Pengalaman


Oleh: Jami Atut T.*

Tertawa  adalah reaksi pertamaku sewaktu Hindra, salah seorang awak skAnA memintaku untuk menulis proses penggarapan naskah The Seagull/Camar karya Anton Chekov. Diadaptasi oleh Gunawan Maryanto, dan disutradarai oleh Corrina Manara dari Teater Embassy Belanda, yang kebetulan sedang residency di Teater Garasi. Sembari mengumpulkan ingatan yang sudah tercecer tentang proses ini, baiklah kucoba membagi ceritanya (agak grogi juga karena ini pertama kalinya aku menuliskan pengalamanku) kepada teman-teman pembaca semua.

Semula aku tidak pernah menyangka akan ditelepon oleh seorang rekan dari Teater Garasi, yang kemudian mengajakku bergabung dalam proses penggarapan naskah Camar. yang akan disutradarai oleh Corrina Manara. Perempuan berusia 32 tahun ini ingin membuat sebuah karya kolaborasi dengan seniman lokal di Jogja. Sebuah ajakan atau tepatnya kesempatan yang tentu saja tidak akan ku biarkan lewat begitu saja.

Awal pertemuan kami bertiga (aku, Corrina Manara, dan Naomi Srikandi sebagai penerjemah sekaligus asisten sutradara dalam proses ini) dimulai dengan membicarakan tentang ide yang akan diusung dalam pementasan nantinya. Aku menangkap bahwa sebuah ide yang sangat menarik untuk direalisasikan di atas panggung. Menarik karena ada sesuatu yang baru dan berbeda secara visual. Penggarapan Camar lebih memprioritaskan bentuk. Sebelumnya saya tidak mempunyai referensi pemanggungan yang pas untuk gagasan ini.  Bingung pada awalnya, karena gagasan si Sutradara inginnya menggarap naskah Camar secara non realis. Yang artinya, di sini para aktor diajak menanggalkan pikiran-pikirannya tentang kecenderungan (penggarapan panggung dan akting) yang ‘kudu’ realis karena sedang menggarap naskah-naskah Anton Chekov yang dikenal sangat realis itu. Di tengah kebingunganku, akhirnya aku berpikir, mungkin akan jauh lebih mudah kalau aku langsung masuk dalam proses latihan untuk segera merealisasikan ide-ide atau gagasan sutradara.

Setelah perbincangan kami di awal, aku mulai mengetahui Corrina tidak menyukai realisme sedangkan aku termasuk aktor yang selalu berkutat dengan gaya akting realis. Ada sedikit pertentangan ketika aku mulai membaca naskah dan mengingat gagasan yang kami bicarakan waktu itu. Tapi kuabaikan saja. Bagiku setiap kalimat yang Chekov ciptakan penuh dengan unsur-unsur komedi “nakal” yang segar. Saat aku mulai reading, aku membebaskan diri dari gagasan pementasannya. Aku menikmati betul setiap kalimat dan berusaha meliarkan imaji sebelum masuk ke dalam proses latihan bersama aktor-aktor yang lain. Melafalkan kalimat-kalimat yang menggelitik membuatku tersenyum sendiri.

Saat memasuki latihan bersama aktor yang lain, aku masih ingat betul sms yang aku terima dari Mbak Omi (Naomi Srikandi) yang isinya: Jangan lupa bawa baju latihan yang nyaman karena besok kita ada sedikit pemanasan. Aku bertanya pada diriku sendiri, “Hm… Kali ini aku berproses bersama temen-temen Garasi yang terbiasa dengan tubuh sebagai media utama dalam berteater. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan padaku, terutama pada tubuhku? Haha, mungkin tubuhku akan shock karena sebelumnya hampir satu tahun aku berproses bersama teater Gandrik yang  selalu happy.” Gojek kere dan gaya slenge’an para pemainnya adalah salah satu cara  bereksplorasi di Teater Gandrik dalam mencari, dan mendapatkan bentuk yang diinginkan bersama untuk pementasan. Terlepas dari itu semua (pikiran-pikiran dan kebiasaan berprosesku), sebagai aktor saya harus siap menerima materi apapun yang akan sutradara berikan dalam latihan, termasuk merelakan tubuh suburku sebagai media penyampai gagasan. Oh, ya, dalam proses Camar aku berperan sebagai Irina.

Kesan berikutnya, di sini saya beruntung bertemu dengan aktor-aktor yang hangat dan terbuka, padahal awalnya saya merasa canggung karena saya termasuk aktor yang terlambat masuk dalam lingkaran proses latihan. Dalam proses Camar para aktor dikenalkan dengan beberapa metode yang masih terasa asing, terutama karena aku tidak mengikuti workshop yang diberikan sutradara di Banjar Mili sebelumnya. Hidden tought dan side scene merupakan salah satu metode yang dilatihkan pada aktor.

Hidden tought adalah pikiran-pikiran tersembunyi, yang dibayangkan aktor mengenai para tokoh yang diperankannya—dengan catatan: tidak terdapat pada teks / naskah—yang harus dikeluarkan di tengah-tengah dialog dengan takaran yang pas dan sesuai dengan persoalan yang ada (sinkronisasi cerita). Seperti dalam dialog Irina kepada tokoh Nina seorang aktris pendatang baru “Selamat Nina, aktingmu sangat luar biasa sekali, tapi… kenapa wajahmu yang cantik dan suaramu yang indah itu kau sembunyikan di kampung ini.“ Sedangkan hidden tought Irina ingin menyampaikan bahwa akting Nina buruk sekali. Contoh: “Coba kalian lihat! Akting Nina begitu buruk, apalagi suaranya, ouw…sama sekali tidak merdu dan wajahnya tidak cantik.”  Dalam hal ini Irina sebenarnya menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya terhadap Nina, tetapi harus dia sampaikan di tengah-tengah dialog kepada penonton. Seperti kata Brechtian “tiba-tiba menjadi dan kembali menjadi” yang artinya para aktor  dituntut untuk keluar masuk dari peran dan tokoh masing-masing menjadi dirinya yang asli, tapi secepat mungkin kembali lagi ke dalam  karakternya.

Sedangkan Side Scene adalah adegan samping di luar realitas dari adegan utama. Awalnya memang terasa asing dan membingungkan. Sebagai aktor saya sempat merasa khawatir kalau-kalau kurang tepat dalam menerapkan kedua metode ini. Setelah melewati hidden tought dan side scene yang pertama. Aku baru menyadari bahwa kedua metode tersebut merupakan salah satu cara untuk mempermudah para aktor agar memahami karakter tokoh dan alur cerita.  Juga untuk mengekplorasi naskah dan pikiran terdalam kita, yang tidak sempat terpikirkan sebelumnya. Lantas apa bedanya dengan  berimprovisasi atau bermain-main dengan teks? Sebenarnya sama, tetapi hidden tought di sini sifatnya kurang lebih untuk menjembatani  realitas dan non realitas dari adegan ke adegan.  Begitu juga dengan side scene (tapi side scene di sini media penyampaiannya lebih ke tubuh), misalnya karakter tokoh Irina, seorang aktris  terkenal pada masanya yang sudah berumur, sombong, merasa seksi, cantik, dan mempunyai emosi yang meledak-ledak. Di beberapa side scene Irina diimajinasikan seperti gunung, burung elang atau sungai yang beraliran deras dan penuh cadas. Kemudian divisualkan dengan bentuk tubuh yang cenderung horizontal, dan gerakan tubuh yang dibesarkan (semula dari gerakan realis lalu menjadi tidak realis / tidak wajar). Sungguh tidak mudah ketika menerima dan masuk dalam kultur yang berbeda dan asing seperti metode hidden tought atau side scene yang diberikan.

Sebagai astrada, Naomi Srikandi melihat kebingungan dan kegelisahan yang sangat pada para aktor. Apa yang membuat para aktor belum bisa memaknai dan menemukan gagasan yang sutradara inginkan waktu itu. Kemudian Mas Cindil memberikan workshop kecil yang berefek besar terhadap pemahamanku tentang apa yang sebenarnya diinginkan sutradara. Lalu semua aktor berusaha mencari bentuk dengan cara mengeksplorasi imajinasi, tubuh, pikiran dan rasa untuk sampai pada tujuan visual dan ruang yang ingin diwujudkan dalam pertunjukan Camar.

Dalam proses ini setiap aktor mempunyai cara atau metode tersendiri dalam pencariannya di luar dari metode yang diberikan sutradara. Pembebasan sutradara kepada aktor inilah yang dinilai penting oleh setiap aktor untuk memunculkan ide-ide baru, yang kemudian diseleksi oleh sutradara untuk pencapaian bentuk visual maupun non visual. Pembebasan sutradara inilah yang segera kami eksplorasi secara maksimal sampai kami para aktor merasa lelah. Namun, justru saat kelelahan yang mendera itu, kami mendapatkan apa yang tidak kami sadari malah menjadi bentuk yang diinginkan sutradara secara artistik. Tetapi acapkali kami masih merasa belum puas, karena kami merasa sutradara lambat dalam mengeksekusi (kurang cepat  mengambil langkah ketika mendapati persoalan dalam prosesnya). Kembali lagi pada latar belakang dan kultur yang berbeda. Aku pikir memang mungkin inilah kendala prosesnya, selain perihal bahasa dalam berkomunikasi. Bagaimanapun aku merasa beruntung mendapati teman-teman yang selalu memberikan masukan dan semangat, terlebih teman-teman Garasi yang selalu meyakinkan kami; bahwa ini adalah gagasan segar yang sangat menarik untuk dipertunjukkan.

Pergulatan pikir, rasa, dan ruang yang telah dilakoni selama hampir tiga bulan membuatku semakin yakin dengan apa yang sudah dilewati dari proses yang begitu melelahkan. Tapi menghasilkan satu bentuk peristiwa kesenian yang diyakini dan kritis. Dengan segala keterbatasan, akhirnya proses Camar berhasil menjadi sebuah pertunjukan yang bisa diapresiasi oleh penonton. Aku berbahagia, karena semua ini juga happy. Proses Camar banyak memberikan input yang luar biasa dalam perjalananku sebagai aktor. Banyak hal yang aku temukan; bukan sekadar teman baru, lingkungan baru, pengalaman baru, saudara baru, tapi juga merasa menjadi sebuah  keluarga baru yang menata pondasi dari ketidak-tahuan akan tanah yang kami pijak, dan sepakat dijalani bersama.

* Jami Atut T, Aktor Independen, Mahasiswi Teater ISI angkatan 1999, tinggal di Jogja.

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

Advertisements

Oleh:  Wahyu Novianto*

Tahun 1983, ketika saya baru berumur satu tahun, Teater Gandrik berdiri. Dua puluh lima tahun sudah Teater Gandrik menghiasi panggung teater Indonesia. Selama itu pula Teater Gandrik telah mampu menyajikan spirit teater tradisi dengan gaya teater modern. Warna lokal budaya Jawa pada Teater Gandrik demikian kuat melekat di setiap pementasan yang digarapnya. Kemudian banyak kritikus mengatakan bahwa Teater Gandrik menggunakan pola estetika sampakan seperti pada gaya pertunjukan-pertunjukan ketoprak. Konsistensi terhadap bentuk dan gaya ucap itulah yang menjadikan Teater Gandrik pantas untuk dicatat dalam sejarah teater modern di Indonesia.

Dalam proses penggarapan naskah Sidang Susila karya Ayu Utami dan Agus Noor kali ini, saya sangat tidak menyangka bisa terlibat di dalamnya. Sebuah kebahagiaan yang luar biasa ketika saya bisa masuk dan melebur ke dalam kehidupan Gandrik. Suatu kehidupan baru dalam pengalaman saya berteater. Saya merasakan seperti berada di dalam tengah-tengah pasar, angkringan, atau pos ronda. Semua bebas untuk berkelakar menanggapi berbagai hal yang muncul seketika. Dimana batas-batas individual dikaburkan.

Tentu saja hal tersebut menjadi peristiwa asing bagi saya, karena proses teater yang biasa saya lakukan adalah dengan pola-pola akademis yang sistematis dan terencana. Terlebih lagi terbentang jarak emosional yang jauh antara pemain Gandrik tua dan muda. Hal tersebut kadang membuat saya dan teman-teman Gandrik muda belum bisa ikut berkelakar, gojek, bahkan pisuh-pisuhan secara bebas. Namun berkat Mas Butet yang selalu mengajak kita untuk melebur menjadi bagian dari setiap peristiwa kekonyolan-kekonyolan yang terjadi, baik saat latihan berlangsung maupun di luar latihan, jarak tersebut sedikit terkikis.

Teater Gandrik menyikapi bahwa latihan tidak sebatas saat reading ataupun penggarapan bloking. Namun, relasi pergaulan antar pemain di luar latihan pun merupakan sebuah proses berlatih. Relasi-relasi yang penuh tawa tersebut yang kemudian akan membentuk kegairahan bermain, sehingga setiap aksi ataupun ucapan dapat dilakukan secara ikhlas dan happy. Sikap ikhlas dan happy itulah yang menjadi kata kunci dalam setiap proses latihan. Hal tersebut membuat setiap latihan yang dilakukan tidak menjadi beban. Begitu sudah tidak menjadi beban, maka tubuh akan dengan ikhlas bermain dan dengan mudah mencapai berbagai capaian artistik.

Gaya celengekan dan saling mengejek dalam pergaulan sehari-hari itulah, yang kemudian berimbas besar ke dalam setiap pertunjukan teater yang digarap Teater Gandrik. Oleh karena itu, baik saat pertunjukan maupun latihan atmosfernya tidak jauh berbeda. Hal tersebut yang kemudian membuat seorang aktor sangat bebas untuk bermain-main. Veven Sp. Wardana mengistilahkannya dengan “bermain-main sebagai”, yakni aktor selalu keluar masuk peran yang dibawakannya. Membangun sebuah konstruksi dramatik yang kemudian dihancurkanya sendiri. Dalam disiplin teater, hal tersebut biasa disebut dengan gaya Brechtian. Tidak menciptakan jarak antara panggung dan penonton, juga menyadarkan penonton bahwa peristiwa di panggung bukanlah realitas yang sebenarnya. Hal tersebut mendorong penonton untuk bersikap kritis untuk menyikapi antara realitas panggung dengan realitas yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.

Teater Gandrik dalam "Sidang Susila"

Proses penggarapan naskah Sidang Susila ini merupakan proses pertama bagi saya bermain tanpa seorang sutradara. Proses yang saya jalani biasanya menempatkan seorang sutradara sebagai seorang pemimpin yang mengawal proses penciptaan artistik. Sutradara pada umumnya mempunyai grand design artistik yang akan dicapainya, dan hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan satu kepala. Konsep penyutradaraan menjadi dasar pijakan kerjasama antara sutradara, pemain, penata setting, dan seluruh tim yang terlibat di dalamnya untuk mencipta.

Dalam kasus penggarapan Sidang Susila, peran seorang sutradara digarap secara rame-rame. Semua orang yang berada di dalam lingkaran tersebut berhak dan wajib untuk urun rembug dalam proses penciptaan. Bahkan setiap orang yang menunggu dan melihat proses latihannya pun diminta tanggapannya. Semua yang terlibat di dalam proses adalah seorang kreator yang bertanggung jawab dan berhak mencipta pada wilayah artistiknya masing-masing. Dalam proses penggarapan  Sidang Susila, posisi yang mendekati peran seorang sutradara adalah koordinator artistik (Butet Kartaredjasa), dan tugasnya pun tidak lebih dari menganyam berbagai ide atau gagasan yang seliweran bahkan bertabrakan selama proses penciptaan berlangsung.

Setiap orang (pemain, pemusik, penata setting) dibebaskan untuk menafsir ke dalam berbagai bentuk bahasa ungkap. Semua hasil perolehan tersebut harus dipresentasikan atau diujikan pada saat latihan berlangsung. Kemudian yang lain diwajibkan untuk mengamati dan menilai hasil presentasi. Setelah itu didiskusikan bersama untuk menjalin kesepakatan-kesepakatan. Tidak menutup kemungkinan apa yang didapat hari ini, akan dipertanyakan kembali atau bahkan ditentang oleh sesama kreator. Setiap hari gagasan terus tumbuh dinamis dan segar.

* Wahyu Novianto, aktor muda Teater Gandrik, tinggal di Yogyakarta.

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

Oleh : Afika ‘Sutris’ Krisnantoro*

Awal Penulisan Naskah

Tre…tek..tek..tek…ning..nong..ning…gung….

“Ngomong-ngomong soal wayang? Whe..e..e..ee, pasti semalam suntuk, nguantuk. Ngomong-ngomong soal teater? Itu hiburan kok mikir. Ngomong-ngomong soal aktor? Kalau artis saya kenal banyak Mas!” Itulah semua jawaban singkat dari seorang teman ketika saya bertanya tentang wayang, teater dan aktor.

Jawaban-jawaban itulah yang membuat saya memberanikan diri untuk menulis naskah Sang Tutuka pada bulan Februari 2007 dan Gatutkaca Gugur pada bulan April 2007. Beberapa bulan sebelumnya saya membaca sebuah buku tentang wayang yang berjudul Bratajuda IV-Suluhan (Pedjahipun Gatutkatja) karya U.J. Katidjo Wiropramudjo dan Kamadjaja. Buku berbahasa Jawa dengan ejaan lama itu menceritakan salah satu babak dari epos besar Mahabharata. Penceritaannya berdasarkan versi yang berkembang di Yogyakarta.

Garis besar dari cerita buku tesebut adalah matinya seorang ksatria Pandawa yang bernama Gatutkaca. Saya mulai tertarik dengan tokoh sentralnya yang bernama Gatutkaca. Selanjutnya saya mulai mencari referensi tentang tokoh tersebut. Saya mulai membaca buku-buku yang menceritakan tentang Gatutkaca. Mulai kisah kelahirannya sampai kematiannya. Ini yang bikin pegel dan capek, karena kebanyakan referensinya berbahasa Jawa Kawi. Tanya sana-sini akhirnya dapat kamus Bahasa Kawi. Kemudian saya menemukan bahwa ada perbedaan versi tentang Gatutkaca. Menurut versi India, yang diakui sebagai tempat lahirnya epos Mahabharata, Gatutkaca adalah seorang ksatria yang berwujud raksasa. Anak pertama dari Bima dan Arimbi (raksasa perempuan).

Pada zaman pemerintahan Amangkurat II, terjadi penggubahan tokoh Gatutkaca. Yang semula berwujud raksasa digubah menjadi seorang ksatria gagah dengan wujud manusia. Dengan penambahan lakon carangan Gatutkaca Lair. Maka dibuatlah wayang Gatutkaca seperti yang kita kenal selama ini (kalau masih kenal, karena banyak juga anak-anak sekarang yang tidak kenal Gatutkaca, menurut saya). Begitulah latar belakang dari penulisan naskah Sang Tutuka. Oh, iya, saya lupa menerangkan tentang Sang Tutuka. Atau siapakah Tutuka itu? Tutuka adalah nama kecil dari Gatutkaca.

Dalam naskah Sang Tutuka, saya mencoba menampilkan Gatutkaca sebagai figur dengan latar cerita tentang kematiannya di Padang Kurusetra (tempat pertempuran besar antara Pandawa dan Kurawa). Dalam penceritaannya naskah ini banyak menggunakan gaya bahasa metafora. Tokoh Gatutkaca digambarkan menurut versi India. Seorang r.aksasa muda dengan kepala besar yang mempunyai kesaktian luar biasa, bisa terbang tanpa sayap. Tapi cerita kematiannya saya berpijak menurut versi Jawa. Mau saya ceritakan bagaimana Gatutkaca mati? Wah, bisa puuaanjang tulisannya. Tapi, yang jelas tragis dan romantis (sinetron mah kalah—pen).

Proses Menuju Pentas

Waktu naskah Sang Tutuka sudah hampir selesai, saya bertemu dengan dua teman sekomunitas. Namanya Robert Qmung dan Mas Bhayu Hidayat. Setahun yang lalu kami tergabung dalam Paguyuban Sekar Budaya Narayandra (PSBN) yang berkantor di Babadan, Bantul. Karena SDM yang sedikit kami lebih memilih bentuk-bentuk pementasan minimalis (minimalis dalam hal kuantitas SDM-nya). Kemudian saya berposisi sebagai sutradara di sana. Awal penyutradaraan saya dalam PSBN adalah karya musik puisi yang berjudul Senandung Kunthi-Karna (2007). Pementasan dengan durasi pendek ini (kurang lebih 20 menit) digelar di  Aula Lama Universitas Wangsa Manggala. Penggarapannya berangkat dari lakon wayang Kresno Duta dan Karna Tanding. Menceritakan tentang Dewi Kunthi (ibu dari Pandawa dan Karna) yang gagal membujuk Karna untuk berfihak kepada Pandawa. Dan harus melihat kedua anaknya, Karna dan Arjuna bertempur. Hingga akhirnya Karna tewas. Menampilkan pembacaan puisi oleh Ruth Triana Surya dipadu theme song dengan iringan gitar.

Kembali ke Sang Tutuka, dua teman yang saya sebutkan di atas kemudian menjadi tim produksi dalam pentas pembacaan naskah Sang Tutuka pada 11 September 2007, di Aula Lama Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta. Dalam pementasan ini saya menjadi sutradara sekaligus aktor. Konsep pertunjukan Sang Tutuka adalah perangkuman dari pembacaan cerita wayang, musik techno dan theme song. Pinginnya sih, kami mencoba me-reinkarnasi tradisi. Merangkai dunia semalam suntuknya pertunjukan wayang kulit dan semalam hip-hip-hura-nya dunia clubbing dalam kurang lebih satu jam pembacaan naskah.

Sulit memang, karena harus mencari momen-momen yang tepat untuk memasukkan unsur musik techno di sesela model tutur dan gerak yang cenderung bertolak pada pola pertunjukan tradisi. Seperti pada pola tutur, saya mengadaptasi gaya pelisanan dalang dalam pementasan wayang kulit, kemudian saya rangkum dengan suara efek DJ sebagai intro penceritaan atau sebagai gradasi untuk melantunkan tembang Sinom. Demikian juga pada pola gestur, untuk mengawinkan beberapa gerak dasar tari Jawa Tengah: Bedhoyo, dengan musik dugem saya menggunakan pola mimik wajah yang keras dan permainan api (seperti pada pertunjukan Jathilan).

Proses latihan kami cukup singkat. Dengan dua tahap latihan. Tahap pertama, selama kurang lebih satu bulan aktor dan tim musik latihan terpisah dengan materi yang sudah dibagikan. Kemudian selama enam kali pertemuan kami merangkai materi dari keaktoran dan musik.

Pola pertunjukan yang saya tampilkan cukup sederhana, demikian pula untuk tata lampu dan setting. Untuk musik saya mengajak Mbak Ventri (vokalis merangkap gitaris) dan seorang DJ yang sedang terseok-seok mengangkat namanya, DJ Wahyu.

Tempat pertunjukan dengan akuistik yang kurang mendukung memaksa stage manager untuk membatasi penonton menjadi maksimal lima puluh orang. Penonton yang rata-rata anak muda tersebut menjadi tantangan kami untuk memancing ketertarikan mereka pada wayang. Baik cerita, tokoh, maupun sejarahnya. Mungkin terlalu muluk impian kami. Tapi tak apalah, setidaknya dapat sedikit memberikan hiburan yang menegangkan (maksudnya, hiburan itu sendiri cukup menegangkan bagi kami, hehe..pen).

* Afika ‘Sutris’ Krisnantoro, pelaku teater, tinggal di Jogjakarta

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

Pengalaman Seorang Wawan dalam Workshop People’s Puppet Project

Oleh: Wawan Dwi Santosa*

Minggu 3 Juni 2007, di Alun-alun Utara yang  gersang, panas, dan berdebu, saya berada di dalam sebuah tenda putih. Mengenakan pakaian dan celana hitam, berkeringat, kepanasan, kelelahan dan berada dalam kondisi yang tak sepenuhnya fit. Bersiap-siap untuk masuk ke dalam boneka buatan saya sendiri. Ketika berada di dalam boneka, tiba-tiba semua perasaan gundah, lelah, panas hilang berganti menjadi bayangan kegembiraan yang muncul dari penonton ketika boneka saya keluar nanti. Maka saya keluar dari tenda itu bersama beberapa boneka lain. Suasana berubah menjadi semarak. Tepuk tangan, riuh penonton, dan jeritan anak kecil yang ketakutan membahana memenuhi sisi timur Alun-Alun Utara setiap ada boneka raksasa baru yang muncul.

Pemandangan luar biasa tersebut merupakan hasil akhir workshop People’s Puppet Project. Selama kurang lebih dua minggu workshop tersebut  menghasilkan sebuah pertunjukan akbar  dengan judul Kreteg (The Bridge) yang siap meramaikan Road to FKY XIX-2007. Tak banyak orang tahu bahwa seorang bernama Wawan Dwi Santosa, dari sebuah kelompok bernama La’Gientes berada di dalam salah satu boneka raksasa; berkeringat, kepanasan, khawatir pertemuan dengan kawan-kawan selama workshop yang menyenangkan ini akan segera berakhir.

Saya memang tergabung di dalam sebuah kelompok yang sedang berusaha untuk memantapkan diri di jalur teater. Bagi saya pengalaman menjadi peserta workshop bersama Snuff Puppet dan menjadi aktor dalam sebuah pertunjukan teater boneka, dan bertemu dengan orang-orang baik dari kelompok seni maupun non-seni yang lain adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga.

Cerita ini berawal dari sebuah sms singkat Mbak Galuh, koordinator workshop People’s Puppet Project, yang menawarkan workshop tersebut kepada saya. Setelah membatalkan beberapa agenda, segera tawaran itu saya sanggupi.  Carpe diem, jangan pernah melewatkan kesempatan yang tiba-tiba hadir.

Senin, 21 Mei 2007 di bangsal Layang-layang Padepokan Bagong Kussudiardja semua cerita dimulai. Selama dua minggu saya akan mengikuti proses yang  saya bayangkan akan sangat menarik. Ada tiga hal yang kira-kira mampu mewakili perasaan saya selama berproses:

  1. Pada awal-awal workshop saya berteriak, YA AMPUN!
  2. Saat pertengahan workshop saya berteriak, YA TUHAN!
  3. Dan di akhir workshop saya berteriak, YA ABIS!

Ya ampun, itulah yang bisa saya rasakan saat pertama kali datang di workshop itu. Nyali sempat ciut ketika melihat pesertanya adalah orang-orang yang memang sudah lama berkecimpung di dunia kesenian. “Wah, aku bisa apa ya?” pekik saya. Apalagi saat perkenalan, huh semakin menciutkan nyali. “ Saya …dari Kua etnika”, “Saya dari Gila GOnk”, “Saya dari Teater Garasi”, “Saya dari Sahita”. Lalu Saya dari mana? Ah, carpe diem, setidaknya saya dari keluarga baik-baik.

Lalu tiba saat keempat awak dari Snuff Puppet itu memperkenalkan diri. Ada Ian Pidd sebagai pimpinan program dan sutradara, Andy Freer sebagai desainer dan pimpinan artistik, James Wilkinson sebagai penata musik dan Daniele Poidomani sebagai manajer teknis. Segera setelah itu workshop pun dimulai dengan fasilitator Mas Landung Simatupang yang lebih banyak akan menjadi penerjemah dan konsultan program.

Wow, kesan pertama begitu mengesankan. Meski masih agak canggung dengan seniman-seniman yang ada di sana. Tapi tak lama, setelah dua tiga hari berlalu, ketakutan dan kecanggungan saya lenyap. Semua karena kepandaian seorang Ian Pidd dalam menjembatani perbedaan-perbedaan latar belakang para peserta menjadi sebuah kebersamaan yang menyenangkan. Selain keterbukaan teman-teman sendiri terhadap peserta lain untuk menerima setiap perbedaan dan kekurangan. Hal ini membuat batas senior dan junior lenyap. Berubah menjadi semangat untuk belajar bersama.

Kriwikan dadi grojogan, peribahasa Jawa itu agaknya sangat tepat untuk menggambarkan apa yang saya dapatkan. Ian Pidd, sang sutradara yang memberi banyak ilmu tentang membangun semangat dan kebersamaan. Bagaimana dia selalu menganggap setiap peserta itu ada; diperlakukan sama dan selalu dianggap bisa. Positive thinking, mungkin itu pelajaran yang menarik. Karena itu pula setiap peserta selalu merasa nyaman berada di workshop. Selain itu, Ian juga seorang bapak demokrasi yang berhasil. Setiap kebijakan selalu melibatkan semua elemen yang ada dalam workshop. Itu terlihat ketika merumuskan konsep cerita, menentukan tokoh, termasuk dalam menentukan judul yang tepat. Dengan positive thinking-nya dia dengarkan semua ide peserta dengan khusyuk.  Diskusi yang menarik pun terjadi. Semua orang memiliki andil dalam proses ini. Hal inilah yang menurutku sangat menarik: Ian dan teman-temannya mampu menciptakan suasana memiliki yang mengagumkan. Semua peserta jadi merasa nyaman dan merasa memiliki pertunjukan. Semua orang terlibat dan semua orang bekerja keras untuk mewujudkannya.

Mungkin ini yang disebut the real collaboration (mengutip ucapan Mbak Galuh). Dimana semua orang terlibat, tidak hanya bermain tapi juga dalam menciptakan karya. Semua terbuka untuk memberi dan menerima ide demi terciptanya konsep terbaik.

Team work yang mengesankan. Semua menyadari jika proses ini tak akan berhasil jika masing-masing orang menuruti egonya. Peserta memang dibagi dalam beberapa tim untuk membuat boneka raksasa. Tetapi, dalam pelaksanaannya semua saling membantu. Tak ada yang bersikukuh untuk tetap stay pada bonekanya sendiri. Mungkin semua tersihir dengan konsep ”Bhineka Tunggal Boneka”, meski berbeda-beda tetapi tetap satu boneka jua.

Etalase ilmu. Yang lebih menarik lagi dari workshop ini adalah tersedianya berbagai jajanan ilmu di sana-sini. Dari Ian Pidd saya belajar bagaimana mengelola sebuah pertunjukan, Andy dan Danielle tentu saja saya belajar masalah teknis dalam pembuatan boneka raksasa. Serta belajar sebuah semangat bahwa setiap mimpi sangat mungkin untuk diwujudkan. Dari mereka pula saya dan teman-teman belajar untuk rajin berolahraga. Selain itu, jajanan ilmu banyak tersebar di saat-saat waktu luang, seperti coffe break, makan siang, atau ketika bekerja bersama membuat boneka. Sebut saja, saya bisa belajar banyak hal dari Mbak Cempluk (seorang penari dari Sahita) tentang bagaimana kehidupan di komunitasnya, terutama bagaimana proses penciptaan karya di sana. Saya belajar tentang banyak hal dari Mbak Verry (seorang aktor dari Teater Garasi), juga dari Johan Didik (seorang manajer panggung terkemuka di Yogyakarta) untuk jadi seorang pekerja keras dan tidak pernah menyerah dalam bekerja, serta banyak ilmu-ilmu lain yang bertebaran di sana. Mulai dari ilmu keaktoran, musik (dengan teman-teman Kua Etnika), sampai pada ilmu-ilmu lain, dan tentunya pelajaran bahasa Inggris yang cepat dan efektif.

Ya Tuhan, begitulah yang kurasakan pada hari-hari menjelang pementasan. Kebersamaan itu semakin terasa, semangat dan kerja keras semakin membakar gairah peserta workshop. Boneka semakin menemukan bentuk kasarnya. Sampai beberapa hari sebelum pementasan, belum satu pun boneka yang benar-benar jadi. Semua bekerja keras untuk mengejar target yang tak kunjung tercapai. Bahkan tak jarang peserta lembur untuk menyelesaikan bonekanya. Dampak positifnya, tentu saja boneka semakin menemukan bentuk akhir. Tapi dampak negatifnya cukup fatal. Virus influenza mulai menghinggapi para peserta. Termasuk beberapa teman Snuff Puppet yang kondisi kesehatannya juga mulai menurun.

Tetapi saya terperanjat melihat semangat teman-teman untuk melanjutkan proses ini sampai ke pertunjukan. Sakit di badan ternyata tak mempengaruhi semangat dalam berproses. Hal itu sangat terlihat saat gladi resik, 2 Juni 2007.  Alun-alun utara menjelma laksana gurun sahara yang siap membakar kami. Belum lagi ketika kami harus masuk ke dalam boneka, wuah….sauna gratis! Keringat mengucur seperti mata air, nafas terbelenggu oleh kain yang menyelimuti boneka, belum lagi bau cat yang menyengat. Semua bersatu bersama badan yang tak sehat. Wah, seperti pembantaian di tengah padang Alun-alun Utara.

Tiga kali kami harus latihan menggunakan boneka. Yang pertama kali memang yang paling menyiksa. Bahkan ada teman-teman yang hampir pingsan, terutama yang memerankan boneka Punakawan. Namun, sekali lagi semangat mengalahkan semuanya. Seolah tercipta satu kata mutiara baru: ”Dengan semangat, tubuh menjadi kuat”. Begitulah. Akhirnya kami bisa juga menaklukkan boneka-boneka raksasa itu. Dan sebuah ungkapan manis pun keluar dari seorang teman, dia mengatakan, ”Di dalam tubuh yang berat, terdapat jiwa yang sehat”.

Minggu, 3 Juni 2007 akhirnya datang juga. Semangat ingin menunjukkan yang terbaik untuk sebuah proses sudah di depan mata. Tapi di balik itu, ada kekecewaan dan kesedihan melanda saya (mungkin juga teman-teman yang lain). Proses dengan dinamika yang sangat unik itu akan selesai beberapa jam lagi. Beberapa saat setelah boneka-boneka berhasil menghibur warga Jogja yang sore itu berkumpul di alun-alun utara. Belum cukup kiranya saya mengambil jajanan ilmu yang bertebaran. Selain itu, rasa enggan kehilangan proses yang erat dengan nuansa canda dan kebersamaan itu terasa begitu menyesakkan dada. Tapi apa boleh buat, proses itu secara fisik harus berhenti. Namun seperti kata Ian Pidd, ”Saya memang berada di Australia, tapi saya akan terus merasa berjalan-jalan di Alun-alun utara”. Saya pribadi berharap proses ini secara non-formal akan terus berlanjut. Seperti juga harapan Andy bahwa boneka-boneka itu harus tetap hidup, dapat terwujud.

* Wawan Dwi Santosa, aktor di kelompok Teater (Serius) La’Gientis, sering menjadi MC dalam berbagai pertunjukan dan acara di Yogyakarta.

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

Oleh: Andy SW *

Surat tersesat

Semula berawal dari sebuah surat yang berminggu-minggu tersesat salah alamat. Pertama saya akan bercerita tentang perjalanan surat tersesat:

Sepucuk surat itu saya terima di ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film Indonesia) pada minggu pertama bulan Agustus 2005 dari Dosen Seni Rupa Institut Seni Indonesia; Bapak Andang. Surat itu tersesat di rumahnya. Entah siapa pengirimnya? Saya sendiri baru tahu kalau seharusnya menerima surat tersebut setelah mendapat kabar dari seorang teman. Saya dibawanya menemui pegawai Taman Budaya Yogyakarta, dan diberitahu kalau surat itu tersesat di rumah Pak Andang. Malam harinya saya diajak janjian di ASDRAFI untuk mengambil surat itu. Maka sampailah surat itu ke tangan saya. Ternyata surat tersebut dari Camat Mantrijeron Yogyakarta. Isinya: sebuah undangan untuk mengikuti Festival Teater Kampung se-kotamadya Yogyakarta. Lalu kenapa surat tersebut sampai tersesat? Kenapa surat yang dialamatkan ke sanggar itu bisa sampai di tangan Pak Dosen? Begini ceritanya: Pada bulan april 2005 sanggar saya, Garputala, pernah mengadakan acara pentas drama, peluncuran bulletin, pameran seni rupa anak-anak kampung dan keroncong di kecamatan selama tiga hari. Pak Camat mendengar nama sanggar saya tapi tak tahu alamat persisnya. Maka begitu ada undangan untuk mengikuti festival tersebut, di amplop ia hanya menulis nama Sanggar Garputala saja. Lalu beliau menyuruh bawahannya untuk mencari alamat sanggar. Rupanya sang Bawahan sama tak tahunya. Mungkin karena frustasi lalu ia asal menyampaikan surat tersebut ke tangan seseorang yang menurutnya berkaitan dengan kesenian, ya Pak Dosen tadi tentu saja. Ya… Begitulah ceritanya. Sungguh ribet dan ya ampun!

Tapi biar bagaimanapun surat itu telah saya terima, maka saya berhak membaca dan mempelajari seluruh isinya. Surat saya baca sambil tiduran. Setelah membaca persyaratan peserta di sana, jelas-jelas sanggarku tak memenuhi syarat, sebab salah satu syaratnya adalah festival harus diikuti oleh warga kecamatan setempat sedang anggota sanggar semuanya dari luar kecamatan, kecuali aku.

Surat itu memang menggelisahkanku. Aku percaya ini akan menjadi sesuatu yang seru, keren, membingungkan sekaligus menjadi kenangan seumur hidup. Kulipat surat menjadi pesawat, kuterbangkan dan kutinggal tidur.

Dari pintu ke pintu

Petang hari 11 Agustus 2005, kuketuk pintu Pak Camat. Ia terlihat kikuk sedangkan aku malah bingung sendiri. Segera kujelaskan tentang maksud dan tujuan surat itu. Kuterangkan bahwa Sanggarku tak memenuhi syarat. Bahwa Festival teater itu harus diikuti warga asli kecamatan.  Ia hanya diam manggut-manggut seolah menyerahkan semuanya kepadaku. Lalu kukatakan kepadanya, bagaimana kalau bapak dan warga ikut membentuk sebuah kelompok teater untuk mewakili kecamatan? Pak Camat agak bingung  menangkap usulku. Ya, aku tahu dia malu menanyakan bagaimana cara membentuknya?

Ok. Aku menjelaskannya: Bapak tinggal membuat undangan kosong dibubuhi tanda tangan dan cap kecamatan, nanti biar saya yang mengisi nama dan menyebarkannya.

Pak Camat sepakat dengan usulku.

Pagi harinya kuambil lima belas undangan kosong. Aku jadi bingung sendiri mengisi siapa yang musti kuundang? Aku baru sadar kalau orang-orang itu baru ada dalam imajinasiku saja bahkan beberapa ada yang sama sekali belum kukenali namanya. Membingungkan, kan? Baik. Aku menentukan waktu dan tempatnya, kutulis tanggal 15 Agustus 2005. Waktuku hanya dua hari membagikan undangan. Lalu kudatangi rumah  Bapak Widodo  untuk minta ijin menggunakan tempat untuk pertemuan. Pak Wid,  begitu aku memanggilnya, adalah bekas pengurus kampung yang legendaris. Saat Pak Wid menanyakan alasannya jawabanku singkat, hanya ingin saja dan dia agak tidak percaya kalau Pak Camat akan datang. (Alasanku yang sebenarnya Bpk dan Bu Wid tipe orang yang dapat menerima bermacam orang dan masalah konsumsi pasti beres) Setelah Pak Wid mengijinkannya, baru kutulis nama orang-orang yang akan diundang. Semula aku berpikir, bahwa kegiatan ini membutuhkan orang yang tertarik dengan seni, tapi pikiran itu segera hilang karena aku tidak tahu orang-orang dalam imajinasiku itu suka seni atau tidak.

Aku memilih orang-orang yang kuanggap asyik dan cuek. Sebagian aku mengenalinya, sebagian lain hanya sekadar tahu dan beberapa—bahkan—sama sekali belum kutahu namanya—aku hanya sering melihatnya lewat di depan rumahku. Satu persatu kudatangi rumahnya dan kujelaskan maksud undangan tersebut. Aku merasa seperti salesmen kosmetik, tapi aku senang karena para undangan menyambutnya dengan baik dan mau hadir dalam pembentukan teater.

Setelah selesai, kuhibur diriku dengan membantah atau mengatakan bahwa diriku bukan salesmen kosmetik tapi kubayangkan diriku seperti Pangeran Kecil dalam novel Antoine de Saint – exupery yang   bertemu bermacam orang dari planet ke planet. Tidak keterlaluan, kan?

Pertemuan demi pertemuan

Pertemuan pertama terjadi pada tanggal 15 Agustus 2005 di rumah Bapak Widodo. Hampir semuanya hadir  termasuk Pak Camat dan Pak RW. Tidak semua yang hadir berasal dari satu kampung tapi ada empat kampung (Mijen, Kradenan, Dukuh dan Suryowijayan) yang berada di wilayah Kecamatan Mantrijeron. Acara dibuka oleh Pak Camat dengan memberi ulasan maksud dan tujuan dibentuknya Teater. Ada yang membuatku agak kaget saat Pak Camat bilang: dari kecamatan hanya bisa membantu dana pendaftaran sebesar seratus ribu rupiah. Kukira kecamatan akan membiayai sepenuhnya. Setelah semuanya paham Pak Camat pamitan untuk menghadiri acara yang lain, disusul Pak RW. Kemudian kami saling mengenalkan diri satu persatu agar lebih akrab. Ternyata ada yang mahasiswa, pedagang, tukang, penganggur, pengrajin, pelajar, guru, preman, seniman dan yang paling keren mantan pejuang 45 (sayang tak diakui negara).

Hal pertama yang dibahas soal nama teater. Semuanya bingung. Lalu aku bertanya kepada Mbah Temu (mantan pejuang 45), dia langsung menjawab “Kalau saya ya, Temu!” Serempak semua tertawa karena mengira Mbah Temu salah tangkap dengan pertanyaanku—aku tak sedang menanyakan namanya—dan ternyata perkiraan itu salah. Ia menjelaskan tentang falsafah nama Temu, bahwa teater ini ada karena pertemuan. Maka ia mengambil kata dasarnya: Temu.

Oke. Nama sudah ketemu. Selanjutnya kami membentuk Tim Produksi dan Tim Artistik lengkap dengan cara kerjanya masing-masing. Pertemuan pertama selesai pada tahap pembentukan Tim. Pipit Ambar Mirah (Mahasiswa Pertanian) terpilih jadi Pimpro. Aku terpilih menjadi Sutradara. Sudah kuduga pasti semua mengira aku berpengalaman dalam teater, padahal seumur hidup baru kali ini aku akan menjadi Sutradara. Pimpinan Produksi kebingungan mencari modal awal, karena setelah mendaftar dan mengambil naskah ternyata dana sebesar Rp 250.000,00 dari panitia belum turun. Kami menemui Pak Camat untuk mengusulkan mencari dana tambahan lewat proposal resmi bercap kecamatan dan meminjam uang dari kecamatan untuk modal awal sebesar Rp 250.000,00. Semalaman kami membuat proposal dan pagi harinya langsung diperbanyak menjadi 25 proposal resmi cap kecamatan. Malam harinya kami rapat mencatati calon donatur dan membagi tugas penyebaran proposal di bawah koordinasi seksi usaha dana, Bapak Jarot, yang kebetulan sudah berpengalaman kerja mencari dana lewat proposal. Sementara tim produksi bekerja, Tim Artistik menentukan jadwal latihan dan merancang gambaran setting dalam naskah.  Kami mengambil naskah “Megatruh” Karya Noor WA.

Pada tahap awal latihan membaca naskah aku sangat terkejut. Jumlah tokoh tak sebanyak orang yang ingin jadi aktor dan dialog-dialognya panjang hingga sulit dihafal. Semuanya mengeluh. Jadi saya harus mengadaptasi naskahnya dengan menyingkat dialog, menambahkan figuran dan menyesuaikan kalimat sesuai kemampuan pemain tanpa mengubah isi naskahnya. Lembar demi lembar naskah dibagikan sampai semua selesai. Oya, saya menambahkan kalimat dibawah judul “Kisah Orang-Orang Tangguh” sebagai pertegasan karakter pemain. Proses penggarapan selama sebulan lima hari. Dua puluh delapan kali latihan. Sebagai Sutradara saya membiarkan mereka berakting sebebas-bebasnya dan memberikan gambaran karakter juga keadaannya. Semuanya saya kembalikan pada keadaan hidup yang membentuk setiap pemain karena itulah bekal kekayaan yang dapat disumbangkan dalam bermain drama. Kadang saya menjadi galak kalau ada yang sulit diterangkan dan memberi contoh aktingnya. Kadang juga pemain menyutradarai diri sendiri. Seru, kan? Pada minggu ketiga pemain sudah dapat menyesuaikan panggung tinggal arahan teknis dan penyelarasan dengan musik. Para pemusiknya dari grup musik mushola.

Sementara itu kerja. Tim Produksi tak ada masalah, hampir semua donatur yang sebagian besar para pengusaha di wilayah Mantrijeron memberikan sumbangan berupa uang dan barang dagangan, yang agak aneh ada yang menyumbang payung, Jam dinding dan jajanan anak-anak.

Alhamdullillah kerja produksi dan artistik berjalan seiring. Poster, booklet, konsumsi, dokumentasi dan kebutuhan artistik dapat terpenuhi. Pertemuan demi pertemuan kami lewati, banyak suasana dan peristiwa baru kami alami bersama dan semakin saling kenal.

Panggung menjadi ajang Tamasya

Tanggal 20 Oktober 2005 di Kecamatan Mantrijeron, pementasan dilaksanakan. Penontonya lumayan banyak, dari balita sampai orang tua. Yang paling menarik ada beberapa pedagang rela menutup warungnya demi melihat pertunjukan. Kami semua gembira saat pentas di panggung, meski ada beberapa kesalahan. Ternyata yang paling ribet adalah tukang fotonya karena ada beberapa pemain minta dipotret saat adegan tertentu. Panggung menjadi ajang tamasya saat pementasan usai, banyak pemain yang berfoto dengan istri, saudara, dan tetangga dengan background setting panggung. Keren kan? Sebenarnya terjadi banyak pementasan, antara penonton yang asyik berpolah tingkah dan entah bicara apa dengan tetangga sebelahnya dan pemain di panggung.  Sungguh tak kan mungkin terlupa seumur hidup. Aku jadi merasa aneh jika harus perpijak pada penilaian juri dan memaksa target kwalitas pementasan, karena ada banyak sudut pandang yang harus dimengerti saat teater berada dalam masyarakat kampung. Begitulah cerita kelahiran teater kampung.

Setahun Lika-Liku Perjalanan.

Tak perlu saya sampaikan bahwa kami mendapat berapa tropy karena yang ikut hanya empat kecamatan se-kota madya Yogyakarta. Yang jelas juara umumnya bukan kelompok kami tapi kami tetap mengadakan syukuran bersama dengan mengadakan tumpengan dan bancakan yang diikuti warga sekitar termasuk Pak Camat.

Pertama saya mengira setelah pementasan usai kelompok ini akan menyudahinya keberadaannya. Semangat festival biasanya seperti itu, kan? Ternyata teman-teman masih punya semangat untuk meneruskan perjalanan dan mengadakan pementasan lagi. Wah, saya jadi pusing sendiri dan gelisah lagi. Saya sendiri tidak tahu apa yang menyemangati?

Pada bulan Oktober dan November kami mengisinya dengan sekadar berkumpul,  latihan drama-dramanan, dan ada teman, mahasiswa jurusan bahasa Inggris yang iseng mengadakan kelas bahasa Inggris. Oya, dana kami tinggal 100.000,00 dan belum mengembalikan hutang. Saya katakan pada Pak Camat apa adanya, kami akan mengembalikan kalau produksi sudah jalan kembali. Pak Camat setuju. Tapi anehnya hampir selama dua bulan setelah kesepakatan itu, bawahannya sering datang ke sanggar menagih hutang, sampai pacar saya marah-marah terus tak habis piker, saya bisa punya hutang dengan kecamatan. Saya merasa lega setelah Pak camat sendiri mengabari kalau kami akan dapat sumbangan dari walikota untuk kesenian sebesar 1 juta rupiah. Langsung saya ambil untuk melunasi dan sisanya untuk modal produksi.

Bulan Desember 2005 saya membuat naskah drama bahasa jawa berjudul Lelakon (urip dilakoni kanthi waras lan trengginas).  Tokoh-tokoh dalam naskah disesuaikan dengan minat anggota yang masih berkeinginan main di panggung. Proses kali ini memang dirancang agak panjang, selama enam bulan, biar lebih santai mencari dana dan mantap dalam penggarapannya. Tim kerja tidak berubah. Rencananya akan pentas keliling. Seminggu sekali kami latihan.

Bulan Januari 2006 porsi latihan dinaikkan menjadi dua kali lipat tapi tidak penuh karena banyak yang punya acara. Sementara tim produksi mulai bekerja dengan sistem kerja masih sama. Saya merasa kali ini akan banyak menemui kesulitan. Pada minggu ketiga proposal sudah mulai disebar. Kami masih bersemangat dalam menjalani proses. Bulan Februari kami merasa semangat mulai mengendur karena beberapa tokoh berguguran di tengah jalan, meski mereka masih mau membantu di belakang layar. Alasan kemunduran mereka kebanyakan karena masalah sekolah dan jam kerja. Otomatis naskah juga berubah. Jadwal latihan masih dua kali seminggu dan tetap saja jarang bisa lengkap. Produksi juga mengalami hambatan karena hanya beberapa pengusaha yang mau memberikan sumbangan. Bulan Maret mulai muncul semangat baru setelah berembug bersama untuk menyikapi jadwal latihan dan penggunaan dana. Latihan ditambah menjadi tiga kali seminggu dengan penggarapan peradegan. Kami saling membuat kesepakatan dengan lawan main. Rupanya semangat itu tidak tahan lama. Karena kalau pemain tidak datang semua suasana jadi sepi. Pada bulan ini kami mendapat kabar dari Taman Budaya bahwa ada program pentas seni drama tradisi dengan dana 3 juta untuk setiap grup. Kami mendaftar karena kebetulan mengangkat naskah berbahasa Jawa. Angin segar mulai bertiup.

Bulan April  (ada yang menyebalkan! Proposal berhenti) kami kembali bersemangat latihan dengan meneruskan garapan yang sudah mulai tertata dengan musik Tapi sayang ketika pihak dari Taman Budaya meninjau latihan, kami tak diperbolehkan menggunakan peralatan modern (gitar listrik) padahal pemusik sudah menemukan irama yang pas. Yah, terpaksa kami menurut. Sedang Tim produksi mulai tak terkoordinasi kerjanya dan alokasi dana menjadi boros untuk konsumsi dan biaya operasional. Bulan Mei kami mulai merapatkan barisan bekerja secara kompak, karena jatah main tanggal 24 Juni 2006. Kami juga sudah menyampaikan surat izin di dua tempat untuk pentas. Opps! baru semangat-semangatnya latihan. Separoh adegan sudah jadi. Eh, ada gempa 27 Mei. Otomatis kegiatan dihentikan kebetulan Sanggar juga retak parah sekali.

Total tak ada kegiatan. Masing-masing orang sibuk dengan kata trauma. Kami segera mengadakan rapat darurat, dan memutuskan menunggu keadaan menjadi normal. Dua setengah bulan sudah kami dibelenggu perasaan was-was dan mencemaskan. Rasanya sangat berat sekali untuk mengembalikan semangat, sudah terlalu lama kegiatan dihentikan. Pelan-pelan kami mulai membangun komunikasi lewat sms dan pertemuan sehari-hari. Pada minggu ketiga bulan Agustus  kami bertemu kembali untuk merancang pentas dan mengobarkan semangat. Rupanya dana kami semakin menipis untuk berbagai keperluan operasional, konsumsi dan kebutuhan artistik. Beruntung proposal yang diajukan ke gubernur tembus. Kami menerima bersih Rp 450.000,00 lalu untuk membuat panggung. Total dana tinggal 400.000,00. Selama dua minggu kami benar-benar latihan intensif dan pentas di kecamatan lagi. Kami merasa lega meskipun hanya mengulang kejadian seperti satu tahun yang lalu. Perasaan lega. Lebih bebas berekspresi. Penonton lebih banyak. Ada semangat yang lebih hebat setelah pentas.

Keringat itu menjadi kesadaran.

Yogyakarta, September 2006

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 02, November 2006 – Maret 2007)

>> Dari Fukuoka Sampai Jogja, Sebuah Catatan Perjalanan

Oleh: Citra Pratiwi*

Jogja, 10 September 2005. Saya menerima sepucuk surat di inbox email saya yang berisi tawaran untuk berkolaborasi dengan sebuah kelompok performance bernama KYTV (Kill Your Television), Singapura, untuk pertunjukannya yang berjudul NAOPD (Not Available on Print Date). Ini adalah untuk pertama kalinya saya mendapatkan tawaran untuk bekerja sama dengan kelompok lain di luar Indonesia. Sebelumnya saya sudah mengenal kelompok ini sekitar dua tahun yang lalu di Singapura ketika Teater Garasi diundang dalam sebuah festival, Insomnia 48, yang dikurasi oleh Ong Keng Sen. Pada saat itu saya tidak sempat mengenal lebih jauh tentang mereka, hanya sebatas penonton, demikian juga dengan mereka. Baru pada Agustus 2005, saya melihat secara langsung cara kerja, gagasan, kecenderungan, sejarah, dan karya-karya mereka yang lain dalam sebuah pameran seni visual yang berjudul Pop Station yang diadakan di Rumah Seni Cemeti, Jogja.

KYTV adalah sebuah kelompok yang mengeksplorasi bentuk-bentuk medium kesenian seperti seni visual, teater dan tari, multimedia, musik dan suara, dan teks dramatik. Terbentuk sejak tahun 2002 oleh Aaron Kao, Jeremy Sharma, dan Rizman Putra. Sebagai konsep mereka mencoba mengangkat isu hibriditas dalam seni kontemporer sekarang khususnya tentang isu masyarakat urban. Dengan duo Choy Ka Fai dan Rizman Putra sebagai Direktur Artistik, KYTV mencoba untuk menghadirkan karya-karya yang berhubungan dengan spontanitas dan kompleksitas kebudayaan urban yang bersifat hybrid, dan membuka kemungkinan dan batasan dari medium-medium yang mereka gunakan dalam eksperimentasi.

Fukuoka, 12 November 2005. Di ruang tatami untuk pertama kali saya berjumpa dengan Norico Sunayama, seorang penari utama Dumb Type, Jepang. Saya jadi ingat empat tahun sebelumnya, akhir 2001, di ruang TV Teater Garasi, dengan rasa kagum menonton video pertunjukkan Dumb Type dengan judul PH. Saat itu saya anak baru Teater Garasi, dengan pengalaman dan pengetahuan tentang teater yang masih sangat terbatas. Malam itu, DumbType menunjukkan kepada saya betapa teater memiliki ragam cara ucap, kemungkinan yang tidak terbatas atas bentuk, dan ini semua membuat saya kagum kepada mereka.

Di ruang tatami, saya duduk di sebelah Norico-san dan berdiskusi tentang kemungkinan proses dan ide-ide yang muncul untuk pertunjukkan NAOPD-Fukuoka. Norico Sunayama berusia 42 tahun dan telah bergabung dalam Dumb Type selama 21 tahun, dan ikut serta dalam hampir seluruh repertoar sebagai penari utama. Norico-san juga seorang performance artist yang dikenal dengan menggunakan alter ego Snacky. Terinspirasi dari gerak dan performance Micheal Jackson. Malam ini saya senang sekali bisa berada di sana, mengenal banyak tentang dirinya, berproses dan berkolaborasi dengan dirinya. Sesungguhnya saya sedikit cemas karena saya merasa pengalaman saya di seni pertunjukkan masih baru, mungkin, empat tahun dalam proses Waktu Batu bersama Teater Garasi bekal yang cukup untuk saya untuk menghadapi situasi sekarang di Fukuoka, karena proses tersebut memberikan pelajaran kepada saya tentang proses yang kolaboratif, tetapi saya belum tahu apakah bekal ini sudah cukup.

Fukuoka Asian Art Museum lantai 9 gedung Riverain, Hakata-Fukuoka, 19 November 2005. Sudah seminggu saya berada di sini. Selama seminggu ini proses, latihan, diskusi, eksplorasi, untuk NAOPD berlangsung. Waktu tinggal seminggu lagi untuk pementasan. Proses awal kami adalah eksplorasi dari hasil diskusi tentang tema atas adegan-adegan dalam NAOPD. Awalnya gagasan NAOPD adalah untuk mencoba mengeksplorasi kemungkinan dan batasan atas performance art di dalam kasanah seni kontemporer. Judulnya sendiri Not Available On Print Date (NAOPD) memiliki makna sebagai respon langsung atas ketidakjelasan kekinian, ruang dan waktu, sebuah pertunjukan yang mencoba mencari hubungan antara eror dan delusi. Walaupun NAOPD dibangun melalui proses dan adanya rencana-rencana dan struktur, ketika pertunjukan, NAOPD diniatkan untuk selalu tidak terduga, spontan, dan tidak ada format pasti atas bentuk pertunjukan, baik bagi penonton maupun performer.

NAOPD dalam konsepnya terdiri dari 6 adegan  yaitu: Venus, Ground Zero, Game Boy, Instant Light, Shadows, dan To Sleep Near The Sky. Sebelum adegan-adegan ini dimulai yaitu pada bagian Prolog, pertunjukan diawali dengan memperkenalkan adegan-adegan ini lewat penggalan video adegan yang diputar di layar. Kemudian penonton memilih adegan mana yang mereka suka dengan bertepuk tangan. Susunan adegan berdasarkan ukuran suara tepuk tangan penonton. Tepuk tangan penonton kemudian menjadi rangking untuk susunan adegan, adegan dengan tepuk tangan terbanyak menjadi adegan pertama dan seterusnya. Pertunjukkan diakhiri oleh epilog, sebuah adegan berisi teks puitik yang ditembakkan ke layar.

Sebagai performer saya dituntut untuk mampu membangun interaksi dengan baik dengan seluruh kolaborator dalam NAOPD, terutama rekan performer saya Norico-san dan Rizman. Awalnya berat, latihan-latihan di awal kami berusaha untuk membaca kecenderungan kami masing-masing atas respon konsep yang diberikan. Rizman dan Norico-san yang sangat urban dan kosmopolit dan saya yang malah merasa kebingungan. Selama ini, saya selalu merasa diri saya cukup urban terutama karena lingkungan saya dibesarkan. Namun lingkungan teater yang saya geluti memperkenalkan saya dengan bentuk-bentuk kesenian dari berbagai tradisi, misalnya bentuk tari tradisional yang kemudian saya pelajari secara khusus di kelas-kelas tari yaitu tari Jawa klasik dan tari Bali. Pertemuan saya dengan urban Singapura dan urban Kyoto membuat saya menyadari tidak ada pengertian tunggal atas urban. Saya sendiri merasa diri saya berada di tengah-tengah keberjarakan, saya dengan tradisi jauh, sama jauhnya dengan pengertian urban yang mereka anut.

Sebetulnya percakapan ini sudah berlangsung lama di Teater Garasi, dengan Yudi Ahmad Tajudin dan teman-teman Teater Garasi. Namun selama ini saya hanya menangkapnya sebatas konsep, bukan peristiwa. Sekarang saya berhadapan dengan riil, karena di proses NAOPD ini saya adalah satu-satunya kolaborator yang memiliki pengetahuan tentang seni tradisi, walau saya sendiri merasa juga tidak banyak yang saya tahu karena saya tidak dibesarkan oleh kesenian tradisi. NAOPD sendiri menuntut saya untuk menerjemahkan pengetahuan saya atas seni tradisi ke dalam bentuk-bentuk pertunjukkan mereka yang buat saya sangat visual dan kontemporer. Ide-ide yang muncul adalah bagaimana caranya joget jathilan di sebuah rave party.

Sepanjang proses latihan itu saya berusaha mengeksplorasi bentuk dan gerak berdasarkan konsep yang sayangnya buat saya sangat terbatas. Saya sampai mengajukan teks yang saya susun sendiri untuk adegan Venus—di mana pada bagian ini saya bermain tunggal—kepada penaggung jawab artistik saya, karena saya butuh arah panduan dalam eksplorasi gagasan. Cara kerja dalam proses ini memang baru buat saya, di mana kebebasan dan kemandirian saya sebagai seorang performer profesional dituntut secara keras, saya banyak belajar tentang hal ini di proses NAOPD. Dalam proses ini tidak ada sutradara hanya ada penganggung jawab artistik. Buat saya pribadi ini membingungkan karena sebagai seorang performer ternyata saya membutuhkan sutradara sebagai pemandu, dan akhirnya saya hanya terbatas merespon situasi teknis dan visual yang ada di panggung. Hal ini juga terjadi pada Rizman dan Norico-san. Apalagi adegan-adegan dalam NAOPD bukan satu rangkaian yang menyusun arti khusus, adegan satu dengan yang lain sifatnya terpisah. Sebagai interaksi antar performer hanya ada satu tempat di mana kami bertemu yaitu pada satu adegan, Ground Zero. Konsep adegan ini adalah tentang imaji atas pahlawan. Respon kami atas konsep ini berdasarkan latar belakang personal kami masing-masing yang kemudian digabungkan begitu saja. Buat saya, ini sulit sekali: tidak ada sutradara, tidak ada penata gerak. Kami berangkat sepenuhnya dari tafsir individu kami atas imaji pahlawan yang kemudian kami tubuhkan.

Ajibi Hall, Fukuoka Asian Art Museum, 21-23 November 2005. Dalam adegan Shadows kami berkolaborasi dengan penari-penari muda perempuan Fukuoka. Oleh panitia Fukuoka Dance Wave saya diberi kesempatan untuk memberikan workshop selama tiga hari dengan durasi satu jam. Ini adalah kali pertama saya harus memberikan workshop di luar Teater Garasi. Workshop yang saya berikan adalah workshop bentuk gerak tari Bali. Saya memberikan bentuk-bentuk dasar ragam gerak dalam tari Bali. Saya sadar betul bahwa setiap tubuh masing-masing orang memiliki sejarah dan kebiasaan yang berbeda-beda sesuai dengan lingkungan di mana ia berada. Saya sadar betul ragam gerak tari Bali akan berbeda bentuknya ketika mereka tirukan. Hal tersebut buat saya sangat menarik dan saya mencoba menulusuri kemungkinan-kemungkinannya dalam workshop ini.

Di hari pertama, workshop adalah tentang bagaimana nafas berpengaruh pada bentuk gerak khususnya gerak tari Bali. Di hari pertama saya meminta mereka mengikuti gerak dan nafas secara detil, tapi sebatas pose saja. Di hari kedua saya meminta mereka untuk melakukan hal yang sama namun sudah merupakan rangkaian gerak, dan saya meminta mereka secara detil meniru rangkaian gerak sepersis mungkin. Di hari ketiga saya meminta mereka mengeksplorasi gerak dari bentuk-bentuk yang saya berikan selama dua hari kemarin. Gerak-gerak yang muncul sangat menarik. Bentuk-bentuk tari Bali yang saya berikan diaduk dalam tubuh mereka, dicampur dengan kecenderungan gerak masing-masing orang. Para peserta workshop juga sangat bersemangat dalam merespon bentuk-bentuk yang saya berikan. Sebagian besar tertarik dengan bentuk-bentuk tangan dan ekspresi wajah. Hasil workshop ini digunakan dalam adegan Shadows di Fukuoka.

Closing Performance of The 3rd Fukuoka Asian Art Triennale, Ajibi Hall 26-27 November 2005. Di festival yang sama tempat kami menampilkan NAOPD, dua perupa dari Yogya Sigit Pius Kuncoro dan Ag. Kus Widananto (Jompet) juga menampilkan karya visual mereka. Ini waktunya pertunjukkan. Untuk pertamakalinya NAOPD dengan format pertunjukkan dipresentasikan kepada publik. Seperti biasa saya gugup. Bedanya dengan kegugupan yang biasa saya alami adalah sekarang saya berada di lingkungan yang berbeda dan asing. Selama dua hari pertunjukkan berlangsung dengan lancar, penonton hari kedua memenuhi Ajibi Hall, dan NAOPDFukuoka dapat berjalan dengan baik.

Citra dalam NAOPD di Fukuoka

Theatre Studio, Esplanade, Singapura, 24 Maret 2006. Dua minggu terakhir ini kami latihan lagi di Singapura, dan malam ini adalah malam pertunjukkan NAOPD-Singapore. Pertunjukkan ini merupakan bagian dari SPARKS 3 Workshop Presentation. NAOPD sendiri secara bentuk pertunjukan tidak ada perubahan secara drastis, namun kami semua berdasarkan catatan Fukuoka kemarin mencoba membuka kemungkinan-kemungkinan bentuk yang lebih dalam atas adegan-adegan kami. Selama dua minggu kami latihan di sebuah studio tari di Jalan Besar Community, Lavender. Kami latihan setiap hari dari jam 10 pagi-5 sore. Waktu kami sangat singkat untuk menggarap kembali bentuk-bentuk yang ada dan tempat latihan kami tidak mendukung perangkat teknis yang akan kami gunakan dalam pementasan kami. Tapi bagaimanapun pementasan harus tetap berlangsung, kami semua berusaha mengejar semampu kami.

NAOPD-Singapore buat saya—selain mengulang kembali apa yang sudah dipertunjukkan di Fukuoka—adalah mengejar hal-hal yang tidak sempat saya wujudkan di pertunjukan Fukuoka. Selama proses saya mencoba mengesplorasi bentuk dan gerak baru khususnya untuk adegan Venus dan Ground Zero. Saya menambah porsi gerak-gerak yang berlatarbelakang diri saya yang mempelajari gerak tari Jawa, Bali, dan silat, yang saya campur-adukkan dengan diri saya yang suka rave party, yang urban tanggung, seperti kata mereka.

Pertunjukan NAOPD-Singapore secara keseluruhan lebih tertata dibandingkan NAOPD-Fukuoka. Karena pertunjukan hanya berlangsung satu hari, penonton yang datang cukup banyak dan respon penonton lebih antusias ketimbang NAOPD-Fukuoka, mungkin karena KYTV adalah seniman Singapura. Saya sendiri merasa pertunjukkan NAOPD-Singapore lebih hidup, walaupun saya sendiri tetap gugup sebelum pentas. Nakao Tomomichi, kurator Fukuoaka Asian Art Museum berkomentar bahwa pertunjukan di Singapura lebih bagus daripada di Fukuoka, ia menyempatkan diri untuk datang dan menonton.

Jogja, 30 Maret 2006. Empat hari saya sudah pulang di Jogja. Ketika saya menuliskan pengalaman ini, mengingat kembali apa yang saya lewati dan alami. Ada banyak hal yang saya pelajari dalam proses NAOPD. Saya belajar tentang kemandirian sebagai seorang aktor/performer, di mana saya biasa berada di dalam kelompok saya, sekarang saya harus berhadapan dengan masalah-masalah dalam proses sendirian. Saya belajar tentang keterbukaan dan interaksi, awalnya memang sulit, berada di suatu tempat yang asing, di mana saya harus beradaptasi untuk bisa membangun hubungan dengan hal-hal yang jauh bagi diri saya. Perjalanan ini buat saya sangat berharga, saya bertemu dan berkesempatan untuk bekerja sama dengan seseorang dimana empat tahun yang lalu saya mengaguminya dari sebuah video di ruang TV. Ketika saya bertemu dan berproses untuk NAOPD ada banyak pertanyaan di kepala saya mendapatkan jawaban-jawaban, tentang proses, keterbukaan dan interaksi, kemungkinan-kemungkinan dalam pertunjukan, dan masih banyak lagi. Mungkin, juga sebanyak pertanyaan yang saya temukan di sana yang saya sendiri juga tidak tahu bagaimana menjawabnya.

* Citra Pratiwi, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 01, Mei-Oktober 2006)

« Previous Page