Interview/Wawancara


Oleh Muhammad A.B.*

Tak banyak kelompok teater yang mampu bertahan lama, ikut meramaikan, dan ikut bersaing dalam dunia kesenian. Di Yogyakarta sendiri jumlah kelompok teater makin lama makin surut jumlahnya, ada banyak kelompok yang berdiri dan berkarya tapi lalu hilang ditelan waktu. Salah satu dari sedikit kelompok yang masih terus bertahan dan berkarya, adalah sekelompok anak muda yang intens mendalami seni pantomim, mereka tergabung dalam Bengkel Pantomim (BP).

Senin siang, 22 Oktober dan Selasa malam, 23 Oktober yang lalu, di tengah kesibukan para punggawa Bengkel Pantomim yang berjubel (maklum mereka baru saja menempati rumah baru-nya di daerah Nitiprayan), skAnA berkesempatan bertemu dengan mereka. Dalam dua kesempatan itu skAnA bertemu dengan para pria (yang kesemuanya mengaku tampan) para punggawa BP: Asita (27 tahun lebih sedikit akunya), Andy S.W (26 tahun), Ficky Tri Sanjaya (20 tahun), Ari “Inyong” Dwiyanto (26 tahun). Selain itu mereka juga dibantu oleh Ronald Palongan (23 tahun), Bambang NT (27 tahun), dan Hambar “Gigon” Riyadi (20 tahun).

Mereka kini sedang berusaha mengelola perkebunan kecil-kecilan dan peternakan ayam dalam skala mini di rumah kontrakan BP, selain berusaha untuk mencari pekerjaan sampingan untuk mencari uang saku tambahan. “Maklum sampai sekarang kami masih bantingan kalau mau produksi..” kata Asita menceritakan pengalamannya di BP, “Selain itu kalau kehabisan uang, kami bisa makan ketela dari hasil kebun sendiri”, tambahnya.

Ketika ditemui, Asita sedang menyelesaikan gambar komiknya, ia menjadi komikus agar tetap bisa menghidupi Bengkel Pantomim, komik karyanya dapat dinikmati di skAnA dan beberapa media lain, ia juga akan membuat komik dari pertunjukan-pertunjukan Bengkel Pantomim. Asita bercerita masing-masing anggota BP kini mempunyai pekerjaan sampingan, misalnya Andy S.W. menjadi reporter dan menulis liputan-liputan pertunjukan yang dapat dibaca di skAnA dan beberapa alamat website, Gigon menjalankan bisnis parkir di kampung halamannya di Bantul, sementara Ronald dan Bambang masih sibuk menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa. Sedangkan Inyong dan Ficky mengajar teater di beberapa tempat.

Berikut ini adalah rangkuman obrolan skAnA dengan mereka yang dipenuhi dengan canda tawa, ditemani rokok lintingan inventaris BP, dan teh buatan Asita yang kami bagi untuk bersama. Dua kali wawancara mereka berlangsung di rumah mereka yang dengan bangga mereka namakan Sanggar Anak Soleh.

Jadi sekarang BP ada tujuh orang ini ya?

Asita:

BP resminya terdiri dari lima orang. saya, Inyong, Andy, Ficky, dan Pingky Ayako. Pingky biasanya ngurusin artistik sejak proses “Langkah-Langkah”. Biasanya kami ngajak teman-teman yang lain untuk ikut proses. Nah kebetulan dalam proses kali ini Ronald, Bambang, dan Gigon ikut membantu sebagai aktor.

Andy:

Sebenarnya yang tetap dari awal itu ya saya, Asita, sama Inyong, banyak yang masuk tapi terus keluar lagi, terus sejak 2005 Ficky masuk dan terus ikut sampai sekarang. Ronald juga sebenarnya masuk bareng sama Ficky tapi dia baru main dua kali. Kalau yang keluar masuk banyak banget.

Ronald:

Ya, saya masuk bareng Ficky pas ada workshop pantomim, saya diajak mbak Endah (manajer BP-pen) ikut workshopnya, padahal pas itu saya lagi di Bekasi. Wah tapi ini kesempatan, jadi saya langsung berangkat ke Yogyakarta secepatnya. Soalnya dulu waktu mereka main di Sanata Dharma saya nonton latihan mereka kok kelihatannya asyik banget ya, kok bisa ya mereka bisa lucu-lucu seperti itu, padahal waktu itu ga ada yang nonton.  Jadi saya ikut workshop itu, waktu itu yang ngisi Mas Reza dan Mas Jamal.  Terus saya main bareng Ficky di “Romantika Daun Pisang 1 dan 2” di LIP tahun 2005 ya? (Teman-temannya mengiyakan.)

Ficky:

Aku diajak Andy ikut workshop sama BP, tapi sebelumnya aku sudah tahu Andy, dia sering nonton saya pentas di Anak Wayang Indonesia (Anak Wayang Indonesia, kerap disingkat menjadi AWI adalah sanggar kesenian untuk anak-anak dan remaja di daerah tempat tinggal Ficki, ia sudah berproses di AWI sejak sekolah dasar). Tapi sebelum workshop saya sudah kenal dengan pantomim.

Asita:

Ya, wong Ficky itu seniman angkatannya Jemek (Jemek Supardi, aktor pantomim senior di Yogyakarta-pen) hehehehe… dia dulu julukannya secil, seniman cilik wong dari kecil sudah main teater dan pantomim, sudah punya banyak karya juga sebetulnya. Kami yang tua-tua mungkin malah kalah jumlahnya. (Kami semua tertawa, selama obrolan kami berlangsung seringkali disela dengan guyonan-guyonan segar, para awak BP yang saling mengejek, atau tingkah mereka yang selalu saja membawa tawa)

Ficky:

Terus setelah workshop itu, saya diajak ikut proses “Romantika Daun Pisang 1 dan 2” juga teman-teman yang lain yang juga ikut workshop waktu itu, salah satunya Ronald.

Kalau dulu awal mulanya bagaimana kalian bertemu ? kemudian memutuskan untuk bikin kelompok pantomim, karena setahu saya cuma kalian satu-satunya kelompok pantomim di Jogja..

Inyong:

Dulu sih awalnya di tahun 2001 saya ketemu sama Giras,  teman di Sanata Dharma, terus saya dikenalkan dengan Andy karena dia sering main ke Sanata Dharma. Dari Andy saya kenal Asita. Terus kami mulai sering ketemu dan ternyata kami punya kesamaan, suka sama pantomim. Tahun 2001 kami bikin pentas di Sanata Dharma judulnya “Antara Aku, Nyamuk, dan Kekasihku”, nama kelompoknya waktu itu @mime. Terus kami kok merasa… kami harus belajar dulu, karena semuanya tidak punya ilmu tentang pantomim. Ya terus kami ngajak Broto temannya Asita di ISI, karena waktu itu kami anggap dia sudah lebih lama berkecimpung di dunia pantomim. Bersama Broto kami membuat satu reportoar judulnya “Paskibroto”, itu tahun 2001 juga ya? (Andy mengeluarkan poster-poster pertunjukan mereka, dan mengiyakannya). Tapi setelah itu kami berpisah lama, dan baru berkumpul lagi tahun 2004, dan memulai proses Bengkel Pantomim dengan semangat yang baru.

Asita:

“Paskibroto” adalah pentas pertama kami dengan nama Bengkel Pantomim, yang memberi nama itu adalah Papi (sebutan akrab anak-anak BP untuk Moortri Poernomo, aktor pantomim yang sangat senior di Yogyakarta-pen). Tapi kami sepakat bahwa BP yang  sekarang ini berjalan sejak tahun 2004, ketika kami bertemu lagi dan memulai proses “Langkah Langkah”.

(Sejak “Langkah Langkah”, BP membawakan bentuk pertunjukan pantomim yang berbeda dengan kecenderungan pertunjukan pantomim pada umumnya. Hal ini berawal dari kegelisahan mereka atas keseragaman bentuk pantomim yang merujuk pada satu gaya tertentu saja, sementara mereka ingin mengeksplorasi media pantomim dengan bebas. Mereka misalnya tidak mengecat putih wajahnya, atau menggunakan baju dan celana serba hitam, mereka juga menggarap setting panggung dan menggunakan properti dalam pertunjukan-pertunjukannya.)


Bagaimana sih bedanya pantomim yang dibawakan BP dengan pantomim yang dibawakan kelompok lain?

Asita:

Gimana ya, kalau menurut kami pantomim itu ga cuma kethungklak kethungklik seperti ini (ia lalu berdiri dan mempraktekkan gerakan pantomim; ia berjalan dengan gerakan yang patah-patah, kami semua tertawa)

Inyong:

Buat kami kethungklak kethungklik adalah salah satu tehnik dalam pertunjukan pantomim, ia tetap menjadi bagian dari pertunjukan BP tapi kami berusaha memasukkan unsur gerakan-gerakan yang lain.

(Dalam format pantomim versi BP mereka telah memproduksi “Langkah Langkah (2004)”, “Romantika Daun Pisang I dan II” (2004 & 2005), “Tiga Fragmen (Rudi Goes to School, Becakku Terbang Bersama Angin, Tiga Bebek)” (2006), dan yang terakhir “SuperYanto” bulan Desember tahun 2006. Dalam pertunjukannya yang terakhir BP memasukkan unsur bela diri dan bahkan ada beberapa dialog, suatu hal yang tak lazim dalam sebuah pertunjukan pantomim.)


Kapan BP produksi lagi, kelihatannya pentas terakhir kalian sudah cukup lama berlalu?

Andy:

Kami sudah mulai proses untuk pertunjukan bulan Januari 2008 nanti, kami sudah berlatih sejak Bulan September.

Wah, apa judulnya kali ini?

Inyong:

Sampai sekarang kami belum punya judul sih, tapi yang jelas kami mengangkat tentang imajinasi kota dengan fokus jalanan

Asita:

Proses ini sepenuhnya berlangsung di sini (rumah kontrakan BP-pen), ini adalah kali pertama BP punya tempat latihan yang pasti. Soalnya sebelumnya BP kalau latihan pasti numpang di tempat teman, atau di TBY.

Andy:

Sampai sekarang kami masih mengeksplorasi ide-ide sambil terus berlatih seminggu tiga kali

(Bagi Ronald ini adalah kali yang ketiga ia berproses sebagai aktor, sementara bagi Bambang dan Gigon ini adalah pengalaman pertama mereka berproses di BP. Begitu pula Agam, ikut membantu pengumpulan data BP untuk proses kali ini. Bagi mereka yang relatif lebih baru dari awak BP yang lain, berproses dan tampil membawa nama BP adalah suatu kebanggaan. Mereka mengaku sangat tertarik melihat penampilan BP di atas panggung, selain itu mereka juga ingin bergaul dengan para awak BP di luar panggung. Menurut mereka bahasa pergaulan sesama anak BP selalu saja segar dan lucu membuat mereka merasa betah berproses bersama.)

Begini nih, salah satu gaya latihan Bengkel Pantomim

Bagaimana sih kalian berproses?

Inyong:

Ya biasanya kami punya tugas dan tanggung jawab di posisi masing-masing, tapi kita melakukan eksplorasi dan saling berdiskusi bersama.

Asita:

Biasanya Inyong punya ide dan ia juga belajar jadi sutradara, saya ngurusin artistik sama Pingky, terus Andy biasanya mencatat proses dan juga menulis naskah hasil eksplorasi kami bersama.

(Selain Pingky Ayako yang mengurusi artistik, BP juga mempunyai beberapa orang teman yang mengurusi manajemen. Endah dan Imelda membantu manajemen produksi BP setiap kali mereka akan pentas, sementara Viar Eka Putra mengurusi manajemen panggung di setiap pertunjukan mereka.)


Harapan kalian pada BP ke depan?

Andy:

ya apa ya, sementara ini kami berharap kami bisa pentas Januari 2008 nanti, hehehe

Asita:

tahun depan BP sudah punya kolam dan bisa jualan lele, lumayan kan… jadi pas pentas jual tiket sambil jualan lele, lombok dan ketela hasil kebun..hehehe,.. kan lumayan itu..

Inyong:

ya kalau kami sih inginnya membawa BP keliling ke beberapa kota, rencananya kami ingin ke Jakarta

Ficky:

Bisa memperpanjang kontrak rumah tahun depan.

Asita:

Ya bagi kami adanya Sanggar Anak Soleh ini merupakan awal dari langkah baru kami, karena kami jadi punya tempat ngumpul. Sementara dulu-dulu kami selalu terpencar-pencar dan tak punya tempat ngumpul yang pasti. Adanya tempat ini  paling tidak kami jadi punya tempat rapat, latihan, dan juga kami punya intensitas pertemuan yang lebih dari yang dulu. Dengan begini konsentrasi pada BP bisa lebih fokus.

Andy:

Sementara ini juga kami masih ingin fokus jadi kelompok dulu saja, maksudnya kami masih ingin belajar berkelompok, belajar untuk bertanggung jawab. Kami ingin membentuk iklim kerja yang bagus buat kami dan teman-teman yang lain. Kalau masalah keinginan yang lain menurutku itu akan muncul kalau sebagai kelompok kami sudah kuat.

(Teman-temannya mengiyakan perkataan Andy)

*Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

Oleh: Muhammad A.B. *

Siang, tanggal 24 Mei 2006, skAnA bertandang ke kantor Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Di sana awak skAnA bertemu dengan Rukman Rosadi, salah seorang staf pengajar di Jurusan Teater ISI, yang juga salah seorang motor dari sebuah klub yang baru saja diluncurkan di Yogyakarta. Klub itu bernama Saturday Acting Club (SAC), yang mengkhususkan diri dalam pengemabangan akting. Dalam kesempatan wawancara ini skAnA juga berkesempatan untuk berbincang dengan Muhammad Junaedi Lubis (Manajer Program SAC) yang akrab dipanggil Ucok, dan Surie Inalia (Head of  Management SAC) atau akrab dipanggil Cuwie’. Selama kurang lebih dua jam kami berbincang dengan ditemani es teh dan beberapa bungkus rokok. Berikut adalah petikan wawancara skAnA dengan ketiga tokoh SAC tersebut.

Bisa cerita sedikit tentang asal mula SAC?

Rosa:

Sebenarnya sudah lama. Sebagian diantara kami sudah berkumpul dan bertemu sejak 2002. Waktu itu wadahnya bernama Saturday Acting Class, waktu itu kami dan beberapa teman yang ingin belajar tentang akting lebih dalam, membentuk wadah sendiri di luar jurusan teater. Saat itu kami sudah terbuka, kami tidak mengkhususkan diri pada orang-orang teater saja. Siapa saja yang ingin belajar akting; ada teman dari jurusan desain, ada teman dari Atamajaya, dan Psikologi UGM.

Ucok:

Yah, sebenarnya kami sudah lama berkumpul. Kami punya kegelisahan dan keinginan untuk belajar lebih dalam mengenai akting, mungkin kami merasa kurang dengan apa yang sudah kami pelajari mengenai teater dan akting. Cuma waktu itu memang kami lebih banyak mempelajari berbagai pendekatan yang banyak dibantu oleh Mas Rosa (Rukman Rosadi, pen)

Cuwie’:

Sebenarnya saya dulu malah tidak tahu ada Saturday Acting Class, walaupun saya di Jurusan Teater ISI. Saya malah usul sama teman-teman, “Ayo bikin apa yuk, kumpul-kumpul belajar teater bareng…” Eh, ternyata malah sudah ada Saturday Acting Class, terus saya mulai masuk ketika perencanaan untuk membuat Saturday Acting Club.

Saturday Acting Club. Namanya agak berbeda dengan nama-nama kelompok teater yang biasa saya dengar, sepertinya SAC mewakili semangat yang berbeda dari kelompok-kelompok teater lain?

Rosa:

Gimana ya, kami sejak awal memang menitikberatkan pada pembelajaran akting, untuk belajar berbagai bentuk akting. Dan karena kita memang sama-sama punya waktu luang di hari Sabtu, walaupun sebenarnya berkumpul di Hari Sabtu sudah menjadi kewajiban bagi kami (tertawa….). Kalau ada kesibukan lain harus ditinggal (tertawa lagi…).

Kenapa memilih club? Bukan course misalnya…

Cuwie’:

Karena dulu class itu kesannya formal ya, dan jadi kelihatan sangat akademik. Kemudian kami bersepakat untuk mengganti menjadi club, karena ia menjadi lebih terbuka, dan posisi kita semua menjadi sama di dalam wadah club. Saya dan Mas Rosa misalnya. Ya saya boleh berbeda pendapat dan mengusulkan sesuatu pada dia. Walaupun tetap dibutuhkan pengurus yang aktif, ada struktur kekuasaan yang menentukan program-program SAC.

Ucok:

Dulu waktu class, Mas Rosa memang jadi agak dominan. Sementara kalau di club, kami kesannya jadi cair gitu. dia sudah tidak kami anggap sebagai dosen lagi(tertawa). Kami posisinya sama saja, saling memberi pendapat dan memberi usulan, misalnya dalam proses pengadeganan. Juga Mas Rosa sebagai sutradara misalnya, ia tidak bisa seenaknya memerintah, “Kamu kaya gini, jalan kesana…”, kalau seperti itu pasti ditanya balik, “loh, kenapa? Apa alasannya..?”(tertawa)

Dan kenapa acting? Bukan actor atau theatre misalnya…..

Ucok:

Karena memang kami memang fokus ke bagaimana akting itu. Kami ingin mencoba segala macam bentuk akting, menembus batasan-batasan akting yang ada sekarang; mencoba mengeksplorasi bentuk, gagasan, ide,  sampai pada kemungkinan-kemungkinan yang bisa kami capai. Yang kami tekankan memang bagaimana ber-akting itu. Kami percaya tiap karakter punya konsekuensinya sendiri untuk diperankan, dan tiap aktor harus mempunyai kesadaran untuk itu. Karena saya melihat aktor-aktor yang gaya dan bentuknya sama dalam tiap karakter yang diperankannya. Lah, itu kan berarti dia tidak ber-akting. Berarti kan, dia hanya memindahkan dirinya sendiri ke atas panggung. Cuma sekedar memakai kostum dan mengucapkan apa yang tertulis.

Rosa:

Di sini (SAC-pen), kami semua punya komitmen untuk mempelajari akting seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bagi kami di SAC, akting berarti Akting dengan A kapital. Walaupun tidak semua yang terlibat di sini (SAC-pen) aktor, kami terbuka pada siapa saja yang ingin belajar akting. Karena menurut kami dunia akting itu sangat luas sekali. Dan bagi kami SAC adalah wadah untuk menjelajahi dunia itu. Untuk itu SAC tidak memilih satu gaya pertunjukan sendiri yang tetap, kami ingin bisa berakting dalam bentuk pertunjukan apa saja, baik yang tradisional maupun kontemporer.

Cuwie’:

Dan kami juga sebenarnya tidak hanya berkutat dengan akting di dalam teater, kami juga mencoba bagaimana toh akting di dalam film itu? SAC juga tidak menutup kemungkinan nanti ke depannya akan membuka kursus akting untuk umum.

Pada kesempatan launching bulan lalu (bulan April 2007-pen) SAC memilih untuk memanggungkan tiga naskah pendek karya Samuel Beckett. Ada alasan khusus nggak, kenapa teman-teman memilih naskah Beckett?

Rosa:

Sebenarnya tak ada alasan khusus ya. Karena kami tidak mau terikat pada satu genre tertentu. Lebih karena saat ini SAC ingin memainkan naskah-naskah pendek dengan durasi kurang dari satu jam, dan Beckett punya jenis naskah pendek itu. Ya, waktu itu kami bersepakat untuk memainkan tiga naskah itu.

Ucok:

Semua orang di SAC mempunyai obsesi tentang keaktoran. Biasanya mereka ingin bermain dalam satu peran tertentu, misalnya peran orang sakit jiwa, atau peran pembunuh, atau peran romantis. Dalam kasus kemarin, mungkin kami melihat naskah Beckett cukup mewadahi keinginan-keinginan kami untuk memerankan satu karakter tertentu. Dan seperti yang tadi sudah dikatakan, ya kami selalu menggunakan kesempatan pertunjukan ini dengan mencoba untuk bertemu dengan sesuatu yang berbeda. Bagaimana sih naskahnya Beckett? Karena pasti berbeda memainkan naskah Beckett dengan memainkan naskah lain oleh penulis lain. Ya bagi saya seperti itu sih. Sepertinya waktu itu memang tidak ada alasan khusus ya.

SAC dalam sebuah pertunjukan.

Oke, menurut teman-teman sendiri, apa sih yang membedakan SAC dengan kelompok-kelompok lain? Paling tidak apa yang membuatnya beda?

Cuwie’:

Formulasi ilmu…

Maksudnya?

Cuwie’:

Ya karena bagi kami bukan hanya akting di atas panggung yang penting. Tapi, bagaimana jalan yang ditempuh untuk menuju akting di atas panggung itu…

Rosa:

Maksud Cuwie’ adalah bagi kami proses untuk menuju akting di atas panggung itu jauh lebih penting. Bagaimana proses penemuan, metode-metode yang ditempuh untuk mencapai suatu karakter. Mungkin itu yang membuat kami merasa perlu mendalami akting lebih jauh lagi, karena makin jauh kami memasukinya, ternyata hal ini  sangat luar biasa luas. Menurut kami metode seorang aktor untuk mencapai sebuah bentuk akting itu adalah satu bentuk ilmu juga, dan si aktor harus bisa memformulasikannya.

Ucok:

Ya semangat itu yang kami pegang di SAC. Karena percuma saja kalau seorang aktor bisa berakting dengan bagus diatas panggung tanpa tahu metode-metode untuk mencapai bentuk akting itu. Sayangnya kami melihat hal ini tak begitu disadari, sehingga banyak aktor yang hanya bisa memainkan satu tipe karakter saja. Bagi kami ya hal ini sama saja berarti si aktor belum lepas dari dirinya sendiri.

Rosa:

Karena di sini orang-orang teater sendiri masih menganggap aktor atau akting itu berdasarkan hal-hal yang abstrak. Mereka tak bisa memformulasikannya, hanya berhenti di “teater ya begini ini….” Karena itu saya melihat banyak kelompok pada akhirnya hanya tergantung pada sosok sutradara. Sutradara menjadi sosok yang mengetahui segalanya dan ia tak membaginya pada orang lain. Karena tak ada kesadaran bahwa akting adalah satu bentuk ilmu yang bisa dipelajari semua orang. Jadi yang sering terjadi, ketika sutradara meninggalkan sebuah kelompok teater, maka kelompok teater itu akan mati.

Jadi akting itu bisa dipelajari, lalu bagaimana teman-teman mempelajarinya? Punya metode-metode tertentu yang baku bagi para aktor di SAC ?

Rosa:

Karena para anggota SAC mepunyai komitmen untuk mempelajari akting, maka cara mereka untuk mempelajari akting berbeda-beda sebenarnya. Tapi semua punya kecenderungan untuk mencari referensi-referensi sendiri. Jadi memang aktor-aktornya itu dituntut untuk pintar dan cerdas. Tapi bukan berarti kami tidak memperhitungkan improvisasi atau ekplorasi, itu kami jaga karena itu bagian dari metode untuk mencapai bentuk akting.  Lewat forum-forum di SAC kami berdiskusi soal akting, dan seringkali malah anggota SAC dari disiplin berbeda memberi masukan-masukan yang segar dan berharga.

Lalu kami juga mencoba untuk mengeksplorasi diri kami sendiri; bagaimana seorang aktor bermain dalam karakter yang berbeda-beda, lalu teman-teman akan memberi masukan-masukan dan membicarakannya bersama. Lewat forum itu SAC membantu para aktor anggotanya untuk memformulasikan metode-metode yang telah dicapainya.

Ngomong-ngomong, apa sih program SAC selanjutnya ?

Ucok:

Bulan Juni nanti kami akan pentas di KKF, kami mencoba eksplorasi akting dalam bentuk-bentuk pertunjukan tradisional. Pertunjukannya tiga buah seperti pada saat launching. Saat ini kami sedang berkonsentrasi pada pertunjukan-pertunjukan pendek saja dulu. Lalu Bulan September rencananya kami akan pentas di KKF lagi. Naskah pendek juga, tapi kali ini naskah yang kami buat sendiri. Terus Februari tahun depan rencananya kami akan memproduksi sebuah film.

Cuwie’:

Selain itu kami juga punya agenda rutin di luar pertunjukan, misalnya pertemuan tiap Sabtu yang wajib untuk semua anggota. Terkadang ada workshop-workshop untuk anggota. Kami juga memberikan workshop-workshop mengenai akting. Kemarin (minggu ketiga Mei-pen) kami baru saja memberi workshop akting pada anak-anak SMP di ISI. Para anggota punya kewajiban untuk memberikan materi-materi pada saat workshop itu. Yang paling akhir ya penerimaan anggota. Kemarin kami baru saja menerima dan menyeleksi anggota baru untuk SAC, yang diterima ada 11 orang.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul empat sore, gelas-gelas es teh yang tadi penuh sudah kosong. Siang itu memang sangat panas. Tapi berbincang dengan tiga orang awak SAC membuat siang itu terasa berlalu dengan cepat. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin dibicarakan dengan SAC, misalnya tentang rencana-rencana pertunjukan mereka, tentang film yang akan mereka buat, atau ide mereka tentang akting. Akhirnya, waktu jualah yang membatasi pertemuan kami. Saat masing-masing dari kami harus beranjak dan bergerak meninggalkan tempat di mana kami bertemu. Sukses buat SAC!!!

*Muhammad A.B., reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

Oleh: Hindra Setya Rini *

Tepatnya hari Jumat, 2 Februari 2007, pukul delapan malam, dua awak skAnA bertandang ke Pendopo Teater Garasi untuk bertemu dengan peserta Actor Studio. Sebelumnya, pada tanggal 30 Januari 2007, mereka juga telah mengadakan acara ‘sum-suman’, yaitu semacam ritual yang dilakukan setelah pementasan peserta Actor Studio, sekaligus penutupan proses panjang yang telah mereka jalani selama 6 bulan itu.

Percakapan yang kami lakukan di salah satu ruangan kecil di Teater Garasi itu cukup riuh dengan celoteh ceria para peserta Actor Studio tersebut. Memang terkesan seperti malam pelepasan dan mereka sedang berbahagia. Meski tidak semua peserta bisa hadir pada pertemuan itu, tapi tak sedikit pun mengurangi semangat para aktor-aktor muda yang lain untuk berbagi.

Latar belakang atau alasan teman-teman mengikuti Actor Studio?

Kimung:

Saya tertarik, dalam hal ini mempelajari keaktoran. Saya suka teater, jadi saya ingin belajar tentang keaktoran.

Nugie:

Karena keterbatasan referensi di tempatku tentang keaktoran, jadi aku berinisiatif untuk datang ke sini untuk mempelajari keaktoran.

Iskandar:

Aku merasa dulu itu belajarnya tanpa sistem pengetahuan yang jadi. Kemudian aku ingin belajar ilmu keaktoran itu dengan tepat. Makanya, aku belajar di Actor Studio yang diharapkan bisa jadi modalku untuk proses selanjutnya.

Guntur:

Aku butuh referensi keaktoran sehingga aku bisa menguji seberapa jauh kemampuan keaktoranku dan seberapa mampu aku menyerap hal-hal baru dalam keaktoran itu sendiri.

Alex:

Fasilitas yang lebih memadai dan yang aku inginkan.

Antok:

Karena aku pecinta seni peran.

Qomar:

Karena aku ingin tahu yang lebih jelas aja dari keaktoran itu seperti apa, dan ini karena yang ngadain Teater Garasi, yang menurutku kelompok teater yang sudah bisa memformulasikan pengetahuan mereka.

Sutris:

Waktu yang 6 bulan itu yang membuatku tertarik. Karena dengan waktu 6 bulan itu aku pikir banyak referensi keaktoran yang bisa aku dapatkan.

Lalu apa yang teman-teman dapatkan dari Actor Studio?

Alex:

Hal-hal yang sistematis dan target.

Guntur:

Kesadaran tentang kebutuhan ilmu keaktoran secara sistematis dan terstruktur.

Iskandar:

Pengalaman mengalami banyak proses dan bisa teramati.

Antok:

Disiplin pengetahuan yang sistematis.

Nugie:

Terbuka bahwa keaktoran itu banyak sekali hal yang belum saya pelajari.

Sutris:

Sistematis sama training.

Qomar:

Lebih tahu mengatasi kesulitan dalam diri sendiri kaitannya dengan keaktoran.

Kimung:

Disiplin keaktoran dan sistematis dalam latihan dan materinya.

Bisa cerita sedikit prosesnya; kesan; apa yang menyenangkan, atau yang tidak menyenangkan buat teman-teman selama studi ini, misalnya?

Antok:

Wah, mendak! Aku nggak suka, sakit semua pahanya. Kalau yang menyenangkan buatku itu momen tahap 3, yaitu pementasan ansambel. Di situ, satu bagian hidupku menjadi kaya pengalaman batin. (Mendak adalah salah satu bentuk gestur tubuh yang dilatihkan kepada peserta dalam sesi training, pen)

Nugie:

Tayungan dan Ageman, sakit semua badanku. Yang paling kusukai adalah sesinya Mas Lono (workshop ansos), Mas Landung (training pelisanan), dan Mas Wawan (workshop monolog). Karena, meski sebentar tapi efektif banget. (Tayungan itu salah satu dasar tari Jawa, dan Ageman dasar tari Bali, yang dilatihkan kepada peserta dalam sesi training, pen)

Qomar:

Aku nggak suka mendak. Aku paling tinggi sendiri jadi kelihatan kalau nggak rendah, hehe… Tapi yang paling aku senengi adalah workshop 3: Interaksi dan Mas Landung (training pelisanan, pen). Pentas juga menyenangkan.

Sutris:

Psikologi. Itu menyebalkan. Bukan psikolognya, tapi metodenya. Kalau yang aku suka itu Ageman, sama pelisanannya Mas Landung.

Kimung:

Kalau aku waktu gulingan itu, sulit karena postur tubuh saya yang gendut ini. Yang menyenangkan adalah waktu ansos (analisis sosial, pen) itu, kita observasi ke pasar dan mall.

Alex:

Aku paling takut gulingan! Karena aku trauma lantai! Yang menyenangkan tuh pentas, karena aku nggak pusing mikirin biaya pentas!

Iskandar:

Yang nggak menyenangkan buatku jatuhan belakang, karena takut terbentur kepalanya. Kalau yang suka itu sesinya Mas Ogleng (Yudi Ahmad Tajudin, salah satu fasilitator Actor Studio, pen). Kemudian pementasan monolog dan pementasan ansambel yang hari ke dua, karena rileks.

Guntur:

Untuk yang tidak menyenangkan, saya pass ya… Tapi yang menyenangkan adalah sesinya Ogleng (Yudi Ahmad Tajudin, red), karena membuat kita kritis dengan perangkat keaktoran kita dan membuat kita terangsang untuk menemukan warna atau karakter kesenian kita sendiri.

Fasilitatornya sendiri, gimana, menurut teman-teman?

Antok:

Oke-oke, nggak ada masalah. (teman-teman yang lain menyepakati apa yang dikatakan oleh Antok, yang notabene adalah ketua kelas di Actor Studio ini.)

Ada tidak perbedaannya, sebelum dan setelah mengikuti Actor Studio?

Kimung:

Ya, terus terang beda, ya dalam hal ini Kimung yang sebelum mengikuti Actor Studio dan sesudahnya ya tentu saja beda. Terutama dalam pengalaman saya mendapatkan sesuatu dari Actor Studio.

Qomar:

Lebih tahu apa yang sedang dihadapi dan bagaimana cara menghadapinya, sekarang.

Sutris:

Tambahan referensi metode latihan keaktoran dan sedikit menejemen pentas.

Alex:

Peningkatan dari segi teori.

Guntur:

Aku semakin kukuh dalam mempelajari dan memperdalam disiplin keaktoran.

Iskandar:

Lebih santai di prosesnya.

Antok:

Alasan. Di Actor Studio, alasan itu adalah satu hal yang sangat penting. Artinya, untuk melangkah atau bergerak, entah di pementasan dan di kehidupan sehari-hari jadi lebih tahu dan mencari tahu alasannya.

Nugie:

Aku lebih bisa mengukuhkan diri bahwa pilihanku di keaktoran.

Oke, harapan untuk Actor Studio ke depan?

Nugie:

Actor Studio bisa terus berlanjut, dan harapanku bisa lebih baik dan matang dari sekarang. Dan untuk diriku sendiri: kuliah!

Iskandar:

Kurikulum yang sudah dikasih Actor Studio, itu aja yang dipakai. Maksudku, semua yang ada di Actor Studio itu ya dijalankan sesuai planningnya.

Kimung:

Actor Studio ya berlanjut teruslah…, jadi nanti dunia teater itu memasyarakat.

Sutris:

Memasyarakat tuh, gimana?

Kimung:

Mmm…, biar nggak eksklusif, ya di masyarakat itu nggak aneh. Kalau dari saya sendiri sih setelah mengikuti Actor Studio, saya akan menularkan ilmu saya kepada yang lain. Kalau yang saya tularkan itu mau lho. (Geer…, kami kembali terbahak. Suasana begitu riuh, karena masing-masing saling menimpali, meledek, dan mencandai temannya yang sedang memberikan pendapatnya)

Sutris:

Huu… Itu bukan teaternya yang aneh. Orang-orangnya aja yang aneh. Seniman-seniman yang bikin teater jadi terlihat aneh itu. (Ups, ada yang langsung protes! Mereka membangun diskusi mereka sendiri, dan menyenangkan melihat teman-teman Actor Studio bercengkerama)

Guntur:

Untuk materi analisis sosial ditambah. Karena, saya berharap seniman-seniman muda lebih berdimensi sosial. Menurut saya itu penting sekali karena karya-karya yang dihasilkan mudah-mudahan bisa berdampak sosial juga.

Qomar:

Bisa melebihi yang sekaranglah. Bisa menghasilkan orang-orang yang menjadi lebih mengerti tentang teater.

Sutris:

Kalau aku sih, bisa menarik masa sebanyak-banyaknya biar bisa di seleksi. Kalau yang diterima 6 peserta, tapi  gimana caranya yang daftar 20an, gitu.

Pertanyaan terakhir, kesan teman-teman selama studi keaktoran di Actor Studio 2006 (periode pertama), ini?

Antok:

I love very much…! The best f**kin’ moment!

Alex:

Amazing…!

Kimung:

Sae…(bagus, pen)

Guntur:

Merangsang, membuat saya bergairah.

Nugie:

Aku lebih terbuka terhadap keaktoran.

Qomar:

Wonderfull.

Iskandar:

Very surprise…!


***

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 03, Maret-Juni 2007)

Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Tanggal 19 September 2006, saya datang ke Markas AWI (Anak Wayang Indonesia) di Mergangsan untuk bertemu dan ngobrol dengan anak-anak tersebut. Siang itu saya ditemui oleh Gigon dan Viki, keduanya adalah senior bagi anak-anak AWI. Mereka berdua menyarankan agar saya datang lagi malamnya, sekaligus mereka mengundang saya untuk menonton pertunjukan mereka di Sapen. Malam itu saya sempatkan diri untuk menonton pertunjukan mereka di Sapen.

Pentas di pinggir rel ini ternyata gabungan dari musik perkusi, pertunjukan teater, dan pantomim. Dan ternyata mereka juga melayani request lagu-lagu yang diminta penonton. Pentas ini berjudul « Ko Ko Bako. Anak Jogja Anak Masa Depan ». Pemainnya berusia antara 8 – 22 tahun. Dan menurut informasi yang saya dengar mereka telah mementaskan pertunjukan ini hampir di 20 tempat di Bantul dan Klaten.

Setelah pentas, saya menemui mereka lagi. Tampak mereka sangat sibuk mengangkut setting dan alat-alat musik ke panggung, wajah-wajah mereka kelihatan lelah sekali. Akhirnya saya membatalkan wawancara malam itu dan berjanji akan datang hari Senin.

Hari Senin, pukul 15.30 WIB, saya datang ke Markas AWI di Mergangsan. Setelah membangunkan Gigon, yang kemudian memanggil teman-temannya untuk turut bergabung. Selanjutnya saya ngobrol-ngobrol bersama Mila (14 tahun), Nana (14 tahun), Gigon (20 tahun), dan Adi (21 tahun) yang lebih kerap dipanggil Kempor. Lalu datang juga Karina (18 tahun) yang baru pulang sekolah, namun bersedia untuk berhenti sebentar untuk wawancara. Berikut adalah petikan wawancara bersama mereka :

Berapa pertunjukan yang dilakukan AWI untuk program paska gempa?

Gigon:

Rencananya dulu kami pentas keliling di 10 tempat. Kita tentukan tempatnya, di mana saja kira-kira. Setelah itu kami menghubungi partner-partner kami yang kira-kira mau membantu secara finansial.

Nana:

Ya, dulu rencananya cuma 10 tempat saja.

Karin:

Biasanya kami di tempat pentas disediakan makanan, dijamu sama tuan rumahnya. Kalau tuan rumah tidak bisa menyediakan transportasi, kami berangkat sendiri.

Sudah berapa lama kalian aktif di AWI?

Karin :

8 tahun. Selama itu aku bisa kenalan sama teman-teman lain tidak hanya teman sekolah. Tapi juga teman-teman di kampung. Bisa ikut banyak kegiatan, tidak cuma di sekolah saja. Terus, jadi lebih enak dan berani ngobrol sama siapa aja. Di sini soalnya apa, ya? Beda mungkin. Aku kan belajar hal-hal yang nggak ada di sekolah; belajar nari, main teater, musik, terus pentas di mana-mana, bikin-bikin keterampilan, belajar nulis.

Gigon :

Nek Karin ki pengalamane jan jane sithik, ning dasare bocahe cerewet….ha ha ha ha (baca: Kalau Karin itu pengalamannya sebenarnya sedikit, tapi pada dasarnya anaknya cerewet…)

Mila & Nana:

5 tahun.

Anak Wayang Indonesia (AWI) secara resmi berdiri  pada tahun 1998. Gigon dan Viki adalah salah satu angkatan pertama di AWI. Mereka sejak kecil aktif di kegiatan-kegiatan AWI. AWI sendiri merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pendampingan anak-anak di wilayah perkotaan. Mereka membekali anak-anak dengan latihan keterampilan, latihan melukis, mendorong anak untuk berkarya dan menulis. Biasanya anak-anak binaannya ada yang kemudian meneruskan untuk membantu membimbing adik-adiknya seperti halnya Gigon dan Viki.

Dukungan orangtua terhadap kegiatan di AWI?

Kempor:

Kelihatannya gak ada banyak masalah. Soalnya biasanya kalau habis pentas, kami cerita sama mereka. Mereka jadi tahu kegiatan kita apa saja di sini.

Mila:

Orangtuaku gak ngelarang, tapi yang penting aku harus bisa bagi waktu antara AWI sama sekolah.

Kalau Nilai sekolah gimana?

Karina:

Ya itu sebenarnya tergantung dirinya masing-masing. Cuma kalau di sini kan harus pinter bagi waktu. Ya, soalnya piye, ya? Kita semua di sini, kan, masih sekolah, kita masih punya keluarga. Ya waktunya harus dibagi rata.

Gigon:

Kalau rata-rata, anak-anak sini lebih pede dan lebih pinter kalo disuruh ngarang daripada anak-anak yang lain.

Karina:

Lha, iya, Mas. Kalau aku pribadi jadi lebih pinter ngomong, ga takut diliatin orang banyak.

Pas gempa kemarin, teman-teman juga menjadi korban gempa?

Gigon:

Awalnya, ide itu muncul malah sebelum gempa. Waktu itu rencananya mau pentas di barak-barak pengungsian di Merapi, kan, waktu itu banyak juga yang mengungsi di sana? Nah, pas persiapan lha kok malah ada gempa di sini. kita sendiri jadi pengungsi. Terus, yang gedhe-gedhe kan ngobrol.  Gimana, ini? Kita sudah lelah di tenda terus. Maksudnya, ya gimana, ya? Kan bosen kalo tiap hari di dalam tenda. Lihat rumah sendiri ambruk, rumah-rumah tetangga ya ambruk. Tiap hari kok membersihkan brengkelan (reruntuhan) terus.  Masak ga ada yang lain? Terus, temen-temen ngumpul bareng dibantu sama salah satu pendiri AWI (dulu), kita bareng-bareng ngobrol bikin program pementasan ini.

Persiapan untuk program ini sekitar dua minggu, yang gedhe-gedhe mencari dana menghubungi daerah-daerah yang mau jadi lokasi pentas. Cari dukungan-dukungan. Tapi untuk pertunjukannya semua anak-anak terlibat. Pentas pertama itu tanggal 2 Juli di Imogiri, kurang lebih sebulan setelah gempa.

Kalau  motivasi temen-temen untuk pentas sebenarnya apa sih? Kok kalian begitu semangat sampai pentas 18 kali?

Gigon:

Kalau yang perempuan-perempuan itu awalnya niatnya mau cari cowok kok, Mas. Tapi ternyata di Bantul, cowoknya dah mati semua ketiban brengkelan. Hahahahaha (kami tertawa)

Nana:

Ya, buat cari temen aja, Mas. Aku kan belum pernah liat daerah gempanya secara langsung.

Mila:

Kalau aku pengin wae berbagi semangat sama anak-anak lain yang jadi korban gempa. Aku, ya korban gempa, tapi kan seneng kalau bisa buat temen-temen yang lain jadi tersenyum dan semangat.

Karina:

Mmm…, kalau dibilang jalan-jalan kan ya nggak etis, ya? Tapi ya mosok di  rumah diem aja. Sedih terus. Nanti kan malah trauma terus. Kan ya ada suka duka. Tapi kita harus tetap ceria, dan berbagi keceriaan. Ya memang kita itu korban gempa. Ya sedih, ya trauma, tapi anggap aja itu bencana, tapi kita harus tetep ceria.

Kempor:

Soale kalau aku ya bisanya cuma ngasih semangat buat mereka. Kalau aku disuruh menghibur, jelas kalah sama yang di TV. Ya, aku cuma ngasih semangat saja. Biar mereka gak stress terus.

Terus gimana cara kalian untuk mempersiapkan pentas ini?

Karina:

Ya pas habis gempa itu, kan, sekolah libur. Terus sempet masuk tapi kan cuma setengah hari. Jadi waktu itu, masih banyak waktu buat ngumpul. Kita koordinasi tiap hari. Ada jadwalnya. Besok kumpul mbahas cerita, terus ngumpul lagi bagi-bagi tugas. Kita bikin seksi-seksi.

Untuk program pertunjukan paska gempa, anak-anak AWI sepenuhnya mengorganisasikan diri mereka sendiri. Mereka membentuk kelompok dengan nama “Teater Jangkar Bumi”, mereka bergerak atas wadah itu dan tidak menggunakan nama Anak Wayang Indonesia. Menurut Gigon dan Viki, hal ini karena ide untuk program ini berasal dari anak-anak sendiri, bukan bagian dari program AWI. Soalnya waktu itu kantor AWI di Mergangsan sendiri rusak berat, dan tak dapat digunakan hingga kini.  Tapi kegiatan ini katanya didukung sepenuhnya oleh AWI. Hal-hal seperti mencari dana, hingga mengurus ijin keamanan sepenuhnya dilakukan oleh para anggota Teater Jangkar Bumi.

Terus gimana cara kalian biar selalu tampak ceria di pentas? Kan gak mungkin kalian pentas dengan wajah yang sedih, gimana kalian ngakali biar tidak nampak sebagai korban gempa?

Mila:

Kalau aku itu ceria terus, Mas. Gimana, ya? Aku memang nggak sedih-sedih banget. Tapi ya pokoknya kita tampilnya semangat. Kita niatnya baik kok, jangan sampai di sana malah yang nonton nglokro.

Nana:

Temen-temenku kan juga banyak yang jadi korban, terus aku yang omong-omong sama mereka. Takon-takon. Biar aku ya ngrasakke apa yang mereka rasakan. Terus, kalau pas pentasnya aku yo semangat. Soalnya yang nonton, kan, kebanyakan yang seumuran kita. Orangtua juga seneng pas tau aku mau pentas di tempat gempa.

Kempor:

Aku soale ga tak pikir banget-banget. Nanti kalau dipikir serius-serius, lha malah jadi stress berat. Ya mengalir wae, ya dipikirkan tapi gak terus-terusan menyesali kenyataan kalau aku itu ya korban gempa.

Kalau pas pentasnya, gimana hasilnya? Pernah gak kalian merasa wah ternyata kita pentasnya tadi kurang semangat, atau wah kita tadi kok malah nggak ceria?

Gigon:

Itu pas pentas pertama di Imogiri. Itu kesannya gimana, ya? Kita rasanya kok nggak ngasih semangat, yang nonton kok ya nggak ceria. Wah, lha kok rasanya malah jadi aneh. Soalnya pas itu kan pentasnya siang-siang, bapak-bapaknya kan kerja bakti, terus yang nonton ibu-ibu sama anak-anaknya saja. Tapi pas nonton kok keliatannya dha kepanasen, terus malah pindah-pindah nontonnya. Akhirnya banyak juga yang pulang. Padahal pentasnya belum bubar.

Semangat lagi itu, ya, di Canden, pas pentas kedua. Rasanya pentasnya kok kena. Yang nonton ya seneng, kita yang pentas juga seneng. Mungkin masalahnya di waktu pentas. Kita harus pintar-pintar menyesuaikan dengan masyarakat. Jangan sampai pentasnya terlalu siang. Tempatnya juga kalau bisa yang strategis, yang enak juga buat yang mau nonton. Mungkin pas di Imogiri itu karena pentas pertama, jadi kita juga nekat aja. Lha, kita kan belum pernah pentas di tempat pengungsian sebelumnya.

Pas di Banguntapan, itu yang nonton itu mbok ada sekitar 150-an anak yang nonton tapi ya rasanya kita nggak masuk. Wong yang nonton itu kebanyakan anak-anaknya kecil banget, jadi nggak dong sama ceritanya. Terus, mungkin karena pentasnya di dalam musholla, jadi banyak anak yang mau nonton itu sebenarnya pengin nonton, tapi cuma bisa nonton dari luar pagar. Ya, sebenarnya ada banyak faktor sih yang menentukan.

Di Klaten itu juga menyenangkan. Waktu itu ada dua bis yang njemput kita. Terus, bisnya itu njemput penonton-penontonnya dari desa-desa sekitar. Tapi pas itu yang nonton banyak banget dan, karena waktu itu banyak anak TPA-nya, jadi ada yang harus pulang. Padahal pentasnya belum selesai.

Terus, pentas kalian itu bentuknya gimana, sih?

Kempor:

Ya, pentas-pentasnya menyesuaikan sama kondisi tempatnya. Di serambi masjid, di kebun, di bekas reruntuhan rumah, di dalam tenda. Tergantung sama kondisi tempatnya. Kita menyesuaikan. Kan, ini pentasnya untuk menghibur korban gempa. Jadi, ini tidak terlalu ribet.

Apa saja pengalaman temen-temen pentas di daerah gempa?

Karin:

Ya, ada rasa seneng. Tapi senengnya bukan rasa seneng banget-banget. Sedih juga. Tapi ya sedihnya biasa, nggak terlalu berlebihan. Wong di sana kita kan mau berbagi semangat, malah kalau bisa jangan sampai mengingatkan mereka sama bencana yang lalu. Di pentasnya sendiri memang tidak ada kata gempa disebutkan dalam dialog. Pas pentas sebisa mungkin kata gempa tidak ketrucut keluar. Rasanya campur-campur.

Kempor:

Pas pentas pertama itu, wahhh.., rasanya nge-drop banget. Kita ke sana mau menghibur kok malah rasanya wajah-wajah kita itu kok malah jelek banget. Tapi ya terus gimana caranya kita tetap ceria. Biar dilihat itu kepenak, sambil menipu diri sendiri. Soalnya kalau ke wilayah gempa itu lihat anak-anak kecil pada tidur di dalam tenda, membayangkan gimana mereka tidurnya kalau malam itu kan dingin banget, apalagi sempet hujan juga. Kan ya gimana, ya, Mas? Sedih juga.

Mila:

Aku kesana ngeliat rumah teman-teman ambruk, dan panasnya di dalam tenda. Ada yang bilang kalau mau cari kamar mandi saja susah. Terus ngeliat orang-orang cacat, ngeliat kuburan massal. Ya itu pengalaman-pengalamannya.

Nana:

Kalau melihat yang nonton itu ketawa, seneng banget. Rasanya di hati itu plong banget. Ada kebanggaannya gitu. Tapi waktu itu, kalau pas di rumah ya kadang-kadang sedih mikir mereka yang gak bisa tidur di dalam rumah.

Kalian pentasnya itu mementaskan cerita yang sama?

Nana:

Pentasnya itu judulnya Ko ko Bako, Anak Jogja Anak Masa Depan. Itu pentasnya sama, paling berubahnya tidak  banyak dari pentas yang lain.

Pertunjukan ini diisi perkusi anak-anak sebagai pembuka acara, lalu pentas drama dengan judul ‘Ko ko Bako, Anak Jogja Anak Masa Depan’, dilanjutkan pertunjukan pantomim, dan kemudian ditambah dengan pembacaan puisi. Pertunjukan ini dipimpin oleh dua orang MC yang akan memandu acara-acara tersebut. Mereka juga berinteraksi dengan mengajak penonton untuk menyanyi bersama, menari, dan juga menawarkan kepada penonton bila ada yang mau menyanyi di panggung.

Yang membuat cerita, siapa?

Mila:

Bareng-bareng, Mas. Kita ngumpul bareng, terus ngobrol idenya dari kita apa saja. Semuanya ikut urun rembug.

Kempor:

Ada Mas Viki (Viki adalah salah satu anggota Anak Wayang Indonesia, yang paling senior. Ia juga merupakan angota Bengkel Pantomim Yoyakarta-pen) juga yang pengalamannya lebih banyak dari kita. Dia yang memimpin, memfasilitasi kita, ya kayak sutradara gitu. Kalau kata dia, kita itu seperti setitik api yang akan membakar titik-titik api saudara-saudara kita yang lain, yang padam karena bencana kemarin. Nggak tahu itu, Mas. Dapatnya kata-kata itu dari mana, ngambil kata-katanya siapa, saya juga nggak tahu. Sok-sokan kok (Viki). Kata-kata itu yang selalu diucapkan pas latihan atau pas mau pentas, biar kita tetap semangat terus.

Gigon:

Selain itu juga ada pembina-pembina yang lain, mereka juga ikut urun rembug. Seperti misalnya jangan sampai menyebut kata gempa. Itu ide yang kami dapat dari mereka. Mereka banyak memberi refleksi yang banyak berarti bagi kami. Terus mereka juga usul, mbok jangan cuma pentas thok, tapi juga ngasih workshop-workshop apa, gitu, yang kira-kira menarik buat anak-anak yang menjadi korban gempa. Tapi kalau bisa workshopnya yang ringan-ringan. Jangan yang butuh banyak pikiran, dan jangan sampai malah membebani mereka.

Berarti kalian tidak Cuma pentas thok, tapi memberi workshop juga?

Gigon:

Dulu rencananya seperti itu, tapi ternyata cuma bisa dilakukan di Klaten. Jadi, di Klaten itu dua hari. Satu hari pentas, satu hari workshop. Tapi gimana, ya? Karena kita juga takut kalau nanti malah jadi beban buat mereka, atau malah nggak direspon sama masyarakat, kan, gimana gitu, Mas. Ya akhirnya yang bisa cuma di Klaten saja. Karena waktu itu kan juga banyak isu, Mas.

Berarti kalian ini pentas 18 kali dalam jangka waktu berapa bulan? Kalau dihitung setelah pentas pertama tanggal 2 Juli?

Gigon:

Kan, rencana awalnya cuma 10 tempat thok. Tapi terus dari tanggal 2 sampai 31 Juli itu kami pentas 14 kali. Terus ditambah lagi pentas-pentas sekarang ini 18 kali, terus minggu depan (tanggal 22 September) kami pentas terakhir. Totalnya 19 kali selama kurang lebih tiga bulan. Karena kemarin itu kami juga dapat bantuan dari Sheep (salah satu LSM yang juga terlibat dalam penanganan paska gempa), mereka juga punya daerah-daerah dampingan. Kami ditawari pentas di daerah dampingan mereka, nanti biayanya ditanggung mereka.

Berarti selama bulan Juli rata-rata kalian pentas seminggu 3 kali?

Gigon:

Lha, iya. Pernah itu hari Sabtu, Minggu, Senin kami pentas 4 kali. Hari Senin dua kali, pagi pentas di Tembi, Bantul. Sorenya pentas di Taman Pintar, Yogyakarta.

Mila:

Tapi pas itu, pas libur sekolah. Jadi sebenarnya tidak terlalu masalah sih. Kebanyakan kan teman-teman masih anak-anak sekolah. Jadi kalau seperti aku, kalau tidak sekolah tidak ada kegiatan lainnya.

Karina:

Ada pentas yang lucu. Waktu itu pas di Taman Pintar. Pas di tengah pentas, lha malah ada selingan pengumuman kehilangan anak. Waktu itu seorang pengunjung kehilangan anaknya yang sedang berada di arena Taman Pintar.  Pentasnya terus bubar, karena semua orang sibuk mencari anak yang hilang.

Ceritanya ini memang untuk anak-anak?

Gigon:

Ceritanya itu sebenarnya untuk siapa saja. Kami ingin memberi hiburan. Hiburannya ini untuk semua orang, siapa saja. Cuma yang main memang kebanyakan usia anak-anak, ceritanya sederhana saja, tidak terlalu rumit dan njlimet. Terus kalau ada hiburan-hiburan seperti itu, kan, yang datang menonton kan kebanyakan anak-anak, Mas. Soalnya orangtuanya memang sudah tersita waktu dan tenaganya untuk ngurusi rumah.

Kalau di kampung kalian sendiri bagaimana? Apa kalian juga terlibat dalam program paska gempa di kampung kalian?

Kempor:

Ya, yang paling kerasa itu ya pas acara 17-an kemarin itu, Mas. Kita yang mempersiapkan acaranya, kita yang ngisi acaranya, kita yang buat settingannya, wah, pokoknya pas itu semua anak muda kampung ikut bekerja. Soalnya kan yang tua-tua sibuk ngurusi rumah dan keluarganya, Mas. Jadi memang yang muda-muda yang harus bergerak.

Waktu acara 17-an itu kalian juga pentas?

Gigon:

Wah, waktu itu semuanya lengkap tampil. Kami ya main pentas yang sama seperti pentas di tempat lainnya. Tapi temen lain yang bisa main musik ya diajak pentas, ada band-band-an juga, Mas. Malah Shaggydog (salah satu band yang terkenal di Yogyakarta-pen) waktu itu juga main disini.

Setelah pengalaman pentas di wilayah-wilayah gempa, kalian masih merasakan trauma karena gempa?

Mila & Nana:

Ya, Mas. Kadang-kadang suka merinding kalau dengar suara gemuruh.

Kempor:

Kemarin pas pentas di Sapen (tanggal 19 September mereka pentas di Sapen -pen), kan tempatnya persis di sebelah rel kereta api. Lha pas kereta lewat, kan, suaranya mirip banget sama pas gempa kemarin. Wah, itu saya kira gampa susulan, Mas. Pas itu juga  panggungnya ikut goyah, rasanya persis seperti gempa betulan.

Karina:

Iya, Mas. Waktu itu saya takutnya beneran, kok malah ditertawakan sama penonton-penontonnya?

Akhirnya Karina minta pamit karena ia harus membantu ibunya di rumah. Begitu juga dengan Nana dan Mila yang minta pamit kemudian. Karena hari sudah beranjak petang,      saya juga cukupkan sampai disini wawancara saya dengan anak-anak Teater Jangkar Bumi, atau bisa juga disebut anak-anak AWI itu.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 02, November 2006 – Maret 2007)

Sebuah Percakapan dengan Gati Andoko, Sutradara Ketoprak Lesung Teater Gadjah Mada

Oleh: Hindra Setya Rini*

Pada sebuah pagi, tepatnya hari Sabtu, tgl 18 Februari 2006, bersama dua orang teman, seorang dari Teater Garasi dan seorang dari Teater Gadjah Mada, saya bertemu dengan Gati Andoko, seorang seniman teater yang lima tahun belakangan ini namanya tak bisa dilepaskan dari geliat Teater Gadjah Mada (TGM) dan ketoprak lesungnya.

Pkl 10.00 WIB, kami berangkat menuju dusun Ngelosari, di mana Gati Andoko tinggal, di kaki gunung Merapi. Kira-kira satu jam perjalanan dengan satu kali nyasar sebelum memasuki sebuah areal perkebunan salak di sepanjang jalan ke tempat tujuan. Kami melewati kampung-kampung dan jalan yang berliku untuk sampai ke sana. Ketika tiba di tempat Mas Gati, begitu biasanya kami memanggilnya, kami langsung dihadapkan pada sebuah pertanian dengan beberapa kolam ikan, dan  gemericik air mancur dari sumber-sumber mata air yang mengalir dari gunung. Mas Gati yang sudah menanti kami di depan bangunan rumah kecilnya yang sederhana, langsung mengajak kami untuk berkeliling menyusuri lahan pertanian.

Kemudian kami turun kembali ke rumah sederhana tadi, di mana ruangannya terdiri dari satu kamar kecil, dapur di sudut, dan ruangan tempat kami bercakap-cakap, sementara lagu-lagu nostalgia terus terdengar dari sebuah tape compo yang tak jauh dari kami. Ada kolam ikan di sisi kiri kami, masih di dalam ruangan yang sama, untuk Nila Merah dan Bawal yang umurnya kira-kira satu tahun. Ini kali ketiga Mas Gati panen ikan. Siang itu kami bersantap di ruang kecil beralaskan tikar, mencicipi ikan bakar yang kami bakar sendiri, meskipun yang meracik bumbu dan sambal adalah Mas Gati. “Wuih, ditanggung lidah bakal kobong!” celetuk seorang teman. Percakapan kami yang hangat terus berlanjut sampai hari beranjak sore, sementara di luar bangunan tempat kami bercengkrama, dingin mulai mengusik, karena hujan turun sebentar, menyisakan gerimis dan mendung tebal di langit.

Mas, bisa cerita sedikit tentang Ketoprak Lesung TGM?

Wah, kalau itu sih enggak sedikit. Panjang ceritanya. Gimana? (kami tertawa)

Hmm. Gini, awalnya saya bersama teman-teman di ISI (Institut Seni Indonesia). Saya bergabung dengan Ketoprak Lesung ISI. Itu sebelum di Sastra (Fakultas Ilmu Budaya UGM). Nah, kebetulan saya juga sedang membuat Wayang Antro (unit kegiatan seni di Jurusan Antropologi FIB UGM) selama beberapa tahun. Dan dari tukar-menukar pemain, akhirnya jadi. Di Wayang Antro ada anak ISI, dan di Ketoprak Lesung ISI ada anak Wayang Antro.

Kemudian Ketoprak Lesung masuk ke Fakultas Sastra?

Iya. Ketoprak Lesung masuk ke Sastra, yang membawa adalah saya dan teman saya, namanya Kuncung (Ikun Eska—pen), pada tahun ’94. Ketoprak Lesung yang di Sastra waktu itu, ya, bentuknya cuma begitu itu. Ketoprak yang saya garap sebenarnya sering ditolak-tolak. Ya, ditolak pemainnya. Ya, ditolak penontonnya. (Mas Gati tertawa)

Karena apa, Mas? Mungkin sulit bagi mereka?

Ya, harus disiplin. Sulit, karena dibutuhkan kedisiplinan yang tinggi. Apa saja, kelenturan tubuh yang kuat, misalnya. Kemudian sekitar tahun ’98, saya vakum. Karena lebih terlibat di pergerakan mahasiwa waktu itu. Dan baru tahun 2000-2001, saya aktif di TGM.

Bagaimana respon teman-teman Ketoprak Lesung di ISI, ketika Ketoprak Lesung dibawa ke Fakultas Sastra, Mas?

Bagus. Nggak ada masalah. Karena saya selalu menceritakan sisi historisnya dengan teman-teman. Justru di ISI kemudian ada tambahan mata kuliah di sana, tentang ketoprak itu sendiri. Saya tidak akan meninggalkan sisi historisnya. Saya kan juga tahu bagaimana sejarahnya di ISI. Memang sempat ada sedikit konflik antara Ketoprak Lesung ISI yang dimotori oleh Brotoseno dan Ketoprak Lesung Sastra yang dimotori Gugun Gondrong. Nah, kehadiran saya itu, dan beberapa teman saya, Kuncung, Aris Lemu, Bambang Gundul, di Ketoprak Lesung ISI sebenarnya juga untuk mendamaikan itu. Ya, paling tidak menengahi itu.

Lalu bagaimana dengan anak-anak TGM sendiri ketika Ketoprak Lesung masuk? Sejarahnya bagaimana, Mas?

Ya, gimana, ya? Awalnya hanya berangkat dari obrolan-obrolan saya dengan Jon (Jon adalah panggilan Johan, salah satu aktor TGM waktu itu, yang sekarang lebih dikenal sebagai stage manager dalam berbagai pentas-pentas besar teater di dalam dan luar kota Yogya—pen). Dan akhirnya kami menggarap ketoprak lesung yang pertama di TGM. Waktu itu sih katanya TGM sedang kusam, tidak ada gairah, ora jelas tur nggaya (tidak jelas tapi berlagak—pen). Ya, begitulah, kata teman-teman yang melihat pada waktu itu. Pernah sih TGM dapat nominasi sebagai aktris terbaik, tahun ’97 kalau tidak salah, dan setelah itu ya sudah.

Ya, dari obrolan dengan Jon itulah ketoprak lesung di TGM lahir. Kami ngobrol, dan dia bilang “Mas, gimana kalau nggarap ketoprak lesung aja”. Dan tanggal 14 Februari 2001, kami main di Benteng Vredeburg. Mudin Karok yang sudah kami pentaskan lebih dari 30-an kali. Yogya, Jakarta, Cirebon, Tegal, Malang, Solo, Makassar, Magelang, Purwokerto. Kalau Bandung, belum. Belum tersentuh sama sekali. Kami belum pernah pentas di sana.

Modin Karok di Mendut (1,2) dan Jak@rt (3)

Terus, karya-karya Ketoprak Lesung TGM yang selanjutnya?

Ehm, tahun 2000 itu yang pertama, tapi main cuma sekali, Naga Grinsing. Mudin Karok, terus Alang-Alang, Sang Hyang Kalumpang, baru Jaran Sungsang.

Ada bedanya nggak sih, Mas, antara Ketoprak Lesung (ISI dan Sastra) yang dulu dengan Ketoprak Lesung TGM?

Ya. Kalau yang dulu lebih ditekankan ke komedi, untuk sisi artistiknya tidak ada yang luar biasa. Dan nyaris tidak ada pembaharuan sama sekali.

Konsep ketoprak lesung itu sendiri apa sih, Mas?

Kalau konsep yang saya gunakan dalam ketoprak lesung itu malah pra-ketoprak. Pra-ketoprak lesung, sebenarnya. Kalau kemunculan gejok lesung tahun 1908, itu baru gejokan (tabuhan atau pukulan—pen) dan baru masuk ketoprak. Nah, baru kemudian kemasukan unsur tonil untuk dramatisasinya, dan juga terpengaruh dengan wayang untuk pakem-pakem dan adegan-peradegannya. Nah, saya mengambil sebelum pakem-pakem itu. Tapi, nampak sekali rentang waktunya kurang banyak. Proses-proses untuk ketoprak biasanya begitu. Dan ada banyak gaya-gaya kan dalam ketoprak. Untuk artistik, alur, gaya, saya mengambil Ketoprak Kebumen. Itu yang saya pakai.

Bedanya apa dengan Ketoprak Yogya, Mas?

Kalau Yogya kan dekat sekali dengan Keraton. Jadi, ide-idenya masih keraton sentris. Beberapa hal isinya mengarah ke Keraton. Tidak kasar, lebih diperhalus, dan kehalusan bahasa itu ditaati betul. Kalau Ketoprak Kebumen atau pesisiran itu liar. Sangat liar permainannya. Nah,  saya mengambil keliarannya itu. Karena lebih luas untuk bisa kita eksplorasi. Dan ceritanya sendiri tidak keraton sentris. Ya, mitos-mitos di sekitar kita saja. Misalnya, menyindir perilaku Pak Lurah, atau kadang menyindir diri sendiri. Nggak masalah. Untuk ceritanya sendiri tidak harus keluar terlalu jauh, ya  dari sekitar saja yang mungkin malah lebih mengena.

Nah, kalau aktor-aktornya sendiri, latihannya bagaimana Mas? Apakah harus berbahasa Jawa?

Ya. Harus. Itu sudah konsekuensi. Namanya juga kesenian tradisional. Ketoprak kan tradisional, jadi harus bisa apa-apa. Ya, itu yang saya harapkan. Paling tidak tetap saya paksakan. Entah cuma mendengar atau apa, ya dicoba nembang. Apalagi patron lagu Jawa itu kan sulit, cengkok dan hitungannya juga sulit. Dan tradisi ketoprak yang dulu terus ditransformasikan ke sekarang itu juga yang sulit. Ada beberapa metode yang berbeda. Dulu kan pendekatannya kanuragan yang lebih spiritual, pakai mantra ini-itu, kembang, kemenyan, jampi-jampi, ya ritual begitu. Tapi sekarang saya lebih pendekatannya fisik dulu sebagai dasarnya. Sangat fisik, biar keluar secara alamiah kalau latihan-latihan itu benar dilakukan oleh aktornya. Kalau dulu trans-nya memanggil arwah, sekarang trans-nya dengan kebersihan hati.

Menurut Mas Gati, bagaimana regenerasi di TGM selama Mas di sana?

Ya, gimana, kan selalu berganti-ganti. Tidak ada perbedaan yang besar dari tahun ke tahun. Ya memang demikianlah teater kampus. Saya selalu mengambil sisi solidaritasnya. Itu yang saya pegang dengan kuat. Yang paling rumit ya itu, bagaimana dalam sebuah pementasan jarak yang besar itu tidak terlihat. Nah, itu kan nggak mungkin. Dan saya mencoba sebisa mungkin membuat jarak itu tidak terlihat. Selama ini saya selalu mengantisipasi itu.

Alang-alang di Festival Kesenian Yogyakarta 2005

Bahkan saya harus sebisa mungkin menutupi celah-celah yang nampak kosong. Paling tidak antara aktor yang senior dengan yang yunior bisa  sinergis. Saya harus jeli mengantisipasi kelemahan. Satu peristiwa waktu itu, pas 1 hari sebelum pementasan ada aktor yang kecelakaan dan harus diganti. Ya, saya harus siap itu, mencari aktor pengganti. Itu awal Gembes (salah satu aktor TGM yang sekarang juga tinggal bersama Gati di padepokan dan hadir di antara kami di ruangan itu) main teater.

Seperti Mudin Karok, itu semua pemainnya juga ganti-ganti terus. Hanya beberapa orang saja yang tinggal. Tapi, nggak ada perbedaan yang besar. Saya belajar dari guru saya dulu, Mas Harno (Fajar Suharno, Teater Dinasti Jogja—pen). Ya, yang mengenalkan teater pertama kali pada saya. Saya belajar bagaimana trik-trik  memake-up aktor.

Apa trik-triknya, Mas? Bisa dibocorkan?

Ha ha.. Ya, prinsip saya kalau ketoprak tidak butuh seragam, dan saya memanfaatkan keanekaragaman. Keanekaragaman karakter, keanekaragaman aktor itu sendiri, kekurangan dan kelebihannya. Harus lihat sisi negatifnya, kekurangannya apa. Dan itu bisa ditutupi dengan kelebihan dari aktor yang lain. Pola dialog, kelenturan, kostum, set, properti, make-up, dan lain-lain juga membantu menutupinya. Tapi, aktor yang tahu kelemahannya tetap harus mengejar kekurangannya itu. Itu juga masuk dalam solidaritas. Aktor yang senior juga nggak langsung sok senior, wong latihannya sama kok,  yang masih kurang-kurang itu ya latihan lebih kenceng dari yang lain. Biasanya saya yang memberi latihan khusus atau tambahan. 1-2 hari latihan sama saya. Prinsipnya saya hanya membuka emosinya. Apalagi aktor-aktor baru itu. Ya masih malu, atau apa, meskipun kadang-kadang saya dan Mas Heru (Heru Sambawa, pelatih TGM—pen) membukanya dengan tenaga yang lebih, komunikasi jarak jauh. Ya demi keselamatan sebuah pertunjukan.

Dalam hal ini, yang ritual tradisi tadi dipakai ya, Mas?

Ha, piye meneh? Tapi, murni kekuatan, bukan jampi-jampi atau apa. Itu yang bikin capek sebenarnya. Aktor sendiri kadang tidak sadar kalau ada support semacam itu, ya itu terserah mereka. Ini soal percaya atau tidak percaya.

Yang paling sulit di antara semua produksi ketoprak lesung apa, Mas?

Paling sulit itu ketika Jaran Sungsang. Ada beberapa hal, artistik dan pengalaman-pengalaman spiritual yang saya alami ketika menggarapnya. Karena itu cerita nyata, dan saya pernah berhubungan langsung dengan tokoh dalam cerita itu. Dia menggendong saya, sewaktu saya masih kecil. Jadi, ini cerita yang sangat personal bagi saya. Seperti merasa bertanggung jawab ketika ini ingin saya mainkan. Pertanyaan, bener nggak ya saya ingin memainkan ini? Terus-menerus mendera saya. Tekanan batin juga.

Yang paling sulit di anak-anak TGM sendiri, apa yang Mas Gati temui selama ini?

Jaran Sungsang di Taman Budaya Yogyakarta, 2005

Ya, masalah itu tadi. Penyakitnya teater kampus, jadi tidak bisa dipastikan. Sudah latihan dalam rentang waktu yang panjang untuk pementasan ini-itu, eh tiba-tiba beberapa hari menjelang pentas ada beberapa aktor yang mengundurkan diri. Ya repot. Ini hal yang sudah biasa bagi saya, kan sudah dari dulu nguplek-nguplek di sana. Dari pengalaman-pengalaman saya itu, jadi tahu. Dan saya selalu menggarap orang baru terus, yang masih awam. Dan saya sudah terbiasa dengan itu. Di teater Shalahudin, di Sastra, saya selalu dihadapkan dengan orang-orang baru, ya nggarap lagi. Sampai akhirnya saya sekarang sudah tidak kuatir dengan kehadiran aktor. Mau datang atau mundur, silahkan. Bahkan jika ada aktor yang mundur 5 menit menjelang pentas, ya saya tidak akan nggondeli. Tidak memaksanya untuk bertahan. Yang penting ada kejelasan dan mantap dalam mengambil keputusannya.

Seperti konsekuensi ya,  Mas?

Iya. ya begitu konsekuensinya bagi saya. Karena ini teater kampus. Dan harus siap juga kehabisan aktor. Menghadapi keluar masuknya aktor itu sudah seperti makanan sehari-hari.

Ketoprak Lesung membawa perubahan apa, Mas? Karena sebelumnya TGM kan kusam atau muram

Itu bukan saya yang ngomong lho. Orang lain yang melihat TGM kusam, tidak bergairah, seperti katak dalam tempurung. Ya, saya hanya menjalani saja. Sebisa saya. Kalau sekarang terlihat ada perubahan, kegairahan dan ada greget, itu saya sikapi sebagai proses. Saya menghargainya sebagai proses saja dan saya jalani. Saya tidak menilai hal-hal semacam itu, seperti yang disebutkan orang-orang.

Untuk teater ke depan, Mas Gati sendiri punya pikiran apa, Mas?

Ehm…Saya tidak punya angan-angan yang tinggi ya, jadi saya hanya menjalani apa yang ada di depan saya saat ini, dengan sungguh-sungguh. Itu saja. Tidak punya angan-angan sampai kapan saya di teater. Ya saya hadapi saja yang ada di depan mata. Saya bikin karya untuk menyindir diri sendiri, Tobong Kosong, Tobong Kobong. Kalau Ketoprak Lesung bubar, yo wis tak adhepi. Saya hadapi. Bubar ya bubar.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor di Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 01, Mei-Oktober 2006)

« Previous Page