Oleh: Andika Ananda

Hindra (skAnA) menawarkan pada saya untuk menulis tentang “Teater yang Menyenangkan”, pentas kolaborasi sepuluh aktor Yogya yang dipentaskan akhir Maret lalu dalam program Jagongan Wagen Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK).

Saya mengiyakan saja tawaran tersebut, walau saya belum tahu apa yang harus saya tulis. Apalagi pertunjukan tersebut sudah cukup lama berlalu, entah di mana catatan kecil tentang proses dan pentas tersebut saya simpan. Semoga cuma saya yang tidak terbiasa menulis catatan proses, di antara sepuluh orang pemain “Teater yang Menyenangkan” (TYM).

Berawal dari Sebuah Tawaran “Aneh”

Berawal dari sebuah tawaran via telepon yang datang dari YBK untuk mengisi Jagongan Wagen. Sempat ragu-ragu, tapi akhirnya saya setuju. Paling tidak untuk sekedar mencari pengalaman, pikir saya.

Dua hari berikutnya kesepuluh calon aktor dan aktris TYM bertemu di YBK. Di sinilah “persoalan” bermula, ketika Mas Besar Widodo menyampaikan idenya tentang membuat teater yang menyenangkan. Kami cuma bisa tertawa, bingung, dan saling pandang. Apa yang menyenangkan dari teater? Menyenangkan yang bagaimana? Bukankah menyenangkan untuk saya belum tentu menyenangkan bagi orang lain?

Secara sederhana mas Besar menjelaskan tentang bagaimana seandainya kita membuat sebuah pertunjukan teater yang tidak hanya mampu menyenangkan pelakunya, tetapi juga penonton. Perasaan menyenangkan yang diharapkan tidak hanya terjadi ketika pentas berlangsung atau usai pentas, tapi juga bagaimana mewujudkan sebuah proses penciptaan dan proses berteater yang menyenangkan dalam ekologi yang lebih luas.

Dalam waktu kurang lebih dua minggu, sepuluh aktor dan aktris dituntut untuk membuat sebuah pentas teater tanpa naskah dan tanpa didampingi sutradara. Lalu apa jadinya?

Setiap orang yang terlibat dalam kerja kolaborasi ini berasal dari berbagai komunitas yang berbeda, dengan kecenderungan ber-teater yang berbeda pula. Tita Dian Wulan Sari (Tita), Wiwara Awisarita (Sasha), Muhammad Nur Qomaruddin (Qomar), Djuaedi Ucog Lubis (Ucog), Feri Ludiyanto (Feri), Jami Atut Tarwiyah (Atut), Rheninta (Ninit), Febrin Eko Mulyono (Yayan), Marya Julita Sari (Iya’) dan dan saya sendiri Andika Ananda.

Masalah selanjutnya muncul ketika hampir semua pemain yang terlibat memiliki aktivitas padat di luar TYM, sehingga sulit untuk bertemu dalam satu waktu.. Akhirnya jadwal latihan disesuaikan dengan aktivitas masing-masing pemain. Disepakati bahwa siapapun yang bisa bertemu di satu waktu, walaupun tidak lengkap bisa tetap melakukan eksplorasi.

Setelah beberapa kali latihan, bukannya menemukan apa yang akan kami pentaskan, justru sebaliknya kami menemukan kebingungan dan kebuntuan. Kerja kolaborasi memang tidak mudah, apalagi dalam waktu yang begitu singkat.

Di tengah kebingungan, proses latihan tetap berjalan. Singkat cerita tanpa disadari, kami menemukan beberapa hal. Sampai akhirnya kami sepakat untuk membuat empat (4) repertoar dalam durasi kurang lebih satu jam. Empat reportoar tersebut antara lain: Dream to Play, Blue Job, Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi, dan yang terakhir adalah Trisno Falling in Love.

Dream To Play menjadi repertoar pembuka. Repertoar yang dibuat minim dialog ini menjadi adegan perkenalan bagi tiap pemain. Dream to Play menceritakan tentang sepuluh pemain teater yang berlatih bersama dalam sebuah proses. Dari awal sudah nampak bagaimana ketidakkompakan di antara mereka. Konflik mulai muncul di tengah latihan ketika sebagian di antaranya serius berlatih, sementara yang lain tidak ingin serius berlatih.

Adegan digambarkan dengan dua karakter koreografi yang sengaja dibuat kontras antara dua kelompok. Di puncak konflik, tiba-tiba salah seorang pemain mengatakan sutradara (Iya’) sudah datang. Seluruh pemain kebingungan, dan berlarian ke sana kemari. Hilir mudik pemain tak karuan ketika Iya’ masuk panggung masuk dan meminta seluruh pemain untuk menyiapkan sebuah adegan.

Dream to Play. Foto: Sigit Kurniawan

“Meja!” teriak Iya’, salah seorang pemain pun seolah-olah menjadi meja. “Kursi”, pinta Iya’ lagi, pemain lain serta merta menjadi kursi. Demikian seterusnya hingga panggung menjadi sebuah ruang tamu yang di dalamnya berisi berbagai perabot yang “terbuat” dari para  pemain. Repertoar ini ditutup dengan perintah “action” dari sutradara dan panggung blackout.

Repertoar ke dua berjudul “Blue Job”. Repertoar diawali dengan adegan mesra antara Tita dan Ucog, yang digambarkan melalui eksplorasi gerak tubuh. Tak disangka-sangka saat sedang asyik mesra, Ucog baru menyadari kalau Tita sebenarnya sudah memiliki kekasih, yaitu Yayan. Dengan perasaan terluka Ucog pun pergi meninggalkan Tita. Setelah Ucog keluar, masuk Yayan dengan begitu marah, memandang Tita dan hendak berlalu. Tita mencoba untuk menghalangi ke manapun Yayan pergi. Adegan dibuat sedikit koreografis dan atraktif. Hingga di puncak adegan, “kita putus!” ucap Yayan sambil keluar. Tita hanya terdiam di tengah panggung sambil menatap Yayan yang berlalu.

Berikutnya Tita menelpon temannya (Sasha) yang sedang asyik mengetik, “Halo”, jawab Shasa, “Sha aku putus” balas Tita.. Sasha menelpon Iya’ yang sedang asyik memasak di dapur, Sasha menceritakan bahwa Tita putus dengan Yayan. Tak berhenti sampai di situ, Fery tiba-tiba masuk dalam keadaan terhuyung, nampak Fery dalam keadaan mabuk, ia mandi di bawah pancuran. Handphone Fery berdering, ternyata telepon dari Iya’, Iya’ menceritakan putusnya hubungan Tita dan batalnya rencana pernikahan Tita dan Yayan. Adegan ditutup dengan kata “selingkuh” dari ketiga pemain.

Terciptanya repertoar “Dream To Play” dan “Blue Job” ini diawali dari ide untuk menciptakan imaginasi tentang ruang, benda dan peristiwa. Sangat minimalis, minim porsi dialog dan tanpa menggunakan properti tambahan. Pemain menggambarkan adegan dan peristiwa dominan menggunakan tubuh (gerak). Adegan saat Iya’ memasak misalnya, Iya’ hanya melakukan gerakan keseharian saat seseorang benar-benar memasak di dapur dengan berbagai peralatan dapur. Begitu juga adegan yang lain.

Repertoar ke tiga berjudul “Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi”. Diawali dengan musik yang mengesankan suasana kepadatan lalu lintas dan hiruk pikuk kota. Sesuai dengan judulnya, repertoar ini dimainkan oleh empat orang, yaitu Shasa, Atut, Iya’, dan Tita. Sama dengan dua repertoar sebelumnya, dalam repertoar yang berdurasi kurang lebih dua belas menit ini, adegan diekspresikan melalui tubuh (gerak), vokal yang muncul hanya berupa interjeksi untuk memberi penekanan pada gerak dan peristiwa.

Berbeda dengan dua repertoar sebelumnya, dalam repertoar ini satu persatu pemain muncul dari arah penonton. Setelah di atas panggung mereka menciptakan ruang imajinasi, seolah-olah sedang gelisah menunggu kendaraan di pinggir jalan. Kadang bergantian, kadang serempak empat orang gadis ini melambaikan tangan kepada setiap kendaraan yang melintas, namun tidak ada satupun yang berhenti. Sampai akhirnya mereka melihat taxi dan saling berebutan. Tapi tak satupun dari mereka mendapatkannya sampai panggung gelap kembali.

Terciptanya repertoar ini bisa dibilang tanpa sengaja, yaitu ketika Shasa, Atut, Iya’, dan Tita mencoba untuk melakukan eksplorasi gerak bebas. Walaupun tidak berangkat dari tema tertentu untuk pijakan eksplorasi, tak disangka terjadi gerak saling respons yang komunikatif. Gerak saling tarik, dorong, lompat seolah-olah menemukan “teks”-nya sendiri. Jadilah sebuah repertoar tentang Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi”.

Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi. Foto: Sigit Kurniawan

Repertoar terakhir berjudul “Trisno Fallling in Love”. Dari keempat repertoar, hanya repertoar ini yang sengaja memakai improvisasi dialog verbal dan dibuat lebih “cair”. Repertoar yang dimainkan oleh tiga orang (Qomar, Ninit, Andika) ini dominan menggunakan bahasa Jawa.

Repertoar terakhir ini memang cukup mampu membuat penonton tertawa. Dalam “Trisno Fallling in Love”, diceritakan tentang suami istri yang tidak lagi harmonis setelah sekian tahun menjalani hubungan rumah tangga. Saat terjadi percekcokan di antara mereka, tiba-tiba Trisno (Andika) muncul dan memanggil si suami (Qomar) sambil menghampiri dan menyentuh pundaknya. Dari sinilah terbuka kedok si suami, yang ternyata selama ini biseksual. Adegan ditutup dengan “rengekan” Trisno, yang menceritakan betapa hancur hatinya, dan meminta dukungan kepada penonton lewat “koin untuk Trisno”.

Dalam repertoar yang begitu satir ini, pemain berusaha menciptakan adegan dan dialog yang bukan bertujuan untuk melucu, namun menciptakan sebuah peristiwa yang mampu menciptakan kesan (menggugah) lucu bagi penonton. Bila salah satu indikator senang itu adalah tertawa, mungkin di sinilah salah satu letaknya. Bukan serta-merta untuk menghibur atau melucu, tapi menciptakan persepsi dan kesan, yang bisa dimaknai apapun oleh penonton, termasuk tertawa!

Bila saya harus melucu malam itu, mungkin lebih baik saya menjadi pelawak ketimbang pemain teater!

Teater “Tanpa Naskah dan Sutradara”

Sengaja saya kutip dari tulisan (review) di koran Kedaulatan Rakyat (3/04/10) tentang “Teater yang Meyenangkan”:

Tentu bukanlah hal yang baru, ketika proses penciptaan sebuah garapan teater tidak berangkat dari naskah (teks) dan gagasan sutradara. Apalagi jika kita tidak berpikir secara un sich tentang teks dan sutradara (baca:kerja penyutradaran).

Banyak pementasan teater yang tidak berangkat dari teks unsich, tapi berangkat eksplorasi ruang, musik, gerak dan berbagai elemen artistik lainnya. Pada pola penciptaan seperti itu, dalam perjalanan proses pencarian, pencataan, dan presentasi selama latihan, sebenarnya juga telah terjadi kerja intertekstualitas, di mana teks ruang, teks tubuh, gerak, kata, dsb bertransformasi untuk menciptakan keutuhan “teks” pentas. Di sinilah sutradara bekerja sebagai interpreter yang menganyam keseluruhan gagasan dan penemuan yang muncul selama proses eksplorasi. Bisa jadi teks baru terwujud usai pentas, atau bahkan tak selesai sama sekali.

Keempat repertoar dalam teater yang menyenangkan dibuat begitu minimalis. Tidak ada satu setting (properti dan dekorasi) di atas panggung, kostumpun sengaja dibuat massif, hitam-putih. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri, di mana kami harus menciptakan kekayaan simbol dan makna. Apalagi yang dilakukan oleh aktor, selain harus memaksimalkan potensi tubuh (baca: diri) nya.

Bukan bermaksud berapologi, kami sadar dengan apa yang kami capai malam itu. Walau waktu bukan satu-satunya ukuran, namun waktu dua minggu sangatlah tidak cukup untuk sebuah kerja kolaborasi dan menciptakan sebuah pertunjukan teater yang benar-benar sublim!

Paling tidak, saya merasakan sesuatu menyenangkan dari apa yang telah saya lakukan malam itu. Mungkin rasa menyenangkan yang saya rasakan berbeda dari sembilan orang lain yang terlibat dalam TYM, apalagi penonton! Tapi apapun makna “menyenangkan” bagi kita, semoga teater menjadi sesuatu yang “lebih dari menyenangkan”! Paling tidak untuk saya pribadi. Terima kasih.

* Andika Ananda, pemain teater, aktif di Kelompok Seni Teku dan Komunitas Rumah Lebah

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

Advertisements

Oleh Muhammad Abe*

Sebelum Pertunjukan

Malam tanggal 4 Agustus 2009,  Rendra Bagus, salah satu aktor Kelompok Seni Teku berdiri di pinggir jalan di depan Pendopo Blumbang Garing milik Ong Harry Wahyu, di kampung Nitiprayan. Tangannya memegang kentongan. Dia membunyikannya, dan dengan Bahasa Jawa halus yang baik dia mengundang warga yang tinggal di sekitar pendopo untuk datang menonton pertunjukan yang akan segera dilangsungkan. Dengan ramah Rendra menjawab celotehan warga kampung yang menimpali kata-katanya, sembari tetap berusaha mengajak mereka untuk melihat “tontonan” di Pendopo Blumbang Garing itu.

Saya masih ingat Rendra tidak menggunakan kata “teater” untuk mengundang penonton, melainkan “tontonan”. Begitu pula dia tidak menyebutkan bahwa pertunjukan tersebut digelar dalam rangkaian Festival Teater Jogja yang diselenggarakan oleh Yayasan Umar Kayam dan Taman Budaya Yogyakarta. Dia hanya mengajak penduduk sekitar untuk menonton lakon yang akan disajikan Kelompok Seni Teku malam itu. Mungkin, teater dan berbagai macam istilah dan kegiatan di dalamnya, tetap saja sesuatu yang janggal dan asing bagi warga sekitar pendopo, meskipun di sana sudah sering berlangsung pertunjukan atau latihan untuk pertunjukan.

Saat pertunjukan

Pertunjukan berlangsung di pendopo bertingkat tiga. Tingkat dasar berada lebih rendah dari tempat penonton berupa blumbang (kolam) yang sudah tidak dipakai (garing, tidak terisi air), tingkat kedua berada sejajar dengan penonton berupa lantai di atas blumbang, sementara tingkat ketiga berupa ruangan tertutup berdinding bambu. Ruang di tingkat tiga ini digunakan sebagai backstage.  Sementara itu, penonton berada di pendopo yang lain, tepat di depan tempat pertunjukan, duduk di atas bilih-bilih bambu beralaskan tikar. Ada sekitar 150 penonton malam itu. Mereka yang tidak kebagian tempat duduk berdiri di rerumputan di samping pendopo, atau duduk agak ke belakang di dekat angkringan.

Pertunjukan ini membawakan naskah yang ditulis Ibed Surgana Yuga berjudul Kintir; Anak-anak Mengalir di Sungai. Ada beberapa kisah di dalamnya yang tidak selalu bersangkut-paut —berupa fragmen-fragmen terpotong di satu sisi, tapi secara tematis bersinggungan di sisi yang lain. Satu kisah bertutur tentang Dewi Gangga yang dikutuk turun ke bumi untuk melahirkan tujuh manusia, yang kesemuanya kelak akan dihanyutkan ke sungai kecuali satu anak yang kelak dikenal sebagai Bisma. Kisah tersebut bersanding dengan kisah seorang pelacur dan ketujuh anaknya yang hanyut ke sungai, serta beberapa kisah lain yang muncul di tengah pertunjukan.

Kintir bercerita tentang ibu, tentang bagaimana dia bekerja keras merawat keluarga dan anak-anaknya. Bila tak ada uang tersisa, maka tubuhnya yang ia jual untuk semangkuk nasi dan lauk bagi anak-anaknya hingga ia lupa siapa sebenarnya ayah dari anak-anaknya. Tapi anak-anak, tetaplah anak-anak, mereka hanya bermain dan terus bermain. Di tempat yang terlarang pun mereka tertawa terbahak-bahak, berlarian ke sana ke mari tanpa peduli, hingga seorang anak tidak sengaja jatuh dari jembatan, dan hanyut terbawa aliran sungai. Satu persatu anak-anak itu hanyut hingga tinggal satu anak tersisa, Bisma, yang harus menghadapi takdirnya —maju ke medan perang untuk membela nama baik ibunya. Perang Kurusetra, peperangan yang ia ragukan kegunaannya, kecuali untuk membuktikan rasa terima kasihnya pada ibu yang sudah melahirkan dan menjaganya.

Usai Pertunjukan

Penonton beringsut dari tempat duduknya, pulang ke rumah masing-masing. Para aktor beristirahat sambil menemui penonton yang tersisa. Orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan sibuk membersihkan panggung, esok malam mereka akan melakukan pentas sekali lagi. Malam itu ada hiburan bagi warga sekitar Pendopo Blumbang Garing. Malam itu teater mencuri kesempatan untuk mengalihkan perhatian warga dari televisi, paling tidak untuk satu jam.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)

*****

Tim Kerja Kintir; Anak-anak Mengalir di Sungai

Penulis Teks & Sutradara: Ibed Surgana Yuga Pelaku: Pranorca Reindra, Joe DN, Marya Yulita Sari, Andika Ananda, Jibna Sudiryo, Cahyo, Sarinah Penata Bunyi: Lintang Radittya  Penata Cahaya: Agus Salim Bureg Penata Gerak: Rahmad Fuadi Pewujud Seting & Properti: Miftakul Efendi  Manajer Latihan & Panggung: Ade Puraindra  Produksi: Febrian Eko Mulyono, Dina Triastuti, Riski Pamulanita, Dimas, Rozita

Biografi Singkat Kelompok Seni Teku

Kelompok Seni Teku didirikan oleh Rendra Bagus dan Ibed Surgana Yuga, keduanya mahasiswa Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Pertunjukan pertama Kelompok Seni Teku adalah Nama-nama Yang Anonim (sebuah monoplay) dipentaskan pada 1 April 2005 atas undangan Panitia Festival Monolog Se-Bali.

Selama tahun 2005-2009 Kelompok Seni Teku telah memproduksi enam karya pertunjukan, yaitu: Sri 4 Me, Dongeng Yang Tak Pernah Diceritakan, Rare Angon dan Lubangkuri, Rare Angon, dan yang terakhir adalah Kintir yang dipentaskan dalam rangkaian Festival Teater Jogja I tahun 2009 kemarin. Karya-karya tersebut telah dipentaskan ke beberapa kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, serta Sumatera. Dalam empat tahun perjalanan mereka, Kelompok Seni Teku justru baru dua kali memanggungkan karya di Yogyakarta, yang pertama adalah Rare Angon yang dipentaskan pada pertengahan tahun 2008 untuk tugas akhir penyutradaraan Ibed Surgana Yuga di Jurusan Teater ISI.

Dalam keenam karya mereka, Kelompok Seni Teku selalu mengangkat dongeng-dongeng yang berkembang dalam tradisi lisan masyarakat, terutama dongeng-dongeng yang sudah lama dilupakan orang-orang. Tidak ada alasan khusus atas pilihan ini, namun Rendra Bagus mengaku proses untuk menuju pertunjukan Kelompok Seni Teku biasanya diawali atau diikuti dengan ingatan-ingatan mereka terhadap masa kanak-kanak.