Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Ketika saya datang ke Jogja tiga tahun lalu, saya sama sekali tidak mengenal dunia seni pertunjukan di Jogja. Selama setahun pertama saya hanya menonton satu-dua pertunjukan yang segera saya lupakan keesokan harinya. Pengetahuan saya tentang seni pertunjukan di Jogja hanya sebatas melalui berita-berita di harian tertua di Jogja.  Porsinya hanya berita-berita pendek yang seringkali tidak memberikan apa-apa kecuali informasi mengenai para kelompok yang mengadakan pertunjukan, pun diselingi dengan banyak salah ketik atau salah ejaan di dalamnya.

Kemudian saya bergabung dengan Teater Gadjah Mada, salah satu unit kegiatan di Universitas Gadjah Mada. Setahun di sana referensi saya tentang dunia seni pertunjukan di luar Teater Gadjah Mada pun tidak terlalu banyak bertambah. Baru beberapa bulan yang lalu, saya diajak seorang teman untuk bertemu dengan orang-orang yang kemudian banyak terlibat dalam proses terbentuknya Newsletter skAnA ini.

Waktu itu, kami  bersepakat kalau newsletter skAnA ini direncanakan untuk mengisi kekosongan media teater di Jogja. Karena saat ini perkembangan media untuk dunia teater misalnya sudah kalah jauh dengan media untuk dunia musik. Padahal segmentasi konsumen kedua media itu sama, anak muda.

Mungkin teater kini sangat erat dengan kesan berat, aneh, dan keras di mata anak muda. Padahal kebanyakan para penggiat teater adalah (juga dan sebagian besar) anak muda, begitu pula para penonton teater (paling tidak setahu saya di Jogja). Mereka adalah kelompok sosial yang masih punya banyak waktu dan energi yang bisa digunakan untuk membuat dan menonton pertunjukan. Nah, paling tidak dengan media ini kita bisa berkata, “Ini lho teater, ia milik orang muda. Ia harusnya dekat dengan ide-ide orang muda, tidak terlalu kusut dengan semangat-semangat orang-orang yang tua dan lapuk.”

Maka dengan semangat saya menyambut usulan ini, tidak tahu kenapa, mungkin saya ingin tahu lebih banyak mengenai seni pertunjukan di Jogja. Tentu waktu itu saya belum begitu sadar kalau Jogja sangat luas, tentu waktu itu saya belum sadar kalau agenda seni pertunjukan teater di Jogja sebenarnya begitu padat.

Ternyata pekerjaan ini tak semudah yang saya bayangkan, begitu banyak agenda pertunjukan yang  terlewat begitu saja. Banyak pertunjukan-pertunjukan kecil, yang kami tidak sempat mengetahuinya bahkan. Maka sesudah edisi pertama terbit, kami bersepakat bahwa edisi kali selanjutnya harus jauh lebih baik dari yang perdana.

Lalu untuk melihat respon audiens tentang newsletter kami, diadakanlah launching newsletter ini, sekaligus untuk peresmian dan sosialisasi mengenai newsletter skAnA. Walaupun semua orang saat itu sedang sibuk dengan gempa tanggal 27 Mei yang lalu, malam tanggal 28 Juli di Hall Teater Gadjah Mada cukup ramai dengan para tamu yang menghadiri launching ini.

Malam itu hall teater Gadjah Mada di Gelanggang Mahasiwa dipasang backdrop berwarna oranye (yang kemudian banyak dikaitkan dengan terpal bantuan yang kebanyakan juga berwarna serupa), tamu yang hadir pun diwajibkan untuk tidak memakai baju yang berwarna hitam (dalam undangan yang disebar lewat sms, disebutkan dress code: asal tidak hitam atau gelap). Hal itu memang menjadi bagian dari usaha skAnA untuk lepas dari kesan gelap dan berat, yang sepertinya sudah melekat pada pertunjukan teater ataupun orang-orang yang terlibat didalamnya.

Usaha itu juga termasuk dengan mencari pengisi acara yang merupakan anak-anak muda. Dan ternyata tidak mudah untuk mencari kelompok seni pertunjukan yang beranggotakan anak-anak muda yang menghadirkan hiburan untuk anak-anak muda juga. Dibuka dengan hiburan perkusi yang dimainkan anak-anak binaan Anak Wayang Indonesia, yang walaupun mereka adalah korban gempa, tapi tetap dengan semangat menghadirkan musik perkusi yang menghentak dan rancak. Lalu fragmen pertunjukan pantomim dari Bengkel Pantomim Jogja yang sangat lucu dan menghibur. Dan ada juga tari kontemporer yang dibawakan oleh Asita.

Dan acara puncak malam hari itu adalah diskusi antara para awak Newsletter skAnA dengan para pembacanya. Sayang sekali karena sedang berada di Aceh untuk mempersiapkan sebuah pertunjukan, malam itu Pimpinan Redaksi skAnA, Gunawan Maryanto tak bisa hadir bersama-sama awak redaksi yang lain untuk menemui para pembaca. Mungkin, malam itu kami yang hadir di sana memberikan semacam pertanggungjawaban atas skAnA edisi pertama.

Tentu saja dalam “pertanggungjawaban” itu kami meminta apologi dari audiens yang hadir mengenai edisi pertama yang menurut kami sendiri masih sangat sedikit beritanya, dan terlalu sempit daya jangkaunya. Sehingga mungkin tagline “media teater Jogja” bagi skAnA masih terkesan sebagai embel-embel belaka.

Pertanyaan lain mengenai format newsletter skAnA, ada yang berpendapat tulisan dalam skAnA masih terlalu berat, sementara pendapat lain yang mengatakan tulisan dalam skAnA terlalu ringan. Menurut Andi SW , banyak artikel-artikel dan tulisan mengenai orang-orang yang diklaim sebagai ahli teater yang memberikan penilaian dan penghakiman atas sebuah pertunjukan dengan bahasa yang berat dan sulit dipahami, tapi masih kurang tulisan mengenai sebuah pertunjukan yang bersumber pada para penonton kebanyakan, orang-orang biasa yang menonton sebuah pertunjukan. Menurutnya pendapat dari penonton yang seperti itu malah lebih segar, ringan, dan dengan begitu banyak hal-hal baru yang bisa diketemukan.

Sementara Yudi Ahmad Tajudin, berseloroh mengaku sebagai sutradara teater serius, mempertanyakan kenapa yang serius harus ditakuti? Kenapa malah yang ringan (lawan kata serius) yang harus dipilih, bukankah ini malah menimbulkan kesan main-main dan tidak serius. Lalu apa masalahnya dengan serius?

Diskusi kemudian menjadi perdebatan mengenai format yang bagaimanakah yang pantas untuk skAnA. Apakah kemudian skAnA harus menjadi seperti Lebur, jurnal teater yang tebal dengan berbagai tulisan-tulisan panjang, dengan catatan kaki yang banyak. Ataukah skAnA menjadi seperti newsletter musik yang hanya berisi liputan kegiatan-kegiatan musik, wawancara dengan grup musik, dan lirik lagu serta chord gitarnya.

Hindra Setya Rini, reporter skAnA, mengatakan Newsletter skAnA berbeda dengan Lebur yang serius dan terkesan berat. Baginya menulis di skAnA mirip dengan menulis buku harian, bedanya dalam menulis untuk skAnA ia berpikir bahwa tulisannya ini dibaca oleh umum, bukan hanya dirinya sendiri. Sementara bagi saya ketika menulis untuk skAnA, saya membayangkan tulisan saya ini dibaca oleh teman-teman sebaya saya, anak-anak muda, yang bergelut dalam dunia teater maupun yang tidak, yang suka menonton pertunjukan maupun yang tidak. Jadi ketika saya menuliskan sebuah pertunjukan saya berusaha menghadirkan kembali pertunjukan itu dalam bahasa tulis, kalau bisa semenarik mungkin, lengkap dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, agar orang-orang yang tidak bergelut dalam dunia teater maupun orang-orang yang tidak banyak menonton pertunjukan pun bisa membayangkan seperti apa kira-kira pertunjukan itu berlangsung.

Tapi dalam diskusi ini banyak yang bersepakat mengenai boks wawancara penonton yang menyertai tiap liputan skAnA. Boks wawancara penonton berisi komentar-komentar penonton usai menyaksikan pertunjukan, wawancara ini dituliskan kembali tanpa di-edit, dan dihadirkan mendampingi liputan pertunjukannya. Menariknya boks wawancara ini adalah, kadang-kadang kami berpikiran suatu pertunjukan sangat menarik, tapi dalam wawancara penonton ada yang mengatakan kalau ia sama sekali tidak bisa menikmati pertunjukan tersebut. Walaupun dalam edisi pertama boks ini hanya berisi beberapa pernyataan-pernyataan yang lumayan pendek. Dalam edisi kali ini kami berusaha menghadirkan lebih banyak wawancara dengan para penonton, kami juga berusaha menggali sedikit lebih dalam komentar penonton terhadap pertunjukan.

Dalam kesempatan itu skAnA juga membuka diri untuk tulisan-tulisan dari luar awak skAnA. Bagi yang mau menulis di rubrik-rubrik yang ada di skAnA dipersilakan untuk langsung mengirim email ke alamat email skAnA yang tertera di tiap edisi.

Launching ini merupakan awal dari perjalanan panjang skAnA. Kami berharap saran dan kritik makin banyak masuk ke kami. Semoga dengan begitu keinginan skAnA untuk menjadi media komunikasi Teater Jogja lambat laun dapat terpenuhi.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 02, November 2006-Maret 2007)