Oleh: Andy Sri Wahyudi

Perempuan itu terlihat lugu dan innocent: berkuncir dua, berdaster kembang-kembang, telanjang kaki, dan wajahnya, ai..aih…saya sendiri pasti akan selalu sayang dan cinta jika ia menjadi istriku. Manis dan polos nada bicaranya. Akan tetapi siapa sangka perempuan itu adalah pelaku pembunuhan dua anaknya dengan membenamkan mereka dalam bak mandi? Duh…ada apa di balik itu semua?

Beberapa adegan Demam dalam 50 cm3. Foto: Agung Kurniawan

Erythrina Baskoro memerankan tokoh perempuan yang namanya disamarkan sebagai Pipit, sekaligus menjadi penulis naskah monolog yang berjudul Demam dalam 50 cm3 itu. Monolog itu dipentaskan pada tanggal 21–22 Januari di Studio Teater Garasi, dua kali dalam semalam. Dalam pementasan dengan kapasitas penonton  40 orang tersebut, Ery bermain dalam ruang yang simpel dan bersih yang didesain oleh Andy Seno Aji. Ruangan itu berbentuk kotak tiga dinding berwarna putih berukuran 3 X 4 meter, dengan properti sebuah kursi. Ada sebingkai cermin kecil menempel di dinding belakang. Ery tampak seperti boneka yang berada dalam etalase mainan anak-anak.

Selama 30 menit pertunjukan berlangsung, Ery mencoba bermain dengan rileks di setiap pergantian perannya -sebagai Pipit, Psikolog, suami Pipit dan dirinya sendiri sebagai pencerita.. Keluar masuk karakter tokoh dalam dirinya mengalir begitu saja, dalam artian tidak terjadi perubahan secara drastis namun cukup menggambarkan karakter yang berbeda. Ery hanya memainkan gestur dan intonasi yang berbeda. Karakter tokoh-tokoh itu timbul tenggelam dalam diri Ery malam itu, dan menggulirkan alur cerita yang meminta untuk didengarkan.

Pentas monolog yang disutradarai Yudi Ahmad Tajudin tersebut tidak banyak mengeksplorasi ruang, namun memberikan kesan ganjil. Model penyutradaraan itu menurut saya memiliki daya ganggu terhadap nalar umum permainan panggung yang biasanya seperti mengharuskan aktor untuk memanfaatkan seluruh ruang untuk bermain. Sementara, Ery hanya bermain di sisi kiri panggung, bahkan properti kursi hanya sekali mendapat sentuhan dan hanya melakukan gerakan-kerakan kecil: jari telunjuk yang menyentuh dinding seperti tengah menggambar sesuatu.  Hingga akhir adegan ia menghabiskan aktingnya di sisi kiri panggung. Meski demikian dinamika permainan tetap tergarap seirama dengan akting dan karakter setiap tokoh. Bagi saya, tidak begitu istimewa tapi menggemaskan!

Narasi dari Pencerita

Mulanya Ery membaca naskah klasik Medea karya Euripedes, pengarang zaman Yunani kuno yang hidup di kisaran abad 5 SM. Naskah Medea bercerita perihal sosok perempuan yang membunuh anaknya lantaran disingkirkan oleh suami dan lingkungannya. Ery merasa ada kesejajaran antara naskah tersebut dengan kasus yang sama (pembunuhan anak oleh ibunya sendiri) di beberapa kota di Indonesia. Kemudian Ery mulai menelusuri beritanya di koran-koran dan internet, dan muncul pertanyaan: alasan apa yang menyebabkan seorang ibu sebagai sosok pelindung, pemelihara, dan penuh kasih, tega membunuh darah dagingnya?

Berawal dari kegelisahan atas merebaknya kasus pembunuhan anak oleh ibunya tersebut, Ery kemudian melakukan observasi menemui psikolog dan pelaku pembunuhan anak secara langsung. Ery mengkhususkan berangkat dari kasus “Pipit” asal Pekalongan. Dalam penelusurannya ditemukan sebuah kenyataan bahwa pelaku mengalami gangguan jiwa akibat mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sebuah tekanan yang tak lagi dapat ditanggung sebagai seorang istri. Akan tetapi, tak sedikit orang-orang di sekitar Pipit menuduhnya sebagai pembunuh anak yang layak dihukum. Tak jauh berbeda dari kisah Medea di jaman Yunani Kuno: disingkirkan oleh suami dan lingkungannya. Sering Pipit menangis tiba-tba ketika mengingat anaknya yang mati di tangannya sendiri. Dari peristiwa itu Ery mulai menyusun peristiwa-peristiwa yang kemudian  ia hadirkan dan ceritakan sendiri dalam sebuah peristiwa pementasan di atas panggung.

Dalam teks itu Ery menemukan semacam ambiguitas antara seseorang yang disebut sebagai korban atau pelaku.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, anggota Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

*****

Kerabat Kerja

Penulis dan Aktor: Erythrina Baskoro / Penata Musik: Risky Summerbee / Penata Cahaya: Ign. Sugiarto / Penata Ruang: Andy Seno Aji dan YAT / Sutradara: Yudi Ahmad Tajudin / Kru Panggung: Adi Wisanggeni, Ega Kuspriyanto, Samsul Islam / Manajer Produksi: Reni Karnila Sari dan Theodorus Cristanto

Komentar penonton:

Pentasnya Ery memang keren… (Ikun SK, Penulis)

Konsep panggung dan pertunjukan simpel, fresh, kuat. Pementasannya sendiri lumayan intense, cukup menantang si aktor, karena penonton seperti diajak untuk mencermati setiap detail dan adegan. Suka beberapa pilihan karakter yang dimainkan, meski ada satu dua adegan yang terasa agak panjang atau mungkin masih bisa dieksplorasi. Dari isu dan ceritanya, ibarat keripik, gaungnya cukup crispy ya, kayaknya banyak yang demen J. Sorry, ini komentar sembarangan dan subjektif, apalagi yang saya nikmati adalah pentas presentasi awal, bukan pentas ‘finalnya’. Selamat ya, sukses! Kapan lagi? (Anihimawati, aktivis jaringan perempuan)

Advertisements

Oleh: Muhammad Abe*

Bagaimana merangkai pertunjukan teater hari ini, saat kehidupan telah berubah menjadi begitu cepat dan karena itu menjadi keras? Segalanya menjadi begitu cepat, dan bisa lebih cepat melalui bantuan berbagai piranti teknologi. Waktu luang, sela di mana para pekerja teater membangun karya-karya dalam hitungan bulan, dan mungkin juga tahun, tentu kini makin sulit ditemukan. Waktu luang bagi anggota masyarakat, penonton yang menjadi penikmat teater juga kini makin sempit. Tapi kesenian tak mungkin hilang begitu saja, kehidupan yang cepat dan keras ini ternyata masih membutuhkan keindahan, atau perenungan, atau apa saja yang membuatnya jadi lebih berarti.

Malam tanggal 22 Oktober 2009 di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis, Gunawan Maryanto mempresentasikan karyanya “Bocah Bajang” bersama para aktor dari Actor Studio 2009 (program belajar keaktoran yang diadakan oleh Teater Garasi, red.). Gunawan Maryanto mendapatkan ide pertunjukannya atas pemberitaan media perihal kasus Ponari di Jawa Timur. Siapa yang tidak mengakses media hari ini? Gunawan, aktor-aktornya, dan semua penonton kemungkinan besar telah mengakrabi berita-berita tentang Ponari, dan karena itu mungkin punya pendapat sendiri tentangnya. Atas cerapan dan penelusuran Gunawan bersama teman-teman aktor hingga menyambangi desa tempat tinggal Ponari di Jombang itulah, pertunjukan “Bocah Bajang” dikerjakan.

Penonton mulai datang, berkumpul di luar auditorium saling menyapa dan berbincang. Mereka tentu sudah mengatur waktunya sedemikian rupa hingga malam itu mereka mendapatkan waktu luang untuk menyempatkan diri menonton pertunjukan “Bocah Bajang”. Dengan begitu, mereka bertemu pula dengan teman-teman yang lain, atau mungkin bertemu dengan teman baru.

Lalu pertunjukan dimulai. Penonton duduk memperhatikan dengan seksama sambil membawa sebotol air mineral yang dibagikan untuk para pembeli tiket, seperti orang-orang yang datang meminta berkah atau obat ke “dukun cilik” di Jombang itu. Cerita seperti halnya cerita Ponari mungkin menarik bagi banyak orang. Ia sempat dibicarakan secara luas, baik yang membahas segi kebenaran mistisnya, atau bahaya air Ponari dari sisi kesehatan, bagaimana desa tempat tinggal Ponari menjadi maju karena sumbangan para pasien, juga bagaimana Ponari bisa dilihat sebagai korban eksploitasi anak oleh orangtuanya, dan mungkin masih ada banyak sisi lainnya. Lalu di mana kesenian—dalam hal ini teater—berada di antara sekian banyak fakta, pendapat, serta mungkin fiksi yang berlalu-lalang perihal Ponari dan “kesaktiannya”?

Mungkin teater, seperti juga bentuk kesenian lain, sama sekali tidak punya hak untuk menentukan satu kebenaran tertentu. Soal itu tentu milik para ilmuwan atau mungkin otoritas negara. Maka malam itu sebenarnya bukan hanya Ponari yang diceritakan di atas panggung, melainkan bagaimana proses penciptaan pertunjukan ini berlangsung. Mungkin karena itu pertunjukan ini diawali dengan perkenalan para aktor, termasuk pendapat-pendapat mereka tentang Ponari. “Saya tidak percaya sama Ponari,” ucap salah satu aktor.

Tidak ada drama yang berbelit. Malam itu “Bocah Bajang” seakan-akan menjadi pintu masuk untuk menceritakan biografi proses pertunjukan ini. Ada bu Lurah yang selalu meminta maaf dan tidak mau membuka aib Ponari, tapi sebenarnya dia selalu menceritakan keburukan-keburukan Ponari. Ada tetangga Ponari yang mengaku menemukan batu yang menurutnya sangat berkhasiat, bisa membuat orang sakit jadi sembuh. Ada Ponari yang gemar bermain game, dan bandel kalau disuruh ibunya mandi. Ada para pasien Ponari yang datang dari jauh dan rela menginap untuk menunggu mendapat berkah dari batu Ponari. Mungkin orang-orang di atas benar-benar ada, dan peristiwa-peristiwa di dalam pertunjukan malam itu adalah semacam reka ulang peristiwa-peristiwa yang mereka alami di Jombang, dan juga di Jogja selama proses ini berlangsung.

Semuanya berlangsung di dalam satu ruang, dilatarbelakangi potongan-potongan berita Ponari dalam ukuran besar yang disusun seakan-akan membentuk tembok yang menjadi batas ruang pertunjukan. Para aktor masuk dari dua sisi, bergantian menuturkan cerita mereka masing-masing, tidak selalu sinkron, tapi menunjukkan banyak cerita tentang Ponari dan batu ajaibnya. Teater menjadi ruang untuk berdiskusi atas berbagai ide dan kenyataan di sekitar kita. Penonton boleh memilih mana yang mereka percayai, atau tidak. Mana yang mereka anggap sebagai fakta atau fiksi, toh kini tak ada batas jelas yang bisa memilah keduanya dengan tepat.

Ada satu dialog yang diucapkan salah satu aktor, “…… melihat Ponari kini adalah melihat sisa-sisa Jawa dari masa lalu.” Jawa  selalu identik dengan berbagai selubung yang mendampingi atau menutupi kenyataan memang. Pada awalnya adalah para raja yang mencari pengakuan atas kekuasaannya, namun di kemudian hari rakyat juga punya fiksinya sendiri. Kuntowijoyo pernah menyebutnya sebagai “budaya tanding”, ketika rakyat membentuk fiksi dan dongeng tentang kekuatan untuk melawan hegemoni kultural yang dijalankan para penguasa. Kuntowijoyo melihatnya lebih dari satu abad lalu di Solo. Kini Gunawan Maryanto mencermati fenomena ini kembali di Jombang. Mungkin saat ini kondisinya tak jauh berbeda dengan kondisi yang dicermati Kuntowijoyo pada awal abad ke-20: kita butuh fiksi tentang kehidupan yang lebih baik, kisah-kisah kekuatan yang melebihi kemampuan manusia biasa yang mampu mengintervensi kenyataan.

Kembali ke pertanyaan di awal, mungkin teater bisa berada di depan, menyatakan sesuatu; menghadirkan kenyataan di sekitar kita kembali. Atau kalau kenyataan terlalu “gagah”, mungkin teater bisa berada di depan mengajak masyarakat berbicara, tentang hal-hal sederhana yang mungkin sudah banyak dilupakan orang. Hal sederhana seperti, apakah sesuatu yang dipercaya itu fakta atau sekadar rekaan.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)


*****

Tim Kerja Bocah Bajang

sutradara Gunawan Maryanto aktor Budi Harto, Darmanto Setiawan, M. Bahar Sukoco, M. Qomaruddin, Siti Fauziah, Tita Dian Wulansari research & text development Nailil Muna penata musik Yennu Ariendra ilustrasi Andi Seno Aji penata cahaya Sugeng Utomo manajer panggung Nur Kholis ‘Brekele’ manajer produksi Reni Karnila Sari

Komentar penonton:

Secara teknis ada beberapa kesalahan (telat) lampu dan suara. Dari cerita termasuk bisa mengangkat hal yang sudah lama tenggelam dan memberi sudut pandang baru tentang Ponari dengan menceritakan Ponari dari sisi mistis dan ilmiah. Dari artistik, bayanganku akan ada banyak olah tubuh ternyata ini lebih mendekati riil. (Airani, mahasiswa pasca sarjana Ilmu Budaya dan Religi, USD)

Masih Ada Sedikit Bahagia dalam Kisah Sedih TKW

Oleh : Desi Puspitasari*

Seorang perempuan dengan kerudung cokelat dan berlengan bengkok masuk ke dalam panggung. Ia duduk di kursi ditemani radio-tape dan foto dirinya di atas meja yang berada di sebelah kursi—dalam fotonya ia tersenyum. Ia adalah Sum.

Sum; Cerita Dari Rantau bercerita tentang banyak kisah. Kisah Verry sebagai penutur yang menyusun kisah-kisah para TKW; kisah Sum yang berlengan bengkok, kisah Par yang rasa nasionalismenya tinggi─ia tidak terima ketika dipanggil ‘Indon’ oleh temannya dari Malaysia─  dan kisah miris di gerbang IV bandara Sukarno-Hatta.

Sum menceritakan awal keberangkatannya menjadi TKW di Arab Saudi; perjuangan bapaknya dalam mendapatkan uang 15 juta untuk biaya keberangkatan Sum, komentar budhe Yatmi yang mengatakan dengan menjadi TKW itu banyak uangnya, komentar mbak Rubi yang berharap kemujuran bagi Sum supaya bisa menikah dengan orang Arab, kecemasan dan kelegaan ibu Sum setelah tahu warga Arab juga beragama Islam.

Setelah bercerita sedikit tentang Sum, Verry menyapa dan mengucapkan terima kasih kepada penonton. Kemudian cerita-cerita kembali dituturkan. Secara bergantian, Verry menjadi dirinya sendiri dan para TKW. Sum yang polos dan pemalu terlambat datang belajar bahasa Arab. Aning (TKW di Singapura) yang menceritakan keanehan majikannya—melarangnya memindah perabotan barang sesenti. Par (TKW di Malaysia) yang tahan banting dan bermulut cablak, yang senang menari hingga ia bisa bertemu pejabat penting di kedutaan.

Verry Handayani sebagai Sum

Lalu akhirnya Verry kembali menjadi Sum yang menceritakan perjuangannya mempertahankan harga diri, dengan menolak pemberian uang dan menolak melayani nafsu bejat majikannya. Ia memeluk Al-Quran dan berteriak histeris saat berusaha melindungi diri. Sehabis sholat ia sering tidur, ketiduran, atau pura-pura tidur di atas sajadah sambil terus memeluk Qur’annya untuk menghindari nafsu bejat si majikan. Hingga akhirnya perlakuan buruk majikannya mengakibatkan lengannya bengkok. Meski begitu, Sum tetap bersyukur karena ia sekarang telah kembali ke Indonesia, dan bisa memasak bersama ibunya di dapur.

Saya melihat GR (General Rehearsal) Sum di studio Teater Garasi, dan dua kali menyaksikan pertunjukannya di tempat yang berbeda.

Tanggal 26 November 2008, saya menyaksikan Sum di Balai Desa Berbah, Sleman, Yogyakarta. Di balai desa yang lumayan luas itu, saya duduk bersama mbak-mbak cantik. Di bagian belakang saya, duduk ibu-ibu atau simbah-simbah (yang saya tebak) warga sekitar. Saya merasakan ada jarak ketika Very sedang menjadi dirinya sendiri (narator). Jarak itu saya rasakan dalam pilihan dan susunan kata-katanya yang cenderung rumit dan agak ‘tinggi’. Beberapa penonton mengeluh, “ngantuk aku”, ketika pertunjukan baru berjalan sekitar 15 menit. Tapi mereka berubah antusias ketika Very mengubah dirinya menjadi Sum, Par, atau Aning. Juga ketika ada gerakan slapstick; porter, petugas di balik kaca jendela, wartel 1 menit 7000 ribu rupiah, dan angkot seharga 200 ribu rupiah (padahal katanya gratis). Mereka berkomentar ramai, “wah, wangune!”, dan memanggil Verry dengan sebutan Lik Sum ketika kerudung cokelat kembali dikenakan.

Tanggal 28 November 2008, saya melihat pertunjukan Sum di studio Teater Garasi. Saya mengikuti pertunjukan di menit ke-15 (sebelumnya saya bertugas di front desk). Saya melihat penonton begitu serius. Serius dalam arti muka mereka begitu tegang.

Verry sebagai Par dalam pentas SUM

Baru ketika Par berteriak-teriak marah karena kesal dipanggil ‘Indon’ dan kaki Verry nyangkut di ‘jeruji’ sel penjara, penonton mulai tertawa dan terasa sedikit ’cair’. Wajah penonton tidak lagi tegang. Bahkan ada yang bertepuk tangan dan berteriak “Merdeka!” ketika Par panjang lebar menjelaskan kepada teman Malaysianya bahwa bangsa Indonesia berjuang mati-matian dalam merebut kemerdekaan.

Saya merasakan berbagai macam kegetiran dalam pertunjukan itu. Kelegaan ibu Sum ketika tahu bahwa warga Arab beragama Islam tapi ternyata Sum harus mati-matian berjuang mempertahankan kesuciannya dari nafsu bejat majikannya. Sambutan ‘Selamat Datang Para Pahlawan Devisa’ di gerbang IV bandara Sukarno-Hatta terasa kontras bila disandingkan dengan kisah-kisah pemalakan di wartel, taksi, dan oleh petugas di sana terhadap para TKW.

“Mereka (para TKW) itu dirampok di negerinya sendiri!”

Kisah Supi, wajahnya yang ‘kurang Indonesia’ dan penampilannya yang seperti turis membuatnya selamat dari perampokan, terasa lucu dan juga getir. Betapa bangsa kita telah mengagung-agungkan dan lebih menghargai wajah-wajah bule yang ‘kurang Indonesia’. Kegetiran lain bisa ditemukan dalam sikap syukur Sum yang sederhana, dengan mengucapkan alhamdulillah, karena ia bisa pulang ke Indonesia meski dengan lengan bengkok.

Pertunjukan malam itu ditutup dengan wajah sendu Sum yang kembali duduk di kursi sambil memijit pelan lengannya yang bengkok. Lantunan lagu Teluk Bayur terdengar seiring lampu yang perlahan padam.


* Desi Puspitasari, penulis, aktif di Forum Lingkar Pena, peserta Actor Studio 2007 dan 2009

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

SUM; Cerita dari Rantau. Foto: Iwan Prananto/dok. Teater Garasi

Tim Kerja Sum; Cerita dari Rantau

B. Verry Handayani Ide Cerita & Aktor – Andri Nur Latif Penulis Naskah – Joned Suryatmoko Acting coach – Puthut Buchori Penata Artistik – Moelyono Penata Cahaya – Leilani Penata Musik – Wisnu Yudha Wardana Stage Manager – Ratri Kartika Sari Pimpinan Produksi

Komentar penonton:

Verry bercerita tentang banyak hal yang bisa aku baca di majalah Tempo. She’s not telling me something I don’t know. (Ricky, 29 tahun, Tangerang)

Aku suka pas bagian indon indon. Yang jelas menurutku apa yang hendak dia (Verry) sampaikan sampai batas tertentu berhasil. Wis ngono wae. (Gideon, 23 tahun)

Secara tematik, hal yang disampaikan bisa kubaca di majalah atau Koran. Tapi mbak Verry bisa membawakan dengan cara menarik. Maksudku, secara pertunjukan menarik, yang tentu saja berbeda dengan ketika baca Koran. Dinamika permainan karakternya menarik. (Tita, 24 tahun, Bogor)

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Kusa (Alex Suhendra), seniman muda yang sedang merintis karier dicerca oleh Irina (Jami Atut P.), ibunya sendiri. Irina tidak suka dengan pertunjukan yang dibuat Kusa, ia mencercanya dan bersama Trigor (M. Qomaruddin) meninggalkan Kusa pergi. Kusa seniman muda yang karyanya aneh, tidak banyak disukai, tetap berusaha untuk meyakinkan ibunya, berusaha mendapatkan perhatiannya. Sementara Nina (Hindra Setyo Rini), kekasih Kusa yang bermain dalam pertunjukan yang dibuat Kusa pergi meninggalkan panggung sebelum pertunjukannya selesai. Ia menangis dan bersembunyi di bawah panggung.

Camar bercerita tentang impian dan perasaan di dalam diri seniman-seniman muda yang sedang berusaha mendapatkan pengakuan. Kusa harus kehilangan Nina, begitu juga ibunya yang tidak menyukai bentuk kesenian Kusa. Mereka berdua lebih memilih Trigor, penulis muda yang bukunya banyak dibaca dimana-mana. Untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya Kusa memberi Nina seekor camar yang sudah ia tembak mati. Walaupu Nina tetap mengacuhkannya, dan ia harus menyimpan camar itu sendiri.

Kusa bahkan berusaha menembak dirinya sendiri. Ia tak mati, tapi Masya (Wiwara Awisarita) jatuh cinta padanya, dan ternyata ia gemar menonton pertunjukan Kusa. Tentu saja Masya menonton bersama dengan Simon (Wisnu Yudha), kekasihnya.

Impian dan perasaan tokoh-tokoh di dalam Camar menjadi bagian unik dari pertunjukan. Ditampilkan dalam bentuk tubuh para aktor yang bisa tiba-tiba berubah ketika berdialog dengan pasangan mainnya. Misalnya, ketika Trigor bersama Nirina sedang berduaan, Trigor tiba-tiba mengucapkan dialognya seperti ular yang sedang mengelesot di tubuh Nirina, lalu kembali lagi duduk dan berbicara dengan Nirina seperti sedia kala.

Ketika Kusa sedang berbicara dengan Masya, Simon tiba-tiba berdiri di dekat mereka, berdiri dan menggigil ketakutan. Sementara Kusa tetap berbicara dengan Masya seperti tak ada Simon di dekat mereka. perasaan-perasaan itu jgua dimunculkan lewat aktor yang mengucapkan dialog-dialog seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri atau berbicara kepada penonton. Perasaan takut, gembira, bimbang, gelisah dimunculkan bergantian melalui bahasa tubuh para aktor. Perasaan-perasaan itu bisa muncul di tengah-tengah dialog yang mereka ucapkan, atau ketika aktor yang lain berbicara.

Pada akhirnya impian dan perasaan tokoh-tokoh di dalam Camar harus menghadapi kenyataan yang ternyata tidak seindah yang mereka bayangkan. Nina ditinggalkan Trigor dan mengubur impiannya menjadi bintang, Kusa masih tetap merindukan perhatian ibunya, dan karya-karyanya tetap tak diperhitungkan. Sementara Trigor harus meninggalkan Nina untuk bersama Irina. Ketika ambisi-ambisi luruh dan harapan perlahan menghilang Nina kembali pada Kusa. Dan ternyata Kusa masih tetap saja menulis puisi-puisi dan menyanyikan lagu untuk Nina.

Camar adalah naskah adpatasi Gunawan Maryanto dari Seagull karya Anton Chekov. Ditampilkan di Studio Banjarmili pada tanggal 29-30 Juni, pertunjukan yang tidak menarik biaya untuk penonton ini cukup diminati, ini nampak dari antusiasme penonton dalam dua malam pertunjukan itu. Pertunjukan ini adalah bagian dari program residensi Corrina Manara, sutradara Theatre Embassy Belanda di Teater Garasi. Pertunjukan ini adalah bagian dari program residensi Corrina Manara, sutradara Theatre Embassy Belanda di Teater Garasi. Para aktor dalam pertunjukan ini merupakan aktor-aktor muda dari beberapa komunitas yang ada di Jogja.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)


*****

Tim Kerja

Sutradara Corrina Manara/ Asisten sutradara Naomi Srikandi/ Aktor Alex Suhendra, Hindra Setya Rini, Jami Atut P., Muhammad Nur Qomaruddin, Wisnu Yudha Wardana, Wiwara Awisarita/ Penata musik Risky Summerbee/ Penata cahaya Ignatius Sugiarto/ Penata artistik Novi Kristinawati/ Stage manager Wisnu Yudha Wardana/ Pimpinan produksi Reni Karnila Sari

Komentar Penonton

“Pertunjukannya keren…, warna-warninya bagus aku suka itu. Ceritanya itu tadi gimana ya aku kok kurang nangkep” (Rahmat Riyadi, 21 tahun, Mahasiswa UGM)

“Musiknya bagus, banyak peristiwa yang menarik… aku suka sama gerakantubuh mereka sambil mengatakan sesuatu. Kayake pas gitu. Aku jgua suka pas ada yang nyanyi, terus yang di belakang menari. Kayknya jaman sekarang banget” (Putri, 20 tahun, Mahasiswa UMY)

“Mereka tampilnjya total gitu… sering melakukan gerakan bersama yang kompak. Awalnya tak kira pertunjukannya ga seperti ini, tapi ternyata ini jauh banget dari yang tak bayangin. Terus adegan terakhinya pas ada akor yang main gitar di pojok panggung… wah itu ya keren banget” (Yuyun, 23 Tahun, Unstrat UNY)

“Pencahayaannya eksperimen yang mengesankan. Tapi saya gak bisa memahami alurnya dengan utuh. Seperti kepingan-kepingan yang banyak dan harus disatukan sendiri.” (Doni, 24 tahun, penikmat teater)

Oleh: Jami Atut T.*

Tertawa  adalah reaksi pertamaku sewaktu Hindra, salah seorang awak skAnA memintaku untuk menulis proses penggarapan naskah The Seagull/Camar karya Anton Chekov. Diadaptasi oleh Gunawan Maryanto, dan disutradarai oleh Corrina Manara dari Teater Embassy Belanda, yang kebetulan sedang residency di Teater Garasi. Sembari mengumpulkan ingatan yang sudah tercecer tentang proses ini, baiklah kucoba membagi ceritanya (agak grogi juga karena ini pertama kalinya aku menuliskan pengalamanku) kepada teman-teman pembaca semua.

Semula aku tidak pernah menyangka akan ditelepon oleh seorang rekan dari Teater Garasi, yang kemudian mengajakku bergabung dalam proses penggarapan naskah Camar. yang akan disutradarai oleh Corrina Manara. Perempuan berusia 32 tahun ini ingin membuat sebuah karya kolaborasi dengan seniman lokal di Jogja. Sebuah ajakan atau tepatnya kesempatan yang tentu saja tidak akan ku biarkan lewat begitu saja.

Awal pertemuan kami bertiga (aku, Corrina Manara, dan Naomi Srikandi sebagai penerjemah sekaligus asisten sutradara dalam proses ini) dimulai dengan membicarakan tentang ide yang akan diusung dalam pementasan nantinya. Aku menangkap bahwa sebuah ide yang sangat menarik untuk direalisasikan di atas panggung. Menarik karena ada sesuatu yang baru dan berbeda secara visual. Penggarapan Camar lebih memprioritaskan bentuk. Sebelumnya saya tidak mempunyai referensi pemanggungan yang pas untuk gagasan ini.  Bingung pada awalnya, karena gagasan si Sutradara inginnya menggarap naskah Camar secara non realis. Yang artinya, di sini para aktor diajak menanggalkan pikiran-pikirannya tentang kecenderungan (penggarapan panggung dan akting) yang ‘kudu’ realis karena sedang menggarap naskah-naskah Anton Chekov yang dikenal sangat realis itu. Di tengah kebingunganku, akhirnya aku berpikir, mungkin akan jauh lebih mudah kalau aku langsung masuk dalam proses latihan untuk segera merealisasikan ide-ide atau gagasan sutradara.

Setelah perbincangan kami di awal, aku mulai mengetahui Corrina tidak menyukai realisme sedangkan aku termasuk aktor yang selalu berkutat dengan gaya akting realis. Ada sedikit pertentangan ketika aku mulai membaca naskah dan mengingat gagasan yang kami bicarakan waktu itu. Tapi kuabaikan saja. Bagiku setiap kalimat yang Chekov ciptakan penuh dengan unsur-unsur komedi “nakal” yang segar. Saat aku mulai reading, aku membebaskan diri dari gagasan pementasannya. Aku menikmati betul setiap kalimat dan berusaha meliarkan imaji sebelum masuk ke dalam proses latihan bersama aktor-aktor yang lain. Melafalkan kalimat-kalimat yang menggelitik membuatku tersenyum sendiri.

Saat memasuki latihan bersama aktor yang lain, aku masih ingat betul sms yang aku terima dari Mbak Omi (Naomi Srikandi) yang isinya: Jangan lupa bawa baju latihan yang nyaman karena besok kita ada sedikit pemanasan. Aku bertanya pada diriku sendiri, “Hm… Kali ini aku berproses bersama temen-temen Garasi yang terbiasa dengan tubuh sebagai media utama dalam berteater. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan padaku, terutama pada tubuhku? Haha, mungkin tubuhku akan shock karena sebelumnya hampir satu tahun aku berproses bersama teater Gandrik yang  selalu happy.” Gojek kere dan gaya slenge’an para pemainnya adalah salah satu cara  bereksplorasi di Teater Gandrik dalam mencari, dan mendapatkan bentuk yang diinginkan bersama untuk pementasan. Terlepas dari itu semua (pikiran-pikiran dan kebiasaan berprosesku), sebagai aktor saya harus siap menerima materi apapun yang akan sutradara berikan dalam latihan, termasuk merelakan tubuh suburku sebagai media penyampai gagasan. Oh, ya, dalam proses Camar aku berperan sebagai Irina.

Kesan berikutnya, di sini saya beruntung bertemu dengan aktor-aktor yang hangat dan terbuka, padahal awalnya saya merasa canggung karena saya termasuk aktor yang terlambat masuk dalam lingkaran proses latihan. Dalam proses Camar para aktor dikenalkan dengan beberapa metode yang masih terasa asing, terutama karena aku tidak mengikuti workshop yang diberikan sutradara di Banjar Mili sebelumnya. Hidden tought dan side scene merupakan salah satu metode yang dilatihkan pada aktor.

Hidden tought adalah pikiran-pikiran tersembunyi, yang dibayangkan aktor mengenai para tokoh yang diperankannya—dengan catatan: tidak terdapat pada teks / naskah—yang harus dikeluarkan di tengah-tengah dialog dengan takaran yang pas dan sesuai dengan persoalan yang ada (sinkronisasi cerita). Seperti dalam dialog Irina kepada tokoh Nina seorang aktris pendatang baru “Selamat Nina, aktingmu sangat luar biasa sekali, tapi… kenapa wajahmu yang cantik dan suaramu yang indah itu kau sembunyikan di kampung ini.“ Sedangkan hidden tought Irina ingin menyampaikan bahwa akting Nina buruk sekali. Contoh: “Coba kalian lihat! Akting Nina begitu buruk, apalagi suaranya, ouw…sama sekali tidak merdu dan wajahnya tidak cantik.”  Dalam hal ini Irina sebenarnya menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya terhadap Nina, tetapi harus dia sampaikan di tengah-tengah dialog kepada penonton. Seperti kata Brechtian “tiba-tiba menjadi dan kembali menjadi” yang artinya para aktor  dituntut untuk keluar masuk dari peran dan tokoh masing-masing menjadi dirinya yang asli, tapi secepat mungkin kembali lagi ke dalam  karakternya.

Sedangkan Side Scene adalah adegan samping di luar realitas dari adegan utama. Awalnya memang terasa asing dan membingungkan. Sebagai aktor saya sempat merasa khawatir kalau-kalau kurang tepat dalam menerapkan kedua metode ini. Setelah melewati hidden tought dan side scene yang pertama. Aku baru menyadari bahwa kedua metode tersebut merupakan salah satu cara untuk mempermudah para aktor agar memahami karakter tokoh dan alur cerita.  Juga untuk mengekplorasi naskah dan pikiran terdalam kita, yang tidak sempat terpikirkan sebelumnya. Lantas apa bedanya dengan  berimprovisasi atau bermain-main dengan teks? Sebenarnya sama, tetapi hidden tought di sini sifatnya kurang lebih untuk menjembatani  realitas dan non realitas dari adegan ke adegan.  Begitu juga dengan side scene (tapi side scene di sini media penyampaiannya lebih ke tubuh), misalnya karakter tokoh Irina, seorang aktris  terkenal pada masanya yang sudah berumur, sombong, merasa seksi, cantik, dan mempunyai emosi yang meledak-ledak. Di beberapa side scene Irina diimajinasikan seperti gunung, burung elang atau sungai yang beraliran deras dan penuh cadas. Kemudian divisualkan dengan bentuk tubuh yang cenderung horizontal, dan gerakan tubuh yang dibesarkan (semula dari gerakan realis lalu menjadi tidak realis / tidak wajar). Sungguh tidak mudah ketika menerima dan masuk dalam kultur yang berbeda dan asing seperti metode hidden tought atau side scene yang diberikan.

Sebagai astrada, Naomi Srikandi melihat kebingungan dan kegelisahan yang sangat pada para aktor. Apa yang membuat para aktor belum bisa memaknai dan menemukan gagasan yang sutradara inginkan waktu itu. Kemudian Mas Cindil memberikan workshop kecil yang berefek besar terhadap pemahamanku tentang apa yang sebenarnya diinginkan sutradara. Lalu semua aktor berusaha mencari bentuk dengan cara mengeksplorasi imajinasi, tubuh, pikiran dan rasa untuk sampai pada tujuan visual dan ruang yang ingin diwujudkan dalam pertunjukan Camar.

Dalam proses ini setiap aktor mempunyai cara atau metode tersendiri dalam pencariannya di luar dari metode yang diberikan sutradara. Pembebasan sutradara kepada aktor inilah yang dinilai penting oleh setiap aktor untuk memunculkan ide-ide baru, yang kemudian diseleksi oleh sutradara untuk pencapaian bentuk visual maupun non visual. Pembebasan sutradara inilah yang segera kami eksplorasi secara maksimal sampai kami para aktor merasa lelah. Namun, justru saat kelelahan yang mendera itu, kami mendapatkan apa yang tidak kami sadari malah menjadi bentuk yang diinginkan sutradara secara artistik. Tetapi acapkali kami masih merasa belum puas, karena kami merasa sutradara lambat dalam mengeksekusi (kurang cepat  mengambil langkah ketika mendapati persoalan dalam prosesnya). Kembali lagi pada latar belakang dan kultur yang berbeda. Aku pikir memang mungkin inilah kendala prosesnya, selain perihal bahasa dalam berkomunikasi. Bagaimanapun aku merasa beruntung mendapati teman-teman yang selalu memberikan masukan dan semangat, terlebih teman-teman Garasi yang selalu meyakinkan kami; bahwa ini adalah gagasan segar yang sangat menarik untuk dipertunjukkan.

Pergulatan pikir, rasa, dan ruang yang telah dilakoni selama hampir tiga bulan membuatku semakin yakin dengan apa yang sudah dilewati dari proses yang begitu melelahkan. Tapi menghasilkan satu bentuk peristiwa kesenian yang diyakini dan kritis. Dengan segala keterbatasan, akhirnya proses Camar berhasil menjadi sebuah pertunjukan yang bisa diapresiasi oleh penonton. Aku berbahagia, karena semua ini juga happy. Proses Camar banyak memberikan input yang luar biasa dalam perjalananku sebagai aktor. Banyak hal yang aku temukan; bukan sekadar teman baru, lingkungan baru, pengalaman baru, saudara baru, tapi juga merasa menjadi sebuah  keluarga baru yang menata pondasi dari ketidak-tahuan akan tanah yang kami pijak, dan sepakat dijalani bersama.

* Jami Atut T, Aktor Independen, Mahasiswi Teater ISI angkatan 1999, tinggal di Jogja.

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

Oleh: Muhamad Anis Ba’asyin*

Awalnya seperti sebuah pesta rakyat, sebuah ajang pertemuan yang ramai, payung warna-warni yang menjulang di beberapa titik membuat panggung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta seperti pasar kecil. Para pelayan membawa bergelas-gelas minuman (soft drink) di atas baki. Orang-orang bertemu, saling bertegur sapa dan berbicara satu sama lainnya, dengan segelas minuman di tangan.

Di antara para penonton yang berbaur cair itu ada sebuah etalase besar di dekat pintu masuk, di dalamnya ada dua orang wanita dengan baju berwarna mencolok duduk di dalam etalase sembari merokok. Di sebelahnya seorang wanita dengan lampu warna-warni melilit di tubuhnya, ia berbicara tentang sesuatu, seperti sebuah kaset yang diputar berulang-ulang. Seorang lelaki yang berpenampilan udik menyanyi dangdut dengan tape mono yang dikalungkan di tubuhnya. Beberapa orang yang berseragam hilir mudik membawa pentungan. Sementara itu, seorang lelaki yang memakai kopiah dan jas, berbicara lewat megafon, sambil berjalan kesana kemari ia berbicara (atau lebih mirip sebagai khotbah) tentang ayat-ayat sambil membawa kotak sumbangan. Penonton yang terus berduyun-duyun masuk (malam itu ada sekitar 200 penonton) membuat panggung itu semakin padat, seperti halnya pasar malam kecil-kecilan. Kapan pertunjukannya dimulai? Sementara kursi-kursi yang tersedia di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta dibiarkan kosong melompong di dalam kegelapan.

Di tengah hiruk pikuknya panggung, tiba-tiba derap suara drum band ala keraton menarik perhatian semua penonton. Serombongan marching band berjalan ke tengah panggung membelah kerumunan orang. Penonton mulai memberikan jalan untuk marching band yang berderap itu. Beberapa para kru panggung turut lalu lalang mendirikan sebuah tiang lampu penerangan jalan, memasang instalasi kayu dan seng, sepertinya pasar malam akan segera berakhir karena bangunan-bangunan kecil mulai didirikan di atas panggung.

Lajur tengah panggung yang tadi digunakan untuk berjalan rombongan marching band kini menjadi kosong. Hanya ada sebuah gerobak berisikan lipatan kasur, yang di dalamnya ada sepasang kaki yang menjulur keluar. Penonton kini terbagi menjadi dua bagian yang saling berhadapan. Seseorang yang tadi berkhotbah (Jamaluddin Latif) kini memegang mikrofon, ia mulai mempersilakan penonton  untuk tenang dan mempersilakan duduk lesehan di samping kiri-kanan lajur tengah. Juga mempersilakan beberapa tamu undangan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan lengkap dengan meja bersaji minuman. Kini penonton lebih tenang dan tertata.

Ia juga berbicara tentang perbedaan sosial yang tajam, tentang hidup di dalam kecepatan, tentang nostalgia dan teater. Sementara itu aktor-aktor bermunculan dari sisi kanan dan sisi kiri panggung, mengiringi kalimat lelaki yang berbicara di tengah panggung. Ada yang berseluncur dengan papan kayu, melintasi para penonton, ada yang wajahnya ditutup kaos berjalan pelan-pelan seperti akan menerkam sesuatu.

Seperti tajuknya, je.ja.l.an merupakan sebuah teater tari dan teater imaji. Ia mengandalkan kekuatan visual yang muncul dari tubuh dalam bercerita. Tidak banyak kata yang diucapkan di dalam pertunjukan ini, kecuali beberapa teks yang diselipkan menjadi dialog-dialog diantara gerak tubuh para aktor. Selain teks yang diucapkan para aktor, ada juga rekaman suara yang ditampilkan melalui perangkat audio (seingat saya ada rekaman wawancara dengan anak jalanan dan rekaman teks pidato dari dua presiden Indonesia; Sukarno dan Susilo Bambang Yudoyono) yang menjadi bagian dari pertunjukan. Tetapi seringkali teks-teks itu bertumpuk dengan musik yang mengiringi pertunjukan, membuat ia tidak jelas terdengar. Atau memang begitu suasana di jalan yang riuh rendah.

Jalan-jalan je.ja.l.an

Pertunjukan ini tidak berjalan linier, tidak ada alur cerita yang pasti. je.ja.l.an berupa fragmen-fragmen yang tidak saling berkaitan satu sama lainnya. Fragmen-fragmen di je.ja.l.an bercerita tentang lapisan-lapisan kekuasaan yang terus menerus bertabrakan, bertarung, saling berebut wilayah. Kebetulan pula aktor-aktornya sering berjalan bersilangan dan bertabrakan. Aktor-aktornya tidak memerankan satu karakter yang pasti, mereka menjadi ikon-ikon atas pertarungan di jalan.

Tidak ada pahlawan dalam pertunjukan ini, je.ja.l.an justru memberi perspektif lain atas ketertindasan. Adegan pasar, dimana para pedagang bersembunyi di balik seng, dan sekali-kali menyembulkan kepalanya mengintip satu sama lain, yang malah menjadi humor di tengah kegetiran. Atau ketika musisi dangdut jalanan tampil, dan seorang laki-laki hadir di tengah podium mengumumkan pernikahannya dengan seorang wanita yang pergi entah kemana, lalu ia berlari sementara aktor-aktor yang lain bergoyang  dengan gembira mengikuti irama dangdut. Masih ada  kegembiraan di antara kekerasan hidup di jalan.

Fragmen-fragmen berlintasan dengan cepat malam itu dalam durasi 60 menit. Pada adegan terakhir dimana para aktor muncul dari dua sisi jalan, diiringi lagu “Kepada PJM (Paduka Jang Mulia) Presiden Soekarno” yang dinyanyikan Lilis Soerjani. Mereka berjalan ke tengah panggung dan melambaikan tangan kepada para penonton atau pada sesuatu yang lain, pada ketertindasan? kekuasaan?

Pada adegan terakhir, ketika seorang aktor berdiri di atas kotak yang tinggi, dan aktor-aktor yang lain berjajar di bawahnya. Membuat saya teringat peristiwa Hotel Yamato di Surabaya pada tahun 1945, ketika seseorang berdiri di atas atap hotel dan merobek warna biru bendera Belanda dan mengibarkannya lagi menjadi merah putih, sementara di bawahnya ratusan orang berdiri menyaksikan dari pinggir jalan. Tapi tentu saja tak ada bendera merah putih dalam adegan ini.

Pertunjukan ini digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada 16 dan 17 Mei di Yogyakarta, kemudian tanggal 23 dan 24 Mei di Jakarta.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)


Tim Kerja Pertunjukan

Digagas dan diwujudkan secara bersama oleh:

Yudi Ahmad Tajudin (Sutradara), Mella Jaarsma (Seniman Visual), Ignatius Sugiarto (Seniman Cahaya), Risky Summerbee & The Honeythief (Seniman/GroupMusik), dan Bahrul Ulum, Bernadeta Verry Handayani, Citra Pratiwi, Erythrina Baskorowati, Jamaluddin Latif, Sri Qadariatin, Theodorus Christanto (Aktor/ performer)

Komentar Penonton

“Aku mendapatkan sesuatu yang baru, penonton lewat pintu belakang… aku belum pernah kayak gitu. Terus apa ya..? musiknya saya naksir pas adegan dengan seng di pasar aku suka banget..” (Rika. 24 tahun, kerja di Yayasan Anak)

“Keren…., kalau bisa sering-sering diadain pertunjukan seperti itu. Jarang ada teater kaya Garasi. Unik dan beda, kolaborasi musiknya dengan musisinya pas..” (Adi, 24 tahun, Pemain Band Icapila)

“Dancenya oke… presisi bagus. Komposisinya rumit, tapi ternyata bisa dilakukan. Suasananya dibangun lewat tarian, ada keramaian dan kesedihan..” (Argo, 23 tahun, mahasiswa UKDW)

“Sangat kreatif penonton masuk ke panggung, saya gak tau pertunjukan mulainya kapan. Saya seneng bias nonton dekat dengan aktor-aktornya..” (Irsyad, 20 tahun, Mahasiswa UGM)

“je.ja.l.an bagus dilihat dari eksplor tubuhnya, tapi sayangnya gak fokus. Mungkin karena di “jalan”? tapi akibatnya monoton & berlebihan”  (Soni, 20 tahun, Komunitas Pintu)

Oleh: Andy Sri Wahyudi *

Ih, sebel deh,” gerutu seorang cowok saat berjejal antri masuk ruang pementasan. Pintu masuknya memang terlalu sempit, jadi harus bergilir satu persatu. Apalagi jumlah penontonnya sekitar seratusan orang? “Uh, Busyet dah!

Malam itu adalah hari pertama pementasan Malam Jahanam karya Motinggo Boesye, yang dimainkan oleh kelompok Actor Studio dan disutradarai  oleh Joned Suryatmoko (Sutradara Teater Gardanalla). Pementasan diadakan di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jalan Sagan no:3 Yogyakarta. Pementasan ini merupakan program Aktor Studio: Program belajar keaktoran yang ditujukan kepada siapa saja yang ingin mempelajari keaktoran secara lebih dalam.

Tempat duduk yang berbentuk punden berundak itu sudah dipenuhi penonton. Panggung hanya disinari lampu warna biru yang diredupkan. Para penonton masih menunggu sambil asyik ngobrol dengan berisik. Tata ruang panggung dibagi menjadi dua: level atas adalah sebuah jalan, sedang level bawah rumah penduduk. Dua rumah berdinding bambu dan beratapkan rumbai-rumbai mendominasi ruang.

Suara berisik para penonton berangsur hilang, ketika terdengar suara lirih deburan ombak yang membangun imajinasi tentang pantai. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam rumah. Suara wanita yang mengumpat jengkel. Ialah Paijah istri Mat Kontan. Seseorang keluar dari dalam rumah dengan bentuk tubuh dan gerak aneh (orang kelainan mental) ia berlari ketakutan sambil mohon ampun saat di kejar Paijah. Ialah Utay, si Pandir. Rupanya pertunjukan telah dimulai.

Saya masih terpesona dengan setting panggungnya. Adalah rumah Soleman di sebelah kanan, agak maju menghadap serong ke kiri dan rumah Mat Kontan berada di kiri panggung lebih ke belakang, mengarah diagonal. Jemuran pakaian berada di samping kanan rumah. Di samping kiri rumah Soleman adalah sebuah gang. Properti yang berupa kelapa kering, jala ikan, dan pasir memeperkuat kesan rumah-rumah itu terletak di daerah pantai. Sebuah lentera kecil tergantung di atap emper rumah Mat Kontan, tanda hari sudah petang. Suasana panggung seperti kehidupan nyata. Sebuah nostalgia kehidupan pantai bagi yang sempat singgah meski sekedar melepas lelah.

Dari kiri ke kanan: Soleman, Mat Kontan, Utay

Tiba-tiba tawa penonton riuh memecah ruangan, saat melihat tingkah Utay yang membawa jemuran hendak masuk rumah lewat jendela. Sebentar kemudian Soleman keluar rumah, disusul tukang pijit buta yang melintas dengan suara tongkatnya. Utaypun pergi setelah mengusili tukang pijit. Tinggal Paijah dan Soleman yang diam  saling curi pandang, lalu suara kereta api melaju memecah sepi. Peristiwa dan percakapan seperti lewat begitu saja sekedar menghantarkan ke suasana malam.

Cerita mengalir setelah kedatangan Mat Kontan dari membeli burung. Mat Kontan membuka percakapan dengan membanggakan burungnya dan dirinya, tapi Soleman memotongnya dengan mengungkit masalah rumah tangga Mat Kontan. Tentang Kontan Kecil yang terus menangis karena sakit. Mat Kontan memang terkenal sombong dan hanya menuruti kegemarannya bermain burung, ia tak peduli dengan anak dan istrinya meski ia sering membanggakannya, sebab kelahiran Kontan kecil telah menghapus anggapan tentang dirinya yang mandul.

Percakapan mengaliri adegan hingga muncul ketegangan; Burung Beo Mat Kontan hilang. Ia marah, ia tanyakan pada Paijah istrinya, tak peduli bayinya (si Kontan kecil) terus menangis. Ternyata Utay melihat burung Beonya mati di dekat sumur, mati digorok lehernya. Mat Kontan semakin marah, Utay menjadi pelampiasan marahnya lalu Mat Kontan mengajak Utay pergi ke ahli nujum.

Malam itu semakin sunyi, rahasia-rahasia cerita mulai terungkap. Soleman berselingkuh dengan Paijah. Mereka berdua hanyut dalam kekhawatiran yang tak terpecahkan. Ketegangan semakin memuncak setelah Mat Kontan datang dan terbongkarnya rahasia, ternyata Kontan kecil adalah anak Soleman. Naluri primitif kedua laki-laki itu tergugah. Mereka hendak berkelahi demi kegagahannya sebagai laki-laki. Awalnya Mat Kontan mengalah, tapi Utay memanas-manasi. Mat Kontan terbakar amarah, ia akan membunuh Soleman tapi Soleman berhasil lolos. Nasib naas menimpa Utay, ia mati. Kepalanya disepak Soleman. Paijah menjerit histeris, ia tak dapat menerima kenyataan. Bayinya telah mati. Ia berlari, berteriak seakan menyesali segalanya. Hanya si Tukang pijat buta terdiam di tengah malam. Malam yang membutakan segalanya. Malam Jahanam. Suara kereta melaju kencang melindas peristiwa dan perasaan-perasaan lalu.

Naskah Malam Jahanam yang ditulis pada tahun 1958 dan mendapat juara pertama sayembara penulisan drama Departemen P & K 1958 memang sudah tak asing lagi, berpuluh kali telah dipentaskan di atas panggung seiring jaman yang terus bergerak, ilmu pengetahuan yang semakin berkembang, dan teknologi modern yang terus melaju (meski sering muncul pertanyaan dalam benak saya, apakah karena kurangnya naskah drama realis di Indonesia?). Kisah klasik dan permasalahan  lama manusia masih juga hangat. Tentang relasi berpasangan, perselingkuhan, dan perasaan purba manusia yang dikemas dalam sebuah drama panggung yang memikat dan eksotis. Rupanya tragedi “Malam Jahanam” pun perlu kita kaji ulang, bukan sekedar menilai baik-buruk atau benar-salah,  tapi  dari banyak sudut pandang yang memungkinkan melahirkan nilai-nilai baru? Cerita Malam Jahanam seperti tak habis-habisnya dibicarakan orang dari jaman ke jaman, tak kan lapuk termakan waktu. Ah, siapa yang sanggup menjelaskan cinta dan air mata?

Soleman, Paijah, dan Mat Kontan

Pementasan yang digarap dalam bentuk drama realis ini, adalah presentasi para aktor studio dari hasil belajar mereka selama kurang lebih enam bulan. Aktor benar-benar teruji dalam mendalami karakter setiap tokoh dan terlatih kecakapannya dalam berdialog dengan cepat, tangkas dan sesuai dengan karakter tokoh.

Pentas telah usai. Ternyata pementasan ini berhasil menarik penonton yang tidak hanya dari kalangan seniman teater saja tetapi dari banyak kalangan. Ada ibu rumah tangga, pelajar, aktivis LSM, guru, mahasiswi dan remaja gaul yang cakep-cakep.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)


Tim Kerja ‘Malam Jahanam’:

Sutradara Joned Suryatmoko Pemain Mat Kontan (Darmanto Setiawan), Soleman (Guntur Yudho Saputro), Paidjah (Dien Rukudzi), Utay (Alex Suhendra), Tukang Pijit (Siswadi)

Komentar Penonton:

“Paling kusuka tokoh Utay-nya, karakternya bagus banget. Selalu kutunggu kemunculannya.” (Nonik 26 tahun, Guru Wisma Bahasa)

“Kalau bagus sudah biasa, siapa dulu yang menggarapnya? Saya suka bentuk realis apalagi sutradaranya muda meski sudah tujuh kali saya melihat partunjukan teater yang menggarap Malam Jahanam.” (Hasta Indriyana, 30 tahun. Komunitas Tanda Baca)

“Keseluruhan pertunjukan lancar dan terselamatkan, tapi beberapa actor masih terbata-bata saat memasuki perannya.harus lebih digali pencarian karakternya. Selamat buat Alex untuk peran Utai-nya.” (Catur Stanis, 30 Tahun lebih)

“Apik. Utai-nya sueger banget dan membuatku cukup betah, asyik. Cuma kalau dengan gaya realis model Joned gak pas dengan kurun waktunya.” (Ria, 25 Tahun, kerja di Papermoon)

“Lumayan dan menarik.” (Orangnya cantik tapi malu-malu nyebutin namanya-Mahasisiwi Fak Fisipol Atmajaya, 22 Tahun)

“Kurang renyah masih seperti hari kemarin, tapi aku suka tokoh Utai-nya Cuma artikulasinya kurang ok. Kalau yang cewek mainnya tanggung banget, seharusnya di tangan Joned (sang Sutradara) bisa lebih menarik.” (Teguh, 28 Tahun, Mahasiswa Sastra Indonesia Sanata Darma)

“Secara realis sangat terpahami dan menghibur.” (Ajis, 24 Tahun, Komunitas Film 03)

“Apik dan sangat realis.” (Adin, 21 Tahun dari Teater EmKa UNDIP Semarang)

“Cukup menghibur, penyutradaraannya bagus. Ehm, ceweknya lemah dalam akting.” (Soni Wibisono, 26 Tahun, pengkelana dari Semarang)

“Duh, komentar apa ya? Eh, Aku suka Utay-nya titik!” (Ari “Inyong” Dwianto, 25 Tahun, Sutradara Bengkel Pantomim)