Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Butet Kertaredjasa, aktor senior Jogja, semakin menancapkan kuku-kukunya di pentas pertunjukan monolog nasional. Kali ini ia membawakan naskah Agus Noor, Matinya Toekang Kritik. Dan seperti pementasan-pementasan sebelumnya kembali Butet mengkritik penguasa, namun tidak seperti biasanya, kali ini Butet juga mengkritik para pengkritik.

Dalam pertunjukan yang dilangsungkan di Concert Hall Taman Budaya Jogja, 11 dan 12 Februari 2006 yang lalu. Butet berperan sebagai Raden Mas Suhikayatno, yang dengan gayanya yang kocak berhasil mengocok perut penonton yang memadati gedung pertunjukan. Raden Mas Suhikayatno digambarkan sebagai tukang kritik nomor wahid, segala yang ada di depan matanya ia kritik, mulai dari masalah politik hingga masalah takaran gula dalam wedang teh. Saking gemarnya mengkritik, sehari saja tidak ada kritik yang terlontar dari mulutnya maka badannya akan terasa pegal-pegal.

Cerita dimulai di tahun 1998, Raden Mas Suhikayatno yang sudah hidup dari jaman Yunani digambarkan sudah mulai menua. Ketika semakin tua, ia semakin yakin kalau kritik-kritiknya itu tak pernah didengarkan oleh orang-orang yang ia kritik. Ia mulai ribut mencari surat yang telah lama ditunggu-tunggunya, surat penghargaan bagi dirinya sebagai pengkritik kelas wahid.

Raden Mas Suhikayatno tidak mau menjadi pejabat, raja, presiden, atau pemimpin, ia konsisten untuk berada di luar sistem untuk menjadi pengkritik sejati. Tapi ia digambarkan tidak mau menerima kritikan. Bambang, pembantu Raden Mas Suhikayatno (juga diperankan oleh Butet), harus selalu memuji dan membenarkan setiap tindakan dan ucapan “juragannya”.

Ketika jaman makin teratur, R.M. Suhikayatno semakin kehilangan fungsinya karena tak ada lagi yang perlu dikritik. Bahkan takaran gula dalam wedang teh pun selalu pas dengan keinginan peminumnya, semua sesuai dengan norma, semuanya pas, semuanya sudah dikuasai teknologi yang sangat patuh pada teknis-teknis peraturan. R.M. Suhikayatno makin terpinggirkan, ia makin putus asa berharap ada kekacauan, ada ketidakaturan yang bisa ia kritik. Tapi itu tak pernah terjadi.

Akhirnya ia digambarkan makin kehilangan daya, dan meninggal di tahun 3005 di mana sudah tak ada kritik lagi. Tepat setelah ia meninggal, datanglah surat yang ditunggu-tunggunya selama ini, dibawakan oleh Bambang yang sudah berwujud robot.

Kedekatan penonton pada R.M. Suhikayatno juga dibangun melalui buku pertunjukan, dengan sampul wajah R.M. Suhikayatno dengan topi khas Che Guevara (tokoh revolusioner Amerika Latin), dengan tulisan “Mengenang 1000 Abad Wafatnya R.M. Suhikayatno”. Isi di dalam buku pertunjukan mirip iklan duka cita di suratkabar, profil para pendukung pertunjukan menunjukkan kedekatan mereka dengan R.M. Suhikayatno. Para penonton seakan-akan dibuat percaya bahwa tokoh R.M. Suhikayatno benar-benar ada.

Kesan bahwa R.M. Suhikayatno benar-benar nyata, juga dihadirkan dengan tampilan visual yang menggambarkan persentuhan R.M. Suhikayatno dengan tokoh-tokoh sejarah, mulai dari Gadjah Mada, Sultan Agung, Soekarno, hingga berita-berita di suratkabar tentang dirinya.

Butet Kertaredjasa tampil dengan gaya khasnya, berbagai lelucon segar dan komedi-komedi satir ia lontarkan sepanjang pementasan. Pementasan menjadi begitu cair dan spontan, tanpa harus kehilangan alur ceritanya. Seringkali ia menertawakan (mengkritik?) penguasa, militer, bahkan para penonton sendiri Cairnya pertunjukan nampak ketika di tengah pertunjukan hari pertama, ketika mikrofon clip-on yang dikenakan Butet mati, Butet terpaksa harus mengandalkan vokalnya sendiri. Ketika sudah kehabisan suara,  Butet mendekat ke bibir panggung dengan gaya khas Raden Mas Suhikayatno, Djaduk Ferianto yang menjadi penata musik dipaksanya untuk membetulkan mikrofon.

Nama besar Butet merupakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat, dalam dua hari pertunjukan gedung concert hall selalu penuh. Meski harga tiket yang ditawarkan tidak termasuk murah untuk kelas Jogja (Rp 50.000,00 untuk VIP dan Rp 20.000 untuk lesehan) tapi ternyata tiket sudah habis sebelum hari pertunjukan, sehingga calon penonton yang datang pada saat pertunjukan harus membeli tiket dari tangan calo, dengan harga hampir dua kali lipat.

Pementasan di Jogja merupakan yang kedua, setelah sebelumnya dipentaskan di Jakarta. Setelah Jogja, Matinya Toekang Kritik akan dipentaskan di Surabaya, dan rencananya beberapa kota lain di Jawa dan luar Jawa. Pertunjukan monolog ini sendiri merupakan yang pertama bagi Butet dalam beberapa tahun terakhir, setelah Butet banyak disibukkan dengan program-program televisi dan syuting film. Dalam pertunjukan ini Butet sepertinya tak ingin terjebak pada stereotipe pertunjukan monolog yang mem-parodi-kan penguasa yang selama ini kerap ditirukannya dalam berbagai kesempatan pertunjukan monolog sebelumnya.

Dalam pertunjukan ini Butet bekerja sama dengan orang-orang yang sering membantunya dalam pertunjukan monolognya yang sebelumnya. Sebagian adalah bekas anggota kelompok teater Dinasti dan Gandrik, di mana Butet pernah aktif di dalamnya. Nama-nama seperti Whani Dharmawan yang menjadi sutradara, Djaduk Ferianto yang menjadi penata musik,  Ong Harry Wahyu sebagai penata artistik, dan Agus Noor sang penulis naskah merupakan orang-orang yang kerap kali terlibat bekerja dengan Butet.

Seperti ditulis oleh Ruwat Wicaksono Adi di buku pertunjukan, Butet dan orang-orang di atas sudah sejak pertengahan tahun 1990-an berproses bersama dalam bidang kesenian. Komunitas ini kini menempati Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo sebagai markas, dan produk komunitas ini tak hanya pertunjukan monolog Butet tapi juga pertunjukan tari, kelompok musik Kua Etnika, dan pertunjukan teater.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 01, Mei-Oktober 2006)

*****

Matinya Toekang Kritik

Pemimpin Produksi: Yusnianto Ali — Pelaksana Produksi: Sonny Suprapto — Penulis Naskah    : Agus Noor — Sutradara: Whani Dharmawan — Pemain: Butet Kertaredjasa — Penata Musik: Djaduk Ferianto — Penata Artistik: Ong Harry Wahyu — Penata Cahaya: Ign. Sugiarto — Pengolah Multimedia: Jompet — Pimpinan Panggung: Novindra Diratara

Komentar Penonton

Wahh, pengin lihat Butet soalnya mesti lucu. Tadi kan kelihatan, meski ada seriusnya Butet tetap bisa kocak. (Budi)

Asyik pertunjukannya. Tapi kok rasanya lama banget, mungkin karena biasanya Butet melucu terus, rasanya jadi cepet. Kalau serius rasanya jadi lama sekali. Tapi bagus, serius dan lucu juga. (Nuki)

Monolognya seperti biasa. Tapi ada hal-hal yang baru juga, seperti video di belakang panggung, terus Butet mainkan dua peran dalam waktu yang bersamaan. Kelihatannya jarang ada aktor yang bisa main seperti itu. (Anto)

Beda banget sama Butet yang di TV, lebih lucu kalau lihat langsung seperti tadi. (Arni)

Advertisements