Oleh: Afrizal Malna*

Mime, teater, dan tari berusaha dipertemukan. Manusia yang terbuat dari penggorengan, berusaha merebut seorang putri yang terbuat dari embun. Cerita dibiarkan berjalan sederhana, tanpa strategi menjadikannya narasi baru atau narasi yang rusak. Cerita diperlakukan hanya sebagai tulang punggung pertunjukan: sederhana, klasik, sudah dikenal kebanyakan penonton. Cerita yang tidak berbeda jauh dari kisah Ramayana.

Bengkel Mime Theatre, dalam pertunjukan mereka: Putri Embun Pangeran Bintang, Epos Mini Perkakas Rumah Tangga (29-30 Mei 2010, Taman Budaya Yogyakarta), memang melakukan strategi teks seperti ini (teks digunakan hanya sebagai alur pertunjukan berdasarkan cerita yang sudah dikenal).

Perabotan yang Menculik Cinta

Ketika narasi hanya digunakan sebagai kerangka pertunjukan, tidak dibunuh atau dirusak (dari praktek kebosanan atas cerita maupun kebencian terhadap tokoh dalam cerita), maka struktur dibiarkan seperti “kereta paman Bobo” yang berjalan mengelilingi taman. Taman itu adalah taman bintang-bintang (tempat tinggal Pangeran Bintang, diperankan Ari Dwianto) dan rembulan yang sedang flu, selalu bersin-bersin (diperankan Hindra Setyarini).

Yang dihadapi oleh mahluk angkasa ini, adalah sesuatu yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Yaitu munculnya mahluk-mahluk yang terbuat dari perabotan rumah tangga yang tiba-tiba mengusik ketentraman mereka. Mahluk-mahluk yang terbuat dari perabotan rumah tangga ini muncul sejak Pangeran Bintang memadu cinta dengan Putri Embun (diperankan Eka Nusa Pratiwi). Tetapi ada mahluk dari perabotan lain yang membela Pangeran Bintang, yaitu kakek-nenek yang terbuat dari meja dan kursi (diperankan Ficky Tri Sanjaya dan Nunung Deni Puspitasari); mahluk yang terbuat dari piring-piring plastik, sendok dan garpu (diperankan Yuniawan Setyadi); serta mahluk yang terbuat dari sekumpulan panci (diperankan Bagus Taufiqurahman).

Nenek Kursi dan Kakek Meja. Foto: Afrizal Malna

Biang kerok dari keributan yang terjadi di taman bintang-bintang itu, adalah munculnya mahluk yang terbuat dari penggorengan (diperankan Asita) dengan gerombolannya: anjing besi diperankan Febrinawan, prajurit terbuat dari kaleng kerupuk dan drum plastik (diperankan Ahmad Jalidu dan Ficky). Gerombolan ini berusaha merebut Putri Embun dari Pangeran Bintang. Maka bintang-bintang kemudian harus berhadapan dengan gerombolan yang terbuat dari perabotan rumah tangga. Perabotan seakan-akan bergerak dan berperang untuk menculik cinta.

Distraksi Perabotan

Andy Sri Wahyudi, sutradara pertunjukan ini, maupun Beni Siswo Wardoyo (artistik), tidak memaknai perabotan rumah tangga yang mereka gunakan dalam kerangka ideologis. Perabotan itu hanya dilihat sebagai bentuk visual. Tidak menyertai lingkungan teks dari masing-masing perabotan yang berbeda satu sama lainnya (bulan dari sekumpulan tampah, figurasi lain dari kaleng kerupuk, gantungan baju, panci, penggorengan, pipa penyedot air, saringan air plastik, piring plastik, drum plastik, lap tangan, baskom plastik, dan seterusnya beberapa figur mengenakan lampu kerlap-kerlip.

Seluruh perabotan tersebut mengalami distraksi, dialihkan dari fungsi dan karakternya. Yang diapresiasi hanyalah bentuk dari masing-masing perabotan untuk menggantikan anatomi aktor. Maka gerak dan gestur aktor sangat ditentukan oleh perabotan yang digunakan dan bagaimana perabotan itu dikoneksikan ke tubuh aktor. Hasilnya: perabotan itu tidak hanya menjadi kostum untuk aktor, tetapi juga menjadi bangunan yang menggantikan tubuh aktor. Perabotan itu menjadi arsitektur baru untuk tubuh aktor.

Asita memerankan Pangeran Wajan

Penggunaan perabotan seperti ini tidak hanya menghasilkan distraksi atas lingkungan narasi di sekitar perabotan, melainkan juga menghasilkan distraksi sekaligus terhadap tubuh aktor. Fungsinya: melakukan semacam penggemparan imajinasi terhadap realitas pertama dari perabotan dan tubuh aktor. Medan imajinasi kemudian terbuka untuk memasuki narasi yang dibebaskan dari grafitasi logika. Sayangnya desain lighting dan musik, tidak cukup mendukung terciptanya ruang untuk narasi yang dibebaskan dari grafitasi logika ini.

Tarian Penggorengan Bolong

Pertunjukan menggunakan tiga ruang dengan konsep yang berbeda, walau menggunakan perabotan yang sama. Ruang pertama berlangsung di halaman gedung pertunjukan. Di ruang ini, perabotan diperlakukan sebagaimana biasanya: penggorengan untuk masak, baskom untuk mencuci, mixer untuk membuat juice. Semuanya berlangsung di antara suara reporter bola yang menyiarkan sebuah pertandingan bola menggunakan megaphone.

Adegan di halaman gedung pertunjukan

Situasi yang menggambarkan realitas pertama dari perabotan rumah tangga ini, mulai mengalami distorsi dengan munculnya tarian penggorengan bolong yang dilakukan Eka, tarian meja dan kursi oleh Ficky dan Nunung (koreografi, Ari Dwianto).

Ruang kedua dibuka di loby ruang pertunjukan. Dalam ruang ini, aktor dan perabotan hadir seperti sebuah fashion: perkenalan pertama untuk memasuki ruang pertunjukan. Kereta yang terbuat dari meja dan kursi juga mulai berkeliling membawa aktor-aktor yang akan pentas. Lalu mahluk yang terbuat dari penggorengan dan anjing besi, dengan lampu kerlap-kerlip memenuhi bangunan tubuh mereka, mulai menggiring penonton memasuki ruang pertunjukan. Maka perayaan atas imajinasi mulai dilakukan di panggung pertunjukan mereka.

Sayatan Atas Struktur

Menggunakan cerita klasik hanya sebagai tulang punggung pertunjukan, lalu orientasi pertunjukan diarahkan kepada pencapaian ruang gerak imajinasi seluas-luasnya, ternyata tidak mudah. Perabotan itu, walaupun memang didistraksi dari lingkungan fungsinya, tetap merupakan benda-benda yang kita kenal. Narasi yang melekat pada fungsinya, tetap menghasilkan negosiasi yang bimbang antara apa yang terjadi di atas pentas, dengan pengalaman penonton terhadap perabotan itu.

Cerita sebagai tulang punggung pertunjukan, lantas berisiko ikut memiskinkan tumbuhnya ruang imajinasi antara dunia bintang-bintang dan perabotan rumah tangga. Andy berusaha mengatasi risiko ini dengan melakukan sayatan-sayatan atas alur pertunjukan yang berlangsung. Ketika Pangeran Bintang sedang bertarung dengan manusia penggorengan, misalnya, tiba-tiba muncul seorang ibu (diperankan Nunung) yang mengejar anaknya (diperankan Megatruh), berteriak-teriak menyuruh anaknya pulang. Ketika adegan sayatan ini berlangsung, adegan sebelumnya segera dibekukan, seperti potret kaku. Setelah adegan ibu dan anak usai, adegan sebelumnya kembali bergerak.

Epos mini tentang perabotan rumah tangga ini, akhirnya memang sebuah upacara yang merayakan kebebasan imajinasi. Imajinasi untuk mengatakan tentang sebuah galaksi di dalam dapur kita sendiri. Dan kita tidak tahu: mungkin setiap hari ada yang berperang dalam dapur rumah tangga kita.

Yogyakarta, 2 Juni 2010

* Afrizal Malna, penyair, tinggal di Nitiprayan Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 13, September 2010-Januari 2011)

Tim Kerja:

Pimpinan produksi: Andy Sri Wahyudi/ Staf Produksi: M. Ahmad Jallidu dan Eva Mutiara/ Sutradara: Andy Sri Wahyudi/ Aktor: Ari Dwianto, Asita, Ficky Tri Sanjaya, Yuniawan Setyadi, M. Ahmad Jalidu, Eka Hindra Setyarini, Febrinawan, Eka Nusa Pratiwi, Nunung Deni Puspitasari, Megatruh, BAgus Taufiqurahman/ Musik: Ari Wulu/ Lampu: Sugeng Utomo/ Aristik: Beni Siswo Wardoyo/ Penata Teks: Wahmuji

Komentar penonton:

Menurut saya pentas ini bentuk inovasi baru yang mengemas pantomim dengan gaya baru. Ide yang fresh, dengan ‘memberi nyawa’ terhadap perkakas yang selama ini setia dalam keseharian kita. Meskipun alurnya/ tema sangat biasa namun pertunjukan ini cukup menarik dan mengundang decak kagum. Kelemahan sangat terasa pada sound atau musik. Sebenarnya itu fatal tetapi tertolong dengan konsep kostum yang indah dan unik. Saya senang! Pertunjukan yang beda dan mengesankan. (Asih, 24 tahun, Bekerja di Perusahaan Swasta. PT Milennium PF. Financial Consultant)

Pentasnya critane lucu dan kostumnya keren. Jadi serasa nonton film Holywood. (Mohamad Nur Komarudin, usia 25 Tahun, Aktor Muda Jogja)

Pentasnya seru n banyak pernak-pernik, adegan di lobi sangat menarik, adegan di dalam panggung (sedikit) menguji ketahanan dalam duduk penonton. (Darmanto, Pekerja Seni )

Menurut aku pentas Bengkel kemarin adalah mimpi masa kecilku yang jadi kenyataan. Aku kangen masa-masa itu. Terima kasih sudah menghadirkan sesuatu yang lama hilang di hidupku. (Ucog Lubis, Aktor)

Oleh: Andy Sri Wahyudi

Suara jerit anak-anak kecil, celetukan pemuda, rumpian ibu-ibu, dan pedagang tiban menawarkan dagangan menghiasi sebuah gang. Ramai, guyup, dan meriah di bawah terang sinar bulan. Suasana itulah yang hadir dalam penyelenggaraan pementasan “Suk-suk Peng” karya Bambang Widoyo SP yang dibawakan oleh Komunitas Sego Gurih. Suasana layaknya pesta rakyat tersebut terjadi pada tanggal 14 Juli 2010 di Sanggar Omah Opak yang berada di dusun Karang Ploso, Sitimulyo, Piyungan, Bantul.

Suk-suk Peng menggambarkan semangat bertahan hidup orang-orang yang sering disebut kurang beruntung di tengah jaman yang dikuasai modal. Pelok (Ibnu “Gundul” Widodo) seorang loper koran, Emak (Nurul Jamilah) si tukang kerok, dan Jarot (Suhunan “Kadir” Hamzah) si preman kampung; mereka adalah tokoh-tokoh kaum tersingkir yang menjadi korban derap pembangunan. Di sisi lain Ndoro Kakung (Elyandra) dan Ndoro Putri (Aditta Dea Mastro) adalah tokoh-tokoh yang hidupberkecukupan di rumah mewah dengan pembantu centil bernama Klenyem (Si Y).

Cerita diawali percakapan santai antara Emak dan Pelok perihal kerasnya hidup yang harus dihadapi. Kemudian Jarot dengan sikap yang semaunya sendiri datang menanyakan keberadaan pacarnya. Konflik mulai tumbuh ketika Pelok berkasih-kasihan dengan Klenyem dan akhirnya menghadapi kenyataan cintanya kandas lantaran Ndoro Kakung telah menghamili Klenyem. Sementara itu, Prasojo (anak Ndoro Kakung) mempunyai hubungan dengan pelacur yang berstatus pacar Jarot. Hal itu membuat Jarot marah besar lalu melabrak ke rumah Ndoro Kakung, hendak membuat perhitungan dengan Prasojo. Cerita berakhir tragis ketika Ndoro Kakung dan Ndoro Putri mati lantaran tak sanggup menghadapi permasalahan itu.

Dua Titik yang Menggairahkan Penonton

Beranda rumah kepala dusun yang dijadikan setting rumah Ndoro Kakung dan Ndoro Putri

Ruang pementasan dibagi menjadi beberapa titik, namun ruang inti berada di dua tempat  yakni di beranda rumah kepala dusun dan di bekas reruntuhan bangunan berlatar kebun pisang yang terletak di seberang rumah, yang juga menjadi tempat para pemusik. Panggung dibelah oleh gang yang dijadikan sebagai tempat penonton.

Perpindahan adegan yang sering kali terjadi dengan tiba-tiba sering membuat penonton dibuat bingung namun justru membangkitkan susanana yang segar. Misalnya, ketika adegan Emak dan Pelok yang sedang bercakap-cakap tiba-tiba adegan berganti di beranda yang menggambarkan rumah Ndoro Kakung. Maka penonton seperti diberi aba-aba memutar tubuhnya dan merespon dengan gerutu yang sekenanya, “Woo..lha pindah nggon to dramane? Wah Jyaan…”, begitu ucap salah seorang ibu. Perpindahan itu tak hanya terjadi sekali dua kali, namun beberapa kali, bahkan ada adegan yang terjadi di tempat duduk penonton. Suasana menjadi sangat cair dan menggembirakan, ketika anak-anak merespon hal itu dengan sesekali mengganggu aktor yang sedang berakting di antara penonton.

Aktor dan pemusik di atas panggung: bekas reruntuhan bangunan

Permainan ruang yang diusung Sego Gurih ini disebut sapit urang, menurut Yusuf Abdilah, sang sutradara. Penonton dibuat terjebak ketika terjadi pembalikan arena permainan. Tak seperti pementasan pada umumnya: pemain dikepung penonton, namun dalam pementasan ini justru pemain mengepung penonton. Penonton sengaja dijebak ke dalam dunia panggung yang biasanya berjarak. Strategi ini menjadikan adegan tampak hidup lantaran penonton memberikan kontribusi “gangguan” yang segera direspon oleh aktor. Suasana semakin seru ketika para pemusik yang selain menghidupkan adegan dengan aransemen musiknya yang kocak juga turut mengomentari pemain. Di sini kemampuan aktor dalam menghidupkan peristiwa dan cerita benar-benar diuji.

Pementasan Suk-suk Peng ini tak hanya dipentaskan di Sanggar Omah Opak saja, namun juga di empat tempat yang lain yaitu Balai Budaya Samirono, Tembi Rumah Budaya, di dusun Bantar (Bangun Cipto, Sentolo, Kulonprogo) dan terakhir di Wirosaban; yang masing-masing mempunyai karakteristik ruang tersendiri.  Sebelum bermain, teman-teman dari Komunitas Sego Gurih ini memilih ruang kemudian membuat pola permainan dengan mengedepankan akting para aktornya. Mereka bermain dengan spirit tradisi yang membebaskan dari pernak-pernik teknis pementasan teater modern; bermain dengan memanfaatkan ruang dan benda-benda yang dapat digunakan sehingga panggung menjadi lebih luwes dan menggembirakan. Penonton pun lebih bergairah menikmati pementasan sekaligus menjadi bagian dari peristiwa teater. Hal ini seturut cara mereka memaknai ruang sebagai tempat terjadinya proses komunikasi yang terjalin dari niat, kerja, ide, hingga terjadi peristiwa.

(terbit di skAnA volume 13, September 2010-Januari 2011)


Tim Kerja Suk-suk Peng:

Pimpinan Produksi: Febrian Eko Mulyono/ Creative Design Publikasi: “Clown” Syndicate/ Sutradara: Yusuf “Pecel Peci Miring”/ Pemain: Ibnu “Gundul” Widodo, Elyandra, Si Y, Nurul Jamila, Suhunan Hamzah/ Penata Setting: Beni Wardoyo, Ujang, Wawan/ Penata Cahaya: Dwi Vian/ Make Up&Kostum: Dhani Brain/ Stage Manager: Febrian Eko Mulyono/ Manager Latihan: Resti/ Pemusik: Ki Sawito , Dadang,Katrok, Tony Steve, dkk.

Komentar Penonton:

Aktris yang jadi emak keren, aktingnya natural tidak dibuat-buat dan bisa merespon penonton. (Astuti, 30 tahun, bekerja di LSM anak)

Asyik deh…merasakan proses pertemuan naskah dan masyarakat. (Mucklas, 27 tahun, pemuda desa Karang Ploso)

Bagus, mereka bisa menjadikan kesalahan drama menjadi salah satu bentuk interaksi terhadap penonton. Dan itu sangat bagus. PD ABIS… (Mas Yanto, 20 tahun, bekerja sebagai volunter di Sekolah Mbrosot, Kulon Progo)

Komik skAnA volume 12: TOTALITAS!! by Asita

Oleh: Andika Ananda

Hindra (skAnA) menawarkan pada saya untuk menulis tentang “Teater yang Menyenangkan”, pentas kolaborasi sepuluh aktor Yogya yang dipentaskan akhir Maret lalu dalam program Jagongan Wagen Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK).

Saya mengiyakan saja tawaran tersebut, walau saya belum tahu apa yang harus saya tulis. Apalagi pertunjukan tersebut sudah cukup lama berlalu, entah di mana catatan kecil tentang proses dan pentas tersebut saya simpan. Semoga cuma saya yang tidak terbiasa menulis catatan proses, di antara sepuluh orang pemain “Teater yang Menyenangkan” (TYM).

Berawal dari Sebuah Tawaran “Aneh”

Berawal dari sebuah tawaran via telepon yang datang dari YBK untuk mengisi Jagongan Wagen. Sempat ragu-ragu, tapi akhirnya saya setuju. Paling tidak untuk sekedar mencari pengalaman, pikir saya.

Dua hari berikutnya kesepuluh calon aktor dan aktris TYM bertemu di YBK. Di sinilah “persoalan” bermula, ketika Mas Besar Widodo menyampaikan idenya tentang membuat teater yang menyenangkan. Kami cuma bisa tertawa, bingung, dan saling pandang. Apa yang menyenangkan dari teater? Menyenangkan yang bagaimana? Bukankah menyenangkan untuk saya belum tentu menyenangkan bagi orang lain?

Secara sederhana mas Besar menjelaskan tentang bagaimana seandainya kita membuat sebuah pertunjukan teater yang tidak hanya mampu menyenangkan pelakunya, tetapi juga penonton. Perasaan menyenangkan yang diharapkan tidak hanya terjadi ketika pentas berlangsung atau usai pentas, tapi juga bagaimana mewujudkan sebuah proses penciptaan dan proses berteater yang menyenangkan dalam ekologi yang lebih luas.

Dalam waktu kurang lebih dua minggu, sepuluh aktor dan aktris dituntut untuk membuat sebuah pentas teater tanpa naskah dan tanpa didampingi sutradara. Lalu apa jadinya?

Setiap orang yang terlibat dalam kerja kolaborasi ini berasal dari berbagai komunitas yang berbeda, dengan kecenderungan ber-teater yang berbeda pula. Tita Dian Wulan Sari (Tita), Wiwara Awisarita (Sasha), Muhammad Nur Qomaruddin (Qomar), Djuaedi Ucog Lubis (Ucog), Feri Ludiyanto (Feri), Jami Atut Tarwiyah (Atut), Rheninta (Ninit), Febrin Eko Mulyono (Yayan), Marya Julita Sari (Iya’) dan dan saya sendiri Andika Ananda.

Masalah selanjutnya muncul ketika hampir semua pemain yang terlibat memiliki aktivitas padat di luar TYM, sehingga sulit untuk bertemu dalam satu waktu.. Akhirnya jadwal latihan disesuaikan dengan aktivitas masing-masing pemain. Disepakati bahwa siapapun yang bisa bertemu di satu waktu, walaupun tidak lengkap bisa tetap melakukan eksplorasi.

Setelah beberapa kali latihan, bukannya menemukan apa yang akan kami pentaskan, justru sebaliknya kami menemukan kebingungan dan kebuntuan. Kerja kolaborasi memang tidak mudah, apalagi dalam waktu yang begitu singkat.

Di tengah kebingungan, proses latihan tetap berjalan. Singkat cerita tanpa disadari, kami menemukan beberapa hal. Sampai akhirnya kami sepakat untuk membuat empat (4) repertoar dalam durasi kurang lebih satu jam. Empat reportoar tersebut antara lain: Dream to Play, Blue Job, Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi, dan yang terakhir adalah Trisno Falling in Love.

Dream To Play menjadi repertoar pembuka. Repertoar yang dibuat minim dialog ini menjadi adegan perkenalan bagi tiap pemain. Dream to Play menceritakan tentang sepuluh pemain teater yang berlatih bersama dalam sebuah proses. Dari awal sudah nampak bagaimana ketidakkompakan di antara mereka. Konflik mulai muncul di tengah latihan ketika sebagian di antaranya serius berlatih, sementara yang lain tidak ingin serius berlatih.

Adegan digambarkan dengan dua karakter koreografi yang sengaja dibuat kontras antara dua kelompok. Di puncak konflik, tiba-tiba salah seorang pemain mengatakan sutradara (Iya’) sudah datang. Seluruh pemain kebingungan, dan berlarian ke sana kemari. Hilir mudik pemain tak karuan ketika Iya’ masuk panggung masuk dan meminta seluruh pemain untuk menyiapkan sebuah adegan.

Dream to Play. Foto: Sigit Kurniawan

“Meja!” teriak Iya’, salah seorang pemain pun seolah-olah menjadi meja. “Kursi”, pinta Iya’ lagi, pemain lain serta merta menjadi kursi. Demikian seterusnya hingga panggung menjadi sebuah ruang tamu yang di dalamnya berisi berbagai perabot yang “terbuat” dari para  pemain. Repertoar ini ditutup dengan perintah “action” dari sutradara dan panggung blackout.

Repertoar ke dua berjudul “Blue Job”. Repertoar diawali dengan adegan mesra antara Tita dan Ucog, yang digambarkan melalui eksplorasi gerak tubuh. Tak disangka-sangka saat sedang asyik mesra, Ucog baru menyadari kalau Tita sebenarnya sudah memiliki kekasih, yaitu Yayan. Dengan perasaan terluka Ucog pun pergi meninggalkan Tita. Setelah Ucog keluar, masuk Yayan dengan begitu marah, memandang Tita dan hendak berlalu. Tita mencoba untuk menghalangi ke manapun Yayan pergi. Adegan dibuat sedikit koreografis dan atraktif. Hingga di puncak adegan, “kita putus!” ucap Yayan sambil keluar. Tita hanya terdiam di tengah panggung sambil menatap Yayan yang berlalu.

Berikutnya Tita menelpon temannya (Sasha) yang sedang asyik mengetik, “Halo”, jawab Shasa, “Sha aku putus” balas Tita.. Sasha menelpon Iya’ yang sedang asyik memasak di dapur, Sasha menceritakan bahwa Tita putus dengan Yayan. Tak berhenti sampai di situ, Fery tiba-tiba masuk dalam keadaan terhuyung, nampak Fery dalam keadaan mabuk, ia mandi di bawah pancuran. Handphone Fery berdering, ternyata telepon dari Iya’, Iya’ menceritakan putusnya hubungan Tita dan batalnya rencana pernikahan Tita dan Yayan. Adegan ditutup dengan kata “selingkuh” dari ketiga pemain.

Terciptanya repertoar “Dream To Play” dan “Blue Job” ini diawali dari ide untuk menciptakan imaginasi tentang ruang, benda dan peristiwa. Sangat minimalis, minim porsi dialog dan tanpa menggunakan properti tambahan. Pemain menggambarkan adegan dan peristiwa dominan menggunakan tubuh (gerak). Adegan saat Iya’ memasak misalnya, Iya’ hanya melakukan gerakan keseharian saat seseorang benar-benar memasak di dapur dengan berbagai peralatan dapur. Begitu juga adegan yang lain.

Repertoar ke tiga berjudul “Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi”. Diawali dengan musik yang mengesankan suasana kepadatan lalu lintas dan hiruk pikuk kota. Sesuai dengan judulnya, repertoar ini dimainkan oleh empat orang, yaitu Shasa, Atut, Iya’, dan Tita. Sama dengan dua repertoar sebelumnya, dalam repertoar yang berdurasi kurang lebih dua belas menit ini, adegan diekspresikan melalui tubuh (gerak), vokal yang muncul hanya berupa interjeksi untuk memberi penekanan pada gerak dan peristiwa.

Berbeda dengan dua repertoar sebelumnya, dalam repertoar ini satu persatu pemain muncul dari arah penonton. Setelah di atas panggung mereka menciptakan ruang imajinasi, seolah-olah sedang gelisah menunggu kendaraan di pinggir jalan. Kadang bergantian, kadang serempak empat orang gadis ini melambaikan tangan kepada setiap kendaraan yang melintas, namun tidak ada satupun yang berhenti. Sampai akhirnya mereka melihat taxi dan saling berebutan. Tapi tak satupun dari mereka mendapatkannya sampai panggung gelap kembali.

Terciptanya repertoar ini bisa dibilang tanpa sengaja, yaitu ketika Shasa, Atut, Iya’, dan Tita mencoba untuk melakukan eksplorasi gerak bebas. Walaupun tidak berangkat dari tema tertentu untuk pijakan eksplorasi, tak disangka terjadi gerak saling respons yang komunikatif. Gerak saling tarik, dorong, lompat seolah-olah menemukan “teks”-nya sendiri. Jadilah sebuah repertoar tentang Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi”.

Empat Orang Gadis Menunggu Taxi di Tengah Malam yang Sepi. Foto: Sigit Kurniawan

Repertoar terakhir berjudul “Trisno Fallling in Love”. Dari keempat repertoar, hanya repertoar ini yang sengaja memakai improvisasi dialog verbal dan dibuat lebih “cair”. Repertoar yang dimainkan oleh tiga orang (Qomar, Ninit, Andika) ini dominan menggunakan bahasa Jawa.

Repertoar terakhir ini memang cukup mampu membuat penonton tertawa. Dalam “Trisno Fallling in Love”, diceritakan tentang suami istri yang tidak lagi harmonis setelah sekian tahun menjalani hubungan rumah tangga. Saat terjadi percekcokan di antara mereka, tiba-tiba Trisno (Andika) muncul dan memanggil si suami (Qomar) sambil menghampiri dan menyentuh pundaknya. Dari sinilah terbuka kedok si suami, yang ternyata selama ini biseksual. Adegan ditutup dengan “rengekan” Trisno, yang menceritakan betapa hancur hatinya, dan meminta dukungan kepada penonton lewat “koin untuk Trisno”.

Dalam repertoar yang begitu satir ini, pemain berusaha menciptakan adegan dan dialog yang bukan bertujuan untuk melucu, namun menciptakan sebuah peristiwa yang mampu menciptakan kesan (menggugah) lucu bagi penonton. Bila salah satu indikator senang itu adalah tertawa, mungkin di sinilah salah satu letaknya. Bukan serta-merta untuk menghibur atau melucu, tapi menciptakan persepsi dan kesan, yang bisa dimaknai apapun oleh penonton, termasuk tertawa!

Bila saya harus melucu malam itu, mungkin lebih baik saya menjadi pelawak ketimbang pemain teater!

Teater “Tanpa Naskah dan Sutradara”

Sengaja saya kutip dari tulisan (review) di koran Kedaulatan Rakyat (3/04/10) tentang “Teater yang Meyenangkan”:

Tentu bukanlah hal yang baru, ketika proses penciptaan sebuah garapan teater tidak berangkat dari naskah (teks) dan gagasan sutradara. Apalagi jika kita tidak berpikir secara un sich tentang teks dan sutradara (baca:kerja penyutradaran).

Banyak pementasan teater yang tidak berangkat dari teks unsich, tapi berangkat eksplorasi ruang, musik, gerak dan berbagai elemen artistik lainnya. Pada pola penciptaan seperti itu, dalam perjalanan proses pencarian, pencataan, dan presentasi selama latihan, sebenarnya juga telah terjadi kerja intertekstualitas, di mana teks ruang, teks tubuh, gerak, kata, dsb bertransformasi untuk menciptakan keutuhan “teks” pentas. Di sinilah sutradara bekerja sebagai interpreter yang menganyam keseluruhan gagasan dan penemuan yang muncul selama proses eksplorasi. Bisa jadi teks baru terwujud usai pentas, atau bahkan tak selesai sama sekali.

Keempat repertoar dalam teater yang menyenangkan dibuat begitu minimalis. Tidak ada satu setting (properti dan dekorasi) di atas panggung, kostumpun sengaja dibuat massif, hitam-putih. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri, di mana kami harus menciptakan kekayaan simbol dan makna. Apalagi yang dilakukan oleh aktor, selain harus memaksimalkan potensi tubuh (baca: diri) nya.

Bukan bermaksud berapologi, kami sadar dengan apa yang kami capai malam itu. Walau waktu bukan satu-satunya ukuran, namun waktu dua minggu sangatlah tidak cukup untuk sebuah kerja kolaborasi dan menciptakan sebuah pertunjukan teater yang benar-benar sublim!

Paling tidak, saya merasakan sesuatu menyenangkan dari apa yang telah saya lakukan malam itu. Mungkin rasa menyenangkan yang saya rasakan berbeda dari sembilan orang lain yang terlibat dalam TYM, apalagi penonton! Tapi apapun makna “menyenangkan” bagi kita, semoga teater menjadi sesuatu yang “lebih dari menyenangkan”! Paling tidak untuk saya pribadi. Terima kasih.

* Andika Ananda, pemain teater, aktif di Kelompok Seni Teku dan Komunitas Rumah Lebah

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

[sejenak bincang-bincang dengan Siti Fauziah (Ozi), salah satu sutradara pementasan Monolog Imagined Life, Teater Tangga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta]

Oleh: Hindra Setya Rini

Salam hangat buat pembaca skAna yang setia,

Kali ini reporter skAna agak membelok sedikit menghampiri anak-anak muda yang baru memulai debutnya di ranah teater, khususnya yang berniat belajar menjadi sutradara. Kalau biasanya skAnA mengunjungi para tokoh atau kelompok teater yang cukup dikenal keberadaannya di panggung-panggung teater di Jogja, untuk edisi ini kami cukup penasaran dengan mereka anak-anak muda yang pemula. Bincang-bincang ini mencoba mengulik sedikit bagaimana proses pertama mereka menjadi sutradara. Hmm, menarik… Yuk, simak pengalaman apa saja yang akan dibagi di sini…

Imagined Life, bisa diceritakan ini perihal apa?

Ozi:

Hm.. Monolog ini kan dalam rangka studi pentas angkatan baru di Teater Tangga, dan ini menjadi agenda penting untuk belajar mengurus kerja sebagai sebuah tim secara mandiri yang pertama untuk kami. Mandiri di sini dalam arti kami agak mengurangi keterlibatan para senior yang biasanya kuat mencampuri urusan pementasan. Begitu mulanya…

Kalau Imagined Life sendiri, yang artinya adalah “bayangan kehidupan atau hidup yang dibayangkan (diimpikan); yaitu bahagia tanpa derita”, awalnya bermula dari hidup yang dibayangkan pada masing-masing orang di antara kita (baca: tim). Idenya begitu. Aku, Kiki, Dinar, Parto, Septi, yang kebetulan tergabung dalam kepengurusan Teater Tangga periode tahun 2008-2010, kami masing-masing punya harapan yang jelas bahwa setiap orang itu punya —mengutip bahasanya Mas Yudi A.T— “H-U-N-C-H” (karep/keinginan). Dan saat ini kami sedang berjuang mewujudkan cerita-cerita tentang hunch kami… Begitu ceritanya…

Pemilihan naskah yang mewakili ide tema hunch itu, gimana?

Ozi:

Di Imagined Life itu ada 2 pertunjukan yaitu naskah dari Giri Ratomo yang judulnya Sst Diam, lalu karya Teater Tangga sendiri judulnya On Se Ra Conte.

Perihal naskah ini, Sst Diam buatku cukup menarik karena di sisi lain ia sedang membicarakan hunch di luar kami. Meskipun di dalamnya tidak menunjuk jelas siapa tokoh yang dibicarakan tapi ia cukup memberikan rangkuman banyak hal dan kejadian soal kenyataan-kenyataan di sekeliling kami. Cakupannya cukup luas, tidak hanya hunch secara personal tapi hunch yang lebih luas, misal: masyarakat, negara. Sedangkan On Se Ra Conte, adalah tambahan cerita Rahmad Jaka Drill yang dikemas jadi satu dengan cerita masing-masing dari kami (tim). Sekali lagi ini intinya tentang hunch orang-orang yang terlibat dalam proses ini lalu diramu jadi satu naskah cerita. On Se Ra Conte itu sendiri artinya ‘kita saling bercerita’.

Tentang prosesnya, Sst Diam kan naskah sudah ada, jadi aku tinggal edit aja di sana-sini. Di beberapa bagian aku edit atau aku hilangkan. Lalu On Se Ra Conte, masing-masing menulis carita dan setelah itu ditulis ulang menjadi satu naskah cerita oleh Septian Nur Yekti. Kebetulan ia yang paling hobi menulis di antara kami. Hehehe… oh ya, untuk On Se Ra Conte itu yang menyutradarai juga dia, bukan saya.

Siti Fauziah (Ozi)

Proses sampai ke pementasannya?

Ozi:

Prosesnya satu bulan latihan keaktoran. Lumayan cepat, ya? Makanya susah banget. He he… karena ada penyesuaian-penyesuaian lagi soal kerja tim, jadi ya lumayan bikin PANAS! Ha ha ha… tegangan tinggi pokoknya. Oh ya, terlebih aktornya kan baru alias belum pernah ngobrol atau tahu lebih banyak soal teater, dan aku, juga baru pertama kali berproses menjadi sutradara, wuaaah… itu yang banyak menguras pikiran. Tapi yang terpenting buatku dari semuanya itu adalah ini suatu proses pembelajaran bersama… huufh…! he he he…

Kendala atau tantangan apa yang muncul selama proses?

Ozi:

Ini kerja “tim” pertama kali yang semua urusan ditangani sendiri. Aku di penyutradaraan, aktor-aktornya juga baru, tim artistik dan tim produksi yang juga baru belajar dan mencoba mengujikan hasil belajar kami, ditambah dengan kesibukan masing-masing orang yang terlibat dengan aktifitas di luar proses ini. Itu yang lumayan susah, soal kesepakatan jadwal dan sebagainya.

Kalau ini tadi dibilang sebuah pembelajaran bersama, yang paling berharga dari proses ini buatmu, apa?

Ozi:

Ini soal belajar dan soal hunch, dimana semua orang punya keinginan masing-masing untuk menjadi sesuatu yang baik (setidaknya untuk diriku sendiri). Maka jangan pernah berhenti belajar dan dengarkan apa keinginanmu. Lalu, wujudkan “imagined life”mu. Buatku, aku sudah berani lepas dari penilaian jelek and bagus atas apa yang aku lakukan! Horeeee… jadi berani aja, lagi. Nggak kapok, kok! Elek..? Ah, luweeeh…he he…  ;p

Biografi Singkat Ozi

Bernama lengkap Siti Fauziah, lahir di Blitar, 19 Desember 1988. Terlibat dalam proses Teater Tangga sejak pementasan Celah (Perjalanan Seorang Pelancong), dan Cinta Persegi sebagai aktor. Mengikuti program belajar keaktoran Actor Studio 2009 di Teater Garasi dan terlibat dalam pertunjukan Bocah Bajang. Sekarang sedang berproses dalam pertunjukan Medea Media (naskah asli Euripedes, sutradara Naomi Srikandi).

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi.

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)