Oleh: Y. Thendra BP*

Seorang kawan karib sekaligus lawan diskusi yang kerap bikin urat leher saya tegang, di suatu malam di bawah lampu 20 watt, bercuap-cuap tentang teater kampus: “Sudahlah, kamu minggat saja dari teater kampus. Masak dari tahun ke tahun menghadapi masalah yang itu-itu juga. Proses yang harus menyesuaikan dengan jadwal akademik. Penerimaan anggota baru. Pendanaan yang bergantung banget dari kampus. Mana pertunjukannya sering terbengkalai lagi. Gagap. Lha, kamu kan sudah bertahun-tahun berteater. Kapan lagi mencari gagasan agak wah tentang teater!”

Saya tidak menyahuti komentarnya yang serasa “cuka” itu. Saya lebih memilih diam sambil memperhatikan kerutan-kerutan di dahinya dan tangannya yang bergerak kemana-mana hampir tanpa bentuk dan irama -gerak tangan alami yang tercipta tanpa kepura-puraan yang indah- tanpa disadari oleh pemiliknya, gerak tangan yang tak membuat bekas di udara yang ditinggalkan. Kadang, saya lebih tertarik pada gerak tubuh orang yang sedang berbicara. Gerak tubuh itu menyimpan ruang gelap dalam bahasa.

Ngapain kamu masih betah berteater dengan kawan-kawan yang manja itu”.

“Tidak semuanya manja, kok!” akhirnya saya menyela juga karena tak tahan.

“Oke, tak semuanya manja. Tapi sejauh mana mereka bersungguh-sungguh berteater? Paling sampai skripsi.”

Saya menukikkan mata pada karpet yang menjadi alas duduk kami. Tak semuanya, batin saya, seakan ingin menampik ragu yang lebih banyak datang dari diri saya sendiri. “Teater kampus? Ya gitu, deh!”  Kemudian ia tertawa. Selepas itu, kami lebih banyak bergunjing tentang orang orang -kadang komunitas- teater yang cukup dikenal. Tentang peristiwa teater yang mereka lahirkan, hingga percakapan kami akhirnya jadi  membosankan. Ia minta permisi. Pulang tanpa membungkukkan badan. Sepeninggal dia, saya tercenung. Benarkah teater kampus itu hanya sekumpulan mahasiswa yang suka-suka? Yang menjadikan teater semacam aspirin bagi rutinitas “kuliah”, atau memilih teater sebagai alternatif pencegah bunuh diri dari kesepian.

Saya membuka memori intim saya bersama Teater Tangga, yang notabene adalah teater kampus dan tempat saya belajar berteater. Sekian pementasan telah saya hasilkan bersama kawan-kawan, terlepas dari baik dan buruk. Kadang saya dan beberapa kawan terlibat dalam proses teater di luar Teater Tangga. Ikut Workshop. Diskusi tentang teater, bersama menonton pertunjukan. Membagi uang kiriman bulanan yang tak seberapa antara kebutuhan harian dan untuk mencari referensi teater. Mengatur jadwal antara kuliah, kerja (jika sedang), mencuci pakaian, dan berlatih teater. Dan tanpa bermaksud ingin menghitung jerih, beberapa peristiwa teater juga kami bantu dengan meminjamkan peralatan pentas yang kami punya. Dulu, ketika teater Tangga punya ruang pertunjukan sederhana di jalan Hos Cokroaminoto No. 17 (mantan kampus I UMY), beberapa pementasan dan diskusi teater pernah terjadi di sana, baik dari Jogja maupun luar Jogja.

Saya juga percaya, ada teater kampus lainnya melakukan hal yang lebih baik dari teater Tangga. Intens melakukan proses kreatif teater. Misalnya, Teater Gadjah Mada dengan Ketoprak Lesung-nya, atau Teater Sahid UIN Sarif Hidayatullah di Jakarta. Juga teater kampus lainnya. Lantas, kenapa teater kampus hanya seperti mentimun bungkuk, masuk karung tapi tak masuk hitungan? Bukankah peristiwa menonton saja, misalnya, sudah menjadi bagian dari peristiwa teater. Di Jogja sekarang, kalau kita jujur, yang menjadi penonton terbesar pertunjukan teater dan jangan-jangan sebagian besar pelaku teater itu sendiri sebagian besar adalah para mahasiswa, baik yang atas nama kampus ataupun tidak.

Hmm, kawan saya itu terlalu berlebihan melihat teater kampus sebagai teater “sekadar”. Barangkali, ia terlalu terpesona dengan “estetika” dan pertunjukan yang besar, agak acuh dengan peristiwa kecil teater. Barangkali, ia lupa bahwa ada peristiwa (teater) sederhana yang terus berlangsung di sekitarnya tanpa menagih apa-apa. Dan sudah saatnya peristiwa (teater) sederhana itu mendapat tempat, tercatat dalam diary teater Indonesia (?), paling tidak di Jogja kota “budaya” ini. Atau bisa jadi, ia memberikan sindiran halus bagi pelaku teater kampus macam saya, untuk memikirkan ruang teater lain pasca aktif di teater kampus. Dan jika ini benar, tentu saya mengucapkan tengkyu untuknya. Tengkyu bertubi-tubi, fren.

Malam itu, di bawah lampu 20 watt saya melihat bayang-bayang tubuh saya yang tergeletak di karpet. Bayang-bayang tubuh saya seperti awan gelap yang menyimpan hujan.

*Y. Thendra BP, berasal dari Sumatera Barat, lahir 10 Mei. Sutradara dan aktor pada beberapa pertunjukan Teater Tangga dan beberapa kelompok lain. Selain itu ia juga menulis cerpen, puisi, dan esai, dan naskah pertunjukan.

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

Advertisements