggak direspon sama masyarakat, kan, gimana gitu, Mas. Ya akhirnya yang bisa cuma di Klaten saja. Karena waktu itu kan juga banyak isu, Mas.

Berarti kalian ini pentas 18 kali dalam jangka waktu berapa bulan? Kalau dihitung setelah pentas pertama tanggal 2 Juli?

Gigon:

Kan, rencana awalnya cuma 10 tempat thok. Tapi terus dari tanggal 2 sampai 31 Juli itu kami pentas 14 kali. Terus ditambah lagi pentas-pentas sekarang ini 18 kali, terus minggu depan (tanggal 22 September) kami pentas terakhir. Totalnya 19 kali selama kurang lebih tiga bulan. Karena kemarin itu kami juga dapat bantuan dari Sheep (salah satu LSM yang juga terlibat dalam penanganan paska gempa), mereka juga punya daerah-daerah dampingan. Kami ditawari pentas di daerah dampingan mereka, nanti biayanya ditanggung mereka.

Berarti selama bulan Juli rata-rata kalian pentas seminggu 3 kali?

Gigon:

Lha, iya. Pernah itu hari Sabtu, Minggu, Senin kami pentas 4 kali. Hari Senin dua kali, pagi pentas di Tembi, Bantul. Sorenya pentas di Taman Pintar, Yogyakarta.

Mila:

Tapi pas itu, pas libur sekolah. Jadi sebenarnya tidak terlalu masalah sih. Kebanyakan kan teman-teman masih anak-anak sekolah. Jadi kalau seperti aku, kalau tidak sekolah tidak ada kegiatan lainnya.

Karina:

Ada pentas yang lucu. Waktu itu pas di Taman Pintar. Pas di tengah pentas, lha malah ada selingan pengumuman kehilangan anak. Waktu itu seorang pengunjung kehilangan anaknya yang sedang berada di arena Taman Pintar.  Pentasnya terus bubar, karena semua orang sibuk mencari anak yang hilang.

Ceritanya ini memang untuk anak-anak?

Gigon:

Ceritanya itu sebenarnya untuk siapa saja. Kami ingin memberi hiburan. Hiburannya ini untuk semua orang, siapa saja. Cuma yang main memang kebanyakan usia anak-anak, ceritanya sederhana saja, tidak terlalu rumit dan njlimet. Terus kalau ada hiburan-hiburan seperti itu, kan, yang datang menonton kan kebanyakan anak-anak, Mas. Soalnya orangtuanya memang sudah tersita waktu dan tenaganya untuk ngurusi rumah.

Kalau di kampung kalian sendiri bagaimana? Apa kalian juga terlibat dalam program paska gempa di kampung kalian?

Kempor:

Ya, yang paling kerasa itu ya pas acara 17-an kemarin itu, Mas. Kita yang mempersiapkan acaranya, kita yang ngisi acaranya, kita yang buat settingannya, wah, pokoknya pas itu semua anak muda kampung ikut bekerja. Soalnya kan yang tua-tua sibuk ngurusi rumah dan keluarganya, Mas. Jadi memang yang muda-muda yang harus bergerak.

Waktu acara 17-an itu kalian juga pentas?

Gigon:

Wah, waktu itu semuanya lengkap tampil. Kami ya main pentas yang sama seperti pentas di tempat lainnya. Tapi temen lain yang bisa main musik ya diajak pentas, ada band-band-an juga, Mas. Malah Shaggydog (salah satu band yang terkenal di Yogyakarta-pen) waktu itu juga main disini.

Setelah pengalaman pentas di wilayah-wilayah gempa, kalian masih merasakan trauma karena gempa?

Mila & Nana:

Ya, Mas. Kadang-kadang suka merinding kalau dengar suara gemuruh.

Kempor:

Kemarin pas pentas di Sapen (tanggal 19 September mereka pentas di Sapen -pen), kan tempatnya persis di sebelah rel kereta api. Lha pas kereta lewat, kan, suaranya mirip banget sama pas gempa kemarin. Wah, itu saya kira gampa susulan, Mas. Pas itu juga  panggungnya ikut goyah, rasanya persis seperti gempa betulan.

Karina:

Iya, Mas. Waktu itu saya takutnya beneran, kok malah ditertawakan sama penonton-penontonnya?

Akhirnya Karina minta pamit karena ia harus membantu ibunya di rumah. Begitu juga dengan Nana dan Mila yang minta pamit kemudian. Karena hari sudah beranjak petang,      saya juga cukupkan sampai disini wawancara saya dengan anak-anak Teater Jangkar Bumi, atau bisa juga disebut anak-anak AWI itu.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 02, November 2006 – Maret 2007)