Oleh: Mohammad Qomaruddin*

bocah bajang nggiring angin

anawu banyu segara

ngon-ingone kebo dhungkul

sasisih sapi gumarang


Satu sore di bulan Juni. Dalam sebuah percakapan yang hangat, Gunawan Maryanto menawarkan kepada seluruh peserta Actor Studio 2009 dua buah teks yang akan menjadi pijakan gagasan proses penciptaan karya yang kemudian diberi judul “Bocah Bajang” itu. Dua teks tersebut adalah fenomena dukun cilik Ponari dan suluk Bocah Bajang.

Kenapa dan ada apa dengan Bocah Bajang dan Ponari? Bukankah Bocah Bajang adalah sebuah suluk (nyanyian/tembang dalang yang dilakukan ketika akan memulai suatu adegan/babak dalam pertunjukan wayang, red.) sedangkan fenomena Ponari adalah realitas, bukan fiksi? Ah, barangkali ini hanyalah kebiasaanku yang selalu patuh pada logika sebab akibat. Kuredam bisikan-bisikan itu lalu hening.

Pertemuan selanjutnya kembali membicarakan dua teks tersebut, tentu saja setelah membekali diri dengan bacaan dan informasi hasil browsing dari internet. Dari percakapan tentang Ponari memuncul pertanyaan dan pernyataan bahwa fenomena Ponari adalah perihal hak anak, kuasa media, relasi kepercayaan orang Jawa terhadap mistik dan tradisi, kemiskinan, pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya. Perihal suluk Bocah Bajang kami mendapatkan lebih sedikit bahan, hanya seputar apa itu suluk Bocah Bajang dan siapa itu Bocah Bajang, serta rekaman suluk yang dinyanyikan sinden dan dalang. Tak sebanyak tentang Ponari. Namun kemudian kami mendapatkan cerita panjang dari Gunawan Maryanto tentang suluk tersebut. Ia terkait dengan  munculnya Semar dalam babak goro-goro pada pertunjukan wayang. Kami juga mendapat banyak cerita perihal sejarah Semar, serta pemaknaannya secara filosofi (yang tentunya tak bisa kujelaskan dalam tulisan ini). Singkat cerita kemudian aku semacam menemukan jawaban dari pertanyaanku. Ada hal yang sama dari keduanya: sebuah ketidakmungkinan dan sebuah harapan, seorang bocah; paling tidak itu yang sementara dapat kusimpulkan kenapa dua teks tersebut dipilih menjadi pijakan proses ini. Kemudian kami juga bersepakat  menggunakan tubuh dan kata sebagai alat komunikasi atau bentuk pertunjukannya.

Selanjutnya sebagai bagian dari proses penciptaan kami melakukan observasi terkait dengan dugaan-dugaan personal yang muncul tentang fenomena Ponari. Ada yang pergi ke dukun menjadi pasien, mengunjungi tempat-tempat peziarahan, wawancara dengan anak jalanan, wawancara dengan pasien rumah sakit. Hasilnya kami percakapkan bersama Ugoran Prasad (fasilitator kelas observasi dalam rangkaian program belajar keaktoran Actor Studio Teater Garasi 2009) yang membantu kami menyiapkan, melakukan, dan mengolah hasil observasi, sebelum akhirnya kami benar-benar pergi ke Jombang.

Ziarah Fiksi

Tempat Ponari dan kesaktiannya dibesarkan berada di dusun Kedungsari, desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Tak ada angkot menuju dusun itu, hanya ada ojek dari Megaluh. Dusun kecil yang sebagian besar penduduknya sehari-hari bekerja sebagai petani itu―seturut cerita penduduk setempat―telah berkembang pesat menjadi desa wisata berkat Ponari dan batunya. Banyak penduduk yang kemudian berganti profesi menjadi pedagang. Menjadi pedagang tentulah lebih menguntungkan mengingat setiap harinya, ribuan orang tak mendatangi dusun Ponari, dari pagi buta hingga larut malam. Namun, sejak terjadinya peristiwa pasien meninggal akibat mengantri begitu panjang dan berdesak-desakan, praktek pengobatan Ponari hanya dibuka sejak pukul dua siang hingga empat sore setiap harinya.

Kusiapkan  kostum sebuah jas dan celana kain serta kupluk―layaknya seorang santri yang mondok di pesantren―dan berperan sebagai seorang pasien, dengan sasaran mengetahui dan mengalami prosesi pengobatan. Teman yang lain pun telah menyiapkan skenario masing-masing. Dalam observasi ini, aktor sebagai observer diminta untuk secara fisik berada di dan mengalami lingkungan obyek observasi, mencari data dan mengumpulkan cerita apa saja yang berkait dengan Ponari.

Kami bersebelas berada di Jombang selama tiga hari. Waktu yang sebentar tetapi banyak sekali cerita yang diperoleh dan situasi yang dialami. Mulai dari cerita seram Ibu Lurah tentang warga dusun Ponari, cerita asal-usul batu yang berbeda-beda versinya, hingga penelusuran pasien yang tak berujung.

Perjalanan kami lebih mirip dengan Ziarah ke makam Wali. Hanya ada jejak peristiwa dan cerita. Cerita-cerita itu seolah-olah meyakinkan betapa yang selama ini kulihat di televisi dan kubaca di koran-koran itu sungguh benar adanya. Ribuan orang pernah berdesakan dan mengantri untuk mendapatkan air celupan batu sakti, di sepanjang jalan yang kulewati  itu.

Saat aku mengunjungi dusun itu, Ponari sedang membangun rumah baru, masjid, taman kanak-kanak, jalan, hingga pagar tembok kuburan. Semuanya dikerjakan secara bersama dan bergotong-royong―menghancurkan cerita Bu Lurah tentang seramnya warga dusun itu. Cerita yang kami dengar dan realitas yang berlangsung saling bertabrakan, membingungkan. Seorang pasien yang menurut cerita penduduk sembuh setelah minum air Ponari―yang kemudian kami temui―ternyata sama sekali belum pernah berobat ke Ponari. Belum lagi, banyak orang yang mengaku masih kerabat Ponari menawarkan fasilitas ritual berobat, penginapan, serta cerita-cerita lain tentang khasiat batu Ponari.

Tapi apapun yang sebenarnya berlangsung, Ponari telah menjelma wali―bahkan lebih―bagi orang-orang yang keadaan ekonominya berubah setelah dibukanya praktek Ponari tersebut. Percaya atau tidak bukan lagi hal yang penting. Bagi mereka, lebih penting bagaimana agar pembangunan kampung bisa terus berjalan, dan keberlangsungan hidup serta kebersamaan mereka tetap terjaga.

Dari Observasi Menuju Presentasi

Sepulang dari Jombang, kami beranjak menuju camp selama tiga hari dan bergulat dengan penciptaan bentuk lewat praktik, diskusi, menonton video, dan menonton pameran lukisan. Kali ini kami bergelut dengan tubuh kami sebagai aktor, benda, dan ruang, sebagai konsekuensi dari gagasan dan bentuk teater yang telah kami sepakati sebelumnya. Dalam tiga hari kami mencoba mengolah apa yang kami cerap, alami, dan temui di Jombang (meskipun tidak menutup kemungkinan adanya pantulan pengalaman lain) melalui improvisasi. Gunawan Maryanto sebagai sutradara kemudian memilih beberapa peristiwa yang berlangsung dalam improvisasi tersebut, dan membawanya dalam rehearsal.

Sebulan kemudian, kami melakukan presentasi awal pada penonton terbatas atas pertunjukan yang sedang kami kerjakan (work in progress) dengan harapan mendapat masukan tentang pertunjukan yang hendak kami sajikan. Diskusi pun bergulir, catatan menempel di sana-sini. Sebuah catatan terbaca: “presentasi kalian sama sekali tidak mencerminkan bahwa kalian pernah pergi ke Jombang, banyak cerita yang hilang”. Sudah benarkah yang kulakukan?

Presentasi 'Bocah Bajang' di Studio Teater Garasi

Berkumpullah  seluruh tim, mengutak-atik dan mencari tahu apa yang sebenarnya berlangsung. Tak ada yang salah, hanya soal waktu dan seberapa berusahakah kami dalam memecahkan soal yang ada. Akhirnya sebuah dekrit turun dari sutradara kepada aktor: “Kembali baca catatan dan ingat kembali perjalanan dan peristiwa yang kalian alami di Jombang.”

Setelah libur selama dua minggu, kami kembali bertemu. Terkumpullah teks-teks dan semangat baru. Masing-masing aktor berhasil menuliskan teks dan menggarapnya, sutradara kemudian memberi arahan dan stimulan. Rasanya seperti baru saja terbangun dari tidur yang panjang. Mendapati semuanya telah berubah.

Proses Penciptaan – Observasi – Aktor

Salah satu peran yang kumainkan dalam pertunjukan “Bocah Bajang” adalah Pak Kardi, teksnya kutulis sendiri dan diedit oleh sutradara. Aku benar-benar pernah bertemu dengannya, bercakap langsung, dalam sebuah percakapan yang impresif. Ia lincah berbicara tentang Tuhan dan hal-hal gaib, ia juga mengaku sebagai paman Ponari.  Gaya bicaranya merubah pandanganku tentang penduduk desa tersebut. Aku menemukan dan mengingatnya setelah betul-betul membaca kembali catatan personalku atas observasi di Jombang. Ia membuatku teringat bahwa aku bukan wisatawan.

Dari situlah aku belajar tentang bagaimana aktor tidak hanya melakukan tapi juga membikin dan menghitung apa yang akan ia lakukan dan tawarkan sebagai bagian dari tim kerja. Percayalah, observasi sangat membantu aktor untuk mengalami dan atau berada dalam lingkungan dan peran yang akan ia mainkan. Maka saat kita tersesat ia akan menuntun kita, paling tidak membawa kita kembali ke jalan semula.

Sebagai sebuah terminal proses, “Bocah Bajang” dan observasi ke Jombang memberiku gambaran tentang bagaimana keaktoran sebagai sebuah disiplin dapat ditatap dengan berbagai macam jalan.  Bahwa keaktoran merupakan disiplin pengetahuan dan dapat kita pelajari. Bahwa dalam kenyataan di sekitar kita banyak hal, ihwal, dan ide.

Aktor adalah kreator, tidak melulu hanya medium. Barangkali ini bukan satu-satunya tetapi salah satu jalan yang bisa kuceritakan. Karena fiksi telah berelasi dengan kenyataan. Kenyataan diurai, dihancurkan, lalu ditata ulang menjadi fiksi, menjadi kenyataan yang lain. Suluk itu kemudian dinyanyikan, peristiwa-peristiwa itu ditubuhkan, digerakkan.

* Mohammad Qomaruddin, peserta Actor Studio 2006 dan 2009, aktor di Teater Tangga

Advertisements

Oleh: Muhammad Abe*

Bagaimana merangkai pertunjukan teater hari ini, saat kehidupan telah berubah menjadi begitu cepat dan karena itu menjadi keras? Segalanya menjadi begitu cepat, dan bisa lebih cepat melalui bantuan berbagai piranti teknologi. Waktu luang, sela di mana para pekerja teater membangun karya-karya dalam hitungan bulan, dan mungkin juga tahun, tentu kini makin sulit ditemukan. Waktu luang bagi anggota masyarakat, penonton yang menjadi penikmat teater juga kini makin sempit. Tapi kesenian tak mungkin hilang begitu saja, kehidupan yang cepat dan keras ini ternyata masih membutuhkan keindahan, atau perenungan, atau apa saja yang membuatnya jadi lebih berarti.

Malam tanggal 22 Oktober 2009 di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis, Gunawan Maryanto mempresentasikan karyanya “Bocah Bajang” bersama para aktor dari Actor Studio 2009 (program belajar keaktoran yang diadakan oleh Teater Garasi, red.). Gunawan Maryanto mendapatkan ide pertunjukannya atas pemberitaan media perihal kasus Ponari di Jawa Timur. Siapa yang tidak mengakses media hari ini? Gunawan, aktor-aktornya, dan semua penonton kemungkinan besar telah mengakrabi berita-berita tentang Ponari, dan karena itu mungkin punya pendapat sendiri tentangnya. Atas cerapan dan penelusuran Gunawan bersama teman-teman aktor hingga menyambangi desa tempat tinggal Ponari di Jombang itulah, pertunjukan “Bocah Bajang” dikerjakan.

Penonton mulai datang, berkumpul di luar auditorium saling menyapa dan berbincang. Mereka tentu sudah mengatur waktunya sedemikian rupa hingga malam itu mereka mendapatkan waktu luang untuk menyempatkan diri menonton pertunjukan “Bocah Bajang”. Dengan begitu, mereka bertemu pula dengan teman-teman yang lain, atau mungkin bertemu dengan teman baru.

Lalu pertunjukan dimulai. Penonton duduk memperhatikan dengan seksama sambil membawa sebotol air mineral yang dibagikan untuk para pembeli tiket, seperti orang-orang yang datang meminta berkah atau obat ke “dukun cilik” di Jombang itu. Cerita seperti halnya cerita Ponari mungkin menarik bagi banyak orang. Ia sempat dibicarakan secara luas, baik yang membahas segi kebenaran mistisnya, atau bahaya air Ponari dari sisi kesehatan, bagaimana desa tempat tinggal Ponari menjadi maju karena sumbangan para pasien, juga bagaimana Ponari bisa dilihat sebagai korban eksploitasi anak oleh orangtuanya, dan mungkin masih ada banyak sisi lainnya. Lalu di mana kesenian—dalam hal ini teater—berada di antara sekian banyak fakta, pendapat, serta mungkin fiksi yang berlalu-lalang perihal Ponari dan “kesaktiannya”?

Mungkin teater, seperti juga bentuk kesenian lain, sama sekali tidak punya hak untuk menentukan satu kebenaran tertentu. Soal itu tentu milik para ilmuwan atau mungkin otoritas negara. Maka malam itu sebenarnya bukan hanya Ponari yang diceritakan di atas panggung, melainkan bagaimana proses penciptaan pertunjukan ini berlangsung. Mungkin karena itu pertunjukan ini diawali dengan perkenalan para aktor, termasuk pendapat-pendapat mereka tentang Ponari. “Saya tidak percaya sama Ponari,” ucap salah satu aktor.

Tidak ada drama yang berbelit. Malam itu “Bocah Bajang” seakan-akan menjadi pintu masuk untuk menceritakan biografi proses pertunjukan ini. Ada bu Lurah yang selalu meminta maaf dan tidak mau membuka aib Ponari, tapi sebenarnya dia selalu menceritakan keburukan-keburukan Ponari. Ada tetangga Ponari yang mengaku menemukan batu yang menurutnya sangat berkhasiat, bisa membuat orang sakit jadi sembuh. Ada Ponari yang gemar bermain game, dan bandel kalau disuruh ibunya mandi. Ada para pasien Ponari yang datang dari jauh dan rela menginap untuk menunggu mendapat berkah dari batu Ponari. Mungkin orang-orang di atas benar-benar ada, dan peristiwa-peristiwa di dalam pertunjukan malam itu adalah semacam reka ulang peristiwa-peristiwa yang mereka alami di Jombang, dan juga di Jogja selama proses ini berlangsung.

Semuanya berlangsung di dalam satu ruang, dilatarbelakangi potongan-potongan berita Ponari dalam ukuran besar yang disusun seakan-akan membentuk tembok yang menjadi batas ruang pertunjukan. Para aktor masuk dari dua sisi, bergantian menuturkan cerita mereka masing-masing, tidak selalu sinkron, tapi menunjukkan banyak cerita tentang Ponari dan batu ajaibnya. Teater menjadi ruang untuk berdiskusi atas berbagai ide dan kenyataan di sekitar kita. Penonton boleh memilih mana yang mereka percayai, atau tidak. Mana yang mereka anggap sebagai fakta atau fiksi, toh kini tak ada batas jelas yang bisa memilah keduanya dengan tepat.

Ada satu dialog yang diucapkan salah satu aktor, “…… melihat Ponari kini adalah melihat sisa-sisa Jawa dari masa lalu.” Jawa  selalu identik dengan berbagai selubung yang mendampingi atau menutupi kenyataan memang. Pada awalnya adalah para raja yang mencari pengakuan atas kekuasaannya, namun di kemudian hari rakyat juga punya fiksinya sendiri. Kuntowijoyo pernah menyebutnya sebagai “budaya tanding”, ketika rakyat membentuk fiksi dan dongeng tentang kekuatan untuk melawan hegemoni kultural yang dijalankan para penguasa. Kuntowijoyo melihatnya lebih dari satu abad lalu di Solo. Kini Gunawan Maryanto mencermati fenomena ini kembali di Jombang. Mungkin saat ini kondisinya tak jauh berbeda dengan kondisi yang dicermati Kuntowijoyo pada awal abad ke-20: kita butuh fiksi tentang kehidupan yang lebih baik, kisah-kisah kekuatan yang melebihi kemampuan manusia biasa yang mampu mengintervensi kenyataan.

Kembali ke pertanyaan di awal, mungkin teater bisa berada di depan, menyatakan sesuatu; menghadirkan kenyataan di sekitar kita kembali. Atau kalau kenyataan terlalu “gagah”, mungkin teater bisa berada di depan mengajak masyarakat berbicara, tentang hal-hal sederhana yang mungkin sudah banyak dilupakan orang. Hal sederhana seperti, apakah sesuatu yang dipercaya itu fakta atau sekadar rekaan.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)


*****

Tim Kerja Bocah Bajang

sutradara Gunawan Maryanto aktor Budi Harto, Darmanto Setiawan, M. Bahar Sukoco, M. Qomaruddin, Siti Fauziah, Tita Dian Wulansari research & text development Nailil Muna penata musik Yennu Ariendra ilustrasi Andi Seno Aji penata cahaya Sugeng Utomo manajer panggung Nur Kholis ‘Brekele’ manajer produksi Reni Karnila Sari

Komentar penonton:

Secara teknis ada beberapa kesalahan (telat) lampu dan suara. Dari cerita termasuk bisa mengangkat hal yang sudah lama tenggelam dan memberi sudut pandang baru tentang Ponari dengan menceritakan Ponari dari sisi mistis dan ilmiah. Dari artistik, bayanganku akan ada banyak olah tubuh ternyata ini lebih mendekati riil. (Airani, mahasiswa pasca sarjana Ilmu Budaya dan Religi, USD)

Oleh: Hindra Setya Rini *

Tepatnya hari Jumat, 2 Februari 2007, pukul delapan malam, dua awak skAnA bertandang ke Pendopo Teater Garasi untuk bertemu dengan peserta Actor Studio. Sebelumnya, pada tanggal 30 Januari 2007, mereka juga telah mengadakan acara ‘sum-suman’, yaitu semacam ritual yang dilakukan setelah pementasan peserta Actor Studio, sekaligus penutupan proses panjang yang telah mereka jalani selama 6 bulan itu.

Percakapan yang kami lakukan di salah satu ruangan kecil di Teater Garasi itu cukup riuh dengan celoteh ceria para peserta Actor Studio tersebut. Memang terkesan seperti malam pelepasan dan mereka sedang berbahagia. Meski tidak semua peserta bisa hadir pada pertemuan itu, tapi tak sedikit pun mengurangi semangat para aktor-aktor muda yang lain untuk berbagi.

Latar belakang atau alasan teman-teman mengikuti Actor Studio?

Kimung:

Saya tertarik, dalam hal ini mempelajari keaktoran. Saya suka teater, jadi saya ingin belajar tentang keaktoran.

Nugie:

Karena keterbatasan referensi di tempatku tentang keaktoran, jadi aku berinisiatif untuk datang ke sini untuk mempelajari keaktoran.

Iskandar:

Aku merasa dulu itu belajarnya tanpa sistem pengetahuan yang jadi. Kemudian aku ingin belajar ilmu keaktoran itu dengan tepat. Makanya, aku belajar di Actor Studio yang diharapkan bisa jadi modalku untuk proses selanjutnya.

Guntur:

Aku butuh referensi keaktoran sehingga aku bisa menguji seberapa jauh kemampuan keaktoranku dan seberapa mampu aku menyerap hal-hal baru dalam keaktoran itu sendiri.

Alex:

Fasilitas yang lebih memadai dan yang aku inginkan.

Antok:

Karena aku pecinta seni peran.

Qomar:

Karena aku ingin tahu yang lebih jelas aja dari keaktoran itu seperti apa, dan ini karena yang ngadain Teater Garasi, yang menurutku kelompok teater yang sudah bisa memformulasikan pengetahuan mereka.

Sutris:

Waktu yang 6 bulan itu yang membuatku tertarik. Karena dengan waktu 6 bulan itu aku pikir banyak referensi keaktoran yang bisa aku dapatkan.

Lalu apa yang teman-teman dapatkan dari Actor Studio?

Alex:

Hal-hal yang sistematis dan target.

Guntur:

Kesadaran tentang kebutuhan ilmu keaktoran secara sistematis dan terstruktur.

Iskandar:

Pengalaman mengalami banyak proses dan bisa teramati.

Antok:

Disiplin pengetahuan yang sistematis.

Nugie:

Terbuka bahwa keaktoran itu banyak sekali hal yang belum saya pelajari.

Sutris:

Sistematis sama training.

Qomar:

Lebih tahu mengatasi kesulitan dalam diri sendiri kaitannya dengan keaktoran.

Kimung:

Disiplin keaktoran dan sistematis dalam latihan dan materinya.

Bisa cerita sedikit prosesnya; kesan; apa yang menyenangkan, atau yang tidak menyenangkan buat teman-teman selama studi ini, misalnya?

Antok:

Wah, mendak! Aku nggak suka, sakit semua pahanya. Kalau yang menyenangkan buatku itu momen tahap 3, yaitu pementasan ansambel. Di situ, satu bagian hidupku menjadi kaya pengalaman batin. (Mendak adalah salah satu bentuk gestur tubuh yang dilatihkan kepada peserta dalam sesi training, pen)

Nugie:

Tayungan dan Ageman, sakit semua badanku. Yang paling kusukai adalah sesinya Mas Lono (workshop ansos), Mas Landung (training pelisanan), dan Mas Wawan (workshop monolog). Karena, meski sebentar tapi efektif banget. (Tayungan itu salah satu dasar tari Jawa, dan Ageman dasar tari Bali, yang dilatihkan kepada peserta dalam sesi training, pen)

Qomar:

Aku nggak suka mendak. Aku paling tinggi sendiri jadi kelihatan kalau nggak rendah, hehe… Tapi yang paling aku senengi adalah workshop 3: Interaksi dan Mas Landung (training pelisanan, pen). Pentas juga menyenangkan.

Sutris:

Psikologi. Itu menyebalkan. Bukan psikolognya, tapi metodenya. Kalau yang aku suka itu Ageman, sama pelisanannya Mas Landung.

Kimung:

Kalau aku waktu gulingan itu, sulit karena postur tubuh saya yang gendut ini. Yang menyenangkan adalah waktu ansos (analisis sosial, pen) itu, kita observasi ke pasar dan mall.

Alex:

Aku paling takut gulingan! Karena aku trauma lantai! Yang menyenangkan tuh pentas, karena aku nggak pusing mikirin biaya pentas!

Iskandar:

Yang nggak menyenangkan buatku jatuhan belakang, karena takut terbentur kepalanya. Kalau yang suka itu sesinya Mas Ogleng (Yudi Ahmad Tajudin, salah satu fasilitator Actor Studio, pen). Kemudian pementasan monolog dan pementasan ansambel yang hari ke dua, karena rileks.

Guntur:

Untuk yang tidak menyenangkan, saya pass ya… Tapi yang menyenangkan adalah sesinya Ogleng (Yudi Ahmad Tajudin, red), karena membuat kita kritis dengan perangkat keaktoran kita dan membuat kita terangsang untuk menemukan warna atau karakter kesenian kita sendiri.

Fasilitatornya sendiri, gimana, menurut teman-teman?

Antok:

Oke-oke, nggak ada masalah. (teman-teman yang lain menyepakati apa yang dikatakan oleh Antok, yang notabene adalah ketua kelas di Actor Studio ini.)

Ada tidak perbedaannya, sebelum dan setelah mengikuti Actor Studio?

Kimung:

Ya, terus terang beda, ya dalam hal ini Kimung yang sebelum mengikuti Actor Studio dan sesudahnya ya tentu saja beda. Terutama dalam pengalaman saya mendapatkan sesuatu dari Actor Studio.

Qomar:

Lebih tahu apa yang sedang dihadapi dan bagaimana cara menghadapinya, sekarang.

Sutris:

Tambahan referensi metode latihan keaktoran dan sedikit menejemen pentas.

Alex:

Peningkatan dari segi teori.

Guntur:

Aku semakin kukuh dalam mempelajari dan memperdalam disiplin keaktoran.

Iskandar:

Lebih santai di prosesnya.

Antok:

Alasan. Di Actor Studio, alasan itu adalah satu hal yang sangat penting. Artinya, untuk melangkah atau bergerak, entah di pementasan dan di kehidupan sehari-hari jadi lebih tahu dan mencari tahu alasannya.

Nugie:

Aku lebih bisa mengukuhkan diri bahwa pilihanku di keaktoran.

Oke, harapan untuk Actor Studio ke depan?

Nugie:

Actor Studio bisa terus berlanjut, dan harapanku bisa lebih baik dan matang dari sekarang. Dan untuk diriku sendiri: kuliah!

Iskandar:

Kurikulum yang sudah dikasih Actor Studio, itu aja yang dipakai. Maksudku, semua yang ada di Actor Studio itu ya dijalankan sesuai planningnya.

Kimung:

Actor Studio ya berlanjut teruslah…, jadi nanti dunia teater itu memasyarakat.

Sutris:

Memasyarakat tuh, gimana?

Kimung:

Mmm…, biar nggak eksklusif, ya di masyarakat itu nggak aneh. Kalau dari saya sendiri sih setelah mengikuti Actor Studio, saya akan menularkan ilmu saya kepada yang lain. Kalau yang saya tularkan itu mau lho. (Geer…, kami kembali terbahak. Suasana begitu riuh, karena masing-masing saling menimpali, meledek, dan mencandai temannya yang sedang memberikan pendapatnya)

Sutris:

Huu… Itu bukan teaternya yang aneh. Orang-orangnya aja yang aneh. Seniman-seniman yang bikin teater jadi terlihat aneh itu. (Ups, ada yang langsung protes! Mereka membangun diskusi mereka sendiri, dan menyenangkan melihat teman-teman Actor Studio bercengkerama)

Guntur:

Untuk materi analisis sosial ditambah. Karena, saya berharap seniman-seniman muda lebih berdimensi sosial. Menurut saya itu penting sekali karena karya-karya yang dihasilkan mudah-mudahan bisa berdampak sosial juga.

Qomar:

Bisa melebihi yang sekaranglah. Bisa menghasilkan orang-orang yang menjadi lebih mengerti tentang teater.

Sutris:

Kalau aku sih, bisa menarik masa sebanyak-banyaknya biar bisa di seleksi. Kalau yang diterima 6 peserta, tapi  gimana caranya yang daftar 20an, gitu.

Pertanyaan terakhir, kesan teman-teman selama studi keaktoran di Actor Studio 2006 (periode pertama), ini?

Antok:

I love very much…! The best f**kin’ moment!

Alex:

Amazing…!

Kimung:

Sae…(bagus, pen)

Guntur:

Merangsang, membuat saya bergairah.

Nugie:

Aku lebih terbuka terhadap keaktoran.

Qomar:

Wonderfull.

Iskandar:

Very surprise…!


***

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Oleh: Whani Darmawan*

Panggung auditorium Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta, pada tanggal 11-12 Januari 2007 itu terisi satu set meja kursi. Terbuat dari jalinan antara rotan dan kayu. Sebuah bufet kayu telanjang tanpa vernis terisi sedikit perabotan pecah belah, sementara di atasnya tampak radio yang di zaman kini sudah out of product, mengalunkan lagu-lagu keroncong. Semua warna didominasi oleh warna kusam dan lusuh. Ketika kemudian satu persatu tokoh dalam sandiwara Domba-Domba Revolusi itu masuk, jelas sudah, identifikasi penampilan itu akan membawa para penonton di masa-masa perjuangan di Indonesia sekitar enampuluh tahun lalu.

Seorang lelaki gondrong membawa ransel masuk, seorang perempuan pemilik losmen (Dwi Wahyuni) menemui. Terjadi percakapan antara mereka. Lelaki gondrong yang dikenal sebagai penyair itu adalah salah satu tamu losmen (Afika Krisnantoro). Sementara tiga laki-laki lain adalah Politikus (Muhammad Nur Qomaruddin), Petualang (Iskandar GB) dan Pedagang (Dhian Widhi Nugroho). Dari pembicaraan mereka muncullah karakter bermacam-macam dalam konteks perjuangan. Seniman adalah laki-laki nasionalis, spontan, jujur, dan romantik. Politikus adalah orang yang selalu merasa dirinya penting, meski wacana selalu menjadi apologi utama untuk menyelamatkan diri di kancah pertempuran fisik. Pedagang yang selalu kian kemari mengikuti politikus adalah orang yang selalu berhitung soal laba, bahkan dalam urusan nasionalisme sekalipun. Sementara Petualang yang justru tampak lebih retoris dari mereka semua, tanpa kesetiaan sama sekali dalam hal apapun.

Penyair (Afika Krisnantoro) dan politikus (Muh. Nur Qomaruddin)

Dari perbincangan maupun konflik antar mereka tampak sekali upaya masing-masing untuk menyelamatkan diri dari situasi perang. Di situlah kemudian tampak sekali perbedaan antara pecundang dan pahlawan. Hal paradoks tentang kebaikan dan keburukan tersaji di sana. Empat laki-laki itu hanyalah tong kosong dalam bentuk yang berbeda. Satu persatu laki-laki itu meninggalkan losmen tanpa bayar meski dari mulutnya berbusa kata-kata tentang perjuangan. Dan di antara empat laki-laki itu, tak satupun berhasil memikat hati Perempuan pemilik losmen itu tunduk. Politikus dan Pedagang, yang oleh karena dimanfaatkan oleh Petualang pergi bersama-sama. Seniman yang merasa paling jujur, paling terbuka dan berharap bisa mendapatkan hati Perempuan itu terpaksa gigit jari dan hanya pergi dengan ranselnya. Di tengah kecamuk perang itu, tiba-tiba Petualang kembali ke losmen. Ia tunjukan kepada Perempuan pemilik losmen itu segepok uang, dengan harapan ia mampu membeli harga diri perempuan itu. Ia katakan bahwa Politikus dan Pedagang kena tembak musuh, dan hartanya menjadi kewajaran jika jatuh di tangannya. Padahal uang yang ada di tangan Petualang itu tak lebih dari pemberian seorang Serdadu musuh (Haris Santosa) yang sepakat menjadikan Perempuan tersebut sebagai komoditi seks. Perempuan pemilik losmen yang waspada itu mengerti bahwa bahaya sedang mengintainya. Satu persatu antara Petualang dan Komandan itu ia jebak dan habisi dengan sebilah pisau. Oleh karena keputusasaannya, ketika para serdadu menggedor losmen tersebut, Perempuan itu menyongsong mereka dengan sebilah pisau dapur di tangan. Semua mati dalam suatu ironi antara berjuang dan menyelamatkan diri.

Metode Keaktoran; Kerajinan Keaktoran

Adalah Yudi Ahmad Tajudin, Direktur artistik Teater Garasi, yang tidak sependapat pada suatu anggapan bahwa keaktoran adalah persoalan bakat. Berawal dari itulah teater Garasi sebagai Laboratorium Penciptaan Teater ingin membuktikan kemetodelogian mereka pada pengolahan keaktoran. Menurut Yudi, keaktoran bukan persoalan mistis dan ahistoris, dengan suatu anggapan antara bakat dan tidak bakat. Menurutnya semua bisa dipelajari, sebagaimana cabang-cabang ilmu lain secara umum.

Politikus dan pedagang (Iskandar GB)

Berpangkal dari premis itu teater Garasi yang sudah melanglang buana hingga ke Jepang, Jerman, Perancis dengan beberapa karya otentik mereka pada malam itu membuktikan. Dan di atas panggung, hal itu dapat dibuktikan oleh para pemula tersebut dengan rajin. Kata rajin memang perlu digunakan dalam  hal ini, untuk menyatakan kesadaran mereka akan teori-teori permainan yang mereka sublimasikan dalam permainan malam itu. Hal-hal teknis yang perlu dikuasai oleh aktor, seperti misalnya tubuh rileks, artikulasi dan intonasi pengucapan, rangsang dan respon, berlangsung secara rapi. Rajin. Di bawah tuntunan sutradara Gunawan Maryanto, para aktor itu mampu mencapai titik menjadi “wajar” dan “biasa” dalam permainan mereka sebagaimana yang dibutuhkan dalam permainan realis.

Pemilik losmen (Dwi Wahyuni)

Jika terjadi kekurangan, tercatat pada Iskandar GB dan Dwi Wahyuni pada adegan menjelang akhir. Secara teknis tensi dramatik Iskandar GB sebagai Petualang kurang kompleks sebagai orang yang berlaku tidak jujur, sementara Dwi Wahyuni tidak mampu menciptakan “manajemen panik” sebagai orang yang tertekan dan hendak membuat suatu keputusan paling mengerikan dan menghebohkan, yakni membunuh.

Hal menarik lain adalah hadirnya teks yang ditulis oleh B. Soelarto ini pertama kali disiarkan di majalah SASTRA tahun 1962, memperoleh hadiah Naskah Drama Terbaik pada tahun yang sama. Tawa penonton pada kosa kata yang diucapkan oleh Penyair bukan saja karena memang pilihan kesesuaian dengan tokoh Penyair (yang romantik), tetapi juga karena kosa kata tersebut terasa asing dengan publik yang pada malam itu tidak sedikit yang dilahirkan di era 80-an awal, dalam kepungan budaya pragmatis di era 2007 kini. Dalam cermatan penulis, hal ini seperti terjadi lompatan kultural antara referensi teks publik 2007 kini dengan produk teks yang ditulis lebih dari empatpuluh tahun yang lalu.

Omahkebon, Januari 2007.

* Whani Darmawan, Aktor senior Yogyakarta yang sering terlibat dalam berbagai pementasan teater di Yogyakarta, akhir-akhir ini mendalami silat dan monolog.

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)