Oleh: Puthut Buchori*

Setiap ruang tentu memiliki ruh dan atmosfir tersendiri, namun jika spirit ruang tersebut tidak dimunculkan dan tidak dikelola secara kreatif, maka yang tampak hanyalah ruang yang kosong, dingin, dan tak bermakna.

Seorang arsitek adalah seseorang yang dapat memberi makna pada ruang atau sudut ruang terkecil sekalipun menjadi sesuatu yang berharga dan nyaman dipandang mata. Seorang pelukis pun secara teknik, emosi, imajinasi, dan fantasi tentu paham dengan kanvas atau media apapun sebagai ruang dalam berkarya, di mana dia harus menggoreskan makna, memberi fokus tontonan pada karya lukisnya. Seorang seniman seni pertunjukan tak ubahnya seorang arsitek ataupun pelukis yang harus mampu menciptakan ruang-ruang imajinasi yang dikelola dari ruang-ruang sederhana, atau bahkan dari ruang-ruang tak berharga yang lepas dari pandangan mata. Tim artistik Teater Kulonprogo (TeKaPe) Yogyakarta mencoba masuk pada posisi tersebut, yaitu menciptakan ruang baru untuk dapat memancing imajinasi penonton.

Pada perhelatan Festival Teater Jogja 2010, yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta bekerjasama dengan Yayasan Umar Kayam, TeKaPe sebagai salah satu peserta festival tersebut, sepakat untuk memilih naskah Umang Umang karya Arifien C. Noer (satu dari sekian judul naskah yang disediakan panitia). Naskah tersebut dipilih karena membuka kemungkinan untuk berimajinasi dengan ruang seluas-luasnya.

Dari karya hebat yang ditulis oleh maestro teater Indonesia ini, banyak kemungkinan yang dapat dieksplorasi secara visual dari sisi ruang pertunjukan. Naskah tersebut dikaji dan diinterpretasi ulang sesuai keadaan, kemampuan, dan kreatifitas yang dimiliki personil TEKAPE yang sebagian besar adalah pekerja-pekerja teater muda yang masih bersemangat membangun inovasi dan imajinasi baru di dalam proses berteaternya. Lakon Umang Umang diadaptasi dengan mengambil spirit humanity dan religiusitasnya (seperti pada naskah Arifin yang lain) menjadi bentuk lakon baru yang tentu akan sangat berbeda dengan pementasan Umang Umang produksi Teater Kecil atau kelompok teater lainnya. Tim artistik yang terdiri dari Muhammad Shodiq (sutradara), penulis (art director), dan Bandung Bondowoso Stage Management (visualizer), melakukan survei ke beberapa tempat sesuai konsep yang telah disepakati yakni sebuah pertunjukan yang dapat mengeksplorasi berbagai rupa (visual) pertunjukan dengan menggunakan unsur tanah, air, udara, dan api sebagai media dalam menggarap pertunjukan.

Pilihan jatuh pada jembatan kecil berukuran 3 x 5 meter di dusun Kalisoka, desa Margosari, kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo. Lingkungan di sekitar jembatan tersebut memiliki sudut-sudut artistik yang unik dan menarik berupa unsur air, unsur tanah, dengan berbagai macam tanaman yang cukup kuat memberi makna secara artistik, dan unsur udara bebas dengan background langit lepas di antara pepohonan yang menjulang tinggi, terasa pas untuk menghadirkan lakon Umang Umang versi TeKaPe.

Panggung berbentuk piramid terbuat dari bambu dibangun di atas sungai

Untuk kepentingan konsep tempat di mana cerita berlangsung dan konsep tempat di mana cerita dihadirkan pada penonton, di atas sungai tersebut dibangun performance area berbentuk piramid yang dibuat dari bambu, disusun seperti jembatan bambu yang silang sengkurat, menjulur dari berbagai arah. hal ini menyimbolkan perkampungan para pencuri yang jauh dari perkampungan penduduk namun selalu ingin bertuju ke mana saja. Tempat itu diimajinasikan sebagai tempat berkumpulnya para pencuri kreatif yang bisa berkhayal apa saja tentang hasil jarahannya, bahkan dapat pula diartikan sebagai tempat sidang agung para pencuri dalam memutuskan rencana besar dalam rangka mencuri semesta.

Ruang pertunjukan yang diciptakan oleh tim artistik TeKaPe semula adalah ruang kosong, yang sama sekali tidak pernah dipakai dalam aktifitas apapun oleh warga dusun Kalisoka. Dalam kurun waktu tiga minggu menjelang pementasan, jembatan itu berubah menjadi ruang publik yang hidup dan bersahaja, karena selain menjadi tempat berlatih para pendukung Umang Umang, di waktu senggang juga digunakan anak-anak dusun sebagai area bermain yang menyenangkan dan menghibur. Jembatan itu menjadi ruang rekreasi baru, yang memang dibutuhkan anak-anak dusun tersebut karena mereka berada jauh dari area permainan (masyarakat dusun Kalisoka termasuk masyarakat transisi, di mana aktivitas permainan tradisonal sudah mulai mereka tinggalkan namun permainan modern belum bisa dijangkau). Maka permainan perkampungan bambu tersebut bisa menjadi alternatif permainan baru.

Ditinjau dari sudut pemahaman konsep pertunjukan teater modern, konsep artistik pementasan Umang Umang TeKaPe ini dapat memberi warna baru, baik bagi apresiator pertunjukan yang sudah biasa menyaksikan pertunjukan-pertunjukan teater modern maupun bagi apresiator baru, yakni masyarakat desa yang (mungkin) baru pertama kali menyaksikan pertunjukan teater modern. Dengan tontonan di atas sungai yang juga memanfaatkan berbagai macam elemen pertunjukan (pesta kembang api, akrobatik bambu, permainan air seperti berenang, ciblon, terjun ke air, dll) ini, TeKaPe berharap dapat memberi pencerahan dan wawasan bagi (terutama) kelompok teater pemula yang kadang―karena minimnya dana dan fasilitas―repot dengan urusan mencari tempat pertunjukan. Prinsip konsep pertunjukan Umang Umang ini adalah “pertunjukan bisa dihadirkan di mana saja, bergantung dengan menarik dan tidaknya konsep tontonan dan eksekusi pertunjukan yang akan dihadirkan”. Sejelek dan setidak-menariknya venue yang akan digunakan, masih dapat disulap sedemikian rupa sehingga menjadi tempat pertunjukan yang menarik, fantastis, dan eksentrik. Pementasan Umang Umang ini, dengan upaya memaknai ruang kosong―yang semula terkesan kumuh dan tak bermanfaat, hanya sebagai sarang nyamuk karena banyaknya semak belukar liar di sekitarnya―dan mengubahnya menjadi ruang tontonan berhasil menghibur dan mengesankan baik penonton maupun para pemainnya. Dari riset penonton yang dikelola tim produksi pementasan, diketahui bahwa hampir semua penonton (baik yang jauh-jauh datang dari Jogja yang berjarak 30 km maupun penonton lokal yaitu warga dusun Kalisoka, Margosari, dan sekitarnya) tidak ada yang komplain dengan tontonan tersebut, sebaliknya merasa senang dan puas. Hal ini membuktikan bahwa segala macam bentuk tontonan pada segala bentuk ruang pertunjukan tidak mematikan kreatifitas seniman dalam menghadirkan ruang imajinasi pada diri pelaku seni itu sendiri ataupun pada khalayak penonton.

Umang Umang yang disajikan oleh TeKaPe pada tanggal 17 Juli 2010 itu bercerita tentang rencana gerombolan pencuri pimpinan Waska, seorang tokoh pencuri agung yang karismatik seperti halnya pencuri besar negeri ini, yang sangat kejam dan jahat meski mereka berwajah tampan dan santun, pencuri yang tega membunuh generasi demi kepentingan pribadi. Pementasan ini didukung pemain: M. Fajarwanta, Budi Satrio Utomo, Kenwari Hawa, Fahrunnida, Dwi Fatonah, Fajruliyah Roza Mafaza, Nur Aining, Isnarsella Dabriatiin, Edsara Afina Ghaida Fasya, dan Doni AsSarkem.

 

* Puthut Buchori, Art director pementasan Umang Umang karya Arifin C. Noer oleh Teater Kulonprogo Yogyakarta.

(terbit di skAnA volume 13, September 2010-Januari 2011)

 

Advertisements

Oleh Muhammad Abe*

Sebelum Pertunjukan

Malam tanggal 4 Agustus 2009,  Rendra Bagus, salah satu aktor Kelompok Seni Teku berdiri di pinggir jalan di depan Pendopo Blumbang Garing milik Ong Harry Wahyu, di kampung Nitiprayan. Tangannya memegang kentongan. Dia membunyikannya, dan dengan Bahasa Jawa halus yang baik dia mengundang warga yang tinggal di sekitar pendopo untuk datang menonton pertunjukan yang akan segera dilangsungkan. Dengan ramah Rendra menjawab celotehan warga kampung yang menimpali kata-katanya, sembari tetap berusaha mengajak mereka untuk melihat “tontonan” di Pendopo Blumbang Garing itu.

Saya masih ingat Rendra tidak menggunakan kata “teater” untuk mengundang penonton, melainkan “tontonan”. Begitu pula dia tidak menyebutkan bahwa pertunjukan tersebut digelar dalam rangkaian Festival Teater Jogja yang diselenggarakan oleh Yayasan Umar Kayam dan Taman Budaya Yogyakarta. Dia hanya mengajak penduduk sekitar untuk menonton lakon yang akan disajikan Kelompok Seni Teku malam itu. Mungkin, teater dan berbagai macam istilah dan kegiatan di dalamnya, tetap saja sesuatu yang janggal dan asing bagi warga sekitar pendopo, meskipun di sana sudah sering berlangsung pertunjukan atau latihan untuk pertunjukan.

Saat pertunjukan

Pertunjukan berlangsung di pendopo bertingkat tiga. Tingkat dasar berada lebih rendah dari tempat penonton berupa blumbang (kolam) yang sudah tidak dipakai (garing, tidak terisi air), tingkat kedua berada sejajar dengan penonton berupa lantai di atas blumbang, sementara tingkat ketiga berupa ruangan tertutup berdinding bambu. Ruang di tingkat tiga ini digunakan sebagai backstage.  Sementara itu, penonton berada di pendopo yang lain, tepat di depan tempat pertunjukan, duduk di atas bilih-bilih bambu beralaskan tikar. Ada sekitar 150 penonton malam itu. Mereka yang tidak kebagian tempat duduk berdiri di rerumputan di samping pendopo, atau duduk agak ke belakang di dekat angkringan.

Pertunjukan ini membawakan naskah yang ditulis Ibed Surgana Yuga berjudul Kintir; Anak-anak Mengalir di Sungai. Ada beberapa kisah di dalamnya yang tidak selalu bersangkut-paut —berupa fragmen-fragmen terpotong di satu sisi, tapi secara tematis bersinggungan di sisi yang lain. Satu kisah bertutur tentang Dewi Gangga yang dikutuk turun ke bumi untuk melahirkan tujuh manusia, yang kesemuanya kelak akan dihanyutkan ke sungai kecuali satu anak yang kelak dikenal sebagai Bisma. Kisah tersebut bersanding dengan kisah seorang pelacur dan ketujuh anaknya yang hanyut ke sungai, serta beberapa kisah lain yang muncul di tengah pertunjukan.

Kintir bercerita tentang ibu, tentang bagaimana dia bekerja keras merawat keluarga dan anak-anaknya. Bila tak ada uang tersisa, maka tubuhnya yang ia jual untuk semangkuk nasi dan lauk bagi anak-anaknya hingga ia lupa siapa sebenarnya ayah dari anak-anaknya. Tapi anak-anak, tetaplah anak-anak, mereka hanya bermain dan terus bermain. Di tempat yang terlarang pun mereka tertawa terbahak-bahak, berlarian ke sana ke mari tanpa peduli, hingga seorang anak tidak sengaja jatuh dari jembatan, dan hanyut terbawa aliran sungai. Satu persatu anak-anak itu hanyut hingga tinggal satu anak tersisa, Bisma, yang harus menghadapi takdirnya —maju ke medan perang untuk membela nama baik ibunya. Perang Kurusetra, peperangan yang ia ragukan kegunaannya, kecuali untuk membuktikan rasa terima kasihnya pada ibu yang sudah melahirkan dan menjaganya.

Usai Pertunjukan

Penonton beringsut dari tempat duduknya, pulang ke rumah masing-masing. Para aktor beristirahat sambil menemui penonton yang tersisa. Orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan sibuk membersihkan panggung, esok malam mereka akan melakukan pentas sekali lagi. Malam itu ada hiburan bagi warga sekitar Pendopo Blumbang Garing. Malam itu teater mencuri kesempatan untuk mengalihkan perhatian warga dari televisi, paling tidak untuk satu jam.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)

*****

Tim Kerja Kintir; Anak-anak Mengalir di Sungai

Penulis Teks & Sutradara: Ibed Surgana Yuga Pelaku: Pranorca Reindra, Joe DN, Marya Yulita Sari, Andika Ananda, Jibna Sudiryo, Cahyo, Sarinah Penata Bunyi: Lintang Radittya  Penata Cahaya: Agus Salim Bureg Penata Gerak: Rahmad Fuadi Pewujud Seting & Properti: Miftakul Efendi  Manajer Latihan & Panggung: Ade Puraindra  Produksi: Febrian Eko Mulyono, Dina Triastuti, Riski Pamulanita, Dimas, Rozita

Biografi Singkat Kelompok Seni Teku

Kelompok Seni Teku didirikan oleh Rendra Bagus dan Ibed Surgana Yuga, keduanya mahasiswa Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Pertunjukan pertama Kelompok Seni Teku adalah Nama-nama Yang Anonim (sebuah monoplay) dipentaskan pada 1 April 2005 atas undangan Panitia Festival Monolog Se-Bali.

Selama tahun 2005-2009 Kelompok Seni Teku telah memproduksi enam karya pertunjukan, yaitu: Sri 4 Me, Dongeng Yang Tak Pernah Diceritakan, Rare Angon dan Lubangkuri, Rare Angon, dan yang terakhir adalah Kintir yang dipentaskan dalam rangkaian Festival Teater Jogja I tahun 2009 kemarin. Karya-karya tersebut telah dipentaskan ke beberapa kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, serta Sumatera. Dalam empat tahun perjalanan mereka, Kelompok Seni Teku justru baru dua kali memanggungkan karya di Yogyakarta, yang pertama adalah Rare Angon yang dipentaskan pada pertengahan tahun 2008 untuk tugas akhir penyutradaraan Ibed Surgana Yuga di Jurusan Teater ISI.

Dalam keenam karya mereka, Kelompok Seni Teku selalu mengangkat dongeng-dongeng yang berkembang dalam tradisi lisan masyarakat, terutama dongeng-dongeng yang sudah lama dilupakan orang-orang. Tidak ada alasan khusus atas pilihan ini, namun Rendra Bagus mengaku proses untuk menuju pertunjukan Kelompok Seni Teku biasanya diawali atau diikuti dengan ingatan-ingatan mereka terhadap masa kanak-kanak.