Oleh: Afrizal Malna*

Mime, teater, dan tari berusaha dipertemukan. Manusia yang terbuat dari penggorengan, berusaha merebut seorang putri yang terbuat dari embun. Cerita dibiarkan berjalan sederhana, tanpa strategi menjadikannya narasi baru atau narasi yang rusak. Cerita diperlakukan hanya sebagai tulang punggung pertunjukan: sederhana, klasik, sudah dikenal kebanyakan penonton. Cerita yang tidak berbeda jauh dari kisah Ramayana.

Bengkel Mime Theatre, dalam pertunjukan mereka: Putri Embun Pangeran Bintang, Epos Mini Perkakas Rumah Tangga (29-30 Mei 2010, Taman Budaya Yogyakarta), memang melakukan strategi teks seperti ini (teks digunakan hanya sebagai alur pertunjukan berdasarkan cerita yang sudah dikenal).

Perabotan yang Menculik Cinta

Ketika narasi hanya digunakan sebagai kerangka pertunjukan, tidak dibunuh atau dirusak (dari praktek kebosanan atas cerita maupun kebencian terhadap tokoh dalam cerita), maka struktur dibiarkan seperti “kereta paman Bobo” yang berjalan mengelilingi taman. Taman itu adalah taman bintang-bintang (tempat tinggal Pangeran Bintang, diperankan Ari Dwianto) dan rembulan yang sedang flu, selalu bersin-bersin (diperankan Hindra Setyarini).

Yang dihadapi oleh mahluk angkasa ini, adalah sesuatu yang tidak mereka bayangkan sebelumnya. Yaitu munculnya mahluk-mahluk yang terbuat dari perabotan rumah tangga yang tiba-tiba mengusik ketentraman mereka. Mahluk-mahluk yang terbuat dari perabotan rumah tangga ini muncul sejak Pangeran Bintang memadu cinta dengan Putri Embun (diperankan Eka Nusa Pratiwi). Tetapi ada mahluk dari perabotan lain yang membela Pangeran Bintang, yaitu kakek-nenek yang terbuat dari meja dan kursi (diperankan Ficky Tri Sanjaya dan Nunung Deni Puspitasari); mahluk yang terbuat dari piring-piring plastik, sendok dan garpu (diperankan Yuniawan Setyadi); serta mahluk yang terbuat dari sekumpulan panci (diperankan Bagus Taufiqurahman).

Nenek Kursi dan Kakek Meja. Foto: Afrizal Malna

Biang kerok dari keributan yang terjadi di taman bintang-bintang itu, adalah munculnya mahluk yang terbuat dari penggorengan (diperankan Asita) dengan gerombolannya: anjing besi diperankan Febrinawan, prajurit terbuat dari kaleng kerupuk dan drum plastik (diperankan Ahmad Jalidu dan Ficky). Gerombolan ini berusaha merebut Putri Embun dari Pangeran Bintang. Maka bintang-bintang kemudian harus berhadapan dengan gerombolan yang terbuat dari perabotan rumah tangga. Perabotan seakan-akan bergerak dan berperang untuk menculik cinta.

Distraksi Perabotan

Andy Sri Wahyudi, sutradara pertunjukan ini, maupun Beni Siswo Wardoyo (artistik), tidak memaknai perabotan rumah tangga yang mereka gunakan dalam kerangka ideologis. Perabotan itu hanya dilihat sebagai bentuk visual. Tidak menyertai lingkungan teks dari masing-masing perabotan yang berbeda satu sama lainnya (bulan dari sekumpulan tampah, figurasi lain dari kaleng kerupuk, gantungan baju, panci, penggorengan, pipa penyedot air, saringan air plastik, piring plastik, drum plastik, lap tangan, baskom plastik, dan seterusnya beberapa figur mengenakan lampu kerlap-kerlip.

Seluruh perabotan tersebut mengalami distraksi, dialihkan dari fungsi dan karakternya. Yang diapresiasi hanyalah bentuk dari masing-masing perabotan untuk menggantikan anatomi aktor. Maka gerak dan gestur aktor sangat ditentukan oleh perabotan yang digunakan dan bagaimana perabotan itu dikoneksikan ke tubuh aktor. Hasilnya: perabotan itu tidak hanya menjadi kostum untuk aktor, tetapi juga menjadi bangunan yang menggantikan tubuh aktor. Perabotan itu menjadi arsitektur baru untuk tubuh aktor.

Asita memerankan Pangeran Wajan

Penggunaan perabotan seperti ini tidak hanya menghasilkan distraksi atas lingkungan narasi di sekitar perabotan, melainkan juga menghasilkan distraksi sekaligus terhadap tubuh aktor. Fungsinya: melakukan semacam penggemparan imajinasi terhadap realitas pertama dari perabotan dan tubuh aktor. Medan imajinasi kemudian terbuka untuk memasuki narasi yang dibebaskan dari grafitasi logika. Sayangnya desain lighting dan musik, tidak cukup mendukung terciptanya ruang untuk narasi yang dibebaskan dari grafitasi logika ini.

Tarian Penggorengan Bolong

Pertunjukan menggunakan tiga ruang dengan konsep yang berbeda, walau menggunakan perabotan yang sama. Ruang pertama berlangsung di halaman gedung pertunjukan. Di ruang ini, perabotan diperlakukan sebagaimana biasanya: penggorengan untuk masak, baskom untuk mencuci, mixer untuk membuat juice. Semuanya berlangsung di antara suara reporter bola yang menyiarkan sebuah pertandingan bola menggunakan megaphone.

Adegan di halaman gedung pertunjukan

Situasi yang menggambarkan realitas pertama dari perabotan rumah tangga ini, mulai mengalami distorsi dengan munculnya tarian penggorengan bolong yang dilakukan Eka, tarian meja dan kursi oleh Ficky dan Nunung (koreografi, Ari Dwianto).

Ruang kedua dibuka di loby ruang pertunjukan. Dalam ruang ini, aktor dan perabotan hadir seperti sebuah fashion: perkenalan pertama untuk memasuki ruang pertunjukan. Kereta yang terbuat dari meja dan kursi juga mulai berkeliling membawa aktor-aktor yang akan pentas. Lalu mahluk yang terbuat dari penggorengan dan anjing besi, dengan lampu kerlap-kerlip memenuhi bangunan tubuh mereka, mulai menggiring penonton memasuki ruang pertunjukan. Maka perayaan atas imajinasi mulai dilakukan di panggung pertunjukan mereka.

Sayatan Atas Struktur

Menggunakan cerita klasik hanya sebagai tulang punggung pertunjukan, lalu orientasi pertunjukan diarahkan kepada pencapaian ruang gerak imajinasi seluas-luasnya, ternyata tidak mudah. Perabotan itu, walaupun memang didistraksi dari lingkungan fungsinya, tetap merupakan benda-benda yang kita kenal. Narasi yang melekat pada fungsinya, tetap menghasilkan negosiasi yang bimbang antara apa yang terjadi di atas pentas, dengan pengalaman penonton terhadap perabotan itu.

Cerita sebagai tulang punggung pertunjukan, lantas berisiko ikut memiskinkan tumbuhnya ruang imajinasi antara dunia bintang-bintang dan perabotan rumah tangga. Andy berusaha mengatasi risiko ini dengan melakukan sayatan-sayatan atas alur pertunjukan yang berlangsung. Ketika Pangeran Bintang sedang bertarung dengan manusia penggorengan, misalnya, tiba-tiba muncul seorang ibu (diperankan Nunung) yang mengejar anaknya (diperankan Megatruh), berteriak-teriak menyuruh anaknya pulang. Ketika adegan sayatan ini berlangsung, adegan sebelumnya segera dibekukan, seperti potret kaku. Setelah adegan ibu dan anak usai, adegan sebelumnya kembali bergerak.

Epos mini tentang perabotan rumah tangga ini, akhirnya memang sebuah upacara yang merayakan kebebasan imajinasi. Imajinasi untuk mengatakan tentang sebuah galaksi di dalam dapur kita sendiri. Dan kita tidak tahu: mungkin setiap hari ada yang berperang dalam dapur rumah tangga kita.

Yogyakarta, 2 Juni 2010

* Afrizal Malna, penyair, tinggal di Nitiprayan Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 13, September 2010-Januari 2011)

Tim Kerja:

Pimpinan produksi: Andy Sri Wahyudi/ Staf Produksi: M. Ahmad Jallidu dan Eva Mutiara/ Sutradara: Andy Sri Wahyudi/ Aktor: Ari Dwianto, Asita, Ficky Tri Sanjaya, Yuniawan Setyadi, M. Ahmad Jalidu, Eka Hindra Setyarini, Febrinawan, Eka Nusa Pratiwi, Nunung Deni Puspitasari, Megatruh, BAgus Taufiqurahman/ Musik: Ari Wulu/ Lampu: Sugeng Utomo/ Aristik: Beni Siswo Wardoyo/ Penata Teks: Wahmuji

Komentar penonton:

Menurut saya pentas ini bentuk inovasi baru yang mengemas pantomim dengan gaya baru. Ide yang fresh, dengan ‘memberi nyawa’ terhadap perkakas yang selama ini setia dalam keseharian kita. Meskipun alurnya/ tema sangat biasa namun pertunjukan ini cukup menarik dan mengundang decak kagum. Kelemahan sangat terasa pada sound atau musik. Sebenarnya itu fatal tetapi tertolong dengan konsep kostum yang indah dan unik. Saya senang! Pertunjukan yang beda dan mengesankan. (Asih, 24 tahun, Bekerja di Perusahaan Swasta. PT Milennium PF. Financial Consultant)

Pentasnya critane lucu dan kostumnya keren. Jadi serasa nonton film Holywood. (Mohamad Nur Komarudin, usia 25 Tahun, Aktor Muda Jogja)

Pentasnya seru n banyak pernak-pernik, adegan di lobi sangat menarik, adegan di dalam panggung (sedikit) menguji ketahanan dalam duduk penonton. (Darmanto, Pekerja Seni )

Menurut aku pentas Bengkel kemarin adalah mimpi masa kecilku yang jadi kenyataan. Aku kangen masa-masa itu. Terima kasih sudah menghadirkan sesuatu yang lama hilang di hidupku. (Ucog Lubis, Aktor)