Oleh: Hindra Setya Rini*

“Sirkus kontemporer? Seperti apa sih?” begitu bisik-bisik beberapa penonton sebelum pertunjukan dimulai.

Yap! Tepatnya malam hari pukul 20.00 WIB, tanggal 17 Juni 2007 di Eks kampus ASRI Gampingan, digelar sebuah sirkus kontemporer yang berasal dari Perancis. Tak ada tenda besar yang biasanya menjadi arena permainan sirkus. Tak ada hewan-hewan jinak yang pintar. Tak ada gadis-gadis seksi memamerkan tubuh lentur dengan ketrampilan berakrobat-nya. Sirkus kali ini dipertunjukkan di tempat terbuka dengan dihadiri cukup banyak penonton berbagai kalangan di Jogja.

Bentuk setting panggung tidak biasa; hanya dua tiang yang berdiri menjulang tinggi dengan sebuah tempat berbentuk limas segi tiga dan berlubang-lubang, menggantung di atas tepat di antara kedua tiang. Sekilas mirip rumah burung. Apalagi ketika Si Artis bermain-main di sana. Melongokkan kepalanya di antara lubang-lubang. Membuat penonton tertawa.

Dia adalah Eric Lacomte. Artis sirkus sejak sekitar lima belas tahun lalu. Penampilannya di atas panggung selalu ringan dan tak terduga. Bersama teman-temannya; Oliver Farge, Ex Nihilo, dan Retouramont berhasil mengembangkan teknik-teknik tarian dan akrobat udara. Seperti pada malam itu; tubuhnya yang liat dan lentur ketika merayap di lantai dan memanjat dinding, naik dengan berjalan pada tiang, meluncur bak ikan, serta bermain dengan balon yang mengundang decak kagum penonton.

Dalam pertunjukannya, Compagnie 9.81 memainkan hukum bebas gravitasi untuk menyelip masuk dalam suatu kenyataan bahwa tiap perpindahan berada di perbatasan dua ruang: bumi dan udara. Dikemas dengan tata cahaya warna-warni yang ngejreng di akhir pertunjukan menambah sirkus model ini sayang untuk dilewatkan. Selain menarik, juga menyegarkan mata.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Komentar Penonton

Ini pertama kali lihat bentuk sirkus kayak gitu. Kok, kayak teater. Pertamanya sih kepikiran, kok bisa mainin sirkus seperti itu, ya? Keren banget! Apalagi dia kayak cicak pas di tiang (pemainnya-pen). Keren…keren.” (Seto, 23 tahun, mahasiswa Fak. Ekonomi UGM)

“Cukup menarik. Di Jogja baru kali ini ada pertunjukan sirkus kayak gitu. Spektakuler. Dan aku juga baru pertama kali lihat yang modelnya seperti itu. Beda dari sirkus-sirkus biasanya.” (Dimas, 21 tahun, mahasiswa Bahasa Jerman UNY)

“Bagus. Menurutku keren. Tidak seperti sirkus pada umumnya. Sangat kontemporer. Biasanya kan sirkus ya jalan-jalan di atas tali, atau berayun-ayun di atas ketinggian. Tapi, yang ini beda. Malah terlihat seperti performance art. Kemasannya bagus. Meski pemainnya tidak terlalu komunikatif dengan penonton, asyik main sendiri, menurutku, tapi aku suka. Sirkus ini sangat-sangat kontemporer. Keren.” (Dira, 25 tahun, bekerja di Bantul)

“Keren. Apalagi mainnya malam, tuh. Kalo siang kayaknya nggak menarik deh. yang bikin keren itu lighting-nya sih, menurutku. Jadi itu oke karena dimainkan pada malam hari. Gitu…” (Iwan Gondrong, 27 tahun, pekerja sosial dan mahasiswa, juga sebagai pustakawan Papermoon Puppet Theatre)

“Keren banget! Waktunya kurang panjang. Sirkus malam ini beda sama sirkus yang biasanya aku lihat.” (Titi, 18 tahun, Siswi Stella Duce 2)

Advertisements