November 2006


oleh: Iskandar GB*

Pada Sabtu malam, 12 Agustus 2006 Meta Teater asal Riau mementaskan monolog yang berjudul Are You Hungry, My Friend? di Kedai Kebun Forum (KKF), Tirtodipuran No 3 Jogja. Pementasan yang berdurasi sekitar 60 menit ini disutradarai oleh Suharyoto Sastrowigyo (Aryo) yang sekaligus berperan sebagai aktor.

Sebagaimana yang diungkapkan panitia, pertunjukan Meta Teater merupakan respon terhadap gempa yang menimpa Yogjakarta beberapa waktu lalu. Didukung pencahayaan ala kadarnya, Aryo yang berpenampilan eksentrik memasuki panggung tanpa setting, musik, maupun make-up tertentu. Lebih tepatnya sengaja memanfaatkan fasilitas yang tersedia di KKF apa adanya saja.  Aryo yang mulanya duduk di antara penonton berdiri dan memasuki panggung dengan memakai kemeja hitam, jean hitam, sepatu warna cokelat, rambut panjang yang dibiarkan terurai dan sebatang rokok yang masih terselip di tangan turut mengiringnya masuk ke panggung.

Tak ada leaflet atau booklet, tak ada sinopsis yang kerap kali termuat di sana, praktis penonton hanya dapat menangkap perilaku aktor yang bersifat fisik (ketubuhan) dan suara-suara yang muncul selama pertunjukan.  Luapan emosi dan suasana dihadirkan dari perbedaan suara; warna vokal, tinggi rendah volume, dan gestur pemain yang mencoba mengekspresikan derita  masyarakat yang tertimpa bencana.  Suara masyarakat korban gempa dihadirkan Aryo dengan dialog yang tidak  lazim—non  verbal, jadi seperti  ceracauan, gumaman, ratapan, keras-lunak, atau mempermainkan intonasi sesuai dengan tuntutan emosi.

Demikian penawaran bentuk pementasan monolog yang dilakukan oleh Meta Teater Riau pada kesempatan ini. Ada kemarahan, kesal, benci, sedih, frustasi tetapi tidak benar-benar tertangkap dengan baik oleh penonton, sehingga saya tidak tahu apa yang sesungguhnya ingin disampaikan Meta Teater. Ketidakmengertian saya semakin lengkap ketika beberapa aktor lain tiba-tiba muncul ke panggung yang dengan agak canggung, mereka menyampaikan pesan dengan cara lain: gerak dan pose-pose. Sepertinya mereka berimprovisasi karena tidak ada dalam rencana pertunjukan monolog  ini.

Peristiwa yang tak kalah menarik adalah ketika Aryo keluar dari panggung semula dan melanjutkan pertunjukannya di tangga, di jalan, dan tempat-tempat lain disekitar KKF. Fokus pecah. Beberapa penonton mengikuti kepergian Aryo dan sebagian tetap ditempat karena dipanggung masih ada aktor lain yang terus bergerak-gerak.  Setelah 15 menit lebih Aryo berekspresi di sekitar KKF ia kembali ke panggungnya semula dengan terus berbicara dalam bahasa non verbalnya, masuk mengambil kasur ke panggung, juga sebuah kotak sampah.  Kemudian ke kamar mandi dan masuk lagi ke panggung dengan tubuh yang basah dan terus berdialog hingga pertunjukan selesai.

Konsep pertunjukan Aryo hingga ke jalan di sekitar KKF, kamar mandi dan tempat-tempat lain menyebabkan batas-batas panggung tak jelas.  Diikuti dengan munculnya 3 aktor lain di tengah pertunjukan menambah keheranan saya..

Usai pementasan Saut Situmorang, seorang penulis dan pengamat seni yang tinggal di Jogja, memoderatori jalannya diskusi dan mengatakan: beginilah model pertunjukan Meta Teater selama ini di berbagai tempat dan situasi; sebuah gaya pengungkapan yang lain, unik dan sangat berbeda dengan mayoritas pementasan teater lainnya. Aryo tampil apa adanya, dan ia, Saut, salut dengan Aryo yang tetap konsisten dengan gaya ini.

Menurut Saut, Meta Teater menempatkan aktor dan penonton sebagai komponen  utama pertunjukan sebagaimana Teater Miskin-nya Grotowski—seorang tokoh teater dari Polandia yang gagasan teaternya banyak mempengaruhi pelaku-pelaku teater di Indonesia. Sehingga unsur-unsur teater lain tidak mesti dihadirkan.  Saut menambahkan bahwa pertunjukan Meta Teater sejak dulu seperti ini, dan anggotanya memang cuma Aryo sendiri. Ke mana-mana ia bawa gaya teaternya itu, tanpa ada kru dan peralatan lain pendukung pertunjukan.  Dan sesungguhnya Saut Situmorang lebih sepakat kalau seandainya pertunjukan Meta Teater ini disebut performance-art tetapi Aryo tak setuju dan tetap menyebutnya sebagai teater.

Beberapa penonton sepakat bahwa pertunjukan Meta Teater menarik dan mengejutkan.  Karena selama ini pertunjukan teater yang ditonton taat asas, bertolak belakang dengan dengan Meta Teater.  Ada juga yang berpendapat pementasan tadi  seperti orang-orang skizoprenik atau gila, hal ini dilihat dari bagaimana emosi yang meledak dan naik turun secara tiba-tiba lewat nada suara dan gerak-gerik yang ditampilkan oleh aktor.

Sementara yang lain berpendapat bahwa bahasa ucap pertunjukan ini lebih mirip mantera di mana makna atau arti kata tidak terlalu penting. Makna dihadirkan oleh suasana yang dihasilkan oleh bunyi.  Komunikasi Meta teater mengingatkan akan suatu kehidupan masa lalu yang jauh, komunikasi yang berkembang dalam kehidupan suku-suku di pedalaman, yang banyak menggunakan bahasa isyarat dan suara-suara aneh.

Pada sesi diskusi beberapa penonton tidak melewatkan keingintahuan mereka.  Ada yang ingin tahu berapa lama persiapan yang dilakukan oleh Meta Teater untuk pertunjukan Are You Hungry, My Friends? ini, mengapa unsur-unsur teater lain (setting, pencahayaan, musik, kostum dan make-up) tidak ada.  Ada juga yang bertanya tentang konsep pertunjukan Meta Teater,  sejak kapan Meta Teater pentas seperti ini dan mengapa judulnya Are You Hungry, My Friends?

Aryo mengungkapkan  bahwa ia sengaja tidak menggunakan bahasa verbal dalam beberapa produksi teaternya,  karena ia tidak percaya lagi dengan bahasa verbal yang sekarang penuh dengan basa-basi dan kebohongan.  Model pementasan seperti ini hanyalah satu bentuk penawaran saja bahwa teater tidak harus dipentaskan di gedung atau tempat tertentu dengan batas antara penonton dan aktor yang jelas.  Ia tidak menyukai gaya berteater seperti itu, dan lebih suka tampil dengan gayanya sendiri, yang bisa pentas di mana saja dan kapan saja, dan merasa lebih dekat dengan penonton.  Menurutnya setiap orang boleh berpartisipasi dalam pertunjukan yang ia lakukan.  Ia malah senang, seperti yang dilakukan 3 temannya pada pertunjukan Meta Teater kali ini.  Aryo menjelaskan persiapan pementasan ini memang tidak dilakukan dalam waktu yang lama, ia datang beberapakali di lokasi yang terkena bencana dan berdialog dengan beberapa korban gempa tersebut, kemudian diekspresikannya dalam pementasan ini.

Ia percaya bahwa untuk berkomunikasi tidak harus dengan dialog verbal, tetapi juga dengan ekspresi emosi.  Kita bisa merasakan sedih tanpa harus mengatakan sedih, juga marah, frustasi dan sebagainya.  Maka ia memilih bahasa non verbal sebagai cara pengucapan teaternya.  Selain itu, bahasa verbal sudah dilakukan oleh banyak kelompok teater di Indonesia.  Nah ia mencoba melawan konvensi berteater seperti itu. Meta Teater mencoba hadir berbeda dengan kelompok-kelompok teater lain. Meta Teater menurut Aryo maknanya melampaui teater itu sendiri sebab lebih menekankan pada rasa, emosi dan hati, bukan pada pikiran.  Ia percaya akan tetap ada komunikasi meski bahasa yang ia gunakan tidak dimengerti.  Ia selalu merasa puas dengan cara seperti ini, meski banyak orang tidak menyukainya.  Mengenai bagaimana tahap-tahap atau metode Meta Teater berproses Aryo tidak tahu bagaimana menjelaskannya, pokoknya itu berangkat dari unek-unek yang ia rasakan, dari kegelisahan dan kemudian ia ekspresikan seperti ini.  Jadi ia tidak tahu bentuk latihan atau metodenya itu mesti seperti apa.

Dalam bentuk-bentuk kerjasama atau kolaborasi, Aryo sangat terbuka dan membebaskan orang lain untuk turut terlibat dan menjadi bagian pertunjukan yang ia lakukan dengan cara pengucapan yang berbeda.  Ekspresi atau bentuk aktingnya bebas saja, tidak ada ikatan harus begini begitu. Sedangkan mengenai judul Are You Hungry, My Friends? diambil dari pengalaman pribadinya ketika melewati masa-masa sulit di Jogja dulu, yang tidak setiap hari bisa makan. Kondisi kelaparan ini diyakini mirip dengan kondisi masyarakat Jogja paska gempa.

Meta Teater asal Riau sejak tahun 1990-an sudah beberapa kali memproduksi pertunjukan serupa Are You Hungry, My Friends? Ia sering mengangkat isu-isu yang sedang hangat di masyarakat.  Seperti protes terhadap kebijakan pemerintah atau merespon kondisi sosial masyarakat yang menurutnya perlu disuarakan atau diekspresikan.  Tempat pertunjukan Meta Teater bervariasi, kadang di jalan, di depan gedung pemerintah, tugu, gedung pertunjukan di beberapa daerah di Sumatera dan Jawa. Bahasa non verbal dipilih sebagai strategi Meta Teater agar bisa menyuarakan dengan lebih jujur dan spontan tanpa harus takut ditangkap atau membuat orang tersinggung karenanya.  Maka ia mempertahankan cara pengucapan itu hingga sekarang, satu cara pengucapan yang  memang tidak terdapat dalam tata  bahasa Indonesia.

Aryo sebagai sutradara sekaligus aktor menjelaskan bahwa pementasan di Kedai Kebun Forum adalah salah satu rangkaian dari road show yang sedang dilakukannya.  Hal lain yang ingin disasar Aryo dalam Are You Hungry, My Friends? di KKF adalah menciptakan satu ajang untuk silaturahmi dengan para seniman atau pelaku teater di Jogja saat ini setelah lebih dari 20 tahun ia tinggalkan karena bermukim di Riau.  Pementasan Are  You Hungry My Friends? kembali akan dipentaskan Aryo di jalan Malioboro dan di Solo.

* Iskandar GB, pelaku teater dari Komunitas Berkat Yakin, Bandar Lampung. Menulis artikel ini saat magang keaktoran di Teater Garasi lewat program Magang Nusantara yang diselenggarakan Yayasan Kelola.

(terbit di skAnA volume 02, November 2006-Maret 2007)

Advertisements

Oleh: Hindra Setya Rini*

Gempa tektonik berskala 5,9 richter yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 lalu, membuat saya kaget dan panik. Gempa yang membangunkan saya dari tidur yang lelap pagi itu. Malamnya saya asik “bertelepon ria” dengan teman dekat saya di luar kota. Bagaimana tidak panik? Saya tinggal di lantai atas rumah induk semang saya. Kaget dan terbangun saat barang-barang di kamar saya berjatuhan, berlari dengan kaki saya yang seolah-olah tidak benar-benar menjejak lantai, dan sialnya lagi, pintu kamar sulit dibuka. Tangan saya gemetar, saya berusaha menenangkan diri ketika memutar kunci pintu kamar agar dapat segera dibuka. Setelah berhasil. Saya turun.

Di bawah saya mendapati teman-teman yang lain sudah berkumpul dan berceloteh riuh tentang gempa yang baru saja terjadi itu. Saya diam saja. Mencoba menenangkan diri dengan duduk sambil melihat mereka, dan mencerna apa yang baru saja saya rasakan. Tak lama kemudian ada sesuatu dalam perut saya yang memaksa untuk keluar. Hooekk! Saya muntah-muntah, maaf—ini gejala yang biasa saya alami jika saya sedang panik berat. Mungkin karena saya bukan orang Jogja, saya tidak merapal “kukuh bakuh” agar hati tenang dan tidak ada yang runtuh.

Setelah reda, saya tidak berpikir akan ada gempa susulan. Saya naik kembali untuk membersihkan dan mengemasi barang-barang yang berserakan di lantai kamar saya. Sampai teman “luar kota” saya itu menelepon kembali untuk mengabarkan bahwa akan ada gempa susulan. Ia menyarankan agar saya segera ke sanggar saja, mungkin akan lebih aman. Dengan menekankan kata-katanya; jangan di dalam bangunan, apalagi yang bertingkat. Bahaya. Tutt…Telepon mati. Saya belum pernah mengalami hal yang semacam ini dalam hidup saya, alangkah lambatnya respon saya tentang ini. Cepat sekali berita gempa ini tersebar, pikir saya.

Akhirnya, kuturuti sarannya. Tak lama kemudian saya mengambil sepeda mini di garasi, lalu mengayuhnya menuju sanggar Teater Garasi yang tak jauh dari tempat kost saya, tempat di mana sebagian aktivitas dan waktu keseharian saya habiskan di sana. Tiba di jalan raya Bugisan Selatan itu, tiba-tiba segerombolan manusia menyerbu dari arah selatan, motor-motor beriringan dengan lampu dan klakson yang terus dinyalakan, mobil ambulan dengan bunyi sirinenya yang memekakkan telinga, serta suara orang-orang yang berlarian tak karuan meneriakkan “Tsunami! Tsunamii…!” Saya masih belum percaya. Saya juga tidak segera berlari mengikuti mereka. Saya hanya terpaku, lagi-lagi otak saya tidak bekerja dengan cepat. Sampai seorang ibu menegur saya, “Mau kemana, Mbak? Ayo lari, ada tsunami lho. Naik mobil sini aja” Saya ganti bertanya, “Bener, Bu, tsunami?” Ibu tadi tahu kalau saya tidak percaya. “Eh, bener, Mbak. Tadi Pak Polisi lewat sambil bilang ada tsunami. Trus tadi ada yang berdarah-darah gitu…”

Ah! Saya memutuskan untuk melanjutkan niat semula, ke sanggar. Saya akan menemui teman-teman di sana, dan menanyakan ulang tentang rencana berkebun kami pada hari itu. Sebenarnya kami hari itu berencana untuk berkebun, menanam bunga di pekarangan sanggar kami. Belum terpikir untuk menyelamatkan diri. Lalu saya kayuh sepeda saya melawan arah orang-orang yang seperti gerak semut beriring itu.

Ya, ampun! Saya mematung di depan sanggar. Pendoponya? Tidak ada lagi karena sudah rata dengan lantainya. Sepi. Saya berdiam di sepeda. Tak tahu berapa lama. Tapi kelihatannya lama banget deh. Kemudian, seperti baru tersadar, saya tinggalkan sanggar. Saya pikir saya pasti gila kalau tetap berada di sana. Kalau tsunami yang dikatakan ibu tadi bukan isu, dan benar-benar terjadi? Saya bisa mati.

Setelah itu, saya kayuh sepeda saya di antara orang-orang yang tumpah ruah di jalanan. Saya ketemu lagi dengan ibu yang tadi (ternyata ia pun belum beranjak ke mana-mana), ”Mau kemana, Mbak?”, tanyanya. “Nggak tau, Bu.” Jawab saya datar. Jujur, saya benar-benar tidak tahu harus lari ke mana. Dalam kebingungan saya menentukan tujuan, saya berpikir kembali seandainya saya mati? Ya Tuhan, saya ternyata takut mati sendirian.

Akhirnya saya menuju tempat di mana saya bisa ketemu dengan teman saya. Sambil mengamati di sekitar saya, di kiri-kanan jalan yang saya lewati, bangunan pagarnya rubuh rata dengan tanah. Saya berpikir, jika saya mati setidaknya ada seorang teman yang mengenali saya. Atau paling tidak, saya tidak mati sendirian, ada teman. Ha-ha! Ini konyol, pikiran ini pun membuat saya tersenyum sendiri. Bisa jadi ini hanya cara saya menghibur hati. Sungguh, alangkah saya benar-benar takut mati.

Sesampainya di tempat teman saya itu ternyata juga sepi. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti di dekat jalan raya Ngadinegaran, Jogja. Tak lama itu saya bertemu dengan teman saya (aktor teater) bersama sekumpulan temannya yang lain dari Sewon. Mereka dari ISI Jogja, yang mengungsi karena isu tsunami tersebut. Nah, bersama mereka itu saya menghabiskan waktu sampai menjelang sore di bawah sebatang pohon yang cukup rindang. Beberapa orang lalu lalang dengan memandang kami dengan tatapan aneh, ada yang bertanya, “Lagi pada ngapain?” Sontak kami saling berpandangan satu sama lain. “Gila! Dia kira kita lagi piknik apa?! Nggak liat ya matanya!” Teman saya itu menyeletuk sewot. Oups! Bencana memang membuat darah ikut panas, batin saya. Jika saya mengingat lagi peristiwa saat gempa terjadi ini, saya pasti akan tertawa geli dan yang pasti tidak pernah saya lupa sepanjang hidup saya.

Demikianlah, gempa yang terjadi di Jogja itu membuat seluruh kota terhenyak. Aktifitas di wilayah Jogja bagian selatan macet. Apalagi ketika data yang dikabarkan melalui TV dan Radio menginformasikan bahwa korban gempa terus bertambah, membuat suasana pada hari-hari paska gempa murung. Jalan-jalan lengang. Meskipun tetap masih ada aktifitas yang terus berlanjut seperti hari-hari sebelum gempa melanda, terutama wilayah Jogja bagian utara. Namun, gempa yang menyisakan kerusakan-kerusakan parah dan membutuhkan pemulihan-pemulihan yang tidak sedikit itu, baik fisik maupun non fisik, cukup membuat denyut jantung Jogja terhenti.

Demikin juga yang terjadi di Teater Garasi; Laboratorium Penciptaan Teater, tempat di mana saya menempuh studi keaktoran selama lima tahun ini harus lumpuh total. Seluruh rencana berubah. Ada yang ditunda dari jadwal semula, dan sebaliknya, melakukan yang sebelumnya tidak direncanakan.  Begitu juga proyek solo saya pada bulan Agustus, saya sudah tidak bisa lagi memikirkannya (meskipun pada kenyataannya sebagian rangkaian proyek solo tetap bisa dilakukan pada bulan Agustus, tetapi bentuk  dan ide dari rencana semula berubah, dan tema pun beralih menjadi tema gempa: dalam Gardanalla Toko Cerita 2006, sebagai aktor fasilitator bagi korban gempa).

Semua aktifitas dialihkan ke lingkungan sekitar setelah sanggar dibersihkan. Jika ditanya apa yang akan saya lakukan pada saat itu? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya punya tenaga. Dari sanalah mulanya ketika paska gempa Jogja saya sempat menjadi tukang masak di dapur umum TGM (Teater Gadjah Mada) untuk para relawan gempa, sempat turun ke lapangan menjadi relawan di salah satu LSM, sebagai distributor logistik dan assisten CO (Community Organizer) yang, dari sana saya bisa melihat secara langsung tempat-tempat korban gempa yang sulit dijangkau. Di sepanjang jalan,  saya melihat bangunan-bangunan yang rubuh, berbaris anak-anak korban gempa menadahkan tangan meminta-minta. Aduh, tidak terlalu berlebihan, kan, bila hati saya jadi tersentuh?

Selanjutnya, pemandangan yang saya lihat di sepanjang jalan ke Imogiri ketika menjadi relawan pengantar logistik (tanggap darurat) ke pelosok-pelosok kampung yang terkena gempa—anak-anak yang mengulurkan tangan, kadang ada yang dengan baskom atau kaleng meminta sumbangan, tidak hanya uang, mereka juga memelas atau kadang teriak di jendela pick up yang saya tumpangi meminta air dan nasi yang—itu terus menggelayuti pikiran saya—bagaimana halnya dengan anak-anak? Apa yang terjadi terhadap anak-anak setelah gempa? Apa yang bisa saya lakukan buat mereka? Sempat terlintas dalam benak saya untuk segera menghubungi teman saya yang punya konsen terhadap anak-anak. Yang juga mengenalkan kepada saya pada dunia yang digelutinya; anak-anak. Saya harus ketemu. Mungkin saja ada ide yang bisa saling  bertemu. Ah! Saya tidak tahu.

Waktu terus bergulir, saya sudah tidak lagi menjadi relawan di LSM tersebut. Namun, pikiran-pikiran itu masih terus menggelisahi saya. Menurut saya, tanpa sadar—para orang tua yang perhatiannya lebih tercurah dalam hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan rumah, bekerja kembali untuk terus memberlangsungkan hidup seperti semula—yang juga diam-diam mempengaruhi psikologi anak. Selain anak-anak sendiri mengalami trauma, ditambah pula dengan kegelisahan-kegelisahan orang tua yang juga punya traumanya sendiri, sehingga hal tersebut mengimbas kepada anak.

Rekonstruksi dan rehabilitasi terhadap rumah—sebagai pusat tempat segala aktifitas, tempat sejarah dan memori, dan mimpi-mimpi dibangun—begitu menyita waktu dan tenaga para warga korban gempa sehingga seperti mengesampingkan anak-anak mereka. Meskipun sekarang anak-anak sudah memasuki “sekolah” seperti biasanya lagi, tetapi masih dibutuhkan kegiatan-kegiatan anak untuk mengisi waktu luang anak-anak korban gempa.

Hal inilah juga yang mendasari saya untuk menerima sebuah tawaran untuk menjadi PO dalam program respon paska gempa Teater Garasi, yang berhubungan dengan anak-anak (program respon paska gempa ini terbagi tiga; anak-anak, pemuda-pemudi, dan orangtua. Serta program lain yang berkaitan dengan gempa adalah Dicông Bak) beberapa waktu yang lalu. Menyadari kompetensi yang tidak dimiliki berkaitan dengan anak-anak, teman-teman di Teater Garasi termasuk saya, mengajak seniman atau kelompok lain yang memiliki kompetensi perihal anak-anak dalam program tersebut. Di sana; Jamaludin Latief , Verry Handayani, dan saya (kami—dari Teater Garasi), akhirnya bekerjasama dengan Papermoon (Ria, Anik, Ajik, dan Eta) membuat sebuah acara kegiatan anak yang bertujuan untuk menghibur anak-anak korban gempa. Juga kawan-kawan Teater Tangga yang pada masa tanggap darurat menjadi tim perubuh rumah terlibat pula dengan program ini.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 29-30 Juli 2006 di Pucung Growong dan tanggal 5-6 Agustus 2006 di Kepek. Bentuk aktivitas yang telah dilakukan adalah pertunjukan teater boneka Papermoon, workshop membuat boneka dari barang bekas, workshop membuat wayang kertas, dolanan anak atau games, dan diakhiri dengan makan burjo bersama. Meski sempat di Pucung Growong ada workshop yang memfasilitasi anak-anak untuk bermain drama, dan workshop bermain egrang. Berangkat dari kebutuhan yang kami temui di sana.

Anak-anak Pucung Growong belajar main drumband sambil menaiki egrang

Egrang sendiri sekarang menarik perhatian warga Pucung Growong, baik yang tua, muda, dan anak-anak. Mas Jamal (salah satu aktor Teater Garasi), yang memang punya konsen yang besar terhadap egrang (stilt walking) juga berniat mengembangkan kegiatan egrang ini secara personal. Ada kebutuhan membuat klub egrang di sana, yang kemudian melibatkan warga muda Pucung Growong. Dan dari Teater Garasi juga mempunyai program yang konsen terhadap pemuda-pemudi di tempat tersebut. Dan ada lagi, program yang konsen dengan ‘warga tua’ yaitu Anjang sana-anjang sini (semacam pertukaran pertunjukan kesenian tradisi antar kampung yang terkena gempa). Seperti saling berkait berkelindan. Kegiatan egrang anak ini kemudian dalam aktivitasnya melibatkan pemuda setempat. Jadilah kegiatan egrang anak yang dikoordinasi oleh pemuda di Pucung Growong tersebut. Mereka sudah beberapa kali pentas ke berbagai tempat di Jogja. Dengan difasilitatori Mas Jamal, pertunjukan egrang tersebut bentuknya tidak lagi seperti biasanya egrang dimainkan. Egrangnya tanpa pegangan tangan, lebih

tinggi, dan bisa  sambil bermain musik (drum band). Anak-anak senang, hal ini terlihat ketika mereka antusias pentas egrang sendiri tanpa ‘ditemani’ oleh fasilitator dari Teater Garasi.

Bicara tentang anak-anak, saya tidak bisa tidak untuk bercerita pertemuan saya dengan dua orang seniman perempuan yang punya konsen dalam wilayah tersebut; Maria Tri Sulistyani dan Anik Rusmawati. Mereka yang adalah awak Papermoon; a friend to learn, yang didirikan pada awal tahun 2006. Saya terlibat dengan mereka sebenarnya jauh sebelum gempa terjadi. Dimulai ketika saya menjadi aktris teater boneka Papermoon pada saat launching Papermoon awal tahun tersebut. Berlanjut sampai paska gempa,

saya sempat terlibat selama kurang lebih satu bulan pertama ketika Papermoon bekerja sama dengan Yayasan Seni Cemeti membuat program “Aku Oke” (recovery paska gempa), pendampingan anak korban gempa di daerah Bantul, yaitu Desa Sampangan dan Tegal Kebonagung. Dan juga ketika Papermoon   bekerjasama dengan Teater Garasi dalam program kegiatan anak respon paska gempa di Pucung Growong dan Kepek (yang saya ceritakan di atas). Sedikit tambahan cerita dari Ria tentang Papermoon paska gempa ini;

Panggung boneka, salah satu acara dalam program "Aku Oke"

Papermoon itu, dan orang-orang yang terlibat didalamnya adalah seniman-seniman muda yang punya background seni rupa dan seni pertunjukan, serta khususnya yang suka dengan anak-anak. Paska gempa ini, Papermoon menemukan bentuk yang lebih fokus: teater boneka. Selain bahwa teater boneka banyak diminati oleh anak-anak, pertunjukan teater boneka sendiri masih sedikit di Yogya. Ria (panggilan akrab Maria Tri Sulistyani), mengambilnya sebagai peluang dan strategi yang bisa dilakukan untuk menghibur anak-anak korban gempa. Meskipun, aktivitas-aktivitas yang ditawarkan oleh Papermoon tidak terbatas di situ saja, karena aktivitas program yang dilakukan Papermoon sebelum gempa masih tetap berjalan sampai saat ini, yang sebelumnya dilakukan di sekolah-sekolah, yaitu; melukis, workshop, perkusi, main drama dan art school. Hanya saja, saat ini Papermoon lebih ingin memantapkan langkahnya di teater boneka. Hubungannya dengan gempa, menurut Ria, ia akan melihatnya sambil jalan.

“Awalnya sih dari ingin mengenalkan teater boneka, dan sekarang tahap untuk survey ke sekolah-sekolah dan menawarkan teater boneka itu. Mungkin baru akhir tahun ini rencananya, mengembalikan lagi program Papermoon yang sempat kepending karena gempa.” Kata Ria.

Dari hasil amatannya ke beberapa anak, efek yang diterima anak-anak juga personal. Ria juga menceritakan bagaimana ia masih sering bertanya ke anak-anak tentang apa yang mereka rasakan. “Diam-diam, anak-anak melanjutkan sendiri tanpa Papermoon. Mereka bikin boneka, dan pentas sendiri. Ini sangat menyenangkan buatku, kepuasan yang tidak terukur, dan ini membuatku optimis untuk konsen sama apa yang aku lakukan selama ini, untuk anak-anak. Kalau bisa diukur, ini berhasil menghibur anak-anak, khususnya korban gempa. Anak-anak senang, bahkan minta untuk diajari main boneka lagi…”

Jambore Anak Merdeka dalam program Aku Oke

Meski sekarang, ketika saya menuangkan tulisan ini, saya sudah tidak terlibat aktif di Papermoon. Tetapi, dari sanalah awal mula saya terlibat dengan dunia anak-anak. Belajar mengenal mereka, memungkinkan bertemu, melalui aktivitas kesenian yang saya jalani. Baik dengan Papermoon ataupun bersama Teater Garasi, keterlibatan saya dalam program anak-anak korban gempa, cukup membekas dalam diri saya. Bisa menghibur anak korban gempa tersebut amat sangat berarti buat saya, senangnya bukan alang kepalang. Mengingat saya yang dulunya tidak suka dengan anak-anak. Mungkin agak terlalu personal dan sentimentil bagi saya, tapi memang demikianlah yang terjadi kepada saya.

Di lain tempat, masih berkaitan dengan anak-anak, saya juga bertemu dengan Gigon, salah seorang dari Anak Wayang Indonesia yang senior  (Anak Wayang Indonesia ini sudah tidak asing lagi di Jogja, yang mewadahi anak-anak kampung di wilayah perkotaan untuk beraktivitas dalam kesenian). Sampai saat ini AWI masih dipegang oleh Mas Jenggot Antariksa. Aktivitas Anak Wayang Indonesia paska gempa ini, adalah pendampingan anak-anak korban gempa.

Anak-anak AWI tersebut pentas keliling, dan mendirikan sebuah komunitas sendiri yang diberi nama: Komunitas Jangkar Bumi, ke delapan belas kampung. Di sana mereka membawakan satu rangkaian acara untuk menghibur anak-anak warga korban gempa. Saya sempat menonton salah satu pertunjukan mereka di salah satu kampung. Acara tersebut di dalamnya terdapat beberapa pertunjukan  yang dimainkan oleh anak-anak (AWI), yakni; perkusi, teater, baca puisi, pantomim, dan games. Acara dikemas menjadi satu tontonan dan dipandu oleh dua MC anak. Menurut Gigon, selaku pendamping anak-anak AWI yunior tersebut, memaparkan bahwa tidak ada perbedaan yang besar dalam pertunjukan AWI sebelum atau setelah gempa.

“Selama ini anak-anak juga pentasnya di kampung-kampung. Jadi nggak ada bedanya antara sebelum dan sesudah gempa, dari segi pertunjukan. Cuma, sekarang pentasnya berangkat dari cerita-cerita keseharian saja. Kalau dulu, ada isu-isu yang harus disampaikan dari pertunjukan. Sekarang enggak pakai…” Katanya.

“Tapi Mbak, yang paling berkesan saat ini adalah berkat gempa itu, anak-anak AWI yang senior dan yunior jadi kompak. Dulu enggak kayak gitu, ada jarak antara mereka. Dan melalui pentas paska gempa itu anak-anak jadi solid; bikin cerita bareng, rembugan bareng, ya jadi pertunjukan keliling itu untuk menghibur anak-anak korban gempa. Sekarang jadi ada diskusi-diskusi gitu. Dan ini hal yang positif ketika mereka saling ketemu, entah dalam ngobrol atau membuat proses pertunjukan bersama.” Imbuhnya di akhir percakapan kami.

Di samping bertemu mereka yang notabene adalah anak-anak muda, saya juga sempat bertemu dan bercakap-cakap dengan salah seorang seniman tua, seniman tradisi kethoprak yang sudah tidak asing lagi namanya.

Mas Bondan Nusantara, yang saya temui diakhir pertunjukan Kethoprak Forum Seniman Gumregah “Saijah & Adinda” di Sositet Taman Budaya Yogyakarta. Ia selaku penggagas konsep dan sutradara pertunjukan, adalah seorang seniman yang sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam kesenian tradisi tersebut. Penggiat di Forum Seniman Gumregah ini, menjelaskan bahwa Forun Seniman Gumregah adalah gerakan seni pertunjukan yang melibatkan seniman-seniman tradisi kethoprak yang namanya sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat Jogja, di antaranya adalah Susilo “Den Baguse Ngarso” Nugroho, Marwoto Kawer, Kirun, Yuningsih alias Yu Beruk, dan lain-lain. Diproduseri oleh Miroto (salah satu seniman tari Yogyakarta). Berikut ini sedikit cerita dari Mas Bondan mengenai kesenian tradisi paska gempa yang dilakukannya;

“Sebelum menjadi FSG ini, sebenarnya saya bersama-sama seniman tradisi yang lain sudah melakukan aksi tanggap darurat ke banyak tempat yang terkena gempa. Kemudian, pada tanggal 10 Juni 2006, kami para seniman tradisi itu berkumpul dan berpikir, seni tradisi; kita mau apa? Logistik sudah lewat, yang seterusnya mau apa? Ini sudah bukan yang fisik lagi menurut saya. Akhirnya kami survey ke warga, dan selanjutnya teman-teman sepakat untuk bersama-sama menjadi motivator sosial melalui kesenian. Ya mau apalagi? Karena memang kita ini seniman, berangkatnya ya dari kesenian. Membuat pertunjukan kesenian yang sifatnya bukan event, tapi gerakan, dan kontiniu.

“Selanjutnya yang dilakukan adalah kita melibatkan seniman-seniman tradisi di Bantul, Jogja, yang menjadi korban gempa untuk turut serta dalam kesenian yang akan kita pertunjukan untuk para warga korban gempa. Mempersatukan seniman-seniman ini memakan waktu kurang lebih 2 bulan. Ada 79 KK seniman yang terlibat, yang tersebar di mana-mana. Kami pentas hampir setiap hari, 79 kali selama 3 bulan paska gempa, pertunjukan dimulai dari pukul 20-22 WIB. Sebenarnya tidak terbatas pada pertunjukan saja, karena kadang-kadang juga para seniman tersebut menjadi fasilitator workshop kesenian tradisi kepada warga atau seniman lain.”

Seperti yang dikatakan Mas Bondan, melalui aksi ini diharapkan setidaknya dapat membantu memulihkan yang sifatnya non fisik. Trauma atau kegelisahan seniman korban gempa yang terlibat bisa berkurang dengan adanya aktivitas kesenian tersebut. Membangkitkan semangat untuk kembali berkesenian, dan karena ini kontiniu, hasil jerih payah dari pertunjukan bisa untuk terus memberlangsungkan hidup mereka sedikit demi sedikit menjadi seperti semula. Dan relasinya juga antar seniman yang terlibat, jadi mereka bisa saling menyemangati untuk bangkit kembali, dan pentasnya di kampung para seniman itu juga memudahkan untuk memotivasi masayarakat setempat yang terkena gempa untuk bersemangat kembali. Selain bahwa pertunjukan itu juga untuk menghibur warga korban gempa. Selama berjalan, Mas Bondan melihat tanggapan masyarakat juga positif terhadap kesenian tersebut.

Keterlibatan Mas Bondan dalam Forum Seniman Gumregah yang awalnya adalah keinginan Mas Miroto untuk mementaskan kembali “Saijah & Adinda” paska gempa ini, yang juga berpikir tentang bagaimana kaitannya dengan kesenian tradisi dan seniman-senimannya. Seperti gayung bersambut, FSG berjalan dengan segera, Mas Bondan tinggal membentuk format dan konsep pertunjukan yang tentu saja berbeda dari yang sebelumnya, yang oleh Mas Bondan baik cerita, pementasan, disesuaikan dengan situasi yang sedang terjadi di Jogja. Seniman-seniman tradisi korban gempa tadi dilibatkan dalam pertunjukan ini, baik sebagai penari, pemain, atau pengrawit, sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Kemudian pertunjukan ini juga menuai simpati dari para donatur yang ingin membantu para korban gempa.

“Apa yang saya bayangkan jadi terkabul, Mbak…”, kata Mas Bondan. Pertunjukan Kethoprak “Saijah & Adinda” ini dikelilingkan ke tiga kota; Solo, Yogya, Jakarta. Dan ketika ditanya, apa yang ditemui Mas Bondan paska gempa ini berkaitan dengan keseniannya? Ia menjawab singkat, “Menemukan “format baru”, bagaimana Kethoprak jadi lebih efisien, dan pragmatis”. Dengan kata lain Mas Bondan menjelaskan bahwa bentuk pertunjukan Kethoprak sendiri berubah, tidak lagi memakai pakem-pakem yang biasanya harus ada. Jadi lebih sederhana, minimalis, menyesuaikan tempat di mana ia akan diberlangsungkan. Musik klothekan, set dengan latar reruntuhan rumah warga korban gempa, juga tidak masalah.

Selain kesibukannya dengan seniman-seniman tradisi dan gerakan kesenian Forum Seniman Gumregah selama paska gempa, ia juga memfasilitasi aktivitas buat anak-anak di dekat rumahnya. Dengan mendirikan “Pondok Baca” buat anak-anak.

Di sanalah anak-anak sekitar tempat tinggalnya di kasongan, berkumpul. Meskipun tidak mesti Mas Bondan sempat meluangkan waktunya untuk menemani anak-anak tersebut, tetapi ia membuka dengan senang hati buat para relawan yang bertandang ke Pondok anak itu untuk memfasilitasi anak-anak di sana. Seiring berjalannya waktu, hingga saat ini, aktifitas anak-anak tetap berlangsung, dengan fasilitator yang berganti-ganti. Kerap Pondok Baca dikunjungi oleh mahasiswa-mahasiswi yang meluangkan waktu dan tenaganya untuk menemani anak-anak bermain dan belajar.

Ini sangat menyentuh bagi Mas Bondan, karena dengan aktivitas itu harapannya anak-anak yang mengalami trauma gempa dapat terhibur. Sekaligus ia bisa memfasilitasi seniman-seniman korban gempa yang mempunyai kompetensi di bidang tertentu untuk menjadi fasilitator buat anak-anak. Workshop kesenian tradisi Jathilan buat anak-anak, misalnya. Inilah salah satu yang dapat ia berikan buat anak-anak korban gempa, sebagai bentuk kepeduliannya atas apa yang terjadi di lingkungannya, khususnya anak-anak.

Kemudian, di akhir percakapan kami, Mas Bondan juga sempat menyebutkan seniman-seniman yang melakukan aksi serupa dalam kesenian berkenaan dengan gempa yang terjadi di Jogja, yang juga keliling dari kampung ke kampung. Memang agak sulit terdeteksi, mengingat tidak ada publikasi dalam aksi-aksi para seniman ini.

Terakhir dalam ingatan saya ketika menuliskan pengalaman saya bersama gempa ini,  membuat saya melihat kembali, menghayati kembali apa yang telah terjadi dan teralami. Memang kemudian, bicara tentang Jogja, bicara tentang bencana gempa, tidak mungkin tidak untuk begitu saja meniadakan hal-hal di sekelilingnya. Aktivitas masyarakat yang melingkupinya. Apalagi Jogja dikenal sebagai kota budaya, yang bisa langsung merujuk ke hal yang lebih spesifik pada kesenian atau seniman di Jogja paska gempa. Pertemuan-pertemuan saya dengan seniman-seniman Jogja paska gempa dan melihat aktivitas-aktivitas kesenian yang berlangsung, membuat saya bertambah percaya bahwa kesenian berhubungan erat dengan lingkungannya. Terlintas dalam kepala saya, bahwa ini juga adalah salah satu bentuk peduli kita pada sesama; respon gempa melalui kesenian (: dan kesenian juga bisa dilihat sebagai praksis sosial). Semoga ini bukan hanya ‘trend’ yang biasanya melanda di kota-kota yang terkena bencana. Juga bukan tempat untuk ajang ”wisatawan” gempa.

Sekalipun bencana, semoga ia tetap mengajari kita untuk menjadi lebih bijaksana. Kukuh Bakuh. Semoga tak ada yang benar-benar runtuh.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 02, November 2006-Maret 2007)

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Sebuah kelompok Tari dari Jepang, Keiko Dance Company melakukan tur ke Indonesia selama pertengahan Mei yang lalu. Tur dengan tajuk “Indonesia Tour 2006” ini hadir di kota Surakarta, Yogyakarta, Tegal, Jakarta, dan Bandung. Di Yogyakarta kelompok yang dimotori oleh Keiko Takeya ini tampil pada tanggal 12 Mei 2006 di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis.

Keiko Dance Company  membawakan lima nomor repertoar, “Festival Kanda” bercerita tentang pesta rakyat di Jaman Edo (tahun 1603-1867). Tarian ini adalah tarian klasik Jepang yang melahirkan berbagai aliran tari di Jepang pada kemudian hari. Nomor lainnya berjudul “Passion”, “Kalavinka”, “Misalkan Bunga Camelia”, dan “Fuji Musume”.

“Passion” bercerita tentang seorang perempuan yang berdoa dalam berbagai posisi, menggunakan media sandal terompah. Sementara tiga repertoar yang lain bercerita tentang keindahan alam, tentang bunga yang mekar,  tentang burung yang terbang ke surga, dan gunung Fuji yang mistis.

Malam itu di sela pentas juga ada pertunjukan tambahan dari Padepokan Bagong Kussudiardja. Padepokan Bagong Kussudiardja menampilkan satu nomor tari yang bercerita tentang perempuan dan lelaki yang berada dalam kungkungan plastik, diperbudak dan sepertinya dijual. Mereka (para perempuan dan lelaki itu) menari dalam bungkus plastik, diikat dengan tali, seperti barang dagangan yang siap diekspor.

Keiko Takeya yang terakhir kali hadir di Indonesia tahun 1993 yang lalu, merupakan seorang penari dan koreografer Jepang yang sudah seringkali bekerjasama dan pentas berkeliling Asia dan Eropa. Dalam berbagai pertunjukannya Keiko mempertahankan ciri khasnya dalam penggarapan, dengan menggabungkan unsur-unsur tari tradisional Jepang dengan penemuan-penemuan baru dalam dunia tari. Ia memasukkan gerakan-gerakan butoh dan tarian street dance dalam beberapa nomornya yang dipentaskan malam tanggal 12 Mei  di Auditorium LIP.

Keiko,yang malam itu didampingi empat penari lainnya selalu tampil dengan busana khas Jepang, kain putih panjang yang mirip dengan kimono. Hal ini merupakan salah satu bagian yang selalu dipertahankan Keiko dalam pertunjukannya di mana pun.

Keiko Dance Company sudah berdiri sejak 1983 mendedikasikan diri untuk memajukan tari kontemporer dengan berbagai medium pendidikan di sekolah-sekolah, mengadakan workshop, menerbitkan newsletter, sampai mengembangkan children center. Karya-karya Keiko juga selalu konsisten membicarakan masalah-masalah perempuan dan tradisi Jepang.

Salah satu karya Keiko yang paling dikenal adalah “The Mirror” yang pernah dibawakan pentas keliling Amerika pada tahun 2005. “The Mirror” bercerita tentang keseharian seorang perempuan, bangun pagi, cuci muka, menggosok gigi, bercermin, lalu berangkat kerja. Keiko, yang juga menjadi salah satu penari dalam repertoar ini pada awalnya bersama penari-penari lain memakai baju tradisional Jepang. Tapi lalu perlahan-lahan di tengah pertunjukan mereka berganti baju menjadi baju kerja modern. Bentuk tari yang tadinya bertempo lambat dengan gerakan-gerakan tradisional Jepang, ikut berubah pula sesuai dengan perubahan kostum pemainnya, menjadi gerakan tari modern diiringi dengan gerakan tari jazz swing khas Amerika.

Keiko pada awalnya adalah seorang koreografer tari untuk sebuah acara televisi di Jepang. Dia belajar tari modern di Hawaii pada tahun 70-an bersama Betty Jones, seorang penari modern kenamaan dari Amerika. Lalu ia mengembangkan konsep tarinya sendiri, dengan memasukkan cerita-cerita tradisi dan tari-tarian tradisional Jepang ke dalam pertunjukannya. Si sekolah tarinya sendiri ia mengajarkan bentuk-bentuk tari modern.

Di tengah jarangnya pentas kelompok-kelompok luar negeri mengadakan pertunjukan di Yogyakarta, pertunjukan ini menawarkan banyak hal untuk kita. Pertunjukan ini terselenggara di Yogyakarta berkat kerjasama antara Precil Production, Padepokan Bagong Kussudiardja, Teater Garasi, Margesti, dan Tita Rubi.

* Muhammad AB, reporter skAnA

(terbit di skAnA volume 01, Mei-Oktober 2006)

« Previous Page