Oleh: Ari Dwianto*

Perlahan tirai terbuka.

Para pemain sudah berada di atas panggung dengan kostum warna-warni. Mereka melakukan berbagai aktifitas: latihan tai chi, latihan silat, tidur, menghitung uang, dan membaca buku. Ada juga yang cuma berdiri ataupun duduk-duduk. Pokoknya rame dech. Kemudian, seorang Dalang dengan pakaian beskap Jawa muncul membuka cerita.

Cerita dimulai dengan penyamaran Engtay menjadi laki-laki penagih hutang. Ia mengelabui ayahnya untuk segera membayar hutang-hutangnya. Akibat kelakuannya itu ayahnya jatuh pingsan sehingga Engtay panik dan segera melepas penyamarannya. Mengetahui penyamarannya sebagai laki-laki cukup berhasil, maka Engtay meminta kepada orang tuanya agar disekolahkan di Jogja. Pada waktu itu hanya anak laki-laki yang diperbolehkan bersekolah dan tentu saja orang tua Engtay tidak menyetujui permintaannya. Engtay berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa penyamarannya sebagai laki-laki akan berhasil hingga akhirnya ia diijinkan bersekolah di Jogja.

Dengan surat pengantar dari ayah Engtay yang kebetulan teman lama seorang guru di sekolah tersebut maka Engtay langsung diterima sebagai murid Sekolah Putera Bangsa. Engtay ditempatkan satu kamar dengan Sampek di asrama. Engtay mulai menjalani hari-hari sebagai murid laki-laki dan mempelajari budi pekerti. Suatu hari, agar penyamarannya tidak diketahui, Engtay membuat ulah yang membuat geger―ia mengotori tembok WC sekolah dengan air kencing. Akibat ulahnya itu, guru menetapkan peraturan baru yaitu Dilarang Kencing Berdiri.

Selama mereka bersama, Sampek tidak menyadari bahwa Engtay sebenarnya seorang perempuan. Sampai suatu hari ketika liburan sekolah tiba, di asrama hanya tinggal Sampek dan Engtay. Engtay mengajak Sampek pergi ke sebuah taman untuk melihat angsa, kupu-kupu, dan bunga-bunga. Di taman itulah Engtay melepas penyamarannya dan barulah Sampek mengetahui bahwa Engtay seorang perempuan. Cinta mereka pun tumbuh bersemi. Aih aih…

Namun tragedi mulai terjadi. Engtay diminta untuk pulang karena hendak dikawinkan dengan putera saudagar kaya asal Magelang. Sebelum pergi, Engtay memberikan tusuk rambutnya kepada Sampek dan meminta Sampek untuk datang menemuinya pada 2 dan 8, 3 dan 7, 4 dan 6 hari setelah hari perpisahan itu. Angka-angka itu merupakan sandi hari pertemuan mereka.

Karena keluguannya, Sampek menjumlahkan angka-angka yang disebut Engtay sehingga jumlahnya menjadi 30. Ternyata hari yang dimaksudkan Engtay adalah 10 hari setelah hari perpisahan itu. Maka terlambatlah Sampek, sementara Engtay telah menerima lamaran, dan hari pernikahan Engtay dengan putera saudagar kaya itu telah ditentukan. Duh Gustiiii!

Betapa pilu hati Sampek karena kekasihnya akan menikah dengan orang lain. Sampek semakin larut dalam kesedihan yang menyayat perasaan, hingga dia jatuh sakit dan meninggal. Sampek dimakamkan di suatu tempat yang akan dilalui rombongan pengantin Engtay. Ketika melewati tempat pemakaman Sampek, Engtay mengenali kuburan Sampek dari tulisan dan tusuk rambut yang pernah dia berikan, yang sekarang tergeletak di atas kuburan. Kesedihan Engtay begitu dalam. Ia menggali kuburan Sampek dengan tusuk rambut itu hingga kuburan Sampek terbelah, lalu masuk ke dalamnya. Ketika anggota rombongan mencoba menggali kembali kubur itu, mereka hanya menemukan sebuah batu.

BERMAIN-MAIN

Kisah Sampek–Engtay sudah sangat dikenal seperti halnya kisah Romeo dan Juliet, ataupun Pranacitra dan Roro Mendut. Penonton sudah mengetahui alur ceritanya, dengan akhir cerita yang romantis-tragis. Tapi yang menarik dari pementasan Sampek–Engtay oleh Teater De Britto dan Teater Bendhe Stella Duce I di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada 29 Agustus 2009  ini adalah cara mereka bermain-main dalam pertunjukan tersebut.

Pertunjukan ini mengangkat naskah Sampek-Engtay yang ditulis Nano Riantiarno, dengan plesetan di sana-sini. Walaupun unsur koreografi dan nyanyian sudah lekat dalam karya-karya Nano Riantiarno (Teater Koma), namun mereka tidak menghadirkannya pada pertunjukan ini. Sampakan, model yang mereka pilih dalam pertunjukan ini justru memberi mereka banyak ruang untuk dapat menyampaikan cerita dengan cara yang khas. Mereka mampu menghibur ratusan penonton yang hadir dengan celotehan dan “gojek kere”-nya. Para pemain dengan bebas saling memberi komentar saat adegan berlangsung atau melepas sebentar peran mereka untuk menanggapi komentar lawan main dan tawa penonton, kemudian kembali lagi ke perannya dan melanjutkan adegan.

Kebermainan mereka bukan hanya pada celotehan dan “gojek kere”, tetapi juga pada naskah yang telah diubah sedemikian rupa. Agaknya mereka mencoba melepas logika dalam cerita. Misalnya seperti hadirnya penyanyi dangdut yang menyanyikan Kopi Dangdut dalam adegan pasar malam; seseorang yang menelepon menggunakan handphone; seseorang yang melintas dengan Honda 70-nya; iringan  musik ensamble dengan lagu-lagu masa kini, padahal latar kejadian menunjukkan jaman baheula, di mana orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia masih memakai pakaian tradisionalnya.

Hal lain yang saya catat adalah banyaknya adegan yang sengaja dihilangkan. Adegan-adegan tersebut hanya diceritakan oleh Dalang. Oleh karenanya peran Dalang menjadi sangat penting untuk merangkai keseluruhan cerita. Akan tetapi hal ini menyebabkan beberapa adegan kehilangan alasan dan kisah cinta Sampek–Engtay pun menjadi kurang mengena.

Ah, namun dalam pertunjukan yang disutradarai oleh Antonius Didik Kristantohadi ini kita bisa melepas semua logika dan melupakan kekurangan yang terjadi di panggung, dan hanya menikmati mereka merayakan kebermainan mereka dalam menuturkan kisah cinta ini. Menurut saya, mereka cukup berhasil menghibur penonton yang memenuhi gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta malam itu.

* Ari Dwianto, Aktor dan sutradara di Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010))

Advertisements

>>Sebuah wawancara dengan sutradara, beserta tim yang terlibat dalam pementasan Sampek Engtay, produksi ke-13 Teater Koin, yang dipentaskan pada tanggal 8-9 Maret 2008.

Oleh: Hindra Setya Rini*

Selasa malam, kira-kira pukul 21:00 WIB. Tepatnya tanggal 11 Maret 2008, saya bersama rekan kerja saya di skAnA, Andy SW, menyusuri jalanan kota Jogja yang masih basah oleh hujan untuk bercengkerama dengan teman-teman dari Fak. Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Mereka yang bergabung dalam komunitas teater kampus: Teater Koin.

Kami tersesat, sebelum pada akhirnya kami menemukan tempat Teater Koin berada. Ketua Teater Koin, Hesti, beserta para aktor dan tim yang terlibat dalam produksi ke 13 Sampek Engtay, telah menunggu kami. Masing-masing dari kami saling memperkenalkan diri. Namun, belum lagi kami memulai percakapan, sirine tanda kampus akan segera ditutup berdering nyaring. Tanda bahwa seluruh aktivitas yang masih berlangsung di kampus harus berhenti dan mahasiswa-mahasiswi dipersilakan pulang. Dengan demikian, kami memutuskan pindah ke sebuah warung, tempat biasanya anak Koin ngumpul. Namanya warung Roops. Di warung itulah kami ngobrol bersama hingga tengah malam beranjak undur.

Malam teman-teman, enaknya kita kenalan lagi ya? Haha…

Hesti: Haha… Iya. Tadi belum kenalan semua kok… (Kami duduk lesehan melingkar dan menjadi agak rapat.)

Semua yang ada di sini terlibat pentas Sampek Engtay, kan?

Teater Koin: Iya, dong… (Mereka menjawab kompak.)

Bimo: Tapi macem-macem. Nggak hanya aktor sama sutradara aja yang ada sekarang. Ada yang main musiknya, kostum, lighting, trus penata artistik juga ada nih. Hehe…

(Hesti memperkenalkan teman-teman yang lain.)

Sebelum ngomong-ngomong tentang Sampek Engtay, bisa cerita sejarah berdirinya Teater Koin dulu, ya…

Bimo: Ya, bisa-bisa. Teater Koin itu berdiri sejak tahun 1999. Jadi sekarang sudah delapan tahun umurnya.

Hesti: Ya, nanti bulan Juni, tepatnya tanggal 4, Teater Koin ulang tahun yang ke sembilan.

Awal terbentuknya gimana?

Hesti: Nah, Mas Bimo ini yang pernah jadi ketua Teater Koin, pasti tahu banyak cerita tentang yang dulu-dulu… Iya kan, Mas? Hehe…

Bimo: Emh, ya dulu sempet jadi ketua tahun 2004-2006. Dulu itu, awalnya dari Lembaga Ekskutif Mahasiswa (LEM) yang kepingin membentuk teater. Tapi lama-lama ya kita jadi seperti sekarang ini. Koin sendiri nggak punya arti yang khusus sih, awalnya. Dulu kan sempet mau pakai nama Teater Tangga karena kami sering nongkrong di tangga. Tapi nggak jadi karena di UMY sudah ada Teater Tangga. Lalu, Teater Paku. Itu juga nggak jadi karena anak-anak pada merasa nggak cocok dengan nama itu. Terakhir ya kemudian pada usul koin. Ya sudah, semua sepakat untuk pakai nama Teater Koin. Tapi kalau dipikir-pikir saat ini, kalau mau dicari-cari artinya apa, ya koin itu punya dua sisi. Ada hitam dan putih, baik dan jelek. Tapi itu Koin yang dulu…

Maksudnya Koin yang dulu?

Bimo: Oh, ya maksudnya nama koin itu duluan yang muncul. Filosofinya menyusul belakangan…haha. (Teman-teman yang lain juga tertawa).

Koin itu merupakan salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)?

Hesti: Iya, UKM. Tapi, kami lebih senang menyebutnya komunitas karena kebersamaannya lebih dapet kalau komunitas.

Bimo: Dan juga kami sering nggak sependapat dengan kebijakan-kebijakan kampus.

Teman-teman, dulu awalnya tertarik masuk Teater Koin, gimana sih?

Gilang (pemeran Ji Sim): Wah, dulu saya terpaksa…haha (Kontan teman-teman yang lain saling meledek.)

Rere (pemeran Engtay): Kalau aku, aku tuh terhipnotis dan tau-tau aku udah di depan sanggar Teater Koin, Mas.

Broto (pemeran Sampek): Aku sih, Koin  itu awalnya kukira komunitas bahasa Inggris, hehe… Ternyata komunitas teater. (Teman-teman langsung tertawa heboh)

Herdy (pemusik): Hm, jujur karena pacarku dulu anak teater sih. Lha, aku jujur tho

Bimo: Wah, aku juga jujur ah.

Hesti:  Apa, coba?

Bimo: Weh, dulu tuh aku benci teater awalnya. Menurutku orangnya katrok-katrok. Trus, sampai temenku dari Teater Koin zaman dulu, ngajak aku ngumpul dan nongkrong-nongkrong di sana.  Awalnya main musik, trus kegiatan yang lain lagi, ikut  proses, eh lama-lama keterusan. Asyik  sih karena waktu itu isunya kita bisa lepas dari FE. Hahaha.

Kesan-kesan selama berproses di Koin, apa saja sih yang temen-teman  rasakan?

Temen-teman Koin menjawab bersahutan: Plong! Menggairahkan! What’s the next?! Seneng, banyak have fun-nya! Sering cinlok! Punya banyak temen dan tambah  pengalaman..!

Oh ya, apakah pentas Sampek Engtay itu dalam rangka regenerasi angkatan baru yang masuk teater di kampus?

Bimo: Nggak lah. Teater Koin nggak ada acara kayak penyambutan anak baru gitu. Anak baru, anak lama main semua di sini. Asal dia aktif saja ya ikut main. Ini produksi Teater Koin yang ke 13, dan nggak dimaksudkan dalam rangka regenerasi itu.

Kenapa memilih mementaskan Sampek Engtay, Mas?

Bimo: Haha… Ini berangkat dari realitasnya anak-anak Koin sendiri. Di sini tuh banyak kisah-kisah cintanya. Aktor sama aktor, sutradara sama aktor, ya macem-macem lah. (Teman-teman yang lain menimpali dengan seru, bahwa mereka sering cinlok.)

Bimo: Nah, Navi itu juga pasti tau awalnya kenapa memilih Sampek Engtay. Aku sih orang  yang  ngelanjutin sebagai sutradara kok. Jadi, sutradara awalnya itu bukan aku. Gimana, Nav?

Navi: Kenapa Sampek Engtay? Ehm.. Sebelum ini kan Koin sudah memainkan tiga naskah opera karya Nano Riantiarno. Yaitu, opera Primadona, opera Ikan Asin, opera Primadona dipentaskan lagi, trus yang terakhir Bom Waktu. Lalu muncul ide nyari  naskah opera Nano lagi tapi yang kepinginnya lebih bagus. Yang menjual,  segar, laku. Kemudian ketemulah Sampek Engtay. Meskipun tahu bahwa urusan kostum adalah yang paling berat dibandingkan dengan naskah-naskah Nano yang lain, kami tetap memilihnya. Kaitannya dengan kostum Cina yang mahal-mahal itu, kalau nggak nyewa ya kami bikin sendiri, tapi tetap saja mahal. Pada dasarnya Koin sendiri terbiasa dengan opera. Jadi, Sampek Engtay itulah kami anggap opera yang relatif enak untuk dimainkan.

Teater Koin sepertinya gemar mementaskan naskah Nano…

Navi: Oh, ya jelas. Kami penggemar setia Nano Riantiarno. Tapi, kami punya tafsir dan interpretasi sendiri atas naskah-naskah opera yang kami mainkan…

Bisa cerita proses penggarapannya? Baik di musik, kostum, dan artistik…

Navi: Mm… Oh ya, sejak awal kami nggak mengadaptasi naskah itu, kami membiarkan naskah itu bergulir dan mengalir begitu saja. Bahkan sampai soal bahasa pun kami nggak menambahi sedikit pun. Misalnya kata “haaiyaa..”  yang  biasanya kita dengar ketika orang ingin meniru orang Cina ngomong, itu tidak kami gunakan. Kami hanya membuat suasana “Cina” nya itu aja. Misalnya, dengan membuat suasana, atau kesan “Cina” yang dapat ditampilkan lewat musik, artistik, dan kostum.

Antok (asisten penata artistik): Ya kemarin itu sempat pasang-rombak. Pertama coba dipasang di atas panggung ternyata nggak cocok. Ubah lagi, trus pasang lagi. Biar kelihatan megah, kami coba memainkan lampu yang colourful. Jreng! Warna merah yang dominan dan warna-warni yang terang. Untuk referensi artistiknya kami tinggal ‘klik’ aja di internet. Hehe, gampang…

Teman-teman yang lain: Iya, Google kan bisa mengatasi segalanya…

Herdy (musisi): Kalau di musiknya, kemarin itu bikin sendiri yang kira-kira mendekati suasana Cina. Kalau harus mirip musik Cina ya nggak mungkin, susah dan alatnya juga ribet. Jadi kami mengira-ira aja musik dan lagunya itu kalau dinyanyikan seperti apa, lalu jadilah komposisi dan lagu-lagu yang dilantunkan seperti di Sampek Engtay itu.

David (asisten kostum): Soal kostum, karena terbatas dana, sebagian besar kostumnya bikin sendiri. Tapi ada juga yang nyewa. Bikin kostum yang kira-kira ada bau Cina-nya. Hehe, nyari di tempat ekspor-impor nggak ada sih.

Hesti: Awul-awul maksudnya, hahaha… (Awul-awul istilah yang dikenal di  Jogja sebagai tempat penjualan pakaian bekas)

Dalam Sampek Engtay, aktor-aktornya itu harus bisa nyanyi?

Rere: Wah,  enggak. Aku  otodidak kok…

Broto: Enggak, modal nekat aja, hehe…

Navi: Di sini asal mau aja ya semua bisalah. Belajarnya sambil jalan.

Bimo: Kita itu modal berani aja kok. Gimana-gimananya nanti aja. Nekat. Sikaat aja!

Kalau menurut Pak Sutradara, gimana proses ini berlangsung?

Bimo: Beberapa kali kami latihan, tempatnya berpindah-pindah. Kadang latihan di alam bebas. Buat ngilangin rasa yang kadang bikin males-malesan itu. Kalau lagi nggak mood. Terlebih teman-teman itu diajak seneng-seneng aja susah, apalagi diajak latihan. Jadi aku mesti nyari cara untuk tetap menjaga gimana proses ini bisa berjalan terus. Metode-metode yang aku berikan untuk para aktor, kadang aku juga nggak tahu asalnya dari mana, ikut intuisiku aja sambil terus melihat situasi yang berlangsung pada saat itu.

Mm… Karena Koin itu berproses hampir bisa dikatakan tanpa jeda selama setahun ini. Jadi, selama proses Sampek Engtay, aku merasa ada kejenuhan. Kami semua merasa bosen, jenuh, dan capek. Aku pribadi, sebagai sutradara belajar lebih sabar dan tenang untuk menjaga semangat teman-teman yang lain selama proses. Karena pada dasarnya aku emosian! Haha…

Teman-teman yang lain: Jadwal pacaran juga jadi kacau deh, pokoknya! Hahaha…

Harapan  temen-teman Koin  ke depan?

Rere:  Koin  terus eksis dan maju. (yang kemudian disepakati  dengan  teman yang lain)

Bimo: Regenerasi terus  jalan. Inginnya setelah  aku, ada anak-anak baru  yang lain yang megang Koin. Entah sutradara, atau yang  lain…

Ada keinginan Teater Koin independen?

Navi: Kalau  independen  lepas dari kampus? Enggak  sih, meski  pernah berpikir ke arah sana. Karena kami ngerasa teater belum bisa menghidupi kami sampai saat ini. Ehm,  independen untuk terus bikin karya  yang enggak  manut sama  kebijakan dan keinginan kampus,  itu iya.

Oke, deh. Seru ya! Ngomong-ngomong, bisa katakan dengan singkat Koin itu apa?

Koin itu GS! Yaitu: Gampaang dan Santaiii…!!! (Jawaban yang serempak dan kompak! Sukses buat Teater Koin, semangat!)

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

*****

Sedikit info tentang Sampek Engtay

Sampek Engtay karya Nano Riantiarno diramu dari sekitar 12 versi dan disadur ke dalam suasana Banten serta Batavia awal abad ke-20. Pertama kali dipentaskan Teater Koma di Gedung Kesenian Jakarta, Agustus 1988, selama 18 hari. Sebelum pentas perdana, penulis sempat diintrogasi BAKIN (Badan Intelejen). Saat itu huruf Cina, Tari Naga dan Barongsai dilarang diperagakan di muka umum. Dan pada Mei 1989, Sampek Engtay dilarang naik pentas di Medan.

Lakon Sampek Engtay digelar di Jakarta, Surabaya, Semarang, Singapura (dalam bahasa Inggris), Bandung, Batam, Yogyakarta. Seluruhnya berjumlah 81 hari pementasan. Akhirnya pada Mei 2002, setelah menunggu 13 tahun, Sampek Engtay diizinkan dipentaskan kembali di Medan.

” Mungkin aku lahir terlalu cepat, ” keluh Engtay. Inilah kisah cinta yang tetap diminati hingga kini. Perjuangan perempuan meraih hak memperoleh pendidikan yang sama dengan kaum lelaki berbenturan dengan kekuasaan tak terbantahkan dari orang tua.

Sampek Engtay Teater Koin

Sampek Engtay produksi Teater Koin, 8-9 Maret 2008

Pimpinan Produksi: Yhaya/ Sutradara: Bimoaji Sekar Wibowo, SE/ Assisten Sutradara: Gilang”Broto” & Andhika/ Make Up&Kostum: David & Lala/ Setting&Lighting: Falaq&Fauzan/ Koreografer: Qolbi

Para Pemain:
Diman, Wahdani S., Gilang “Broto”, Hesti, Gilang, Rere, Gilang “PO”, Novie, Pandit, Reza, Anto, Cipto, Anang, Fariz, Chu, Kiki, Imron, Sinyo, Taufik.

Musik:
Dimas, Herdy, Didit, Puput, Bim-Bim, Edo, Djunaidi, Lano, Dika