>> Wawancara bersama Sutradara pementasan SAC: Holocaust Rising, Rosa Rosadi

Oleh: Hindra Setya Rini*

Pada edisi ini, skAnA berkesempatan menemui sutradara pementasan Holocaust Rising yang digelar pada 14-15 Oktober 2008 di gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta. Rukman Rosadi, yang biasa disapa dengan Rossaini, selain sebagai aktor, ia sutradara sekaligus penggiat teater yang cukup produktif di Yogyakarta, bersama klub teaternya: Saturday Acting Club (SAC). Berikut bincang-bincang kami seputar Holocaust Rising, yang berbeda sekali dari pementasan SAC sebelumnya, yang lebih dikenal dengan akting realisnya.

skAnA: Niat awal mementaskan Holocaust ini, apa sih, Mas?

Rosa: Awalnya, ya aku melihat banyak fenomena di sekitarku. Fenomena kekerasan, dan ada satu cerita yang sangat personal yang begitu dekat denganku. Sebuah keluarga yang selalu hidupnya penuh kekerasan. Gila menurutku, jangan-jangan di luar sana ada lebih banyak lagi bentuk kekerasan yang lebih parah. Terus aku lihat kekerasan-kekerasan di tivi, yang aku sendiri sadar jangan-jangan aku juga ada dalam suatu perubahan itu. Masuk dalam bentuk kekerasan yang lain. Misalnya, aku bisa enak-enak aja ketika melihat kekerasan di tivi-tivi itu. Nah, ini gila. Kekerasan itu sudah seperti makanan sehari-hari, jadi kita merasa ingin menonton yang lebih dan lebih keras lagi karena sudah biasa. Jangan-jangan ada banyak orang melakukan kekerasan karena meniru dari tivi. Benar nggak ya, ini? Ya sudah, aku berniat bikin garapan yang ngomongin soal ini. Lalu aku pikir-pikir apa yang cocok dengan tema kekerasan ini. Lantas aku melihat ke belakang, aku ingat peristiwa besarnya perihal kekerasan. Aku ingat Holocaust itu, naskah dari Jerman, yang aku pikir juga ada kemiripan dengan peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi sekarang ini.

skAnA: Bisa cerita sedikit tentang Holocaust itu, Mas?

Rosa: Holocoust itu asalnya dari bahasa Yunani Holocauston, yang artinya kalau nggak salah adalah persembahan yang memberangus habis. Semacam suatu peristiwa persembahan, tapi harus menghabiskan orang. Memberangus orang atau membakar orang. Itu awalnya Holocauston itu. Namun, istilah Holocaust itu menjadi popular ketika peristiwa Nazi. Ada 6 juta yang diberitakan mati, bahkan ada kabar 11 juta. Nah, itu memberanguskan Yahudi pada zaman itu. Di luar urusan politik segala macam yang melatari peristiwa itu, yang masih tetap kontroversial, ya aku ngambil peristiwa pembantaiannya aja.

Nah, di negara kita kan juga ada peristiwa serupa. PKI, misalnya. Ada banyak orang mati, sebenarnya, cuma sejarah kan yang masih nggak beres. Nah sekarang sebenarnya juga dapat dilihat kan, pembenaran-pembenaran yang melatari kekerasan itu; pembenaran atas nama ras, golongan, dan lain-lain, bahkan agama.  Kebeneran menjadi alat untuk menuju superioritas. Merasa agamanya paling benar, golongannya paling benar. Dari sanalah, kondisi itu memudahkan orang menyalahkan orang lain, golongan lain, serta mengakibatkan orang bisa membunuh orang lain atau melakukan kekerasan pada orang lain. Yang menurutnya salah, ya dihabisi. Saat ini, agama sebagai benteng terakhir ternyata juga bobol.

Nah, inilah yang membuatku merasa perlu menyampaikan ini pada penontonku. Ngomongin perihal peristiwa ini. Jangan-jangan banyak yang mengabaikan hal-hal ini yang nyata ada di sekitar kita. Setidaknya aku mengabarkan kepada mereka, inilah yang terjadi di sekitar kita. Jangan-jangan itu juga yang sedang mengubah karakter kita; anak-anak jadi lebih keras, orang-orang jadi punya ketegaan yang lebih besar, yang itu menurutku perubahan karakter yang banyak dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya ya berita-berita kriminal itu, yang seharusnya kita empati, eh jadi enggak karena setiap hari kita sudah terbiasa. Kita jadi kebal dan menganggap itu biasa.

skAnA: Kemudian naskahnya sendiri gimana, Mas?

Rosa: Nah, lalu aku mencari naskah apa yang mengakomodir kegelisahanku. Ternyata nggak ada, ya jadinya bikin sendiri. Biar terasa lebih dekat untuk membicarakan soal-soal itu, ya lebih baik kalau bikin sendiri. Jadilah judul Holocaust Rising. Awalnya Holocaust A Rising, tapi kurang tajam. Jadi Holocaust Rising aja, yang artinya munculnya bibit-bibit Holocaust.

skAnA: Salah satu adegan di ruang keluarga yang sempat diulang-ulang itu merupakan potret kekerasan yang diambil kan, Mas? Ada maksud tertentu atas repetisi itu?

Rosa: Ya. Itu adegan yang memang sengaja disangatkan. Menurutku, kadang sekali aja nggak cukup. Orang bisa lupa atau cuma melihat sekilas. Jadi itu pengulangan yang tujuannya agar apa yang kami ingin sampaikan benar-benar sampai. Sangat sampai kepada penonton. Bukan bermaksud membodohi penonton dengan berita-berita pengulangan. Seperti salah satu monolog tokoh di adegan itu yang sangat ditekankan, “Pertempuran bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, tidak pernah membosankan, tidak pernah menjenuhkan, karena binatang di dalam dirimu dibiarkan keluar kandang.” Ya, aku menganggap manusia punya sifat binatang masing-masing. Kita tahu hukum atau konstruksi binatang, yang kuat memakan yang lemah.

skAnA: Itu kemudian diturunkan ke bentuk akting ya, mas? Bagaimana dengan aktor?

Rosa: Mm.. karena ini klub akting ya, bukan directing, maka aku memang pengennya nggak hanya pada satu style akting tertentu. Misalnya realis atau apa gitu. Inginnya menjelajahi kemungkinan akting. Di Holocaust kan banyak sekali style aktingnya; ada realis, ada tubuh. Aku berpikir untuk mengawinkan yang lama, yang baru, atau mencampur keduanya itu. Naskah ini membuka kemungkinan itu. Di sana ada tokoh orang desa, orang modern juga. Bahkan berkaitan dengan tema, aku jadi merasa bibit-bibit Holocaust itu juga bisa ada di pelosok sekalipun. Ini melahirkan pola-pola akting yang kaya juga.

skAnA: Bagaimana prosesnya, Mas?

Rosa: Teks ini berjalan sambil latihan, dan memang agak berat buat aktor-aktornya. Lalu aku mengambil beberapa strategi yang aku pikir itu cepat, karena waktunya cuma dua bulan. Aku langsung membagi-bagi metode sesuai dengan kebutuhan. Misalnya; latihan fashion show, latihan tubuh binatang, dan lain-lain. Itu latihan dulu tanpa naskah. Aktor lalu menawarkan dan kalau pas (cocok), itu yang diambil. Ya aktor melakukan dulu, dan nggak usah banyak tanya. Aku cuma bilang itu akan dipakai di adegan, jadi lakukan saja dulu. Sembari aku menyusun naskahnya secara keseluruhan. Setelah beres, aku kasih konstruksi cerita, lalu terakhir ngasih isi dan meyakini apa yang sudah dilakukan. Observasi binatang lewat nonton video, dan kekerasan bisa dibaca di koran-koran, lalu kita mendiskusikannya. Ya ini ditempuh karena waktunya pendek, jadi setiap hari latihan selama 6 jam. Aku sangat terbantu karena ada asistenku, Gogon. Aku sangat terbantu karena aku juga ngerjain naskahnya disamping kesibukan yang lain. Mm.. soal naskah sendiri juga sangat padat dan agak berat. Ada banyak penjelasan yang nggak sempat dimunculkan di naskah karena memang dipadatkan. Tapi nggak apa-apa, aku biarin ajalah. Penonton mau menangkap yang mana, terserah penontonnya. Aku percaya penonton juga pintar.

skAnA: Rencana setelah ini?

Rosa: Holocaust akan dipentaskan lagi, bulan Februari. Tapi akhir Desember ini pentas lagi dengan naskah yang lain. Tetap naskah sendiri. Kita juga memang konsen di akting. Ke depan ini memang kita ingin menjelajahi akting seluas-luasnya. Lalu teknik yang akan digunakan jadi tantangan buat teman-teman aktor.

skAnA: Bisa cerita tentang idenya, Mas?

Rosa: Ya, kita akan pentas di Kedai Kebun Forum, dan kita nggak pakai setting apapun. Ruang kosong. Aktor yang biasa keluar masuk lewat side wing, mereka akan menempel di tembok atau dinding. Membentuk relief-relief yang menyusun cerita sendiri. Ya itu salah satunya. Sekarang para aktor sudah observasi ke candi-candi, mempelajari relief dan cerita-cerita yang ada di dinding-dinding candi itu. Itu aja dulu, tunggu tanggal mainnya ya.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

*****

Sekilas Profil

Nama                               : Rukman Rosadi (Rossa)

Alamat                            : Jl. Suryodiningratan MJ 2/916 Yogyakarta

E-mail                              : rosadi999@yahoo.com

Mengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan teater sejak 1998 hingga sekarang. Mengampu mata kuliah: Dasar-dasar Akting, Akting Realisme, Monolog, Teori Akting, Olah Tubuh, Penyutradaraan Realisme.

Tiga tahun terakhir, sebagai aktor terlibat dalam pentas rekonstruksi BIP BOP, sebagai Oidipus dalam Oidipus Tyranos bekerjasama dengan seniman-seniman Australia. Sebagai sutradara dan penulisL Children First, Smoke and Ice Cream, Zero Matrix, Heart Poison, Holocaust Rising, Come and Go (Beckett), Le Guichet (Jean Tardieu), Lithuania (Rupert Brook).

Advertisements

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Zero Matrik dan HP (Heart Poison) adalah dua judul pementasan teater yang dibawakan oleh kelompok Saturday Acting Club (SAC), pada tanggal 10 Desember 2007 di Kedai Kebun Forum (KKF) Jalan Tirtodipuran Yogyakarta. Pementasan yang masuk dalam program Grand Kedai Kebun Forum #1.

Pada repertoar pertama permainan aktor terlihat ramai di atas panggung. Menciptakan lintasan peristiwa yang silih berganti. Semula hanyalah seorang lelaki berwajah membosankan, duduk sendirian di sebuah kursi panjang. Seperti duduk di sebuah taman yang sepi. Diam, agak lama, tapi meminta perhatian. Kemudian satu-dua orang melintas, tak ada sepatah pun kata. Lalu semakin banyak langkah-langkah yang mengisi panggung pertunjukan. Membentuk ruang yang penuh prasangka, peristiwa, dan perjalanan yang sulit terbaca.

Lalu pada repertoar kedua, HP (Heart Poison). Repertoar yang berkisah tentang Hand Phone. Alat komunikasi yang sudah menjadi candu di era teknologi itu telah mempengaruhi cara pandang manusia akan kebutuhan pertemuan dengan manusia lain. Tanpa disadari sensitifitas manusia menurun. Hand Phone telah menempatkan manusia pada ruang kesendirian di tengah manusia yang lain.

Pementasan kedua repertoar tersebut menempatkan aktor sebagai pilar utama. Sehingga para aktor benar-benar bekerja keras dalam berakting, dan membangun relasi dengan elemen panggung yang lainnya seperti setting, property, dan lighting. Aktor dengan gerak dan bentuk tubuhnya yang tertata, seolah membuat ruang berbicara banyak hal tanpa harus berkata-kata.

Properti panggung yang tak begitu ramai, bukan semata  dekorasi yang diam. Tetapi terjadi pergerakan yang fungsional, seirama dengan tubuh aktor yang juga terus bergerak. Dalam repertoar HP misalnya, properti yang berbentuk kerangka pintu, sekaligus dapat menjadi setting yang menyatu dengan gerak aktor, juga menumbuhkan ruang-ruang dan mencipta suasana yang berbeda-beda,  yang dibangun oleh para aktor. Sedangkan dalam repertoar Zero Matrik, meskipun aktor nyaris tak bersuara, hanya mengandalkan gerak dan gestur tubuh, tapi terasa begitu ramai. Melahirkan suasana yang diam namun meresahkan.

Kedua repertoar tersebut terus mengalirkan ide-ide yang terwujud dalam koreografi gerak yang tertata. Sebuah peggarapan bentuk dengan imajinasi yang rajin disirami; imajinasi yang dibiarkan liar, yang kemudian diolah hingga membentuk  nilai artistiknya sendiri. Kedua repertoar itu telah memprovokasi para aktornya untuk terus menggali potensinya. Hanya sayangnya, ruang pertunjukannya kurang luas. Menyebabkan aktor terlihat menumpuk dalam beberapa adegan.

Rupanya kelompok yang mulai menyusun strategi untuk melangkah maju ini, telah mendapat sambutan dari penonton yang mulai mengikuti proses kreatifnya.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

*****


Kerabat Kerja

Sutradara: Rosa R Rosadi/ Asstrada: Ibe Darmadi, Rendra/ Penata Musik: Dadush Bogues/ Penata Artistik: Toto Khope dan Eko Sulkan/ Penata Lampu: Noegroho Pamungkas/ Pemain: Ucok, Cuwie, Iyak, Intan, Ratna, Joe, Wheni, Jamal, Siti, Eja, Nanik.

Komentar Penonton

“Mengesankan, apalagi yang reportoar ke dua kena banget. Tapi yang kedua terlalu banyak idiom-idiom, terlalu banyak gagasan. Jadi ya memusingkan.” (Mimi Silmiati, Perupa, 23 Tahun, tinggal di Jakarta)

“Bagus sih dari segi penyajiannya, kena banget apa yang dimaksudkan meskipun dengan kata-kata yang minimalis.” (Fendi, 23 Tahun, Mahasiswa ISI Fak Seni Rupa, semester akhir )

“Aku senang yang pertama, yang kedua ada beberapa adegan yang cocok untuk lukisan. Ada beberapa hal yang bombas!” (Rudy Wuryoko, 24 tahun, Mahasisiwa ISI, jurusan Grafis)

Aku nggak ngerti, maksudku visualnya nggak ngerti, tapi secara cerita saya tahu setelah baca sinopsis. Secara aktingnya nggak begitu dong! (Brekele, , 24 Tahun, Mahasiswa UMY jurusan HI, semester delapan)

“Asyik, Aku suka, aku enak aja gitu. Pokoknya Sip!” (Thendra, 27 Tahun, Penyair dan teaterawan muda)

“Waduh Medheni, pikiranku ra nyandak. Wis apik ngono wae. (aduh menakutkan, pikiranku nggak nyampai. Bagus gitu aja.) Saya senang, secara ide bagus, tapi penggarapannya kurang rapi, aktingnya kurang mantap. Soalnya sepertinya tuntutannya kerapian, semua diatur. Jadi…, Wah kalau ini lebih rapi, misalnya serempak, atau pas tidak serempak tapi memang ada motif, tapi tadi ada kecanggungan yang menghambat.

Lalu yang pertama itu, absurditas kediaman. Memang saya nggak tahu, beliaunya nggarap diam atau tidak. Saya menangkapnya tadi: diam yang digarap, lalu obyek atau motifnya kehidupan masyarakat…masyarakat apa itu namanya? Yang sekarang sudah ada mall, orang melarat juga jalan-jalan di mall (memberi gambaran). High class? Modern? atau masyarakat apa namanya itu?” (Untung Basuki, Teaterawan dari Bengkel Teater Rendra dan Musisi kelompok SABU)

Oleh: Hindra Setya Rini*

Sebuah pertunjukan teater yang mengutamakan silent act. Mengungkap peristiwa kecil yang sering terlewatkan dari perhatian kita. Sebuah fenomena unik tentang orang-orang yang menahan hasrat buang air kecil karena harus antri. Desakan fisik yang ternyata bisa memunculkan banyak absurditas.

Children First (sebuah introduksi). Lakon pembuka tiga repertoar pendek yang digelar oleh aktor-aktor Saturday Acting Club (SAC) dalam memainkan naskah karya Samuel Beckett dengan Rossa R Rosadi, S. Sn, sebagai sutradara. Dipertunjukkan tanggal 18 April 2007 di Kedai Kebun Forum Yogyakarta.

Pertunjukan dimulai, seorang aktor hadir di tengah panggung. Ia duduk pada sebuah bangku panjang. Satu-satunya benda yang ada di tengah ruang pertunjukan. Tak lama kemudian ia mulai menggerak-gerakkan tubuhnya tanpa henti; menggeliat, gemetar, tangannya kadang mengepal dan sesekali ia merapatkan kedua kakinya rapat-rapat. Seperti menahan sesuatu. Lalu, tetap dengan tubuhnya yang bergerak itu ia membacakan judul lakon yang akan dimainkan pada malam itu beserta nama-nama pemain, sutradara, dan para pendukung pertunjukan. Setelah itu, adegan bergulir. Masuk beberapa aktor lain yang juga tak lebih sama dengan pemain pertama. Dengan caranya masing-masing menggerak-gerakkan anggota tubuhnya. Tak ada percakapan. Hanya tubuh para aktor yang saling merespons gerak. Mencoba mewujudkan aktivitas orang-orang yang layaknya sedang antri di WC Umum menunggu giliran untuk bisa segera pipis. Di akhir adegan, mereka mengeluarkan satu teriakan yang tak tertahankan karena hasrat buang air kecil sudah sampai pada puncaknya. Tak tahan lagi karena menunggu anak-anak yang harus didahulukan kemudian tanpa keharusan mengantri. Seperti yang diucapkan oleh salah satu pemain, Children First.

Children First (foto dok. SAC)

Dua lakon berikutnya setelah Children First, yaitu Come and Go dan Catasthrophe. Setiap pergantian repertoar selalu diberi jeda yang diisi dengan mendengarkan iringan musik yang mengajak penonton untuk istirahat sejenak, lalu layaknya penyiar di salah satu stasiun radio yang sedang “on air”, narator membacakan sekelumit pengantar yang menggiring penonton untuk memasuki lakon berikutnya. Suara perempuan itu mengumandang sebagai berikut (memasuki repertoar Come and Go):

Kita selalu datang dan kita selalu pergi, kita melewati peron-peron dari banyak stasiun dan kita tidak tahu apakah kita akan kembali atau kita tak pernah tahu apakah akan kembali atau takkan pernah tahu apakah akan kembali dan mengenali yang pernah kita tinggalkan. Perjalanan akan selalu membengkokkan pelintasannya untuk menemukan jalan lagi. Lintasan hati, lintasan pikiran, lintasan hidup, dan kemudian kesepian menunggu lagi di stasiun berikutnya. Ke dalam sisi manusia selalu terkorbankan oleh kebutuhan luar manusia. Kebutuhan yang dibungkus oleh warna-warna, ideologi, idialisme, dan segala tetek bengek yang bergantungan dan menjadi lambang kehormatan semu. Akankah kita akan kehilangan peron pertama yang kita lewati dengan penuh cinta?

Berbeda dengan dua lakon lainnya, Come and Go dimainkan dalam dua versi. Versi pertama dimainkan oleh tiga pemain wanita, yang kedua oleh tiga pemain laki-laki. Setting tak ada yang berubah. Hanya ada sedikit tambahan, tepat di belakang bangku  berdiri lima ikat kumpulan bambu yang menyerupai batang pepohon. Adegan  berlangsung di atas bangku, tiga aktor duduk saling mengaitkan tangan antara satu sama lain seperti tiga sahabat yang tak terpisahkan.Tak banyak percakapan; dialog terjalin sepenggal-sepenggal, diiringi musik yang sendu menambah suasana terasa ngelangut. Dalam adegan ini para aktor membicarakan satu sama lain dengan berbisik secara bergantian. Terakhir, ketiga aktor tersebut menutup adegan dengan kembali saling mengaitkan dan menggenggam tangan teman masing-masing.

Repertoar selanjutnya, Catasthrophe.  Setelah mendengarkan sebuah musik sebagai pengisi jeda, pengantar repertoar pun dibacakan kembali.

Kekuasaan selalu memainkan cakarannya di mana pun ia berada. Keringat, keluh, ketakutan, penghormatan, bunga-bunga, bahkan darah dan kematian menjadi bagian dari jejak-jejak kekuasaan. Siapa yang memainkan dengan cakaran yang terlalu dalam akan meninggalkan goresan tajam beraroma tragedi.

Panggung kosong. Bangku sudah tak ada lagi. Seseorang masuk sambil melakukan gerak olahraga atau senam pagi. Lalu satu, dua, tiga orang, masuk lalu lalang melintas membawa benda-benda; kursi, kabel, tape,  level. Dan seseorang yang lain seolah-olah sibuk mengatur para kru dalam mempersiapkan sebuah even. Musik Rock ‘n Roll menggema riang ke seluruh ruangan. Selanjutnya para kru sibuk mendandani orang yang tadi senam pagi, menjadikannya sebagai model.

Ia diberi cahaya yang pas, jas, topi, lalu kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku kanan-kiri dan ia terlihat lebih trendi. Siap dipajang. Lalu seorang lelaki yang terlihat dan bergaya lebih seperti perempuan ketimbang laki-laki, masuk menilai model yang dipajang. Melalui perdebatan dengan asistennya  yang cerewet, si Tuan tersebut tetap tak menerima dan merasa kurang puas atas pilihan-pilihan yang dikenakan pada si  Model. Ia harus diubah di sana-sini. Akhirnya para kru kembali mendandani si Model menjadi seseorang yang terlihat amat tersiksa. Seluruh tubuh diputihkan dengan bedak bubuk agar menampilkan kesan pucat, celana digulung dan singlet yang dipakaikan menunjukkan tubuhnya yang ringkih, dengan kedua tangan terikat di depan dada serta cahaya yang fokus pada kepalanya yang setengah botak semakin memperlihatkan bahwa ia renta dan tak berdaya. Tetapi menurut si Tuan, itu adalah karya yang luar biasa dan menakjubkan.

Demikianlah tiga repertoar pendek yang dimainkan SAC pada malam itu. Ruang pertunjukan dihadiri sekitar kurang dari seratus penonton dengan durasi pertunjukan satu jam. Set dan properti yang sedikit, juga tata cahaya yang minim dalam pertunjukan ini membangun kesan pada penonton atas ruang yang minimalis. Selain itu, para pemain juga memakai kostum keseharian yang sederhana dan biasa. Dalam permainan ini pemain seperti benar-benar hendak mempertaruhkan kepiawaiannya dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan melalui akting.

Seperti dalam prolog yang ditulis; sebagai bagian dari dunia teater, SAC menyadari bahwa teater tidak pernah menggoreskan tanda baca “titik”. Sehingga perkembangannya tidak bisa hanya dilewatkan dengan perdebatan karena teater juga harus dilakoni jika tidak ingin mengalami ketumpulan otak dan hati. Kejelian, kecermatan, kesabaran, keuletan, kepekaan bahkan kegilaan dalam mencari dan menyampaikan pesan akan menjadi tolak ukur bergulirnya sebuah karya teater. Untuk itu SAC akan ambil bagian dalam menciptakan sejarah pertumbuhannya. Yap. Saturday Acting Club. Semoga Teater Jogja semakin hidup!

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***


Tentang SAC

Saturday Acting Club (SAC) adalah kelompok kajian akting, yang semula bernama Saturday Acting Class. Nama Saturday diambil dari nama hari yang berarti Sabtu sebagai hari pertemuan. Club ini telah dimulai sejak tahun 2002. Club ini juga mengeksplorasi gaya akting dari berbagai -isme yang tidak terbatas. Keanggotaan SAC sendiri terdiri dari mahasiswa dan non-mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang konsen pada akting. SAC hingga kini mempunyai anggota tetap tidak kurang dari 25 orang.

Tim Kerja Pertunjukan:

Aktor: Muhamad Djunaedi Lubis, Surie Inalia, Intan, Rio Aldanto, R. Edja Fahlevi, Jamal Abdul Naseer, Daniel Exaudi, Rendra, Indah Kusuma Winahyu, Joehana Dyah N, Mariya Yulita Savi, Nanik, Mahbuh Qurtuby, Fery Ludiyanto Sopawiro, S. Sn. Sutradara: Rossa R Rossadi, S. Sn. Penata Cahaya: Noegroho/Nunu. Penata Musik: Bagus. Kostum: Indah.

Oleh: Muhammad A.B. *

Siang, tanggal 24 Mei 2006, skAnA bertandang ke kantor Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Di sana awak skAnA bertemu dengan Rukman Rosadi, salah seorang staf pengajar di Jurusan Teater ISI, yang juga salah seorang motor dari sebuah klub yang baru saja diluncurkan di Yogyakarta. Klub itu bernama Saturday Acting Club (SAC), yang mengkhususkan diri dalam pengemabangan akting. Dalam kesempatan wawancara ini skAnA juga berkesempatan untuk berbincang dengan Muhammad Junaedi Lubis (Manajer Program SAC) yang akrab dipanggil Ucok, dan Surie Inalia (Head of  Management SAC) atau akrab dipanggil Cuwie’. Selama kurang lebih dua jam kami berbincang dengan ditemani es teh dan beberapa bungkus rokok. Berikut adalah petikan wawancara skAnA dengan ketiga tokoh SAC tersebut.

Bisa cerita sedikit tentang asal mula SAC?

Rosa:

Sebenarnya sudah lama. Sebagian diantara kami sudah berkumpul dan bertemu sejak 2002. Waktu itu wadahnya bernama Saturday Acting Class, waktu itu kami dan beberapa teman yang ingin belajar tentang akting lebih dalam, membentuk wadah sendiri di luar jurusan teater. Saat itu kami sudah terbuka, kami tidak mengkhususkan diri pada orang-orang teater saja. Siapa saja yang ingin belajar akting; ada teman dari jurusan desain, ada teman dari Atamajaya, dan Psikologi UGM.

Ucok:

Yah, sebenarnya kami sudah lama berkumpul. Kami punya kegelisahan dan keinginan untuk belajar lebih dalam mengenai akting, mungkin kami merasa kurang dengan apa yang sudah kami pelajari mengenai teater dan akting. Cuma waktu itu memang kami lebih banyak mempelajari berbagai pendekatan yang banyak dibantu oleh Mas Rosa (Rukman Rosadi, pen)

Cuwie’:

Sebenarnya saya dulu malah tidak tahu ada Saturday Acting Class, walaupun saya di Jurusan Teater ISI. Saya malah usul sama teman-teman, “Ayo bikin apa yuk, kumpul-kumpul belajar teater bareng…” Eh, ternyata malah sudah ada Saturday Acting Class, terus saya mulai masuk ketika perencanaan untuk membuat Saturday Acting Club.

Saturday Acting Club. Namanya agak berbeda dengan nama-nama kelompok teater yang biasa saya dengar, sepertinya SAC mewakili semangat yang berbeda dari kelompok-kelompok teater lain?

Rosa:

Gimana ya, kami sejak awal memang menitikberatkan pada pembelajaran akting, untuk belajar berbagai bentuk akting. Dan karena kita memang sama-sama punya waktu luang di hari Sabtu, walaupun sebenarnya berkumpul di Hari Sabtu sudah menjadi kewajiban bagi kami (tertawa….). Kalau ada kesibukan lain harus ditinggal (tertawa lagi…).

Kenapa memilih club? Bukan course misalnya…

Cuwie’:

Karena dulu class itu kesannya formal ya, dan jadi kelihatan sangat akademik. Kemudian kami bersepakat untuk mengganti menjadi club, karena ia menjadi lebih terbuka, dan posisi kita semua menjadi sama di dalam wadah club. Saya dan Mas Rosa misalnya. Ya saya boleh berbeda pendapat dan mengusulkan sesuatu pada dia. Walaupun tetap dibutuhkan pengurus yang aktif, ada struktur kekuasaan yang menentukan program-program SAC.

Ucok:

Dulu waktu class, Mas Rosa memang jadi agak dominan. Sementara kalau di club, kami kesannya jadi cair gitu. dia sudah tidak kami anggap sebagai dosen lagi(tertawa). Kami posisinya sama saja, saling memberi pendapat dan memberi usulan, misalnya dalam proses pengadeganan. Juga Mas Rosa sebagai sutradara misalnya, ia tidak bisa seenaknya memerintah, “Kamu kaya gini, jalan kesana…”, kalau seperti itu pasti ditanya balik, “loh, kenapa? Apa alasannya..?”(tertawa)

Dan kenapa acting? Bukan actor atau theatre misalnya…..

Ucok:

Karena memang kami memang fokus ke bagaimana akting itu. Kami ingin mencoba segala macam bentuk akting, menembus batasan-batasan akting yang ada sekarang; mencoba mengeksplorasi bentuk, gagasan, ide,  sampai pada kemungkinan-kemungkinan yang bisa kami capai. Yang kami tekankan memang bagaimana ber-akting itu. Kami percaya tiap karakter punya konsekuensinya sendiri untuk diperankan, dan tiap aktor harus mempunyai kesadaran untuk itu. Karena saya melihat aktor-aktor yang gaya dan bentuknya sama dalam tiap karakter yang diperankannya. Lah, itu kan berarti dia tidak ber-akting. Berarti kan, dia hanya memindahkan dirinya sendiri ke atas panggung. Cuma sekedar memakai kostum dan mengucapkan apa yang tertulis.

Rosa:

Di sini (SAC-pen), kami semua punya komitmen untuk mempelajari akting seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bagi kami di SAC, akting berarti Akting dengan A kapital. Walaupun tidak semua yang terlibat di sini (SAC-pen) aktor, kami terbuka pada siapa saja yang ingin belajar akting. Karena menurut kami dunia akting itu sangat luas sekali. Dan bagi kami SAC adalah wadah untuk menjelajahi dunia itu. Untuk itu SAC tidak memilih satu gaya pertunjukan sendiri yang tetap, kami ingin bisa berakting dalam bentuk pertunjukan apa saja, baik yang tradisional maupun kontemporer.

Cuwie’:

Dan kami juga sebenarnya tidak hanya berkutat dengan akting di dalam teater, kami juga mencoba bagaimana toh akting di dalam film itu? SAC juga tidak menutup kemungkinan nanti ke depannya akan membuka kursus akting untuk umum.

Pada kesempatan launching bulan lalu (bulan April 2007-pen) SAC memilih untuk memanggungkan tiga naskah pendek karya Samuel Beckett. Ada alasan khusus nggak, kenapa teman-teman memilih naskah Beckett?

Rosa:

Sebenarnya tak ada alasan khusus ya. Karena kami tidak mau terikat pada satu genre tertentu. Lebih karena saat ini SAC ingin memainkan naskah-naskah pendek dengan durasi kurang dari satu jam, dan Beckett punya jenis naskah pendek itu. Ya, waktu itu kami bersepakat untuk memainkan tiga naskah itu.

Ucok:

Semua orang di SAC mempunyai obsesi tentang keaktoran. Biasanya mereka ingin bermain dalam satu peran tertentu, misalnya peran orang sakit jiwa, atau peran pembunuh, atau peran romantis. Dalam kasus kemarin, mungkin kami melihat naskah Beckett cukup mewadahi keinginan-keinginan kami untuk memerankan satu karakter tertentu. Dan seperti yang tadi sudah dikatakan, ya kami selalu menggunakan kesempatan pertunjukan ini dengan mencoba untuk bertemu dengan sesuatu yang berbeda. Bagaimana sih naskahnya Beckett? Karena pasti berbeda memainkan naskah Beckett dengan memainkan naskah lain oleh penulis lain. Ya bagi saya seperti itu sih. Sepertinya waktu itu memang tidak ada alasan khusus ya.

SAC dalam sebuah pertunjukan.

Oke, menurut teman-teman sendiri, apa sih yang membedakan SAC dengan kelompok-kelompok lain? Paling tidak apa yang membuatnya beda?

Cuwie’:

Formulasi ilmu…

Maksudnya?

Cuwie’:

Ya karena bagi kami bukan hanya akting di atas panggung yang penting. Tapi, bagaimana jalan yang ditempuh untuk menuju akting di atas panggung itu…

Rosa:

Maksud Cuwie’ adalah bagi kami proses untuk menuju akting di atas panggung itu jauh lebih penting. Bagaimana proses penemuan, metode-metode yang ditempuh untuk mencapai suatu karakter. Mungkin itu yang membuat kami merasa perlu mendalami akting lebih jauh lagi, karena makin jauh kami memasukinya, ternyata hal ini  sangat luar biasa luas. Menurut kami metode seorang aktor untuk mencapai sebuah bentuk akting itu adalah satu bentuk ilmu juga, dan si aktor harus bisa memformulasikannya.

Ucok:

Ya semangat itu yang kami pegang di SAC. Karena percuma saja kalau seorang aktor bisa berakting dengan bagus diatas panggung tanpa tahu metode-metode untuk mencapai bentuk akting itu. Sayangnya kami melihat hal ini tak begitu disadari, sehingga banyak aktor yang hanya bisa memainkan satu tipe karakter saja. Bagi kami ya hal ini sama saja berarti si aktor belum lepas dari dirinya sendiri.

Rosa:

Karena di sini orang-orang teater sendiri masih menganggap aktor atau akting itu berdasarkan hal-hal yang abstrak. Mereka tak bisa memformulasikannya, hanya berhenti di “teater ya begini ini….” Karena itu saya melihat banyak kelompok pada akhirnya hanya tergantung pada sosok sutradara. Sutradara menjadi sosok yang mengetahui segalanya dan ia tak membaginya pada orang lain. Karena tak ada kesadaran bahwa akting adalah satu bentuk ilmu yang bisa dipelajari semua orang. Jadi yang sering terjadi, ketika sutradara meninggalkan sebuah kelompok teater, maka kelompok teater itu akan mati.

Jadi akting itu bisa dipelajari, lalu bagaimana teman-teman mempelajarinya? Punya metode-metode tertentu yang baku bagi para aktor di SAC ?

Rosa:

Karena para anggota SAC mepunyai komitmen untuk mempelajari akting, maka cara mereka untuk mempelajari akting berbeda-beda sebenarnya. Tapi semua punya kecenderungan untuk mencari referensi-referensi sendiri. Jadi memang aktor-aktornya itu dituntut untuk pintar dan cerdas. Tapi bukan berarti kami tidak memperhitungkan improvisasi atau ekplorasi, itu kami jaga karena itu bagian dari metode untuk mencapai bentuk akting.  Lewat forum-forum di SAC kami berdiskusi soal akting, dan seringkali malah anggota SAC dari disiplin berbeda memberi masukan-masukan yang segar dan berharga.

Lalu kami juga mencoba untuk mengeksplorasi diri kami sendiri; bagaimana seorang aktor bermain dalam karakter yang berbeda-beda, lalu teman-teman akan memberi masukan-masukan dan membicarakannya bersama. Lewat forum itu SAC membantu para aktor anggotanya untuk memformulasikan metode-metode yang telah dicapainya.

Ngomong-ngomong, apa sih program SAC selanjutnya ?

Ucok:

Bulan Juni nanti kami akan pentas di KKF, kami mencoba eksplorasi akting dalam bentuk-bentuk pertunjukan tradisional. Pertunjukannya tiga buah seperti pada saat launching. Saat ini kami sedang berkonsentrasi pada pertunjukan-pertunjukan pendek saja dulu. Lalu Bulan September rencananya kami akan pentas di KKF lagi. Naskah pendek juga, tapi kali ini naskah yang kami buat sendiri. Terus Februari tahun depan rencananya kami akan memproduksi sebuah film.

Cuwie’:

Selain itu kami juga punya agenda rutin di luar pertunjukan, misalnya pertemuan tiap Sabtu yang wajib untuk semua anggota. Terkadang ada workshop-workshop untuk anggota. Kami juga memberikan workshop-workshop mengenai akting. Kemarin (minggu ketiga Mei-pen) kami baru saja memberi workshop akting pada anak-anak SMP di ISI. Para anggota punya kewajiban untuk memberikan materi-materi pada saat workshop itu. Yang paling akhir ya penerimaan anggota. Kemarin kami baru saja menerima dan menyeleksi anggota baru untuk SAC, yang diterima ada 11 orang.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul empat sore, gelas-gelas es teh yang tadi penuh sudah kosong. Siang itu memang sangat panas. Tapi berbincang dengan tiga orang awak SAC membuat siang itu terasa berlalu dengan cepat. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin dibicarakan dengan SAC, misalnya tentang rencana-rencana pertunjukan mereka, tentang film yang akan mereka buat, atau ide mereka tentang akting. Akhirnya, waktu jualah yang membatasi pertemuan kami. Saat masing-masing dari kami harus beranjak dan bergerak meninggalkan tempat di mana kami bertemu. Sukses buat SAC!!!

*Muhammad A.B., reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)