Oleh: M. Ahmad Jalidu*

Tentang The Light of Ken Dedes

Awal 2006, Mahesa Arie menulis Novel Ken Dedes: I’m in Love dengan gaya komedi. Memang komedinya “jadul” (jaman dulu). Kalau saja para intelek yang membaca pasti geregetan dan muak. Tapi, maaf, penikmatnya mungkin akan mengatakan bahwa ini memang untuk konsumsi remaja: teenlit, bo!”. Novel ini tidak menawarkan sudut pandang baru selain gaya penyampaian cerita yang asal (waton —bhs Jawa) lucu dan fantastis sesuka penulisnya. “Kamu bisa nggak mementaskan novelku?” Pertanyaan Mahesa itu menjadi awal proses Gamblank Musikal Teater (GMT) dalam pementasan The Light of Ken Dedes (2006). Waktu itu saya baru saja mementaskan Haloo… Ada Cinta di Sini?, adaptasi Film Moulin Rouge, bersama Kelompok Sekrup, Maret 2006.

Kemudian saya membaca novel yang penuh canda itu. Di lingkungan pergaulan saya, canda yang ‘nggatheli’ sering muncul setiap hari. Saya pikir, guyonan Mahesa Arie itu tidak asing ditelinga saya dan teman-teman. Mereka rata-rata juga suka komedi, musik yang easy listening, cerita yang ringan dan segar. Akhirnya saya putuskan untuk mementaskan novelnya Mahesa yang kelewat slengekan itu.

Cerita Ken Dedes sendiri menarik buat saya, apalagi kalau bukan masalah kewanitaan. Wanita dipandang dari fungsi seksualnya, sehingga wanita berkualitas itu digambarkan sebagai wanita dengan alat seksual yang bagus dan mengkilap. Pandangan itu berkembang sampai sekarang, meski sudah melewati jaman Kartini. Para pria menilai wanita dari kulitnya, mode bajunya, bentuk pinggul, dada, dan sebagainya. Apalagi industri kecantikan juga semakin mempengaruhi wanita untuk mengejar kualitas fisik dan melestarikan cara pandang itu. Saya merasa kasihan kepada Ken Dedes. Dalam bayangan saya, ia cantik dan seksi. Tapi hidupnya malah jadi tragis. Keagungan itu justru jadi malapetaka buat hidupnya. Seperti komentar salah satu aktris saya (Apriyanti) tentang Ken Dedes yang akan ia perankan.

Oke, kerja awal yang saya lakukan dalam proses ini adalah menulis naskah berdasarkan novel tersebut. Kemudian judul saya ubah menjadi The Light of Ken Dedes. Saya kumpulkan pemain, lalu membentuk tim produksi. Penentuan gedung pertunjukan pun harus disesuaikan dengan dana yang pas-pasan. Saat pemanggungan tidak ada side wing, kami pakai model terbuka di mana penonton bisa melihat persiapan para aktor menunggu giliran di tepi panggung. Ini dulu dipakai Gardanalla lewat Ah Kamu (2004), lalu kami contoh sejak pementasan pertama GMT, Panggil Aku Aziza (2005). Dan menjadi salah satu strategi kami dalam pengiritan dana, agar cukup sampai pementasan..

Model pertunjukan yang saya pilih: musikal! Ada akting, ada lagu, dan kalau perlu penari. Model ini saya kenal di Sanggar Gardanalla ketika saya bermain sebagai figuran di Perkawinan Figaro (2000) dan Sampek Engtay (2000), yang dua-duanya naskah Riantiarno dan disutradarai oleh Joned Suryatmoko (They’re the best, menurut saya). Saya langsung suka pada pola-pola naskah Riantiarno, ndhagel, gaya bahasa lisan yang santai dan cair, juga musik dan lagu-lagu yang enak di kuping. Lalu saya belajar menyutradarai di Kelompok SEKRUP FMIPA UNY. Saya mengadaptasi Akal Bulus dari Scapin-nya Molierre, dan mementaskan dengan gaya musikal. Selanjutnya saya terobsesi naskah Riantiarno. Saya memainkan Semar Gugat (sebagai aktor) 2003 dan Kala (sutradara) 2004. Tahun 2005 bersama beberapa teman mendirikan kelompok baru Gamblank Musikal Teater (GMT).

Latar belakang pemilihan model musikal di GMT (juga waktu di Sekrup) adalah karena kami sekumpulan anak muda yang hobi main teater dan musik, dan masih banyak hobi-hobi lain. Maka sandiwara musikal menjadi solusi tepat untuk memfasilitasi semua minat/hobi tersebut. Amatan saya, setelah Gardanalla mengembangkan realisme development-nya, tak ada kelompok yang mengambil gaya musikal di Jogja. Kami pengen pertunjukan yang sedikit “beda” tanpa harus memaksakan diri. Apa yang ku punya, apa yang ku suka. ”Realis(me)tis”.

Kerja Penyutradaraan

Saya tidak punya pendidikan formal di teater. Cuma baca ini-itu dan tanya sana-sini. Sempat kursus akting di ELAC (Everyday Life Acting Course) binaan Teater Gardanalla (2005), untuk menambah pengetahuan saya. Teknik Penyutradaraan saya hanya berdasar pada yang saya alami ketika saya belajar sebagai pemain. Memang tidak sistematis dalam proses belajar saya. Yang ada hanya menghapal naskah, menyusun blocking bareng-bareng. Bedah naskah dan detil adegan digarap sambil jalan. Banyak ruang untuk terus mengembangkan adegan sampai hari H (pementasan). Musik saya pasrahkan ke tim musik, terserah mau jadi lagu yang seperti apa. Begitu juga tarian, kostum dan tata panggung. Pegangannya hanya: apa yang kita punya, apa yang kita suka. Sutradara hanya menyambung kreasi anggota tim.

Rumus kerja saya adalah: bekerja dengan cinta, saya menyayangi semua pendukung pertunjukan. Saya hanya tahu bahwa sutradara adalah pusat orientasi semua bagian tim kerja. Harus tampil sebagai tiang, sebagai guru, sekaligus ayah para aktor. Menangis dan tersenyum di kamar belakang panggung. Kalau aktor saya main bagus, mereka yang diajak foto dan diminta tanda tangan oleh penggemarnya. Tapi kalau aktor main jelek, saya yang diejek. Andai proses adalah perang, sutradara adalah panglima; meski sakit  harus tetap terjun ke medan laga menyalakan semangat para serdadu. Andai ada yang harus tertembak, sutradara harus yang pertama tertembak, tetapi jika ada yang harus jatuh, sutradara harus yang paling akhir jatuhnya karena ia harus menyelamatkan setiap ada anggotanya yang jatuh. Kelihatan heroik, memang. Tapi demikianlah yang saya pegang dalam proses kerja-kerja saya.

Menyatukan banyak kepala dalam satu visi? Minta ampun susahnya. Apalagi teater memang bukan orientasi utama mereka (anggota teater saya). Saya harus menghormati. Saya mengalah meski sedikit kecewa. Saya harus selalu sadar bahwa teater bagi kami (GMT) adalah  hobi. Seperti para pebulutangkis kampung Samirono, tak ada cita-cita yang ingin menjadi juara Thomas Cup. Tetapi kalau seminggu tidak main bulutangkis rasanya badan pegal dan hidup terasa kurang lengkap. Begitulah teater kami. Dirindukan, tapi sering kalah dengan prioritas kerja yang lain. Jadwal latihan pun sering kacau karena kesibukan masing-masing dari kami yang kadang tidak bisa ditinggalkan.Tapi bagi saya, tetap enjoy adalah kata kunci dalam menjalani proses saya.

Untuk penggarapan The Light of Ken Dedes sendiri, tanpa menggagas kekinian atau bukan, saya berusaha untuk menampilkan gerak-gerik yang wajar pada permainan para aktor. Saya sendiri tidak nyaman ketika menonton teater dengan gaya berlebihan yang kaku dengan bahasa Indonesia jaman PKI (saya menyebutnya demikian). Menurut saya, saya pentas di Jogja tahun 2006, ditonton oleh orang yang hidup di Jogja tahun 2006, maka saya pakai bahasa Jogja tahun 2006. Tak peduli meski cerita yang diangkat adalah cerita Ken Dedes yang hidup di tahun 1222 (yang bahasanya pasti berbeda).

Sekali lagi, berangkat dari komedi Mahesa yang sarat dengan keisengan dan hasrat guyon tinggi, maka saya merasa sah-sah saja untuk melakukan keisengan terhadap anyaman Mahesa. Pemusik saya sedang menyukai musik country. Oke saja ketika musiknya country. Biar nyambung, saya ubah asal-usul Ken Arok. Saya jadikan ia seorang koboi Texas yang melarikan diri ke Jawa, lalu berdagang kuda. Empu Gandring lenyap dan saya hadirkan tokoh pengganti, Mr. Gardner, yaitu seorang perakit pistol dan senapan. Pembunuhan Tunggul Ametung juga menggunakan pistol. Memang kurang ajar, membuat suguhan terasa ganjil dan tidak menyatu. Bagaimana Ken Dedes bisa bicara tentang buku nikah? Bagaimana Empu Lohgawe bisa ketemu istilah “pemuja rahasia”, “schizophrenia”? Jawaban saya; saya tidak sedang mengajar sejarah nusantara, tetapi “menunggangi” kisah sejarah untuk bersenda gurau sembari menyodorkan cermin hidup. Supaya penonton mau bercermin (meski pada masa lalu), ya kita gunakan kaca yang seolah-olah buatan jaman sekarang.

Tentang Penonton

Saya setuju sama Riantiarno bahwa teater berdiri atas 3 syarat; pelaku, panggung dan penonton. Jadi, penonton itu penting. Pertanyaannya, penonton yang bagaimana yang kami sasar? Yang pasti, bagaimana caranya membuat tiket habis dan saya tidak nombok! GMT biasanya ditonton oleh teman-teman yang datang atas nama persahabatan, sebagian besar berusia 17-25 an. Ini memang semacam pesta bagi teman-teman di lingkungan pergaulan kami. Tentu saja juga mengharapkan pihak-pihak lain yang belum kami kenal datang berbondong untuk menghabiskan tiket.

Saya suka ditonton oleh mereka yang muda dan segar, yang seringnya malah bukan pelaku teater. Di situlah kami merasa berguna bagi orang-orang di sekitar kami yang bersedia menikmati teater. Kalau teater hanya disaksikan oleh sesama pelaku, untuk apa? Toh pelaku lain juga pasti sudah paham pada nilai-nilai yang ditawarkan panggung itu. Yang terjadi akhirnya canggih-canggihan tafsir dan olah adegan. Untuk itu saya pasti keteteran. Saya memilih pentas untuk kaum muda yang tidak pernah menonton Teater Garasi atau ujian teater ISI, yaitu penonton yang mengangkat bahu mendengar nama-nama Stanislavsky, Grotowksy, Barba bahkan Wawan Sofwan. Jumlah golongan ini banyak sekali dan mereka adalah potensi penjualan tiket yang hebat.

Meski sekedar hobi, pertunjukan teater saya harus mampu menjadi tontonan akrab dan bisa diterima masyarakatnya. Masyarakat di mana person-person teater itu tinggal dan bergaul, dan atau masyarakat yang ditargetkan menjadi penonton. Target calon penonton kami adalah mereka yang awam teater dan biasa punya banyak pilihan hiburan (band, TV, bioskop, cafe, dugem, sex, dan kuliah). Saya harus sedikit menyesuaikan selera dan dunia mereka (yang bisa jadi adalah dunia kami juga). Memakai idiom, isu, bahkan bahasa dan gaya yang sekiranya cocok dengan selera mereka. Misalnya tentang judul, dunia mereka dikelilingi judul-judul berbahasa Inggris. Judul novel, artikel majalah, spanduk acara party, bahkan slogan-slogan produk yang mereka konsumsi (kendaraan, sepatu, kosmetik, fashion, snack dan sebagainya). Ken Dedes yang baheula itupun saya ganti judulnya biar terkesan modern dan ngepop, ibarat ganti casing biar lebih cantik.

Pertunjukan kadang bisa dipandang sebagai produk bisnis yang harus dipoles sedemikian rupa. Bisa juga sebatas wujud dinamika pergaulan. Mereka ulang tahun, saya diundang dan disuguhi makanan dengan suasana yang saya suka. Giliran saya pentas, mereka saya undang dan saya mengusahakan mereka menyukai sajian saya juga. Karenanya, teater saya tak boleh melulu perenungan kritis yang berat, tetapi juga tontonan yang sekedar hiburan. Teater harus terus dinamis, memikat dan berpengaruh. Tahun 1985 Rendra meraih 15 ribu penonton hanya dalam 2 hari pentas. Kostum teater klasik di Eropa dulu konon bisa mempengaruhi kostum para bangsawan. Opera Kecoa Teater Koma juga dilarang pentas karena ketakutan pemerintah akan pengaruhnya bagi pemikiran masyarakat. Tapi sekarang? Masih besarkah daya pikat dan pengaruhnya? Saya pikir, kita (pelaku teater) sedang mencari dan menempuhnya dengan cara kita masing-masing.

* M. Ahmad Jalidu, Sutradara Gamblank Musikal Teater dalam pementasan ”The Light of Ken Dedes”

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)