Oleh: Ficky Tri Sanjaya

Seketika suasana penuh warna: sedih dan benci bercampur dengan kerinduan yang mendalam,  dirasakan pak Bejo saat bertemu kembali dengan anaknya, Kuntini.  Pak Bejo adalah supir pribadi pak Gondo, salah seorang pelanggan Kuntini. Pak Gondo menyuruh pak Bejo untuk menemui Kuntini lantaran Pak Gondo terkena serangan jantung. Tak disangka ternyata Kuntini yang Pelacur itu, tak lain adalah anak kandung pak Bejo sendiri. Hati pak Bejo luluh lantah  ketika bertemu kembali dengan Kuntini yang berpisah setelah perceraian dengan istrinya berpuluh tahun lalu. Kini tiba-tiba saja Kuntini berdiri di hadapanya namun sayang, ia bukanlah si Kuntini kecil anaknya dahulu melainkan Kuntini    seorang pelacur sukses yang melakoni bisnis esek-esek.

“Maafkan Kuntini, Pak, bukan maksud Kuntini ingin menjadi seperti sekarang. Kuntini melakoni ini semua karena terpaksa”, kata Kuntini sambil bersujud di kaki ayahnya.

Rupanya keterkejutan pak Bejo tak hanya bertemu dengan Kuntini. Ia melihat Kuntono, anaknya yang  disanjung-sanjung sebagai seorang mahasiswa teladan sekaligus berprestasi, berada di rumah Kuntini. Kuntono bersembunyi dari kejaran warga kampung setelah ketahuan akan mencuri di rumah warga.

Itulah adegan babak terakhir, yang diiringi sorak-sorai dan tawa  penonton saat melihat akhir cerita. Pementasan teater berjudul “Pelacur” karya Pedro Sujono ini dipentaskan dalam bentuk realis oleh angkatan ke-10 Teater Manggar STIMIK AMIKOM.

Pementasan ini menawarkan sisi lain lika-liku kehidupan seorang pelacur dalam keseharian. Tidak hanya menampilkan profesi pelacur yang mengandalkan gincu dan tubuh seksi tetapi menghadirkan persoalan dan tantangan hidup yang harus dihadapi. Mereka merasa menjadi korban dari kehidupan yang keras ini. Pelacur terkadang dihadapkan antara mengikuti kata hati dan kata perut, belum lagi persaingan dan permasalahan di dunia pelacuran sendiri, antara pelacur dan mucikari. Mereka tak lepas dari pandangan negatif, salah satunya sebagai penyebab kerusakan rumah tangga orang lain, di mana mereka harus siap untuk dilabrak hingga harus berkelahi. Di lain sisi juga menghadapi persaingan antar pelacur lantaran kemauan pelanggan yang selalu menginginkan kehadiran bunga baru dan meninggalkan bunga-bunga yang menua. Berbagai cara dilakukan agar dapat mendapatkan pelanggan bahkan dengan meminta bantuan dukun sekalipun.

Penggarapan setting pementasan ini terlihat sederhana namun mencolok dengan warna-warna yang terang memenuhi ruangan pertunjukan. Setting pertunjukan menghadirkan isi ruang tamu rumah Kuntini, dengan meja bar, dengan beragam minuman beralkohol dan gelas-gelas mewah di atasnya. Iringan musik  digarap dengan piranti musik perkusi. Sementara dalam penggarapan adegan , tidak semua adegan tergarap dengan matang, terutama pada saat banyak tamu yang tidak dikenal dengan karakter berbeda-beda berdatangan dan diperbolehkan untuk menginap. Adegan tersebut terkesan datar dan terasa kurang kuat untuk menghantar ke puncak adegan.

Pementasaan yang diselenggarakan di ruang basement GEDUNG II STIMIK AMIKOM ini, bisa dibilang cukup sukses menyedot penonton yang berjumlah lebih dari 200 orang. Penonton bebas memilih duduk lesehan atau menggunakan kursi yang berjajar di belakang. Rata-rata penonton yang hadir adalah anak muda, sehingga pertunjukan ini terkesan cair dengan sorak sorai dan celetukan penonton hampir di setiap adegannya, seperti layaknya banyolan-banyolan dalam pementasan lenong. Improvisasi-improvisai kecil dari pemain juga terkadang muncul merespon celetukan dari penonton yang semakin mencairkan suasana.  Pertunjukan berdurasi 90 menit ini mampu memepertahankan hampir seluruh penonton untuk tetap berada di tempat duduknya, walaupun ada beberapa meninggalkan tempat pertunjukan sebelum pertunjukan selesai.

Bravo Teater Manggar!!

*  Ficky Tri Sanjaya, aktor Bengkel Mime Theatre, Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

*****


Tim kerja “Sang Pelacur”

Sutradara: Ardo “bokong”/ Pimpro: Ade “pelor”/ Setting: Hillman “iler”/ Musik: Omni “jombrot”/ Make-up: Beny “inthil”/ Ligthing: Arif “klunthung”/ Stage Manager: Caruti “munyuk”/ Aktor: Desy “tepos”, Tyas “gembrik”, Budi “kempung”, Irfan “palkon”, Hilman “iler”, Sisye “koplo”, Caruti “munyuk”, Olly “djumblung”, Hafies “jenglot”, Agung “mblendong”.

Advertisements

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Sedikit tentang Tokoh kita

Pedro Soejono. Nama itu tak asing lagi dalam sejarah Teater Yogyakarta, bahkan Indonesia. Para pekerja dan penggemar seni teater di Yogya era 60-80an pasti – akrab –mengenalnya. Ia  salah satu motor penggerak Teater Muslim. Kiprahnya dalam jagad teater khususnya di Yogyakarta tak diragukan lagi. Tokoh teater yang lahir di Bondowoso 31 Desember 1932 ini sebelum aktif di teater Muslim sempat bergabung dengan kelompok Aplaco (1957-1959) di Yogyakarta. Kemudian menjadi penggerak awal teater Muslim pada tahun 1961 bersama Mohammad Diponegoro. Menariknya lagi, selain bergerak di dunia seni Teater ternyata Pedro Soejono seorang Pengusaha Tempe yang dikenal dengan nama produk Tempe Pedro.

“Pedro Soejono adalah dramawan moncer tatkala realisme masih dominan di Indonesia,” kata Bakdi Soemanto dalam pengantarnya yang berjudul Sang Tempe. Sayang, Pedro Soejono  telah meninggalkan kita semua, tapi ia telah menorehkan jejak yang tak mungkin terhapus oleh gerak jaman. Semangatnya akan terus hidup dan menyala.

Mencerahkan Realisme Konvensional di Yogya.

Di tengah gegap-gempitanya pertunjukan teater non konvensional  dengan berbagai macam konsep dan aliran, rupanya teater realis masih tetap ada dan tidak ditinggalkan. Teater Muslim membuktikannya dengan mementaskan Naskah Pedro Dalam Pasungan yang aslinya berjudul Rencana Setan karya Pedro Soejono di Gedung Societeit Militer Yogyakarta,  pada tanggal 14 – 15 April 2007.

Pedro dalam Pasungan adaptasi dari Rencana Setan

Sebuah cerita tentang hidup yang disikapi dengan pikiran pragmatis, picik dan penuh strategi jahat. Perkawinan tanpa harta adalah tragedi kesedihan. Pandangan itulah yang membuat Ningsih (Sita) rela kawin dengan Pedro (Brisman HS), duda tua pemilik pabrik teh dan tuan tanah. Hal itu telah direncanakan dengan Karno (Ucok), pacarnya yang juga keponakan Pedro. Mereka mengira umur Pedro tak bakal lama, namun kehadiran anak (Dea) dalam rumah tangganya  menumbuhkan daya hidup Pedro. Lalu Ningsih membuat rencana hendak meracun Pedro tetapi digagalkan Mbok Ijah (Santi) dengan tidak sengaja. Rencana kedua kembali disusun, Ningsih meneror Pedro dengan meragukan Dea sebagai anaknya, hingga Pedro frustasi, meracau dan berprilaku tanpa kontrol. Lantas ia menuduh Pedro telah menjadi gila. Ia mengundang dokter Ahmad (Masroom Bara) yang masih sahabat Pedro untuk memperkuat tuduhannya. Pedro berakhir dalam pasungan yang dibawa dokter Ahmad.

Panggung penuh dengan setting dan properti. Penataan setting tak sekadar memenuhi panggung tapi penuh perhitungan dan penyiasatan. Terlihat pada paduan warna benda, tata letak properti dan penciptaan ruang. Setting menggambarkan sebuah ruangan rumah keluarga kaya, semuanya terlihat jelas dan detail dari berbagai sudut pandang. Sorotan lampu mematangkan warna benda dan memunculkan karakter suasana. Panggung yang berbentuk prosenium terbagi menjadi beberapa ruang; kamar tamu, ruang santai (seperti bar) dan bagian tengah adalah tangga berselimut karpet berwarna hijau yang menandakan rumahnya bertingkat.

Para tokoh yang sebagian diperankan aktor senior (Brisman H.S., Masroom Bara, dan Santi) ternyata tidak menyurutkan stamina permainan. Brisman H.S bermain dengan prima dari awal hingga akhir pertunjukan. Dua aktor lain, Masroom Bara dan Santi memainkan karakternya dengan kuat. Sementara itu, aktor muda tak ketinggalan mewarnai pertunjukan dengan aktingnya yang dinamis.

Perkembangan drama realis di Yogyakarta menginjak tahun 2000-an memang tak dapat lepas dari peran Teater Gardanalla yang menggeluti realisme hingga melahirkan konsep baru. Beberapa bulan lalu pementasan drama realis juga diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) lewat Parade Teater Realita, juga Teater Garasi lewat program Aktor Studio. Akan tetapi, drama realis produksi Teater Muslim, hadir tiba-tiba di tengah jagad Teater Jogja yang dilanda krisis bentuk realis konvensional. Teater Muslim turut meramaikan sekaligus mencerahkan drama realis konvensional di Yogyakarta.

Semangat Muda

Kelompok Teater Muslim sebenarnya sudah lama berkiprah dalam jagad teater sejak tahun 1961, khususnya di Yogyakarta. Arifin C Noer, salah satu sutradara film dan teater terkemuka di Indonesia juga pernah bergiat dalam Teater Muslim bersama Mohammad Diponegoro. Teater Muslim telah mementaskan banyak naskah lakon, diantaranya: Iblis (1961), Surat pada Gurbernur (1963), Prabu Salya (1964), Si Bakhil (1982), Sekeras Karang (1984), dan Abu Dar (1985).

Sepeninggal Mohammad Diponegoro Teater Muslim dipimpin oleh Pedro Soejono.  Kelompok ini sering mengisi acara di TVRI Yogya pada tahun 80-an. Kini teater Muslim seperti sedang menggeliat bangun dari tidur panjangnya. Merajut cita-cita dengan semangat muda.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Tim Kerja Pertunjukan:

Manager Produksi: Brohisman. Sutradara: Liek Suyanto. Desain Artistik: Drs. Agus Layloor, Yono Milo. Musik: Nono Diono, Edy.S dkk. Make Up: Trisulo Pemain: Briman H.S., Mbok Mas Santi, Titik Rengganis, Dian Agnesita Dewi. A, Ucok ISI, Masroom Bara, Kadir ISI, dan Dea.

Komentar penonton:

“Bagus, penyutradaraannya keren. Pemeran utamanya juga bagus.” (Dara, SMA Muh II, 17 Tahun)

“Bagus, cuman untuk remaja belum paham. Ga begitu suka dengan tokohnya, temanya bukan tema remaja.” (Danis, kelas 3 SMA Muh II, 16 Tahun)

“Bagus, nostalgia sama karya Pedro, masih layak untuk dipentaskan, sarat akan pesan. Penggarapan disesuaikan zaman juga tokohnya.” (Ibu Ikarini, Pekerja TVRI, 44 Tahun)

“Kesan sebuah Prinsip atau Ideologi memang tak boleh mati, harus diperjuangkan untuk hidup.” (Satmoko Budi Santoso, Penulis, 31 Tahun)