Oleh: Umi Lestari

Cinta merupakan kata yang tak asing bagi telinga orang masa kini. Dari anak kecil sampai orang tua pasti sering mendengar kata cinta. Makna cinta inilah yang coba diangkat oleh Teater Ruang Kosong, 19 Februari 2010 yang lalu di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta. Berangkat dari naskah Kisah Cinta dan Lain-lain karya Arifin C. Noer, Teater Ruang Kosong menghadirkan kisah cinta yang ada dalam keseharian kita.

Adegan pertama dibuka dengan kisah cinta yang melampaui batas spesies, kisah cinta antara manusia dengan hewan peliharaannya. Tampil pertama kali, Carol sebagai Tuan Manto, Dian Kristianti sebagai Nyonya Manto, dan Aprilia sebagai Dokter sedang membicarakan hidup seseorang yang divonis dokter bakal mati dalam satu jam. Ya, seseorang, itulah yang terlintas di pikiran saya saat menebak siapakah yang sedang dikhawatirkan oleh Nyonya dan Tuan Manto. Tak disangka, ternyata yang sedang sakit dan menunggu kematian itu adalah Tommy, seekor anjing yang sejak kecil dipelihara oleh keluarga Manto.

Lalu cerita bergulir ke kisah cinta antara Willem yang diperankan oleh Dyah Utami dan Otong yang diperankan oleh Eka Setiabudi, pembantu dan sopir di keluarga Manto. Penonton disuguhi kepolosan dan keluguan Willem yang mau memadu kasih dengan Otong, pria yang sudah beranak dan beristri. Tak jarang penonton tertawa melihat tingkah Willem yang lugu dan Otong yang berlagak seperti Don Juan.

Lewat kisah Tuan dan Nyonya Manto, penonton disuguhi konflik suami istri yang dikisahkan tidak mempunyai keturunan. Sang suami sibuk mencari uang dan ketenaran sedangkan sang istri yang merasa diacuhkan oleh suami, harus membagi cinta dengan Tommy-si anjing agar tidak merasa kesepian. Sang Nyonya yang mulai sedikit gila terus berharap agar Tommy bisa terus hidup. Dengan segala upaya dia meminta suaminya untuk mencari jalan agar Tommy dapat sembuh, seperti memanggil dukun untuk mencari tahu sebab musabab Tommy tak dapat sembuh. Namun Tuan Manto yang rupanya sudah pasrah, malah berkata bahwa istrinya sudah menjadi irasonal karena terlalu mencurahkan perhatiannya kepada seekor anjing. Setelah Tommy mati pun sang istri tetap meminta hal-hal yang tak masuk akal, seperti mengumumkan kematian Tommy kepada wartawan, tetangga dan kerabat.

Ki-ka: Willem, Otong, Tuan Manto, Nyonya Manto

Cerita ini bersetting Jakarta di era tahun 80an. Ruang untuk bermain dibagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian ruang tamu di mana Tuan dan Nyonya Manto menerima tamu seperti dokter dan dukun dan ruang atas yang berisi pernak-pernik anjing dan jalan menuju kamar Tommy. Tim artistik mampu menghadirkan ruang dan dandanan yang mampu menunjukkan bahwa cerita ini berlangsung pada tahun 80-an. Namun begitu ada beberapa hal yang luput sehingga membuat pementasan ini terkesan janggal seperti misalnya, dikatakan bahwa Tommy adalah sejenis anjing herder namun foto Tommy yang terpampang bukan foto anjing Herder melainkan anjing peranakan husky dan karakter nenek yang mukanya sudah di make-up tua, namun kakinya masih bersinar seperti kaki remaja.

Naskah yang ditulis Arifin C. Noer ini merupakan kritik terhadap masyarakat metropolitan yang mulai mengangungkan hal-hal yang bersifat rasional. Pementasan ini menyuguhkan pesan bahwa uang belum tentu bisa membuat seorang bahagia. Semoga setelah pementasan ini, Teater Ruang Kosong mampu menghadirkan “kisah-kisah lain” dengan lebih baik.

* Umi Lestari, mahasiswa sastra inggris Universitas Sanata Dharma.

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

*****

Komentar Penonton

Ceritanya menarik. (Kenan Fabri, 20thn, Media Sastra)

Drama yang jelek karena ketika dipentaskan drama tersebut tidak memberi kontribusi apa-apa ke penonton. Cerita yang diangkat memang tidak biasa tapi setelah ditonton ternyata tak bermutu. (Cahya Arie Nugroho, 22 tahun, mahasiswa Universitas Sanata Dharma)

Karakterisasinya bagus, namun yang menonjol hanya karakter Tuan Manto karena dia mampu menguasai watak si karakter. (Andriawan, 22 tahun, mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma, Media Sastra)

Pementasannya bagus tapi setelah ingin memahami cerita tersebut susah ditangkap maknanya. Agak aneh juga. Pemainnya bagus. (Stella Suhardi, 20thn, mahaiswa sastra inggris Universitas Sanata Dharma)

*****

Tim kerja ‘Kisah Cinta dan Lain-lain’

Sutradara: A. Dody Prasetyo/ Pemain: Yohanes Carol Kurnia Awan, Dian Krisytianti, David Eka, Respati Diah Arum, Larasati Dipta, Pradiina Aptilia Setyaningrum, Dimas Arta Prasetya/ Pimpinan Produksi: Ayu Primasandi/ Pelaksana Produksi: Sekar Mumpuni/ Stage Manager: Biru Langit/ Penata Letak dan Properti: Dika Prasetyo/ Penata Cahaya: Pipit Priya Atmaja/ Make-up: Margareta Nuri/ Kostum: Sisilia/ Musik: Taman Plastik Project

Sekilas tentang Teater Ruang Kosong

Teater Ruang Kosong (TRK) bermula dari kegiatan ekstrakurikuler teater di SMA Bopkri 2 yang bernama Teater Ruang Kosong 87. Dulu pelatihnya adalah Philipus Maliobowo, kemudian digantikan oleh Febrian Eko Mulyono yang biasa disapa Yayan, sekarang ini masih belajar di jurusan teater ISI Yogyakarta. Di masa Yayan inilah, anggota Teater Ruang Kosong 87 yang sudah lulus, membentuk kelompok di luar sekolah untuk mewadahi para alumni yang masih berminat bermain teater. Kelompok ini kemudian dinamakan Teater Ruang Kosong (tanpa 87).

Sampai saat ini, seperti kebanyakan kelompok teater lain, mereka harus berpindah-pindah tempat saat latihan dan untuk berkumpul bersama masih “numpang” di rumah salah seorang anggota TRK. “Kutukan nama”, kata Yayan.