Ruang (space) itu segala hal yang dijalani, dilakoni, praktik, dalam hidup yang masih berlangsung. Tapi kalau dilihat, diomong-omongkan, dinamai, dll, itu namanya tempat (place). (Yoshi Fajar Kreno Murti, Arsitek)

 

Sebuah tempat yang awalnya kosong dan bisa dijadikan apa saja. Kalau di depan tentunya jadi ruang tamu atau teras, kalau di tengah bisa jadi ruang keluarga, tapi kalau tempatnya  di belakang ga melulu jadi gudang, tapi buat saya bisa jadi tempat privasi dan ruang yang paling bikin betah. Tapi ruang itu bukan hanya tempat atau sekotak bidang, tapi bisa berbentuk sekumpulan orang-orang di mana bisa jadi ruang berbagi, berdiskusi, atau apa saja, ngrumpi kek. Bisa juga ada dalam anatomi tubuh kita, hati misalnya. (Epiest gee, Ibu rumah tangga)

 

Space..wilayah yang mampu memberikan kesan dan suasana tertentu, entah 2 dimensi atau 3 dimensi. Warnapun bisa dikatakan ruang. (Ulin, Mahasiswa)

 

Ruang: Batas nyata dan imajiner. (Turah, setting man dan lightingman teater)

 

Ruang adalah kebutuhan gerak visi seni. Maknanya bisa sangat internal maupun eksternal, tergantung visi seni itu sendiri; sejauh mana yang internal merespon yang eksternal dan mengembalikan pada tingkat kebutuhan yang paling signifikan. Tempat, menjadi pilihan akhir untuk meletakkan kebutuhan visi tersebut. (Whani Darmawan, Aktor)

 

Gelap. Pada banyak kasus, kegelapan menciptakan imajinasi tentang ruang, lebih kaya dari pada jika terang benderang. (Kusen Alipah Hadi, pekerja seni, bekerja di Yayasan Umar Kayam)

 

Yogyakarta sebagai Kota Seni telah menjadikan seni sebagai bahasa sosial yang menghangatkan pola interaksi masyarakatnya. Dan karena seni telah menjadi bagian kehidupan keseharian maka keterbukaan ruang sebagai media ekspresi semakin menempatkan seni menjadi milik siapa saja dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Inovasi kolektif mampu menembus batas pemikiran, bahwa kini ruang pamer dan pentas tidak hanya diartikan sebagai tempat tertutup dengan panggung khusus yang ditimpa cahaya ribuan watt. Kecantikan paras Jogja, memungkinkan sudut-sudutnya, kampung-kampungnya bahkan pinggir kali sekalipun sebagai media ekspresi hasrat berkesenian. Salam Jogja!! (Herry Zudianto, Walikota Yogyakarta)

 

Ruang itu celah-celah kehidupan yang indah. (Maria Magdalena Yuliati, pembuat kue dan jajan pasar)