Oleh: Hindra Setya Rini

Ada dua pertunjukan monolog yang sempat kutonton selama bulan Agustus dan September 2006 ini di Yogyakarta. Kebetulan dua-duanya bukan aktor dari Jogja. Satu dari Makassar, yang satunya lagi dari Bandung. Kedua aktor tersebut bukan dari angkatan muda lagi, dua-duanya aktor senior yang, namanya juga sudah tidak asing di dunia perteateran Indonesia.  Lagi-lagi, keduanya menarik untuk disimak. Menurutku, tentu saja. Sebagai penonton, juga sebagai aktor yang belum lama menggeluti dunia teater. Baik, akan kuceritakan sedikit tentang pengalamanku selama menonton dua pertunjukan tersebut.

Ziarah

Monolog “Ziarah” oleh Soeprapto Budisantoso, naskah adaptasi novel Iwan Simatupang, dipentaskan di Kedai Kebun Forum, tanggal 23 Agustus 2006 pukul 19.30 WIB, karcis; Rp. 5000,00. Begitu yang tertulis di kertas undangan menonton yang aku terima. Malam itu, Rabu pukul 19.20 WIB dengan agak tergesa kukayuh sepeda miniku menuju tempat pertunjukan, kupikir aku akan terlambat tiba di sana. Sesampainya di tempat pertunjukan, segera kuparkir sepedaku, segera kutemui salah satu penyelenggara dari Maneka[i], dan bertanya apakah pertunjukan sudah dimulai? Ada kemungkinan pertunjukan mundur karena penontonnya masih sedikit, sepi, begitu jawaban yang kuterima. Aku menunggu sambil sesekali menyapa beberapa penonton yang kukenali. Tak lama kemudian sedikit demi sedikit penonton menjadi ramai. Begitulah, sampai akhirnya pertunjukan dimulai pada pukul 20.05 WIB dan lampu ruangan mati.

Soeprapto Budisantoso dalam 'Ziarah'

Teng! Teng! Teng! Bunyi lonceng terdengar, suara musik mengalun pelan, sepelan lampu ruang pertunjukan yang semakin terang. Tepat di bawahnya, seorang aktor duduk terpekur di atas sebuah dipan kayu. Lelaki tua dengan memakai kacamata minus, memakai kostum keseharian; kaos putih dan celana kain putih, tampak seperti sedang merenung. Segera yang terlihat di panggung sebuah dipan kayu melintang di tengah ruang, agak ke sudut kanan ada sebuah meja kayu dengan sebuah gelas kaca pendek dan ceret aluminium di atasnya, juga sebuah kursi kayu di dekat meja. Pemandangan di depanku, dan suasana yang dibangun membuatku merasa kembali ke suatu masa yang jauh dari kehidupanku sekarang. Sesuatu yang ‘berbau’ lama. Kemudian, lelaki tersebut mulai bercerita tentang dirinya, seorang pelukis ternama yang hidup sendirian karena kematian isterinya.

Di sanalah ihwal kesedihannya, kesepiannya, yang kemudian seluruh waktu ia habiskan untuk minum arak. Ia tidak lagi melukis, orang-orang mengenalnya sebagai pemabuk. Tiada hari tanpa arak. Penghasilannya dihabiskan untuk minum arak. Sesaat tampak lelaki tersebut sedang mabuk, tubuh yang oleng ke sana-ke mari mengitari dipan, dan kadang berlari, berteriak girang mengelilingi ruangan, dan tiba-tiba meraung sedih memanggil-manggil nama isterinya. Ini adegan pertama. Yang kedua, lelaki tadi ditawari oleh seorang lelaki yang lain untuk mencat kuburan. Mencat hanya di kuburan. Tawaran ini pertama-tama ditolak, tetapi kemudian disanggupinya. Upah dari mencat itu juga ia habiskan untuk membeli arak. Sejak itu, lelaki yang menawari pekerjaan mencat itu menjadi mandornya.

Aktor naik ke atas kursi membuat gerakan mencat. Kemudian lelaki yang mencat tersebut bercerita tentang mandornya. Juga tentang walikota yang berang atas ulah si Mandor dan pencatan harus dihentikan, karena akan mengganggu kota. Kemudian, terjadi dialog antara walikota, mandor dan tukang cat yang pada suatu waktu tertentu ketemu dalam cerita. Beberapa penonton tertawa ketika ada dialog yang dirasa lucu dalam perdebatan tersebut. Ringkas cerita, di akhir adegan ketiga (penutup) lelaki pelukis tadi berlarian di halaman sambil berteriak hujan. Padahal,  tidak ada hujan dan ia telanjang. Akhirnya orang-orang menyimpulkan bahwa pelukis terkenal itu jadi gila karena kematian istrinya.

Karakter yang dimainkan si aktor jelas, dan permainannya yang rileks membuatku tetap betah menontonnya hingga selesai. Dan cerita itu sendiri sampai kepadaku. Cara menyampaikan cerita biasa saja, seperti sehari-hari, tapi dengan artikulasi yang jelas. Dan permainannya yang memikat itu sama sekali tidak terganggu oleh faktor usia aktor yang sudah tidak muda lagi. Meski tetap saja ketuaan itu tampak pada pola nafasnya tapi hal itu bukan gangguan yang besar bagiku.

Dan yang paling menarik, seusai pentas ada sedikit diskusi tentang pertunjukan monolog Budisantoso tersebut. Paling tidak aku dan penonton yang lain menjadi tahu tentang proses mas Budi dalam mempersiapkan monolognya setelah 23 tahun vakum di teater. Memang sedikit terlihat suasana reuni pada malam itu, karena sebagian besar penonton yang hadir adalah teman-teman Mas Budi di masa ia aktif di Teater Gadjah Mada, dan Mas Budi adalah salah satu pendirinya. Alasan apa yang membawa Mas Budi kembali bermain teater? Demikian salah satu pertanyaan yang ingin diketahui sebagian penonton, termasuk Landung Simatupang, yang notabene adalah teman Budisantoso, sekaligus moderator diskusi pada malam itu.

Menurut Mas Budi, yang memicunya kembali untuk bermain teater setelah 23 tahun vakum adalah kegelisahannya atas aktor-aktor senior di Makassar yang berhenti bermain dan melihat anak-anak muda atau aktor pemula yang sulit mencari panduan untuk bermain teater. Berbeda dengan saat ia masih muda, pentas teater dari kelompok-kelompok teater ternama, seperti Rendra, Arifin C. Noor, masih sempat ia saksikan. Sedangkan saat ini mungkin kelompok-kelompok teater tersebut sudah tidak aktif lagi, sehingga anak-anak muda teater tidak memiliki kesempatan menonton dan belajar dari pertunjukan mereka. Dan melalui pertunjukannya ini, Mas Budi ingin memberikan referensi buat generasi pemula yang ingin bermain drama. Dan tegasnya lagi, bukan menggurui tapi sebagai referensi saja. Pesan yang ingin disampaikannya kepada aktor pemula adalah untuk terus bergiat mengolah modal keaktoran; disiplin latihan dasar keaktoran seperti olah tubuh dan vokal.  Hal lain yang juga dimunculkannya adalah perihal akting yang biasa, fleksibel, dan interaktif terhadap ruang pertunjukan. Dan gaya yang dipilih Mas Budi adalah gaya realis.

The Story of The Tiger

Monolog yang kedua adalah “The Story of The Tiger”, salah satu karya termasyur Dario Fo (aktor, sutradara, pimpinan kelompok dan penulis naskah berkebangsaan Italia). Monolog ini dimainkan dan disutradarai oleh Wawan Sofwan dari Bandung. Pentasnya di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis (LIP), tanggal 26 September 2006, pukul 20.30 WIB, dimulai sehabis tarawih.

Wawan Sofwan memainkan lakon yang bercerita tentang seorang tentara Manchuria yang terluka parah oleh seorang bandit kulit putih Chiang Kai-Shek, selama perjalanan panjangnya di Himalaya. Dan dalam perjalanannya itu, akhirnya teman-temannya pergi meninggalkannya karena bau busuk yang ditimbulkan oleh luka parah di kakinya. Selama dua bulan berjalan sendirian, si Tentara yang luka sampai pada sebuah gua yang didiami seekor harimau betina bersama anaknya. Ia pun bersembunyi di sana. Dari sanalah persahabatan antara manusia dan harimau itu dimulai. Cerita bergulir,  dari bagimana mulanya si Harimau memaksa seorang manusia untuk menyusu kepadanya. Tentara sekarat itu harus menyelamatkan si Harimau, karena anaknya yang sakit tidak dapat lagi menyusu. Sampai akhirnya si Tentara menjadi tukang masaknya harimau. Sebaliknya, si Harimau pun menyelamatkan tentara itu dengan menjilati luka-lukanya di mana gangrene bersemayam.

Wawan Sofwan dengan 'Story of the Tiger'

Ruang, dibangun dengan minimalis; hanya panggung kecil berukuran 3x3m ditutupi kain hitam, tinggi 40cm, serta tata cahaya yang juga sangat minim. Jarak dengan penonton begitu dekat dengan posisi membentuk huruf U mengelilingi panggung kecil tersebut. Di ruang inilah mas Wawan menceritakan perjalanannya sebagai seorang tentara Manchuria yang kemudian bersahabat dengan seekor harimau.

Baik cerita maupun ruang yang dibangun dalam pertunjukan monolog tersebut bukan realis. Maka, permainan keaktoran Mas Wawan yang dikenal dengan keterampilan teknis tingkat tinggi itu sangat kental dengan commedia d’el arte dari itali yang menjadi pilihan dalam gayanya. Dan teknik bercerita aktor dengan karakterisasi komikal yang dipilih juga membuat permainan tidak membosankan. Interaksi dengan penonton yang cair dalam guyonan-guyonan yang dibangun oleh aktor, membuat suasana menjadi segar. Percakapan dan perdebatan dalam cerita disampaikan dengan jelas, meski dibeberapa tempat vokal aktor terlalu keras untuk ukuran ruang yang telah dibangun. Namun, permainan teknis aktor tetap memikat. Terbukti dengan penonton yang duduk di ruangan berkapasitas seratus orang tersebut betah menonton pertunjukan dengan durasi sekitar satu setengah jam itu.

Kedatangan Wawan Sofwan ke Jogja, selain melakukan pertunjukan, Mas Wawan juga diundang untuk memberikan workshop monolog di Actor’s Studio yang diselenggarakan oleh Teater Garasi, salah satu program studi keaktoran. Di akhir pertunjukan, di sesela percakapanku dengan Mas Wawan, ia menyebutkan, bahwa ada dua hal yang paling mendasar yang penting buat seorang aktor; etos dan disiplin. Baik dalam hal keaktoran maupun dalam kerja-kerja teater yang menjadi pilihan kesenian bagi seorang aktor atau seniman dalam berkarya. Dalam workshop katanya, ia hanya menunjukkan jalan, soal penyikapan atas proses keaktoran yang ditempuh oleh aktor, dikembalikan lagi pada individu masing-masing aktornya. Ia sangat mendukung program Actor’s Studio, dan menarik menurutnya ketika melihat antusias aktor-aktor muda itu dalam belajar keaktoran. Karena menurut Mas Wawan, masih sedikit sekali ada studi-studi yang memfasilitasi aktor pemula atau generasi muda untuk belajar teater. Dan ini hendaknya menjadi kesempatan yang baik untuk para aktor yang tertarik belajar teater.

Epilog

Terakhir dalam catatanku, entah disengaja atau tidak, dari kedua aktor senior atau pemonolog itu punya kesamaan ingin membuka jalan bagi para aktor pemula atau generasi muda dalam mempelajari teater, khususnya keaktoran. Memberi referensi yang kaya karena keduanya berbeda gaya. Sharing pengetahuan dan pengalaman dalam proses berteaternya, dan mendukung para aktor-aktor muda untuk terus bergiat dalam teater yang digelutinya. Seperti kata mereka, aktor senior kita; untuk aktor muda Jogja: “Selamat berjuang!”

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 02, November 2006-Maret 2007)

***


Selintas tentang komentar penonton:

“Monolog Ziarah, secara keseluruhan sangat menarik, aktornya sangat rileks. Pesan dapat sampai dengan jelas, dan didukung dengan artikulasi yang baik. Tapi menurutku, karena terlalu santai jadi tidak jelas mana yang menjadi tekanannya dari cerita tersebut, atau apa yang penting dari monolog Ziarah itu. Setengah pertunjukan terakhir, terasa jadi monoton. Dan The Story of  The Tiger, pertunjukannya bagus dan interaktif. Sebagai penonton, aku merasa ikut dilibatkan. Teknik akting dan cara pengucapannya sangat variatif, jadi tidak monoton. Aku sampai nggak sadar kalo pertunjukannya sudah 90 menit main. Aku sangat terkesan dengan teknik aktingnya, luar biasa!” ( Iskandar GB, 26 thn, pelaku teater di Komunitas Berkat Yakin, Lampung)

“Mas Budi, pemonolog Ziarah, untuk aktor seumuran dia yang katanya sudah 23 tahun vakum di teater, trus sekarang main lagi, tak ada kata-kata lain yang patut diucapkan selain kata “Hm…hebat”. Nah, untuk The Story of The Tiger, pertunjukannya asik. Saking asiknya Mas Wawan terlihat jadi keasikan dan terlalu asik dengan permainannya. Jadi…, pertunjukan itu rasanya seperti makan snack dalam porsi besar dan harus dimakan sekaligus!” (Alex, 22 thn, GMT & Alex Maharret)

“Kang Wawan, monolog yang asik, walaupun dengan panggung yang minimalis tapi pertunjukannya itu dapat memukau penonton. Teknik-teknik yang digunakan menarik. Kadang ada gerakan-gerakan yang nggak masuk akal, tapi bisa memukau dan memberi warna tersendiri. Sehingga, menjadi pertunjukan yang enak dilihat.” (Kimunk, 22 thn, Teater Senthir)

“Monolog Soeprapto Budisantoso (Ziarah), dan Wawan Sofwan (The Story of The Tiger), menurutku, sebagai pemonolog yang sudah berumur, Mas Budi dan Mas Wawan mempunyai stamina yang bagus. Dalam membawakan Ziarah dengan durasi satu jam, Mas Budi memainkannya dengan begitu rileks. Sedangkan Mas Wawan, dalam The Story of The Tiger dengan durasi satu setengah jam, main dengan gerakan meledak-ledak dan sama sekali nggak kelihatan kelelahan” (Antok, 25 thn, Komunitas Kampoeng Kricak)

“Sikap rileks Mas Budi menurutku cukup menunjukkan kalau dia aktor yang bagus. Karena selama 23 tahun dia sudah tidak pernah bermain, setelah lulus dari UGM. Tapi, dalam konteks pertunjukan, ketika menonton aku ngerasa agak bosan. Karena terjadi banyak perulangan dalam aktingnya, jadi mengaburkan pesan dari naskah. Monolog Mas Wawan, keseluruhan pertunjukannya keren, meskipun awalnya aku bingung sama apa yang ingin disampaikan dari cerita, tapi pas diakhir pertunjukan aku baru tahu. Tapi aku suka.” (Qomar, 21 thn, Teater Tangga UMY)

“Mas Wawan mampu membentuk ruang logika yang utuh dalam pertunjukannya. Hingga akting yang dia lakukan tidak menjadi terkesan over. Model pengucapan dialognya pun malah menjadi menarik, dengan model pengucapan yang hiperbola. Cuma, mungkin perlu dipertimbangkan volume vokal yang terlalu keras menurutku, untuk ruang yang dibangun Mas Wawan ketika main di LIP” (Sutris, 23 thn, Teater Senthir)

“Monolog Soeprapto Budisantoso, ehmm…tadinya aku sih nggak tau siapa dia, yang penting nonton! Setelah nonton pertunjukannya, wahh..aku kagum. Staminanya gilaa…, di usia yang segitu. Aku nggak tau sih, ketika musik mengiringinya aku sempat merinding. Mungkin karena ketepatan dia dalam menghayati teks. Ekspresinya datar, tapi mengena. Dan aktingnya biasa aja. Asik sih. Kalau Mas Wawan Sofwan, menurutku dia aktor yang hebat dan banyak pengalaman. Aku sangat kaget lihat dia yang dalam durasi satu setengah jam mampu bertahan tetap menarik dan nggak mbosenin. Segala geraknya tertata. Bahkan, sangat merebut perhatian penonton. Apalagi interaksinya jadi. Penonton ketawa lepas, dan seger aja sih. Untuk permainannya, ekspresinya sangat menonjol.” (Dwi, 24 thn, cewek Klaten, lagi magang di Teater Garasi)

“Pada pementasan Mas Budi, saya merasakan betul ‘kehadiran utuh’ dari karakter yang beliau mainkan. Saya melihat power dan stamina yang kuat, mengingat usianya yang sudah cukup tua itu. Saya nyaman dengan pengucapannya, kata-kata jelas dan sampai. Aktingnya rileks, dan terasa sangat menikmati permainannya. Cukup mampu menghidupkan ruang yang minimalis. Meski beberapa ada gerak-gerak tangan yang agak mengganggu saya, dan kadang agak terkesan Mas Budi main untuk dirinya sendiri. Tapi, secara keseluruhan, pertunjukannya sukses. Apalagi melihat usia, dan latar belakang Mas Budi yang telah vakum selama 23 tahun di teater. Sedangkan pada pementasan Kang Wawan, hal-hal yang paling menonjol yang saya rasakan adalah kekuatan stamina, kekayaan teknik, konsistensi peran (walau ada beberapa yang agak ‘ngganjel’ sih), dan kekuatan imajinasinya. Dan yang paling membuat saya merinding adalah atribut-atribut keaktoran yang digunakan sangat minim, tanpa musik, tapi penonton, khususnya saya, tidak terpikir untuk memalingkan wajah atau keluar ruangan. Eksperimen dan improvisasinya terlihat dalam kata-kata, dan cara pengucapannya. Pertama agak ganjil juga sih, tapi Kang Wawan bisa mengatasinya. Cuma, saya agak terganggu dengan volume suara yang kekerasan kalau melihat ruangan LIP yang tidak terlalu besar. Terakhir, saya suka dengan teknik masuk Kang Wawan di awal pertunjukan. Salut!” (Guntur Yudho, 22 thn, Teater Toedjoeh)


[i] Taman Bacaan dan Rumah Kreasi Seni

Advertisements