Interview/Wawancara


Oleh: Muhammad A.B & Hindra Setya Rini*

skAnA berkesempatan mewawancarai awak Teater Toedjoeh di markas mereka di seputaran Condongcatur. Tepatnya di sebuah rumah milik salah satu anggotanya, seusai mereka berlatih. Sekitar enam puluh menit, kami bercakap-cakap santai dengan ditemani alunan lagu Gloomy Sunday yang dilantunkan dalam berbagai versi. Meski obrolan ini dilakukan di garasi rumah yang juga tempat mereka berlatih, sembari duduk lesehan di atas selembar tikar, yang terasa adalah suasananya yang ngelangut tapi hangat…  …Sunday is gloomy, my hours are slumberless…

Biasanya memang ngumpul di sini, Mas?

Guntur:

Kami dulu punya rumah sendiri, kontrakan. Dekat dari sini juga. Tapi sekarang, untuk sementara kami berlatih di sini. Sambil menunggu tempat baru yang cocok. Kebetulan rumahnya ini mau dijual. Kalau ada pembaca skAnA yang berminat silahkan kontak-kontak saya ya, hehehehe… Lumayan buat modal Teater Toedjoeh, hehehe. Nanti skAnA dapatlah tiga persen dari hasil penjualan.

Wehh, syipppp! Kami siap. Tapi komisi makelar bisa jadi 10% gak, Mas? Hehehehe…

Ricky:

Ya, sebenarnya kami mau beli tanah juga sih, kalau rumah kayaknya terlalu nanggung.

Guntur:

Ya, nanti gampanglah. skAnA pokoknya dapet komisi, soalnya ada di naskah itu juga…

Loh, naskah apa, Mas?

Guntur:

Kita mau produksi pertunjukan Glengerry Glenrose. Pernah nonton filmnya? Atau baca naskahnya?

Iya, pernah dengar… Bisa minta diceritain sedikit ya, Mas…

Guntur:

Glengerry Glenrose itu yang nulis David Mamet, dia dapet Pulitzer untuk naskah itu tahun 1984. David Mamet itu yang bikin A Life in Theatre juga. Sudah diterjemahin ke bahasa Indonesia kok. Tapi penerjemahnya siapa, aku lupa. Naskahnya pernah difilmkan dan yang main Al Pacino dkk, tahun 1992.

Ini pertama kali dimainkan?

Guntur:

Yap. Perdana untuk di Indonesia, Mas. November, tanggal 13-14 November 2008 nanti kami akan pentas di Lembaga Indonesia Perancis (LIP).

Berapa orang yang main?

Guntur:

Ada tujuh orang, enam laki-laki satu cewek. Cuma yang cewek tadi pulang habis latihan.

Ini semuanya yang main anggota Teater Toedjoeh?

Guntur:

Ooo, nggak semua. Kami ngajak teman-teman dari kelompok lain juga. Ada Ricky, dia dulu teman di Sanata Dharma, jadi kami sudah kenal lama. Terus ada Anggit dari Sekrup (UNY) atau Gamblank Musical Theatre (GMT), gitu.. Ya, aku pernah nonton dia pentas, terus aku pikir asyik nih kalau bisa kerja bareng sama ni orang. Ya terus kontak-kontakan, sama seniornya juga. Ya dia mau, ya udah kami ajak main.

Anggit:

Aku dari sekrup

Kok mau diajak kerjasama mereka? Hehehe…

Anggit:

Lha aku diintimidasi dan dipaksa, hehehehehe.

Guntur:

Soalnya kami di Teater Toedjoh ini kan kekurangan aktor. Kami Cuma ada delapan orang.

Ricky:

Delapan orang itu saja manajemen semua, hehehehe..

Guntur:

Makanya tiap kali proses, kami harus cari aktor biar pertunjukannya bisa jalan.

Nah, awal mulanya bagaimana Teater Toedjoeh ini, Mas? Orang-orangnya siapa, dan dari mana aja?

Guntur:

Kami semua itu kumpul di Teater Lilin, Atmajaya. Awalnya semuanya anak-anak Atmajaya. Terus ada beberapa orang dari Sanata Dharma. Awalnya kami ada beberapa orang. Ketika berdiri tahun 2005 itu, Teater Toedjoeh berjumlah 21 orang. Terakhir kami jalan delapan orang. Nah, sekarang kami tinggal tujuh orang.

Sekarang ini produksi yang ke berapa mas?

Guntur:

Ini produksi yang ke-10 dari Teater Toedjoeh, dari tahun 2005. Tapi kalau pentasnya sudah ada sekitar 16 kali, ya sama nanti ini jadi 17. Tapi kebanyakan pentasnya itu pentas komunitas. Ya di kampus kecil-kecilan, ditanggap panitia seminar 100 tahun Romo Mangun di UKDW, semacam itu…

David:

Eh, bukan. Tapi 76 tahun Romo Mangun…

Guntur:

Ya, biasanya ditanggap kalau ada acara gitu. Terus dulu pernah ada acara di Desa Klepu kita juga main di sana. Tapi kalau yang produksi sendiri dengan publikasi dan mengundang penonton umum itu, ya ini yang kedua. Yang pertama itu bulan Maret tahun 2007, di Kedai Kebun Forum (KKF). Judulnya Hujan Pukul Lima.

Susah senangnya yang dihadapi Teater Toedjoeh selama ini apa, Mas?

Guntur:

Hahaha… Wah, banyak. Dulu sebelumnya nggak cocok sama kampus terus memutuskan keluar. Meski beberapa orang punya sejarah yang dalam dengan kampus, tapi kami juga punya masalah di sana. Lalu, pernah waktu ada kerjasama dengan salah satu gereja dan kita juga sempet nggak cocok… Ya kami merasa ingin independen aja, nggak punya tendensi apa-apa dan nggak suka diberi tendensi untuk apa oleh satu kelompok tertentu…

David:

Oh, iya, pernah punya kesalahan di KKF, dan kami nggak boleh pentas di sana lagi. Maafkan kami, Mbak Neni… Itu gara-gara salah satu kru memaku dinding ruang pertunjukan yang sudah diwanti-wanti dari awal bahwa di sana nggak boleh memaku. Gitu, ceritanya…

Dan yang dilakukan teman-teman sekarang untuk Teater Toedjoeh ke depan?

Guntur:

Selain pentas, kami bergerilya… Ke kampus-kampus, ke teman-teman sendiri,  ya untuk massa Teater Toedjoeh juga. Pentas ke depan ini kami juga rencananya ngajak kerjasama dengan Unsud Purwokerto dan UMM Magelang, untuk bantuin manajemennya. Awalnya mau pentas bulan Juli ini tapi mundur ke bulan November.

Tim artistiknya, Mas?

Guntur:

Kebetulan saya sutradaranya. Ya baru belajar sih. Ini kali kedua saya bikin realis setelah naskah Pagi Bening di UKDW. Pentas yang penontonnya teriak minta kami turun. Hahahaha…

Teman-teman yang lain:

Pentas salah konteks, mas! Acaranya tuh parodi atau lucu-lucuan gitu, nah kita bawain pentas serius. Jadi ya disuruh turunlah…hahaha  (Semua yang ada di ruangan tertawa.)

Guntur:

Tapi waktu itu ya sudah lah…hehehe. Oh, iya, ngomong-nomong soal serius itu, awalnya kami itu orderan. Nggak serius sama sekali. Ditanggap pas acara-acara ulang tahun, terus dibayar. Pernah menang lomba dramatisasi, dan dapat duit lumayan gede yang kami bingung mau diapain. Lalu mikir untuk bikin pentas yang lebih serius. Waktu itu optimis aja, dari teater juga bisa dapet duit. Nah, mulailah bikin pertunjukan yang nyari uangnya sendiri, mikir pentasnya, gimana menajemennya, dan lain-lain.

Nah, setelah jadi kelompok teater serius itu?

Teman-teman Teater Toedjoeh:

Jadi sepi tanggapannya, Mas. Hahahaha, nggak laku!

Ooo… Terus bagaimana teman-teman menyikapi ini?

Guntur:

Akhirnya ya kami sadar kami harus bikin dua bagian, keseniannya dan manajemen. Kami juga berpikir untuk punya penghidupan yang lain di luar teater. Kan memang umum sekali orang bilang di teater itu nggak bisa jamin untuk hidup. Tapi kita tetap memilih seni ini untuk seni itu sendiri. Urusan makan mungkin cari lahan lain. Kita juga mikir untuk buka usaha juga sih, Mas. Bisnis apa, kek.. Dan kita tetap serius berteater, gitu…

Kita coba bikin target-target per tahunnya. Untuk tahun 2012 nanti pengennya kita sudah nemuin style/gayanya Teater Toedjoeh itu seperti apa. Untuk tahun ini kita mau mempelajari realis abis deh.., tahun berikutnya baru menjelajah yang lain. Belum tahu bentuknya ke depan akan seperti apa. Nama Teater Toedjoeh sendiri juga nanti bisa berubah kok jika suatu saat dibutuhkan. Untuk saat ini ruang lingkupnya Teater Toedjoeh ya masih Jogja aja dulu.

Yang dibutuhkan Teater Toedjoeh sendiri untuk mencapai target?

Guntur:

Butuh teman-teman baru, yang punya semangat dan ide-ide yang baru, dan yang pasti punya visi yang sama… visinya kami kan Body, Mind, Soul, Kitchen. Yang artinya dapurnya tubuh, pikiran, rasa. Begitu…

Ricky:

Eh, tapi bisa juga urutannya begini; tubuh, pikiran, rasa, baru dapur…hahahaha.

Hm… Untuk Glengarry Glenrose, apa saja yang sudah dilakukan?

Guntur:

Kita sudah latihan rutin satu kali seminggu, kita panggil mentor untuk latihan dan ada kelas teorinya juga. Ya, ini juga terinspirasi dari Actor Studio. Karena ini konsepnya akan digarap dengan gaya realis abis, saat ini kita sedang mencari data, observasi, dan meminta fasilitator yang mumpuni untuk membantu proses ini. Diantaranya; Mas Rosa, Mas Landung Simatupang, dan ada seniman tradisi juga. Naskah akan diadaptasi. Karena ceritanya tentang salesman, ya kita kemudian mengundang beberapa orang salesman yang bekerja di perusahaan tertentu dalam bidangnya masing-masing, yang akan membagi tentang bagaimana kehidupan dan pekerjaan mereka kepada kami semua. Terutama aktor-aktor yang terlibat dalam proses ini.

Terakhir, ada pesan atau yang lain yang ingin disampaikan oleh Teater Toedjoeh?

Teman-teman Teater Toedjoeh:

Buat pembaca skAnA di seluruh Jogja, jangan lupa nonton pentas kami bulan November! Meski masih lama, ya ini sekalian promosi… info yang lain menyusul! Terimakasih….

* Muhammad A.B & Hindra Setya Rini, reporter skAnA

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

>>Sebuah wawancara dengan sutradara, beserta tim yang terlibat dalam pementasan Sampek Engtay, produksi ke-13 Teater Koin, yang dipentaskan pada tanggal 8-9 Maret 2008.

Oleh: Hindra Setya Rini*

Selasa malam, kira-kira pukul 21:00 WIB. Tepatnya tanggal 11 Maret 2008, saya bersama rekan kerja saya di skAnA, Andy SW, menyusuri jalanan kota Jogja yang masih basah oleh hujan untuk bercengkerama dengan teman-teman dari Fak. Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Mereka yang bergabung dalam komunitas teater kampus: Teater Koin.

Kami tersesat, sebelum pada akhirnya kami menemukan tempat Teater Koin berada. Ketua Teater Koin, Hesti, beserta para aktor dan tim yang terlibat dalam produksi ke 13 Sampek Engtay, telah menunggu kami. Masing-masing dari kami saling memperkenalkan diri. Namun, belum lagi kami memulai percakapan, sirine tanda kampus akan segera ditutup berdering nyaring. Tanda bahwa seluruh aktivitas yang masih berlangsung di kampus harus berhenti dan mahasiswa-mahasiswi dipersilakan pulang. Dengan demikian, kami memutuskan pindah ke sebuah warung, tempat biasanya anak Koin ngumpul. Namanya warung Roops. Di warung itulah kami ngobrol bersama hingga tengah malam beranjak undur.

Malam teman-teman, enaknya kita kenalan lagi ya? Haha…

Hesti: Haha… Iya. Tadi belum kenalan semua kok… (Kami duduk lesehan melingkar dan menjadi agak rapat.)

Semua yang ada di sini terlibat pentas Sampek Engtay, kan?

Teater Koin: Iya, dong… (Mereka menjawab kompak.)

Bimo: Tapi macem-macem. Nggak hanya aktor sama sutradara aja yang ada sekarang. Ada yang main musiknya, kostum, lighting, trus penata artistik juga ada nih. Hehe…

(Hesti memperkenalkan teman-teman yang lain.)

Sebelum ngomong-ngomong tentang Sampek Engtay, bisa cerita sejarah berdirinya Teater Koin dulu, ya…

Bimo: Ya, bisa-bisa. Teater Koin itu berdiri sejak tahun 1999. Jadi sekarang sudah delapan tahun umurnya.

Hesti: Ya, nanti bulan Juni, tepatnya tanggal 4, Teater Koin ulang tahun yang ke sembilan.

Awal terbentuknya gimana?

Hesti: Nah, Mas Bimo ini yang pernah jadi ketua Teater Koin, pasti tahu banyak cerita tentang yang dulu-dulu… Iya kan, Mas? Hehe…

Bimo: Emh, ya dulu sempet jadi ketua tahun 2004-2006. Dulu itu, awalnya dari Lembaga Ekskutif Mahasiswa (LEM) yang kepingin membentuk teater. Tapi lama-lama ya kita jadi seperti sekarang ini. Koin sendiri nggak punya arti yang khusus sih, awalnya. Dulu kan sempet mau pakai nama Teater Tangga karena kami sering nongkrong di tangga. Tapi nggak jadi karena di UMY sudah ada Teater Tangga. Lalu, Teater Paku. Itu juga nggak jadi karena anak-anak pada merasa nggak cocok dengan nama itu. Terakhir ya kemudian pada usul koin. Ya sudah, semua sepakat untuk pakai nama Teater Koin. Tapi kalau dipikir-pikir saat ini, kalau mau dicari-cari artinya apa, ya koin itu punya dua sisi. Ada hitam dan putih, baik dan jelek. Tapi itu Koin yang dulu…

Maksudnya Koin yang dulu?

Bimo: Oh, ya maksudnya nama koin itu duluan yang muncul. Filosofinya menyusul belakangan…haha. (Teman-teman yang lain juga tertawa).

Koin itu merupakan salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)?

Hesti: Iya, UKM. Tapi, kami lebih senang menyebutnya komunitas karena kebersamaannya lebih dapet kalau komunitas.

Bimo: Dan juga kami sering nggak sependapat dengan kebijakan-kebijakan kampus.

Teman-teman, dulu awalnya tertarik masuk Teater Koin, gimana sih?

Gilang (pemeran Ji Sim): Wah, dulu saya terpaksa…haha (Kontan teman-teman yang lain saling meledek.)

Rere (pemeran Engtay): Kalau aku, aku tuh terhipnotis dan tau-tau aku udah di depan sanggar Teater Koin, Mas.

Broto (pemeran Sampek): Aku sih, Koin  itu awalnya kukira komunitas bahasa Inggris, hehe… Ternyata komunitas teater. (Teman-teman langsung tertawa heboh)

Herdy (pemusik): Hm, jujur karena pacarku dulu anak teater sih. Lha, aku jujur tho

Bimo: Wah, aku juga jujur ah.

Hesti:  Apa, coba?

Bimo: Weh, dulu tuh aku benci teater awalnya. Menurutku orangnya katrok-katrok. Trus, sampai temenku dari Teater Koin zaman dulu, ngajak aku ngumpul dan nongkrong-nongkrong di sana.  Awalnya main musik, trus kegiatan yang lain lagi, ikut  proses, eh lama-lama keterusan. Asyik  sih karena waktu itu isunya kita bisa lepas dari FE. Hahaha.

Kesan-kesan selama berproses di Koin, apa saja sih yang temen-teman  rasakan?

Temen-teman Koin menjawab bersahutan: Plong! Menggairahkan! What’s the next?! Seneng, banyak have fun-nya! Sering cinlok! Punya banyak temen dan tambah  pengalaman..!

Oh ya, apakah pentas Sampek Engtay itu dalam rangka regenerasi angkatan baru yang masuk teater di kampus?

Bimo: Nggak lah. Teater Koin nggak ada acara kayak penyambutan anak baru gitu. Anak baru, anak lama main semua di sini. Asal dia aktif saja ya ikut main. Ini produksi Teater Koin yang ke 13, dan nggak dimaksudkan dalam rangka regenerasi itu.

Kenapa memilih mementaskan Sampek Engtay, Mas?

Bimo: Haha… Ini berangkat dari realitasnya anak-anak Koin sendiri. Di sini tuh banyak kisah-kisah cintanya. Aktor sama aktor, sutradara sama aktor, ya macem-macem lah. (Teman-teman yang lain menimpali dengan seru, bahwa mereka sering cinlok.)

Bimo: Nah, Navi itu juga pasti tau awalnya kenapa memilih Sampek Engtay. Aku sih orang  yang  ngelanjutin sebagai sutradara kok. Jadi, sutradara awalnya itu bukan aku. Gimana, Nav?

Navi: Kenapa Sampek Engtay? Ehm.. Sebelum ini kan Koin sudah memainkan tiga naskah opera karya Nano Riantiarno. Yaitu, opera Primadona, opera Ikan Asin, opera Primadona dipentaskan lagi, trus yang terakhir Bom Waktu. Lalu muncul ide nyari  naskah opera Nano lagi tapi yang kepinginnya lebih bagus. Yang menjual,  segar, laku. Kemudian ketemulah Sampek Engtay. Meskipun tahu bahwa urusan kostum adalah yang paling berat dibandingkan dengan naskah-naskah Nano yang lain, kami tetap memilihnya. Kaitannya dengan kostum Cina yang mahal-mahal itu, kalau nggak nyewa ya kami bikin sendiri, tapi tetap saja mahal. Pada dasarnya Koin sendiri terbiasa dengan opera. Jadi, Sampek Engtay itulah kami anggap opera yang relatif enak untuk dimainkan.

Teater Koin sepertinya gemar mementaskan naskah Nano…

Navi: Oh, ya jelas. Kami penggemar setia Nano Riantiarno. Tapi, kami punya tafsir dan interpretasi sendiri atas naskah-naskah opera yang kami mainkan…

Bisa cerita proses penggarapannya? Baik di musik, kostum, dan artistik…

Navi: Mm… Oh ya, sejak awal kami nggak mengadaptasi naskah itu, kami membiarkan naskah itu bergulir dan mengalir begitu saja. Bahkan sampai soal bahasa pun kami nggak menambahi sedikit pun. Misalnya kata “haaiyaa..”  yang  biasanya kita dengar ketika orang ingin meniru orang Cina ngomong, itu tidak kami gunakan. Kami hanya membuat suasana “Cina” nya itu aja. Misalnya, dengan membuat suasana, atau kesan “Cina” yang dapat ditampilkan lewat musik, artistik, dan kostum.

Antok (asisten penata artistik): Ya kemarin itu sempat pasang-rombak. Pertama coba dipasang di atas panggung ternyata nggak cocok. Ubah lagi, trus pasang lagi. Biar kelihatan megah, kami coba memainkan lampu yang colourful. Jreng! Warna merah yang dominan dan warna-warni yang terang. Untuk referensi artistiknya kami tinggal ‘klik’ aja di internet. Hehe, gampang…

Teman-teman yang lain: Iya, Google kan bisa mengatasi segalanya…

Herdy (musisi): Kalau di musiknya, kemarin itu bikin sendiri yang kira-kira mendekati suasana Cina. Kalau harus mirip musik Cina ya nggak mungkin, susah dan alatnya juga ribet. Jadi kami mengira-ira aja musik dan lagunya itu kalau dinyanyikan seperti apa, lalu jadilah komposisi dan lagu-lagu yang dilantunkan seperti di Sampek Engtay itu.

David (asisten kostum): Soal kostum, karena terbatas dana, sebagian besar kostumnya bikin sendiri. Tapi ada juga yang nyewa. Bikin kostum yang kira-kira ada bau Cina-nya. Hehe, nyari di tempat ekspor-impor nggak ada sih.

Hesti: Awul-awul maksudnya, hahaha… (Awul-awul istilah yang dikenal di  Jogja sebagai tempat penjualan pakaian bekas)

Dalam Sampek Engtay, aktor-aktornya itu harus bisa nyanyi?

Rere: Wah,  enggak. Aku  otodidak kok…

Broto: Enggak, modal nekat aja, hehe…

Navi: Di sini asal mau aja ya semua bisalah. Belajarnya sambil jalan.

Bimo: Kita itu modal berani aja kok. Gimana-gimananya nanti aja. Nekat. Sikaat aja!

Kalau menurut Pak Sutradara, gimana proses ini berlangsung?

Bimo: Beberapa kali kami latihan, tempatnya berpindah-pindah. Kadang latihan di alam bebas. Buat ngilangin rasa yang kadang bikin males-malesan itu. Kalau lagi nggak mood. Terlebih teman-teman itu diajak seneng-seneng aja susah, apalagi diajak latihan. Jadi aku mesti nyari cara untuk tetap menjaga gimana proses ini bisa berjalan terus. Metode-metode yang aku berikan untuk para aktor, kadang aku juga nggak tahu asalnya dari mana, ikut intuisiku aja sambil terus melihat situasi yang berlangsung pada saat itu.

Mm… Karena Koin itu berproses hampir bisa dikatakan tanpa jeda selama setahun ini. Jadi, selama proses Sampek Engtay, aku merasa ada kejenuhan. Kami semua merasa bosen, jenuh, dan capek. Aku pribadi, sebagai sutradara belajar lebih sabar dan tenang untuk menjaga semangat teman-teman yang lain selama proses. Karena pada dasarnya aku emosian! Haha…

Teman-teman yang lain: Jadwal pacaran juga jadi kacau deh, pokoknya! Hahaha…

Harapan  temen-teman Koin  ke depan?

Rere:  Koin  terus eksis dan maju. (yang kemudian disepakati  dengan  teman yang lain)

Bimo: Regenerasi terus  jalan. Inginnya setelah  aku, ada anak-anak baru  yang lain yang megang Koin. Entah sutradara, atau yang  lain…

Ada keinginan Teater Koin independen?

Navi: Kalau  independen  lepas dari kampus? Enggak  sih, meski  pernah berpikir ke arah sana. Karena kami ngerasa teater belum bisa menghidupi kami sampai saat ini. Ehm,  independen untuk terus bikin karya  yang enggak  manut sama  kebijakan dan keinginan kampus,  itu iya.

Oke, deh. Seru ya! Ngomong-ngomong, bisa katakan dengan singkat Koin itu apa?

Koin itu GS! Yaitu: Gampaang dan Santaiii…!!! (Jawaban yang serempak dan kompak! Sukses buat Teater Koin, semangat!)

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

*****

Sedikit info tentang Sampek Engtay

Sampek Engtay karya Nano Riantiarno diramu dari sekitar 12 versi dan disadur ke dalam suasana Banten serta Batavia awal abad ke-20. Pertama kali dipentaskan Teater Koma di Gedung Kesenian Jakarta, Agustus 1988, selama 18 hari. Sebelum pentas perdana, penulis sempat diintrogasi BAKIN (Badan Intelejen). Saat itu huruf Cina, Tari Naga dan Barongsai dilarang diperagakan di muka umum. Dan pada Mei 1989, Sampek Engtay dilarang naik pentas di Medan.

Lakon Sampek Engtay digelar di Jakarta, Surabaya, Semarang, Singapura (dalam bahasa Inggris), Bandung, Batam, Yogyakarta. Seluruhnya berjumlah 81 hari pementasan. Akhirnya pada Mei 2002, setelah menunggu 13 tahun, Sampek Engtay diizinkan dipentaskan kembali di Medan.

” Mungkin aku lahir terlalu cepat, ” keluh Engtay. Inilah kisah cinta yang tetap diminati hingga kini. Perjuangan perempuan meraih hak memperoleh pendidikan yang sama dengan kaum lelaki berbenturan dengan kekuasaan tak terbantahkan dari orang tua.

Sampek Engtay Teater Koin

Sampek Engtay produksi Teater Koin, 8-9 Maret 2008

Pimpinan Produksi: Yhaya/ Sutradara: Bimoaji Sekar Wibowo, SE/ Assisten Sutradara: Gilang”Broto” & Andhika/ Make Up&Kostum: David & Lala/ Setting&Lighting: Falaq&Fauzan/ Koreografer: Qolbi

Para Pemain:
Diman, Wahdani S., Gilang “Broto”, Hesti, Gilang, Rere, Gilang “PO”, Novie, Pandit, Reza, Anto, Cipto, Anang, Fariz, Chu, Kiki, Imron, Sinyo, Taufik.

Musik:
Dimas, Herdy, Didit, Puput, Bim-Bim, Edo, Djunaidi, Lano, Dika

Oleh Muhammad A.B.*

Tak banyak kelompok teater yang mampu bertahan lama, ikut meramaikan, dan ikut bersaing dalam dunia kesenian. Di Yogyakarta sendiri jumlah kelompok teater makin lama makin surut jumlahnya, ada banyak kelompok yang berdiri dan berkarya tapi lalu hilang ditelan waktu. Salah satu dari sedikit kelompok yang masih terus bertahan dan berkarya, adalah sekelompok anak muda yang intens mendalami seni pantomim, mereka tergabung dalam Bengkel Pantomim (BP).

Senin siang, 22 Oktober dan Selasa malam, 23 Oktober yang lalu, di tengah kesibukan para punggawa Bengkel Pantomim yang berjubel (maklum mereka baru saja menempati rumah baru-nya di daerah Nitiprayan), skAnA berkesempatan bertemu dengan mereka. Dalam dua kesempatan itu skAnA bertemu dengan para pria (yang kesemuanya mengaku tampan) para punggawa BP: Asita (27 tahun lebih sedikit akunya), Andy S.W (26 tahun), Ficky Tri Sanjaya (20 tahun), Ari “Inyong” Dwiyanto (26 tahun). Selain itu mereka juga dibantu oleh Ronald Palongan (23 tahun), Bambang NT (27 tahun), dan Hambar “Gigon” Riyadi (20 tahun).

Mereka kini sedang berusaha mengelola perkebunan kecil-kecilan dan peternakan ayam dalam skala mini di rumah kontrakan BP, selain berusaha untuk mencari pekerjaan sampingan untuk mencari uang saku tambahan. “Maklum sampai sekarang kami masih bantingan kalau mau produksi..” kata Asita menceritakan pengalamannya di BP, “Selain itu kalau kehabisan uang, kami bisa makan ketela dari hasil kebun sendiri”, tambahnya.

Ketika ditemui, Asita sedang menyelesaikan gambar komiknya, ia menjadi komikus agar tetap bisa menghidupi Bengkel Pantomim, komik karyanya dapat dinikmati di skAnA dan beberapa media lain, ia juga akan membuat komik dari pertunjukan-pertunjukan Bengkel Pantomim. Asita bercerita masing-masing anggota BP kini mempunyai pekerjaan sampingan, misalnya Andy S.W. menjadi reporter dan menulis liputan-liputan pertunjukan yang dapat dibaca di skAnA dan beberapa alamat website, Gigon menjalankan bisnis parkir di kampung halamannya di Bantul, sementara Ronald dan Bambang masih sibuk menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa. Sedangkan Inyong dan Ficky mengajar teater di beberapa tempat.

Berikut ini adalah rangkuman obrolan skAnA dengan mereka yang dipenuhi dengan canda tawa, ditemani rokok lintingan inventaris BP, dan teh buatan Asita yang kami bagi untuk bersama. Dua kali wawancara mereka berlangsung di rumah mereka yang dengan bangga mereka namakan Sanggar Anak Soleh.

Jadi sekarang BP ada tujuh orang ini ya?

Asita:

BP resminya terdiri dari lima orang. saya, Inyong, Andy, Ficky, dan Pingky Ayako. Pingky biasanya ngurusin artistik sejak proses “Langkah-Langkah”. Biasanya kami ngajak teman-teman yang lain untuk ikut proses. Nah kebetulan dalam proses kali ini Ronald, Bambang, dan Gigon ikut membantu sebagai aktor.

Andy:

Sebenarnya yang tetap dari awal itu ya saya, Asita, sama Inyong, banyak yang masuk tapi terus keluar lagi, terus sejak 2005 Ficky masuk dan terus ikut sampai sekarang. Ronald juga sebenarnya masuk bareng sama Ficky tapi dia baru main dua kali. Kalau yang keluar masuk banyak banget.

Ronald:

Ya, saya masuk bareng Ficky pas ada workshop pantomim, saya diajak mbak Endah (manajer BP-pen) ikut workshopnya, padahal pas itu saya lagi di Bekasi. Wah tapi ini kesempatan, jadi saya langsung berangkat ke Yogyakarta secepatnya. Soalnya dulu waktu mereka main di Sanata Dharma saya nonton latihan mereka kok kelihatannya asyik banget ya, kok bisa ya mereka bisa lucu-lucu seperti itu, padahal waktu itu ga ada yang nonton.  Jadi saya ikut workshop itu, waktu itu yang ngisi Mas Reza dan Mas Jamal.  Terus saya main bareng Ficky di “Romantika Daun Pisang 1 dan 2” di LIP tahun 2005 ya? (Teman-temannya mengiyakan.)

Ficky:

Aku diajak Andy ikut workshop sama BP, tapi sebelumnya aku sudah tahu Andy, dia sering nonton saya pentas di Anak Wayang Indonesia (Anak Wayang Indonesia, kerap disingkat menjadi AWI adalah sanggar kesenian untuk anak-anak dan remaja di daerah tempat tinggal Ficki, ia sudah berproses di AWI sejak sekolah dasar). Tapi sebelum workshop saya sudah kenal dengan pantomim.

Asita:

Ya, wong Ficky itu seniman angkatannya Jemek (Jemek Supardi, aktor pantomim senior di Yogyakarta-pen) hehehehe… dia dulu julukannya secil, seniman cilik wong dari kecil sudah main teater dan pantomim, sudah punya banyak karya juga sebetulnya. Kami yang tua-tua mungkin malah kalah jumlahnya. (Kami semua tertawa, selama obrolan kami berlangsung seringkali disela dengan guyonan-guyonan segar, para awak BP yang saling mengejek, atau tingkah mereka yang selalu saja membawa tawa)

Ficky:

Terus setelah workshop itu, saya diajak ikut proses “Romantika Daun Pisang 1 dan 2” juga teman-teman yang lain yang juga ikut workshop waktu itu, salah satunya Ronald.

Kalau dulu awal mulanya bagaimana kalian bertemu ? kemudian memutuskan untuk bikin kelompok pantomim, karena setahu saya cuma kalian satu-satunya kelompok pantomim di Jogja..

Inyong:

Dulu sih awalnya di tahun 2001 saya ketemu sama Giras,  teman di Sanata Dharma, terus saya dikenalkan dengan Andy karena dia sering main ke Sanata Dharma. Dari Andy saya kenal Asita. Terus kami mulai sering ketemu dan ternyata kami punya kesamaan, suka sama pantomim. Tahun 2001 kami bikin pentas di Sanata Dharma judulnya “Antara Aku, Nyamuk, dan Kekasihku”, nama kelompoknya waktu itu @mime. Terus kami kok merasa… kami harus belajar dulu, karena semuanya tidak punya ilmu tentang pantomim. Ya terus kami ngajak Broto temannya Asita di ISI, karena waktu itu kami anggap dia sudah lebih lama berkecimpung di dunia pantomim. Bersama Broto kami membuat satu reportoar judulnya “Paskibroto”, itu tahun 2001 juga ya? (Andy mengeluarkan poster-poster pertunjukan mereka, dan mengiyakannya). Tapi setelah itu kami berpisah lama, dan baru berkumpul lagi tahun 2004, dan memulai proses Bengkel Pantomim dengan semangat yang baru.

Asita:

“Paskibroto” adalah pentas pertama kami dengan nama Bengkel Pantomim, yang memberi nama itu adalah Papi (sebutan akrab anak-anak BP untuk Moortri Poernomo, aktor pantomim yang sangat senior di Yogyakarta-pen). Tapi kami sepakat bahwa BP yang  sekarang ini berjalan sejak tahun 2004, ketika kami bertemu lagi dan memulai proses “Langkah Langkah”.

(Sejak “Langkah Langkah”, BP membawakan bentuk pertunjukan pantomim yang berbeda dengan kecenderungan pertunjukan pantomim pada umumnya. Hal ini berawal dari kegelisahan mereka atas keseragaman bentuk pantomim yang merujuk pada satu gaya tertentu saja, sementara mereka ingin mengeksplorasi media pantomim dengan bebas. Mereka misalnya tidak mengecat putih wajahnya, atau menggunakan baju dan celana serba hitam, mereka juga menggarap setting panggung dan menggunakan properti dalam pertunjukan-pertunjukannya.)


Bagaimana sih bedanya pantomim yang dibawakan BP dengan pantomim yang dibawakan kelompok lain?

Asita:

Gimana ya, kalau menurut kami pantomim itu ga cuma kethungklak kethungklik seperti ini (ia lalu berdiri dan mempraktekkan gerakan pantomim; ia berjalan dengan gerakan yang patah-patah, kami semua tertawa)

Inyong:

Buat kami kethungklak kethungklik adalah salah satu tehnik dalam pertunjukan pantomim, ia tetap menjadi bagian dari pertunjukan BP tapi kami berusaha memasukkan unsur gerakan-gerakan yang lain.

(Dalam format pantomim versi BP mereka telah memproduksi “Langkah Langkah (2004)”, “Romantika Daun Pisang I dan II” (2004 & 2005), “Tiga Fragmen (Rudi Goes to School, Becakku Terbang Bersama Angin, Tiga Bebek)” (2006), dan yang terakhir “SuperYanto” bulan Desember tahun 2006. Dalam pertunjukannya yang terakhir BP memasukkan unsur bela diri dan bahkan ada beberapa dialog, suatu hal yang tak lazim dalam sebuah pertunjukan pantomim.)


Kapan BP produksi lagi, kelihatannya pentas terakhir kalian sudah cukup lama berlalu?

Andy:

Kami sudah mulai proses untuk pertunjukan bulan Januari 2008 nanti, kami sudah berlatih sejak Bulan September.

Wah, apa judulnya kali ini?

Inyong:

Sampai sekarang kami belum punya judul sih, tapi yang jelas kami mengangkat tentang imajinasi kota dengan fokus jalanan

Asita:

Proses ini sepenuhnya berlangsung di sini (rumah kontrakan BP-pen), ini adalah kali pertama BP punya tempat latihan yang pasti. Soalnya sebelumnya BP kalau latihan pasti numpang di tempat teman, atau di TBY.

Andy:

Sampai sekarang kami masih mengeksplorasi ide-ide sambil terus berlatih seminggu tiga kali

(Bagi Ronald ini adalah kali yang ketiga ia berproses sebagai aktor, sementara bagi Bambang dan Gigon ini adalah pengalaman pertama mereka berproses di BP. Begitu pula Agam, ikut membantu pengumpulan data BP untuk proses kali ini. Bagi mereka yang relatif lebih baru dari awak BP yang lain, berproses dan tampil membawa nama BP adalah suatu kebanggaan. Mereka mengaku sangat tertarik melihat penampilan BP di atas panggung, selain itu mereka juga ingin bergaul dengan para awak BP di luar panggung. Menurut mereka bahasa pergaulan sesama anak BP selalu saja segar dan lucu membuat mereka merasa betah berproses bersama.)

Begini nih, salah satu gaya latihan Bengkel Pantomim

Bagaimana sih kalian berproses?

Inyong:

Ya biasanya kami punya tugas dan tanggung jawab di posisi masing-masing, tapi kita melakukan eksplorasi dan saling berdiskusi bersama.

Asita:

Biasanya Inyong punya ide dan ia juga belajar jadi sutradara, saya ngurusin artistik sama Pingky, terus Andy biasanya mencatat proses dan juga menulis naskah hasil eksplorasi kami bersama.

(Selain Pingky Ayako yang mengurusi artistik, BP juga mempunyai beberapa orang teman yang mengurusi manajemen. Endah dan Imelda membantu manajemen produksi BP setiap kali mereka akan pentas, sementara Viar Eka Putra mengurusi manajemen panggung di setiap pertunjukan mereka.)


Harapan kalian pada BP ke depan?

Andy:

ya apa ya, sementara ini kami berharap kami bisa pentas Januari 2008 nanti, hehehe

Asita:

tahun depan BP sudah punya kolam dan bisa jualan lele, lumayan kan… jadi pas pentas jual tiket sambil jualan lele, lombok dan ketela hasil kebun..hehehe,.. kan lumayan itu..

Inyong:

ya kalau kami sih inginnya membawa BP keliling ke beberapa kota, rencananya kami ingin ke Jakarta

Ficky:

Bisa memperpanjang kontrak rumah tahun depan.

Asita:

Ya bagi kami adanya Sanggar Anak Soleh ini merupakan awal dari langkah baru kami, karena kami jadi punya tempat ngumpul. Sementara dulu-dulu kami selalu terpencar-pencar dan tak punya tempat ngumpul yang pasti. Adanya tempat ini  paling tidak kami jadi punya tempat rapat, latihan, dan juga kami punya intensitas pertemuan yang lebih dari yang dulu. Dengan begini konsentrasi pada BP bisa lebih fokus.

Andy:

Sementara ini juga kami masih ingin fokus jadi kelompok dulu saja, maksudnya kami masih ingin belajar berkelompok, belajar untuk bertanggung jawab. Kami ingin membentuk iklim kerja yang bagus buat kami dan teman-teman yang lain. Kalau masalah keinginan yang lain menurutku itu akan muncul kalau sebagai kelompok kami sudah kuat.

(Teman-temannya mengiyakan perkataan Andy)

*Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

Oleh: Muhammad A.B. *

Siang, tanggal 24 Mei 2006, skAnA bertandang ke kantor Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Di sana awak skAnA bertemu dengan Rukman Rosadi, salah seorang staf pengajar di Jurusan Teater ISI, yang juga salah seorang motor dari sebuah klub yang baru saja diluncurkan di Yogyakarta. Klub itu bernama Saturday Acting Club (SAC), yang mengkhususkan diri dalam pengemabangan akting. Dalam kesempatan wawancara ini skAnA juga berkesempatan untuk berbincang dengan Muhammad Junaedi Lubis (Manajer Program SAC) yang akrab dipanggil Ucok, dan Surie Inalia (Head of  Management SAC) atau akrab dipanggil Cuwie’. Selama kurang lebih dua jam kami berbincang dengan ditemani es teh dan beberapa bungkus rokok. Berikut adalah petikan wawancara skAnA dengan ketiga tokoh SAC tersebut.

Bisa cerita sedikit tentang asal mula SAC?

Rosa:

Sebenarnya sudah lama. Sebagian diantara kami sudah berkumpul dan bertemu sejak 2002. Waktu itu wadahnya bernama Saturday Acting Class, waktu itu kami dan beberapa teman yang ingin belajar tentang akting lebih dalam, membentuk wadah sendiri di luar jurusan teater. Saat itu kami sudah terbuka, kami tidak mengkhususkan diri pada orang-orang teater saja. Siapa saja yang ingin belajar akting; ada teman dari jurusan desain, ada teman dari Atamajaya, dan Psikologi UGM.

Ucok:

Yah, sebenarnya kami sudah lama berkumpul. Kami punya kegelisahan dan keinginan untuk belajar lebih dalam mengenai akting, mungkin kami merasa kurang dengan apa yang sudah kami pelajari mengenai teater dan akting. Cuma waktu itu memang kami lebih banyak mempelajari berbagai pendekatan yang banyak dibantu oleh Mas Rosa (Rukman Rosadi, pen)

Cuwie’:

Sebenarnya saya dulu malah tidak tahu ada Saturday Acting Class, walaupun saya di Jurusan Teater ISI. Saya malah usul sama teman-teman, “Ayo bikin apa yuk, kumpul-kumpul belajar teater bareng…” Eh, ternyata malah sudah ada Saturday Acting Class, terus saya mulai masuk ketika perencanaan untuk membuat Saturday Acting Club.

Saturday Acting Club. Namanya agak berbeda dengan nama-nama kelompok teater yang biasa saya dengar, sepertinya SAC mewakili semangat yang berbeda dari kelompok-kelompok teater lain?

Rosa:

Gimana ya, kami sejak awal memang menitikberatkan pada pembelajaran akting, untuk belajar berbagai bentuk akting. Dan karena kita memang sama-sama punya waktu luang di hari Sabtu, walaupun sebenarnya berkumpul di Hari Sabtu sudah menjadi kewajiban bagi kami (tertawa….). Kalau ada kesibukan lain harus ditinggal (tertawa lagi…).

Kenapa memilih club? Bukan course misalnya…

Cuwie’:

Karena dulu class itu kesannya formal ya, dan jadi kelihatan sangat akademik. Kemudian kami bersepakat untuk mengganti menjadi club, karena ia menjadi lebih terbuka, dan posisi kita semua menjadi sama di dalam wadah club. Saya dan Mas Rosa misalnya. Ya saya boleh berbeda pendapat dan mengusulkan sesuatu pada dia. Walaupun tetap dibutuhkan pengurus yang aktif, ada struktur kekuasaan yang menentukan program-program SAC.

Ucok:

Dulu waktu class, Mas Rosa memang jadi agak dominan. Sementara kalau di club, kami kesannya jadi cair gitu. dia sudah tidak kami anggap sebagai dosen lagi(tertawa). Kami posisinya sama saja, saling memberi pendapat dan memberi usulan, misalnya dalam proses pengadeganan. Juga Mas Rosa sebagai sutradara misalnya, ia tidak bisa seenaknya memerintah, “Kamu kaya gini, jalan kesana…”, kalau seperti itu pasti ditanya balik, “loh, kenapa? Apa alasannya..?”(tertawa)

Dan kenapa acting? Bukan actor atau theatre misalnya…..

Ucok:

Karena memang kami memang fokus ke bagaimana akting itu. Kami ingin mencoba segala macam bentuk akting, menembus batasan-batasan akting yang ada sekarang; mencoba mengeksplorasi bentuk, gagasan, ide,  sampai pada kemungkinan-kemungkinan yang bisa kami capai. Yang kami tekankan memang bagaimana ber-akting itu. Kami percaya tiap karakter punya konsekuensinya sendiri untuk diperankan, dan tiap aktor harus mempunyai kesadaran untuk itu. Karena saya melihat aktor-aktor yang gaya dan bentuknya sama dalam tiap karakter yang diperankannya. Lah, itu kan berarti dia tidak ber-akting. Berarti kan, dia hanya memindahkan dirinya sendiri ke atas panggung. Cuma sekedar memakai kostum dan mengucapkan apa yang tertulis.

Rosa:

Di sini (SAC-pen), kami semua punya komitmen untuk mempelajari akting seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bagi kami di SAC, akting berarti Akting dengan A kapital. Walaupun tidak semua yang terlibat di sini (SAC-pen) aktor, kami terbuka pada siapa saja yang ingin belajar akting. Karena menurut kami dunia akting itu sangat luas sekali. Dan bagi kami SAC adalah wadah untuk menjelajahi dunia itu. Untuk itu SAC tidak memilih satu gaya pertunjukan sendiri yang tetap, kami ingin bisa berakting dalam bentuk pertunjukan apa saja, baik yang tradisional maupun kontemporer.

Cuwie’:

Dan kami juga sebenarnya tidak hanya berkutat dengan akting di dalam teater, kami juga mencoba bagaimana toh akting di dalam film itu? SAC juga tidak menutup kemungkinan nanti ke depannya akan membuka kursus akting untuk umum.

Pada kesempatan launching bulan lalu (bulan April 2007-pen) SAC memilih untuk memanggungkan tiga naskah pendek karya Samuel Beckett. Ada alasan khusus nggak, kenapa teman-teman memilih naskah Beckett?

Rosa:

Sebenarnya tak ada alasan khusus ya. Karena kami tidak mau terikat pada satu genre tertentu. Lebih karena saat ini SAC ingin memainkan naskah-naskah pendek dengan durasi kurang dari satu jam, dan Beckett punya jenis naskah pendek itu. Ya, waktu itu kami bersepakat untuk memainkan tiga naskah itu.

Ucok:

Semua orang di SAC mempunyai obsesi tentang keaktoran. Biasanya mereka ingin bermain dalam satu peran tertentu, misalnya peran orang sakit jiwa, atau peran pembunuh, atau peran romantis. Dalam kasus kemarin, mungkin kami melihat naskah Beckett cukup mewadahi keinginan-keinginan kami untuk memerankan satu karakter tertentu. Dan seperti yang tadi sudah dikatakan, ya kami selalu menggunakan kesempatan pertunjukan ini dengan mencoba untuk bertemu dengan sesuatu yang berbeda. Bagaimana sih naskahnya Beckett? Karena pasti berbeda memainkan naskah Beckett dengan memainkan naskah lain oleh penulis lain. Ya bagi saya seperti itu sih. Sepertinya waktu itu memang tidak ada alasan khusus ya.

SAC dalam sebuah pertunjukan.

Oke, menurut teman-teman sendiri, apa sih yang membedakan SAC dengan kelompok-kelompok lain? Paling tidak apa yang membuatnya beda?

Cuwie’:

Formulasi ilmu…

Maksudnya?

Cuwie’:

Ya karena bagi kami bukan hanya akting di atas panggung yang penting. Tapi, bagaimana jalan yang ditempuh untuk menuju akting di atas panggung itu…

Rosa:

Maksud Cuwie’ adalah bagi kami proses untuk menuju akting di atas panggung itu jauh lebih penting. Bagaimana proses penemuan, metode-metode yang ditempuh untuk mencapai suatu karakter. Mungkin itu yang membuat kami merasa perlu mendalami akting lebih jauh lagi, karena makin jauh kami memasukinya, ternyata hal ini  sangat luar biasa luas. Menurut kami metode seorang aktor untuk mencapai sebuah bentuk akting itu adalah satu bentuk ilmu juga, dan si aktor harus bisa memformulasikannya.

Ucok:

Ya semangat itu yang kami pegang di SAC. Karena percuma saja kalau seorang aktor bisa berakting dengan bagus diatas panggung tanpa tahu metode-metode untuk mencapai bentuk akting itu. Sayangnya kami melihat hal ini tak begitu disadari, sehingga banyak aktor yang hanya bisa memainkan satu tipe karakter saja. Bagi kami ya hal ini sama saja berarti si aktor belum lepas dari dirinya sendiri.

Rosa:

Karena di sini orang-orang teater sendiri masih menganggap aktor atau akting itu berdasarkan hal-hal yang abstrak. Mereka tak bisa memformulasikannya, hanya berhenti di “teater ya begini ini….” Karena itu saya melihat banyak kelompok pada akhirnya hanya tergantung pada sosok sutradara. Sutradara menjadi sosok yang mengetahui segalanya dan ia tak membaginya pada orang lain. Karena tak ada kesadaran bahwa akting adalah satu bentuk ilmu yang bisa dipelajari semua orang. Jadi yang sering terjadi, ketika sutradara meninggalkan sebuah kelompok teater, maka kelompok teater itu akan mati.

Jadi akting itu bisa dipelajari, lalu bagaimana teman-teman mempelajarinya? Punya metode-metode tertentu yang baku bagi para aktor di SAC ?

Rosa:

Karena para anggota SAC mepunyai komitmen untuk mempelajari akting, maka cara mereka untuk mempelajari akting berbeda-beda sebenarnya. Tapi semua punya kecenderungan untuk mencari referensi-referensi sendiri. Jadi memang aktor-aktornya itu dituntut untuk pintar dan cerdas. Tapi bukan berarti kami tidak memperhitungkan improvisasi atau ekplorasi, itu kami jaga karena itu bagian dari metode untuk mencapai bentuk akting.  Lewat forum-forum di SAC kami berdiskusi soal akting, dan seringkali malah anggota SAC dari disiplin berbeda memberi masukan-masukan yang segar dan berharga.

Lalu kami juga mencoba untuk mengeksplorasi diri kami sendiri; bagaimana seorang aktor bermain dalam karakter yang berbeda-beda, lalu teman-teman akan memberi masukan-masukan dan membicarakannya bersama. Lewat forum itu SAC membantu para aktor anggotanya untuk memformulasikan metode-metode yang telah dicapainya.

Ngomong-ngomong, apa sih program SAC selanjutnya ?

Ucok:

Bulan Juni nanti kami akan pentas di KKF, kami mencoba eksplorasi akting dalam bentuk-bentuk pertunjukan tradisional. Pertunjukannya tiga buah seperti pada saat launching. Saat ini kami sedang berkonsentrasi pada pertunjukan-pertunjukan pendek saja dulu. Lalu Bulan September rencananya kami akan pentas di KKF lagi. Naskah pendek juga, tapi kali ini naskah yang kami buat sendiri. Terus Februari tahun depan rencananya kami akan memproduksi sebuah film.

Cuwie’:

Selain itu kami juga punya agenda rutin di luar pertunjukan, misalnya pertemuan tiap Sabtu yang wajib untuk semua anggota. Terkadang ada workshop-workshop untuk anggota. Kami juga memberikan workshop-workshop mengenai akting. Kemarin (minggu ketiga Mei-pen) kami baru saja memberi workshop akting pada anak-anak SMP di ISI. Para anggota punya kewajiban untuk memberikan materi-materi pada saat workshop itu. Yang paling akhir ya penerimaan anggota. Kemarin kami baru saja menerima dan menyeleksi anggota baru untuk SAC, yang diterima ada 11 orang.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul empat sore, gelas-gelas es teh yang tadi penuh sudah kosong. Siang itu memang sangat panas. Tapi berbincang dengan tiga orang awak SAC membuat siang itu terasa berlalu dengan cepat. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin dibicarakan dengan SAC, misalnya tentang rencana-rencana pertunjukan mereka, tentang film yang akan mereka buat, atau ide mereka tentang akting. Akhirnya, waktu jualah yang membatasi pertemuan kami. Saat masing-masing dari kami harus beranjak dan bergerak meninggalkan tempat di mana kami bertemu. Sukses buat SAC!!!

*Muhammad A.B., reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

Oleh: Hindra Setya Rini *

Tepatnya hari Jumat, 2 Februari 2007, pukul delapan malam, dua awak skAnA bertandang ke Pendopo Teater Garasi untuk bertemu dengan peserta Actor Studio. Sebelumnya, pada tanggal 30 Januari 2007, mereka juga telah mengadakan acara ‘sum-suman’, yaitu semacam ritual yang dilakukan setelah pementasan peserta Actor Studio, sekaligus penutupan proses panjang yang telah mereka jalani selama 6 bulan itu.

Percakapan yang kami lakukan di salah satu ruangan kecil di Teater Garasi itu cukup riuh dengan celoteh ceria para peserta Actor Studio tersebut. Memang terkesan seperti malam pelepasan dan mereka sedang berbahagia. Meski tidak semua peserta bisa hadir pada pertemuan itu, tapi tak sedikit pun mengurangi semangat para aktor-aktor muda yang lain untuk berbagi.

Latar belakang atau alasan teman-teman mengikuti Actor Studio?

Kimung:

Saya tertarik, dalam hal ini mempelajari keaktoran. Saya suka teater, jadi saya ingin belajar tentang keaktoran.

Nugie:

Karena keterbatasan referensi di tempatku tentang keaktoran, jadi aku berinisiatif untuk datang ke sini untuk mempelajari keaktoran.

Iskandar:

Aku merasa dulu itu belajarnya tanpa sistem pengetahuan yang jadi. Kemudian aku ingin belajar ilmu keaktoran itu dengan tepat. Makanya, aku belajar di Actor Studio yang diharapkan bisa jadi modalku untuk proses selanjutnya.

Guntur:

Aku butuh referensi keaktoran sehingga aku bisa menguji seberapa jauh kemampuan keaktoranku dan seberapa mampu aku menyerap hal-hal baru dalam keaktoran itu sendiri.

Alex:

Fasilitas yang lebih memadai dan yang aku inginkan.

Antok:

Karena aku pecinta seni peran.

Qomar:

Karena aku ingin tahu yang lebih jelas aja dari keaktoran itu seperti apa, dan ini karena yang ngadain Teater Garasi, yang menurutku kelompok teater yang sudah bisa memformulasikan pengetahuan mereka.

Sutris:

Waktu yang 6 bulan itu yang membuatku tertarik. Karena dengan waktu 6 bulan itu aku pikir banyak referensi keaktoran yang bisa aku dapatkan.

Lalu apa yang teman-teman dapatkan dari Actor Studio?

Alex:

Hal-hal yang sistematis dan target.

Guntur:

Kesadaran tentang kebutuhan ilmu keaktoran secara sistematis dan terstruktur.

Iskandar:

Pengalaman mengalami banyak proses dan bisa teramati.

Antok:

Disiplin pengetahuan yang sistematis.

Nugie:

Terbuka bahwa keaktoran itu banyak sekali hal yang belum saya pelajari.

Sutris:

Sistematis sama training.

Qomar:

Lebih tahu mengatasi kesulitan dalam diri sendiri kaitannya dengan keaktoran.

Kimung:

Disiplin keaktoran dan sistematis dalam latihan dan materinya.

Bisa cerita sedikit prosesnya; kesan; apa yang menyenangkan, atau yang tidak menyenangkan buat teman-teman selama studi ini, misalnya?

Antok:

Wah, mendak! Aku nggak suka, sakit semua pahanya. Kalau yang menyenangkan buatku itu momen tahap 3, yaitu pementasan ansambel. Di situ, satu bagian hidupku menjadi kaya pengalaman batin. (Mendak adalah salah satu bentuk gestur tubuh yang dilatihkan kepada peserta dalam sesi training, pen)

Nugie:

Tayungan dan Ageman, sakit semua badanku. Yang paling kusukai adalah sesinya Mas Lono (workshop ansos), Mas Landung (training pelisanan), dan Mas Wawan (workshop monolog). Karena, meski sebentar tapi efektif banget. (Tayungan itu salah satu dasar tari Jawa, dan Ageman dasar tari Bali, yang dilatihkan kepada peserta dalam sesi training, pen)

Qomar:

Aku nggak suka mendak. Aku paling tinggi sendiri jadi kelihatan kalau nggak rendah, hehe… Tapi yang paling aku senengi adalah workshop 3: Interaksi dan Mas Landung (training pelisanan, pen). Pentas juga menyenangkan.

Sutris:

Psikologi. Itu menyebalkan. Bukan psikolognya, tapi metodenya. Kalau yang aku suka itu Ageman, sama pelisanannya Mas Landung.

Kimung:

Kalau aku waktu gulingan itu, sulit karena postur tubuh saya yang gendut ini. Yang menyenangkan adalah waktu ansos (analisis sosial, pen) itu, kita observasi ke pasar dan mall.

Alex:

Aku paling takut gulingan! Karena aku trauma lantai! Yang menyenangkan tuh pentas, karena aku nggak pusing mikirin biaya pentas!

Iskandar:

Yang nggak menyenangkan buatku jatuhan belakang, karena takut terbentur kepalanya. Kalau yang suka itu sesinya Mas Ogleng (Yudi Ahmad Tajudin, salah satu fasilitator Actor Studio, pen). Kemudian pementasan monolog dan pementasan ansambel yang hari ke dua, karena rileks.

Guntur:

Untuk yang tidak menyenangkan, saya pass ya… Tapi yang menyenangkan adalah sesinya Ogleng (Yudi Ahmad Tajudin, red), karena membuat kita kritis dengan perangkat keaktoran kita dan membuat kita terangsang untuk menemukan warna atau karakter kesenian kita sendiri.

Fasilitatornya sendiri, gimana, menurut teman-teman?

Antok:

Oke-oke, nggak ada masalah. (teman-teman yang lain menyepakati apa yang dikatakan oleh Antok, yang notabene adalah ketua kelas di Actor Studio ini.)

Ada tidak perbedaannya, sebelum dan setelah mengikuti Actor Studio?

Kimung:

Ya, terus terang beda, ya dalam hal ini Kimung yang sebelum mengikuti Actor Studio dan sesudahnya ya tentu saja beda. Terutama dalam pengalaman saya mendapatkan sesuatu dari Actor Studio.

Qomar:

Lebih tahu apa yang sedang dihadapi dan bagaimana cara menghadapinya, sekarang.

Sutris:

Tambahan referensi metode latihan keaktoran dan sedikit menejemen pentas.

Alex:

Peningkatan dari segi teori.

Guntur:

Aku semakin kukuh dalam mempelajari dan memperdalam disiplin keaktoran.

Iskandar:

Lebih santai di prosesnya.

Antok:

Alasan. Di Actor Studio, alasan itu adalah satu hal yang sangat penting. Artinya, untuk melangkah atau bergerak, entah di pementasan dan di kehidupan sehari-hari jadi lebih tahu dan mencari tahu alasannya.

Nugie:

Aku lebih bisa mengukuhkan diri bahwa pilihanku di keaktoran.

Oke, harapan untuk Actor Studio ke depan?

Nugie:

Actor Studio bisa terus berlanjut, dan harapanku bisa lebih baik dan matang dari sekarang. Dan untuk diriku sendiri: kuliah!

Iskandar:

Kurikulum yang sudah dikasih Actor Studio, itu aja yang dipakai. Maksudku, semua yang ada di Actor Studio itu ya dijalankan sesuai planningnya.

Kimung:

Actor Studio ya berlanjut teruslah…, jadi nanti dunia teater itu memasyarakat.

Sutris:

Memasyarakat tuh, gimana?

Kimung:

Mmm…, biar nggak eksklusif, ya di masyarakat itu nggak aneh. Kalau dari saya sendiri sih setelah mengikuti Actor Studio, saya akan menularkan ilmu saya kepada yang lain. Kalau yang saya tularkan itu mau lho. (Geer…, kami kembali terbahak. Suasana begitu riuh, karena masing-masing saling menimpali, meledek, dan mencandai temannya yang sedang memberikan pendapatnya)

Sutris:

Huu… Itu bukan teaternya yang aneh. Orang-orangnya aja yang aneh. Seniman-seniman yang bikin teater jadi terlihat aneh itu. (Ups, ada yang langsung protes! Mereka membangun diskusi mereka sendiri, dan menyenangkan melihat teman-teman Actor Studio bercengkerama)

Guntur:

Untuk materi analisis sosial ditambah. Karena, saya berharap seniman-seniman muda lebih berdimensi sosial. Menurut saya itu penting sekali karena karya-karya yang dihasilkan mudah-mudahan bisa berdampak sosial juga.

Qomar:

Bisa melebihi yang sekaranglah. Bisa menghasilkan orang-orang yang menjadi lebih mengerti tentang teater.

Sutris:

Kalau aku sih, bisa menarik masa sebanyak-banyaknya biar bisa di seleksi. Kalau yang diterima 6 peserta, tapi  gimana caranya yang daftar 20an, gitu.

Pertanyaan terakhir, kesan teman-teman selama studi keaktoran di Actor Studio 2006 (periode pertama), ini?

Antok:

I love very much…! The best f**kin’ moment!

Alex:

Amazing…!

Kimung:

Sae…(bagus, pen)

Guntur:

Merangsang, membuat saya bergairah.

Nugie:

Aku lebih terbuka terhadap keaktoran.

Qomar:

Wonderfull.

Iskandar:

Very surprise…!


***

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

« Previous PageNext Page »