Oleh: Andika Ananda

Hindra (skAnA) menawarkan pada saya untuk menulis tentang “Teater yang Menyenangkan”, pentas kolaborasi sepuluh aktor Yogya yang dipentaskan akhir Maret lalu dalam program Jagongan Wagen Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK).

Saya mengiyakan saja tawaran tersebut, walau saya belum tahu apa yang harus saya tulis. Apalagi pertunjukan tersebut sudah cukup lama berlalu, entah di mana catatan kecil tentang proses dan pentas tersebut saya simpan. Semoga cuma saya yang tidak terbiasa menulis catatan proses, di antara sepuluh orang pemain “Teater yang Menyenangkan” (TYM).

Berawal dari Sebuah Tawaran “Aneh”

Berawal dari sebuah tawaran via telepon yang datang dari YBK untuk mengisi Jagongan Wagen. Sempat ragu-ragu, tapi akhirnya saya setuju. Paling tidak untuk sekedar mencari pengalaman, pikir saya.

Dua hari berikutnya kesepuluh calon aktor dan aktris TYM bertemu di YBK. Di sinilah “persoalan” bermula, ketika Mas Besar Widodo menyampaikan idenya tentang membuat teater yang menyenangkan. Kami cuma bisa tertawa, bingung, dan saling pandang. Apa yang menyenangkan dari teater? Menyenangkan yang bagaimana? Bukankah menyenangkan untuk saya belum tentu menyenangkan bagi orang lain?

Secara sederhana mas Besar menjelaskan tentang bagaimana seandainya kita membuat sebuah pertunjukan teater yang tidak hanya mampu menyenangkan pelakunya, tetapi juga penonton. Perasaan menyenangkan yang diharapkan tidak hanya terjadi ketika pentas berlangsung atau usai pentas, tapi juga bagaimana mewujudkan sebuah proses penciptaan dan proses berteater yang menyenangkan dalam ekologi yang lebih luas.

Dalam waktu kurang lebih dua minggu, sepuluh aktor dan aktris dituntut untuk membuat sebuah pentas teater tanpa naskah dan tanpa didampingi sutradara. Lalu apa jadinya?

Setiap orang yang terlibat dalam kerja kolaborasi ini berasal dari berbagai komunitas yang berbeda, dengan kecenderungan ber-teater yang berbeda pula. Tita Dian Wulan Sari (Tita), Wiwara Awisarita (Sasha), Muhammad Nur Qomaruddin (Qomar), Djuaedi Ucog Lubis (Ucog), Feri Ludiyanto (Feri), Jami Atut Tarwiyah (Atut), Rheninta (Ninit), Febrin Eko Mulyono (Yayan), Marya Julita Sari (Iya’) dan dan saya sendiri Andika Ananda.

Masalah selanjutnya muncul ketika hampir semua pemain yang terlibat memiliki aktivitas padat di luar TYM, sehingga sulit untuk bertemu dalam satu waktu.. Akhirnya jadwal latihan disesuaikan dengan aktivitas masing-masing pemain. Disepakati bahwa siapapun yang bisa bertemu di satu waktu, walaupun tidak lengkap bisa tetap melakukan eksplorasi.

Setelah beberapa kali latihan, bukannya menemukan apa yang akan kami pentaskan, justru sebaliknya kami menemukan kebingungan dan kebuntuan. Kerja kolaborasi memang tidak mudah, apalagi dalam waktu yang begitu singkat.

Di tengah kebingungan, proses latihan tetap berjalan. Singkat cerita tanpa disadari, kami menemukan beberapa hal. Sampai akhirnya kami sepakat untuk membuat empat (4) repertoar dalam durasi kurang lebih satu jam. Empat reportoar tersebut antara lain: Dream to Play, Blue Job, Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi, dan yang terakhir adalah Trisno Falling in Love.

Dream To Play menjadi repertoar pembuka. Repertoar yang dibuat minim dialog ini menjadi adegan perkenalan bagi tiap pemain. Dream to Play menceritakan tentang sepuluh pemain teater yang berlatih bersama dalam sebuah proses. Dari awal sudah nampak bagaimana ketidakkompakan di antara mereka. Konflik mulai muncul di tengah latihan ketika sebagian di antaranya serius berlatih, sementara yang lain tidak ingin serius berlatih.

Adegan digambarkan dengan dua karakter koreografi yang sengaja dibuat kontras antara dua kelompok. Di puncak konflik, tiba-tiba salah seorang pemain mengatakan sutradara (Iya’) sudah datang. Seluruh pemain kebingungan, dan berlarian ke sana kemari. Hilir mudik pemain tak karuan ketika Iya’ masuk panggung masuk dan meminta seluruh pemain untuk menyiapkan sebuah adegan.

Dream to Play. Foto: Sigit Kurniawan

“Meja!” teriak Iya’, salah seorang pemain pun seolah-olah menjadi meja. “Kursi”, pinta Iya’ lagi, pemain lain serta merta menjadi kursi. Demikian seterusnya hingga panggung menjadi sebuah ruang tamu yang di dalamnya berisi berbagai perabot yang “terbuat” dari para  pemain. Repertoar ini ditutup dengan perintah “action” dari sutradara dan panggung blackout.

Repertoar ke dua berjudul “Blue Job”. Repertoar diawali dengan adegan mesra antara Tita dan Ucog, yang digambarkan melalui eksplorasi gerak tubuh. Tak disangka-sangka saat sedang asyik mesra, Ucog baru menyadari kalau Tita sebenarnya sudah memiliki kekasih, yaitu Yayan. Dengan perasaan terluka Ucog pun pergi meninggalkan Tita. Setelah Ucog keluar, masuk Yayan dengan begitu marah, memandang Tita dan hendak berlalu. Tita mencoba untuk menghalangi ke manapun Yayan pergi. Adegan dibuat sedikit koreografis dan atraktif. Hingga di puncak adegan, “kita putus!” ucap Yayan sambil keluar. Tita hanya terdiam di tengah panggung sambil menatap Yayan yang berlalu.

Berikutnya Tita menelpon temannya (Sasha) yang sedang asyik mengetik, “Halo”, jawab Shasa, “Sha aku putus” balas Tita.. Sasha menelpon Iya’ yang sedang asyik memasak di dapur, Sasha menceritakan bahwa Tita putus dengan Yayan. Tak berhenti sampai di situ, Fery tiba-tiba masuk dalam keadaan terhuyung, nampak Fery dalam keadaan mabuk, ia mandi di bawah pancuran. Handphone Fery berdering, ternyata telepon dari Iya’, Iya’ menceritakan putusnya hubungan Tita dan batalnya rencana pernikahan Tita dan Yayan. Adegan ditutup dengan kata “selingkuh” dari ketiga pemain.

Terciptanya repertoar “Dream To Play” dan “Blue Job” ini diawali dari ide untuk menciptakan imaginasi tentang ruang, benda dan peristiwa. Sangat minimalis, minim porsi dialog dan tanpa menggunakan properti tambahan. Pemain menggambarkan adegan dan peristiwa dominan menggunakan tubuh (gerak). Adegan saat Iya’ memasak misalnya, Iya’ hanya melakukan gerakan keseharian saat seseorang benar-benar memasak di dapur dengan berbagai peralatan dapur. Begitu juga adegan yang lain.

Repertoar ke tiga berjudul “Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi”. Diawali dengan musik yang mengesankan suasana kepadatan lalu lintas dan hiruk pikuk kota. Sesuai dengan judulnya, repertoar ini dimainkan oleh empat orang, yaitu Shasa, Atut, Iya’, dan Tita. Sama dengan dua repertoar sebelumnya, dalam repertoar yang berdurasi kurang lebih dua belas menit ini, adegan diekspresikan melalui tubuh (gerak), vokal yang muncul hanya berupa interjeksi untuk memberi penekanan pada gerak dan peristiwa.

Berbeda dengan dua repertoar sebelumnya, dalam repertoar ini satu persatu pemain muncul dari arah penonton. Setelah di atas panggung mereka menciptakan ruang imajinasi, seolah-olah sedang gelisah menunggu kendaraan di pinggir jalan. Kadang bergantian, kadang serempak empat orang gadis ini melambaikan tangan kepada setiap kendaraan yang melintas, namun tidak ada satupun yang berhenti. Sampai akhirnya mereka melihat taxi dan saling berebutan. Tapi tak satupun dari mereka mendapatkannya sampai panggung gelap kembali.

Terciptanya repertoar ini bisa dibilang tanpa sengaja, yaitu ketika Shasa, Atut, Iya’, dan Tita mencoba untuk melakukan eksplorasi gerak bebas. Walaupun tidak berangkat dari tema tertentu untuk pijakan eksplorasi, tak disangka terjadi gerak saling respons yang komunikatif. Gerak saling tarik, dorong, lompat seolah-olah menemukan “teks”-nya sendiri. Jadilah sebuah repertoar tentang Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi”.

Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi. Foto: Sigit Kurniawan

Repertoar terakhir berjudul “Trisno Fallling in Love”. Dari keempat repertoar, hanya repertoar ini yang sengaja memakai improvisasi dialog verbal dan dibuat lebih “cair”. Repertoar yang dimainkan oleh tiga orang (Qomar, Ninit, Andika) ini dominan menggunakan bahasa Jawa.

Repertoar terakhir ini memang cukup mampu membuat penonton tertawa. Dalam “Trisno Fallling in Love”, diceritakan tentang suami istri yang tidak lagi harmonis setelah sekian tahun menjalani hubungan rumah tangga. Saat terjadi percekcokan di antara mereka, tiba-tiba Trisno (Andika) muncul dan memanggil si suami (Qomar) sambil menghampiri dan menyentuh pundaknya. Dari sinilah terbuka kedok si suami, yang ternyata selama ini biseksual. Adegan ditutup dengan “rengekan” Trisno, yang menceritakan betapa hancur hatinya, dan meminta dukungan kepada penonton lewat “koin untuk Trisno”.

Dalam repertoar yang begitu satir ini, pemain berusaha menciptakan adegan dan dialog yang bukan bertujuan untuk melucu, namun menciptakan sebuah peristiwa yang mampu menciptakan kesan (menggugah) lucu bagi penonton. Bila salah satu indikator senang itu adalah tertawa, mungkin di sinilah salah satu letaknya. Bukan serta-merta untuk menghibur atau melucu, tapi menciptakan persepsi dan kesan, yang bisa dimaknai apapun oleh penonton, termasuk tertawa!

Bila saya harus melucu malam itu, mungkin lebih baik saya menjadi pelawak ketimbang pemain teater!

Teater “Tanpa Naskah dan Sutradara”

Sengaja saya kutip dari tulisan (review) di koran Kedaulatan Rakyat (3/04/10) tentang “Teater yang Meyenangkan”:

Tentu bukanlah hal yang baru, ketika proses penciptaan sebuah garapan teater tidak berangkat dari naskah (teks) dan gagasan sutradara. Apalagi jika kita tidak berpikir secara un sich tentang teks dan sutradara (baca:kerja penyutradaran).

Banyak pementasan teater yang tidak berangkat dari teks unsich, tapi berangkat eksplorasi ruang, musik, gerak dan berbagai elemen artistik lainnya. Pada pola penciptaan seperti itu, dalam perjalanan proses pencarian, pencataan, dan presentasi selama latihan, sebenarnya juga telah terjadi kerja intertekstualitas, di mana teks ruang, teks tubuh, gerak, kata, dsb bertransformasi untuk menciptakan keutuhan “teks” pentas. Di sinilah sutradara bekerja sebagai interpreter yang menganyam keseluruhan gagasan dan penemuan yang muncul selama proses eksplorasi. Bisa jadi teks baru terwujud usai pentas, atau bahkan tak selesai sama sekali.

Keempat repertoar dalam teater yang menyenangkan dibuat begitu minimalis. Tidak ada satu setting (properti dan dekorasi) di atas panggung, kostumpun sengaja dibuat massif, hitam-putih. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri, di mana kami harus menciptakan kekayaan simbol dan makna. Apalagi yang dilakukan oleh aktor, selain harus memaksimalkan potensi tubuh (baca: diri) nya.

Bukan bermaksud berapologi, kami sadar dengan apa yang kami capai malam itu. Walau waktu bukan satu-satunya ukuran, namun waktu dua minggu sangatlah tidak cukup untuk sebuah kerja kolaborasi dan menciptakan sebuah pertunjukan teater yang benar-benar sublim!

Paling tidak, saya merasakan sesuatu menyenangkan dari apa yang telah saya lakukan malam itu. Mungkin rasa menyenangkan yang saya rasakan berbeda dari sembilan orang lain yang terlibat dalam TYM, apalagi penonton! Tapi apapun makna “menyenangkan” bagi kita, semoga teater menjadi sesuatu yang “lebih dari menyenangkan”! Paling tidak untuk saya pribadi. Terima kasih.

* Andika Ananda, pemain teater, aktif di Kelompok Seni Teku dan Komunitas Rumah Lebah

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

Advertisements

Jagongan Wagen 24 Oktober 2009

Oleh: Agnesia Linda

Petang itu, 24 Oktober, hujan cukup deras menguyur komplek Padepokan Seni Bagong Kussudiardja hingga membuat orang-orang yang sedang mempersiapkan Jagongan Wagen sedikit tergopoh-gopoh menyelamatkan peralatan elektronik dari air hujan. Jam setengah delapan kurang, beberapa motor sudah terparkir di belakang kantor YBK (Yayasan Bagong Kussudiardja). Itu melegakan bagi pihak penyelenggara karena cuaca agaknya tidak menjadi persoalan bagi orang-orang untuk datang ke Jagongan Wagen. Malam itu Jagongan Wagen bertajuk „Dance Energi“ mengundang dua koreografer Jogja dari dua generasi yang berbeda untuk mempresentasikan karya terbarunya. Mereka adalah Sutopo Tedjo Baskoro dan Satriyo Ayodya.

Dalam wawancara sesaat sebelum tampil, Satrio menyatakan bahwa melalui karyanya yang berjudul REMOVE, ia bersama tiga penari pria dan satu wanita hendak mengungkapkan pikir dan rasanya tentang komunitas seni tari Jogja yang terkotak-kotak spirit energinya. Masing-masing warna energi komunitas, yaitu tari tradisi, kontemporer, dan kerakyatan, baginya mengkotak-kotakkan diri seolah tidak mau saling bersinggungan.

Pada pertunjukan pertama ini, sosok tubuh Satrio muncul di bawah sorotan back light, rambut gondrongnya yang merah nampak seperti bara api. Keempat penari dengan mulut terbungkam plester dan kedua kaki terikat tali kain, menari meliuk-liukkan tubuhnya dalam kotak kardus. Tanpa kesulitan beberapa adegan akrobatik mereka lakukan. Hal itu menimbulkan kesan bahwa kotak kardus yang mereka kenakan tidak diperlakukan sebagai kostum melainkan sebagai organ tubuh. Beberapa saat kemudian seorang penari mulai terlepas dari kotak kardus dan jeratan tali di kakinya, membuka bungkaman plester di mulut, kemudian disusul oleh ketiga penari lainnya. Ketika itu ekspresi mereka seolah-olah baru terbebas dari sebuah belenggu yang luar biasa. Kemudian gerakan-gerakan rampak dengan power yang penuh mulai memenuhi ruang pangung.

Tarian karya Satriyo Ayodya

Bila Satriyo membawa kotak-kotak kardus, lain halnya dengan koreografer yang kedua, Sutopo Tedjo Baskoro (pak Topo),  koreografer senior dari Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja yang dulu adalah asisten utama alm.Bagong Kussudiardja. Ia membawa empat kayu berdiameter kurang lebih 20 cm dan panjang 3 m dengan bambu-bambu runcing bak duri raksasa terpasang di sekujur batangnya. Keempat kayu itu di gantung pada ketinggian 1,2 m dengan posisi horizontal. Sempat terpikir bagaimana cara para penari nantinya bergerak dengan panggung yang demikian penuh dengan batang pohon berduri raksasa itu.

Sebelum pertunjukan kedua dimulai sembari menunggu pergantian setting, MC dan pak Topo ngobrol tentang karya yang akan dipentaskan. Karya pak Topo ini berjudul KAWALAHAN. Inspirasi digali dari Langen Wandra Wanara, sebuah reportoar tari klasik Yogyakarta. Salah satu kekuatan Langen Wandra Wanara terletak pada teknik menarinya. Dalam reportoar ini penari menari pada level rendah di sepanjang tarian,  dengan cara berjongkok, jengkeng, duduk, dll. Judul KAWALAHAN sendiri mewakili kisah masyarakat bawah yang senantiasa bergerak, menunjukkan kemampuan dan kekuatan diri sebagai manusia yang tidak ingin/tidak mau di-BAWAH-kan. Kemudian MC meminta pak Topo untuk menunjukkan beberapa gerak level bawah yang menginspirasi karyanya itu. Pak Topo pun memeragakan beberapa ragam gerak. Sungguh memukau, warna klasik nan anggun ia gerakkan dengan penuh energi. Dengan demikian terjawab sudah pertanyaan awal tentang bagaimana nantinya para penari akan menari di antara batang kayu berduri raksasa tersebut.

Tiga penari pria muncul dengan baju berwarna kuning kusam, gerakan mereka relatif bervolume besar namun senantiasa berada di level bawah. Meskipun sama sakali tidak berdiri, mereka mampu menguasai pangung. Kemudian tiga penari perempuan masuk dari sisi kanan belakang panggung. Mereka juga memakai baju yang berwarna sama, terlihat kusam dan pucat namun anggun. Komposisi gerak-gerak rampak dan bebas level bawah membuat pola lantai sangat dinamis. Hal itu menjadikan petunjukan tidak terasa monoton, walaupun warna yang mendominasi efek visual baik dari kostum yang dikenakan maupun batang-batang berduri raksasa itu begitu pucat. Justru warna itu memunculkan nuansa kontemplatif. Tatanan panggung, make up dan kostum tidak hanya dihidupkan oleh energi gerak tubuh namun juga ekspresi wajah para penari. Hal itu sangat kuat terasa pada adegan di mana keenam penari berteriak tanpa suara, mereka membuka mulut lebar-lebar dengan mata terbelalak dan mengeliat kesana kemari. Ragam gerak klasik memang nampak pada beberapa adegan namun tidak banyak. Karya Pak Topo ini sangat-sangat kontemporer, sangat paradok dengan sosok Pak Topo yang nampak begitu mentradisi, begitu juga dengan ilustrasi gerak klasik yang ia peragakan di sesi wawancara tadi.

Tarian karya Sutopo Tedjo Baskoro

Seusai pertunjukan seperti bisanya para penonton turun ke pelataran depan studio Kua Etnikan untuk menikmati minuman (malam itu tersedia teh, kopi, dan setup jambu) yang telah disediakan oleh tuan rumah. Minuman-munuman hangat itu menemani semua orang untuk ngobrol atau sekedar duduk di suasana yang dingin selepas hujan dan Jagongan Wagen malam itu pun  tampak begitu hidup.

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)

Oleh: Muhammad Abe*

Panggung gelap. Enam korek api menyala. Sebentar kemudian cahaya dari korek api itu mati, lalu enam korek api menyala lagi. Dari cahaya yang ditimbulkan oleh keenam batang korek api itu penonton dapat melihat enam sosok tangan yang menyalakan korek api, beberapa di antaranya terlihat seukuran tangan bocah kecil. Enam sosok ini terlihat bergerak, berubah posisi dalam koreografi yang teratur. Cahaya redup dari korek api itu bergantian menyinari tangan dan kaki para aktor dari berbagai usia itu.

Adegan awal pertunjukan Plencung Two yang dibawakan Teater Ruang (Surakarta) di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja dalam program Jagongan Wagen pada tanggal 27 April yang lalu itu membuat sebagian penonton terkejut. Mungkin karena terbiasa menyaksikan pertunjukan yang menggunakan intensitas cahaya lebih besar, tangan atau kepala yang muncul dari api korek yang terbakar itu pada awalnya memang terlihat seperti potongan-potongan tubuh yang tercerai berai.

Di tengah pertunjukan, sosok lain muncul. Duduk di tengah-tengah ruangan di antara penonton, ia menyalakan korek api.  Dari ukuran tubuhnya dapat diperkirakan bocah perempuan itu seusia anak kelas 5 SD. Ia kemudian berdiri dan menyanyikan Suluk Plencung, tembang tentang hantu-hantu yang menakutkan di sekitar kita. Bocah itu lalu berjalan menuju panggung, sambil terus bernyanyi. Di atas panggung ia menyalakan pelita yang sudah berada di tengah-tengah ketujuh aktor yang lain. Seorang laki-laki (yang sekilas terlihat) tanpa kepala tiba-tiba berdiri di atas pelita tersebut. Kemunculan laki-laki ini membuat sebagian penonton menutupi wajahnya karena terkejut dan takut. Laki-laki itu menyanyikan sebuah tembang, permintaan tolong dari seseorang yang telah tenggelam ke dalam sumur yang dalam.

*****

Dalam wawancara yang dipandu oleh Besar Widodo sebelum pertunjukan berlangsung, Joko Bibit, sutradara pertunjukan menjelaskan karya ini didasarkan pada pengamatan atas kebiasaan orang-orang yang ia rasa terlalu konsumtif; membeli HP, perhiasan, kendaraan, dan berbagai macam pernak-pernik lain. Sementara, ia dan kawan-kawan di Teater Ruang mempertanyakan apakah barang-barang tersebut benar-benar dibutuhkan; jangan-jangan, mereka telah diperbudak oleh ide tentang modern yang mungkin sekali didapat dari apa yang mereka lihat di televisi.

Pertunjukan ini—seperti disebutkan dalam undangan dari penyelenggara­—berangkat dari sebuah tembang yaitu Suluk Plencung, berisi nama-nama setan yang menghuni Pulau Jawa. Plencung sendiri adalah alat yang terbuat dari bilah bambu yang di atasnya diberi gumpalan tanah merah lalu dilecutkan. Alat ini biasanya digunakan untuk mengusir burung di area persawahan. Dalam undangan juga disebutkan bahwa pertunjukan ini akan menonjolkan eksplorasi tubuh sebagai medium utama pertunjukan; sedangkan konsep pencahayaan didesain khusus untuk membangun suasana natural, magis, dan meditatif.

Memang benar, penggunaan cahaya yang terbatas itu menghadirkan kesan bayangan tubuh yang tidak sempurna, tidak lengkap, terkadang tercerai-berai. Didukung dengan koreografi yang teratur dan kompak dari aktor-aktornya—yang semuanya bisa split, berguling-guling, dan salto—pertunjukan Plencung Two mampu mencekam penonton yang hadir malam itu.

Di saat teknologi merambah ke keseharian manusia, lewat Plencung Two Teater Ruang berusaha untuk mengambil jarak pada teknologi, dan juga berarti pada modernitas. Nampaknya dalam usaha mengambil jarak tersebut, pertunjukan ini tidak menghadirkan banyak set atau tata cahaya terang benderang, yang kesemuanya mensyaratkan kemampuan memahami dan menguasai teknologi. Teater Ruang berusaha kembali ke kesederhanaan tubuh manusia, ke kesegaran tubuh di masa kecil yang lentur dan liar (meski menurut Helmi, salah satu aktor Teater Ruang, beberapa aktor yang masih bocah itu malah lebih kesulitan melakukan gerak split dibanding dirinya). Mungkin karena itu juga beberapa anak kecil dilibatkan dalam karya ini. Gerak tubuh dan celotehan mereka menghadirkan keluguan dan kelucuan yang meredakan suasana mencekam dalam pertunjukan. Lewat kesederhanaan, Teater Ruang memberikan kekuatan pada pertunjukan ini. Mereka mencoba bersikap kritis pada percepatan modernitas yang saat ini sudah merambah hingga pelosok-pelosok desa―tak terkecuali desa di mana Teater Ruang hidup dan berkarya.

*****

Laki-laki yang seolah tanpa kepala yang telah muncul di awal, mengakhiri pertunjukan dengan kembali menyanyikan tembang yang sama dan tetap membuat sebagian penonton terkejut. Segera setelah penonton bertepuk tangan, lampu-lampu dinyalakan dan kini terlihat tubuh-tubuh bocah yang menjadi aktor dalam pertunjukan tadi. Salah seorang di antara mereka berpotongan rambut mohawk, model yang menjadi tren bagi anak-anak muda masa kini. Jadi, siapa bilang tukang protes harus menolak segala sesuatu yang diprotesnya? Apalagi bila ia masih muda dan lugu tentu saja.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

*****

Komentar Penonton:

“Mrinding,.. gelap… mistis,banjir dan anak-anak membuatku teringat pad pengalaman-pengalam pribadi di masa lalu” (Heri Sudarmanto, 28 tahun, staff Yayasan Bagong Kussudiardja)

“Gelap sekali. Lagunya bikin takut, kok bisa ya. Kelihatannya ceritanya tentang hantu-hantu yang menakutkan gitu yah.” (Disti, 21 tahun, Mahasiswa)

“Menarik ya teater. Minimalis tapi bisa menghadirkan peristiwa yang mencekam, terkadang lucu juga.” (Nora, 24 tahun)

oleh: Andy Sri Wahyudi*

Foto: Anneke Putri Purwidyantari

Semula hanyalah obrolan ringan para perempuan perihal relasi dengan suami dan konflik rumah tangga. Mereka seperti ibu-ibu rumah tangga yang tengah melepas lelah setelah menyelesaikan tugas sehari-hari. Penampilan mereka menampakkan usia yang tak lagi muda, sekitar 40-an, dan berkebaya. Mereka berada dalam panggung yang ditata secara sederhana namun menarik: sebuah meja kayu berada di tengah, payung-payung kertas di samping kanan depan, dan atap panggung digelantungi burung-burung dari kertas (origami). Mereka menyebar di setiap sudut panggung dan satu tokoh berada di tengah. Di sesela obrolan itu, seorang di antara mereka mendaraskan sebuah tembang ditingkahi suara seruling besar yang ditiup seorang perempuan cantik di sudut panggung belakang.

Begitulah adegan awal dari pertunjukan Gathik Glinding yang berhasil menarik perhatian sekitar 300 penonton pada 30 Mei lalu. Pertunjukan teater tari itu dibawakan oleh kelompok Sahita dari Surakarta, pada acara Jagongan Wagen di Padepokan Seni Bagong Kussudihardja. Kelompok Sahita terdiri dari lima orang perempuan yaitu Wahyu Widayati, Sri Lestari, Sri Setyoasih, Atik Kenconosari, dan Ira Kusumorasri.

Hampir di sepanjang pertunjukan terdengar suara gelak tawa penonton. Apalagi ketika para perempuan itu mulai menari dengan koreografi gerak yang terkesan seenaknya namun sangat menarik bentuknya. Sebagai contoh, saat semuanya menari sambil berjalan melingkar, tiba-tiba ada yang berlari keluar lingkaran untuk mengambil tempat yang aman dari kemungkinan tertabrak oleh penari di belakangnya. Koreografi  tarian seolah dibuat sekenanya, tampak seperti para perempuan tua yang sedang belajar menari sambil bercanda memplesetkan pakem tari tradisi menjadi tarian yang komikal dan segar. Sementara itu musik tari—yang berasal dari suara mulut salah seorang penari yang menirukan suara gamelan—kadang berbunyi sekehendak hati sehingga membuat irama menjadi kacau dan gerak menjadi tampak konyol.

Tema yang diangkat dalam pertunjukan ini cukup beragam mulai dari isu politik, gender, hingga pertentangan antar generasi. Bahasa yang digunakan tak sepenuhnya bahasa Jawa, melainkan campuran Indonesia–Jawa. Dengan gaya teater sampakan, mereka mengolok-olok kekuasaan dan menjadikan peristiwa-peristiwa kontroversial menjadi guyonan yang banal. Seperti ketika membahas penguasa  tua yang mati meninggalkan beban hutang negara, yang harus ditanggung sampai tujuh generasi. Tokoh mhah Blembem yang merasa tua dan turut menikmati hutang itu dengan santainya menyalahkan Cempluk sebagai generasi muda, “Salah sendiri lahir belakangan.” Tak kalah seru ketika isu gender mulai dibahas, kelima perempuan itu berteriak lantang “Poligami no! Poliandri yes!” Kontan penonton bersorak, disusul derai tawa panjang. Di tangan Sahita, kasus-kasus besar itu menjadi sederhana, segar, sekaligus provokatif.

Menjelang bagian akhir pertunjukan, muncullah konflik yaitu ketika suami-suami mereka tertarik pada Geyong Kanthil, gadis cantik yang masih muda. Kecantikan Geyong Kanthil memang mempesona, mengalahkan mereka berempat yang sudah mulai uzur. Digambarkan Geyong Kanthil merokok di atas meja di tengah panggung, lantas mengepulkan asap rokok. Perlahan ia berdiri sambil melantunkan sajak liris, sementara keempat perempuan yang lain tersungkur di seputarnya. Adegan itu seperti menggambarkan tergusurnya ketuaan oleh gairah dan hasrat muda yang menyala.

Sejatinya dalam pementasan Gathik Glinding ini kelompok Sahita hendak menyuarakan sebuah dobrakan terhadap dominasi laki-laki baik di ranah domestik maupun pemerintahan (politik). Sudah bukan masanya lagi perempuan dijadikan second person, namun perempuan berhak bersuara dan berperan di semua lini kehidupan.

Datangnya ide dan proses kreatif Sahita

Gathik Glinding bukan karya pertama dari Sahita, sebelumnya mereka telah mementaskan beberapa repertoar seperti Srimpi Srimpet dan Pangkur Brujul. Karya demi karya mengalir seiring perjalanan proses kreatif mereka. Kelompok Sahita menggarap karya-karyanya dengan proses yang sederhana dan unik. Dikatakan oleh Wahyu Widayati yang akrab dipanggil mbak Inong dalam sesi wawancara setelah pentas yang dimoderatori oleh Butet Kartaredjasa, biasanya ide tidak dicari-cari tapi datang ketika jagongan dan obrolan santai. Dari situlah kemudian ide dimatangkan. Secara teknis, kelompok yang berdiri tahun 2001 ini banyak belajar tari dan nembang dari para guru tari dan saling mengajari nembang satu sama lainnya. Selain itu mereka juga rajin mengikuti workshop-workshop tari. Mereka merangkai ide dan teknik kreatif  menjadi jalinan karya teater tari yang seru, segar, dan gokil habis.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

—-

Komentar Penonton:

Amazing…sempurna..Seumuran ibuku masih bisa main teater?  WOWW!! Nonton Gathik Glinding tuh…rasanya kayak ciuman pertama…ahahaha… (Ayu Indra Ciptaningrum, Mahasiswa UNY, jurusan Matematika semester 4, usia 20 tahun…)

Melihat pertunjukan Gathik Glinding, jadi inget nenek saya kalau lagi “ngudang” cucu-cucunya, sumeleh, ger-geran tapi dalam maknanya, seperti sudah maklum sama dunia. Adegan perempuan berdeklamasi kok bikin rasanya jadi puber lagi ya? (Gozali, Pekerja Seni, usia 26 tahun)

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Kali ini seri Jagongan Wagen di Padepokan Bagong Kusudiardjo menampilkan kelompok Ketoprak Ngampung Balekambang, Surakarta. Kelompok ini beranggotakan anak-anak tobong dari Ketoprak Balekambang, yang sampai pada pertengahan tahun ’80-an sering tampil di Surakarta. Beberapa anak tobong kemudian berinisiatif untuk mengaktifkan kembali kelompok ketoprak yang sempat mati suri ini. Dengan anggota sebagian besar anak-anak muda (aktornya bahkan masih ada yang bocah), mereka menamakan dirinya menjadi Ketoprak Ngampung. Penamaan ini berasal dari kebiasaan mereka yang sering tampil di kampung-kampung, tapi bukan berarti membatasi pertunjukan hanya diselenggarakan di kampung saja. Karena selain di kampung mereka juga pernah pentas di sebuah mall di Surakarta. Kelompok Ketoprak Ngampung Balekambang sangat terbuka pada tempat-tempat pertunjukan yang lain.

Sebelum pertunjukan ada bincang-bincang  singkat dengan Dwi Susmanto, sutradara “Pasung”, dan Joleno, senior di Ketoprak Ngampung Balekambang, yang dipandu oleh Besar Widodo. Dalam perbincangan itu, terungkap keinginan mereka untuk tetap nguri-uri kebudayaan Jawa serta keinginan untuk mempertahankan Bahasa Jawa di tengah banyaknya pilihan kebudayaan yang ada sekarang. Mereka merasa bangga karena sebagai anak muda masih merasa perlu untuk mempertahankan “ke-Jawaannya”. Bincang-bincang itu berakhir dengan teriakan “Hidup Bahasa Jawa”, yang dibalas dengan tepukan tangan para penonton.

Malam 29 Juni yang lalu, tikar-tikar yang digelar di hadapan panggung untuk tempat duduk para penonton yang memilih lesehan, masih terlihat ada yang lowong ketika pertunjukan akan dimulai. Begitu  juga dengan deretan kursi-kursi yang ada di belakang. Lalu gamelan mulai ditabuh, sebuah tembang pembuka dinyanyikan. Perlahan-lahan tempat-tempat lowong diantara penonton itu mulai terisi penuh, bahkan hingga ke pinggir-pinggir panggung. Ternyata para penonton setia berada di tempatnya sampai pada akhir pertunjukan.

Panggung pertunjukan berupa sebuah meja, dan beberapa instalasi dari tali, bambu, serta ijuk, yang menggambarkan rumah di sebuah desa. Di atas meja seorang anak laki-laki tidur telentang, dengan kaki dipasung. Ngamid, anak yang dipasung itu, merasa kesepian,  ia ingin melihat dunia luar, ingin bermain dengan teman-temannya. Tapi bapaknya selalu melarang siapapun yang bermain ke rumahnya. Namun teman-temannya sering datang dengan sembunyi-sembunyi ketika bapaknya sedang pergi bekerja. Mereka mengajak Ngamid bermain-main, dan menceritakan tentang keadaan dan kebiasaan-kebiasaan di dunia luar, Ngamid makin merasa kesepian ketika teman-temannya itu diusir bapaknya. Sementara bapaknya sendiri tidak pernah menjelaskan alasannya memasung Ngamid.

Justru tetangga-tetangganya yang menjelaskan, dengan gaya bicara dan tingkah yang lucu, mereka bergantian tampil menjelaskan mengapa Ngamid sampai dipasung. Hingga terjadi pertentangan antar tetangga yang mendukung pemasungan atau menolaknya. Bahkan mereka sempat berkelahi (tentu dengan bumbu dagelan) untuk mempertahankan pendapatnya. Tapi tidak ada yang tahu alasan sebenarnya kecuali Bapak Ngamid sendiri.

Akhirnya Bapak Ngamid menjelaskan alasannya ketika Ngamid yang sedang memimpikan ibunya merintih-rintih kesakitan, dia menjelaskan ketakutannya pada pengaruh-pengaruh yang buruk dari dunia luar. Ia bercerita tentang Istrinya, ibu Ngamid yang menjadi penari ledhek lalu dibawa lari lurah desa tetangga, kakak Ngamid yang tak pernah pulang ke rumah dan lebih memilih mabuk-mabukan bersama teman-temannya di kampung. Ia tak ingin kehilangan Ngamid yang disayangnya. Sambil menangis, bapaknya melepas pasungan Ngamid, merangkul dan menggendongnya, baru ia tersadar kalau Ngamid ternyata sudah mati. Ia berlari membawa Ngamid sembari berteriak, “Aja nganti masung anakmu dhewe..!” (jangan memasung anakmu sendiri!).

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

*****

Komentar Penonton

Bagus pertunjukan ini dari tradisional, tapi dibuat sedemikian rupa sehingga enak ditonton. Olah tubuhnya bagus dan adegan adegan menarik karena keliatan modern. Tapi saya tertarik soalnya ini menyangkut hal-hal kecil, tapi maknanya dalam seperti pemasungan. (Joko, 29, Teater Angin Tuban)

Di tengah bagus karena kita gak ada kesempatan untuk berhenti tertawa, dan ada satu pelawak yang aku suka banget ma dia. Soalnya tu pelawak bener-bener gak bisa berhenti ngelucu. (Putik, 22, lagi test CPNS)

Lucu, tapi serius. Pas awal-awalnya saya suka banget sama dua anak kecil yang mainan egrang.. sayang dua-duanya gak keluar lagi sampai akhir. (Agung, 28, Kadipaten Kidul)

Oleh Muhammad A.B.*

Delapan orang penari lelaki dan perempuan berjajar membentuk tiga barisan, semuanya melompat-lompat dengan ujung jari kaki menjadi tumpuan. Diiringi dengan musik India (atau Jawa? Saya kurang mendengarkannya) menghentak dengan tempo yang seiring dengan lompatan para penari. Tubuh para penari nampak sangat ringan. Di antara lompatan-lompatan itu, seseorang masuk ke panggung dan memberi aba-aba. Serempak mereka melompat sambil membuka lebar-lebar kedua kaki, begitu diulangi beberapa kali. Penonton tertawa dengan adegan ini, sederhana namun menghibur. Itu adalah salah satu fragmen dalam beberapa koreografi tari yang dibawakan Solo Dance Studio di Padepokan Yayasan Bagong Kussudiardja dalam Forum Jagongan Wagen.

Kesederhanaan Solo Dance Studio malam itu nampaknya malah membawa kesegaran bagi para penonton yang hadir di Padepokan Yayasan Bagong Kussudiardjo malam tanggal 25 Juli 2007 yang lalu. Para penari hadir tanpa make up dan tanpa kostum yang meriah. Lima pertunjukan tari yang dibawakan malam itu pun pendek saja, hanya berdurasi 5-10 menit.

Pada sebuah repertoar yang menggunakan empat penari perempuan misalnya, dengan fokus masih pada lompatan-lompatan kecil yang dilakukan oleh para penarinya. SDS kembali mengundang tawa, ketika seorang penari laki-laki dengan gerak karikatural seperti berlari lambat sambil membawa dua botol air mineral di ujung tangannya masuk ke panggung. Dua botol itu kemudian diberikan pada penari perempuan yang masih melompat-lompat di tengah panggung, penari laki-laki itu kembali berlari dalam gerakan lambat, keluar dari panggung. Segarnya air yang diminum, seakan ikut dirasakan oleh para penonton yang tertawa geli.

Repertoar tari yang terakhir berjudul “Tonggo”, dimainkan oleh pasangan penari laki-laki dan perempuan. Beberapa kali tubuh penari perempuan diangkat dan digendong oleh penari laki-laki, seperti halnya dalam tari Tango dari Argentina, judul repertoar ini memang plesetan dari nama tari Tango.

Beberapa kali gerakan akrobatik yang  dilakukan pasangan penari ini membuat para penonton berdecak kagum. Di akhir repertoar kedua penari ini saling memeluk punggung masing-masing, keduanya setengah duduk berjajar menghadap penonton. Lalu kedua kaki mereka berjinjit, dengan tumpuan ujung jari kaki mereka berjalan jinjit dengan langkah cepat berputar-putar di panggung. kembali para penonton dibuat tertawa geli. Dengan cara yang sama kedua penari keluar dari panggung. Ini merupakan repertoar terakhir di Padepokan Bagong Kussudiardja malam itu.

Pagelaran SDS malam itu menyisakan kesegaran, pertunjukan yang ringan dan sederhana. Beberapa kelemahan dalam pertunjukan malam itu, seperti tidak kompaknya beberapa penari dalam melakukan satu gerakan (hal ini diakui sendiri oleh Eko Supriyant, pimpinan SDS, ketika dia memandu acara) tidak lagi menjadi masalah yang besar, karena kesederahanaan yang diusung SDS mungkin memang memberi ruang untuk kesalahan bagi para penarinya di dalam pertunjukan.

Repertoar yang dibawakan pendek-pendek, namun gerakan-gerakan yang dibawakan para penari SDS malam itu menunjukkan kematangan dan persiapan. Mereka bisa mengembangkan gerakan dasar melompat menjadi berbagai macam gerakan akrobatik, baik individu maupun berpasangan. Semua repertoar di dalam rangkaian pertunjukan ini digarap sendiri oleh para penari muda Solo yang terlibat di dalam Solo Dance Studio. Dari judul dan bentuk tari yang mereka bawakan, para koreografer muda ini memilih untuk berangkat dari hal-hal yang sederhana, namun digarap secara serius.

Yang menarik lagi dari SDS malam itu, dalam semua repertoarnya mereka sepertinya berusaha untuk tidak tergantung pada musik pengiring. Awal dan akhir repertoar yang mereka bawakan selalau tidak bersesuaian dengan awal dan akhir musik pengiring yang diperdengarkan lewat dua pengeras suara di kanan dan kiri panggung. Mereka sudah mulai menari walaupun musik belum berbunyi, begitu juga di akhir ketika musik sudah berhenti, mereka masih tetap menari.

*Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

*****

Komentar Penonton:

“Mereka tidak tergantung sama musik. Asik. Gerakannya seperti silat.” (Anta, 24  Tahun, mahasiswa)

“lompat-lompat saja kok malah jadi tarian yah, badan mereka kok ringan-ringan gitu.. sebenarnya aku pengin melihat pertunjukan tari yang lebih serem, tapi ternyata kaya gitu asyik juga.” (Dyah, 21 Tahun, mahasiswi)

“Tariannya tidak seperti biasa, yang lambat.. kelihatannya ini seperti modern dance gitu ya,.. tapi gerakannya bagus-bagus kok..” (Vidya, 23 tahun, mahasiswi)