Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Wajah lelaki tua itu tampak teduh, santun dan bersahaja, namun ia tengah dirundung gelisah. Lelaki itu sudah puluhan tahun berprofesi sebagai seorang guru, dan usia yang sudah semakin tua membuatnya mengkoreksi diri. Murid-muridnya yang konon pandai dan sukses, tak mendatangkan perubahan bagi negara. Mereka hanya bisa memperkaya diri pribadi dan tak peduli dengan keadaan sekitarnya. Ajaran moral luhur yang ia ajarkan malah melahirkan para mafia negara yang egois. Sejatinya, ia mengharapkan sifat-sifat kepahlawanan dan kepatriotan dalam jiwa murid-muridnya.

Suatu hari di beranda, saat sang Guru gelisah ingin mendirikan sekolah, tiba-tiba datanglah mahkluk aneh yang sama sekali belum ia kenali.  “Nama saya Setan, saya datang untuk berguru. Ajarilah saya menjadi pahlawan.” Begitulah si Setan memperkenalkan dirinya. Sang Guru terhenyak keheranan, mengapa Setan yang ingin menjadi pahlawan? Tapi karena tekad si Setan untuk menjadi pahlawan sudah bulat, maka si Lelaki tua itu mengajarkan ilmu kepahlawanan: seorang pahlawan harus rela berkorban, pantang menyerah, membela kaum tertindas, dan tanggguh.

Maka si Setan terbakar semangat kepahlawanannya, ia dikirim ke sebuah negeri yang tengah dilanda bencana alam dan kemrosotan kepribadian rakyatnya. Si Setan datang ke negeri yang ternyata bernama Indonesia. Aneh, belum berbuat apapun ia telah dielu-elukan sebagai pahlawan. Mungkin rakyat di negeri itu merindukan sosok seorang pahlawan.

Tetapi setelah pulang ke dunianya, ia dibenci temannya sesama setan. Ia dituding sebagai penghianat. Si Setan baik hati itu dihajar beramai-ramai oleh temannya sendiri. Tubuhnya bersimbah darah saat mendatangi gurunya. Si Setan tidak tahu jika menjadi pahlawan harus membayar mahal dengan nyawanya. Ia mati di tangan bangsanya sendiri.

Cerita monolog Zetan tersebut dibawakan oleh Putu Wijaya, di Pendapa penerbit Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Jl Pura I/1 Sorowajan Baru, Banguntapan, Bantul, pada tanggal 13 Agustus pukul 20:00 BBWI. Meskipun acara pementasan tersebut diselenggarakan pada bulan puasa, banyak penonton yang hadir malam itu. Ada sekitar 100 penonton yang didominasi mahasisiwa.

Putu Wijaya yang memerankan lelaki tua itu berhasil menyetir penonton dengan aktingnya. Kadang ia menghibur, terkesan sembrono, dan kadang memukau. Guyonan yang ia lempar ke penonton kadang segar, tapi juga ada yang jadul (jaman dulu), seperti dengan sengaja ber-pose di depan kamera, mengomentari aktingnya sendiri, dan lepas dari perannya. Di usianya yang sudah 64 tahun, ia masih kelihatan enerjik dan dinamis. Putu Wijaya bermain dengan gestur tubuh dan mimik yang sangat teaterikal. Setting yang hanya berlatar kain putih dengan properti sebuah kursi kayu, tak membuat ruang menjadi sepi. Ia berakting dengan memanfaatkan property: membanting kursi, mengangkat kursi di atas kepala sambil keliling ruang, dan berdiri di atas kursi.

Aktor sekaligus sutradara Teater Mandiri itu, memang sengaja mencairkan suasana menjadi rileks dan interaktif. Ia membebaskan penonton tetap menghidupkan hand phone, membiarkan wartawan dan penonton memotret memakai lampu blitz, bahkan salah seorang penonton sempat ia ajak bermain ke panggung.

Putu tak sekadar pentas di atas panggung, tapi ia memang seorang guru yang tak pernah lelah dalam mengajarkan moral lewat seni teaternya. Intensitas proses kreatifnya tak diragukan lagi. Dalam pementasan malam itu, Putu Wijaya telah membawa penonton masuk dalam dunia yang menjadi asing: dunia kepahlawanan. Dunia yang kini jarang diminati generasi muda. Mungkin terbayang-bayang si Setan yang berakhir ironis: mati di tangan bangsanya sendiri, atau bisa jadi berakhir frustasi dan kesepian. Tapi jika setan saja berani membela bangsa manusia, mengapa manusia tidak? Bukankah derajat manusia lebih tinggi dari setan?

Dua Cerita dari Sisi Lain Kepahlawanan

Selain cerita kepahlawanan si Setan, Putu menggambarkan cerita kepahlawanan lain lewat konflik antara ayah dan anak. Si Anak bersikeras ingin pergi ke Jogja tatkala bencana gempa bumi menimpa kota itu. Tapi si Ayah melarangnya, karena ia mengkhawatirkan kondisi  anaknya yang sangat lemah. Bahkan sering pingsan ketika melihat darah. Tapi si Anak tetap bersikeras akan pergi menjadi relawan, karena teman-temannya banyak yang menjadi relawan. Terjadilah ketegangan antara ayah dan anak.

Terakhir, ia bercerita tentang kemerdekaan yang digambarkan lewat seekor burung dan Tuan-nya. Burung yang terbiasa hidup dalam sangkar itu dibebaskan oleh si Tuan yang bermaksud memberi kemerdekaan. Tapi si burung enggan terbang, malah memohon untuk tetap tinggal dalam sangkarnya. Karena ia tak terbiasa hidup bebas dan merdeka. Si Tuan marah mendengar penolakan si Burung atas kemerdekaan yang ia berikan. Lantas dilepaskannya semua burung miliknya yang ada di dalam sangkar. Dan burung-burung itu terbang membentuk formasi di langit, lantas berak bersamaan tepat di atas kepala si Tuan.

Putu Wijaya belum juga terlihat lelah meski keringat bercucuran membasahi muka dan tubuhnya. Monolog yang berdurasi kurang lebih dua setengah jam itu tak membuat penonton bosan. Seolah penonton menjadi anak-anak yang mendengarkan dongeng sebelum tidur. Dongeng tentang kepahlawanan dan kemerdekaan yang ternyata tak dapat dipaksakan, diberikan secara cuma-cuma, atau sekadar ikut-ikutan karena gengsi. Yah, semuanya memang harus dilakukan dengan perjuangan dan api hidup.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

Komentar:

“Bagus banget! Kok bisa manusia membuat cerita tentang setan jadi pahlawan? Itu perlu kungkum (laku prihatin berendam di sungai) nggak ya?” (Asita, 30 tahun, Aktor Bengkel Mime Theatre)

“Sayang banget dia (Putu Wijaya) ga begitu serius, mungkin karena gratisan kali ye? Tak ada yang istimewa dari pentasnya. Tapi saya salut untuk daya ingatnya.” (Catur Stanis, aktor teater dan aktif dalam milis teater di internet, 38 Tahun)

“Ini kali pertama saya melihat penampilan Putu Wijaya, tapi ternyata tak sebagus yang saya bayangkan. Terlalu banyak improve dan tertawa-tawa sehingga tidak fokus!” (Sukma, 20 tahun, Mahasisiwa Sastra Indonesia, Universitas Negri Yogyakarta)

“Wah ini pertama kali aku nonton pertujukannya Putu. Aku bingung. Penempatan interaksi langsung dengan penonton itu yang menurutku agak aneh. Tapi Putu kan senior, waduh aku ga tau apakah Putu sering melakukan itu dengan Teater Mandirinya. Sebagai penikmat saya enjoy aja dengan pertunjukan ini..” (Indrian Koto, 24 tahun, penyair muda Jogja)

“Power dan inner akting Putu Wijaya bisa menutupi kelemahan pita suara dalam monolog dua jam lebih. Dengan presentasi sangat memuaskan sesuai dengan kebesaran nama dan jiwanya.” (Pedro, 25 tahun, Seniman muda Jogja)