Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Ada gerak tubuh yang meninggalkan kesan aneh, bingung, lucu, bosan, imajinatif, dan entah, di benak para penonton. Pertunjukan tari pada tanggal 12-13 April 2007 di Kedai Kebun Forum itu terasa asing, mencipta ruang kesendirian, asyik dengan dunianya dan mungkin, asing dari pertunjukan tari.

Tempat pertunjukan yang semula berupa ruang serba guna dan berfungsi sebagai lapangan bulu tangkis, malam itu berubah menjadi  ruang gelap. Kain hitam memayungi seluruh ruang setinggi 2 meter dari lantai. Dinding dan tempat duduk penonton juga diselimuti kain hitam kecuali kursi-kursi merah yang berjajar di belakang. Seperti berada dalam bungkusan kado ulang tahun. Hanya lantai tempat para Penari masih berwarna hijau tua dan bergaris hitam berbentuk setengah lapangan bulutangkis, tapi di situlah kenyataan yang lugu berada dan membuat mata lega.

Pidato Bunga-Bunga, mengawali pertunjukan ini. Pada adegan awal, Penari berdiri sambil meliuk-liukkan tubuhnya dan sesekali menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Bikin penasaran, mencari-cari maksudnya. Akan tetapi, setelah adegan berikutnya dengan perpindahan blocking, kemunculan gerak seperti menendang pantat, mencubit, menyentil dan mencium pusar, segera menggugah imajinasi tentang bunga-bunga yang hidup, berbicara, dan bermain kian kemari. Seperti sedang mengintip bunga-bunga yang berlarian, melamun, gembira, berdialog, dan… terserah penonton menerkanya.

Ada bunga botak berkuncir gimbal di tengahnya dan bunga kecil berkostum longdress merah mini. Ada juga bunga bertopi ala koboi dan bunga bersanggul, berpakaian ala cenayang suku Gipsi. Saat adegan bunga-bunga itu berjajar, muncul karakter-karakternya. Terlihat lewat mimik dan gerak; sombong, cerewet, penyabar, dan innocent. Lalu muncul seseorang yang membawa gunting, berjalan hilir mudik merusak suasana taman tempat tumbuhnya bunga.

Bunga-bunga itu terus bergerak beriringan dengan musik bernada lelah; terdengar suara desah, gemerutuk, dan berbisik-bisik namun terus mengalir hingga bunga-bunga berjongkok rendah, melangkah lamban kelelahan. Mereka terus melangkah menempuh kesunyiannya. Bunga-bunga itu telah kehilangan taman, mereka mewakili yang tersingkir dan terus mencari tempat untuk tumbuh.

Flight no 12. Karya yang berdurasi 8-10 menit ini pernah dipentaskan dalam pembukaan pameran lukisan Id Hanafi (O House Gallery, Galeri Nasional Jakarta, 2006) tetapi sudah mengalami perubahan dalam prosesnya. Awalnya adalah benang karet warna merah melintang di tengah panggung remang, Penari perlahan muncul dari dinding hitam, menggigit benang lalu tangannya memainkan benang sambil menyanyikan tembang Jawa. Cuma separuh tubuhnya yang muncul, pinggang ke atas bergerak lentur. Tubuhnya seperti layang-layang, melayang di tengah awan hitam. Tubuh itu mengenakan kostum biru berumbai-rumbai yang ujung-ujungnya bergelantungan bola kecil warna-warni. Ia terus menari dan melantunkan tembang hingga tubuhnya hilang di balik dinding hitam dan benang merah itu diam lalu lepas. Crat! Repertoar ini, menurut beberapa penonton berhasil mencipta suasana baru dan membuka tawaran tentang  bentuk tari.

Repertoar terakhir berjudul Beras Merah. Sebuah karya yang pernah dipentaskan dalam International Dance Festival (IDF) di Jakarta 2006. Awalnya para penari mencoba rileks saat masuk panggung, dengan suara siulan yang mengiringi langkah dan geraknya.

Beras Merah

Gerak-gerak itu terus mengalir dan para penari mengucap kata aneh taclep, oks fruut, melwa, rarrar mungkin percakapan bangsa Alien. Makin lama, gerak yang muncul terasa berat, sedang hadirnya lagu Sway, karya Pablo Beltan Ruiz di sela pementasan sejenak menjadi sandaran lelah dan bosan.

Adegan yang mengundang tanya muncul saat dua penari memegang dan memainkan belut. Rupanya belut berasal dari mitologi  Dewi Sri yang sedang datang bulan, membuat sawah berwarna merah dan menghasilkan beras merah. Lalu pembalutnya dibuang ke sawah dan berubah menjadi belut. Karya Beras Merah terinspirasi dari proses datang bulan. Properti berupa sand sack tinju diibaratkan batang rahim. Sesekali rahim itu dipukul dan diajak berdansa. Kemudian muncul seorang lelaki memainkan pipa alumunium sebagai proses antara pembersihan dan kesuburan. Repertoar ini berakhir dengan lampu warna merah menyorot memerahkan ruang panggung dan  batang rahim itu terus berayun-ayun di antara dua penari.

Repertoar tari Pidato Bunga-bunga merupakan proses mencari tubuh Tari bukan tubuh Penari. Karya ini merupakan hasil dari eksplorasi atas gerak keseharian para pelaku tari yang berstatus ibu rumah tangga, perajut, tukang kebun, dan mahasiswa, kemudian dirangkai menjadi sebuah pementasan tari. Sedang tubuh Penari mengacu pada tubuh yang telah diprofesikan, berhubungan dengan kerja dan rutinitas sehingga menjadi tubuh yang mekanis, tak ubahnya seperti mesin, kata sang koreografer. Jadi tubuh tari ada dimana-mana, ada di tubuh bayi, anak-anak, remaja, buruh, pegawai negeri, petani, pedagang, guru, tukang patri, pelacur, pemulung, bahkan presiden asal mereka mau menari.

Tiga repertoar tari ini juga dipentaskan di Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo pada tanggal 18-19 April 2007 dan di bulan Juni dipentaskan lagi di Jakarta.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

Dari kiri: Flight No.12, Pidato Bunga-bunga, Pidato Bunga-bunga

Penari: Yoyo Jewe, Yuni Wahyuning, Media Anugrah Ayu, Yustinus Popo, Ika Dewi Wulandari dan Fitri Setyaningsih. Koreografer: Fitri Setyaningsih, Musik: Leon Delorenso, Kostum: Fukamachi Rei dan Rika Caroline, Bas betot/Ending song: Bengbeng. Teks/artistik: Afrizal Malna, Stage manager/lighting: Caroko Turah dan Anto Hercules. Konsultan proyek: Helly Minarti. Riset: Surya Saluang, Fotogafer: Rika Oinonen.

Komentar Penonton

Fitri aktif, produktif dan selalu mencari hal baru. Seperti dirinya yang terus mencari esensi hidup lewat karya-karya tari dan mungkin dia akan menemukannya dengan karya-karya selanjutnya. (Miroto, Penari, tinggal di Studio Banjarmili Yogyakarta, 49 tahun)

Setting ruang bagus, saya terkesan dengan teknik muncul repertoar ke dua. Sempet membuat saya deg-degan kalau-kalau atapnya jatuh. Itu saja. (Ibob, 25 tahun, Mahasiswa komunikasi Atmajaya)

Apik, saya seneng musiknya. Tari yang kedua dan Beras Merah saya suka. (Bagus Dwi Danto 28 tahun Pekerja seni dan penyair indie tinggal di Jogja)

Masalah lighting bagus. Settingnya terlalu sempit. (Mbeong, 29 Tahun, Pekerja seni kerajinan)

Untuk Beras Merah aku gak menangkap jelas . paling kena repertoar ke 2. (Dito. 22 tahun, Mahasiswa Atmajaya, Komunikasi)

Repertoar kedua unik, yang pertama gak ngrasa klimaks, ketiga bagus. (Tutik, Penikmat Seni, 30 tahun)

Terkesan dengan staminanya yang gila-gilaan! Gerakannya bikin pusing dan bingung artinya. (Salsa, 22 tahun, Mahasiswi Atmajaya semester 6)

Musiknya menarik, saya suka. (Santo, musikus aktif di Rumah Panggung)

Saya melihat nuansa -gerak- teaterikal dalam pertunjukan ini. (Cunong Boy, 27 tahun, Seniman muda Solo)

Advertisements